Kisah

Tak Diduga, Ternyata Mereka Turut Meramaikan Derby Kota Manchester Sebelumnya

Seiring dengan kedatangan sugar daddy macam Sheikh Mansour ke Manchester City, membuat derby Manchester menemukan kelasnya di era sekarang. Setelah sebelumnya, derby sekota ini dipandang sebelah mata bahkan tak menjadi tontonan utama kala menikmati satu musim Liga Inggris berlangsung. Namun, setelah banyaknya pemain kelas dan berlabel bintang datang ke Manchester City, kuasa “Setan Merah” di kota Manchester mulai terusik. Bahkan pelatih sekaligus ayah dari United, Sir Alex Ferguson, memberinya julukan ‘Si Tetangga yang Berisik’.

Tetangga nyatanya tak cuma berisik namun juga mengusik. Balik lagi soal kedatangan pemain kelas dan berlabel bintang, ternyata ada nama-nama yang tak tertangkap diradar. Sehingga Bung sendiri mungkin tak menyangka kalau dia ternyata pernah bermain dalam laga derby. Kira-kira siapa sajakah dia, Bung?

Bek Kokoh Asal Tiongkok yang Menjadi Momok

Salah satu nama yang jarang didengar pernah menggeluti panasnya beberapa laga derby Manchester adalah Sun Jihai. Tercatat pemain asal Tiongkok ini mengabdi selama enam setengah musim bersama City. Dimulai dari tahun 2002 dan diakhiri di tahun 2008. Total delapan laga derby pernah melibatkan namanya. Catatannya pun cukup bagus yakni memenangi empat laga, dua imbang, dan dua kali kalah.

Bersinar Bersama Liverpool, Beraksi dengan City

Robbie Fowler merupakan satu nama yang sangat melekat dengan nama Liverpool. Bahkan kalau ada orang yang menceritakan tentang dirinya, pastilah bercerita kala ia sedang bermain di tim “Bangau Merah” itu. Tapi siapa sangka ia pernah bermain di Manchester City selama tiga tahun dan merasakan tujuh laga Derby Manchester. Enam laga di Liga Inggris, satunya di ajang FA Cup. Momen yang diingat di tahun 2004 silam, ketika ia menyumbang satu gol dan membantu City menundukkan United dengan skor 4-1.

Satu Lagi Mantan Pemain Liverpool yang Perkuat City

Sumber : Reuters.com

Gelandang tengah asal Jerman, yang merasakan masa keemasan bersama Liverpool, Dietmar Hamann, pernah merasakan seragam biru setelah sebelumnya setia berseragam merah. Ia membela City dari tahun 2006 sampai tahun 2009. Perolehannya cukup imbang dengan merasakan dua kali menang dan dua kali imbang.

Sang Peraih Ballon d’Or yang Menjadi Juru Gedor Manchester Biru

Setelah menoreh masa keemasan bersama Liverpool, hingga mendapatkan Ballon d’Or di tahun 2001, ia kemudian meniti karir di tim terkuat Eropa, Real Madrid. Bukannya bersinar malah meredup, membuatnya kembali memperkuat salah satu tim di Liga Inggris. Bukan balik ke Liverpool, ia malah perkuat sang rival, Manchester United.

Ya Bung, ia adalah Michael Owen, kala di laga perdana ia masuk di menit ke-78. Skor pun unggul bagi United 3-2, namun Craih Bellamy sempat menyamakan kedudukan di menit ke-90. Sebelum pluit panjang dibunyikan, Owen menunjukan kehebatannya dengan mencetak skor membuat skor berubah menjadi 4-3. Laga menarik tersebut nampaknya sulit dilupakan olehnya.

Jadi Andalan FC Hollywood Kini, Pernah Merasakan Laga Derby Manchester Satu Kali

Mungkin tak banyak yang menyangkan kalau Jerome Boateng pernah berada di The Citizen untuk satu musim. Saat itu laga derby yang mainkan, berakhir imbang 0-0, dan itu menjadi satu-satu laga yang ia mainkan dalam tajuk derby. Padahal di musim tersebut terjadi tiga kali pertemuan antara kedua tim ini. Kini Boateng menjadi andalan setia Bayern Munchen di lini belakang dan tak tergantikan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Karena Penelitian Menyebut Kecerdasan Itu Sexy

Sebagian orang masih mengasosiasikan “pintar dan cerdas” itu dengan tampilan kaku macam kutu buku. Padahal sesungguhnya saat ini banyak tokoh-tokoh yang lekat dengan kecerdasan macam Elon Musk atau Mark Zuckerberg yang justru dianggap menarik dan sexy.

Beberapa penelitian juga bahkan menunjukan hal ini. Salah satunya adalah penelitian yang digagas psikolog Gilles Gignac, Joey Darbyshire, dan Michelle Ooi dari University of Western Australia. Mereka menemukan bahwa orang-orang dengan IQ tinggi memiliki skor tinggi dalam hal keseksian ketika dinilai oleh orang lain.


“Kecerdasan” Menjadi Faktor Kedua Daya Tarik Setelah “Kebaikan”

Penelitian tentang kecerdasan dan daya tarik di atas melibatkan sedikitnya 10 ribu peserta dari 33 negara di dunia. Salah satu temuan menariknya adalah para peserta penelitian menempatkan “smart” di nomor dua sebagai daya tarik.

Posisi ini hanya dikalahkan oleh faktor “kebaikan dan pengertian” yang menempati urutan nomor satu. Jadi sesungguhnya dengan menjadi baik dan terus melatih kecerdasan sudah bisa membuat orang lain tertarik kepada kita.

Salah Satu Indikator Kecerdasan Adalah Selera Humor

Dalam penelitian itu juga ditanyakan mengenai indikator apa yang digunakan untuk menilai seseorang cerdas atau tidak. Sebagian menyebut bahwa salah satu indikator yang digunakan untuk menilai kecerdasan seseorang adalah selera humornya.

Karena mereka yang cerdas selalu berpikiran terbuka dan orang yang berpikiran terbuka ini cenderung punya selera humor yang baik. Mereka yang smart juga dikatakan tidak akan mudah tersinggung dan aspiratif terhadap ide-ide baru.

Tak Cuma Pada Individu, “Smart Dan Sexy” Juga Kini Diterapkan Pada Hal Lain

Perpaduan menarik ini tak cuma ditemui dalam urusan penggambaran individu seseorang. Karena kini banyak sektor juga menerapkan konsep ini. Coba tengok misalnya gadget yang selalu menemani kita.

Dahulu mungkin handphone hanya digunakan sebagai alat komunikasi suara dan teks. Kini perkembangannya sudah jauh lebih dari itu. Mulai dari mengakses internet, sosial media, pesan makanan, penunjuk arah hingga fungsi lainnya yang dulu hanya impian.

Tapi toh kamu juga tak mau hanya menggunakan gadget yang cerdas saja bukan? Begitu banyak pilihan ponsel cerdas, tentunya kamu juga memilih yang di desain menarik lagi sexy. Karena hal tersebut juga menunjukan jati diri.

Bahkan Meluas Hingga Urusan Tata Kota Juga Tersentuh Unsur Kecerdasan

Familiar dengan istilah Smart City? Yup inilah konsep yang diinisiasi oleh Suhono S. Supangkat dari ITB. Kota tak lagi hanya menjual soal “keindahan dan kecantikan” namun juga harus bersifat smart.

Menurutnya, Smart City adalah kota yang bisa mengelola Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM) dan sumber daya lainnya sehingga warganya bisa hidup nyaman aman dan berkelanjutan.

Seperti adanya transparansi dan partisipasi publik, transportasi publik, transaksi non tunai, manajemen limbah, energi, keamanan, data dan informasi. Hal ini dapat didukung melalui teknologi informasi dan komunikasi. Terbayang menyenangkannya hidup di kota yang di tata macam ini bukan?

Tak Mau Ketinggalan, Urusan Kendaraan Juga Harus Mengadaptasi Ini

Soal “smart dan sexy” ini juga merambat ke urusan kendaraan. Mengingat hal ini melekat dengan kita dan digunakan juga untuk berativitas sehari-hari. Wajar rasanya jika konsep ini juga diterapkan pada kendaaraan kita.

Ambil contoh Yamaha Lexi yang mengusung konsep “Smart is The New Sexy” yang bermakna bahwa sexy tidak hanya tentang penampilan melainkan tentang karakter, sikap dan pola pikir yang Smart. Yamaha Lexi mempunyai 3 pilar konsep Utama

Untuk Smart & Sexy Design, Motor ini mengkombinasikan unsur Luxury dan Elegan dengan bobot yang paling ringan di kelas MAXI YAMAHA. Tampilannya yang berkelas ditunjang desain lampu Grand LED Headlight ditambah eye line biru yang menawan memperkuat kesan mewah dan elegan. Apalagi untuk tipe Lexi-S, desain joknya  memadukan dua tekstur kombinasi yang disatukan dengan motif jahitan elegan membuat tampilan motor menjadi lebih berkelas.

Tak cuma tampilan karena yamaha Lexi ini punya Smart Features. Untuk Varian Yamaha Lexi-S dibekali fitur Smart Key System yang merupakan sistem kunci tanpa anak kunci alias keyless. Kunci ini juga sudah disematkan fitur Immobilizer dan Answer Back System untuk memudahkan pengendara mencari posisi parkir motor.

Berkendara dalam jarak jauh juga kini tidak perlu khawatir karena Yamaha Lexi memiliki bagasi yang luas dan lega untuk menampung barang bawaan lebih banyak. Apalagi, Yamaha Lexi menjamin pengendara tetap terhubung melalui Smartphone karena dilengkapi Electric Power Socket untuk mengisi daya gadget.

Urusan dapur pacu diserahkan pada Smart Engine. Dari segi performa mesin, Yamaha Lexi menggunakan mesin generasi baru Blue Core 125 cc yang disempurnakan Variable Valve Actuation (VVA). Mesin ini secara cerdas akan membuat aksi berkendara lebih efisien, bertenaga dan handal dengan tenaga dan torsi maksimum di setiap putaran mesin. Apalagi Yamaha Lexi dilengkapi Liquid Cooled 4 Valves (LC4V) yang membuat suhu mesin lebih stabil dan performa lebih maksimal.

Tak berhenti disitu Yamaha Lexi dibekali fitur canggih Stop & Start System (SSS) berfungsi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar yang tidak perlu pada saat motor sedang berhenti. Apalagi ditambah Smart Motor Generator (SMG) membuat suara motor lebih halus saat dinyalakan. Kalau masih penasaran soal motor satu ini kamu bisa lihat detailnya di halaman ini!

Jadi bagaimana? Kamu sudah siap mengikuti trend smart is the new sexy ini?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kisah

Setidaknya Pemain Asia Tenggara Pernah Ada yang Bertengger di Eropa!

Menjadi pesepakbola otomatis memiliki mimpi untuk memperkuat tim besar di Eropa, pasti bung semua setuju kan? Karena Eropa masih dianggap kiblat untuk membangun karir sepakbola sekaligus bersaing dengan pemain-pemain kelas dunia.

Maka berada di Asia Tenggara, yang jauh dari Eropa tentu menjadi acuan tersendiri untuk bisa berkarir di sana. Jangan muluk-muluk bermain di tim besar, berada di iklim sepakbola Eropa saja sudah patut diacungi jempol seperti yang dilakukan Egy Maulana Vikri.

Egy yang kini memperkuat Lechia Gdanks di Liga Polandia, masih sedang menjajaki karirnya. Ia masih bermain bagi skuad muda Gdanks dan pernah beberapa kali mendapatkan kesempatan untuk memperkuat Gdanks di level seniornya. Ternyata sebelum Egy menjadi pusat pemberitaan karena bermain di Eropa, tercatat ada beberapa pemain asal Asia Tenggara bermain di Eropa bung. Bung tahu kira-kira siapa saja? coba simak dan cocokan dengan tebakan bung ya.

Dennis Cagara

Karena sang ayah dulu memilih untuk menjadi warga negara Filipina dan memperkuatnya, Dennis Cagara pun mengikuti jejaknya dan menjadi sosok yang tak tergantikan di lini pertahanan. Padahal Cagara memiliki peluang untuk memperkuat tim nasional Denmark saat itu.

Memulai karir sepakbola di tahun 2002 ia pernah menghuni Brondy IF klub asal Denmark dan hijrah ke Bundesliga di tahun 2004 dengan menjadi skuad Hertha Berlin. Pemain yang kini berusia 31 tahun pun pernah berada di Glasgow Rangers dan Eintrach Frankfurt saat aktif menjadi pesepakbola profesional.

Neil Ehteridge

Kiper beradarah Filipina Neil Etheridge menjadi sosok yang dibicarakan karena menjadi pemain asal Filipina sekaligus Asia Tenggara yang tampil di Premier League musim 2018/19. Etheridge mampu menopang sekaligus menjaga jala Cardiff City saat di kompetisi kasta kedua Championship Division musim 2017/18.

Alhasil skuat asuhan Neil Warnock mendapatkan promosi ke liga bergensi Premier League. Sebagai catatan dari 46 pertandingan yang dimainkan Cardiff di Championship Division, ia hanya mengalami 10 kekalahan.

Stephan Schrock

Masih dari tanah Filipina, ada pemain lawas yang memulai karir profesional di tahun 1991 bernama Stephan Schrock. Saat itu pemain berkepala pelontos ini memperkuat DJK Schweinfurt di Bundesliga. Kemudian lompat ke tahun 2012 dengan memperkuat Hoffenheim, namun karirnya tak cemerllang di sana sehingga memutuskan angkat koper ke Eintracht Frankfurt. Saat ini tercatat masih aktif bermain di Ceres Negros klub Asal Australia.

Fandi Ahmad

Mendengar nama Fandi Ahmad pasti tidak asing, pemain ini pernah memperkuat NIAC Mitra Surabaya yang pernah mencetak sebiji gol ke gawang Arsenal saat melaukan pertandingan persahabatan pada 1983. Sosok sepakbola tersukses asal Singapura ini pun tercatat pernah hijrah ke liga Belanda dengan memperkuat FC Groningen.

Karirnya pun makin terkenal saat ambil bagian melawan rasasa Italia, Inter Milan di UEFA CUP yang saat ini dikenal dengan nama Europa League, ia pun menyumbangkan satu gol dan membawa Groningen menang 2-0. Meskipun di leg kedua FC Groningen dilumat habis dengan skor 5-1.

Kurniawan Dwi Yulianto

Tak hanya Filipina dan Singapura saja, Indonesia pun pernah menghiasi sepakbola benua biru lewat kaki Kurniawan Dwi Yuianto. Pemain jebolan PSSI Primavera ini pernah merasakan iklim sepakbola Italia dengan menjadi bagian Sampdoria di tahun 1995.

Pelatih Sven Goran Erikson saat itu memberikan kesempatan pada sang pemain untuk berada di bangku cadangan saat melawan Parma. Tak terlalu bersinar di Sampdoria, ia memutuskan untuk memperkuat FC Luzern, klub asal Swiss. Salah satu gol terpentingnya terjadi saat melawan klub besar Swiss, FC Basel dan berhasil membawa kemenangan FC Luzern 2-1 keesokan harinya namanya muncul di halaman utama surat kabar Swiss.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kisah

Tak Ada Jaminan Jebolan La Masia Bisa Merdeka di Barcelona

Deretan pemain Barcelona yang merupakan jebolan La Masia adalah pemain-pemain hebat bung! Argumen ini dapat dibuktikan dari beberapa pendahulunya seperti Lionel Messi, Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Victor Valdes dan Carles Puyol. Nama-nama tersebut mendulang kesuksesan besar di Barcelona. Sehingga pada era mereka Barcelona menjadi tim yang kuat dan memangkan deretan trophy dari skala liga lokal, Eropa dan antar benua.

Lewat nama-nama tersebut Barcelona merupakan salah satu bentuk tim yang ideal di mana pemain-pemain mudanya berhasil bersinar, sampai nama La Masia selaku akademi melambung tinggi dan punya banyak pemain berbakat. Meskipun begitu tak ada jaminan bagi jebolan La Masia dapat sukses di Barcelona, karena banyak juga pemain berbakat yang pada akhirnya gagal menuai ekspetasinya menjadi bagian proyek terhebat Barcelona.

Konsisten di Level yang Berbeda dan Bersinar di Barcelona Hanyalah Angan Senja

Victor Vazquez merupakan salah satu pemain yang mampu menunjukkan performa konsisten di level Barceona B, tetapi dirinya gagal ketika skuat Barcelona senior pada 2008. Minimnya kesempatan bermain yang dimiliki sekaligus tak mampu menggeser nama besar membuatnya hengka ke Club Brugge. Lantarna 3 muim bersama Barcelona Vazquez hanya bisa menorehkan tiga laga. Pemain yang kini menginjak usia 31 tahun hanya membela klub MLS.

Publik Menilai Bahwa Ada Pemain Muda Itu Dapat Bersinar

Dalam La Masia ada sebauh bagian dari Samuel Eto’o Foundation yang diisi oleh Jean Marie Dongou. Tergabung dalam skuat akademi Barcelona di usia 13 tahun, Dongou pun mendapatkan debutnaya bermain di Barcelona B saat usianya masih 16 tahun bung.

Melihat akan hal itu, publik pun memprediksikan kalau Dongou akan memiliki masa depan yang cerah di skuad Barcelona. Nyatanya? itu semua salah, ia hanya mampu bermain tiga laga sebelum memutuskan berkarir di Real Zaragoza di tahun 2016.

Siapa yang Bisa Menggeser David Villa di Era Keemasannya di Barcelona?

Sandro Ramirez salah satu talenta yang bisa dibilang tak bisa menggeser skuat senior karena saat itu David Villa masih matang walaupun usia tak lagi belia, selain itu hadirnya Luis Suarez ke Barcelona juga tak kalah ganasnya. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh pemuda yang baru menginjak usia 19 tahun?

Debut seniornya dijalani pada musim 2013/14  tidak sukses karena tidak mendapatkan banyak menit bermain seperti pemain senior. Karena tak dapat menit bermain seperti yang diinginkan, alhasil ia memutuskan hengkang ke Malaga di tahun 2016.

Katanya Penerus Xavi Hernandez di Barcelona, Nyatanya Hanya 12 Laga yang dapat Ditorehakannya

Sandro Ramirez hanya cerita kecil dari La Masia, ada lagi pemain tengah bernama Sergi Samper yang digadang-gadang bisa jadi penerus Xavi Herndandez, sang maestro asli yang dibentuk di La Masia dan bersumbangsih bagi Barcelona.

Disandingkan bakal menjadi penerus nama besar tentu menjadi sebuah beban. Meskipun di Barcelona B ia tampil konsisten, tapi bukan berarti ia mendapatkan jalan mulus ke skuat senior. Ia hanya berhasil mencatatkan 12 laga bersama Blaugrana.

Isaac Cuenca yang Nyaris Menjadi Bagian dari Barcelona

Di musim 2011/12 nama Isaac Cuenca sudah mampu menjadi bagian skuat senior di usianya yang ke-22, dan pada musim debutnya ia memiliki kesempatan bermain cukup banyak yakni 30 laga dan menorehkan empat gol. Tetapi di musim berikutnya ia harus menyerah karena tak bisa beradu tempat dengan Lionel Messi.

Dipinjamkan ke Ajax Amsterdam di musim 2012/13 bisa jadi untuk menemukan kembali sentuhannya, namun itu semua tak membantu dirinya kemudian ia memilih hengkang ke Deportivo La Coruna.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kisah

The Special One Membuat Pemain Setan Merah Tak Mampu Berkembang

The Special One kini sudah tidak lagi spesial, ia sudah terlihat kehilangan momentumnya sebagai pelatih. Musim ini setelah menelah kekalahan dari West Ham di ajang liga Inggris, Setan merah nampaknya masih belum bisa kehilangan dari trend buruk.

Manchester United masih tetap tim favorit, namun tidak sebegitu favorit dibanding beberapa klub lain seperti Manchester City atau Liverpool, sekarang. Sudah jelas kalau Jose Mourinho adalah sosok yang harus bertanggung jawab, apalagi ini musim ketiganya. Selain turunnya performa tim secara keseluruhan, banyak juga yang berpendapat kalau beberapa pemain pun juga mengalami kemunduran secara performa.

Sebut saja Pogba salah satunya, pemain yang merengkuh Piala Dunia tahun ini bersama Perancis merupakan salah satu sosok pemain berbakat. Entah kenapa bermain di level klub sekaliber Setan Merah justru Pogba terlihat biasa saja.

Padahal kala berseragam Juventus pemain ini menarik perhatian, selain pogba masih ada beberapa pemain lainnya yang mengalami hal yang sama. Selain itu, Jose Mourinho juga terlibat pertengkaran dengan beberapa anak buahnya di ruang ganti. Kira-kira siapa saja ya bung?

Mungkin Ia Akan Bersinar di Klub Lain, Ya Mungkin Saja Bung!

Semua orang tahu, apabila para pendukung MU kalau Pogba yang berada di Manchester United sekarang bukanlah Pogba yang sebenarnya. Kedatangan pemain berpaspor Prancis ini tadinya diharap dapat mendongkrak performa MU setidaknya  di Liga Inggris.

Namun hal itu belum terwujud apabila kita membandingkan dengan performa Pogba waktu di Juventus kan bung? di sini Pogba terlihat tampil sangat kesulitan seperti dinaungi beban. Sehingga tak salah kalau dalam dua tahun terakhir Pogba seperti pemain biasa saja saat berada di Liga Inggris.

Eric Bailly Dengan Peran Inkonsitensi

Musim pertama bersama Setan Merah ia mampu memberikan asa dengan meraup juara Community Shield, EFL Cup sampai Liga Europa. Pemain internasional Pantai Gading ini tiba di tahun 2016 saat diboyong dari Villareal.

Setelah musim debut yang berjalan manis, ia diganggu dengan beberapa masalah salah satunya adalah cedera. Diboyong sebagai pemain yang harus memecah kebuntuan lini belakang justru tak mampu diselesaikan. Akhirnya Mourinho pun kecewa karena beberapa penampilan buruknya di awal musim.

Rashford Menjadi Bintang yang Tak Bersinar

Pemain Manchester United yang mengalami kemunduran di bawah asuhan Mourinho adalah salah satu wonderkid bernama Marcus Rashford, di saat MU di bawah kepemimpinan Luois Van Gaal yang mengalami krisis penyerang Rashford adalah jawaban.

Jalannya menjadi bintang besar terpupuk saat mencetak gol debut di Liga Europa, dua gol melawan Arsenal di Liga Inggris, kemudian itu semua mati ketika di bawah naungan The Special One. Sekarang, peluangnya bermain sangat terbatas lantaran tidak mengesankan seperti era kepemimpinan Van Gaal, sehingga Mourinho kerap ragu memasangnya.

Apalagi Saat Alexis Sanchez Tidak Bermain Secara Utuh

Makin menguatnya dugaan kalau beberapa pemain hebat tak mampu berpijar di bawah asuhan Mourinho ketika Alexis Sanchez yang dikaitkan dengan Manchester City kemudian dibajak menuju Old Trafford. Semua orang tahu mantan pemain Udinese, Barcelona dan Arsenal memiliki skill di atas rata-rata sehingga mampu memikat tim besar.

Tetapi di Manchester United anggapan itu semua sirna, ia tidak bisa menampilkan penampilan terbaiknnya bahkan tak jarang orang lain memberikan label pemain gagal di bawah Mouriho adalah Sanchez.

Martial Dibuat Kembang Kempis Tak Berkembang

Anthony Martial namanya sering kali megnhiasi daftar harapan para pendukung MU untuk mendapatkan sosok striker ganas di masa depannya. Martial bisa dikatakan sedang menuju masa berkembang untuk menjadi pemain hebat, pemain berkebangsaan Prancis ini memang terpinggirkan karena ia bermain di posisi sayap kanan pada saat kedatangan Zlatan Ibrahimovic.

Dan setelah Zlatan pergi ia kembali lagi mendapatkan tempatnnya namun hanya singkat karena Alexis Sanchez sebagai ujung tombak lebih menggiurkan dari Martial. Alhasil pemain berusia 22 tahun ini kesulitan untuk bersinar di usia emasnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top