Sport

Menangis Tersedu Karena Belanda-Italia Gagal Lebih Dulu

Piala Dunia sudah di depan mata. Tiga puluh negara sudah mengantongi tiket emas ke Rusia yang didapuk sebagai negara tuan rumah perhelatan pesta akbar sepakbola itu pada 2018 mendatang. Meski pelaksanaannya masih menanti hitungan bulan hingga menjelang hari H, kompetisi memperebutkan tiket emas Piala Dunia nyatanya telah sukses menyuguhkan rangkaian drama berurai air mata.

Terbaru, dua tim besar yaitu Belanda dan Italia harus menelan pil pahit. Keduanya tak lagi punya peluang untuk merengkuh trofi Piala Dunia FIFA 2018 bagi negaranya. Kegagalan yang dialami Belanda dan Italia seakan membuat separuh dunia dirundung pilu. Sebagian membatin, Piala Dunia seperti apakah yang akan tersaji jika tak ada Belanda dan Italia? Hingga hari ini jeritan pilu itu pun belum juga reda.

Semua Bermula Saat Belanda Gagal Mengungguli Swedia…

Belanda memang menang 2-0 dalam laga terakhir kontra Swedia. Tapi dua gol itu belum cukup menyaingi akumulasi gol yang telah dikumpulkan Swedia. Menghuni grup A, tim berjuluk Der Oranje itu hanya mampu mengoleksi 19 poin dan menempati peringkat ketiga. Itulah yang akhirnya membuat Arjen Roben dkk harus berbesar hati lantaran tak lolos babak play-off. Satu-satunya peluang Belanda saat itu hanya akan bisa direngkuh bila mereka mampu membalikkan keadaan dengan membuat tujuh gol tanpa balas atas Swedia. Sayangnya, mereka gagal merengkuh peluang tersebut.

Belum Bisa Lupa dari Kegagalan Belanda, Hal yang Sama Ternyata Harus Terjadi pada Timnas Italia

Stadion San Siro jadi saksi bisu kepedihan mendalam yang dialami pasukan Gli Azzurri setelah kalah dari Swedia dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2018. Tak ada yang menyangka akan hasil pahit kemarin. Sebagai tim besar, Italia pasti sudah memancang strategi jangka panjang demi merengkuh trofi Piala Dunia 2018. Namun semua itu harus pupus. Mimpi buruk ini terlalu menyakitkan. Bagaimana tidak, bertahan selama enam dekade sebagai tim besar yang selalu lolos kualifikasi bahkan beberapa kali merengkuh gelar juara, tahun depan Gli Azzurri hanya bisa menjadi penonton untuk setiap laga yang bergulir.

Kekalahan Italia selalu menyisakan ironi untuk dikenang. Flashback sebentar, skor kacamata yang terjadi selama jalannya laga seperti jalan buntu bagi pasukan Giampiero Ventura, apa lagi lawan mereka sudah mengantongi agregat 1-0.

Entah Apa Julukan yang Tepat Untuk Swedia, Terutama Usai Mempecundangi Belanda dan Menyingkirkan Italia

Swedia punya riwayat kurang manis pada helatan Piala Dunia 2010 dan 2014. Tiket emas menuju Piala Dunia 2018 mungkin akan jadi momen balas dendam tim berjuluk Blågult ini untuk memperbaiki catatan mereka di kompetisi akbar tersebut. Victor Lindelof dkk memang bukan tim yang dijagokan untuk menang, namun cara mereka mengatasi ancaman rival satu grup bahkan hingga berhasil mengubur mimpi dua tim besar untuk meraih jaya di Piala Dunia sudah membuktikan kalau Swedia punya potensi yang cukup kuat untuk menaklukkan tim-tim juara.

Lara Bagi Italia Masih Terasa, Ditambah Gianluigi Buffon Memilih Gantung Sepatu Dalam Suasana Pilu

Tiada yang suka jika karier kita harus berakhir dalam situasi yang pilu. Tapi Gianluigi Buffon harus mengalami hal itu. Kiper timnas Italia itu memang telah mengumumkan keputusannya untuk gantung sepatu usai helatan Piala Dunia. Hanya saja takdir berkata lain. Italia kalah dan tangisan Buffon pun pecah. Sekuat apa pun Buffon mampu menepis ancaman dari pihak lawan, jelas kekalahan ini jadi pukulan terberat bagi kiper 39 tahun itu. Dunia tahu betapa memukaunya riwayat karier Buffon kala membela Gli Azzurri. Tak pelak, berbagai dukungan dan perhatian mengarah padanya agar ia tegar. Sebut saja Iker Casillas, kiper timnas Spanyol itu pun turut memberikan perhatian pada sahabatnya.

Ventura Banjir Kritik, Banyak Pihak yang Berharap Ia Mundur. Di lain Sisi, Kekalahan Ini Membuat Perekonomian Italia Merugi Hingga €1 Miliar

Dalam sebuah acara bincang-bincang televisi Italia, pelatih berusia 69 tahun itu mengaku sudah berencana untuk mundur. Ia hanya menyampaikan jawaban singkat ‘Ya’ pada jurnalis saat ditanya kesiapannya untuk mundur. Kritik keras mengarah padanya seiring kekalahan Gli Azzurri. Ventura dianggap salah strategi dan tidak memaksimalkan peluang yang ada. Dilain sisi, berdasarkan laporan dari Sky Italia, kontrak Ventura bersama Italia pun akan segera diputus oleh FIGC.

Kekalahan Italia nyatanya menciptakan efek domino. Ironi ini bahkan sampai memunculkan laporan kalau perekonomian Italia ikut merugi. Tak tanggung-tanggung, kerugian ditaksir hingga mencapai angka €1 miliar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Sebetulnya Kapan Saat yang Tepat Beli Mobil Baru?

Berhubung membeli mobil tak semudah membayar makanan di angkringan, pastinya banyak hal yang jadi pertimbangan. Apalagi membeli mobil membutuhkan komitmen yang tidak sebentar. Tak mungkin juga, bulan ini beli lalu bulan berikutnya sudah harus dijual lagi. Nah jadi sebetulnya, kapan waktu yang tepat untuk membeli mobil baru?

Ketika Kebutuhan Tak Bisa Lagi Diakomodir Si Kuda Besi

Mungkin selama ini Kita begitu menikmati menunggang si kuda besi alias motor. Sedari muda, moda transportasi roda dua ini jadi pilihan dalam situasi apa pun. Namun toh nyatanya hidup mengalami perubahan. Ada beberapa kegiatan yang ada saat ini sudah tak mungkin lagi dilakukan dengan mengendarai motor.

Misalnya, dulu mungkin tak begitu masalah naik motor ketika masih membujang tanpa ada yang menemani. Ketika sudah berpasangan apalagi berstatus keluarga muda dengan anak yang masih kecil-kecil tentu jadi berbeda kasus. Tak mungkin lagi membonceng si kecil di motor dan membawanya dalam perjalanan jauh.
Ini salah satu momen yang pas untuk mulai berpikir mengambil mobil untuk kendaraan cadangan. Bukan berarti meninggalkan tunggangan setia, tapi memang ada kebutuhan yang mau tak mau harus menggunakan roda empat.

Ketika Mobil Sudah Punya, Tapi Usianya Sudah Lanjut

 

Tak salah memang terhanyut dalam romansa dan memori dengan mobil yang selama ini telah menemani. Tapi kita juga harus realistis, bahwa mobil juga punya usia sebaik apapun kita merawatnya. Mungkin bukan berarti kita menjual yang lama tapi tidak lagi menggunakannya untuk kendaraan sehari-hari adalah langkah yang bijak.

Kondisi paling ideal mobil itu berada pada usia tiga tahun pertama. Lima tahun berikutnya masih bisa dijadikan andalan namun sudah akan mulai ditemui beberapa masalah. Sementara durasi pemakaian mobil untuk harian, yakni sekitar 8 hingga 10 tahun atau jika sudah menempuh jarak lebih dari 200 ribu kilometer.

Sama halnya dengan manusia yang telah lanjut usia, mobil juga sama. Walau suku cadang tersedia, ketika batas pemakaian tersebut sudah dilewati, maka kondisi mesin dan sasis sudah masuk pada level tak layak pakai.

Tak hanya kekhawatiran untuk mogok dan tiba-tiba rusak dijalan saja, menunggangi mobil-mobil yang sudah tak lagi diproduksi juga jadi sebuah resiko yang tinggi. Ketika kita masih berusaha merawat dan mencintainya, bisa jadi perusahaan yang ada disana sudah tak lagi memproduksi spare part yang mobil tersebut miliki. Sementara mobil sudah melulu minta ‘jajan’ karena suku cadang yang rusak. Walhasil selain biaya perawatan tinggi, bisa jadi mobil hanya teronggok tak bisa digunakan karena menunggu suku cadang tersedia.

Ketika Fitur dan Fungsi yang Ditawarkan Mobil Baru Begitu Menggoda Dan Sesuai Kebutuhan Saat Ini

Dulu mungkin kita merasa sah-sah saja dengan fasilitas yang ada di kendaraan roda empat yang kita miliki. Namun teknologi tak hanya diam di tempat. Kalau masih terus berkutat di mobil lama, kita tak akan paham sudah ada inovasi yang akan memudahkan kita dalam berkendara.

Coba tengok misalnya Renault KWID. Di bagian interiornya yang paling mencolok adalah hadirnya head unit layar sentuh berukuran 7 inci yang mengatur sistem hiburan di dalam kabin mobil yang juga telah terintegrasi dengan navigasi satelit menggunakan tampilan 2D/3D.

Sementara untuk fitur sisi keamanan Renault KWID dibekali dengan keyless entry dengan remote dan central lock. Nah untuk kenyamanan Renault KWID juga memiliki fitur heater atau penghangat kabin jika udara di luar terlalu dingin.

Fitur macam ini belum dimiliki mobil terdahulumu bukan?

Ketika Model Baru Yang Ditawarkan Unik Dan Modern

Secara teknis mungkin kendaraan lama belum bermasalah. Tapi bisa jadi kitanya yang sudah dilanda jenuh dengan kendaraan yang itu-itu saja. Jangan anggap remeh karena efek bosan ini bisa melanda kemana-mana. Bayangkan mood yang tak bagus karena waktu di jalan tak dapat sensasi asiknya mengendarai mobil.

Kala itu terjadi maka saatnya untuk melirik kendaraan yang baru. Supaya tak dilanda bosan, cobalah sesuatu yang benar-benar unik. Contoh, misalnya kamu ingin punya mobil yang ramah jalanan perkotaan tapi masih gagah dari sisi penampilan.

Paduan macam itu tentu tak akan bikin kita lekas bosan. Seperti Renault KWID yang jika menilik dari dimensinya mobil yang mengusung mesin 1.000 cc tiga silinder ini memang masuk di kategori City Car.

Namun KWID punya desain unik yang membuatnya bertipe crossover dengan tampilan SUV. Ciri paling kentalnya adalah ground clearance alias jarak bodi terendah ke tanah yang mencapai 180 mm. Didukung pula dengan fender yang cukup besar khas mobil crossover. Sementara bagian grille depan Renault KWID juga tampil tegas dan kokoh. Lampu depan terdapat “C” shape signature sebagai ciri khas Renault terbaru.

Dengan desain apik tersebut, tak heran jika di tahun pertama kehadirannya di Indonesia, Renault KWID langsung meraih penghargaan bergengsi di ajang OTOMOTIF Award 2017. Dalam kategori The Best Small City Hatchback.

Ketika Garansi Dan Asuransi Mobil Baru Memudahkan Untuk Beraktivitas

Sama halnya dengan usia yang telah tua, batas garansi pada perawatan mobil jadi pertimbangan pelik lain. Mobil baru seperti contohnya Renault KWID tadi dilengkapi dengan garansi minimal 3 tahun untuk mesin atau telah menempuh jarak 100 ribu Km. Dengan kata lain, memiliki mobil baru akan memangkas biaya perawatan mobil yang mungkin akan kita keluarkan jika terus bertahan dengan mobil yang sudah uzur.

Tak percaya? Coba tengok layanan purna jual “Renault Peace of Mind”. Ada Silver Package for Renault Kwid & Renault Koleos, tambahan 2 tahun jaminan garansi kendaraan Anda sehingga menjadi total 5 tahun jaminan garansi atau 100.000 km (mana yang tercapai lebih dahulu).

Kemudian ada Gold Package for Renault Kwid, Renault Duster 4×2, Renault Duster 4×4 & Renault Koleos, jaminan bebas biaya sparepart dan jasa service berkala dimulai dari service 1.000 km dan kelipatan 10.000 km sampai dengan 60.000 km dengan masa jaminan garansi kendaraan 3 tahun atau 100.000 km (mana yang tercapai lebih dahulu).

Terakhir ada Platinum Package for Renault Kwid & Renault Koleos, jaminan bebas biaya sparepart dan jasa service berkala dimulai dari service 1.000 km dan kelipatan 10.000 km sampai dengan 100.000 km dengan tambahan 2 tahun jaminan garansi kendaraanmu sehingga menjadi total 5 tahun jaminan garansi atau 100.000 km (mana yang tercapai lebih dahulu).

Tapi memboyong mobil baru bergaransi saja tidak cukup. Karena untuk apa dilengkapi garansi kalau bengkel ternyata sulit ditemui. Kalau kita melirik Renault misalnya, hati tentu akan lebih tentram. Karena pabrikan asal Perancis tersebut sudah bekerja sama dengan group Nissan.

Jadi layanan bengkel dan purna jualnya selain dari renault juga bisa dikerjakan di bengkel Nissan. Hal ini dimungkinkan karena berbekal kekuatan aliansi Renault – Nissan dimana untuk distribusi, pemasaran dan layanan purna jual merek Renault pun ditangani oleh Indomobil Group yang juga menangani Nissan.

Di samping garansi, masalah perlindungan asuransi kehilangan dan kerusakan juga harus jadi pertimbangan. Mobil dengan usia muda akan lebih mudah disetujui oleh pihak asuransi. Sementara mobil yang sudah tua akan sulit mendapatkan perusahaan asuransi yang mau melindungi. Kalaupun disetujui, biasanya akan membutuhkan uang premi yang tidak sedikit.

Jadi ingat, terikat romansa dengan kendaraan lama boleh saja, tapi terus menutup mata dengan kehadiran yang baru tentunya bukan langkah yang bijak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Duduk Tanpa Etika di GBK

Bukan karena prestasi, tapi megahnya Stadion Utama Gelora Bung Karno memang patut membuat bangga. Bersolek dalam rangka menyambut Asian Game 2018, yang akan di gelar di Jakarta dan Palembang, GBK hadir dengan wajah baru bertaraf Internasional.

Diresmikan bertepatan dengan uji coba laga persahabatan antaran timnas Indonesia dengan timnas Islandia, kemarin Minggu, 14 Januari 2017. Gelora Bung Karno kini mampu menampung 80 ribu penonton dengan fasilitas kursi yang sudah jauh lebih baik.

Namun seusai pertandingan berlangsung, ada hal lain yang justru membuat kita masih bingung. Ya, bingung perihal sikap dari kawan suporter lain yang masih saja kampungan. Bagaimana tidak, selama pertandingan berlangsung beberapa orang yang tertangkap kamera mengangkat kaki dengan santainya.

Ulah Tanpa Etika, Janganlah Bung Bawa Kemana-mana, Apa Lagi Untuk Menonton Bola

Sumber : https://www.instagram.com/dailyfootballindonesia/

Duduk serampangan bukanlah sesuatu yang baru, tapi kalau Bung sedang duduk di warung kopi. Tapi masalahnya, GBK adalah stadion bola, bukan warung kopi langganan yang bisa duduk sembarangan.

Beberapa kawan berujar ini mungkin masih wajar, tak perlu dibesar-besarkan. Tapi Bung perlu menjaga aturan. Wajah baru dari GBK ini haruslah diimbangi dengan manusia yang mengisinya, apa tak malu stadionnya sudah mewah tapi kelakuan penontonya masih saja tak berubah?

Kami rasa Bung paham, dari banyaknya foto-foto yang beredar di sosial media dua hari terakhir. Posisi duduk mereka memang cukup memprihatikan. Mulai dari berdiri menginjak badan kursi, hingga duduk di ujung sandaran. Tak heran jika selepas laga minggu kemarin, ada beberapa kursi yang akhirnya rusak.

Tak Bisa Dibendung, Kalau Bung Masih Saja Ngeyel Siap-siap Dibuat Malu

Benar memang, semakin besar stadion tentu semakin besar pula tanggung jawab pengelolanya. Hal itu pulalah yang mungkin sedang jadi tantangan bagi pihak penanggung jawab GBK. Sebab meski sudah ada larangan di sana-sini yang jadi peringatan, para penonton masih saja tak mengindahkannya.

Dan jika masih saja tak jera, saat ini tim pengelola memiliki trik jitu yang akan sedikit membantu untuk mengatasinya. Bung perlu tahu, sekarang GBK sudah dilengkapi fasilitas yang mumpuni, ada sekitar 250 CCTV yang telah terpasang di setiap sisi penjuru stadion. Dengan kamera yang memiliki resolusi hingga 7K, muka Bung akan dipajang di layar utama sebelum dan saat jeda pertandingan berlangsung jika masih saja bersikap tanpa aturan.

Sebab Sikap Bung Jadi Jati Diri Negara, Tak Bosan Dicap Sebagai Suporter Sampah?

Sumber : https://www.instagram.com/dailyfootballindonesia/

Beberapa tahun lalu, pendukung timnas gencar menyuarakan peningkatan fasilitas stadion. Anehnya ketika fasilitasnya sudah berubah menjadi seperti yang diinginkan, ada suporter yang masih saja bersikap tak semestinya.

Kami tak perlu beberkan satu per satu, kiprah buruk yang menjadi sebab akibat dari rusuhnya penonton sepak bola di negara ini. Lalu mau sampai kapan kita tak berubah? Dan tak hanya berlaku pada wajah dari foto-foto yang kini telah tersebar, pertanyaan ini juga ditujukan untuk setiap Bung yang sedang membaca.

Kami rasa duduk tenang menonton laga tidak susah, kalaupun memang ingin berekspresi cukup berdiri. Tak perlu sampai menginjak kursi.

Karena Pemerintah Sudah Berupaya, Saatnya Kita Menjaga

Sumber : https://www.instagram.com/dailyfootballindonesia/

Pemerintah sudah menunjukkan upaya dan perhatiannya, dengan merubah tampilan GBK jauh lebih baik dari sebelumnya. Jika Bung masih belum tahu, biaya dari total keseluruhan pembangunan ini menghabiskan dana 700 miliar rupiah. Nilai yang cukup seimbang dengan fasilitas yang kini bisa Bung rasakan.

Dan tak hanya boleh turut berbangga, harusnya sebagai warna negara yang juga jadi suporter, kita juga wajib untuk menjaga. Dan sejumlah kerusakan yang kini marak beredar dimedia sosial, jadi bukti bahwa tak semua penonton di liga kemarin sudah memahami arti kata menjaga yang sesungguhnya.

Laga Pertama Kemarin Timnas Memang Tak Menang, Tapi Cobalah Jadi Penonton yang Tenang

Sumber : https://www.instagram.com/dailyfootballindonesia/

Mewahnya Stadion Utama Gelora Bung Karno memang bukanlah sebuah jaminan untuk timnas menang. Sebab pada laga pembuka dengan Islandia minggu kemarin, timnas kita kalah telak dengan skor 1-4. Tiga gol yang dicetak Albert Gudmundsson dan satu gol dari Arnor Smarason, berhasil membawa Islandia memenangkan pertandingan.

Tak boleh patah arang, sebagai suporter yang baik teruslah mendukung dan menonton dengan tenang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Terperosok Sang Raja Eropa, Menjadikan Zidane Sedang Diambang Neraka

Entah apa yang terjadi dengan Real Madrid di musim ini, setelah pada pertandingan kemarin meraih imbang dua kali dengan skor yang sama, yakni 2-2 kala menjamu Celta Vigo di partai lanjutan La Liga, kemudian saat menjamu Numancia di leg kedua Copa Del Rey, yang merupakan penghuni kasta kedua Liga Spanyol. Meskipun lolos ke babak selanjutnya, tetap saja torehan dua pertandingan tersebut bukan menjadi catatan baik bagi skuad Zinedine Zidane.

Skuad Madrid musim ini memang menuai banyak kritikan dari berbagai kalangan. Madridista pun juga turut mengecam dengan raihan musim ini. Terlebih lagi ketika dibantai habis 0-3 oleh Barcelona, pada El Clasico jilid pertama. Tak pelak seruan untuk menggantikan Zidane pun menggaung. Tapi tidak bagi Thiery Henry, mantan striker Barcelona. Baginya, Zidane telah melakukan tugasnya dengan baik lewat keberhasilannya memberi banyak gelar.

Memang itu kenyataan Bung, dari dua tahun kepemimpinanya, delapan gelar sudah diberikan untuk publik Santiago Bernabeu. Namun, merosotnya penampilan Madrid musim ini membuat publik was-was, terlebih lagi di klasemen La Liga hanya mampu bertengger di peringkat 4. Nama-nama calon pengganti Zidane pun sudah dibeberkan seperti Carlo Ancelotti, Roberto Mancini, Laurent Blanc dan Fabio Capello. Masih diisi skuad yang tak jauh berbeda dari musim lalu, apa yang membuat Madrid terjatuh?

Nampaknya Ingin Memaksimalkan Darah Muda Selagi Potensi Masih Ada

Sumber : ESPN.com

Mungkin ini salah satu alasannya kenapa Madrid belum cukup stabil. Karena pelatih yang permainannya dulu pernah mengantarkan Madrid memboyong Liga Champions di tahun 2001 ini, giat mengembangkan pemain muda yang dimiliki Real Madrid. Nama-nama seperti Dani Ceballos, Borja Mayoral, Lucas Vazquez kerap menjadi starter dan juga pelapis.

Hal ini membuat Madrid masih fluktuatif dari segi penampilan. Dibanding dua tahun lalu segi kedalaman skuad Madrid bisa dibilang cukup mumpuni. Seperti Alvaro Morata, Pepe, James Rodriguez menjadi pelapis dari Karim Benzema, Cristiano Ronaldo dan Juga Isco Alcaron. Hal tersebut menandakan bahwa pemain utama dan pelapis memiliki kualitas yang sama dibanding sekarang.

Real Madrid Memang Sedang Irit, Apa Malah Pelit?

Sumber : ESPN.com

Real Madrid pada era Los Galaticos jilid II belanja pemain besar-besaran seperti mendatangkan Angel Di Maria, Ricardo Kaka, Cristiano Ronaldo, James Rodriguez, Xabi Alonso dan Karim Benzema. Dengan belanja pemain top-top tersebut membuat Madrid menjadi tim yang ditakutkan.  Adapun di era sekarang, Madrid lebih irit dalam belanja pemain.

Sedangkan pembelanjaan musim ini hanya mendatangkan pemain muda yang lebih banyak mengisi waktu di bangku cadangan dibanding di lapangan. Dani Ceballos adalah contoh pemain yang jarang sekali diturunkan, bahkan sempat tersiar kabar pernah adu mulut dengan Zidane di ruang ganti karena minimnya durasi bertanding.

Taktik Tidak Begitu Berjalan Seperti Musim Lalu

Sumber : ESPN.com

Untuk segi taktik di musim ini nampaknya tidak begitu produktif bagi Real Madrid, dibanding Barcelona yang sudah menjebloskan bola ke gawang lawan sebanyak 48, bandingkan dengan Real Madrid yang hanya 32. Jelas kalah kan Bung? Hal ini mungkin bisa dimaklumi, apa lagi Gareth Bale baru sembuh dari masa cideranya.

Adapun pola serangan yang dibangun Madrid secara strategi sangat monoton. Entah dari serangan sayap atau dari lini tengah. Karena sering kali tidak membuahkan hasil. Seperti pada laga melawan Barcelona contohnya, serangan Real Madrid hanya sampai di tengah lapangan saja. Karena berhasil dipatahkan oleh Sergio Busquets dan Ivan Rakitic. Bahkan hanya 10 serangan yang berhasil sampai berada di kotak penalti Ter Stegen.

Lihatlah Barcelona, Sebagai Rival Yang Punya La Masia Tetap Masih Belanja

Sumber : ESPN.com

Barcelona baru saja merampungkan proses transfer Coutinho dari Liverpool. Bayangkan saja, lini tengah Blaugrana telah diisi Andres Iniesta, Arda Turan, Andre Gomes, Denis Suarez, Paulinho, Sergio Roberto, Andre Gomes, dan Rafinha. Bisa dibayangkan bukan kedalaman skuadnya? Terutama di lini tengah, merupakan lini yang krusial untuk membangun pola serangan.

Sedangkan Real Madrid belum juga bergetar ketika melihat pembelanjaan ini. Karena sampai di jendela transfer musim dingin ini, belum ada satu pemain yang dikaitkan merapat ke Madrid. Padahal banyak pemain top yang bisa diboyong, seperti Eden Hazard, Harry Kane atau Paulo Dybala dapat menjadi opsi untuk pembelian separuh musim.

Apakah Ini Semua Salah Zidane Bung?

Sumber : ESPN.com

Lantas apakah kemorosotan penampilan ini menjadi salah Zidane? Kalau Bung beranggapan iya ataupun tidak, ya sah-sah saja. Karena banyak faktor yang membuat Madrid kurang bergairah di musim ini. Mungkin ini bisa dikaitkan dengan jadwal full yang dilakoni Madrid seperti bertarung di La Liga, Copa Del Ray, Liga Champions, Supecopa Espana, UEFA Super Cup dan FIFA Club World Cup selama dua tahun. Bisa jadi, hal ini yang menjadi alasan para pemain kelelahan.

Selain itu, taktik yang dijalankan Madrid selama dua tahun mungkin sudah dapat dibaca oleh tim lawan. Dan Madrid harus bisa merevolusi taktik dan juga strategi dengan memanfaatkan pemain yang dimiliki. Kalau boleh berkaca lagi-lagi dari El Clasico, peran Kovacic selama diturunkan sangat tidak membantu serangan, alhasil ia hanya sibuk membantu pertahanan, bukan serangan. Karena tidak ada kreasi nan kreatif yang bisa disuguhkan olehnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Pertarungan El Clasico (Memang) Sarat Gengsi, Tapi Apa Iya Masih Kompetitif?

Hegemoni kedua tim ini memang sarat gengsi. Apalagi baru saja Real Madrid baru memperoleh trophy antar klub terbaik di dunia. Ini membuat torehan mereka di piala terbaik sedunia itu menjadi sama dengan Blaugrana, yakni tiga kali menjadi jawara FIFA Club World Cup.

Berkaca dari itu memang sekilas persaingan mereka begitu kompetitif dengan saling membuktikan siapa yang terbaik di berbagai level. Tetapi Bung, dalam partai El Clasico sabtu nanti yang ada hanyalah sebuah gengsi kalau menang adalah harga mati. Soal kompetitif? Nanti dulu.

Barcelona Terlalu Asik Berada Di Puncak, Sementara Madrid Hanyalah Musuh Yang Tak Kasat Mata

Sumber : facebook.com/FIMDBIMD/

Madrid keset Barcelona! Ungkap netizen pembela Lionel Messi dkk. Sebutan yang berlebihan memang, tapi tak juga seratus persen salah. Tak perlu lah Bung jauh-jauh mengulik strategi baru mereka, atau mengintip bagaimana peran Luis Suarez dengan Lionel Messi di lini depan ketika mengacak-ngacak tim lawan.

Cukup menoleh singkat ke arah papan klasmen. Kita pun akan menemukan sebuah jawaban. Kalau La Blaugrana sedang asik di puncak dengan torehan 42 point tanpa pernah kalah dari 16 pertandingan berturut. Pasukan  Zinedine Zidane sedang “terseok” di posisi keempat dengan perolehan 31 point. Terpaut selisih 11 point antara kedua tim membuat Madrid harus bekerja ekstra untuk dapat kembali menduduki takhta tertinggi.

Penolakan Barca Memberi Penghormatan Ke Madrid Bisa Jadi Bara Di Pertandingan Nanti

Sumber : facebook.com/FIMDBIMD/

Kesuksesan Madrid memperoleh piala dunia antar klub berarti pula tambahan jejeran trofi musim ini. Total Madrid sudah meraup 5 trophy. Atas prestasi ini Sang mega bintang, Cristiano Ronaldo, secara terang-terangan meminta Barcelona membentuk Guard Of Honur pada laga El Clasico. Yakni membentuk barisan dua sisi kemudian menyambut sang pemenang masuk ke stadion dengan bertepuk tangan.

Tetapi  hal seremonial tersebut ditolak langsung oleh direktur Barcelona, Guilermo Amor. Dengan alasan, bahwa Guard Of Honour diberikan kepada jika klub tersebut sama sama bersaing di satu kompetisi. Seremonial tersebut memang pernah dilakukan Xavi dan Iniesta pada musim 2007/2008. Kala itu Barca memberikan penghormatan kepada Sergio Ramos, Iker Casillas dan Raul Gonzalez. Tapi memang ketika itu Guard of Honour diberikan sebagai penghormatan kepada Madrid jawara La Liga tempat kedua tim bernanung sebelum memasuki akhir musim.

Meski beralasan, namun bukan lantas Madrid bisa serta merta menerima penolakan ini. Bukan tak mungkin El Clasico akan dijadikan ajang pelampiasan kekesalan mereka terhadap Barcelona.

El Clasico Masih Sarat Gengsi Karena Masih Jadi Ajang Pembuktian Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo

Sumber : facebook.com/FIMDBIMD/

Ya tak bisa dipungkiri lagi bung, perseteruan kedua pemain ini memanas sejak tahun 2008 sampai dengan sekarang. Hampir satu dekade persaingan, perseteruan dan pembuktian mereka menjadi bahan tontonan dan perdebatan setiap orang.

El Clasico kali ini bisa jadi makin panas, karena Ronaldo baru dianugrahi Ballon D’Or. Artinya menyamai rekor messi. Jadi wajar kalu Messi akan ngotot pamer dominasinya di tanah matador, sementara Ronaldo akan bekerja keras membuktikan dirinya pantas menyandang gelar pemain terbaik dunia tahun ini.

Memang El Clasico Partai Yang Bergengsi, Namun Partai Ini Bisa Jadi Tidak Akan Menentukan Apapun

Sumber : facebook.com/RealMadrid/

Sebagai partai yang syarat gengsi dan juga emosi. El Clasico pernah dianggap oleh sebagian orang sebagai partai penentu juara dari La Liga dan beberapa musim ke belakang. Dengan ucapan sesumbar, banyak yang mengatakan secara kultus bahwa yang memenagkan El Clasico akan keuar menjadi jawara La Liga pada akhir musim.

Memang liga baru berjalan setengah musim dan belum bisa ditentukan juaranya sedari dini. Karena masih banyak kejuatan yang bisa saja terjadi. Sang professor lapangan tengah dari Barcelona, Andreas Iniesta, juga menyatakan hal demikian. Dilansir dari Soccerway, Iniesta mengatakan El Clasico tidak dapat menjadi patokan. Karena perburuan gelar akan tetap berjalan. Tapi berkaca dari selisih poin yang cukup jauh, tak juga salah kalau mengatakan El Clasico kali ini tak bakal menentukan apa-apa di akhir musim nanti.

Malah Bisa Jadi Madrid Lain Lah Yang Siap Menerkam Barcelona

Sumber : facebook.com/AtleticodeMadrid/

Jalan panjang menuju tangga juara musim ini memang masih jauh. Sejauh mata memandang masih banyak hal yang memungkinkan terjadi. Bisa saja Barcelona melempem dan kemudian terseok-seok sampai akhir musim. Tapi yang mengancam ketat di belakang justru bukan Los Blancos.

Masih sekota tapi justru Atletico Madrid, yang berpotensi untuk menggeser Barcelona di puncak. Cuma selisih 6 poin jelas tak bisa bikin Barca tidur dengan tenang.  Bagi fans Cristiano Ronaldo Cs  hal itu lebih baik dari pada rival abadi mereka yang juara. Karena membiarkan Barcelona berpesta adalah hal yang haram, dan begitu juga sebaliknya. Mungkin saja El Clasico nanti merupakan bantuan tak langsung Real Madrid untuk Atletico.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top