Dating & Relationship

Konon Kabarnya Si Nona Yang Berbulu Panjang, Galak Di Ranjang

Mari kita buka-bukaan, Bung tentu mendambakan si nona yang hangat diranjang dan mampu memenuhi kebutuhan biologis secara memuaskan. Masalahnya tak semua perempuan itu punya hasrat seksual yang hangat, sebab sebagian ada yang memang dingin untuk urusan ranjang.

Kalau hanya datar-datar saja, tentu kehidupan rumah tangga akan terasa hambar. Padahal hasil beberapa survei mengungkapkan jika urusan bercinta jadi tonggak harmonisnya keutuhan rumah tangga. Hadir jadi mitos yang banyak dipercaya, barangkali perempuan berbulu lebat jadi solusi untuk persoalan yang Bung sedang pikirkan.

Sebab tak hanya terlihat seksi dan bergairah, konon si nona yang demikian juga bisa jadi lawan main yang hebat untuk ena-ena.

Si Nona Ini Memang Istimewa, Sebab Ia Memiliki Hormon Testosteron yang Lebih Tinggi dari Perempuan Biasa

Agar tak asal memberi cap si nona punya libido tinggi, Bung perlu tahu jika perempuan yang memiliki bulu lebat memang memiliki kandungan hormon testosteron yang lebih banyak daripada estrogennya. Hal ini pulalah yang melatarbelakangi beberapa titik pada tubuhnya akhirnya ditumbuhi bulu yang tak seperti perempuan biasanya.

Wajar memang jika akhirnya Bung percaya bahwa fakta tersebut memanglah benar. Sebab hormon testosteron identik jadi hormon yang banyak berdiam dalam diri laki-laki. Dengan kata lain Bung mungkin sedang berpikir bahwa si nona juga memiliki gairah dan nafsu yang sama dengan diri Bung. Berasumsi boleh saja, tapi belum tentu sama dengan apa yang Bung yakini.

Tapi Bung Jangan Keliru, Karena Perihal Nafsu Tak Selalu Dikarenakan Hal Itu

Coba lihat dulu, beberapa orang perempuan yang mungkin kebetulan memiliki bulu-bulu yang lebat. Walau gairah dan nafsunya tak selalu bisa terlihat dari gelagatnya, setidaknya ada beberapa hal yang bisa Bung nilai. Apakah si nona memang bernafsu tinggi atau tidak.

Namun menariknya, gairah yang dalam hal biologis yang kita kenal sebagai libido tak selalu ditentukan oleh hormon tostosteron saja. Karena itu, untuk urusan ranjang tak selalu hanya karena bernafsu, sebab ada hal-hal lain yang juga berpengaruh. Seperti masalah psikologis dan sosial.

Laki-Laki Itu Soal Seks, Tapi Perempuan Tak Selalu Begitu

Sebuah penelitian di Ohio menyimpulkan bahwa dalam satu hari laki-laki bisa membayangkan seks setiap tujuh detik, yang apabila diakumulasikan, selama sekitar 16 jam dalam kondisi terjaga,maka ada 8000 kali Bung memikirkan tentang seks.  

Dengan kata lain, untuk urusan seks dan perihal memikirkannya, Bung masih menjadi juara dibanding si nona. Bung mungkin bisa saja tetap tidur dengan perempuan yang tak dicintai sama sekali, lain hal dengan perempuan. Menurut Dr. John Moran, ahli disfungsi seksual dari Holistik Medical Clinic di London, untuk mengerti gairah seksual wanita, Bung perlu melihatnya dari faktor fisik, psikologis, sosial, dan hubungan. Ia menambahkan bahwa

“Tidak hanya bagian tubuh saja. Ada nafsu, cinta, keintiman, lalu ada juga lelah, kesibukan, marah atau bahagianya seorang perempuan”

Jika Ternyata Bung Mendekatinya Hanya Karena Bulu yang Lebat, Jangan Pikir Perkiraan Bung Sudah Benar

Tak apa memang, jika ternyata si nona yang ada di hadapan sekarang adalah tipikal perempuan berbulu lebat yang menawan. Sebab konon, beberapa teman laki-laki Bung juga telah membuktikan, jika pasangan hidup yang berbulu lebat memiliki libido tinggi. Untuk Bung yang memang butuh kehangatan, ini tentu bisa dijadikan jawaban.

Terlihat seksi dan memiliki sesuatu yang cukup menjanjikan, perempuan ini memang memiliki nilai lebih dari perempuan kebanyakan. Apa lagi jika ternyata Bung cukup lihai dalam menularkan kebiasaan lain yang akan memacu nafsu dan gairahnya. Ini tentu jadi perpaduan baik dalam hal kepuasan bersama. Tak hanya Bung saja, pastikan si nona juga.

Sebab Tak Hanya Gairah dan Nafsu yang Si Nona Miliki Saja, Ada Hal Lain yang Juga Si Nona Lihat Ketika Ingin Bercinta

Baik Bung dan si nona tentu memiliki tingkatan nafsu yang berbeda-beda. Pada satu kesempatan, si nona juga bisa menunjukkan kemampuannya dalam memimpin permainan di atas ranjang, sembari memamerkan gairah seksnya. Untuk itu Bung perlu bagaimana cara kerja hasrat seksualnya.

Jangan karena tahu si nona berbulu lebat, Bung lantas berpikir bahwa si nona adalah perempuan ganas yang binal di atas ranjang. Tentu tak begitu. Sebab meski ada fakta yang memang hampir mendekati tentang perempuan berbulu lebat dan tingkat nafsu yang tinggi. Hal ini tak selalu berlaku disetiap kali Bung mengajaknya berduel di atas ranjang.

Karena tak hanya urusan birahi saja, biasanya ada hal lain yang juga dipikirkan oleh perempuan untuk menerima ajakan bermain di atas ranjang.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Sebetulnya Kapan Saat yang Tepat Beli Mobil Baru?

Berhubung membeli mobil tak semudah membayar makanan di angkringan, pastinya banyak hal yang jadi pertimbangan. Apalagi membeli mobil membutuhkan komitmen yang tidak sebentar. Tak mungkin juga, bulan ini beli lalu bulan berikutnya sudah harus dijual lagi. Nah jadi sebetulnya, kapan waktu yang tepat untuk membeli mobil baru?

Ketika Kebutuhan Tak Bisa Lagi Diakomodir Si Kuda Besi

Mungkin selama ini Kita begitu menikmati menunggang si kuda besi alias motor. Sedari muda, moda transportasi roda dua ini jadi pilihan dalam situasi apa pun. Namun toh nyatanya hidup mengalami perubahan. Ada beberapa kegiatan yang ada saat ini sudah tak mungkin lagi dilakukan dengan mengendarai motor.

Misalnya, dulu mungkin tak begitu masalah naik motor ketika masih membujang tanpa ada yang menemani. Ketika sudah berpasangan apalagi berstatus keluarga muda dengan anak yang masih kecil-kecil tentu jadi berbeda kasus. Tak mungkin lagi membonceng si kecil di motor dan membawanya dalam perjalanan jauh.
Ini salah satu momen yang pas untuk mulai berpikir mengambil mobil untuk kendaraan cadangan. Bukan berarti meninggalkan tunggangan setia, tapi memang ada kebutuhan yang mau tak mau harus menggunakan roda empat.

Ketika Mobil Sudah Punya, Tapi Usianya Sudah Lanjut

 

Tak salah memang terhanyut dalam romansa dan memori dengan mobil yang selama ini telah menemani. Tapi kita juga harus realistis, bahwa mobil juga punya usia sebaik apapun kita merawatnya. Mungkin bukan berarti kita menjual yang lama tapi tidak lagi menggunakannya untuk kendaraan sehari-hari adalah langkah yang bijak.

Kondisi paling ideal mobil itu berada pada usia tiga tahun pertama. Lima tahun berikutnya masih bisa dijadikan andalan namun sudah akan mulai ditemui beberapa masalah. Sementara durasi pemakaian mobil untuk harian, yakni sekitar 8 hingga 10 tahun atau jika sudah menempuh jarak lebih dari 200 ribu kilometer.

Sama halnya dengan manusia yang telah lanjut usia, mobil juga sama. Walau suku cadang tersedia, ketika batas pemakaian tersebut sudah dilewati, maka kondisi mesin dan sasis sudah masuk pada level tak layak pakai.

Tak hanya kekhawatiran untuk mogok dan tiba-tiba rusak dijalan saja, menunggangi mobil-mobil yang sudah tak lagi diproduksi juga jadi sebuah resiko yang tinggi. Ketika kita masih berusaha merawat dan mencintainya, bisa jadi perusahaan yang ada disana sudah tak lagi memproduksi spare part yang mobil tersebut miliki. Sementara mobil sudah melulu minta ‘jajan’ karena suku cadang yang rusak. Walhasil selain biaya perawatan tinggi, bisa jadi mobil hanya teronggok tak bisa digunakan karena menunggu suku cadang tersedia.

Ketika Fitur dan Fungsi yang Ditawarkan Mobil Baru Begitu Menggoda Dan Sesuai Kebutuhan Saat Ini

Dulu mungkin kita merasa sah-sah saja dengan fasilitas yang ada di kendaraan roda empat yang kita miliki. Namun teknologi tak hanya diam di tempat. Kalau masih terus berkutat di mobil lama, kita tak akan paham sudah ada inovasi yang akan memudahkan kita dalam berkendara.

Coba tengok misalnya Renault KWID. Di bagian interiornya yang paling mencolok adalah hadirnya head unit layar sentuh berukuran 7 inci yang mengatur sistem hiburan di dalam kabin mobil yang juga telah terintegrasi dengan navigasi satelit menggunakan tampilan 2D/3D.

Sementara untuk fitur sisi keamanan Renault KWID dibekali dengan keyless entry dengan remote dan central lock. Nah untuk kenyamanan Renault KWID juga memiliki fitur heater atau penghangat kabin jika udara di luar terlalu dingin.

Fitur macam ini belum dimiliki mobil terdahulumu bukan?

Ketika Model Baru Yang Ditawarkan Unik Dan Modern

Secara teknis mungkin kendaraan lama belum bermasalah. Tapi bisa jadi kitanya yang sudah dilanda jenuh dengan kendaraan yang itu-itu saja. Jangan anggap remeh karena efek bosan ini bisa melanda kemana-mana. Bayangkan mood yang tak bagus karena waktu di jalan tak dapat sensasi asiknya mengendarai mobil.

Kala itu terjadi maka saatnya untuk melirik kendaraan yang baru. Supaya tak dilanda bosan, cobalah sesuatu yang benar-benar unik. Contoh, misalnya kamu ingin punya mobil yang ramah jalanan perkotaan tapi masih gagah dari sisi penampilan.

Paduan macam itu tentu tak akan bikin kita lekas bosan. Seperti Renault KWID yang jika menilik dari dimensinya mobil yang mengusung mesin 1.000 cc tiga silinder ini memang masuk di kategori City Car.

Namun KWID punya desain unik yang membuatnya bertipe crossover dengan tampilan SUV. Ciri paling kentalnya adalah ground clearance alias jarak bodi terendah ke tanah yang mencapai 180 mm. Didukung pula dengan fender yang cukup besar khas mobil crossover. Sementara bagian grille depan Renault KWID juga tampil tegas dan kokoh. Lampu depan terdapat “C” shape signature sebagai ciri khas Renault terbaru.

Dengan desain apik tersebut, tak heran jika di tahun pertama kehadirannya di Indonesia, Renault KWID langsung meraih penghargaan bergengsi di ajang OTOMOTIF Award 2017. Dalam kategori The Best Small City Hatchback.

Ketika Garansi Dan Asuransi Mobil Baru Memudahkan Untuk Beraktivitas

Sama halnya dengan usia yang telah tua, batas garansi pada perawatan mobil jadi pertimbangan pelik lain. Mobil baru seperti contohnya Renault KWID tadi dilengkapi dengan garansi minimal 3 tahun untuk mesin atau telah menempuh jarak 100 ribu Km. Dengan kata lain, memiliki mobil baru akan memangkas biaya perawatan mobil yang mungkin akan kita keluarkan jika terus bertahan dengan mobil yang sudah uzur.

Tak percaya? Coba tengok layanan purna jual “Renault Peace of Mind”. Ada Silver Package for Renault Kwid & Renault Koleos, tambahan 2 tahun jaminan garansi kendaraan Anda sehingga menjadi total 5 tahun jaminan garansi atau 100.000 km (mana yang tercapai lebih dahulu).

Kemudian ada Gold Package for Renault Kwid, Renault Duster 4×2, Renault Duster 4×4 & Renault Koleos, jaminan bebas biaya sparepart dan jasa service berkala dimulai dari service 1.000 km dan kelipatan 10.000 km sampai dengan 60.000 km dengan masa jaminan garansi kendaraan 3 tahun atau 100.000 km (mana yang tercapai lebih dahulu).

Terakhir ada Platinum Package for Renault Kwid & Renault Koleos, jaminan bebas biaya sparepart dan jasa service berkala dimulai dari service 1.000 km dan kelipatan 10.000 km sampai dengan 100.000 km dengan tambahan 2 tahun jaminan garansi kendaraanmu sehingga menjadi total 5 tahun jaminan garansi atau 100.000 km (mana yang tercapai lebih dahulu).

Tapi memboyong mobil baru bergaransi saja tidak cukup. Karena untuk apa dilengkapi garansi kalau bengkel ternyata sulit ditemui. Kalau kita melirik Renault misalnya, hati tentu akan lebih tentram. Karena pabrikan asal Perancis tersebut sudah bekerja sama dengan group Nissan.

Jadi layanan bengkel dan purna jualnya selain dari renault juga bisa dikerjakan di bengkel Nissan. Hal ini dimungkinkan karena berbekal kekuatan aliansi Renault – Nissan dimana untuk distribusi, pemasaran dan layanan purna jual merek Renault pun ditangani oleh Indomobil Group yang juga menangani Nissan.

Di samping garansi, masalah perlindungan asuransi kehilangan dan kerusakan juga harus jadi pertimbangan. Mobil dengan usia muda akan lebih mudah disetujui oleh pihak asuransi. Sementara mobil yang sudah tua akan sulit mendapatkan perusahaan asuransi yang mau melindungi. Kalaupun disetujui, biasanya akan membutuhkan uang premi yang tidak sedikit.

Jadi ingat, terikat romansa dengan kendaraan lama boleh saja, tapi terus menutup mata dengan kehadiran yang baru tentunya bukan langkah yang bijak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Money & Power

Bagi Bung Pekerjaan Ini Kurang Memikat, Tapi Bagi Orangtua Ini Hakikat

Ada beberapa ranah pekerjaan yang langsung saklek di mata orangtua pasangan. Pekerjaan tersebut biasanya dilihat dari bebet dan bobotnya Bung. Orangtua biasanya punya pandangan tersendiri soal pekerjaan yang bonafid di mata mereka. Dalam imajinasinya, mereka juga membayangkan kalau anak perempuannya akan hidup makmur apabila membangun mahligai rumah tangga dengan calon yang diminatinya (dari segi pekerjaan).

Hasil riset yang dirilis Smart Asset di Amerika, menempatkan ahli statistik sebagai pekerjaan yang paling diminati generasi milenial sebesar 45%,  pengembang web sebesar 38%, analisa riset pasar dan spesialis pemasaran 37%. Hidup sebagai generasi yang digital native alias tidak gagap teknologi membuat pekerjaan dibidang tekonologi menjadi sangat digemari. Tetapi apa yang digemari generasi milenial jelas berbeda Bung dengan generasi X dan Baby Boomers. Kira-Kira apa saja ya Bung pekerjaan yang diminati oleh orangtua si nona?

Menolong Orang Lain Ketika Sakit Adalah Pekerjaan Mulia. Tak Hanya Di Mata Mereka Tapi Juga Di Mata Mertua

Dokter adalah pekerjaan yang masih dipandang tinggi oleh orangtua pasangan. Pekerjaan mulia mengobati orang ini, juga tidak main-main dalam hal pendidikannya yang memang terkenal merogoh kocek dalam-dalam. Maka tak heran, jika jarang ada yang memandang rendah pekerjaan dokter.

Terlebih lagi penghasilan sebagai dokter spesialis saja bisa mencapai 50 juta rupiah. Jelas itu bukan angka yang kecil. Orangtua mana yang tak tergiur melihatnya. Bukan mendiskreditkan orangtua sebagai pihak yang matrealistis ya Bung. Namun rasanya wajar apabila orangtua rela menitipkan anaknya kelak kepada Bung yang berprofesi sebagai dokter.

Fisik Yang Kuat Dan Gagah Dapat Menjadi Daya Tarik. Tapi Semangat Juangnya Buat Negara Mungkin Juga Menarik Ya!

Profesi TNI atau tentara adalah garda terdepan Indonesia dalam menghadapi ancaman dari luar. Siapa saja yang ingin memporak-porandakan kedaulatan, pasti tentara tak tinggal diam. Angkatan bersenjata memiliki kesan gagah dan kuat. Porsi latihan fisik yang dilakukan memang sengaja untuk menumbuhkan jiwa nasionalis Bung. Fisik seorang tentara pun pasti kuat dan terjaga.

Di era orde baru, pekerjaan TNI tak dapat dipandang remeh. Para orangtua pasti mengangkat topi atau hormat pada pekerjaan tentara. Orangtua pun bakal turut bangga apabila Bung memiliki profesi sebagai tentara dan berpangkat panglima. Karena menjaga kedaulatan negara saja bisa, apa lagi kedaulatan rumah tangga. Bukan begitu Bung?

Kerja Di Lapangan Panas-Panasan Tapi Di Rumah Mertua Disanjung-Sanjung. Bung Mau Seperti Itu?

Kerja di lapangan mungkin kurang menyenangkan dibanding kerja di gedung dengan dinginnya AC yang kadang  membuat menggigil. Memiliki kesan panas dan berdebu, sudah identik sekali dengan pekerjaan lapangan, salah satunya pertambangan.

Terbakarnya kulit oleh matahari memang membuat kondisi badan terasa gersang.  Namun kalau berbicara gaji, sepertinya dapat membuat perasaan senang Bung. Pekerjaan ini memang beresiko. Tingkat kesulitan pun juga tinggi. Jadi tak ayal, fresh graduate yang bekerja di bidang ini saja sudah diganjar gaji tinggi. Bisa 2x lipat dari UMR saat ini. Ketika Bung datang ke rumah perempuan kemudian memperkenalkan diri sebagai orang yang bekerja di pertambangan, rasanya jalan lapang untuk meminang pun telah terpampang di depan mata.

Profesi Ini Mungkin Kurang Memikat, Tapi Kalau Orangtua Si Nona Tahu Bisa Jadi Seperti Sahabat Dekat

PNS (Pegawai Negeri Sipil) untuk generasi milenial mungkin kurang terlalu memikat, tapi lingkungan kerja dan besarnya pendapatan menjadikan profesi ini jadi incaran. Data jumlah pendaftar CPNS tahun ini saja tembus sampai angka 1 juta orang. Semua saling bersaing untuk masuk di beberapa kementerian dan lembaga. Kalau dari kacamata orangtua, pekerjaan ini tentu jadi idaman.

Karena dapat menjamin kehidupan dengan adanya tunjangan dan uang pensiunan. Di mata masyarakat, PNS memiliki prestis yang tinggi. Toh orangtua pasangan pasti turut senang apabila sang anak dinikahi oleh PNS, selain bisa menjamin kehidupan, juga dapat meningkatkan kehormatan.

Kalau Berbicara Nasib Memang Sulit Ditebak, Terkadang Profesi Bisa Kalah Dengan Nama Besar Perusahaan

Selain prestisnya profesi sebagai PNS, menjadi pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga tak kalah mentereng. Terlebih lagi BUMN membawahi semua perusahaan besar di Indonesia seperti Pertamina, PLN, Pelindo dan perusahaan maskapai, Garuda Indonesia. Usut punya usut, profesi pegawai di BUMN bakal makmur sejahtera nasibnya.

Orangtua biasanya tidak hanya terkesan oleh besar kisaran gaji yang didapat Bung. Tapi terkesima juga dengan perusahaan tempat bekerja. Apa pun perusahaannya, kalau Bung bekerja di perusahaan BUMN pasti tak terlalu rumit untuk menggapai si nona.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Dating

Jadi Laki-laki yang Dicari Tak Perlu Mengumbar Janji

Perempuan tak butuh janji, mereka hanya ingin mencari laki-laki yang pasti. Yap, pasti memberi kepastian bukan bualan.

Bung boleh bangga untuk kemampuan mengeluarkan kata manis yang buat si nona jatuh hati. Tapi untuk suatu hubungan yang pasti, perempuan tak butuh itu.

Hari ini si nona mungkin tersenyum, merasa disanjung oleh kalimat-kalimat puitis yang Bung sampaikan. Tapi jangan heran, esok tiba-tiba si nona akan datang dan bilang Bung adalah pembual.

Sekilas ini memang beda, antara suka berbicara yang manis dengan membual. Namun pada dasarnya dua kata ini memiliki pengertian yang sama.

Sebab Janji Jadi Sebuah Ilusi yang Mudah Terucap Namun Sulit Dijaga

“Iya, besok aku belikan ya!”

Padahal dalam hati Bung sedang berpikir keras mau cari uang dari mana untuk membelikan permintaan si nona. Gambaran ini jadi satu dari banyaknya janji yang kadang Bung buat. Bukan karena memang ingin, bisa jadi hanya sebagai tameng untuk terlihat keren atau berusaha selamat dari desakan.

Ya kalau ternyata si nona terus menuntut itu wajar sebab Bung sudah menjanjikannya. Sebaliknya jika ternyata masih saja menuntut meski Bung bilang tak bisa, ya tinggalkan, itu artinya doi tak baik untuk Bung.

Sekilah pesan yang terbersit dalam ucapan yang Bung sampaikan memang menjanjikan sebuah kesenangan yang lebih baik. Padahal bukankah tak ada yang bisa menjamin segala sesuatu yang ada didepan?

Baik Kalau Tidak Ada Halangannya, Tapi Kalau Ada? Lantas Bagaimana?

Situasi bisa berubah kapan saja, janji yang tadi Bung rasa mudah akan terasa lebih sulit dari biasanya. Sialnya jika kendala yang hadir justru akan menggagalkannya, itu artinya Bung harus siap dicap sebagai pembual. Bukannya makin dipercaya, ini malah jadi sisi negatif yang membuat Bung dijauhi olehnya.

Berharap yang baik tentu saja tak salah, namun Bung tentu tak punya kuasa untuk menghalau semua yang akan terjadi. Coba Bung ukur dulu kemampuan diri, agar janji yang tersepakati bisa dipenuhi.

Ya Benar Ini Jadi Bukti, Tapi Faktanya Kadang Hanya Ucapan Bibir Semata

Nah ini adalah tameng yang sering Bung pakai untuk membuatnya terkesan. Dengan harapan si nona akan berpikir bahwa Bung memang sungguh-sungguh sayang. Padahal hal lain yang jadi alasannya, tak selalu begitu.

Rencana tentu bukan sebuah kemustahilan yang tak bisa kita lakukan, tapi pada janji ada sebuah ikatan yang memang harus Bung buktikan.

Jangan Bung pikir berjanji adalah salah satu tugas dari mencintai, sebab cinta tak melulu soal memberinya sebuah harapan.

Sialnya Lagi, Janji yang Terlalu Banyak Hanya Akan Membuat Bung Merasa Terbebani

Bung boleh tak setuju, tapi percaya atau tidak inilah yang akan Bung alami. Sepanjang perjalanan Bung mungkin akan tertawa bersamanya, namun setiap kali berbalik, ada sesuatu yang tiba-tiba tergiang.

Terlalu sibuk untuk menepati janji, bisa-bisa Bung lupa bagaimana caranya mencintai. Rasa yang tadinya harusnya tumbuh dengan natural, malah terkontaminasi oleh bualan.

Bung sibuk memenuhi, si Nona sibuk menanti. Lalu akankah ada cinta yang bisa dinikmati? Rasanya tidak!

Diibaratkan dengan Utang, Janji Jadi Sesuatu yang Harus Ditepati

Hal ini tentu jadi indikasi lain, seberapa jantan Bung sebetulnya.

Tak perlu berpikir terlalu jauh, sebenarnya Bung cukup berjanji akan hal-hal yang memang bisa terpenuhi. Jika ternyata apa yang ucapkan jauh dari kemampuan maka akan selamanya menjadi utang.

Okelah hari ini si nona mungkin tak mengungkitnya. Namun situasi seseorang tak selalu sama. Jika nanti ada pertentangan yang cukup menegangkan, jangan heran jika si nona tiba-tiba menyeret kembali angan-angan yang telah lampau namun belum tergenapi.

Oleh Karena Itu Bung Tak Perlu Banyak Berjanji, Cukup Cari Jalan Untuk Memberi Bukti

Terdengar sangat naif memang jika Bung bilang tak akan memberi janji. Namun sebenarnya pemahaman yang kami ingin sampaikan bukan itu Bung. Meminta Bung tak perlu mengumbar janji, bukan berarti Bung lantas tak boleh berjanji. Hanya saja Bung perlu lihat dulu kemampuan Bung untuk menepatinya. 

Jika ternyata tidak? Lantas untuk apa? Alih-alih membuat si nona terkesan, bisa-bisa si nona  malah akan merasa dipermainkan.

Sebab menyampaikan cinta tak melulu dengan hal-hal besar yang tampak mewah. Bung bisa memulainya dari hal-hal kecil yang Bung bisa. Itu jauh lebih berarti dari berpuluh-puluh janji mewah yang tak pernah jadi nyata.

Sikap yang Begitu Malah Jadi Bukti dari Komitmen Atas Cinta yang Sedang Bung Jalani

John Mayer pernah berkata bahwa Love is a verb, yang berarti bagaimana besarnya rasa cinta dan sayang yang Bung punya tak selalu dilihat dari banyaknya janji yang Bung lontarkan. Tapi jangan pula Bung jadi tak mau berjanji, sebab ini jadi indikasi tak gentle yang lebih parah dari si pengumbar janji.

Artikel ini bukan sedang ingin melarang Bung untuk mengumbar janji, namun sekedar mengingatkan bahwa ada porsi yang baik untuk diikuti. Sebab kaum adam sering luput untuk mengukur diri, berpikir bahwa semua hal bisa dilakoninya. Meski faktanya tidak demikiani.

Cobalah Bung pikirkan lagi, apa iya mengumbar janji masih diminati?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Health & Personality

Bekerja Keras dalam Diam, Biarkan Sukses yang Membuktikan

Jadi manusia yang berhasil pada setiap garis kehidupan, sudah pasti jadi impian semua orang. Caranya pun beragam, mulai dari bekerja keras tanpa mengenal lelah hingga rancangan besar yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Tapi Bung, sukses bukanlah panggung orasi, Bung tak perlu berteriak untuk dilihat. Jadilah beda dengan cara yang tak biasa. Menciptakan sesuatu yang mengejutkan, walau selama ini dianggap selalu diam.

Sebagian kawan lain mungkin gemar berbicara untuk semua mimpi-mimpinya. Tapi Bung tak perlu begitu. Sebaliknya, mari mulai bekerja tanpa harus banyak berkata hingga nanti semua pencapaian Bung akan jadi bukti nyata.

Ini Jelas Tidak Mudah, Sebab Bung Tentu Kerap Dianggap Tak Punya Masa Depan Cerah

Dalam pergaulan, Bung yang memang kebetulan tak banyak bicara kerap diasingkan bak manusia yang tak layak diperhitungkan. Sebab masyarakat kita percaya bahwa dia yang tidak bisa berbicara di hadapan khalayak ramai tak akan memiliki gambaran masa depan. Wajar memang, sebab sebagai seorang laki-laki sudah seharusnya Bung berani.

Namun dalam perjalanan untuk upaya menuju mimpi yang diinginkan, ini bukan poin utamanya. Bung butuh rasa tenang untuk bisa berpikir lebih dalam. Menimbang semua keputusan hingga membuat rencana lain dengan matang.

Masa ini akan lebih baik jika digunakan untuk lebih memahami diri sendiri. Apa yang sebenarnya Bung ingini, hingga bagaimana jalan meraih mimpi.

Lagi pula Mimpi yang Bung Punya Tak Harus Dibagikan Pada Semua Orang

Satu dua orang mungkin masih bisa dipastikan senang, tatkala Bung membagikan cita-cita kepada mereka. Dan selebihnya? Bung tentu tak bisa membatasinya. Mulai dari yang tak suka, hingga mereka yang akhirnya menjiplak rancangan karya yang akan Bung realisasikan.

Tanpa bermaksud untuk meminta Bung jadi manusia sombong yang merasa agung atas mimpi, Bung harusnya paham jika Bung hidup dengan tingkat persaingan tinggi. Salah satu langkah saja, bisa-bisa Bung sudah didahului orang lain yang sudah mengetahuinya.

Sebab Bercerita Pada Publik Hanya Jadi Bayang-bayang yang Tak Akan Berpengaruh Apa-apa

Yap, bercerita memang membuat Bung banyak dikenal dan secara tidak langsung akan menggambarkan bagimana Bung nanti. Tapi disinilah bahayanya, pengakuan dari orang lain justru sering membuat Bung merasa puas lebih dulu. Walau sebenarnya belum berbuat apa-apa, Bung kerap akan berpikir telah berhasil sebab orang lain saja sudah mengakuinya.

Efeknya, usaha yang tadinya bisa lebih keras berangsur melemah, jika dibandingkan dengan mereka yang menceritakan mimpinya pada diri sendiri saja. Tanpa harus kami beri tahu, Bung tentu sudah paham bagaimana kerasnya perjuangan di lapangan.

Dia yang tak bekerja keras untuk mewujudkan, tentu tidak akan menang.

Bung Hanya Butuh Fokus Pada Tujuan, Tanpa Terpengaruh Ekspektasi Orang

Selain mendapat masukan, bercerita pada orang kadang kala hanya menganggu fokus pikiran. Kalau tak percaya Bung bisa mencoba mengamati mereka yang ada di sekitar. Pada beberapa kasus, mereka yang gagal sering disebabkan oleh pihak lain di luar diri. Padahal satu-satunya pihak yang berhak untuk menentukan mimpi Bung adalah diri Bung sendiri.

Mari tutup telinga untuk semua ekspektasi mereka, tanggung jawab Bung hanya berupaya mewujudkan mimpi menjadi nyata. Bukan memenuhi perkiraan-perkiraan lain yang mereka katakan. Lagi pula tak ada aturan yang mengharuskan Bung untuk menyesuaikan mimpi dengan ekspetasi orang lain. Bung tidak perlu risau atau tak enak hati, sebab cerita ini adalah milik Bung seutuhnya.

Namun Jika Memang Butuh Berbagi, Bung Bisa Cari Kawan yang Tepat Untuk Mendengarkan

Ini jadi babak penting yang perlu diperhatikan Bung perhatikan. Jika ternyata bercerita memang perlu, cobalah cari mereka yang memang bisa menyuntikkan semangat. Menjadi bagian yang menguatkan dan memberi masukan. Dan pada fase ini, Bung memang harus pintar dalam hal memilah-milah. Mana dia yang sesungguhnya membantu dan tidak.

Tak perlu sungkan, mintalah tolong jika memang diinginkan. Tapi Bung juga berhak untuk berkata tidak untuk mereka yang terlihat tak sejalan.

Simpan semua cerita dengan mimpi-mimpi besar Bung, sebab tak semua orang butuh itu. Jika memang bernasib baik, kelak semua pencapaian dan keberhasilan yang Bung telah dapatkan jadi bukti nyata yang bersuara tanpa harus repot berkata-kata.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top