Inspiring Men

Anggara Suwahju, Serius Mengajak Orang Meninggalkan Mobil Pribadi

anggara feature

Ketika mayoritas masyarakat berlomba-lomba memiliki mobil dan menyetir, pria satu ini justru mulai meninggalkan mobil pribadinya di garasi rumah. Profesinya sebagai advokat dan petinggi beberapa organisasi tidak membuatnya tertarik untuk mempertahankan image mentereng dari kendaraan pribadi. Belakangan ia justru giat membuat situs jakartabytrain.com yang mengajak orang untuk ikut menggunakan commuter line. Berikut hasil wawancaranya

Kalau bisa diprosentasekan, berapa persen menggunakan kereta (angkutan umum) dan berapa persen menggunakan mobil dalam aktivitas sehari-hari?

foto anggaraAgak bingung menghitungnya tapi dalam seminggu (5 hari kerja) maksimal naik mobil cuma 2 kali itupun hanya dari rumah ke kantor.

Kalau ada pertemuan2 sama teman-teman ya mobilnya ditinggal di kantor. Lebih enak naik angkutan umum (bisa KRL ataupun TransJakarta atau Taksi atau ojeg) karena sekali lagi nggak ribet dengan urusan parkir yang bisa bikin mumet.

Kenapa akhirnya lebih memilih untuk menggunakan kereta? Yang jelas sih nggak capek, naik mobil cuma enak di pagi hari karena masih segar bugar, sementara pas pulang bisa jadi neraka karena sudah lelah dan harus berhadapan dengan kemacetan yang bikin bete abis

Hal lain, nggak perlu bingung markirin mobil apalagi kalau harus markir di gedung parkir. Markir di gedung parkir itu horror banget sudah membuang banyak waktu hanya untuk cari parkiran.

Selain itu biaya bensin dan bengkel juga jadi salah satu alasan buat nggak naik mobil sih. Kayanya buang duit 2 juta/bulan sayang banget hanya untuk urusan BBM dan juga bengkel

Dan kenapa pilih KRL? Karena meski dengan segala kelemahannya, KRL saat ini adalah moda transportasi paling dapat diandalkan dari sisi kecepatan waktunya ketimbang TransJakarta atau bus umum lainnya

Situasi macam apa yang membuat anda bersuyukur tidak menggunakan mobil?

Saat melihat TL orang yang ngomel-ngomel karena macet dan mengeluhkan harga BBM naik. Apalagi rumah saya di luar kota sementara kerjaan ada di kota Jakarta. Dengan KRL saya bisa menempuh waktu lebih hemat daripada naik mobil.

Apa pernah ada situasi yang membuat anda menyesal tidak membawa mobil?

Ada sih, misalnya pas waktu mau ketemu orang eh pas ya hujan, nah itu agak repot memang, paling kalau sudah begitu ya pilih naik taksi. Hal lain kalau mau kasih kejutan buat orang – orang tertentu agak repot nyembunyiinnya kalau naik KRL atau TransJakarta

Beralih ke Jakartabytrain.com, situs apa itu sebenarnya?

anggara suwahjuSitus apa ya, dibilang situs traveling juga nggak, tapi tepatnya situs yang memberikan informasi mengenai tujuan wisata yang dekat dengan stasiun KRL. Yang dimaksud dekat dari stasiun KRL itu jaraknya nggak lebih dari 30 menit jalan kaki.

Berlainan dengan situs lain yang terkait dengan KRL, situs yang terkait KRL lain biasanya soal layanan KRL, sementara supaya nggak ada pesaing ya nulisnya bukan tentang layanan KRL tapi soal destinasi wisata yang dekat dengan stasiun KRL. Dan kalaupun nulis berita2 tentang KRL lebih ke upaya2 yang dilakukan KRL untuk meningkatkan layanannya.

By the way, kalau Jakarta dah punya MRT dan Monorail ya bakal di integrasikan juga ke dalam situs tersebut dan dengan konsep yang sama

Kenapa akhirnya tertarik bikin situs tersebut dan rajin mengajak orang untuk naik kereta?
Awalnya sih waktu jalan-jalan ke Kota Tua, disitu sempet ngobrol sama bule cantik yang lagi foto2. Nanya aja ke dia naik apa Kota Tua dan jawaban dia naik travel dari hotelnya. Waktu itu nanya kenapa nggak naik KRL atau TransJakarta dan dia jawabnya karena nggak tahu gimana caranya naik KRL dari hotelnya dan info-info soal KRL itu menurut dia jelek banget di internet (kalau nggak percaya search aja di google). Sementara kalau naik TransJakarta itu masa tunggunya (saat itu ya) jelek banget dan selalu penuh banget.

Dari situ mikir, apa bagusnya bikin situs supaya orang ngeh ke berbagai tempat wisata di Jakarta yang bisa makai KRL ya? Sebelum bikin sih, bikin riset2an dulu, nyari tahu sebanyak apa yang bisa dijangkau KRL, dan ternyata banyak banget.

Riset lain adalah nyari tahu apa ada situs yang menyediakan informasi mengenai cara menuju suatu tempat dan Alhamdulillah sama sekali nggak ada. Rata rata situs info destinasi wisata ya cuma kasih info disana bisa ketemu atau ngapain aja, tapi nggak ada yang kasih tahu cara kesananya bagaimana. Dan khusus untuk KRL sama sekali nggak ada

Dari dua hal itu baru bikin situsnya tapi kan ya harus dikasih batas sampai sejauh apa informasi tempat wisata itu bisa dibuat atau istilahnya sampai sejauh mana definisi dekat dari stasiun KRL itu. Nah risetnya waktu itu jalan kaki dari Stasiun Kota sampai ke Pelabuhan Sunda Kelapa ternyata ya 30 menit, akhirnya dekat itu dibuat definisinya max 30 menit jalan kaki.

Situs itu juga dibuat dalam bahasa Inggris berdasarkan hasil riset2an juga, pas nanya ke beberapa orang local ternyata mereka nggak tertarik naik KRL kalau pas hari libur. Pilihannya ya naik kendaraan pribadi. Jadi KRL buat orang local hanya laku pas hari kerja buat yang pada punya mobil. Aku juga nanya ke bule, mau nggak mereka naik KRL untuk jalan2 dan jawabannya mau dong. Ya akhirnya pilihan bahasanya ya bahasa Inggris

Rajin ngajak orang naik KRL sebenarnya sih nggak juga, tapi berupaya kasih info kalau naik KRL itu menghemat waktu perjalanan saja. Dan buat yang pada punya anak juga bagus untuk kasih pendidikan awal kalau kita perlu gunakan transportasi umum. Pendidikan ke anak kecil lebih baguskan kalau dimulai dengan contoh nyata ketimbang pidato2.

Ada tujuan besar khusus untuk jakartabytrain?

Pengen jadi situs terpercaya untuk info wisata di Jabodetabek yang deket dengan stasiun KRL dan punya member yang banyak. Ya kayak tripadvisor versi Indonesia dan berbasis KRL saja.

Sampai saat ini sih kedua misi itu belum tercapai, tapi cukup senang koq ada orang2 yang bantu secara pro bono minimal untuk edit bahasa Inggrisnya (maklum nggak jago bahasa Inggris) hehehehe. Dan juga teman2 lain juga bantuin promo situs itu. Lumayanlah, sekarang dah cukup dikenal dan sempat juga ditaruh sebagai salah satu useful resources di blognya bule yang hobi traveling ke seluruh dunia.

Apa jakartabytrain punya aktivitas offline untuk mendukung situsnya?

Ya sekarang baru mau dibuat sih, namanya Jakarta Justice Heritage Tour. Sebenarnya dulu bingung mau buat aktivitas offline apa, selain itu juga nggak pede. Pemula koq berani2nya bikin acara offline.

Setelah beberapa lama, mikir juga kira-kira bagus nggak ya bikin tour dengan KRL. Selama ini kalaupun ada tour yang diadakan oleh beberapa komunitas biasanya soal tempatnya. Nah selama ini mikir kalau bisa tournya harus menggunakan KRL sebagai media transportasi dan stasiun sebagai meeting point pertama.

Tapi tetap saja nggak pede, sampai akhirnya ngobrol2 sama teman soal perkembangan hukum dan sejarah hukum. Jadi aja kepikiran bikin tour yang ada kaitannya dengan hukum. Ya sejarah hukum memang nggak jadi prioritas di sekolah – sekolah hukum di Indonesia dan entah kenapa seperti dilupakan begitu.

Yang jelas sih saya bukan sejarawan tapi cukup dekat dengan dunia hukum jadi pilihan yang paling masuk akal dan bikin pede ya bikin tour naik KRL sambil cerita2 soal tempat2 yang berkaitan dengan hukum atau pengadilan di Jakarta

Prinsipnya apapun yang mau dilakukan, tidak berusaha untuk ber”kompetisi” dengan komunitas yang sudah eksis tapi berupaya menciptakan hal baru yang mudah2an orang akan tertarik. Habis tour ini ceritanya mau bikin tour yang diberi nama Tour “Melawan Lupa”.

anggaraKalau seandainya bisa berbincang dan berdiskusi dengan mereka yang masih menggunakan mobil, apa yang hendak disampaikan?

Coba deh sesekali naik KRL atau transportasi umum lainnya, ingat loh kecepatan rata2 kendaraan di Jakarta sudah pada level mengkuatirkan. Pemda Jakarta juga memprediksi kalau 2014 Jakarta akan macet total.

Daripada ngomel2 di TL, lebih baik mulai gunakan transportasi umum atau naik sepeda. Dengan naik transportasi umum dengan kombinasi jalan kaki, sebenarnya kita akan terlatih pola hidup sehatkan istilahnya sekarang green lifestyle.

Apa harapannya terhadap kondisi situasi kendaraan umum (khususnya kereta) di Indonesia?
Berharap sih agar semakin membaik ya, dan tarif angkutan dalam kota ya mestinya disubsidi oleh pemerintah agar setiap orang mau naik transportasi umum dan meninggalkan kendaraan pribadinya. Daripada membatasi model three in one, lebih baik dibatasi dengan menaikkan tariff parkir yang sangat tinggi dan memberlakukan larangan menggunakan kendaraan dengan bahan bakar di beberapa tempat. Misalnya beberapa kawasan di Jakarta bisa dilarang tuh seperti Kota Tua.

3 Comments

3 Comments

  1. febriana

    August 10, 2013 at 10:50 am

    Akuu juga naek commuter line 😀

  2. kw

    September 5, 2013 at 5:07 pm

    wah aku dukung mas
    tp aku pengen si punya mobil, soalnya dah capek naik angkot, bahaya dan sengsara….

    tar kalau dah punya uang banyakkkkkkkkkkkkkkkkk beli rubicon warna oranye
    *tapi siapa yang mau nyetir hahahha

  3. Angga

    September 28, 2015 at 6:34 pm

    Gerakan yang menginspirasi orang. Saya sebenernya pgn bgt, tapi di kota saya Solo blm banyak ada info2 begituan dan transport rumah saya dari Bus stop itu lumayan jauh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top