Dating & Relationship

Begini Cara Pria Minta Maaf

Salah satu hal tersulit untuk dilakukan adalah meminta maaf. Kita bukan sedang sekedar membicarakan ritual maaf-maafan ala lebaran di Indonesia, yang sering kali sekedar dimulut. Tapi ini soal meminta maaf yang lebih bermakna dan dalam.

Masalahnya, banyak dari kita yang belum paham cara meminta maaf yang benar. Bisa saja kita merasa sangat bersalah terhadap orang lain. Tapi belum tentu kita bisa mengekspresikannya dengan tepat. Alih-alih permohonan maaf sering kali malah membuat suasana bertambah runyam.

Hal ini tidak lain dikarenakan adanya jurang besar antara gambaran tulus emosi kita dengan apa yang kita katakan dan lakukan untuk minta maaf. Di satu sisi kadang orang yang telah kita sakiti merasa permintaan maaf itu terlalu dangkal. Sementara disisi lain malah merasa apa yang kita lakukan terlalu berlebihan alias lebay.

Langkah pertama yang harus dilakukan sebelum meminta maaf adalah mencoba untuk mencari secara spesifik kesalahan yang sudah kita lakukan. Kita meminta maaf bukan hanya karena seseorang marah kepada kita. Tapi karena kesalahan dan kerusakan yang sudah kita lakukan kepadanya.

Jadi sebelum bertemu untuk memohon maaf. Renungkan dahulu secara tenang apa yang telah kita perbuat kepadanya. Kalau perlu sertakan orang lain yang paham masalah yang telah kita perbuat. Gunakan persepsi mereka sebagai kacamata orang ketiga untuk melihat perkara lebih jernih.

minta maaf

Langkah kedua, setelah memahami letak kesalahannya kini saatnya bertanggung jawab terhadap apa yang sudah kita lakukan. Ini hal paling utama yang dituntut orang lain yang terkena efek perbuatan kita. Meski ini baru langkah kedua, tapi ini sangat penting.

Karena dititik inilah kita mencoba meningkatkan lagi rasa percaya orang lain. Awali dengan mengucapkan kata “maaf ya” atau “mohon maaf ya”. Ucapkan dengan nada rendah dan ekspresi tulus.

Setelahnya sambung dengan kalimat yang diawali dengan kata “saya” dan jangan pernah menggunakan kata “tapi”. Di kalimat berikutnya ini sebut secara spesifik kesalahan yang sudah dilakukan. Misalnya:

“Maaf ya, saya sudah menunda pernikahan kita”

“Maaf ya, saya gagal mendapatkan klien besar yang saya janjikan”

“Maaf ya, saya sudah bicara jelek soal orang tua kamu”

Ketika mengucapkan kalimat-kalimat tadi, jangan coba menambahkan seolah kita memahami perasaan lawan bicara kita. Apalagi justru menyatakan kesalahan mereka. Misalnya:

“Maaf ya, kata-kata saya kasar, kamu jadi salah sangka”

“Maaf ya, kamu jadi berpikir yang tidak-tidak”

Kalimat salah sangka ini tidak patut diucapkan seseorang yang sungguh-sungguh memohon maaf.

Langkah ketiga adalah menyadari kerusakan yang sudah kita lakukan akibat kesalahan yang kita buat. Permohonan maaf yang tulus haruslah hadir karena kesadaran telah melakukan hal yang mengakibatkan keburukan.

Tujuannya tak lain untuk menunjukan bahwa kita sudah mengalahkan ego diri sendiri. Dengan berhasil diturunkannya ego ini kita menunjukan kesadaran tinggi atas kerusakan yang dilakukan. Misalnya

“Maaf ya, saya sudah menunda pernikahan kita, kita jadi harus mengaturnya dari awal lagi”

“Maaf ya, saya gagal mendapatkan klien besar yang saya janjikan, gara-gara saya target perusahaan kita tidak tercapai”

“Maaf ya, saya sudah bicara jelek soal orang tua kamu, mereka tidak sepantasnya diperlakukan seperti itu”

Lagi-lagi, jangan pernah menambahkan asumsi atau perkiraan pribadi dalam permohonan maaf kita. Apalagi dengan menunjukan kepentingan pribadi dengan menggunakan kata “kalau” dan “tapi”. Misalnya:

“Maaf ya, kalau kamu tersinggung dengan kata-kata saya”

“Maaf ya saya tidak berhasil mendapatkan klien itu, tapi manajemen mereka memang sulit ditembus”

Langkah keempat adalah mengharapkan maaf tanpa memaksakan berlebihan. Disini kita menunjukan hal yang akan kita lakukan untuk memperbaiki situasi yang sudah kita rusak. Kadang kala (sering kali) orang malah kesal ketika kita meminta maaf. Karena yang sesungguhnya mereka inginkan adalah kesungguhan hati kita untuk mengubah situasi yang jelek tadi. Misalnya ,

“Maaf ya, saya sudah menunda pernikahan kita, kita jadi harus mengaturnya dari awal lagi, saya jani akan menyediakan waktu lebih banyak untuk mengaturnya kembali sama kamu”

“Maaf ya, saya gagal mendapatkan klien besar yang saya janjikan, gara-gara saya target perusahaan kita tidak tercapai. Untuk meeting berikutnya saya janji akan mempersiapkan dengan lebih matang lagi”

Setelah mengatakan hal tersebut, jangan pernah memberikan deadline terhadap diberikan atau tidaknya maaf seseorang. Ini hanya akan memperburuk kembali situasi yang sudah terlanjur panas.

“Maaf ya, saya sudah bicara jelek soal orang tua kamu. Saya dimaafin gak?”

“Maaf ya, saya sudah menunda pernikahaan kita. Jadinya saya dimaafin gak”

Biarkan mereka yang menuntukan apakah kita akan diberi maaf atau tidak. Karena toh inti dari permohonan maaf bukanlah membuat orang lain memberi maaf. Tapi merupakan kesadaran terhadap apa yang akan kita lakukan. Karena itu berharaplah maaf tanpa memberi deadline.

“Maaf ya, saya sudah menunda pernikahan kita, kita jadi harus mengaturnya dari awal lagi, saya jani akan menyediakan waktu lebih banyak untuk mengaturnya kembali sama kamu. Mudah-mudahan kamu mau memaafkan saya”

“Maaf ya, saya sudah bicara jelek soal orang tua kamu, mereka tidak sepantasnya diperlakukan seperti itu. Saya akan mohon maaf kepada ayah ibu kamu. Saya harap nanti kamu bisa memaafkan kesalahan saya ini”

Coba bayangkan jika dalam situasi halal bi halal berlebaran kantor seorang bos maju kedepan dan berkata,

“Saya mohon maaf kepada seluruh karyawan. Karena saya belum bisa mengatur managemen kantor dengan sempurna. Akibatnya sepanjang tahun inibanyak yang harus melaksanakan lembur sehingga mengurangi waktu pribadi dan keluarga. Saya akan mencoba memperbaiki situasi ini. Mudah-mudahan saya diberi maaf karena kesalahan ini”

Terdengar sejuk dan menyenangkan bukan? Jauh dibandingkan dengan hanya sekedar, “saya mohon maaf sebesar-besarnya”

Langkah kelima, adalah diam dan jangan berlebihan. Sebuah permohonan maaf yang tulus dan sungguh-sungguh tidak lah perlu diulang-ulang. Karena esensi maaf yang kita ucapkan akan luntur seiiring makin seringnya kita meminta maaf untuk hal yang sama. Dan  mereka justru akan merasa didesak untuk segera memaafkan jika kita berulang kali mengatakannya.

Dan parahnya lagi, jika kita terus mengucapkan kata-kata maaf biasanya kita akan tergoda untuk mengucapkan kalimat penutup yang malah akan memperparah situasi. Kalimat-kalimat macam ini biasanya melunturkan ketulusan yang kita bangun dari awal.

“Jadi saya gak dimaafin nih? Saya kan sudah minta maaf berulang kali”

“Ayo dong dimaafin, semua orang juga pernah salah kali!”

“Kamu egois sekali, saya kan sudah minta maaf”

Sudah, diam dan biarkan mereka melanjutkan hidupnya. Siapa tahu suatu saat nanti kita akan dimaafkan. Selamat hari raya idul Fitri!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top