Narasi

Pasar Musik Blok M: Mencoba Tetap Berkumandang Meski Tak Lagi Lantang

Sejumlah musisi besar macam Metallica, Pink Floyd, Red Hot Chilli Peppers pernah keras menolak musiknya dijual melalui layanan streaming macam Spotify, Joox, Deezer dan lain-lain. Menurut mereka tidak selayaknya musik dinikmati secara receh dengan dibeli satuan. Pasalnya musisi membuat musik dalam album untuk dinikmati secara keseluruhan.

Tapi toh arus perubahan jaman memang tak bisa dibendung. Gempuran kehadiran smartphone makin mempermudah akses terhadap layanan streaming. Buntutnya para artis pun mulai melunak. Layanan musik streaming makin berjaya.
Efeknya jelas yang paling terpukul adalah industri musik fisik. Pejualan CD apalagi kaset langsung terjun bebas. Di Indonesia sendiri toko-toko yang semula digdaya di bidang musik macam Disc Tara atau Aquarius harus gulung tikar.

Meski terjepit bukan lantas rilisan musik berbentuk musik sudah mati. Tempat dan pangsa pasarnya saja yang bergeser. Dari semula toko ber AC atau di mall mewah, kini para penjual rilisan fisik seperti CD dan kaset seperti bergerak di bawah tanah.

Penggemarnya pun tak lagi penikmat musik mainstream. Pencari rilisan fisik ini berubah menjadi penggila sejati musik, kolektor atau mereka yang masih berbalut nostalgia masa lalu.

Pasar Musik Blok M Yang Sempat Jadi Pelarian Para Penikmat Rilisan Musik Fisik

Salah satu tempat berburu untuk rilisan fisik adalah areal Blok M. Pasar musik Blok M masih berada setia meskipun platform digital terus mengembangkan sensasinya. Ketika gerai-gerai musik besar seperti Aquarius dan Disc Tarra tutup, gerai-gerai musik di Blok M tak surut nyali untuk tetap menjual riilisan fisik.

Seperti Bang Udin, penjual yang melapak di Blok M sejak 2010. Sesungguhnya ia telah berjualan sejak tahun 2000, ketika itu ia berjualan di Taman Puring. Namun setelah kasus kebakaran yang melanda lapak lawasnya itu, ia berpindah menuju Jalan Surabaya di kawasan Menteng dan kemudian belakangan ke pasar Blok M.

“Bagi saya berjualan seperti ini sudah seperti hobi. Dulu saya mendambakan memiliki piringan hitam sejak kelas 4 SD, namun saya baru mampu membelinya ketika dewasa. Musik rock seperti Deep Purple dan kawanannya menjadi idola saya. Pokoknya rock-rock lawas lah. mungkin kalau orang yang berjualan seperti ini niatnya bisnis. Pasti tidak akan kuat,” ujarnya.

Bang Udin setia membuka lapaknya tiap hari, kebetulan pula rumahnya memang berada di dekat kawasan Blok M. Selain menjual rilisan fisik, pria berambut gondrong ini juga menjual jasa untuk servis turn table (alat pemutar piringan hitam) dengan biaya 80 sampai 100 ribu. Tak hanya itu, ia juga memiliki jasa untuk memindahkan rekaman dari VHS ke medium CD, kaset dan DVD.

“Dulu pernah ada seorang anak muda dateng ke tempat saya untuk meminta CD The Beatlesnya ditransfer ke kaset. Ketika saya tanya untuk apa, ia bilang untuk hadiah pacarnya,”  kenang Bang Udin sambil tersenyum.

Tapi Tak Semua Mentereng, Beberapa Toko Malah Sudah Mulai Tutup

Tidak hanya Bang Udin yang masih membuka lapak di daerah Blok M. Masih ada sejumlah toko lainnya yang  bergerak sepertinya. Piringan hitam terpampang di katalog mulai dari musisi lawas Indonesia seperti Duo Kribo, AKA, Koes Plus, Panbes sampai The Beatles tersedia. Rak-rak kaset juga masih ramai berjejer, dari yang covernya berdebu sampai yang sangat terawat.

Namun tak semua toko di pasar Blok M tampil terawat. Beberapa nampak sudah lusuh bahkan tak lagi ada penghuninya. Tak pelak rasa penasaran pun tumbuh ketika melihat beberapa toko musik yang tertera plangnya namun tidak ada aktivitasnya.

“Ya beberapa (sambil menunjuk ke arah toko), ada yang tutup karena memang tidak berjualan lagi, ada juga yang sedang mengikuti acara musik untuk membuka lapak dagangannya,” imbuh Bang Udin.

Kontras dengan itu, terdapat satu toko yang terlihat masih asri dan terawat. Toko yang dijaga pemuda bernama Allen itu, baru buka sejak tahun 2014. Dengan tampilan rambut keriting dan tampang belia, pria ini mengaku ketertarikannya terhadap rilisan fisik terutama piringan hitam sudah muncul sejak masa SMA, namun ia baru dapat menggelutinya sejak tahun 2011. Meskipun dia hanya berjaga di toko ini (Pegawai) ia cukup cinta terhadap piringan hitam.

“Kalau di toko yang gua jaga ini memang khusus menjual piringan hitam. Gua pun jatuh cinta sama piringan hitam, karena ada beberapa part lagu yang tidak tertangkap dengan baik di CD dan kaset, dapat ditangkap oleh piringan hitam. Jadinya mendengarkan pun jauh lebih nikmat” celoteh Allen.

Hal yang diungkapkan Allen sama seperti yang diutarakan oleh Bang Udin, bagi dia vinyl  (nama lain dari piringan hitam) lebih “dapet” feel-nya untuk mendengarkan musik.

Sanggupkah Cinta Sesaat, Membuat Pasar Musik Bertahan?

Dua tiga tahun lalu memang jadi romansa manis bagi pedagang macam Bang udin dan Allen. Ketika itu mereka yang menamakan dirinya kaum hipster ramai-ramai memburu kaset, piringan hitam serta CD lawas. Pasar musik pun bergeliat ketika itu.

Namun toh nyatanya tak semua yang gandrung ketika itu benar-benar mencintai rilisan musik. Sebagian hanya sekedar ikut-ikutan atau ajang pamer di sosial media untuk dibilang vintage. Bisa ditebak, arus ini pun mereda dengan sendirinya.

“Gua sih udah ngebaca kalau moment ini pasti nggak bakal lama masanya sama seperti batu akik. Ketika booming, harganya gila-gilaan tapi satu atau dua tahun kemudian harganya kembali normal,” Bilang Bang Udin.

Hal ini pun diamini oleh Allen yang mengatakan, bahwa kejadian macam ini normal terjadi.

“Menurut gua sih itu nomral bahwa setiap fenomena pasti akan ada, kalau dua tahun lalu sempet naik dan sekarang turun. Tinggal tunggu aja nanti ada aja moment di mana piringan hitam naik lagi,” tambah Allen

Bukan Barang Antik, Rilisan Fisik Masih Bergantung Total Pada Romansa Penggilanya

Karena sesungguhnya piringan hitam memang barang antik namun tak juga mewah, karena ada saja orang umum yang menganggap bahwa piringan hitam itu harganya bisa mencapai juta-jutaan yang bisa dijadikan investasi. Padahal kenyataaannya tidak selalu demikian. Seperti di toko Allen misalnya di mana harga beragam dari 200 ribu sampai 450 ribu.

Namun turunnya peminat piringan hitam dan sejenisnya, tidak ditakuti akan membuat bisnis mereka mati. Untuk per harinya pengunjung yang datang bisa 2 sampai 3 orang di kawasan pasar musik Blok M walaupun belum tentu membeli. Bahkan ada saja orang-orang yang hanya “demam” sesaat yang seketika peristiwa ini sedang hype mereka tiba-tiba bermunculan dan bagi Allen itu sudah biasa.

“Kalau gua sih percaya, ketika gua beranjak dari rumah dan melangkahkan kaki keluar itu pertanda gua sudah dapat rezeki, entah bentuknya seperti apa. Bagi gua rezeki sudah diatur ya gua tinggal menjalaninya saja,” pungkas Bang Udin.

Senada dengannya Allen pun, yang terbilang masih muda dan belum berkeluarga juga berkata hal yang sama. Ia mengatakan bahwa selain berjualan banyak pengalaman lain yang di dapatnya dari menjaga toko di Blok M.

“Rezeki mah nggak bakal ketuker, gua sih jalanin saja karena gua yakim Tuhan udah ngatur rezeki buat masing-masing orang. Bahkan gua pernah ketemu bule untuk belanja vinyl di Blok M (tapi bukan di toko gue) gua bawa ke toko tetangga, dan gua liat 4 juta dia menghabiskan uangnya untuk menghabiskan vinyl musisi pop lawas Indonesia. Melihat begitu, ya gua bahagia aja, nggak ada rasa iri” tuturnya.

Pasar musik akan terus ada meskipun tentative untuk membicarakan perkembangannya. Karena rasa memiliki rilisan fisik masih dapat dirasakan setiap orang seperti memiliki album favorit musisi idola.

Lagi-lagi, digital boleh saja bangga dengan perkembangannya. Namun, suatu bentuk media rilisan fisik memang tidak tertandingi kualitas dan sensasinya, karena memiliki hal tersebut seperti suatu ada bentuk yang membanggakan dalam hati, meskipun hanya untuk bernostalgia. Sampai kapan? Cuma waktu yang bisa membuktikannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Otomotif

Menjajal Si Merah: Jinak Di Bawah, Galak Di Atas

Akhirnya kami punya kesempatan untuk menjajal langsung motor GSX-R150 dari Suzuki. Kebetulan yang kami jajal berwarna merah, yang nampak begitu menggoda. Secara umum motor satu ini kami bawa untuk penggunaan harian di aera jabodetabek. Di beberapa kesempatan kami juga membawa motor ini di jalan yang lebih luang untuk menjajal performanya.

Tampilan Fungsional Tanpa Banyak Ornamen Basa-Basi

Kami memilih kata sexy, untuk menggambarkan Suzuki GSX-R150 ini. Nama GSX yang disandangnya sesungguh tak sekedar tempelan belaka. Karena kita bisa melihat tarikan garis serupa dari tipe-tipe GSX yang menggendong mesin lebih besar. Coba kita bandingkan tampilan GSX-R1000 ini dengan GSX-R150 ini. Tarikan garisnya tampak serupa.

Desain bodynya tak di rancang main-main karena dibangun menggunakan perhitungan hasil pengujian wind tunnel di jepang. Hasilnya, GSX-R15o ini menganut model yang terlihat mengalir dan aerodinamis. Pastinya tidak banyak ornamen atau bentuk-bentuk tak bermanfaat yang jamak kita lihat di merk lain. Tapi bukan berarti tampilannya jadi tak menarik.

Karena kami sempat beberapa kali mendapati pengendara lain melirik motor yang kami tunggangi. Terutama bagi sesama pengguna kelas 150cc, motor cukup menyita perhatian di jalan raya. Waspada khusus kami berikan pada sektor spion. Bentuknya yang mendatar dan sangat lebar, menempatkan perangkat satu ini sejajar dengan spion mobil kebanyakan. Walhasil, untuk lancar mengarungi kemacetan, ketika menggunakan motor ini harus sesekali melipat spionnya ke dalam.

Posisi Riding Agresif Dengan Handle Bar Under Yoke

Untuk kelas motor sport 150cc bisa dibilang posisi berkendara GSX-R150 ini paling agresif kalau dibandingkan dengan kompetitor lainnya. Stang jepitnya sendiri bertipe under the yoke alias berada di bawah segitiga depan.

Dalam kondisi berkendara normal, badan menjadi membungkuk dan mendukung tampilan balap dari motor ini. Ketika dalam kecepatan tinggi dengan mudah badan pengendara mendekat dan memeluk tangki. Hal ini didukung dengan jok belakang yang tinggi sehingga menambah kesan agresif.

Hal menarik lainnya, bobot GSX-R150 yang hanya 126 kg lebih ringan dibanding motor 150cc lain yang lebih dari 130 kg. Ditambah lagi tinggi joknya juga paling rendah di kelasnya. Sehingga untuk mereka yang bertinggi badan kurang dari 170 cm pun masih nyaman mengendarai motor ini. Untuk diajak rebah ketika menikung juga tak ragu karena bobotnya yang ringan tadi.

Mesin Over Bore, Galak Di Putaran Menengah Atas

Lagi-lagi Suzuki mengambil langkah berbeda dengan para kompetitornya yang memilih mesin over stroke atau Square. Karena dapur pacu yang disematkan pada GSX-R150 ini justru mengadopsi tipe ukuran over bore alias diameter pistonnya (62,0 mm) lebih lebar bahkan berselisih jauh dibanding langkahnya (48,8 mm).

Layaknya mesin over bore, tenaga yang dihasilkan pada putaran bawah cenderung lebih jinak dan kalem. Karena itu motor ini cukup ramah digunakan di tengah kemacetan tanpa kerepotan mengatasi tenaga dan torsi berlebihan pada putaran bawah.

Tapi sifat asli over bore mulai kelihatan pada putaran menengah dan atas dimulai dari 7000 RPM. Apalagi putaran mesinnya bisa berteriak hingga 13.000 RPM. Tenaga maksimalnya berada di 18,9 dk dengan torsi 14NM. Jangan heran seandainya bung menggunakan motor ini untuk beradu kecepatan, di putaran tengah dan atas cepat mengasapi motor lain.

Teknologi Keyless, Nyalakan Motor Bisa Pakai ID

Kecangihan tak berhenti sampai situ, untuk mengoperasikan motor, Bung cukup mendekatkan remote ke motornya. Motor baru bisa dioperasikan dengan memutar knob yang ada di tangki apabila remote berada dalam radius 1 meter. Sementara sebaliknya keyless ignition system otomatis akan mengunci jika jarak remote lebih dari 1 meter.

Demi keamanan, knob ini pun tidak bisa diputar paksa. Apabila main switch knob diputar paksa dengan tujuan akan dicuri, maka sesuai konstruksinya main switch knob akan berputar kosong.

Setiap keyless remote memiliki nomor ID. Nomor tersebut memungkinkan pemilik motor untuk tetap bisa mengakses main switch knob dalam keadaan remote rusak atau gangguan teknis lainnya. Kita tinggal memasukan 4 digit pin dengan acara menekan knob. Karena itu Pemilik motor disarankan untuk mencatat dan rahasiakan Remote ID serta simpan di tempat yang aman.

Namun Terlepas dari kecanggihannya tersebut, SIS selaku produsen Suzuki juga mendengar dan memenuhi permintaan dari konsumen lain yang memiliki karakter berbeda, dengan menyediakan Suzuki GSX-R150 menggunakan Shuttered Key System.

Sambil menemani keberadaan penjualan Suzuki GSX-R150 varian Keyless Ignition System saat ini, SIS memproduksi varian Shuttered Key System dengan komposisi secara khusus sebanyak 15% dari total produksi GSX-R150 setiap bulan. Dengan demikian, calon konsumen bisa memiliki pilihan lebih banyak sebelum memutuskan pilihannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Health & Personality

Bagaimana Cara Mengatasi Kebosanan Di Jalan, Apabila Merokok Dan Mendengarkan Musik Termasuk Pelanggaran

Ketika hukum mulai beredar dan menyeruak lewat media, tentu masyarakat berhak berkomentar tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Sama halnya dengan statement Minggu lalu, kalau mendengarkan musik dan merokok bakal ditilang Ditlantas. Meskipun hingga artikel ini dibuat, Polri kembali menegaskan bahwa tidak akan ditilang. Namun, ditengarai kedua hal tersebut memang bisa membuyarkan konsentrasi hingga menimbulkan kecelakaan. Lantas bagaimana menurut Bung? Setuju atau tidak?

Dibalik pro dan kontra terhadap hukum tersebut, ada hal yang menarik untuk dicermati. Dimana cuitan dan komentar yang beragam dilontarkan secara gamblang atau sarkas. Tapi apabila nantinya ini kembali menyeruak dan disahkan menjadi pelanggaran, hal apa ya Bung kira-kira bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan?

Mengajak Teman Atau Kawan Yang Searah Pergi Dan Pulang Berbarengan

Beberapa tahun lalu ada suatu konsep bernama nebengers yang mengajak seseorang untuk menumpang apabila searah dengan memberikan suatu imbalan. Seperti menyokong uang bensin atau menyumbang cerita untuk menghilangkan rasa bosan. Hal ini apabila dilakukan kembali, rasanya akan menjadi unik Bung.

Selain mengurangi jumlah kendaraan roda empat dan dua yang berkeliaran, tentu mengajak kerabat dapat membuat perjalanan terasa menyenangkan dengan menyumbang obrolan. Ya, Bung pun tahu, macetnya Jakarta sulit diatasi tetapi harus dinikmati, meskipun raga ini sudah lelah menanti tempat tidur apabila pulang nanti.

Bernyanyi Tanpa Musik, Menyuarakan Kepenatan Yang Terusik

Ketika Bung berada di mobil dan radio tidak menyiarkan musik, justru itu terasa hambar. Sama halnya seperti ada yang salah dari semua ini secara hiperbolanya. Bahkan, aplikasi musik macam spotify mesti terdiam, padahal itu salah satu opsi ketika penat dengan kemacetan dan ingin melawan rasa bosan dengan mendengarkan musik di jalan.

Namun, ketika bibir Bung ingin bergumam semisal soal pelanggaran yang disahkan sepertinya tidak berguna. Lebih baik, Bung hafalkan nada 1 sampai 3 lagu dan karaoke sendirian. Daripada yang Bung lakukan hanya berkutat dengan gawai dan mengecek media sosial macam Instagram yang terkadang tak ada faedahnya. Terkadang, tapi benar kan?

Meresapi Hiburan Dari Pengamen Jalanan Bisa Jadi Ide Yang Menghiasi Kemacetan

Berapa banyak pengamen jalanan yang Bung tolak suaranya sebelum ia memulai lagunya. Lantaran Bung mengira pengamen tersebut bakal bernyanyi asal-asalan demi sepundi uang.  Mungkin sekarang sudah menjadi waktunya Bung harus memberikan kesempatan. Siapa tahu dia adalah orang yang memiliki talenta, hanya saja tidak memiliki kesempatan selayaknya musisi ternama yang kerap tampil di televisi. Dan Bung pun bisa sekalian donasi kepada mereka. Meskipun tidak banyak, tapi bisa meringankan hidupnya.

Menikmati Hangat Secawan Kopi Bisa Membunuh Kemacetan Secara Hakiki

Kemacetan nampaknya panjang, daripada Bung rela bertahan dengan alasan ingin cepat pulang, nampaknya itu hal yang sia-sia Bung. Lebih baik Bung melipir ke kedai kopi dengan menikmati secawan kopi hangat. Apa lagi kalau Bung perokok, toh itu bukannya perkawinan dua lembayung yang menarik? Habiskan saja waktu 1 sampai 2 jam, bisa juga Bung jadikan ajang tongkrongan dadakan bersama teman. Selain menambah silaturahmi, toh bisa menghilangkan rasa stres yang mengakar karena kemacetan yang mengekor panjang.

Atau Menanggalkan Kendaraan Dan Segera Pesan Transportasi Online

Kalau beberapa hal di atas Bung rasa tidak bisa membunuh kebosanan. Dan Bung tidak kuat bertahan lama ketika kemacetan melanda apabila mendengarkan musik dan merokok menjadi bentuk pelanggaran. Alangkah baiknya memanfaatkan opsi yang ada. Seperti menggunakan transportasi online bisa jadi pilihan bagi Bung.

Bung tak perlu capek-capek melawan kemacetan karena Bung bisa tiduran dengan nyaman. Atau kalau pun Bung bosan, bisa membuka obrolan dengan sang driver, apa lagi banyak unggahan ke media sosial tentang arti kehidupan yang dapat dipetik olah seorang driver. Masih banyak hal yang Bung bisa lakukan saat merokok dan mendengarkan musik adalah pelanggaran. Tapi untungnya, hal itu sudah diklarifikasi kepolisian bahwa tak benar. Ya mungkin pada saat statement  itu dibuat Ditlantas sedang tidak fokus  dan merasakan kelelahan karena mengurusi kemacetan lalu lintas di jalan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Entertainment

Karisma Rocker Di Mata Perempuan Tetap Ada, Meski Usia Tak Lagi Muda

Menjadi rocker papan atas pasti selalu bersanding dengan perempuan-perempuan cantik. Lagu yang indah ditambah dengan aksi panggung menawan membuat penonton tergoda, teriakan histeris dari penonton saat mereka di panggung membuat aksi begitu lengkap. Jadi tidak salah, kalau wanita banyak yang jatuh hati dengan mereka. Nama Dave Grohl pasti tidak asing di telinga Bung, mantan personil Nirvana dan vokalis Foo Fighters ini pernah mengencani sejumlah wanita bertalenta dan juga cantik, seperti Winona Ryder, Melissa Auf Der Maur, sampai akhirnya menikahi Jordyn Blum.

Karisma yang terbentuk dari atas panggung memang mampu memancar penuh ke dalam sanubari kaum hawa sehingga perempuan banyak yang kepincut. Selain Dave Grohl, nama Mick Jagger tak bisa absen dalam urusan perempuan, karena vokalis sekaligus pentolan Rolling Stones sudah memiliki 8 anak dari 5 perempuan berbeda. Marsha Hunt, Jerry Hall, Bianca Jagger, Luciana Morad, dan Melanie Hamrick adalah kelima perempuan yang pernah menjalin kasih dengan laki-laki berbibir tebal ini.

Sedangkan di Indonesia, setiap rocker pun tidak jauh kehidupannya dengan urusan perempuan. Eno yang merupakan drummer Netral telah menikahi aktris cantik Nadilla Ernesta, setelah menjalin hubungan dengan beberapa artis cantik lain, salah satunya Cathy Sharon. Baru-baru ini gitaris dari band kawakan /rif, yakni Ovy, baru saja menikahi Marissa Aziz, sosok yang hot juga cantik berhasil menggaet hati Ovy.

Setelah Diva Indonesia Sekarang Model

Ovy memang merupakan definisi dari rocker yang dikelilingi perempuan cantik. Sempat menikah dengan salah satu diva Indonesia, Titi DJ, yang bercerai 7 tahun lalu, Ovy yang memiliki nama lengkap Noviar Rachmansyah baru saja menggaet seorang model Bung. Karisma pria berumur 51 tahun ini masih bersinar seperti rocker-rocker di luar. Tak pelak model bernama Marissa Aziz ini menerima pinangan dari Ovy. Kecantikan Marissa dan Titi DJ tak dapat diragukan meskipun usia tak lagi muda.

Ovy dan Marissa Terpaut 16 Tahun Secara Usia

Ovy memang tidak muda lagi karena sudah memasuki usia kepala lima, jelas saja laki-laki disekitaran umur seperti itu pasti sudah tidak belia, dan rupawan ketika muda. Namun, pelantun nada “Radja” masih tetap bugar dan juga tampan. Mungkin hal itu yang membuat Marissa mau menjalani hubungan bersama Ovy, karena meskipun tak lagi muda namun tak nampak tua.

Selisih usia Ovy dengan Marissa terpaut 16 tahun Bung. Ovy sudah berusia 51 tahun, sedangkan Marissa baru 35 tahun. Meskipun banyak pula, terutama netizen, yang menganggap kalau Marissa tampak seperti perempuan berusia 26 tahun. Apakah Bung juga sependapat?

Menjalani Hubungan Dua Tahun Dan Menikah

Rencana pernikahan Ovy dan Marissa memang tidak disusun dalam jangka waktu yang lama. Lewat manajemennya yang dikutip dari Kumparan.com, diketahui jika hubungan yang dijalin Ovy dan Marissa sudah berjalan dua tahun. Bahkan, pihak manajemen pun sudah tahu kalau memang kedua pasangan ini akan segera menikah. Pernikahan dilangsungkan secara sederhana di Surabaya dengan dihadiri keluarga dan kerabat dekat saja.

Tergabung Dalam Manajemen Model

Usia memang bukan menjadi takaran dan batas dalam mencapai sesuatu, buktinya saja Marissa Aziz meskipun telah memasuki usia 35 tahun tapi tetap menekuni dunia modelling. Dunia yang akrab dengan badan langsing dan wajah rupawan, juga kemolekan tubuh dengan berbagai gaun saat melanggang di atas catwalk atau pun difoto.

Tergabung dalam modelmanagement.com, perempuan yang memiliki tinggi 163 cm, kalau dilihat-lihat memang masih mumpuni untuk menjalani karir sebagai model, karena wajah dan tubuhnya yang seksi.

Kenapa Nikahnya Dipercepat?

Adapun rencana pernikahan yang dijalankan Ovy dan Marissa dipercepat karena satu alasan, yakni kondisi ayah dari Marissa yang sedang mengalami sakit, dan ingin anaknya segera menikah. Alhasil, pernikahan pun dilakukan dengan persiapan waktu yang singkat. Dan setelah pernikahan dilakukan, tak lama kemudian ayahanda dari Marissa meninggal.

Hubungan Ovy dan Marissa sudah resmi sebagai suami istri, namun karir yang dijalani dari dunia berbeda. Sehingga Ovy yang sekarang masih aktif sebagai gitaris /rif harus menetap di Jakarta, sedangkan Marissa yang menjalani karirnya di Bali bermukim di sana.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Entertainment

Musik Mereka Yang Tak Lekang Oleh Jaman Atau Indonesianya Yang Tak Alami Kemajuan?

Jauh sebelum era Awkarin bernyanyi sambil naik kuda hanya mengenakan beha, musik Indonesia memang pernah keren. Setidaknya dari sisi tema, musik anak negeri sebelumnya jauh lebih beragam. Salah satu yang paling mencolok adalah bagaimana lagu digunakan para musisi sebagai potret politik dan kondisi sosial.

Kreativitas ini muncul karena masa ketika terciduk bukan “tercyduk” dulu, memang tak semudah itu bercerita perihal kondisi bangsa. Salah-salah mengkritik sudah akan ada aparat menunggu depan pintu dan kemudian Bung bisa hilang diculik. Walhasil, para seniman kreatif harus putar otak agar tak di penjara.

Hasilnya Indonesia menjadi kaya akan lagu politis dan potret sosial yang beragam. Uniknya jika Bung dengarkan lagu-lagu tersebut di era saat ini, semuanya akan terasa masih dekat dengan kondisi saat ini.

Semula kami berpikir sedemikian hebatnya lagu-lagu itu karena tak lekang oleh waktu. Tapi ketika merenung lebih dalam lagi, jangan-jangan kondisi Indonesianya yang tak maju-maju. Bisa jadi masalah kita masih itu-itu saja hingga kritik yang lalu-lalu masih juga sama yang disuarakan hingga kini.

Iwan Fals: Suara Buat Wakil Rakyat

Kalau bicara soal lagu protes sosial memang sulit untuk tak menyebut Iwan Fals. Beberapa lagunya bahkan menjadi semacam lagu wajib untuk para pendemo ketika ingin membakar semangat. Tengok saja misalnya macam lagu “Bongkar” yang cocok di lantunkan dalam demo sekelas semanggi hingga protes penggusuran PKL.

Kalau “Bongkar” dibawakan dengan nuansa gelap, lain cerita dengan lagu “Surat Buat Wakil Rakyat”. Nada dan iramanya memang lebih ringan, tapi bukan berarti kritiknya tak pedas. Iwan secara nakal menyentil Anggota DPR yang hanya bisa bilang setuju serta mementingkan urusan pribadi dan sanak familinya.

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu “setuju”

Coba kita nyanyikan lirik lagu tersebut saat ini. Tentunya terasa kita sedang bicara dengan anggota DPR di era sekarang. Masalahnya masih sama bahkan sampai ke urusan tidur di ruang sidang. Apalagi belakangan pimpinan DPR baru saja ngambek dan mempolisikan pembuat meme dirinya. Ini bukan cerminan wakil rakyat yang merakyat bukan?

Pas Band: Jengah

Pas Band mulai berdiri pada akhir tahun 1992 dengan mengusung semangat Indie. Bermodalkan uang tabungan dan sumbangan, mereka berhasil merilis album indie pertamanya ketika itu ddan laku 2500 kopi. Menggarap musik secara mandiri macam itu membuat Pas Band lebih bisa lantang menyuarakan kegelisahannya.

Dan semangat ini tetap dijaga ketika Musica akhirnya menaungi sebagai Major Label. Tak heran jika kemudian bisa lahir lagu bertajuk “Jengah”. Isinya kritik tajam terhadap kepongahan para penguasa saat itu.

Kita muak semua Melihat akibatnya ternyata
Tetap menjadi Upeti disana sini Korupsi menggila lagi

Kita jadi saksi teriak Orang besar bicara ternyata hanya bisa
Memperkeruh suasana Saling jatuh singgasana

Terombang ambing berita Penguasa punya cerita

Apa yang dikritik Pas Band ketika itu? Soal upeti, korupsi yang menggila. Termasuk juga soal orang-orang yang saling menjatuhkan demi kekuasaan. Terakhir liriknya menyentil tentang berita yang tak jelas juntrungannya. Bagaimana kondisi sekarang? Nyatanya kita masih pusing urusan korupsi dan soal perebutan kursi empuk pemerintahan. Apalagi simpang siurnya info hoax, seolah mempertegas lirik “terombang ambing berita” yang masih relevan hingga saat ini.

The Gang of Harry Roesli: Malaria

Ini lagu yang jauh lebih tua lagi. Tepatnya di era piringan hitam masih merajai instrumen untuk mendengarkan musik. Tapi kalau mencermati lirik lagu Malaria ini seolah melampaui jamannya.

Apakah kau seekor monyet yang hanya dapat bergaya
Kosong sudah hidup ini bila kau hanya bicara
Lantai kamarmu kan berkata mengapa Nona pengecut?

Konon lirik lagu ini diperuntukan bagi warga kelas menengah yang terlalu nyaman dengan kondisinya dan menutup mata akan kondisi sosial di bawahnya. Rasanya pas buat menggambarkan kelas menengah ngehe Indonesia jaman sekarang yang macam pengecut cuma bisa berkoar di sosial media namun melempem di kepedulian sosial dunia nyata. Hai kelas menengah, mengapa begitu pengecut?

Efek Rumah Kaca: Cinta Melulu

Memang masih banyak lagu Efek Rumah Kaca yang lebih keras dari lagu “Cinta Melulu”. Sedikitnya ada “Jalang” yang memprotes terkungkungnya kebebesan berekspresi akibat Undang-undang pornografi. Atau bagaimana magisnya “Di Udara” yang diperuntukan bagi Munir sang pejuang.

Tapi Bung juga patut memperhitungkan “Cinta Melulu. Karena dengan berani Efek Rumah Kaca mengkritik penikmat musik Indonesia sekaligus mengkritik sesama musisi. Menyindir mereka-mereka yang hanya mementingkan karyanya laku, tanpa memperhitungkan kualitas.

Elegi patah hati Ode pengusir rindu Atas nama pasar semuanya begitu banal
Lagu cinta melulu Kita memang benar-benar melayu Suka mendayu-dayu
Apa memang karena kuping melayu Suka yang sendu-sendu Lagu cinta melulu

Rasanya lagu ini masih akan terasa menampar jika diberikan ke musisi dan penikmat musik saat ini. Demi kepentingan ekonomi, urusannya cuma lagu cinta melulu!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top