Lebih Baik

Demi Dianggap ‘Kekinian’, Bung Rela Menggelontorkan Gaji Pas-Pas’an

Demi sebuah predikat yang sebenarnya tak terlalu berguna, bung memilih untuk menggunakan produk-produk brand premium seperti ‘Supreme’ dan ‘Bathing Ape’, nongkrong di bar bar yahud macam ‘Ms. Jackson’ atau ‘Pao Pao’ sampai memburu gadget Apple yang terbaru, apalagi kalau bukan iPhone. Tiga hal tersebut seolah menjadi patokan bahwa bung layak disematkan sebagai seseorang yang uptodate, gaul dan berkelas (terutama bagi kalian yang paham ya).

Menyoal soal tren ini, Gayatri Jayamaran sempat menyinggung generasi milenial yang gajinya nggak seberapa tapi berlomba-lomba untuk mencapai tren masa kini. Gaji yang hanya sebatas UMR tapi kebelet beken, alhasil kebutuhan dasar dikorbankan. Orang-orang macam ini disebut oleh Gayatri sebagai The Urban Poor.

Tulisannya sangat viral di internet dan dibaca oleh jutaan warganet. Isinya pun menyindir kenyataan yang ada di depan mata seolah-olah berkata, “Kalau tidak memungkinkan, ya tak usah memaksakan“. Jayatri menggambarkan gaya hidup anak muda di India. Dan ini nggak jauh berbeda dengan negara kita termasuk di Indonesia.

“Terlalu banyak profesional muda yang berpikir bahwa untuk mendapatkan uang, maka kita harus mengeluarkan banyak uang,” tulis Gayatri,

Lantas orang-orang seperti apa saja yang rela mengorbankan finansialnya untuk hidup demi mendapatkan eksistensi?

Teracuni Tren dan Selebgram Jadi Patokan

Setuju atau tidak, ketika bung sedang nongkrong di kafe atau di manapun, kerap ada celetukan,”cari tempat yang foto yang instagramable biar kaya selebgram”.

Otomatis tanpa disadari atau tidak berarti kita ingin mengikuti mereka yang disebut sabagai influencer. Finansial yang terbatas, ditebas asalkan biar nongkrong macam orang kaya yang terbebas akan biaya. Padahal tanggungan dan cicilan masih menghantui, kan?

Belum lagi ada harapan aji mumpung dapat menjadi the next selebgram dan kebanjiran endorse. Pundi-pundi rupiah pun ada di bayangan mereka. Padahal tidak seenak itu juga hidup jadi selebgram lho bung. Setidaknya itu yang dikatakan Savina Chai seorang selebgram papan atas Singapura.

Setelah pesawat mendarat, kami harus buru-buru memeriksa ponsel kami dan membalas email-email dari klien. Kami harus selalu bekerja walau dalam perjalanan. Tidak ada waktu untuk mandi. Kami hanya sempat memakai make-up, berganti baju lalu bergegas mengikuti agenda perjalanan,” ungkap Savina Chai yang dikutip dari Channel News Asia.

Bar-Bar Mahal Jadi Incaran, Rela Keluar Uang Asalkan Terlihat Kekinian

Di Jakarta banyak bar-bar berkelas nan mewah, yang membuat bung berasa sudah Ok apabila berada di sana. Istilah Senoparty pun muncul, merujuk beberapa tempat di kawasan Senopati, Jakarta Selatan yang dikelilingi oleh beberapa bar cozy dan eksis tentunya.

Salah satu yang cukup keren untuk disambangi adalah ‘Pao Pao Liquor Bar & Dimsum Parlour’. Kalau dari Zomato sih, untuk dua orang bung dapat menghabiskan uang sampai Rp 300 ribu dengan alkohol, tapi kala sedang bermabu-mabuan (terkadang) seseorang bisa tak terkendali bukan? bisa jadi lebih dari itu biayanya.

Kalau dengan gaji Rp 3,5 juta per bulan, terus bung ke Pao-Pao tiap akhir pekan otomatis sudah Rp 1,2 juta yang keluar. Sedangkan dari senin sampai jumat bung menghabiskan Rp 70 ribu untuk makan siang dan malam sampai biaya ojek online pulang pergi, bisa sekitar Rp 1,4 juta. Belum lagi pulsa, cicilan, internet dan kawan-kawannya. Tak masalah sih apabila gaji bung cukup, tapi yang jadi masalah adalah mereka yang kebelet untuk eksis dengan gaji yang tipis.

Memburu Gawai Terbaru Meskipun yang Lama Masih Bisa Digunakan

Gawai tak boleh terlihat kuno, saat ada rentetan gawai terbaru itu salah satu hal yang harus diburu. Mulai dari Apple sampai Samsung tak bisa ketinggalan. Bagi mereka adalah aib apabila menenteng hal yang lama, di kala teman sudah memiliki yang terbaru. Salah satu hal lainnya yang menyelimuti orang semacam ini adalah ingin timbul pengakuan.

Tak kala ia bertemu teman dan sudah membawa Iphone 8, pasti ia merasa sudah unggul diantara teman-temannya. Tren memiliki gawai terbaru diantara yang lain menjadi hal yang tak asing lagi. Bahkan bung bisa menemukan hal ini diantara teman-teman bung.

Penampilan Tak Boleh Usang, Harus Siap Tampil Secara Matang

“Kita lebih memilih untuk mengeluarkan banyak uang demi penampilan kita ketimbang mengeluarkan sedikit uang untuk membeli makanan,” ujar Gayatri.

Masalah penampilan menjadi satu hal yang agak sensitif. Dipandang remeh akan penampilan tentu membuat bung geram. Tetapi penampilan di sini merujuk kepada barang-barang berlabel hypebeast macam ‘Supreme’ dan ‘Bathing Ape’. Harganya yang bikin kantong nyeri, terkadang tak jadi masalah. Padahal memakai barang tersebut tak serta merta bung mendapatkan label ‘Ganteng’ secara hakiki. Justru, yang terjadi adalah cuma naiknya nama kalian di mata sosial pertemanan.

Untuk T-shirt harus menghabiskan biaya sekitar Rp 1 – 3 juta adalah hal yang mesti dipikirkan matang-matang. Kalau sebulan saja bung bisa menghabiskan Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta, tentu buat apa memaksakan membeli barang yang terlalu over harganya bukan? yang ada bung malah pusing kepalang karena di pertengahan bulan makan siang dan malam hanya mie instan.

Lebih parahnya lagi kalau ada pikiran untuk menyicil sebuah baju. Hmm, coba fikirkan kembali apakah itu worth it buat gaji bung yang tidak seberapa? bahkan masih ada hal lain yang lebih penting.

Polemik The Urban Poor, Memaksakan Hal yang Tak Tersampaikan

Istilah yang ditulis oleh Gayatri Jayamaran untuk anak muda India, otomatis menyentil anak muda di Indonesia. Tidak hanya anak muda saja, bahkan dikalangan dewasa seperti kita ini, masih ada beberapa orang yang kerap tampil dengan cara memaksakan (tidak teruntuk bagi bung yang mapan).

Apabila tidak mampu mendapatkan asli, barang KW pun tak masalah. Dampak yang terjadi adalah nyinyir dari orang sekitar tentang apa yang terjadi pada kalian atau orang-orang The Urban Poor. Melihat fenomena ini, memberi bukti bahwa tren dapat menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Tak salah ada ungkapan yang bilang,”yang mahal itu bukan biaya hidup, melainkan gaya hidup”.

Apabila finansial bung yang tidak terlalu mengangkat, bahkan untuk menabung dan investasi saja tidak tersampaikan lantaran tertutup biaya bulanan, jangan memaksakan. Bergayalah sesuai dengan isi kantong kalian, seperti kami bilang di atas bahwa kalau menjadi tren sebagai kiblat tentu tidak akan ada habisnya.

Eksistensi bukan harga mata mati di kondisi sosial saat ini. Kalau bung tak berhenti sekarang akan menyesal nanti. Sudah seharusnya bung mulai berinvestasi, selain menabung pada saat ini. Lantaran itu dapat menyelamatkan bung saat tua nanti. Justru Supreme yang bung kenakan, iPhone 8 yang bung tenteng, dan bar Senopati yang bung sambangi bisa jadi berganti atau mati seiring trend berjalan nanti.

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Tingkah Polah Orang-Orang yang Pura-Pura Kaya

Ironisnya ya Bung, segelintir orang menolak fakta kalau memang harta mereka belum seberapa. Alih-alih memperbaiki kasta, ada yang memilih masuk golongan pura-pura kaya. Mereka menghidupi imajinasi dengan banyak sesumbar. Kalau Bung jeli, mudah sekali mengenali tipikal orang yang demikian. Salah satunya tentu, dia kelihatan banyak bicara padahal tak punya apa-apa.

Orang yang Ngaku Kaya, Memuja Merek Setinggi Langit Bukan Karena Kualitas

Ya, mereka lebih peduli pada imej yang dimiliki merk tersebut. Katakanlah sebuah sepatu dengan merk terkenal. Mereka yang ingin terlihat kaya akan menjadikan merk tersebut sebagai ‘tameng’. Alih-alih memahami kualitas dan mengutamakan kenyamanan, golongan orang-orang ini justru jumawa karena sudah ‘sanggup membeli’. Tujuannya, tentu berharap dapat afirmasi dari sekelilingnya atas kesanggupannya itu.

Nah, untuk golongan yang benar-benar kaya, ihwal merk adalah urusan kesekian. Yang penting, barang  tersebut berkualitas dan nyaman dipakai. Itulah kenapa beberapa barang dengan merk kelas atas justru kelihatan memiliki tampilan yang membosankan dan itu-itu saja.

Merek pengenalnya biasanya hanya tampil kecil nan tersembunyi. Ini karena para produsen mengerti pasar. Mereka hanya akan memproduksi barang untuk kalangan sendiri yang tak akan dipahami oleh golongan yang hanya mengglorifikasi sebuah merk.

Ngaku Kenal dengan Banyak Orang Besar Demi Terlihat Gahar

Bung pernah kan ketemu dengan orang-orang semacam ini? Mereka entah kenapa suka dan piawai sekali membangun cerita seolah-olah mereka kenal akrab dengan orang besar seperti pejabat atau selebritis. Padahal kita sama-sama tahu ya Bung, hal tersebut hanya omong kosong belaka.

Percayalah, orang yang benar-benar kaya dan punya banyak koneksi hebat tak akan sesumbar mengenai teman-teman dekat mereka. Buat orang kaya betulan, privasi justru nomor satu.

Entah Mengapa, Lawan Bicara Akan Mudah Bosan Berinteraksi dengan Orang yang Pura-pura Kaya

Bung, kasta mungkin bisa dimanipulasi. Tapi kelas dan perilaku tak bisa dibuat-buat. Orang yang pura-pura kaya biasanya tak disertai kemampuan yang cakap untuk membuat lawan bicara mereka percaya 100 persen dan tahan untuk berinteraksi terus dengannya. Ini karena bahasan mereka tak bisa meluas.

Mereka terjebak pada topik membangun imej kaya sehingga yang dibicarakan selalu mengenai uang dan kekayaan. Tak ada yang lebih menyenangkan selain pamer kepada lawan bicara. Padahal, orang kaya raya betulan tak akan banyak sesumbar mengenai uang yang mereka hasilkan.

Dia yang Mau Dicap Sukses, Selalu Ingin Kelihatan Punya Proyek Besar

Orang yang pura-pura sukses selalu membicarakan sesuatu besar nan potensial yang sedang ia kerjakan. Memang, mereka memiliki rencana. Hanya saja, mereka tak punya konsistensi dan disiplin diri yang tinggi. Hal ini membuat potensi nan besar itu akhirnya tak bisa membawa mereka benar-benar naik kasta. Proyek besar yang dikerjakannya sekarang tak dibarengi dengan perencanaan matang untuk jangka waktu lima sampai sepuluh tahunan.

Sementara yang benar-benar sukses biasanya adalah orang yang mau bekerja dari nol. Mereka adalah orang-orang yang punya fokus besar dan disiplin tinggi pada satu hal yang mereka kerjakan sejak lama dan tahu apa yang mereka kerjakan bahkan bisa melihat potensinya di masa mendatang. Yang membedakan orang yang suksesnya hanya pura-pura dengan yang sukses dari lama adalah konsistensi dan komitmen.

Lucunya, Mereka Tak Suka Bila Merasa Tersaingi

Bung, coba perhatikan. Orang yang pura-pura kaya biasanya ekspresinya berubah bila bertemu dengan orang yang jauh lebih kaya pengalaman dan sudah merasakan asam garam. Dalam sebuah percakapan, orang yang pura-pura kaya cenderung ingin terus menerus menguasai percakapan dan berusaha mengembalikan suasana agar topik dan arah pembicaraan kembali berbicara tentang kehebatannya.

Sementara mereka yang benar-benar kaya justru lebih sering bertanya daripada berbicara tetang diri mereka sendiri. Mereka selalu tertarik untuk mendengarkan cerita lawan bicara mereka. Jelas sekali perbedaannya, kan?

Urusaan Pekerjaan, Orang yang Pura-pura Kaya Selalu Mencari Nama yang Fancy untuk Jabatan Mereka

Memang ada beberapa pekerjaan yang sejatinya sudah punya nama pasti, namun dipercantik supaya orang lebih mengapresiasi pekerjaan atau jabatan tersebut. Nah, situasi ini yang dimanfaatkan mereka yang suka panjat sosial sekaligus ingin terlihat hebat di mata rekanannya.

Bukan hanya gelar akademik yang bisa dimanipulasi, jabatan di kantor pun dilihat semenarik mungkin supaya kelihatan ‘wah’. Kantornya memberi sebutan jabatan “sales” misalnya, maka si pura-pura kaya akan bilang jabatannya “Business Development And Relationship Maintenance Manager”

Mereka yang Pura-pura Kaya Belum Tentu Punya Banyak Tabungan

Urusan uang simpanan, ini jadi tantangan besar untuk golongan pura-pura kaya. Alih-alih mengumpulkan uang dan investasi saham, mereka memilih berinvestasi pada penampilan. Ini karena sejatinya mereka belum mengerti cara mengatur uang, yang mereka pahami hanya memakai, memakai, dan memakai, Bung.

Seiring berjalannya waktu, uang pun habis dan mereka perlu uang, maka mau tak mau berhutang. Sementara yang benar-benar kaya, urusan tabungan tak perlu ditanya.

Orang yang Benar-benar Kaya, Punya Kelasnya Tersendiri

Karena memang sudah punya ‘taste’, orang yang sudah kaya dari sananya biasanya mengerti nilai sebuah benda. Tidak hanya untuk jangka waktu sebentar, tapi beberapa waktu ke depan. Prinsip ini yang belum tentu dipahami orang yang pura-pura kaya, mereka terjebak pada tren yang berkembang dan mengikutinya.

Alih-alih menciptakan dan memili ‘taste’nya tersendiri, mereka terlalu takut untuk ketinggalan sesuatu yang sedang hits. Ya, orang dengan tipikal seperti ini bisa jadi mengidap FOMO alias Fear Of Missing Out.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Oke, Ini 9 hal yang Perlu Kita Lakukan Saat Kaya Mendadak

Kaya mendadak tak cuma penghias cerita fiksi, sebab hal itu sangat mungkin terjadi di dunia nyata. Mulai dari menang judi bola, dapat warisan nenek moyang sampai urusan kaya mendadak akibat dapat gusuran tanah yang terkena proyek pemerintah. Apapun itu, sebenarnya selalu ada peluang untuk bisa kaya mendadak. Pertanyaannya, bila Bung dihadapkan dengan situasi yang demikian, sudah siapkah mental Bung untuk menghadapinya?

Masalahnya, banyak orang yang tiba-tiba bisa punya banyak uang tapi tak diiringi dengan mental untuk menghadapi perubahan seiring datangnya uang tersebut. Alih-alih sejahtera sampai tujuh turunan, yang terjadi justru lebih sering uang yang tiba-tiba datang habis begitu saja. Untuk itu, pastikan dulu Bung siap melakukan 9 hal ini bila sewaktu-waktu kaya mendadak.

Situ OKB? Jangan Tergoda Untuk Pamer

Hal paling norak yang dilakukan para OKB (Orang Kaya Baru) adalah pamer ke semua orang. Padahal hal paling penting adalah tetap utamakan privasi. Tak usah pamer atau memberitahukan banyak kolega kalau finansial Bung sekarang sedang ‘naik level’. Prioritas utama saat Bung memiliki banyak uang adalah soal privasi.

Bila Bung justru memamerkan dengan jelas keberadaan uang ini yang tiba-tiba mengubah hidup Bung, maka siap-siaplah untuk menyambut kedatangan ‘teman-teman palsu’ secara bertubi-tubi. Besar kemungkinan teman-teman macam ini yang akan menghabiskan duit kita secara cepat. Jadilah bijak, biarkan sekeliling Bung tahu bila waktunya memang sudah tepat.

Lunasi Dulu Semua Hutang Bung, Jangan Menunda untuk Prioritas yang Satu Ini

Ada banyak orang yang terlanjur terlena dengan uang yang dimilikinya sehingga ia tak keberatan memakainya untuk belanja banyak hal yang tak perlu. Padahal, prioritas lainnya saat Bung mengantongi banyak uang adalah lunasi dulu semua hutang Bung. Perasaan lega karena hutang lunas jauh lebih menyenangkan dibanding berbelanja barang mahal tapi setoran hutang masih mengintai. Hal penting lainnya, usahakan untuk tidak berhutang lagi ya Bung.

Kaya Mendadak Bukan Alasan yang Tepat Bung Memilih Keluar dari Pekerjaan

Ini memang salah satu godaan paling luar biasa. Terbayang muka bos yang menyebalkan itu jika kita tiba-tiba menyatakan diri ingin resign karena sudah kaya raya. Tapi, Janganlah jadi pribadi yang terburu-buru.

Tak usah keluar alias resign dari pekerjaan yang Bung lakoni sekarang. Justru dengan memilih keluar seolah-olah Bung tak perlu lagi bekerja dan gaji dari tempat Bung bekerja sekarang, bisa jadi ini adalah sumber kekacauan pertama yang berpotensi membuat Bung bangkrut mendadak di masa depan.

Dari sejumlah penelitian ditemukan, tidak ada orang yang betah tidak melakukan aktivitas apapun. Bahkan orang paling malas sekalipun lekas bosan kalau tak punya kegiatan. Sekarang bayangkan kalau Bung resign dan tiba-tiba tak punya aktivitas, apa yang akan Bung lakukan? Mencari aktivitas mulai dari jalan, berbelanja, liburan, menjalankan hobi dan hal-hal lainnya yang jelas-jelas akan menguras kekayaan.

Simpan Uang Bung dan Diamkan Setidaknya Selama Enam Bulan

Mendiamkan uang selama enam bulan kelihatannya terlalu lama? Tidak juga Bung. Justru Bung dianjurkan melakukan hal ini karena Bung perlu memproses perubahan yang terjadi dengan sebaik dan sebijak mungkin seiring datangnya uang tersebut. Percayalah, sekarang ini pasti Bung merasa setiap hal dalam hidup Bung berubah seketika.

Padahal sejatinya yang berubah hanyalah kondisi finansial Bung, sementara karakter dan pengendalian diri Bung tetap sama. Jangka waktu selama enam bulan akan membuat Bung belajar mengontrol diri terhadap keinginan yang sifatnya impulsif. Mungkin akan ada kejadian menarik nan dramatis. Yang penting, nikmati saja masa-masa itu selama kira-kira enam bulan lamanya.

Mencari Instrumen Investasi yang Tepat Seharusnya Pun Sudah Masuk dalam Daftar Prioritas yang Ingin Bung Penuhi

Investasi jelas perlu. Uang yang Bung miliki anggap saja sebagai sebuah tunas kecil yang perlu ditanam sehingga ia nantinya tumbuh jadi pohon yang kokoh. Investasi pun perlu karena disinilah Bung belajar rasanya jadi orang kaya. Terlebih bila Bung tak terbiasa ‘menanam uang’, maka investasi adalah tempat terbaik untuk belajar lebih bijak lagi mengendalikan uang.

Kuncinya, pastikan Bung memiliki perencana atau penasehat keuangan yang akan mengarahkan Bung pada instrumen investasi yang tepat serta mengajarkan konsep kalau uang adalah sesuatu yang bergerak. Ia bisa tumbuh, bak sebatang pohon. Belajarlah memakan buah (hasil investasi) dari pohon tersebut. Dan bukan terburu-buru menebang pohonnya (mengambil modal).

Jangan Cari Kemewahan, Justru Carilah Kenyamanan

Sekalipun ada istilah yang mengatakan semua bisa dibeli dengan uang, tapi tetapkan batasan pasti pada diri Bung. Pasti ada keinginan dalam diri untuk berbuat impulsif mencari kemewahan seperti yang sudah Bung idam-idamkan sejak lama. Tak usah menuruti nafsu impulsif ini Bung. Jika hendak beli rumah, carilah yang sekiranya nyaman.

Tak perlu mencari rumah di lingkungan old money alias mereka yang kaya raya sejak lama. Justru beli rumah di lingkungan yang demikian tak akan menguntungkan Bung. Banyak biaya tambahan yang akan dibebankan sepanjang tahun. Dan itu lambat laun hanya akan membuat Bung kembali berhutang.

Siapa Bilang Saat Banyak Uang Harus Baik Pada Teman?

Maksudnya kali ini, Bung dianjurkan untuk tak usah menginvestasikan apapun pada bisnis temanmu atau meminjamkan uang padanya. Justru hal in akan membuat privasimu jadi terancam dan orang-orang tahu kalau kamu punya banyak uang. Bung dijadikan incaran oleh mereka yang punya banyak rencana bisnis, hutang besar, suntikan dana, bahkan butuh modal secara cuma-cuma.

Apalagi semua pakar bisnis tahu bahwa 9 dari 10 bisnis baru itu pasti bangkrut. Jadi alau Bung memberi modal kepada kerabat atau teman kemudian bisnis tersebut bangkrut, hal itu bukan tak mungkin akan merusak hubungan baik yang telah terjalin selama ini.  

Investasi Lainnya yang Perlu Bung Lakukan: Investasi Kesehatan

Ya, tetap fokuslah jaga kesehatan. Dengan jumlah uang yang cukup besar di tabungan Bung, mungkin Bung berpikir saatnya menikmati hidup selagi masih diberi umur. Tapi jangan lupakan urusan kesehatan. Bung perlu lakukan full medical check up untuk memastikan kondisi tubuh Bung, dan mulailah untuk memperhatikan kesehatan dimulai dari memilih makanan yang konsumsi dan cari cara untuk semakin membuat diri jadi sehat. Untuk apa kaya tapi tak didukung tubuh yang sehat? Ujung-ujungnya tetap menderita, Bung.

Jangan Selingkuh Atau Buru-buru Cari Pasangan Baru

Membaiknya urusan finansial seharusnya bisa mempererat hubungan keluarga atau relasi suami istri yang sempat berselisih paham. Tapi kenyataannya tak demikian, justru banyak yang menganggap uang bisa membeli segalanya. Termasuk pasangan baru. Bila sudah begini, tandanya bukan Bung yang mengendalikan uang, tapi uanglah yang mengendalikan Bung.

Selingkuh dari pasangan hanya akan mengantarkan Bung pada masalah baru dan awal-awal kehancuran hubungan dan finansial. Coba bayangkan pasangan baru yang Bung temui ketika sudah punya uang besar kemungkinan gaya hidupnya juga tak sesederhana pasangan yang dulu ikut berjuang di sebelah Bung bukan?

Nah, untuk itu, menjadi kaya mendadak memang perlu mental untuk siap pada perubahan di depan mata. Semakin banyak uang yang dimiliki, semakin banyak orang yang akan menjadikan Bung sebagai target. Kini orang-orang akan berpikir bagaimana caranya meraup uang yang Bung miliki. Ya, orang-orang bisa jadi jahat sewaktu-waktu.

Nyatanya, punya uang adalah suatu pekerjaan besar. Jika Bung kira hidup akan lebih mudah saat punya uang, sejatinya tidak juga. Bisa jadi satu masalah selesai, justru muncul masalah lainnya. Tapi dengan memiliki mental yang siap pada perubahan, percayalah, jadi kaya mendadak justru akan terasa menyenangkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Lika Liku Pinjam Meminjam Duit Online yang Memilukan

Pilu memang kalau mengetahui apa yang terjadi dalam seluk beluk meminjam duit di pinjaman online. Sudah dikenakan bunga tinggi, plafond pinjaman juga kecil. Namun bagi mereka yang sangat membutuhkan, pinjaman online seolah menjadi malaikat di tengah kegelapan. Kenapa? karena tidak ada jaminan seperti saat bung meminjam uang di bank, yang mana jaminan sangat diperhitungkan sehingga bung tak bisa asal meminjam.

Di geliat dunia fintech yang semakin menjamur. Tak berarti kemajuan dari teknologi dapat diiringi sebagai suatu solusi. Ternyata ada saja beberapa hal yang tidak dapat diterima oleh masyarakat. Bahkan hal yang tidak dapat diterima ini sifatnya sangat meresahkan. Alhasil lika liku pinjam meminjam duit online ini menjadi hal yang sangat memilukan.

Risiko yang Diterima Tak Sepadan Dengan Uang yang Dipinjam

Meminjam uang lewat pinjaman online mungkin dapat membantu dalam beberapa hal atau kondisi yang sifatnya dadakan. Namun tak banyak orang yang berfikir panjang pasalnya kalau dicermati mereka akan melihat pola yang tidak beres dari beberapa perusahaan pinjaman online.

Seperti suku bunga dan biaya pinjol nyatanya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan KTA (Kredit Tanpa Angunan). Akumulasi biaya dalam meminjam pinjol juga sangat besar. Apalagi banyak pinjol yang belum terdaftar di OJK alias investasi bodong terus menghantui semua orang. Di lihat dari pola dan beberapa hal tersebut menandakan kalau terdapat risiko yang cukup genting dalam pinjol.

Rentetan Kasus Penagih Utang Online Membuat Orang Mulai Berfikir Untuk Pinjam Online

Beberapa kasus pinjol menjadi bahan pergunjingan netizen, mereka ramai-ramai membeberkan hal yang menimpa mereka. Apalagi setelah mengetahui kalau kerabat dari nasabah yang memiliki hutang tersebut mendapat tekanan dari penagih hutang. Dan dikatakan sebagai nomor darurat, yang nyatanya tidak demikian. Kasus ini membuat aplikasi kredit online mulai minim dipercaya.

Penagihan Hutang Dilakukan Dengan Cara yang Kasar

Permintaan aplikasi atau Permission Apps yang jarang dibaca dengan teliti, ternyata ada beberapa permintaan yang bahaya apabila disetujui. Seperti membaca SMS, melihat kontak, sampai melihat panggilan yang masuk.

Hal ini diminta sebagai jaminan, yang nyatanya dilakukan aplikasi untuk melakukan kontak ke beberapa kontak bung untuk memberikan peringatan bahwa bung belum membayar. Banyak yang stres akan hal ini, dari yang mulai kehilangan pekerjaan, bunuh diri, sampai menjual ginjalnya di Facebook. Lantaran penagih hutang memberikan ancaman ke tempat kerja nasabah, keluarga bahkan rekan-rekannya.

Bahkan Mereka yang Terlilit Hutang Mengatakan Pinjol Sebagai Jebakan Setan

Kematian akibat terlilit hutang bukan lagi sesuatu yang baru. Namun kematian seorang supir Taksi di daerah Mampang Prapatan, Jakarta Selatan adalah hal memilukan. Dalam surat wasiatnya ia mengatakan kalau pinjaman online adalah jebakan setan. Tak ada hal yang jelas apa alasan ia mengatakan ini semua, namun banyak yang berasumsi bahwasanya bunga yang tinggi membuat ia tak kuasa, apalagi penagih hutang akan terus meneror dirinya lewat verbal.

Maka Dari Itu, Mulailah Perhatikan Permission Apps dari Aplikasi yang Bung Unduh

Menyepelekan sesuatu akan membuahkan bencana. Mungkin itu salah satu hal yang dapat kita petik dari kasus pinjaman online. Di mana, permintaan aplikasi bertujuan mengubek-ngubek privasi. Tidak hanya dalam sektor finance technology seperti pinjaman online saja, mulai dari mengunduh aplikasi untuk game, media sosial dan semacamnya bung harus mulai memperhatikan semuanya. Karena bisa saja ada beberapa permission yang dapat menyebabkan hal serupa untuk ke depannya. Karena aplikasi tak bisa melakukan itu semua, apabila sang pengunduh tidak mengizinkannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top