Sport

Ketika Sosok Penceramah Mulai Menjamah Si Kulit Bundar

Terdengar menarik ketika seorang alim ulama ikut terjun ke dalam pengembangan sepak bola, seperti yang dilakukan oleh Ustadz Yusuf Mansur dengan Persika Karawang. Biasanya seorang ustadz atau ulama  berkecimpung dalam bidang yang masih mempunyai kaitan dengan nilai-nilai religius, seperti pembangunan masjid atau pengembangan pesantren. Namun, apa yang dilakukan Yusuf Mansur ini sedikit berbeda.

Memang belum ada kepastian resmi akan menjabat sebagai apakah seorang ustadz di kubu Persika Karawang. Namun, secara pasti ia akan terlibat, seperti yang dikatakan oleh Rakhmat Gunadi selaku pengurus, dilansir dari Bola.Kompas.com. Kehadiran Yusuf Mansur digadang-gadang akan menjadi komisaris di klub Karawang tersebut, tetapi nama beliau bukan pemilik saham tunggal dari PT. Persika Singaperbangsa.

Sambangi Karawang Bukan Untuk Ceramah Tapi Mengucurkan Dana

Sumber : Netralnews.com

Ustadz Yusuf Mansur bakal berkecimpung pada persepakbolaan Karawang yang direpresentasikan oleh Persika. Ustadz kondang ini digandeng guna menjadi penyandang dana bagi klub yang memiliki julukan lumbung padi. Kesepakatan kedua belah pihak terjadi pada 30 Januari 2018 lalu. Menurut penuturan Rakhmat Gunadi, dengan menggaet beliau akan menambahkan tren positif bagi Persika.

Entah sisi positif apa yang dimaksud Rakhmat kurang begitu jelas. Bisa jadi dari sisi popularitas seorang Yusuf Mansur yang merupakan ustadz kondang yang kerap tampil di televisi. Selain itu beberapa persen saham yang dimiliki oleh Ustadz Yusuf Mansur juga tidak disebutkan oleh Rakhmat. Jumlah nominal yang digelontorkannya pun masih dirahasiakan.

Mantan Pelatih Timnas U-19 Juga Datangi Persika

Sumber : Goal.com

Selain nama Ustadz Yusuf Mansur yang tergabung ke dalam kepengurusan Persika Karawang ada pula nama lain yang mencuat, yakni Indra Sajfri. Pelatih yang menelurkan pemain-pemain berbakat mulai dari Evan Dimas sampai Egy Maulana ini disebut-sebut menjadi salah satu orang yang memiliki saham di PT. Persika Singaperbangsa. Meskipun ia membantah karena belum terjadi kesepakatan apa-apa, seperti dilansir dari Bola.com.

Adapun alasan yang mungkin terjadi adalah kesamaan karakter religius yang terdapat pada nama Indra Sajfri dan Yusuf Mansur. Sebagai ustadz, jelas saja nama Yusuf Mansur pasti erat dengan nilai-nilai religius. Tapi tanpa disadari nama Indra Sajfri juga demikian, pelatih ini pernah mengajak Tim U-19 angkatan Evan Dimas untuk umroh (bagi yang beragama islam). Selain itu banyak pula hal lain yang berkaitan dengan agama diterapkannya di dunia kepelatihan selama di lapangan dan luar lapangan.

Menduetkan Dua Pelatih Anyar Demi Kemajuan Karawang

Sumber : Bolaskor.com

Tidak hanya menggaet ustadz kondang dan pelatih timnas muda kawakan, Persika juga mendaulat mantan pelatih Borneo FC, Ricky Nelson, sebagai pelatih kepala. Sepertinya seru menanti duet Indra Sajfri yang menjabat sebagai direktur teknik dan Ricky Nelson sebagai pelatih kepala. Keduanya memang memiliki visi yang sama dengan mengembangkan pemain muda. Seperti yang dilakukan Nelson saat menukangi Borneo FC di ajang Piala Presiden 2017, meski hanya menurunkan tim lapis kedua namun tetap bisa ke partai puncak.

Indra Sajfri sendiri mengaku tertarik untuk memajukan sepak bola di Karawang karena mendapat tawaran dari Wakil Bupati Karawang, Ahmad Zamakhsyari. Mantan pelatih Bali United ini juga tengah giat membangun ‘Akademi Indra Sajfri’ untuk menyaring bakat-bakat pemain muda Karawang. Duet pelatih ini diharapkan oleh publik Karawang dapat membawa Persika melaju ke Liga 1, karena sekarang Persika sedang berjuang di Liga 2.

Diisukan Dapat Dana Dari Tim Ibu Kota

Sumber : Youtube.com

Persika sempat diisukan dapat suntikan dana dari Persija tapi konon kabar tersebut langsung dibantah oleh Manajer Tim Persika, Rakhmat Gunadi. Kabar ini mencuat lantaran Direktur Utama Persija, I Gede Widiade, menjadi CEO Persika. Ia pun menegaskan kalau tidak ada hubungan (apa pun) antara Persija dengan Persika.

Kabar miring ini semakin beredar lantaran Persija sebagai tim ibu kota yang tak memiliki rumah, sempat berencana menempati Stadio Singaperbangsa sebagai homebase, namun hal itu ditolak lantaran Persika sedang fokus mempersiapkan tim guna menghadapi liga 2 musim depan. Rakhmat juga mengatakan kalau kesepakatan dengan I Gede terjadi karena dia hobby sepak bola.

“Namanya penggila sepak bola, sulit dimengerti. Apa lagi beliau sudah bertahun-tahun menangani tim sepak bola,” ungkapnya.

Hal ini tidak mungkin terjadi seharusnya karena Persika sudah mendapatkan gelontoran dana dari Ustadz Yusuf Mansur. Karena beliau secara resmi merupakan pemegang saham di PT. Persika Singaperbangsa (meskipun bukan pemegang tunggal). Bisa saja dana yang digelontorkan tidak dibocorkan Persika karena takut sosok ustadz kondang menjadi sasaran media dan publik. “Bukan sumbang untuk masjid malah buat sepak bola.”, atau kecaman lainnya yang biasa dilakukan oleh netizen yang budiman.

Bahkan Gus Mus Dan Quraish Shihab Pernah Menjadi Pemain Bola, Bukan Sekedar Mitra

Sumber : Breakingnews.co.id

Quraish Shihab dikenal sebagai ahli tafsir yang pernah kuliah di Mesir bersama dengan KH Mustofa Bisri yang biasa dipanggil Gus Mus. Kedua ulama ini ternyata pernah tergabung dengan sebuah kesebelasan asal Kairo, tim junior Zamalek semasa menutut ilmu di sana. Zamalek sendiri merupkan klub raksasa yang ada di Kairo, Mesir. Sedangkan seteru abadinya di kala itu adalah Al-Ahly. Kenyataan bahwa dua ulama Indonesia itu pernah berkiprah di sepak bola Mesir tertuang lewat biografi milik Quraish Shibah berjudul “Cahaya, Cinta, dan Canda”.

Alim ulama atau pun sosok penceramah bisa tergabung ke dalam sepak bola. Karena olahraga ini bebas bagi siapa saja yang mencintainya. Tak menutup bagi orang yang suci sekali pun, bahkan orang sejahat Hitler saja suka sepak bola bukan? Jadi ya sah-sah saja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Karena Penelitian Menyebut Kecerdasan Itu Sexy

Sebagian orang masih mengasosiasikan “pintar dan cerdas” itu dengan tampilan kaku macam kutu buku. Padahal sesungguhnya saat ini banyak tokoh-tokoh yang lekat dengan kecerdasan macam Elon Musk atau Mark Zuckerberg yang justru dianggap menarik dan sexy.

Beberapa penelitian juga bahkan menunjukan hal ini. Salah satunya adalah penelitian yang digagas psikolog Gilles Gignac, Joey Darbyshire, dan Michelle Ooi dari University of Western Australia. Mereka menemukan bahwa orang-orang dengan IQ tinggi memiliki skor tinggi dalam hal keseksian ketika dinilai oleh orang lain.


“Kecerdasan” Menjadi Faktor Kedua Daya Tarik Setelah “Kebaikan”

Penelitian tentang kecerdasan dan daya tarik di atas melibatkan sedikitnya 10 ribu peserta dari 33 negara di dunia. Salah satu temuan menariknya adalah para peserta penelitian menempatkan “smart” di nomor dua sebagai daya tarik.

Posisi ini hanya dikalahkan oleh faktor “kebaikan dan pengertian” yang menempati urutan nomor satu. Jadi sesungguhnya dengan menjadi baik dan terus melatih kecerdasan sudah bisa membuat orang lain tertarik kepada kita.

Salah Satu Indikator Kecerdasan Adalah Selera Humor

Dalam penelitian itu juga ditanyakan mengenai indikator apa yang digunakan untuk menilai seseorang cerdas atau tidak. Sebagian menyebut bahwa salah satu indikator yang digunakan untuk menilai kecerdasan seseorang adalah selera humornya.

Karena mereka yang cerdas selalu berpikiran terbuka dan orang yang berpikiran terbuka ini cenderung punya selera humor yang baik. Mereka yang smart juga dikatakan tidak akan mudah tersinggung dan aspiratif terhadap ide-ide baru.

Tak Cuma Pada Individu, “Smart Dan Sexy” Juga Kini Diterapkan Pada Hal Lain

Perpaduan menarik ini tak cuma ditemui dalam urusan penggambaran individu seseorang. Karena kini banyak sektor juga menerapkan konsep ini. Coba tengok misalnya gadget yang selalu menemani kita.

Dahulu mungkin handphone hanya digunakan sebagai alat komunikasi suara dan teks. Kini perkembangannya sudah jauh lebih dari itu. Mulai dari mengakses internet, sosial media, pesan makanan, penunjuk arah hingga fungsi lainnya yang dulu hanya impian.

Tapi toh kamu juga tak mau hanya menggunakan gadget yang cerdas saja bukan? Begitu banyak pilihan ponsel cerdas, tentunya kamu juga memilih yang di desain menarik lagi sexy. Karena hal tersebut juga menunjukan jati diri.

Bahkan Meluas Hingga Urusan Tata Kota Juga Tersentuh Unsur Kecerdasan

Familiar dengan istilah Smart City? Yup inilah konsep yang diinisiasi oleh Suhono S. Supangkat dari ITB. Kota tak lagi hanya menjual soal “keindahan dan kecantikan” namun juga harus bersifat smart.

Menurutnya, Smart City adalah kota yang bisa mengelola Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM) dan sumber daya lainnya sehingga warganya bisa hidup nyaman aman dan berkelanjutan.

Seperti adanya transparansi dan partisipasi publik, transportasi publik, transaksi non tunai, manajemen limbah, energi, keamanan, data dan informasi. Hal ini dapat didukung melalui teknologi informasi dan komunikasi. Terbayang menyenangkannya hidup di kota yang di tata macam ini bukan?

Tak Mau Ketinggalan, Urusan Kendaraan Juga Harus Mengadaptasi Ini

Soal “smart dan sexy” ini juga merambat ke urusan kendaraan. Mengingat hal ini melekat dengan kita dan digunakan juga untuk berativitas sehari-hari. Wajar rasanya jika konsep ini juga diterapkan pada kendaaraan kita.

Ambil contoh Yamaha Lexi yang mengusung konsep “Smart is The New Sexy” yang bermakna bahwa sexy tidak hanya tentang penampilan melainkan tentang karakter, sikap dan pola pikir yang Smart. Yamaha Lexi mempunyai 3 pilar konsep Utama

Untuk Smart & Sexy Design, Motor ini mengkombinasikan unsur Luxury dan Elegan dengan bobot yang paling ringan di kelas MAXI YAMAHA. Tampilannya yang berkelas ditunjang desain lampu Grand LED Headlight ditambah eye line biru yang menawan memperkuat kesan mewah dan elegan. Apalagi untuk tipe Lexi-S, desain joknya  memadukan dua tekstur kombinasi yang disatukan dengan motif jahitan elegan membuat tampilan motor menjadi lebih berkelas.

Tak cuma tampilan karena yamaha Lexi ini punya Smart Features. Untuk Varian Yamaha Lexi-S dibekali fitur Smart Key System yang merupakan sistem kunci tanpa anak kunci alias keyless. Kunci ini juga sudah disematkan fitur Immobilizer dan Answer Back System untuk memudahkan pengendara mencari posisi parkir motor.

Berkendara dalam jarak jauh juga kini tidak perlu khawatir karena Yamaha Lexi memiliki bagasi yang luas dan lega untuk menampung barang bawaan lebih banyak. Apalagi, Yamaha Lexi menjamin pengendara tetap terhubung melalui Smartphone karena dilengkapi Electric Power Socket untuk mengisi daya gadget.

Urusan dapur pacu diserahkan pada Smart Engine. Dari segi performa mesin, Yamaha Lexi menggunakan mesin generasi baru Blue Core 125 cc yang disempurnakan Variable Valve Actuation (VVA). Mesin ini secara cerdas akan membuat aksi berkendara lebih efisien, bertenaga dan handal dengan tenaga dan torsi maksimum di setiap putaran mesin. Apalagi Yamaha Lexi dilengkapi Liquid Cooled 4 Valves (LC4V) yang membuat suhu mesin lebih stabil dan performa lebih maksimal.

Tak berhenti disitu Yamaha Lexi dibekali fitur canggih Stop & Start System (SSS) berfungsi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar yang tidak perlu pada saat motor sedang berhenti. Apalagi ditambah Smart Motor Generator (SMG) membuat suara motor lebih halus saat dinyalakan. Kalau masih penasaran soal motor satu ini kamu bisa lihat detailnya di halaman ini!

Jadi bagaimana? Kamu sudah siap mengikuti trend smart is the new sexy ini?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kisah

Bayangkan apabila Tim Luar Biasa Ini Tidak Berpencar Punggawanya, Pasti Kini Sudah Besar

Sebuah dongeng perihal upaya merangkai tim berlabel debutan, atau kuda hitam namun menjelma menjadi kekuatan baru mungkin dapat Bung temui lewat sebuah film Damned United, yang menceritakan tentang kisah nyata dari Brian Clough kala membuat Nottingham Forest menjadi jawara di Eropa era 80-an. Setelah dua tahun back to back champions di Liga Champuons, kisah tentang Nottigham Forest tenggelam. Tak ada lagi tim yang dulu berlabel raja Eropa di era sekarang. Keperkasaan pun hanya tinggal kenangan.

Nottingham Forest hanyalah satu dari sekian contoh, kalau setiap tim punya potensi untuk jadi luar biasa, tak hanya yang dinobatkan sebagai tim besar macam Real Madrid, Juventus, Manchester United, sampai Barcelona. AS Monaco pun sempat  menunjukan taji di musim 2016/17 saat mampu tembus semi-final dan mampu bersaing dengan PSG, sebuah tim yang kaya raya.

Namun setahun berselang para pemain andalan pindah. Bernardo Silva, Benjamin Mendy, Tiemoue Bakayoko, dan Kylian Mbappe hijrah ke Manchester City, Chelsea, dan PSG. Tiga klub terboros di Eropa. Andai pemain andalan ini tetap mempertahankan loyalitasnya di Monaco, mungkin Monaco bisa menjadi tim hebat yang menjadi kekuatan baru di Eropa. Sampai-sampai muncul akun @ASMonaco_Indo di Twitter seking kepincutnya. Namun tak hanya Monaco saja, banyak tim lain yang nasibnya tak jauh berbeda.

AS Monaco Musim 2003/04

Kepergian beberapa bintang Monaco, ternyata  pernah dilakukan era 2000-an. Kala itu AS Monaco diisi pemain berkualitas seperti Patrice Evra, Fernando Morientes, Jerome Rothen, dan Ludovic Giuly. Secara mengejutkan di musim Liga Champions musim 2003/04 mereka berhasil menembus babak final Liga Champions, namun sayang harus ditundukkan oleh FC Porto dengan skor meyakinkan 3-0 (kala itu FC Porto diasuh oleh Jose Mourinho).

Keempat pemain pun pergi setelah kekalahan tersebut, hanya Evra saja yang bertahan. Jerome Rothen berlabuh ke PSG, Morientes pindah ke Liverpool, Ludovic Giuly dijual ke Barcelona. Sejak saat itu AS Monaco benar-benar kehilangan taji sebagai tim besar. Meskipun tidak bubar.

Ajax Musim 2003/04

Jika menyebut tim Belanda yang sukses di Eropa, otomatis tertuju kepada Ajax Amsterdam. Di era 90-an Ajax merupakan klub yang layak diperhitungkan karena filosofi permainanya mampu meluluhlantahkan lawan. Jelas saja, kejayaan dapat diraih dengan sempurna. Tetapi masalah besar sekaligus anomali terjadi di generasi berikutnya.

Dihuni oleh Zlatan Ibrahimovic, Wesley Sneijder, Rafael van der Vaart, Jari Litmanen, Nigel de Jong, Thomas Vermaelen, Maxwell, dan Hatem Trabelsi tapi tak mampu berbicara banyak khususnya di Eropa. Semuanya dimulai dengn kepergian Ibrahimovic ke Juventus di tahun 2004, membuat ambisi mereka untuk meraih kesuksesan satu dekade lalu telah sirna. Di tahun-tahun berikutnya, Sneijder bergabung di Real Madrid di tahun 2007 dan hanya menyisahkan Vermaelen.

Parma Musim 1998/99

Mungkin bagi Bung yang tumbuh seiring Serie A Italia sebagai tontonan sepakbolanya, pasti mengenal Parma sebagai tim yang memiliki segudang talenta. Wajar saja keberhasilannya membuatnya berhasil meraih gelar Piala UEFA di tahun 1999. Bayangkan saja Parma melahirkan pemain terbaik seperti Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Lilian Thuram. Juan Sebastian Veron, dan Hernan Crespo, komunal para pesepakbola hebat di Eropa saat itu.

Keberhasilannya terlihat dari pencapiannya di luar klub. Thuram berhasil  memenangi Piala Dunia bersama Perancis. Selang beberapa tahun kemudian Cannavaro dan Buffon melakukannya bersama Italia. Crespo menjadi striker termahal dan Veron menjadi gelandang tengah yang dikagumi. Setelah itu Parma tak pernah lagi mendulang kesuksesan sepeninggalan mereka.

Borrusia Dortmund 2012/13

Asuhan Jurgen Klopp kepada Dortmund di musim itu sangat populer meskipun harus mengakhiri Liga Champions tahun 2013 di posisi runner up. Jadi tak ada cara fans untuk mengenang tahun itu seperti saat Dortmund juara kompetisi di tahun 1997.

Jahatnya setelah Bayern Munich berhasil unggul di laga All Germany Final tersebut, Die Rotern justru mencomot beberapa pemain andalan Dormun seperti Robert Lewandowski dan Mario Gotze. Setelah itu, Dortmund tak lagi berjaya meskipun Nuri Sahin, Marco Reus, dan Ilkay Gundogan telah memenuhi tim ini secara potensial.

West Ham Musim 2000/01

West Ham tak bisa dilewatkan dari daftar ini, karena tim inilah yang melahirkan algojo-algojo Inggris di masa depan. Sebuta saja Rio Ferdinand, Frank Lampard, Michael Carrik, Joe Cole, dan Jermain Defoe sudah menampilkan puncak permainanya kala di West Ham. Tetapi torehan kesuksesannya diraih di tim liga Inggris lainya.

Ferdinand dan Carrick memenangi Liga Champions 2008 bersama Manchester United; Lampard di tahun 2012 bersama Chelsea, dan di klub yang sama Joe Cole sukses menjadi finalis. Sementara Defoe membuktikan dirinya sebagai striker tajam di Premier League dan juga tim nasional Inggris.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Mereka yang Menyatakan Ketidaksukaan terhadap Pep Guardiola secara Terang-terangan

Keputusan pelatih dalam menentukan taktik dan strategi terkadang jitu bagi kepentingan tim, tetapi belum tentu berdampak baik untuk karier pemain. Banyak pemain yang harus rela duduk manis di bangku cadangan, karena tak masuk dalam strategi sang pelatih. Pep Guardiola merupakan salah satu pelatih tersukses, yang mulai melatih di tahun 2008 sampai sekarang, 23 trophy sudah dikoleksi oleh pelatih asal Spanyol.

Di jajaran pelatih, nama Pep Guardiola sudah diakui kehebatannya. Namun, ada beberapa pemain yang secara terang-terangan membenci dirinya karena beberapa faktor yang membuatnya kehilangan tempat di tim utama. Bahkan secara terang-terangan beberapa pemain ini membencinya. Kira-kira siapa saja mereka, Bung?

Kaya Akan Taktik tapi Tak Handal dalam Berkomunikasi

Bek asal Brasil, Dante merupakan pemain andalan di Bayern Munchen semenjak didatangkan pada bursa transfer musim panas 2012 dari Borrusia Moenchengladbach. Jupp Heynckes, yang saat itu menjadi pelatih kepala menjadikan Dante pemain andalan sebelum ia digantikan oleh Guardiola.

Selama dua musim Guardiola melatih di tahun 2013 sampai 2015 Dante masih mendapatkan banyak laga bersama Bayern. Tetapi bek satu ini mengatakan kalau Guardiola merupakan pelatih yang kaya taktik tapi tak handal dalam berkomunikasi.

Tak Dimaksimalkan Membuat Hleb Bertengkar

Di Arsenal, Alexander Hleb merupakan salah satu gelandang andalan. Tetapi saat pindah ke Barcelona di tahun 2008, kekuatan Hleb tidak dimaksimalkan. Hal itu karena Hleb tak suka dengan pendekatan strategi yang dilakukan Guardiola, yang sangat mendewakan tiki-taka. Saran yang diberikan kepada Hleb untuk memainkan gaya permainan tiki-taka tidak disenanginya. Lantaran ritme permainan Hleb di Arsenal sangat gemar mendribel bola dalam waktu lama. Sehingga pertengkaran antara Hleb dan Guardiola tidak dapat dihindari.

Dua Kali Dilatih Guardiola, Dua Kali Terdepak dari Skuat Utama

Ironis bagi pemain tengah bertalenta seperti Yaya Toure, kala memperkuat Barcelona di tahun 2008-2010 ia meninggalkan Catalunya karena tak betah ditangani oleh pelatih seperti Guardiola. Membuatnya pindah ke Manchester City, ironisnya, ketika ia berniat menghindari Guardiola, di tahun 2016 Guardiola malah memperkuat Manchester City. Tak banyak berubah setelah Guardiola pindah ke Manchester City, peran Yaya Toure tetap tergerus dan ia pun memutuskan untuk meninggalkan Manchester City sebelum kontraknya habis.

Hanya Bersikap Manis di Depan Kamera

Sikap buruk Guardiola pun diungkapkan langsung oleh mantan striker Barcelona era musim 2008-2009. Samuel Eto’o, ia memutuskan pindah ke Inter Milan karena tak tahan dengan sikap Guardiola. Inter dan Barcelona pun bertemu sebanyak empat kali di Liga Champions 2009-2010, Eto’o pun mengatakan Guardiola menyalaminya tiap kali ada kamera yang menghampiri, namun enggan menyalami kalau tak ada kamera.

Tak Tahan Dimainkan Bukan sebagai Posisi Aslinya

Penyerang berpaspor Swedia ini, mengaku kalau semuanya berjalan baik-baik saja pada enam bulan awal. Setelah itu hubungannya dengan Guardiola tidak begitu nyaman. Posisi penyerang yang menjadi posisi aslinya dipindahkan sebagai sayap kiri yang membuat Ibrahimovich kesal. Guardiola melakukan hal itu demi mengakomodir Lionel Messi, hingga Ibrahimovich hanya bertahan satu musim saja di Barcelona.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport Update

Sosok Menawan dari Pesepakbola Perempuan Asal Indonesia yang Mencuri Perhatian

Timnas wanita Indonesia akan berlaga di Asian Games 2018. Dibalik persiapan yang telah dilakukan demi memberi raihan positif, ada sosok yang mencuri perhatian bernama Dhanielle Daphne yang berposisi sebagai gelandang serang. Tak hanya dikaruniai dengan skill yang mumpuni, tetapi paras cantik dan imut menjadi daya tarik tersendiri bagi pesepakbola yang baru menginjak usia 17 tahun itu.

Selama lima bulan terakhir, DD sapaan akrab dari Dhanielle Daphne, sibuk menekuni porsi latihan yang berat agar timnas Indonesia bisa tampil maksimal. Pelatihannya dipusatkan di daerah Sawangan, Depok, dan sekitaran Jawa Barat. Rekam jejak DD sebagai pesepakbola dimulai saat ia memperkuat tim nasional U-12.

Kemampuannya juga diasah dengan melakoni turnamen di luar negeri saat usianya belum mencapai 15 tahun. DD sendiri terpilih memperkuat timnas wanita Indonesia sejak Maret 2018 saat dipilih oleh PSSI ketika tampil di Pertiwi Cup tahun lalu. Kini ia pun tak sabar untuk mengerahkan segala kemampuannya guna mengharumkan nama bangsa Indonesia di tingkat Asia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top