Otomotif

Pengalaman Kami Menjajal Seminggu Pergi Kerja Pakai Royal Enfield

Sewaktu mengutarakan niat untuk mencoba menggunakan motor Royal Enfield sebagai kendaraan ke kantor, sebagian rekan sejawat sempat mempertanyakan mengenai niat ini. Pasalnya rute yang akan ditempuh tak kurang dari 25 kilometer yang membentang dari Tangerang Hingga ke Warung Buncit Jakarta.

Bukan cuma urusan jarak, namun jalan itu memang masuk kategori jalur “neraka”. Sumber macet mulai dari pasar hingga tempat mangkal angkot harus dilalui. Jelas sebuah jalur yang sekilas lebih cocok dilintasi menggunakan motor matic dengan kapasitas mesin mini.

Sementara pilihan kami jatuh pada Royal Enfield (RE) Classic 500. Motor yang mungkin biasa dibawa untuk sekedar sunmori di minggu pagi yang lengang. Atau malah seringnya ditunggangi santai di jalur luar kota nan asri.

Namun kami bergeming, karena niat menjajal sudah sampai diubun-ubun. Ini yang kami dapatkan setelahnya.

Menerabas Macet Dengan Bobot Bongsor Memang Tantangan Tersendiri

Urusan bobot memang jadi hal pertama yang ingin kami ceritakan. Pasalnya bobot RE 500 ini memang tak main-main. Berat kosongnya mencapai 190 Kg. Jangankan untuk mereka yang terbiasa bawa motor kecil, buat penunggang motor gede tipe sport sekalipun tentu akan sedikit terkejut dengan angka ini.

Sebagai gambaran motor macam Ducati monster misalnya hanya punya bobot 160 Kg. Sementara CBR yang kapasitasnya mencapai 1000 cc saja beratnya hanya berkisar diangka 180 Kg.

Dengan bobot macam ini, walhasil menerabas macet jadi tantangan tersendiri. Kondisi stop and go dan sesekali ingin menyelip di tengah kemacetan urung kami lakukan karena khawatir tak kuat menahan motor yang harus dimiringkan. Ditambah lagi setang RE yang lebar membuat aksi meliuk-liuk tak bebas dilakukan.

Kami sempat pula beberapa kali berhenti di jalan menanjak. Mencoba menahan motor tanpa rem jelas jadi perbuatan sia-sia. Mencoba secara cepat mengatur gas dan melepas rem di tangan juga tak banyak membantu. Karena itu perlu untuk melatih konfigurasi perpindahan rem di tangan, tuas gigi dan kembali ke rem kaki jika sempat tertahan di jalanan macet yang menanjak.

Mesin Konfigurasi Lawas, Punya Suara Super Sexy Yang Menarik Perhatian

Secara kapasitas mesin, ruang bakar Royal Enfield yang notabene “hanya” 500 cc memang belum besar-besar amat. Namun karena modelnya yang slinder tunggal dengan sirip pendingin udara bikin mesin motor ini terlihat sangat besar.

Uniknya lagi konfigurasi mesin ini memang dirancang serupa dengan mesin lawas milik Royal Enfield jaman dulu. Overstrokenya dibuat panjang berkompresi rendah hanya 8,5:1 dengan mekanisme klepnya masih menggunakan pushrod.

Hasilnya suara mesin yang dihasilkan super seksi. Dalam kondisi stasioner, dentuman ngebass dari mesin 500 cc tersebut serupa helaan napas satu-satu dengan RPM yang sangat rendah. Bagi pengguna awam pastinya selalu ingin menaikan putaran gas jika menaiki Royal Enfield Classic 500 ini, karena suaranya dicurigai seperti akan mati.

Tapi sebetulnya tak perlu khawatir soal mesin mati karena jeroan milik Royal Enfield Classic 500 ini sudah tergolong modern. Pengapiannya bahkan menggunakan tipe twinspark alias businya ganda. Sementara pengabutan bensinnya sudah menganut sistem injeksi.

Uniknya masih ada tuas cuk di setang kiri, jadi injeksinya belum dibekali auto idle up. Saat pagi hari biar mudah menyala, pilihannya aktifkan cuk atau buka gas sedikit, kalau cuma pencet tombol starter mesin susah hidup. Kami juga menjajal menyalakan mesin besar ini dengan engkol kaki. Hasilnya? Ternyata tak sesulit yang dibayangkan.

Dengan mesin macam itu, meski Royal Enfield yang kami gunakan knalpotnya masih dalam kondisi standar, suara yang dihasilkan itu cukup membuat pengguna jalan lain melirik. Dan tak hanya dalam kondisi stasioner saja kami jadi objek menarik. Karena begitu gas dibuka, suara mesinnya tedengar berderu keras yang jelas menyita perhatian.

Motor Nyaman Memang Untuk Dibawa Santai

Bagaimana performanya? Motor ini memang bukan untuk dibawa berakselerasi. Daya maksimalnya hanya mencapai 27.2 bhp yang diperoleh pada 5.250 rpm. Kendati begitu torsinya lumayan besar 41.3 Nm pada 4000 rpm. Dikombinasi dengan napas transmisi gigi yang panjang.

Pengalaman kami membawa motor ini di tengah kemacetan memang butuh perhatian ekstra. Kita harus menemukan ritme yang tepat untuk membuka gas secara halus agar motor tak segera loncat karena torsi yang besar tadi.

Di luar itu, layaknya konfigurasi motor jadul, RE Classic 500 ini terasa sangat bergetar jika gas dipuntir agak dalam. Tentunya ini jadi tantangan sekaligus sensasi tersendiri karena di tengah padatnya lalu lintas Jakarta, kita sering kali harusmembuka gas lebih besar untuk menyalip kendaraan di depan. Walhasil tangan harus terbiasa menahan getaran.

Tapi memang RE seperti diniatkan untuk dibawa lebih santai dan tidak terburu-buru. Bukan tipikal motor bagi mereka yang gemar tarik gas. Coba saja liat posisi duduknya tergolong sangat santai. Kombinasi setangnya yang menjorok dekat ke pengendara dengan footstep yang posisinya sedang tak terlalu maju atau mundur, hasilnya paha cukup rata dan betis lurus. Santai banget!

Bicara handling, kombinasi sasis dengan suspensi depan 35 mm dan sokbreker belakang dengan 5 tingkat setelan preload ternyata sangat nyaman. Stabil banget dan nurut ketika diajak belak-belok, namun tetap empuk ketika melindas jalan rusak atau speed trap, guncangan yang terasa di setang, jok dan footstep terasa minim, racikannya pas! Kenyamanan ini makin maksimal dengan adanya per di jok pengemudi layaknyaa motor perang jaman dulu.

Bagimana konsumsi bensinnya? Dengan rasio kompresi 8,5:1, dikasih Pertalite beroktan 90 sudah lebih dari cukup. Dipakai harian di Jakarta dan sekitarnya, konsumsi bensinnya ternyata tergolong cukup irit untuk motor 500 cc, dari hasil pengukuran diperoleh angka rata-rata 24 km per liter.

Namun menggunakannya selama seminggu memang menyimpan PR tersendiri untuk urusan bensin ini. Pasalnya RE Classic 500 ini tidak memiliki jarum indikator bensin. Jadi meski ada lampu peringatan bensin akan habis, tetap saja pengendara harus kerap menggunakan feeling kapan harus isi bensin. Lumayan membuat degdegan ketika lampu tiba-tiba menyala di kemacetan sementara pom bensin masih jauh.

Jelas Tak Menolak Jika Melanjutkan Lebih Dari Seminggu

 

Kesimpulannya kami tak menolak melanjutkan menggunakan motor ini untuk harian. Setidaknya penggunaan rutin beberapa hari perminggu. Sebab Royal Enfield Classic 500 ini memang obat ajaib untuk mengusir kebosanan di tengah kemacetan jalanan Jakarta. Bentuknya yang klasik dan gagah dengan mesin besarnya membuat kami harus melayani sejumlah pertanyaan pengendara lain ketika di jalan raya atau ketika berhenti parkir. Jadi membawa motor ini untuk digunakan harian, berarti pula harus terbiasa dikomentari:

“Motornya sangar mas” ujar beberapa orang yang kami temui sambil mereka memberi jempol tanda penghormatan.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Biar Lebaran Di Kampung Terlaksana, Perhatikan Roda Dua Sebelum Berkendara

Menjelang hari lebaran yang terhitung beberapa hari lagi, pasti momen pulang ke kampung halaman atau mudik jadi tradisi yang tidak bakal putus. Segala macam jenis tranportasi dilakoni demi melepas rindu kepada orang tua terkasih sampai kerabat dan saudara di kampung. Salah satunya dengan roda dua.

Roda dua menjadi transportasi yang dinilai fleksibel selain beberapa jenis transportasi umum yang sudah mahal sampai menjulangnya harga tiket. Roda dua jadi kendaraan yang dipakai karena tidak ribet mampu mampi ke mana saja dan istirahat di mana saja. Akan tetapi pemudik tak boleh asal mencekek gas kuda besi apalagi saat perjalanan jauh, maka dari itu cek dulu speksifikasi sebelum memutuskan untuk pergi.

Roda

Ini merupakan salah bagian dari roda dua yang tak boleh luput dari pengecekan. Karena roda akan tergerus dengan jarak berpuluh-puluh KM nantinya. Pastikan kalau bearing , teromol hingga jeruji dapat berputar dengan lancar dan tidak goyang atau retak. Selain itu pastikan juga mur roda terikat dengan sempurna agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Rem

Nah hal yang satu ini sangat vital karena tanpa rem kendaraan tidak dapat dikontrol dengan baik. Apalagi banyak kejadian kendaraan yang mengalami kecelakaan saat mudik karena rem blong. Tandanya memang kendaraan tersebut tidak dicek dengan baik. Apalagi saat padatnya jalanan ketika mudik membuat bung dapat berhenti sewaktu-sewaktu. Jadi jangan lupa mengganti rem saat hendak mudik.

Suspensi

Agar kenyamanan berkendara jarak jauh dapat terjaga makan supensi harus dicek juga. Kemampuan suspensi motor yang baik tentunya tak membuat badan sangat lelah saat berkendara. Kalau bung ingin tahu cara mengeceknya dengan cara ditekan dan posisi motor langsung kembali seperti semula atau tidak.

Setang

Hal yang paling penting lagi saat berkendara adalah setang motor. Tentu ini juga bagian yang vital untuk memposisikan kendara. Salah satu cara mengecek adalah memasang standar tengah sampa roda menggantung. Periksa apakah setang goyang dengan menggunakan rem depan untuk mengunci roda, dorong ke depan dan belokkan ke kiri dan kanan. Apabila goyang lebih baik bawa dibengkel untuk diperbaiki.

Mesin

Bagian yang harus dicek paling terakhir adalah motor penggerak alias mesin. Perika apakah ada kebocoran di sekeliling mesin sampai warna oli dan knalpot. Dan nyalakan motor dan gas dengan kekuatan penuh, apabila asap yang dikeluarkan motor bewarna putih kebiruan maka ada indikasi kebocoran dalam bagian oli.

Namun setelah roda dua telah siap di bawa jalan, bung harus perhatikan kondisi badan dan rute jalanan. Apakah mampu dilalui atau tidak, karena sudah pasti bung membawa banyak barang bawaan kan terutama untuk diberikan kepada sanak saudara dan keluarga di kampung halaman. Saran dari kami hati-hati bung, jangan sampai pulang membawa duka tapi cerita.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Keren

Harga Suzuki Katana Cukup Bikin Terpana

Suzuki terus berkespansi demi memanjakan para penikmat roda dua di Indonesia, dengan mengeluarkan motor anyarnya tepat di ajang Jakarta Fair Kemayoran 2019. Kuda besi tersebut bernama Katana yang membuat heboh jagat perasapan roda dua yang sudah dipesan dari sekarang. Karena ada kabar kalau roda dua ini hanya dipamerkan saja di sana.

Kepastian disampaikan langsung oleh Yohan Yahya, Head of Marketing Department PT Suzuki Indomobil Sales Divisi Roda dua.

Saat ini kita tidak menjualnya, tetapi kalau mau pesan bisa. Unitnya kemungkinan (datang) akhir tahun atau awal tahun depan,” kata Yohan Yahya dilansir 100KPJ.

Perkara harga belum dapat dipastikan berkaitan dengan pajak dan biaya impor. Namun kisaran harga motor ini nampaknya akan memiliki nilai yang mahal.

“Harga belum kita pastikan, ada kemungkinan di kisaran Rp500-600 juta,” imbuh Yohan.

Edisi terbarunya kini merupakan pembaruan dari model yang pertama kali muncul pada tahun 1980-an. Soal spesifikasi, Katana dibekali mesin basis Inline-4, DOHC 16-Valve, milik GSX-S1000 – yang diklaim sanggup memuntahkan tenaga hingga 156 HP, plus torsi maksimum 104,3 Newton meter, dan sudah teruji keandalannya.

Untuk mendukung penampilan, generasi anyar sportbike tersebut disematkan berbagai fitur canggih, seperti traction control, easy start, low-rpm assist, dan speedometer digital. Di sektor kaki-kaki, Suzuki Katana terbaru sudah mengandalkan suspensi model upside-down di depan dan monoshock di belakang. Rodanya menggunakan pelek cast wheel, yang dikawal dual-disc brake di depan, serta single-disc brake di belakang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Keren

Mimpi Punya Honda Supercub, Apa Daya Mampunya SM Classic

Memiliki motor hobi seperti C-series keluaran Honda bagi pecinta roda dua adalah menggali kesenangan. Apalagi kalau memiliki kisah dengan motor tersebut, semisal sang ayah dulu bekerja menggunakan itu atau bung semsasa sekolah kerap memakai C-series untuk berjalan-jalan. Penggalian memori tersebut terasa lengkap ketika memiliki dan menunggangi. Honda sempat membawa nuansa klasik itu kembali dengan merilis Honda Super Cub C125 tahun lalu.

Kemunculannya yang mengundang selera ternyata tak sebanding dengan harga. Respon para pecinta yang tertarik pun mulai berubah setelah mengetahui Honda Super Cub C125 dibanderol cukup melejit di angka Rp 57,1 juta. Harga yang terjangkau bagi pehobi tapi tidak dengan konsumen yang ingin merasakan sensasi. Kini demi mengobati dahaga, salah satu kompetitor brand asal tiongkok SM Sport mengeluarkan produk yang tak jauh berbeda, SM Sport Cub Classic 110 yang dibanderol lebih murah yakni sekitar Rp 18,8 juta.

Nuansa Klasik Lebih Nyata Bersama SM Sport Cub Classic

Sumber : Theworldnews.net

Berbicara soal nuansa mungkin lebih nyata bersama SM Sport Cub Classic dibanding dengan Honda Super Cub C125. Pasalnya SM Sport Cub Classic didukung mesin 110 cc, silinder tunggal, 4-silinder, air cooling dengan sistem pengkabutan karburator. Dengan tenaga yang dimuntahkan mencapai 5,1 kW pada 7.500 rpm dan toris 8.0 Nm pada 5.500 rpm.

Beda dengan Honda Super Cub yang terlalu modern untuk dikatakan sebagai motor klasik. Motor bebek retro ini sudah dilengkapi sistem pencahayaan LED dan pelek jari-jari. Dengan ditanamkan mesin 125 cc SOHC dan sudah irpm.njeksi, bertenaga 9,7 PS pada . 7.500 rpm dan torsi 10 Nm pada 5.000 rpm.

SM Cub Classic Makin Jadul Dengan Rem Tromol

Sistem pengereman SM Classic 110 ternyata mempertahankan sisi jadul karena dibekali tromol. Sampai untuk konfigurasi tempat duduk, Cub Classic memilki jok belakang apabila pengendara ingin berboncengan. Menariknya, jok belakang juga dapat dilepas apabila memang berkendara sendiri. Karena motor ini hanya dibekali 110 CC maka motor ini memliki kecepatan maksimal 85 kilometer per-jam, yang memakai transmisi manual empat-percepatan untuk pengoperasian dan tanpa kopling.

SM Classic Merupakan Motor Tiongkok Rakitan Lokal

Sumber : ridechris.com

SM Sport perusahaan asal Tiongkok yang menelurkan SM Cub Classic 110 memiliki pusat pengembangan dan penelitian di negara tetangga Malaysia, kemudian dibawa oleh distributor PT MForce Indonesia (MFI) yang selama ini dkenal sebagai distributor brand motor SYM. Motor rakitan lokal ini memiliki desain batok lampu, sayap dan belakang yang mirip dengan pesaing. Namun dari sisi pelek masih beda, SM Classic membawa nuansa lawas karena mengusung jari-jari rapat. Perbedaan harga yang tak lepas karena SM Sport Cub Classic sudah diproduksi CKD (Completely Knock Down) di Bogor.

Angsuran Ditawarkan Bagi Para Peminat Roda Dua

Sumber : Ridechris.com

Mungkin angka Rp 18,8 juta masih terlalu tinggi untuk ditebus secara kontan. PT MForce Indonesia pun tak ingin mematikan hasrat para pembeli yang sudah ‘gatel’ ingin mencoba, maka selaku agen penjualan produk SM Sport di tanah air mengatakan kalau motor ini bisa dibeli dengan skema kredit. SM Classic ada tiga pilihan uang muka, Rp 5 juta, Rp 7,5 juta dan Rp 8,8 juta dengan tenor mulai dari 12 sampai 36 bulan. Untuk cicilan termurah ada di angka Rp 438 ribu perbulan dengan uang muka Rp 8,8 juta dibayar sebanyak 36 kali. Sedangkan yang termahal peminat mengangsur Rp 1,13 juta tiap bulan dibayar 12 kali dengan uang muka Rp 5 juta.

Penasaran Dengan Wujudnya? Kunjugi Jakarta Fair Saja!

Motor klasik memang menggiurkan sebagai tunggangan, namun jangan sampai salah kaprah dalam membeli kendaraan. Dan bagi bung yang serius atau berminat lebih kepada motor klasik ini. Mungkin bisa langsung menyambangin Jakarta Fair Kemayoran 2019, karena motor ini dipajang di sana tepat di booth MForce – SYM.

 

 

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top