Sport

Menangis Tersedu Karena Belanda-Italia Gagal Lebih Dulu

Piala Dunia sudah di depan mata. Tiga puluh negara sudah mengantongi tiket emas ke Rusia yang didapuk sebagai negara tuan rumah perhelatan pesta akbar sepakbola itu pada 2018 mendatang. Meski pelaksanaannya masih menanti hitungan bulan hingga menjelang hari H, kompetisi memperebutkan tiket emas Piala Dunia nyatanya telah sukses menyuguhkan rangkaian drama berurai air mata.

Terbaru, dua tim besar yaitu Belanda dan Italia harus menelan pil pahit. Keduanya tak lagi punya peluang untuk merengkuh trofi Piala Dunia FIFA 2018 bagi negaranya. Kegagalan yang dialami Belanda dan Italia seakan membuat separuh dunia dirundung pilu. Sebagian membatin, Piala Dunia seperti apakah yang akan tersaji jika tak ada Belanda dan Italia? Hingga hari ini jeritan pilu itu pun belum juga reda.

Semua Bermula Saat Belanda Gagal Mengungguli Swedia…

Belanda memang menang 2-0 dalam laga terakhir kontra Swedia. Tapi dua gol itu belum cukup menyaingi akumulasi gol yang telah dikumpulkan Swedia. Menghuni grup A, tim berjuluk Der Oranje itu hanya mampu mengoleksi 19 poin dan menempati peringkat ketiga. Itulah yang akhirnya membuat Arjen Roben dkk harus berbesar hati lantaran tak lolos babak play-off. Satu-satunya peluang Belanda saat itu hanya akan bisa direngkuh bila mereka mampu membalikkan keadaan dengan membuat tujuh gol tanpa balas atas Swedia. Sayangnya, mereka gagal merengkuh peluang tersebut.

Belum Bisa Lupa dari Kegagalan Belanda, Hal yang Sama Ternyata Harus Terjadi pada Timnas Italia

Stadion San Siro jadi saksi bisu kepedihan mendalam yang dialami pasukan Gli Azzurri setelah kalah dari Swedia dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2018. Tak ada yang menyangka akan hasil pahit kemarin. Sebagai tim besar, Italia pasti sudah memancang strategi jangka panjang demi merengkuh trofi Piala Dunia 2018. Namun semua itu harus pupus. Mimpi buruk ini terlalu menyakitkan. Bagaimana tidak, bertahan selama enam dekade sebagai tim besar yang selalu lolos kualifikasi bahkan beberapa kali merengkuh gelar juara, tahun depan Gli Azzurri hanya bisa menjadi penonton untuk setiap laga yang bergulir.

Kekalahan Italia selalu menyisakan ironi untuk dikenang. Flashback sebentar, skor kacamata yang terjadi selama jalannya laga seperti jalan buntu bagi pasukan Giampiero Ventura, apa lagi lawan mereka sudah mengantongi agregat 1-0.

Entah Apa Julukan yang Tepat Untuk Swedia, Terutama Usai Mempecundangi Belanda dan Menyingkirkan Italia

Swedia punya riwayat kurang manis pada helatan Piala Dunia 2010 dan 2014. Tiket emas menuju Piala Dunia 2018 mungkin akan jadi momen balas dendam tim berjuluk Blågult ini untuk memperbaiki catatan mereka di kompetisi akbar tersebut. Victor Lindelof dkk memang bukan tim yang dijagokan untuk menang, namun cara mereka mengatasi ancaman rival satu grup bahkan hingga berhasil mengubur mimpi dua tim besar untuk meraih jaya di Piala Dunia sudah membuktikan kalau Swedia punya potensi yang cukup kuat untuk menaklukkan tim-tim juara.

Lara Bagi Italia Masih Terasa, Ditambah Gianluigi Buffon Memilih Gantung Sepatu Dalam Suasana Pilu

Tiada yang suka jika karier kita harus berakhir dalam situasi yang pilu. Tapi Gianluigi Buffon harus mengalami hal itu. Kiper timnas Italia itu memang telah mengumumkan keputusannya untuk gantung sepatu usai helatan Piala Dunia. Hanya saja takdir berkata lain. Italia kalah dan tangisan Buffon pun pecah. Sekuat apa pun Buffon mampu menepis ancaman dari pihak lawan, jelas kekalahan ini jadi pukulan terberat bagi kiper 39 tahun itu. Dunia tahu betapa memukaunya riwayat karier Buffon kala membela Gli Azzurri. Tak pelak, berbagai dukungan dan perhatian mengarah padanya agar ia tegar. Sebut saja Iker Casillas, kiper timnas Spanyol itu pun turut memberikan perhatian pada sahabatnya.

Ventura Banjir Kritik, Banyak Pihak yang Berharap Ia Mundur. Di lain Sisi, Kekalahan Ini Membuat Perekonomian Italia Merugi Hingga €1 Miliar

Dalam sebuah acara bincang-bincang televisi Italia, pelatih berusia 69 tahun itu mengaku sudah berencana untuk mundur. Ia hanya menyampaikan jawaban singkat ‘Ya’ pada jurnalis saat ditanya kesiapannya untuk mundur. Kritik keras mengarah padanya seiring kekalahan Gli Azzurri. Ventura dianggap salah strategi dan tidak memaksimalkan peluang yang ada. Dilain sisi, berdasarkan laporan dari Sky Italia, kontrak Ventura bersama Italia pun akan segera diputus oleh FIGC.

Kekalahan Italia nyatanya menciptakan efek domino. Ironi ini bahkan sampai memunculkan laporan kalau perekonomian Italia ikut merugi. Tak tanggung-tanggung, kerugian ditaksir hingga mencapai angka €1 miliar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Otomotif

6 Kiat Berkendara dengan Motorsport

Yang namanya berkendara dengan motorsport memang agak tricky. Selain harus menyiapkan fisik dan stamina yang prima—lantaran bobot body motor semacam ini pastinya di atas motor skuter matic, menunggangi kuda besi yang satu ini tak seperti naik motor lainnya. Pasalnya, ada tips khusus yang perlu diketahui agar tubuh tetap nyaman selama berkendara dan motor pun tetap dalam kondisi baik setibanya di tujuan seusai berkendara.

1.Biasakan Melakukan Cek Secara Menyeluruh Sebelum Berkendara

Sebelum memulai perjalanan, biasakan mengecek motor apakah motor dalam kondisi prima, mulai dari ban, rem, kopling, hingga sektor lampu. Jika semua aman, baru cari riding position alias posisi duduk yang menurutmu paling nyaman sehingga saat berkendara pun bisa santai namun tetap hati-hati.

2.Pastikan Sudah Tahu Posisi Badan yang Benar Saat Hendak Berkendara

Jangan karena mengejar gagah-gagahan lantas Bung memposisikan badan jauh dari stang sampai tangan lurus dan kaku. Karena ini bukan motor skuter matic, maka badanmu justru harus sedikit menunduk dengan posisi lenganmu sedikit menekuk.

Kenapa harus begitu? Karena lengan yang menekuk ini akan membantumu meredam rebound alias tendangan balik peredam kejut pada stang saat motor menghantam lubang. Kalau posisi sudah mantap, barulah mulai berkendara.

3.Jangan Asal Naik, Posisi Kaki pun Harus Stabil

Untuk posisi kaki, penempatannya harus pas karena ruangnya tak sebanyak di motor skutik yang menggunakan deck lebar. Motorsport hanya punya sedikit footstep tempat meletakan kaki. Lalu paha harus menempel ke tangki motor dengan posisi menjepit. Kendati begitu bukan berarti diam dengan tegang dan kaku. Kakimu harus tetap dalam kondisi relaks.

Posisi ini akan mempermudah untuk melakukan antisipasi bila Bung akan melakukan manuver ekstrem seperti hendak menghindari tabrakan. Dengan paha yang menempel ke tangki, Bung bisa mempertahankan posisi duduk agar tidak tergeser ke kanan kiri dan dapat mengeliminir risiko terpental dari motor.

4.Carilah Posisi yang Senyaman Mungkin untuk Tangan saat Menggenggam Stang

Untuk posisi tangan, perhatikan posisi tangan ketika menekan tuas kopling dan rem depan. Usahakan ketika mengoperasikan tuas rem depan atau kopling yaitu dengan cara menekan ujung tuas supaya ringan. Menekan tuas kopling bisa menggunakan dua jari yang sekiranya dianggap paling nyaman bagi pengendara.

5.Kenali Bentuk Motor Yang Bung Kendarai

Banyak orang meremehkan hal ini dan langsung saja betot gas ketika menunggangi kuda besinya. Padahal bentuk motor yang berbeda akan membuat pengendalian yang berbeda pula. Ambil contoh misalnya GSX-R150 dan GSX-S150. Dua motor Suzuki ini punya DNA yang sama, namun bentuknya berbeda sehingga handlingnya pun akan berbeda.

GSX-R150 dengan fairing tentunya punya body depan yang lebih lebar jika dibanding saudaranya tipe S yang bertipe naked bike. Tentunya butuh ruang lebih lebar jika merambah kemacetan.

Hal lainnya misalnya spion GSX-R150 yang ditanam di body depan sementara GSX-S150 berada di tangki. Ini akan membuat perbedaan karena GSX-S150 spionnya akan bisa ikut menyelip jika stang dimainkan ketika beraksi diantara kendaraan lain, sementara tipe R butuh perhitungan sebelumnya karena spionnya tang tak bergerak.

6.Kenali Juga Karakter Motormu Agar Tepat Mengambil Kesimpulan Di Jalan

Bung harus mengenali karakter motormu dengan tepat. Mulai dari karakter mesin hingga karakter berkendaranya. Coba kita ambil contoh GSX-S150. Untuk urusan dapur pacu GSX-S150 ini disematkan mesin berkapasitas 150 cc DOHC yang sama dengan saudaranya tipe R. Berbekal mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, GSX-S150 menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

Karakternya jinak diputaran bawah sehingga membuatmu tak repot kalau mengendalikannya di RPM rendah.Tapi jangan lantas anggap remeh tenaganya. Kenali dulu, karena ketika diputaran menengah dan atas kalau tak siap, Bung akan dibuat terkejut dengan ledakan tenaganya.

Untuk dimensi, tampilan dari motor garapan Suzuki ini mempertontonkan rangka Single Cradle yang bisa terlihat jelas. Ukurannya sendiri memiliki panjang 1.975 mm, lebar 674 mm, dan tinggi keseluruhan mencapai 1.070 mm. Sedangkan untuk ukuran wheelbase sendiri mencapai 1.300 mm.

Dengan ukuran macam ini, GSX-S150 ini bisa dibilang cukup besar untuk kelas 150cc. Tapi tak perlu khawatir, tinggi jok yang 785mm sangat pas untuk ukuran rata-rata orang Indonesia tanpa harus berjinjit.

Ukuran kekar ini berlanjut hingga kaki-kaki. Di depan menggunakan suspensi teleskopik besar dengan di belakang mengusung tipe monoshock guna menambah kestabilan berkendara. Velg alloy berukuran 2,15 inchi di depan dan 3,5 inchi di belakang dibalut ban depan 90. Tentunya cukup lebar untuk membuatmu tetap stabil di jalan lurus, namun cukup lincah untuk melakukan manuver.

Nah dengan kiat-kiat macam itu tentunya Bung akan lebih aman dan nyaman mengendari motorsport milikmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kisah

Fino Alla Fine Merupakan Sebuah Arti Dari Si Nyonya Tua

Ibarat sebuah perjalanan hidup, ada kitab yang menjadi pedoman dari setiap umat beragama. Seperti itu pula sebuah kata “Fino Alla Fine” bagi Juventus. Klub yang memiliki julukan si nyonya tua ini menjadikan kata tersebut sebagai pedoman akan perjalanan perjuangan mereka dalam mengarungi kompetisi di setiap musim. “Fino Alla Fine” sendiri memiliki arti berjuang sampai akhir, yang mana menjadi pelecut atau penyemangat tim.

Namun, “Fino Alla Fine” nampaknya bukan sekedar kata-kata biasa. Kata-kata ini memiliki efek spiritual bagi para pemain yang dimaksudkan untuk berjuang sampai menit akhir di lapangan. Frasa ini pun diperkenalkan oleh salah satu presiden Juventus, Andrea Agnelli, ketika menutup pidato di hadapan Juventini. Kata terkadang bukanlah aksara biasa, namun kerap memiliki pesan dan suntikan moral yang dapat menggerakan hati setiap individunya.

Menaiknya Popularitas Fino Alla Fine Di Permukaan Juventini

Popularitas dari kata “Fino Alla Fine” kian menanjak tajam dan nampaknya banyak diterima oleh fans Juventus. Apalagi setelah Agnelli menggunakannya pada saat pidato peresmian Stadion baru, yakni Stadion Juventus Arena pada September 2011 lalu. Pemaknaan aksara ini kuat kuat, saat manajemen Si Nyonya Tua ingin menyematkannya di bagian kerah jersey klub. Dengan semboyan terdahulu ‘La vittoria non e importante, ma e l`unica cosa che conta’ , yang diperkenalkan oleh salah seorang Legenda Juventus yakni Giampiero Boniperto.

Mengajak Juventini Untuk Memilih Langsung Kata Terbaik Untuk Jersey Tim Kebangaanya

Pada mulanya terdapat 6000 kata yang muncul dibenak para manajemen yang coba digunakan untuk disematkan ke dalam jersey. Setelah mengalami banyak perundingan akhirnya dikurasi menjadi lima, yakni Fino alla fine’, ‘Bianco che abbraccia il nero’, ‘Writing history, chasing victory’, ‘We live our lives in color, but Dreams are Made in black&white, dan ‘Storia di un grande amore’. Akhirnya metode yang dipilih manajemen adalah jajak pendapat di sosial media.

Setelah sistem jajak pendapat dibuka akhirnya terpilih lah kata “Fino Alla Fine”, yang memang sedari awal telah diprediksi keluar sebagai pemenangnya, setelah akhir dari proses tersebut akhirnya di jersey Juventus musim 2014-2015 tersemat kata tersebut di bagian kerahnya.

Era Calciopoli Si Nyonya Tua, Merupakan Pengalaman Pahit Dunia Sepakbola

Calciopoli merupakan salah satu kasus serius yang menyerang liga Italia, secara kasarnya banyak yang bilang kalau mafia kerap bermain di dalamnya untuk bekerja sama dengan situs judi bola. Ketika kasus ini menguak ke permukaan, nama Juventus pun menjadi tersangka sepakbola gajah ini.

Dengan sanksi penghapusan dua scudetto dan terdegradasi ke seri B pada musim 2006-2007. Meskipun di musim berikutnya kembali ke Serie A tetap saja membuat Juventus harus berusaha esktra. Lantaran ingin mengembalikan kejayaanya. Ketika menatap keterpurukan si nyonya tua, itu merupakan penggambaran yang pas dalam kata “Finno Alla Fine”.

Kebangkitan Si Nyonya Tua Setelah Merana

Nyonya tua yang terseret kasus calciopoli, otomatis merana karena banyak ditinggal pemainnya. Beberapa pemain tidak sudi berlaga di kasta kedua liga Italia. Beruntung Juventus memiliki pemain dengan loyalitas tinggi macam ianluigi Buffon, Alessandro Del Piero, David Trezeguet dan Pavel Nedved.

Sampai mereka menuju ke serie A, tak mudah untuk mencium kejayaan. Setelah melakukan bongkar pasang pemain dan pergantian pelatih di setiap musim. Pada musim 2011-2012 kejayaan Italia resmi kembali ke pangkuannya bahkan hingga musim ini, total sudah enam scudeto yang diraihnyas secara beruntun.

Keyakinan Itu Pun Dipercaya Oleh Pemainnya

“Kekuatan kami akan selalu berada pada keyakinan kami sampai akhir (Fino Alla Fine). Itu bukan sekadar kata-kata, tetapi itu adalah DNA kami yang kami tunjukkan di pertandingan-pertandingan sulit, melawan tim cerdik yang bertahan dengan baik dan menyerang dengan cepat,” kata Daniel Rugani pemain yang mengisi pos belakang Juventus, dilansir dari halaman resmi klub.

Keyakinan akan sebuah kata-kata dapat dipalikasikan dengan baik oleh para pemainnya. Perjuangan pun selalu mengalir lewat keringat dan kekuatan kaki saat menggiring si kulit bundar. Aksara atau frasa, bukan hanya slogan semu tanpa makna. Melainkan sebuah pemain ke-12 yang selalu setiap memberikan semangat sekaligus pelecut rasa pantang menyerah selayaknya supporter sukarela

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Apakah Wajar Bila Pesepakbola Membenci Sepakbola?

Bagaimana seseorang membenci profesinya sendiri? padahal profesi yang dilakoni pun, cukup digemari mayoritas laki-laki yakni sepakbola. Lantas, apakah wajar bila pesepakbola membenci olahraga yang mengantarkan namanya menjadi tekenal bahkan berkecukupan secara finansial?

Dibalik wajar atau tidaknya, tentu hal ini menjadi pergunjingan bagi sebagian orang yang notabene adalah netizen. Sederetan nama-nama yang bakal disebutkan ada yang dari underrated sampai yang sudah tidak asik ditelinga. Bahkan, ada salah satu pemain yang mengatakan semakin banyak mendapatkan uang dari sepakbola, semakin ia membencinya. Dilansir dari sportskeeda.com berikut ini adalah nama pemain yang anomali malah benci sepakbola.

Kegagalan Eksekusi Penalti Menjadi Biang Bagi Pemain Ini Untuk Membenci Sepakbola

Pernah berseragam Leeds, Blackburn dan Newcastle tak ayal membuat pemain ini dipanggil ke tim nasional Inggris, bahkan ia menjadi bagian Three Lions pada saat berlaga di Euro 1992 dan FIFA World Cup 1998. Karirnya sepanjang 18 tahun pada mulanya berjalan manis, David Batty kemudian didaulat menjadi biang kegagalan lantaran gagal menjadi eksekutor penalti saat meladeni Argentina di ajang 4 tahunan untuk mencari negara terbaik dalam sepakbola.

Di tahun 2007 David Batty pun membuat pernyataan yang membingungkan banyak orang saat ia bosan bermain bersama tim nasional. Hal ini jelas dipandang sebagian pemain sebagai bentuk nasionalisme. Lucunya lagi, David Batty, sejak kegagalan penalti ia tidak pernah menonton sepak bola lagi.

Bukan Penggemar Sepakbola Sejati Tapi Karirnya Cukup Melonjak Tinggi

Nama Bobby Zamora pasti tidak asing bagi bung yang kerap menonton liga Inggris. Lantaran pemain berkepala pelontos ini telah malang melintang membela klub-klub medioker di kasta tertinggi liga tersebut. Seperti Brighton & Hove Albion, Bristol Rovers, West Ham, Tottenham, Queens Park Rangers dan pernah tergabung dengan tim nasional Inggris sebanyak dua kali. Sebelum memutuskan untuk menggantung sepatu di tahun 2016.

Kilas balik ke tahun 2012 beberapa pertanyaan menghujam dirinya tentang apa yang bakal dilakukan setelah tidak lagi merumput di lapangan hijau. Secara tegas, Zamora menjawab tidak lagi ingin tergabung dalam dunia sepakbola. Bahkan, pemain ini mengatakan bahwa ia bukan penggemar sepakbola sejati selayaknya pemain lain. Kemudian selama berkarier pun, ia juga jujur kalau jarang melihat tim lain bahkan timnya sendiri selama bertanding.

Tak Puas Di Lapangan Hijau Beranjak Ke Ring Tinju

Menjadi pemain pesepakbola profesional nampaknya kurang begitu menyalurkan hasratnya. Curtis Woodhouse adalah pesepakbola yang merumput dari tahun 1997 sampai 2006. Di usianya yang memasuki umur 26 tahun ia memutuskan untuk berganti profesi sebagai petinju profesional.

Setelah itu, Curtis pernah kembali menjadi pesepakbola paruh waktu ketika menandatangani dengan Rushden dan Diamonds di bulan November 2006 sampai akhirnya ia memutuskan benar-benar pensiun di tahun 2012 di Sheffield United. Mantan pemain timnas Inggris U-21 ini pun pernah mengeluarkan pernyataan aneh ketika ia mengatakan bahwa semakin banyak ia mendapat uang dari sepakbola, ia semakin membenci sepakbola. Logis kah bung?

Bolos Timnas Agar Bisa Berduaan Dengan Kekasih, Anomali Terhadap Dedikasi Profesi

Ketika sekian pesepakbola profesional mendambakan memakai kostum timnas untuk dikenakan dan dibela lewat keringat sekaligus perjuangan. Stephen Ireland justru sebaliknya, pemain yang “gagal” bersinar di Manchester City ini lebih dikenal saat bermain di Stoke City sebagai gelandang serang.

Ireland pun pernah mangkat dari timnas Irlandia dengan alasan Neneknya meninggal padahal ia berduaan dengan kekasihnya. Selain itu, entah karena depresi atau tekanan, Ireland pernah curhat lewat sosial medianya ketika mengatakan jika sepakbola itu hanyalah omong kosong dan menyesal karena terjebak di dalam sepak bola itu sendiri.

Sepakan Luar Biasa Miliknya, Justru Tak Ingin Dikenang Banyak Orang

Batistuta mungkin dapat dibilang Tuhannya sepakbola beberapa dekade lalu. Julukan Batigol dan El Angel Gabriel, terwakilkan lewat sepakan kilatnya menghiasi layar kaca di mana gawang lawan menjadi korban bombardir. Memang gelar trophy secara tim yang didapatkan tidak sementereng Lionel Messi.

Tetapi di zamannya ia sangat disegani dan dihormati, bahkan ia termasuk pencetak gol terbanyakan tim nasional Argentina sebelum dirontokkan Lionel Messi di tahun 2016. Alessandro Rialti selaku penulis otobiografinya  mengatakan bahwa Batigol merupakan permain profesional yang tidak terlalu menyukai sepakbola. Lanjutnya, Batistuta ingin menjadi orang biasa yang tidak ingin terkait lagi dengan sepakbola saat keluar dari lapangan hijau.

Sepakbola memang dapat mendongkrak nama orang biasa menjadi berbeda, mereka yang tercekik finansial bisa tampil spesial ke depannya. Bahkan, banya warga Afrika yang mengadu nasib di Sepakbola demi mendapatkan kehidupan yang layak dan berbeda. Janggal, ketika mengetahui ada beberapa pesepakbola yang membenci Sepakbola. Itu semua pilihan, meskipun tak wajar karena mereka terkenal dan dikenal karena sepakbola. Tetapi balik lagi, membenci dan menyukai adalah pilihan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Ketika Satu Laga Derby Memecahkan 5 Rekor

Derby Madrid memang berakhir imbang satu sama. Cristiano Ronaldo dan Antonie Griezman menjadi sosok yang menyelematkan muka timnya masing-masing. Bahkan kedua bintang tim pun memecahkan sebuah rekor. Pada babak pertama saling jual beli serangan ditampilkan, selayaknya laga derby yang memang sarat gengsi. Apalagi Atletico Madrid merupakan tim kecil dari Real Madrid sudah dipastikan bakal tampil panas.

Sampai berjalannya di babak kedua, gol pun baru tercipta. Imbang tentu bukan hasil yang adil bagi sang tuan Rumah Real Madrid. Laga derby pun memiliki imbas ke papan klasemen, di mana Real Madrid harus terhempas di posisi ke-4 di bawah Valencia di peringkat ke-3 dan Atletico Madrid di peringkat ke-2. Namun, laga derby tersebut tetap menjadi sesuatu yang spesial, selain rekor yang ditorehkan kedua belah bintang ada pun rekor lainnya yang menjadi bahan perbincangan.

Cristiano Telah Membubuhkan 650 Gol Sepanjang Karir

Sumber : ESPN.com

Tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Umur Ronaldo memang tak lagi muda, tetapi urusan mengkonversi peluang menjadi sebuah gol pemain asal Portugal ini jagonya. Gol tunggalnya semalam, menjadi salah satu gol yang paling berharga. Karena itu menjadi gol ke-650 yang ditorehkan sepanjang karirnya. Kalau dirunut satu per satu, selama berkostum setan merah ia telah menciptakan 118 gol, Sporting Lisbon 5 gol, Portugal 81 gol dan Real Madrid 446 gol. Lewat rentetan ini Ronaldo hampir setara dengan maestro lapangan hijau lainnya seperti Gerd Muller, Franco Bromovhic, Pele, Romario dan Josef Bican.

Memperpanjang Rekor Tak Terkalahkan di Santiago Bernabeu

Mungkin bung tidak menyadari, kalau ternyata Atletico Madrid tidak terkalahkan selama 5 pertandingan berturut-turut selama bertandang ke Santiago Bernabeu.  Tentu saja hal ini merupakan rekor bagus di mana dari 5 pertandingan, dari musim 2013 sampai 2018. Atletico telah mengoleksi 3 kemenangan dan 2 kali imbang. Rekor yang berhasil dihasilkan oleh saudara tiri kota Madrid ini tentu bakal menjadi hal yang membuat geram.

Ronaldo Mencetak Hampir 40 Gol Di Setiap Musim

Sumber : Real Madrid FC

Ronaldo memang tak henti-hetinya mencetak rekor. Bahkan rekor yang baru dibukukan ini masih bisa berlanjut karena kompetisi belum berakhir. Ronaldo hanya membutuhkan 37 laga untuk menorehkan 40 gol. Bahkan 40 gol ini bisa beranjak sampai ke arah 50. Memang, Ronaldo cukup produktif , bahkan di tahun pertamanya berseragam Real Madrid ia telah mebukuhkan 45 gol. Setelah itu, Ronaldo cukup konstan untuk menorehkan gol di atas angka 30.

Antonio Griezman Mencetak 3 Gol Selama 3 Pertemuan di Kandang Madrid

Pemain Perancis ini menggantikan beberapa sosok sebelumnya yang kerap meneror jalan Real Madrid. Mulai dari Kun Aguero, Fernando Torres dan Radamel Falcao. Antonio Griezman, telah 3 kali berturut-turut selalu mencetak gol di Santiago Bernabeu yang tentu saja ia menjadi momok yang menakutkan bagi Madird.

Sudah Tercipta 500 Gol Selama Derby Ini Berlangsung

Derby antara kedua tim yang sudah sepanjang musim terjadi, ternyata pecah gol ke-500 semalam. Di mana saat Ronaldo melesahkan goalnya ke gawang lawan. Saat seblum kick off berlangsung ternyat gol yang terjadi di derby ini sudah mencapai angka ke-499.

Di menit 53 tepatnya, Ronaldo coba menungguli Atletico Madrid lewat lesatannya dan ternyata menjadi gol ke-500 sebelum di samakan oleh Antonie Griezman 3 menit berselang.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top