Kisah

Si Kurus, Pemain Berlabel Miliaran Namun Hancur Karena Obat-Obatan Terlarang

Hanya ada tiga mimpi yang diinginkan oleh Kurniawan Dwi Yulianto saat menjadi pesepakbola yakni masuk televisi, naik pesawat terbang gratis dan ke luar negeri gratis. Mimpinya yang sangat simple ternyata tak se-simple skill yang dimiliki. Kecepatan, kecerdasan dan gocekan ciamik menggambarkan kalau Kurniawan sebagai striker yang menakutkan. Danurwindo, mantan pelatih yang pernah mengurus pria yang memiliki julukan Si Kurus ini menyamakan tipikal permainannya seperti Marco Van Basten!

Kurniawan muda sangatlah mematikan sebagai striker. Pria kelahiran 13 July 1976 ini terpilih dalam anggota PSSI Primavera yang diberangkatkan ke Italia guna menimba ilmu sepakbola. Bersama dengan Kurnia Sandy dan Bima Sakti, Kurniawan mendapatkan pembekalan sebagai pesepakbola yang matang sampai tergabung ke Sampdoria.

Berbicara soal Kurniawan, sebenarnya berbicara tentang wonderkid Indonesia yang tak dapat berkembang seperti yang diharapkan. Beberapa tahun berselang, nama Syamsir Alam pun juga mendapatkan gejolak demikian, pemain yang malang melintang di liga luar ini sekarang banting stir ke dunia entertainment karena merasa ada permasalahan dalam dirinya ketika di lapanganKini ada nama Egy Maulana Vikri yang semoga saja bisa menjawab mimpi Indonesia untuk berlaga di pentas dunia.

Balik lagi ke Kurniawan, namanya memang meredup setelah kembali ke Indonesia. Tetapi ada beberapa fakta yang mungkin bung belum dengar, pemain yang dipuji Sven Goran-Eriksson sampai membuat gempar media Swiss ini hampir menjawab mimpi Indonesia. Sayang dunia malam harus merenggut jalan panjang karirnya.

Kurniawan Muda Layak Dihargai 3 sampai 4 Milliar Rupiah!

Hanya butuh waktu setahun setelah diberangkatkan dalam program PSSI Primavera ke Italia, Kurniawan mencuri perhatian pemandu bakat dan wartawan. Puncak namanya dikenal setelah berlaga dalam turnamen Mantova pada 1994. Membuatnya direkrut ke Sampdoria yang penasaran akan bakat yang dimiliki Si Kurus.

Selama menjalani percobaan di Sampdoria ia mendapatkan pujian dari Attillo Lombrado, bintang Sampdoria, Sven Goran-Eriksson si pelatih kawakan sampai Romano Matte yang saat itu menjabat sebagai pelatih timnas di Italia. Fantastisnya, Matte mengatakan bahwa pemain seperti Kurniawan layak dihargai 3,5 sampai 4,5 Milliar Rupiah! Complimento.

Menghiasi Halaman Utama Surat Kabar Swiss Lewat Torehan dan Aksinya

Sumber : Goal.com

Banjir pujian di Sampdoria ternyata tak membuat karirnya berjalan mulus di sana, karena ia pun tak pernah bermain di sana sebagai pemain profesional. Tapi bakat Kurniawan membawanya terbang ke Swiss untuk memperkuat FC Luzern selama satu musim 1994/95.

Meskipun hanya bermain dalam 12 pertandingan, Kurniawan menorehkan sejarah baru bagi persepakbolaan Indonesia kala itu dengan menjadi pemain Indonesia pertama yang mencetak gol di kompetisi Eropa saat usianya masih menginjak 19 tahun.

FC Luzern saat itu bertemu dengan klub terbesar Swiss FC Basel, ditrunkan menjadi starter tak disia-siakan Kurniawan ia langsung menceploskan bola ke gawang FC Basel. Pluit panjang pun dibunyikan FC Luzern unggul 2-1. Keesokan harinya, nama Kurniawan menggema dengan berada di halaman kabar utama surat kabar Swiss.

Menimba Ilmu di Eropa, Dipratekkan di Indonesia

Sumber : Bola.net

Sepulangnya dari FC Luzern, Kurniawan kembali ke Indonesia dengan menjajaki pemain sebagai pemain profesional di tanah airnya. Pemain kelahiran Magelang ini pun memperkuat banyak klub, seperti Pelita Bakrie, PSM Makassar, Perjisa Jakarta, PSPS Pekanbaru, Persebaya Suraba dan yang lainnya.

Liga Indonesia musim 1999/00 ia mengantar PSM Makassar menjadi juara liga. Kemudian di tahun 2004 giliran Persebaya yang ia antar menuju tangga juara. Di usianya sudah tak lagi muda ia pun sempat membawa Persitara Jakarta Utara promosi ke Indonesia Super League di tahun 2008, nama liga tertinggi Indonesia saat itu. Selain itu ia pun sempat mampir ke negeri tetangga dengan memperkuat Sarawak FA, Malaysia.

Bersinar Dengan Indonesia di Ajang Piala AFF

Sumber : LagardereSports.com

Tak mudah dilupakan bagi seorang Kurniawan Dwi Yulianto di masa terakhirnya bersama timnas di Piala AFF 2004. Ia menjadi Dewa Penyelamat sekaligus bintang di laga leg kedua saat bertemu Malaysia. Bermain di Stadio Bukit Jalil, di mana Indonesia kalah 1-2 di leg pertama tentu bukan hal mudah.

Lantaran Indonesia harus unggul tiga gol agar berlaga di laga final. Berniat untuk menyalip kedudukan justru Indonesia malah tertinggal. Kemudian pelatih Peter White kala itu memasukkan nama Kurniawan. Benar saja kehadirannya membawa pengaruh besar ketika membuka gol penting dan membawa alur permainan Indonesia lebih garang.

Terbukti Charis Yulianto, Ilham Jaya Kesuma, dan Boaz Solossa menambah keunggulan dan membuat Indonesia lolos ke babak final dengan skor akhir 1-4.

Sayangnya, Kawan Bertubuh Kurus Ini Akrab dengan Dunia Malam dan Obat-Obatan Terlarang

Sumber : LagardereSports.com

“Waktu itu saya tidak peduli sama omongan orang. Tiap kali main, rasanya seisi stadion meneriaki nama saya, jelek-jelekin saya (karena narkoba). Tetapi saya tidak mau mendengarkan semua itu. Ini hidup saya. Saya punya kemampuan. Anda mau ngomong apa, saya ini seorang juara!” kata Kurniawan dilansir dari FourFourTwo.

Bakatnya yang bersinar terang ternyata sulit untuk dimanfaatkan, karena Kurniawan yang akrab dengan dunia malam dan menjadi pengguna obat-obatan terlarang. Masa suram tersebut membuat Kurniawan dihujat banyak orang. Saat bergabung dengan PSM Makassar pun ia mendapat caci maki deras dari penonton.

Awal mula ia kenal Narkoba karena ia ingin bergaul lebih luas dengan mengenal banyak orang, Si Kurus sejak kelas 3 SMP sudah berada di Mess dan ia merasa bergaul itu penting. Tetapi ia malah terbawa arus negatif dengan terjerat dunia narkoba.  Tetapi ia memilih obat untuk bangkit, yang bernama prestasi.

“Ibu saya selalu bilang bungkam mereka dengan prestasi, ternyata itu obat saya untuk bangkit, dan terbukti sejak saya bergabung dengan PSM dan kemudian kembali ke Timnas, hujatan-hujatan itu berhenti. Sekarang saya berpikir nakal itu wajar, buat pemain muda boleh nakal tapi pintar,” tambahnya.

“Tapi sebandel bandelnya saya, saya tidak pernah meninggalkan latihan. Boleh ditanya saya cukup betanggung jawab, tapi itu pembelajaran hidup saya. Bisa memberitahu adik adik saya sekarang kalau hal-hal negatif seperti itu sudah di luar kepala dan gak ada untungnya,” tandasnya dikutip dari Indosport.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Mundurnya Edy Rahmayadi dari PSSI Meninggalkan Segelintir Kontroversi yang Pernah Terjadi

Seruan #EdyOut sempat berkumandang tajam di tribun stadion saat timnas Indonesia berlaga. Sosok Edy Rahmayadi, dinilai gagal sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) oleh pecinta sepakbola tanah air. Seruan yang sama juga menghiasi linimasa Twitter akibat geram akan keputusan yang ia buat sekaligus polemik rangkap jabatan.

Apalagi rentetan kasus mafia bola (yang tak pernah usai) sampai performa buruk timnas di kancah Asia Tenggara, menjadi sorotan tajam yang ditujukan publik kepadanya. Mungkin seraya berkata, “Apa kinerja anda di PSSI?”, sampai pada hari Minggu 20 Januari 2019 ia secara tiba-tiba menyatakan mundur! setelah memangku jabatan sejak tiga tahun lalu. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Kongres Tahunan PSSI yang digelar di Nusa Dua, Bali.

Seruan #EdyOut kembali trending di sosial media berlogo burung tersebut. Edy Rahmayadi mengatakan dalam pidato pengunduran diri kalau ia merasa gagal sebagai Ketum PSSI. Ketidakmampuan dalam menajalankan organisasi yang dipimpin kurang lebih selama dua tahun. Meskipun begitu, ia memberikan mandat kepada seluruh elemen PSSI agar tetap akur dan mampu membesarkan PSSI setelah ditinggalkannya.

Kemunduran Edy Rahmayadi mungkin merupakan angin segar bagi sepakbola. Tetapi kita tidak pernah tahu bung apa yang terjadi di PSSI selanjutnya. Banyak warganet yang meyakini, selama ‘orang lama’ masih berkuasa di sana bung. PSSI tidak akan pernah berevolusi. Dibalik kemunduran Edy, ada beberapa hal kontroversi yang ia pernah lakukan selama menjabat. Dari pernyataan sampai tindakan.

Berkarir di Negara Tetangga Adalah Bentuk Tidak Nasionalis Pesepakbola

Salah satu hal yang menggelitik umat sepakbola di Indonesia adalah saat Edy Rahmayadi melontarkan pernyataan yang menganggap, pemain Timnas Indonesia Evan Dimas Darmono dan Ilham Udin Armaiyn tidak memiliki jiwa nasionalis. Pernyataan dilotarkan Edy setelah kedua pemain tersebut memutuskan berkarir ke Liga Malaysia bersama tim Selangor FA. Mengikuti jejak pendahulu yang sukses, Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy.

Padahal Liga Malaysia secara kualitas di Asia lebih tinggi dari pada Liga 1, maka hal ini tentu bukan bentuk tidak nasionalis bukan? melainkan aktualisasi diri dari sang pemain. Namun dari kacamata Edy, ia tidak melihat adanya aktualisasi diri melainkan jiwa tidak nasionalis. Ia pun mengecam kedua pemain dengan alasan peran keduanya dibutuhkan Timnas U-23 untuk Asian Games 2018 saat itu.

‘Apa Urusan Anda Menanyakan Itu?’

Kata-kata di atas tentu sudah familiar bagi anda pecinta sepakbola bung. Saat seorang wartawan senior dalam acara televisi swasta memberikan pernyataan kepadanya terkait pengaruh kinerja sesaat ia merangkap jabatan sebagai Gubernur Sumatera Utara dan Dewan Pembina PSMS.

Edy merespon dengan kata-kata tersebut dan menolak menjawab pertanyaan dalam wawancara yang disiarkan secara langsung di televisi. Tak sampai disitu, Aiman juga dinyatakan oleh Edy kalau tidak berhak bertanya kepadanya dengan mengatakan, “Bukan Hak Anda juga bertanya kepada saya“.

Membantah Tudingan Kalau Ia Menampar Supporter yang Menyalakan Flare

Sebagai Dewan Pembina PSMS, Edy Rahmayadi menyempatkan datang pada satu pertandingan saat PSMS Medan menjamu Persela Lamongan di Stadion Teladan Medan September tahun lalu. Semula Edy menyaksikan dari kursi VVIP, sampai akhirnya ia turun ke tribun dengan menghampiri salah seorang supporter yang menyalakan flare.

Secara hukum, FIFA sendiri melarang penggunaan flare di dalam stadion. Edy mengambil langkah tepat dengan menegur seorang supporter. Terdapat video beredar tentang aksinya saat menegor dan memegang pipi salah satu supporter tersebut. Tetapi ada tudingan muncul kalau ia menampar. Secara tegas tudingan itu dibantah dan menjelaskan kalau ia hanya memegang pipi dan memarahi supporter karena menggunakan flare.

Pelatih Sekaliber Luis Milla Tidak Diperpanjang Menangani Indonesia

Seorang wartawan senior, Anton Sanjoyo dalam sebuah acara di Youtube, menyatakan kalau ia melihat ada peningkatan determinasi permainan saat Timnas U-23 bermain di Asean Games 2018. Determinasi ini berbeda, dan tidak pernah dilihat oleh sang wartawan senior tersebut dalam permainan timnas beberapa tahun belakangan. Secara tidak langsung berarti Luis Milla membawa perubahan bagi sepakbola Indonesia dong bung? dengan kata lain harus dipertahankan.

Saat Tim Garuda Muda gugur di babak 16 besar dalam Asean Games 2018. Kegagalan tersebut membuat Edy Rahmayadi menyinggung soal kontrak Luis Milla sebagai pelatih. Ia memberikan sinyal bahwa ada kemungkinan bagi pelatih Spanyol untuk menangani timnas U-23, tidak hanya mentok di Asian Games saja.

Namun kenyataanya Luis Milla tidak diperpanjang kontrak bung. Kabar miring pun beredar bahwa PSSI menunggak gaji Luis Milla. Sampai lewat Instagram pribadi Luis Milla, ia pun sempat menyinggung soal manajemen yang buruk dalam mengurus kontrak kerjanya setelah ia menyampaikan salam perpisahannya.

Wartawan yang Baik Akan Menghasilkan Timnas yang Baik

Pernyataan Edy Rahmayadi kembali kontroversial, saat ia memberikan komentar terhadap penampilan Timnas Piala AFF 2018. Pernyataan yang diberikan rasanya tidak masuk akal bung. Bahkan tidak ada korelasi atau apple to apple. Lantaran saat memberikan pernyataan, Edy mengatakan kalau timnas mau baik, ya wartawan harus baik. Seolah-olah ada intervensi wartawan dalam performa timnas di lapangan. Dengan mengatakan,”Wartawannya yang harus baik. Kalau wartawannya baik, nanti timnasnya baik”, katanya.

Setelah menyatakan mundur dari Ketum PSSI, Edy Rahmayadi menjelaskan kalau sementara tugasnya akan dilanjutkan oleh Wakil Ketum PSSI sampai periode jabatan selesai. Tak lain, tak bukan beliau adalah muka lama di PSSI yakni Joko Driyono.

Gimana bung masih rindu bapak Edy sebagai ketua PSSI?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Kursi Ketum PSSI Belum Terisi, Siapa yang Cocok Bung Kira-kira Untuk Mengganti?

Pelbagai masalah sepakbola Indonesia, diyakini oleh sebagian pecinta sepakbola tanah air karena tidak ada revolusi dari kepengurusan PSSI. Muka-muka lama sepertinya nyaman untuk berada lama-lama di singgahsana. Tak mau diusik, tak kunjung juga memberikan prestasi kepada publik. Terlebih lagi, isu-isu yang belakangan ini di blow up semakin memperburuk citra PSSI kan bung? bagaimana tidak, pengaturan skor yang terjadi di Liga 3 saja melibatkan beberapa nama di Asosiasi Provinsi PSSI. Yang mana Asprov adalah kepanjangan PSSI di Provinsi.

Seorang wartawan senior, Anton Sanjoyo pun mengatakan kalau dari awal sepertinya organisasi macam PSSI ini salah urus. Lantaran diisi oleh orang-orang yang tidak begitu kompeten, bahkan tidak kompeten sama sekali, ujarnya dalam acara ‘Pangeran Mingguan’ di Youtube dalam episode ‘Blak-Blakan Soal PSSI’. Edy pun tak jauh beda pernyataanya dengan nada Anton Sanjoyo, ia jujur mengakui kalau ia gagal memenuhi tugas untuk memberantas skandal pengaturan skor. Dikutip dari Kumparan, Edy mengatakan kalau tidak mau terbawa emosi dan langkah baiknya ia keluar agar mampu fokus menjalankan tugas sebagai Gubernur Sumatera Utara.

Hari ini saya mundur, dengan syarat jangan khianati PSSI. Jangan karena satu hal kita bercokol dan merusak rumah. Ini saya sampaikan dalam kondisi sehat, saya mundur karena saya bertanggung jawab,” tutur Edy

Setelah mundurnya Edy, otomatis ada beberapa nama yang coba disebutkan. Khususnya oleh warganet untuk menjadi calon pengganti. Kami pun coba merangkum sekaligus memberikan rekomendasi siapa yang cocok untuk menjabat sebagai Ketua Umum PSSI ke depan nanti.

Ponaryo Astaman

Banyak yang mengatakan kalau sudah seharusnya organisasi sepakbola ya diurus sama pesepakbola bung.  Tentu itu tidak salah, berkaca pada organisasi sepakbola di luar. Di mana nama-nama para legenda di lapangan hijau tak melulu harus jadi pelatih. Melainkan jadi pengurus pun juga bisa dilakoni.

Salah satu nama yang kami rekomendasikan adalah Ponaryo Astaman. Mantan kapten timnas sekaligus bintang di PSM Makassar dan berbagai tim di Liga Indonesia ini, memiliki kompetensi yang cocok untuk mengurus organisasi. Apalagi, popon, sapaan akrabnya tengah mengurus APPI (Asosiasi Pemain Profesional Indonesia) sebagai ketua. Secara tidak langsung ada jiwa kepemimpinan dalam diri Ponaryo, dan rasanya cocok utnuk berada di kursi ketua umum PSSI.

Kurniawan Dwi Yulianto

Sumber : LagardereSports.com

Nama Kurniawan Dwi Yulianto rasanya memiliki kans untuk memberikan pengaruh positif pada sepakbola Indonesia. Pemain yang sewaktu muda menimba ilmu di Sampdoria, sampai dikatakan layak dihargai 3,5 sampai 4,5 milliar rupiah kala itu oleh Romano Matte (pelatih timnas Italia era 90-an), memang pernah mencalonkan pada era 2016 lalu.

Namun sayang ia tidak mendapatkan satu suara pun dari total 107 orang yang memiliki hak suara. Saat mengetahui dirinya tidak terpilih ia pun menyarankan jika federasi sepakbola di Indonesia itu harus diisi dengan orang-orang yang bersangkutan di dunia kulit bundar. Namun setelah kalah beberapa tahun lalu, kami pun tidak mengetahui apakah Si Kurus masih memiliki keinginan menjadi Ketum PSSI atau tidak.

Bambang Pamungkas

Sumber : Vivanews.co

Jiwa kepemimpinan dan sikap nasionalis yang tinggi diperlihatkan Bambang Pamungkas saat berlaga membela timnas Indonesia. Bambang adalah orang yang spesial, karena ketenangan dan sikapnya di dalam dan luar lapangan. Sampai-sampai ia masuk dalam skuad pelatih Alfred Riedhl untuk AFF kala itu hanya untuk memberikan porsi sebagai pemain senior kepada junior.

Bukan masuk dalam skema kepelatihan Riedhl, seperti yang dikatakan saat jadi pembicara di acara Battle of Life : Antara Cinta dan Tanggung Jawab. Melihat sikapnya tersebut, nama Bepe, sepertinya sama seperti dua pemain lain di atas. Yakni bisa membawa harapan dan perubahan bagi sepakbola Indonesia, terutama di kancah Asia Tenggara.

Justinus Lhaksana

Mungkin nama Justinus Lhaksana masih belum akrab ditelinga bung. Sapaan akrabnya adalah Coach Justin, ia merupakan wajah lama dalam dunia kulit bundar Tanah Air. Justinus adalah mantan pelatih Timnas Futsal Indonesia yang kini jadi pandit sepakbola dan sering muncul di televisi sebagai komentator.

Belakangan ini ia aktif angkat bicara soal isu-isu mafia bola lewat Twitter. Lewat kanal Youtube-nya, ia memiliki solusi untuk sepakbola Indonesia. Sosok yang memiliki lisensi UEFA Futsal ini pun mendapatkan respon positif ketika videonya di-retweet sampai lebih dari 2.400 orang. Wajar kalau netizen di Twitter menyebut namanya layak berada di kursi Ketum PSSI.

Erick Thohir

Mantan pemilik Inter Milan juga dinilai netizen memahami persepakbolaan khususnya di Indonesia. Rekam jejaknya di dunia kulit bundar sudah terkenal sampai ke Eropa. Bahkan belum lama ini ia menjabat sebagai Direktur tim asal Liga Inggris, Oxford United.

Sosoknya juga dinilai sarat pengalaman, bersih, netral dan kredibel serta Profesional. Sebelumnya Erick juga memiliki saham di DC United. Keseriusan pengangkatan dirinya sebagai Ketum PSSI dipangku netizen dengan membuat Petisi “Erick Thohir sebagai Ketua Umum PSSI”.

Dari sekian nama di atas, siapa yang menurut bung cocok menjabat sebagai Ketum PSSI? atau ada nama lain?

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Keren

Apakah Manchester United Perlu Membenahi Lini Belakang?

Manchester United baru saja merengkuh kemenangan setelah menghadapi Tottenham dengan unggul selisih satu gol.  Namun tim yang sekarang ditangani oleh sang legenda, Ole Gunnar Solskjaer. memiliki lini pertahanan yang sedang jadi sorotan. Di tangan Solskjaer, Manchester United hanya bisa mencatatkan dua cleansheet dari lima pertandingan yang mereka mainkan.

Meskipun memiliki beberapa pemain yang handal sebagi bek tengah, tentu saja itu perlu dibenahi dengan adanya beberapa permasalahan di lini belakang. Belum lagi Solksjaer berduet dengan Victor Lindelof. Dilansir Fox Sports Asia, ada beberapa nama yang akan dipertimbangkan oleh MU untuk didatangkan di bursa transfer musim dingin.

Eder Militao

Reputasi bek berusia 20 tahun ini sangat naik namanya. Eder Militao baru bergabung dengan Porto pada musim panas lalu, namanya semakin meningkat setelah klub top Eropa menjadi peminatnya bung. Katakanlah Manchester United, Real Madrid, Manchester City dan Liverpool.

Militao menjadi kunci lini belakang Porto yang saat ini bercokol di puncak klasemen yang kebobolan sembilan gol dalam lima belas pertandingan. Eder membantu Porto lolos ke babak sistem gugur Liga Champions sebagai pimpinan klasmen grup. Pemain asal Brasil ini kuat dalam duel udara, dan handal dalam melakukan tekel. Ditambah lagi ia memiliki skill menggiring bola yang bagus di lini belakang.

Benjamin Pavard

Performanya pada Piala Dunia 2018 bersama Prancis membuat nama Benjamin Pavard kian dikenal. Pemain berusia 22 tahun ini bermain sebagai bek kanan meskipun secara sejatinya dia adalah bek tengah saat bermain di klub selevel Vfb Stuttgart.

Kepindahannya semakin santer terdengar bakal menuju Bayern Munchen. Sebelum itu terealisasi, Setan Merah bisa menyalipnya. Tentu saja sesuai dengan kondisi harga yang disuguhkan oleh Setan Merah.

Harry Maguire

Manchester United sudah sejak lama tertarik pada pemain yang memperkuat Leicester City, Harry Maguire. Namun permintaan The Foxes yang terlalu tinggi membuat manajemen United enggan mengeluarkan uang belanja untuk seorang Maguire.

Di bawah penampilan Solskjaer, MU nampaknya bisa mendatangkan pemain internasional Inggris tersebut. Tampil dalam enam belas pertandingan dan memenangkan 3,8 duel udara per pertandingan dilansir dari WhoScored. Kira-kira apakah setanh merah mau mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan Maguire?

Diego Godin

Diego Godin merupakan pemain yang berada setia menjaga lini pertahanan dari Atletico Madrid. Selama bursa transfer musim panas 2018, pemain ini sangat diincar untuk menambal lini belakang Manchester United yang kurang disiplin.

Godin sedang berada di tahun terakhir kontraknya dengan Atletico Madrid, seperti Manchester United dapat meneken pra-kontrak dengannya untuk merekrutnya. Meskipun sudah termakan usia yakni 32 tahun. Apaabila Setan Merah rajin untuk mendapatkan pemain ini, sepertinya mendapatkan penyaing yakni Inter Milan.

Kalidou Koulibaly

Pemain yang belum lama ini terkait dengan masalah rasisme di Italia belum lama ini, sangat tertarik untuk meninggalkan negara tersebut. Pemain ini juga bukan pemain abal-abal untuk lini belakang, Koulibaly masuk dalam tim terbaik Serie A dalam beberapa musim terakhir, sekaligus menjadi bek yang diidamkan di Eropa.

Pemain bertahan kelas dunia ini memiliki fisik  yang kuat, di usia yang 27 tahun ia digadang-gadang sebagai pemain andalan di lini belakang.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top