Review

Pilih Jam Tangan Digital atau Analog?

Untuk para pria yang perduli pada penampilan, pertanyaan antara mana yang lebih baik antara jam tangan digital atau analog seolah tidak pernah berakhir. Sebenarnya, ada beberapa faktor yang memperngaruhi jawaban ini.

Perhatikan faktor usia sebelum memilih jam tangan

Bisa dibilang jam tangan adalah investasi jangka panjang untuk menunjang penampilan kita. Karena itu kita harus menyesuaikan dengan diri kita secara hati-hati. Terutama dari segi umur.

Seandainya dulu waktu masih di masa kuliah, jam tangan digital penuh warna tentunya akan terlihat keren dan menarik mengikat pergelangan tangan. Tapi untuk pria yang sudah berumur, agak sedikit aneh melihat ada warna-warni tersembul dari balik jas.

Nah, sementara untuk pria dengan usia pertengahan dua puluhan hingga akhir tiga puluhan, pilihannya justru jauh lebih sulit. Karena itu perhatikan faktor kedua dibawah ini.

Perhatikan pakaian terlebih dahulu, baru pilih jam tangan

Walau bagaimana pun jam tangan merupakan bagian dari asesoris. Dalam peraturan Fashion manapun pemilihan asesoris harus dilakukan setelah kita mengenakan pakaian. Setelah kita rapi menggunakan atasan bawahan hingga sepatu, barulah kita bisa mengajukan pertanyaan.

Apakah baju saya ini berkesan formal, casual, hip, preppy style atau yang lain?

Jika kita sedang menggunakan pakaian resmi mengarah ke bisnis, penggunaan jam tangan analog sebagai aksesoris akan makin memperkuat kesan ini seacara elegan. Sebaliknya seandainya pakaian yang digunakan sepenuhnya casual, misalnya jeans dan t-shirt maka jam tangan digital sangat memungkinkan untuk digunakan. Sementara untuk gaya yang sedikit preppy-look, macam celana pendek berbentuk pipa dengan kaos berkerah, kedua jam tangan baik digital maupun analag bisa digunakan.

Cocokan jam tangan dengan asesoris yang lain

Sebelum memutuskan untuk menggunakan jam tangan yang mana, pastikan juga untuk menyesuaikan asesoris yang lainnya. Misalnya untuk jam digital fancy tentunya cocok jika dipadukan dengan gelang berbahan metal berwarna senada atau kalung dengan mata logam.

Setelah mengetahui aturan dasar penggunaan jam tangan, sekarang saatnya kita mengetahui kriteria pakaian yang cocok dilihat dari jenis jam tangannya.
jam tangan analog1. Jam tangan klasik
Berbentuk bundar atau kotak dengan tali kulit atau logam sebagai pengikat merupakan ciri dari jam tangan ini. Bahan dasarn logamnya biasanya dipoles mengkilat. Dengan desain yang elegan sederhana.
Gunakan jam jenis ini jika kita berpakaian rapi seperti menghadiri perkawinan atau acara khusus. Seandainya anda bekerja di kantor yang tradisional seperti bank, asuransi, yang diidientikan dengan kerapian, jenis ini juga bisa jadi pilihan ke kantor.

Jam tangan ini dapat juga digunakan dalam acara makan malam bersama pasangan anda. Tentunya dengan syarat tempat yang dituju memang berkelas, mengharuskan pakaian rapi, dan kita menyerahkan kunci mobil kepada petugas valet.

jam tangan digital2. Jam tangan digital berkelas
Tampilan menggunakan layar dengan waktu yang ditunjukan secara digital. Meski begitu bahan dan bentuknya tidak masuk kategori fancy. Jam tangan kategori ini cocok digunakan untuk penampilan yang berkesan casual, futuristik dan modern.

Jika anda bekerja dibidang kreatif macam designer grafis, IT, arsitek, dan sejenisnya, ini merupakan pilihan yang tepat. Bisa juga digunakan dengan pemilihan pakaian preppy look.

jam tangan sport3. Jam tangan sport
Walaupun berbentuk analog tapi biasanya didalamnya ada alat penunjuk lain seperti thermometer, chronometer, penghitung jarak, dsb. Desainnya terkesan “keras” dan garang. Umumnya jam jenis ini tahan terhadap air bahkan hingga tekanan puluhan meter di bawah permukaan air.

Sejatinya jam jenis ini memang hanya anda gunakan dalam olah raga yang anda tekuni seperti naik gunung, off road, menyelam, bersepeda atau olah raga keras lainnya. Meskipun demikian, jam tangan jenis ini masih wajar digunakan dengan penampilan casual. Tapi sangat tidak disarankan jika kita sedang berpakaian resmi.

jam tangan digital berwarna4. Jam tangan digital berwarna.
Sama seperti jam tangan digital sebelumnya, tapi tampilannya lebih cerah. Plihan digitalisasinya pun beragam bentuk dan corak. Jam tangan jenis ini cocok jika kita ingin memberi warna pada penampilan. Tapi kita harus hati-hati dalam memilih, karena jenis ini sangat sensitif terhadap tren. Jangan menggunakan jam tangan ini jika kita membelinya sepuluh tahun yang lalu.

4. Smartwatch
Ini perkembangan paling terakhir dari jam tangan. Kali ini bisa dikoneksikan langsung ke smartphone yang kita miliki. Tak cuma menunjukan waktu, fungsinya juga jadi sangat beragam dan luas. Karena banyak aplikasi yang bisa ditanamkan di jam tangan ini.

Kekurangannya mungkin ada pada baterai. Sebab secara berkala harus di charge layaknya smartphone. Kekuatannya bervariasi tergantung merk. Ada yang dua hari sekali, seminggu sekali atau dua minggu sekali.

Jadi sudah siap menentukan pilihan jam tangan anda?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Review

Karena Urusan kunci motor pun soal selera Bung

Tersematnya teknologi Keyless Ignition System sebelumnya pada Suzuki GSX-R150 memang memberikan suatu dobrakan dan fenomena di industri motor sport 150cc. Mengingat teknologi itu pertama di kelasnya ketika itu. Namun Terlepas dari hal tersebut, SIS selaku produsen Suzuki juga mendengar dan memenuhi permintaan dari konsumen lain yang memiliki karakter berbeda, dengan menyediakan Suzuki GSX-R150 menggunakan Shuttered Key System.

 

SIS melihat adanya celah permintaan pasar yang dapat dipenuhi oleh Suzuki GSX-R150 Shuttered Key System, dimana hal tersebut diamati dari kebiasaan dan suara konsumen yang masih lebih memilih menggunakan metode pengaman dengan sistem anak kunci yang lebih sederhana dan bekerja secara mekanis. Meski demikian, tuntutan terhadap jaminan kemanan tetap diprioritaskan demi ketenangan dan kenyamanan memiliki motor sport DOHC 150cc yang sedang digandrungi tersebut.

Sambil menemani keberadaan penjualan Suzuki GSX-R150 varian Keyless Ignition System saat ini, SIS memproduksi varian Shuttered Key System dengan komposisi secara khusus sebanyak 15% dari total produksi GSX-R150 setiap bulan. Dengan demikian, calon konsumen bisa memiliki pilihan lebih banyak sebelum memutuskan pilihannya.

Secara spesifikasi sendiri tidak ada perbedaan antara GSX-R150 varian Keyless Ignition System dan varian Shuttered Key System, kecuali hanya pada sistem kunci pengaman dan ketersediaan pilihan warna saja. Alhasil, SIS memberikan pilihan produk yang lebih terjangkau bagi calon konsumen yang sudah tidak sabar ingin memiliki Suzuki GSX-R150, yaitu dengan harga Rp 28.900.000,- (On The Road DKI Jakarta). Terdapat 3 warna menarik yang dapat dipilih sesuai selera konsumen, antara lain Brilliant White, Stronger Red/Titan Black dan Solid Black/Gloss. Sebagai bonus pembelian, SIS juga melengkapi anak kunci GSX-R150 dengan keyholder Suzuki.

“GSX-R150 dengan Shuttered Key System yang kami luncurkan ini menjadi penanda keseriusan Suzuki untuk terus memperbanyak pilihan varian maupun model sepeda motor Suzuki lainnya di tahun 2018 ini. Kami mencoba untuk menjawab satu-per-satu permintaan konsumen Suzuki yang berada di wilayah-wilayah lain, dimana menjadi pangsa pasar utama untuk GSX-R150 Shuttered Key System ini. Dengan harga lebih ekonomis, konsumen tetap bisa memiliki Suzuki GSX-R150 yang berkualitas dan menjadi pilihan bikers masa kini.” tutup Yohan Yahya – Sales & Marketing 2W Department Head PT. SIS

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Otomotif

Tak Tampil Slebor Meski Memilih Naik Motor

Meski mobil menawarkan kenyamanan lebih, namun sebagian pria tetap memilih motor sebagai kendaraannya. Alasannya beragam, mulai dari sesederhana menghindari jalanan macet atau memang hobby menggunakan motor.

Masalahnya banyak yang terkesan ala kadarnya dalam berpenampilan ketika menggunakan motor. Malah sering ada yang salah kaprah menyamakan kegiatan berkendara menggunakan mobil dengan motor. Padahal beberapa hal harus diperhatikan jika kita memilih untuk menggunakan motor.

Naik motor pakai baju apa?

Nah, untuk menjawab pertanyaan ini kita harus menjawab pertanyaan sebelumnya. Kita naik motor untuk apa? Sekedar hobby di weekend atau kendaraan rutin untuk menemani kerja? Karena banyak yang salah kaprah memilih pakaian untuk naik motor.

Referensi yang digunakan adalah pengguna motor di luar negeri. Sayangnya tidak semua fashion cocok diaplikasikan di Indonesia. Apalagi jika kita menggunakan motor untuk beraktivitas sehari-hari.

Di negara-negara sub tropis banyak pengendara motor tidak menggunakan jaket. Mereka hanya berbalut kaos oblong dan jeans. Atau misalnya untuk para scooteris italia yang berpakaian rapi kemudian hanya menyematkan rompi minim di luar pakaiannya.

Masalahnya situasi dan kondisi jauh berbeda di Indonesia. Sebagai negara tropis kita punya suhu mencapai kisaran 37 derajat celcius. Sangat konyol jika kita naik motor di udara terbuka hanya bermodalkan kaos lengan pendek.

Situasinya bertambah rumit ketika di daerah perkotaan. Meski gesit, tak jarang pengendara motor juga tetap harus berjibaku dengan kemacetan. Pertarungan ini masih diperparah dengan tingkat polusi yang gila-gilaan. Maklum saja bus umum dan angkot yang tidak terawat masih bebas berkeliaran membuang asap hitam knalpotnya.

Karena itu jaket adalah asesoris wajib jika memilih untuk naik motor. Setidaknya kulit tidak akan gosong dan perih terbakar matahari. Selain itu Jaket juga berfungsi untuk melindungi pakaian kita dari bau asap knalpot yang menyengat. Boleh saja motor oke, dandanan pun asik tanpa dihiasi jaket, tapi apa gunanya ketika bertemu klien baju kita ternyata bau knalpot?

Helm keren itu yang seperti apa?

Helm bukan lagi sekedar pelindung kepala. Ia sudah menjelma menjadi salah satu aksesoris fashion di kalangan pengguna motor. Tapi dengan alasan yang sama seperti di atas kita harus cermat dalam memilih helm.

Mungkin tidak masalah jika rooling thunder menggunakan motor kesayangan di weekend kita menggunakan helm half face tanpa penutup. Tapi jangan coba-coba menggunakan helm favorit biker cafe racer ini anda gunakan beraktivitas sehari-hari.

Sekali lagi, ini negara tropis banyak debu dan asap knalpot. Dijamin muka langsung menghitam jika berjibaku langsung tanpa penghalang kaca di helm. Lagi pula dengan kondisi mayoritas jalanan Indonesia yang masih belum terawat, menggunakan helm tanpa penutup bisa mengundang bahaya. Tak terbayang batu krikil terlontar langsung ke muka kita dalam kecepatan tinggi.

Hal penting lainnya adalah siapkan minimal dua helm untuk dipakai bergantian setiap hari. Keringat dari kepala yang bersarang di helm bisa menimbulkan bau yang kurang sedap. Karena itu kita harus punya jadwal harian untuk menjemur bagian dalam helm diterik matahari. Jika anda pengguna motor harian, langkah ini hanya mungkin dilakukan jika anda punya dua helm kan?

Pilih motor sesuai fisik

Tidak akan terlihat perbedaanya ketika kita menyetir mobil ferarri yang super pendek dengan mobil off road yang jangkung. Maklum saja kita berada dalam kerangkeng body mobil. Paling banter orang hanya bisa mengintip dari balik jendela.

Beda cerita dengan motor. Semua fisik kita akan dengan bebas dipertontonkan di jalanan. Sayangnya banyak pria yang tidak sadar diri dengan kondisi fisik. Akan aneh terlihatnya jika fisik mungil tapi memaksakan naik motor bongsor.

Tapi sebaliknya, banyak juga pria berfisik besar yang terkesan memaksakan menggunakan motor matic yang diperuntukan bagi konsumen wanita. Hal ini diperparah dengan pilihan warna atau grafis yang terlalu manis untuk fisik sang pengendara.

Karena itu pilihlah kendaraan yang sesuai dengan fisik kita. Salah satu yang pantas dilirik adalah All New Satria F150. Modelnya yang hyperunderbone terlihat ramping namun tanpa meninggalkan kesan laki-laki.

Gaharnya tampilan ini ditunjang juga dengan tampilan mesin tegak berpendingin air. Dapur pacu tetap bertenaga ekstra lewat pemilihan 1150 cc DOHC 4 valve. Semburan tenaganya bisa mencapai 13,6 KW pada 10 ribu RPM. Sementara torsinya mencapai 13,8 KW pada 8500 RPM. Sistem bahan bakarnya menganut injeksi dengan pengapian standar euro 3.

Apalagi All New Satria F150, tampil dengan grafis tampilan baru. Suzuki melakukan gebrakan baru untuk warna standar yang selama ini mungkin sudah kita kenal. Untuk Bung yang mungkin senang terlihat berkelas dan bersih, Brillian White yang tampilan warna putihnya kini lebih mendominasi dari seri sebelumnya, mungkin bisa dijadikan pilihan. Sedangkan yang senang menjadi pusat perhatian Stronger Red dengan warnanya yang lebih menyala mungkin tentu layak jadi tunggangan. Mereka yang gemar elegan bisa memilih Titan Black.

Ditambah lagi ada dua warna spesial, yang juga tak kalah hebatnya. Bagaimana tidak, Titan Black Red dan Metallic Triton Blue, identik dengan tampilan Suzuki GSX-RR milik Team Suzuki Ecstar di MotoGP 2017. Sehingga membantumu menunjukkan sisi kejantanan yang ingin Bung tunjukkan.

Jas Hujan Itu Harus

Selain panas matahari, kendala yang harus dihadapi pengendara motor di Indonesia adalah hujan. Dan seiring berjalannya waktu keadaan cuaca agak sulit untuk diprediksi. Karena itu menyediakan rain coat atau jas hujan adalah sebuah keharusan.

Jangan sampai kita terlambat tiba ditujuan hanya karena harus berteduh dari hujan. Atau untuk mengejar waktu kita memaksakan menembus hujan dan tampil basah kuyup dilokasi aktivitas.

Hal penting yang patut diperhatikan adalah jangan membeli dan menggunakan jas hujan yang hanya berbentuk ponco. Pertama, jenis ini tidak melindungi kita sepenuhnya dari terpaan air hujan. Kita masih bisa basah terutama untuk di bagian kaki. Kedua, jas hujan jenis ini sudah banyak memakan korban jiwa. Bentuknya yang memanjang dan menjulur ke bawah riskan untuk terlilit di roda motor.

Sedikit informasi, di beberapa minimarket dijual jas hujan berbahan plastik. Bentuknya tidak lebih tebal dari buku tulis anak sekolah dasar. Sangat cocok untuk diselipkan dibagasi motor.

Potong rambut pendek, gunakan deodoran

Sekedar saran, jika sehari-hari beraktivitas menggunakan motor maka sebaiknya rambut tdak dibiarkan panjang. Apalagi jika harus dirapikan menggunakan Gel. Karena pastinya repot harus bolak-balik membalurkan gel rambut setelah melepas helm.

Lalu untuk tetap menjaga kesegaran tubuh, usahakan menggunakan deodoran. Hal ini untuk mencegah keringat berlebih. Tentunya kita tidak mau kan muncul dengan baju yang basah oleh keringat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lifestyle & Fashion

Kalau Tak Ingin Dicap Om-om, Jangan Buka Kancing Kemeja Cuma Buat Pamer Bulu Dada

Kecuali Bung memang sudah siap dipanggil ‘Om’ oleh sekumpulan cewek-cewek yang ada di sekitar Bung, ya tidak apa-apa kalau Bung mau bertingkah bak om-om parlente. Tapi sebentar, di mata cewek itu biasanya om adalah sosok pria yang memang seumuran dengan ayah mereka. Memangnya Bung sudah setua itu? Belum kan?

Dipanggil ‘om’ oleh keponakan yang masih balita mungkin sah-sah saja. Tapi coba bayangkan kalau si nona atau mungkin anak millenials di sekitarmu malah merasa penampilan Bung memang seperti om-om. Bung perlu tahu, karakteristik pria yang dikategorikan om-om itu jelas sekali terlihat. Bukan hanya dari penampilan, tapi juga tingkah lakunya. Duh, sepertinya ada yang perlu dirombak nih.

Bung Masih Suka Pakai Kemeja dengan Kancing Terbuka? Sekarang Sudah Bukan Zamannya Pamer Bulu Dada Bung!

Bung, coba rombak dulu bacaan atau referensi soal fesyen. Barangkali memang ada yang perlu dikoreksi dari situ. Walau sehari-hari Bung mungkin bekerja dengan setelan rapi, lebih baik biarkan apa adanya. Jangan sekali-kali melepas dua hingga tiga kancing kemeja sampai bulu dada Bung menyembul. Mungkin di benak Bung, hal itu bisa mendompleng tingkat kekerenan. Duh, tidak sama sekali. Justru yang ada cuma bikin ilfeel cewek-cewek.

Rapi Itu Bukan Berarti Culun, Masa Iya Pakai Polo Shirt dengan Gaya Pakai Kemeja

Apa yang paling terlihat dari style om-om? Gaya fesyennya yang kurang up-to-date dan cenderung kaku. Misalnya, ada cowok pakai Polo Shirt tapi ujung kaosnya dimasukkan ke celana. Bung seperti ini? Wah, bukan apa-apa, tapi style yang satu ini kelewat old-fashioned banget Bung. Pantas saja Bung dikira om-om.  Kalau mau pakai Polo Shirt ya yang normal-normal saja ya Bung. Yang penting, Polo Shirt itu harus rapi dan disetrika. Supaya lipatan-lipatan di permukaan kaos (mungkin efek digiling di mesin cuci) jadi lenyap dan kaos pun terlihat rapi.

Boleh Saja Pakai Cincin, Asal Jangan yang Berukuran Besar Atau Cincin Batu Akik Bung

Lagi pula, memangnya masih zaman ya cincin batu akik? Coba tanya si nona, kira-kira dia risih atau tidak kalau Bung pakai cincin tersebut? Kalau si nona bilang tak masalah, Bung boleh bersyukur. Sayangnya, cewek seperti itu mungkin skalanya 1:1000. Bung ini masih muda, masih bisa bereksplorasi dengan gaya fesyen yang lain. Tak perlu batu akik atau cincin berukuran besar juga. Kalau memang suka dan ingin pakai cincin, yang lazim-lazim saja. Bergayalah sesuai umurmu Bung!

Kalau Ada Kalung Emas Panjang nan Menjuntai di Leher Bung, Sudahlah, Bung Memang Berjiwa Om-om

Jadi, sekali lagi, selain batu akik, Bung juga harus lebih hati-hati dalam mix-and-match aksesoris. Jangan sampai kalung emas berukuran besar yang hits di era ayah Bung (mungkin), justru Bung pakai demi terlihat necis. Alih-alih terlihat demikian, yang ada si nona malah memicingkan mata atau mungkin menahan tawa.

Simpan Saja Gawai di Kantongmu, Tak Perlu Sampai Memasang Tempat HP Kulit Khas Bapak-bapak

Bung boleh cinta dengan ayah Bung, tapi soal gaya, coba agak visioner. Sadarilah Bung dengan ayah Bung lahir di zaman yang berbeda. Cara tampil dan menjaga penampilan pun berbeda. Sudah bukan zamannya lagi membeli tempat gawai berbahan kulit dan memasangnya di gesper bung. Itu namanya Bung sedang membuat diri Bung jauh lebih tua dua dekade. Coba bayangkan kalau sedang berdiri di tempat umum dan ada si nona yang Bung incar. Bisa jadi si nona malah takut dengan Bung karena mengira Bung ini semacam om-om yang hobi menggoda perempuan muda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lifestyle & Fashion

Punya Sepatu Itu Tak Perlu Banyak-banyak, yang Penting Multifungsi dan Mudah Dicuci

Coba tengok rak sepatu Bung, kira-kira ada berapa pasang sepatu yang Bung simpan sekarang? Kecuali Bung memang kolektor sepatu, tak masalah kalau ingin punya koleksi sepatu hingga puluhan pasang. Tapi biasanya laki-laki hanya punya sepatu ‘secukupnya’. Dalam artian, laki-laki lebih memandang fungsi sepatu tersebut. Bukan karena sedang hype atau karena modelnya yang terbilang unik.

Fakta ini berbeda dengan perempuan. Berdasarkan sebuah penelitian, perempuan cenderung punya koleksi sepatu sebanyak 19 pasang. Tapi yang dipakai hanya 7 pasang. Kalau Bung tipe orang yang praktis, sejatinya laki-laki itu hanya perlu empat macam jenis sepatu untuk menunjang segala aktivitas.

Sneaker Mungkin Semacam Must-Have Item, Apa Lagi Sepatu Ini Memang Fleksibel Bung Pakai Untuk Beragam Fungsi

Soal harga, sneakers menawarkan harga yang variatif, tergantung merk dan kualitas juga tentunya. Tapi tak perlu merogoh kocek hingga jutaan rupiah, di beberapa toko sepatu masih banyak ditemukan sneakers yang harganya tak lebih dari lima ratus ribu. Dibanding Bung kemana-mana cuma pakai sandal jepit atau sepatu sandal, sneakers ini cukup menolong agar terlihat lebih formal. Bung bisa pakai sneakers tak cuma untuk olahraga, bahkan ke rumah si nona pun tentu tak masalah kalau Bung maunya demikian.

Supaya Lebih Variatif, Simpan Sepasang Moccasin yang Siap Mendongkrak Style Bung

Terkadang di situasi tertentu, Bung ingin sekali bergaya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hal ini lumrah kok. Apa lagi kalau Bung memang ingin melakukannya karena sedang ada yang diincar. Kencan pertama misalnya. Satu hal yang tak boleh Bung lewatkan: urusan sepatu.

Meski Bung menampik sudah ada sneakers yang kasual, tapi apa iya ketika bertemu si nona pun, Bung tetap pakai sepatu yang itu-itu saja? Coba deh Bung, sekali ini saja, sisihkan budget dari tabungan yang Bung punya untuk membeli sepasang sepatu moccasin. Dijamin, sepatu ini akan meningkatkan kadar kekerenan Bung! Terlebih dalam situasi yang menuntut Bung bergaya lebih rapi.

Sepatu Oxford Memang Tak Lekang oleh Zaman, Tampilannya yang Klasik Cocok Dipakai ke Acara Istimewa Bung

Bung jangan kira sepatu pantofel hanya satu jenis saja. Diantara sekian banyak model pantofel, sepatu Oxford mungkin salah satu yang paling populer. Untuk acara super formal, Bung sangat dianjurkan memakai sepatu jenis ini. Mungkin secara harga sepatu ini memang lebih mahal. Namun untuk kualitas dan pengaruhnya terhadap style Bung, jelas sangat worth it. Misalnya saat sahabat dekat meminta Bung sebagai best man di acara pernikahannya, tak mungkin Bung hanya pakai setelan kemeja dengan sneakers bukan? Maka dari itu, setidaknya simpan sepasang sepatu Oxford di rak sepatu milik Bung.

Sepatu Pantofel Nan Kasual Sebagai Ganti Sneakers Bung Kalau Sedang Dicuci

Sepatu pantofel tak melulu harus mahal. Bung bisa beli yang harganya lumayan terjangkau untuk dipakai bergantian dengan sneakers. Sepatu jenis ini biasanya dikenal dengan nama loafers. Umumnya terbuat dari kulit dan biasanya jauh lebih praktis dipakai dibanding jenis Oxford. Karenanya, buat Bung yang mau pakai pantofel saat ke kantor, mungkin sepatu ini bisa jadi pilihannya.

Empat jenis sepatu yang disebutkan itu sekadar saran. Apa lagi mengoleksi sepatu itu memang hak masing-masing. Terserah Bung mau beli dua hingga belasan sneakers, atau empat pasang Oxford dan dua loafers, asal Bung bisa merawatnya. Tapi kalau dari budget nyatanya Bung masih terbatas, paling tidak miliki empat jenis sepatu ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top