Kisah

Buffon Berucap Kasar di Liga Champions Musim Lalu Adalah Hal, Wajar Tetapi Ia Tidak Tempramental!

Emosi Buffon sebagai pemain sangat meluap-luap, saat dirinya diganjar kartu merah lewat penalti yang kontroversial di laga leg kedua Liga Champions Perempat final musim 2017/18, kala Juventus bertemu dengan Real Madrid.  Kiper kawakan tersebut melayangkan protes keras terhadap wasit Michael Oliver disambung dengan beberapa kata yang menjurus kasar, Oliver pun dibilang sebagai binatang dan tidak punya hati oleh Buffon.

Dibalik emosinya Buffon terhadap sang pengadil memang dianggap wajar oleh beberapa pemain Italia tapi tidak dengan Del Piero, karena amarah yang ditampilkan begitu langka dalam pemandangannya. Biasanya dalam situasi seperti itu Buffon justru tampil sebagai peredam emosi bukan tersulut emosi. Tapi beginilah sepakbola bung, di mana setiap pertandingan sangat menguras emosi apalagi saat menemui hal kontroversi.

Tetapi Buffon bukan tipikal yang tempramental apabila kita menangkap dari ucapan Del Pierro. Berbeda dengan beberapa pemain ini yang justru terkenal dengan emosi yang gampang meledak.

Agresivitas Gattuso Sangat Mengintimidasi Lawan Setiap Pertandingan

Gattuso memang terkenal sebagai pemain yang pantang menyerah di setiap pertandingannya. Pemain bertubuh kecil ini menghabiskan karirnya sebagai pemain AC Milan memang sangat agresivitas terutama kepada pemain lawan. Aksi saling dorong sampai mencekik pernah diperlihatkan oleh pemain yang kini menjabat sebagai pelatih di AC Milan, seringkali Gattuso diganjar kartu karena aksinya yang agresif tersebut. Lewat sikapnya yang tempramen ia pun mendapatkan julukan Rhino atau si badak.

Kerap Berkelahi Menjadi Nama Tengahnya

Diego Costa kerap berkelahi dengan bek lawan karena kerap mendapatkan tekel keras. Wajar saja penyerang haus gol ini memang patut diwasapadi dan tidak boleh sampai lolos karena suka menjadi ancaman bagi tim lawan.

Memang performanya di Chelsea tidak menawan seperti di Atletico Madrid, membuatnya dia kembali lagi ke klub lamanya tersebut karena terlibat konflik dengan Antonio Conte, manajer Chelsea saat itu. Sebagai catatan Diego Costa melakukan cara-cara kasar yang luput dari penglihatan wasit.

Pria Irlandia yang Sering Terlibat Cekcok Sampai Pernah Mematahkan Kaki Lawan

Alf Inge Haaland merupakan korban saat Roy Keane mentekel kakinya dengan keras dan membuatnya harus pensiun dari sepakbola pada laga Derby Manchester tahun 2001. Tidak ada hal yang ditakuti Roy Keane menjadikan alasannya ia sering berseteru dengan pemain lawan.

Gelandang asal Republik Irlandia ini pun sering membela rekan setimnya dan maju lebih dulu apabila terlibat perkelahian. Tak jarang juga Roy Keane memarahi wasit apabila keputusan ini merugikan MU saat itu.

Tak Jarang Juga Pesepakbola Masuk Penjara Karena Tempramennya

Salah satu gelandang Inggris yang cukup bermasalah adalah Joey Barton. Pemain ini pun pernah masuk ke penjara selama 77 hari akibat perkelahian yang dilakukannya, lantaran perkelahian yang dilakukan tidak hanya di dalam lapangan namun juga di luar lapangan. Sederet catatan negatifnya membuat Joy Barton terkenal sebagai pemain yang cukup kontroversial.

Keberingasan Pepe Terlihat Dengan Cara  Memperlakukan Pemain LA Liga

Pepe yang sekarang berseragam Besiktas, memang merupakan bek hebat yang mampu membendung serangan lawan lewat aksi penyelematannya. Permainan Pepe di lini belakang semasa berseragam Real Madrid, juga mencerminkan kalau ia merupakan pemain yang disiplin, namun emosi yang dikadung pemain ini kerap tak bisa dikontrol sehingga adu fisik sampai perkelahian kerap terjadi.

Kasus paling parahnya adalah ketika Pepe mendorong pemain Getafe, Javier Casquero hingga jatuh dan Pepe pun dengan tega menendang bagian belakang berulangkali.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Agar Lebih Bahagia Di Tempat Kerja




Banyak faktor memang yang menyebabkan timbulnya stres di tempat kerja. Situasi kerja yang selalu berada di bawah tekanan, teman kerja yang tidak menyenangkan dan pimpinan yang tidak mau tahu dengan kondisi di lapangan akan semakin memicu munculnya stres di tempat kerja. Eits jangan buru-buru patah arang dan memutuskan resign! Tips ini akan mengubah jam kerjamu jadi terasa menyenangkan

Luangkan Waktu untuk Diam Sejenak dan Berkontemplasi

Cara ini ampuh untuk mengusir bosan dan melihat kembali hal-hal yang patut disyukuri. Jam-jam genting ketika bekerja itu biasanya pada siang hari. Usai makan, bukannya jadi produktif, tubuh malah jadi rentan mengantuk. Atau bisa juga karena sudah duduk berjam-jam, tubuh jadi malah mudah lelah.

Ada baiknya kalau sudah begini, kamu sediakan waktu selama 15-30 menit untuk berdiam diri sejenak dan menenangkan pikiran. Kesampingkan dulu pekerjaan dan notifikasi ponsel. Kamu bisa memikirkan kembali hal-hal apa saja yang patut disyukuri hari ini. Lambat laun, mood positif yang semula menurun jadi kembali baik.

Sempatkan Diri Berolahraga Agar Stamina Tubuh Tetap Terjaga

Mungkin belum banyak yang tahu kalau dengan berolahraga dapat membantu meningkatkan mood secara signifikan. Saat berolahraga, tubuh mengeluarkan zat neurokimia yang dapat memperbaiki suasana hati dan membuat kita merasa lebih baik.

Imbasnya, tubuh dan pikiran yang semula terasa tegang jadi lebih rileks. Tapi yang paling penting, tubuhmu pun jadi lebih bugar dari sebelumnya. Rasa bosan di tempat kerja pun akan hilang secara perlahan.

Jangan Sungkan Menyapa Rekan Kerja, Bukankah Menyenangkan Menciptakan Suasana yang Bahagia

Menyapa dan tersenyum kepada rekan kerja yang ada di sekelilingmu itu bukanlah sesuatu yang sulit bukan? Sebuah senyum kecil biasanya akan membawa pengaruh besar bagi suasana hatimu. Bahkan lebih besar lagi pengaruhnya bagi orang-orang di sekitarmu.

Di samping itu, kamu perlu tahu, kamu yang bisa tersenyum saat menghadapi situasi yang tak menyenangkan berarti kamu punya mental yang cukup kuat untuk menghadapi masalah sebesar apa pun. Jadi, jangan lupa tersenyum hari ini!

Buat Catatan Pencapaian Setiap Harinya Agar Ceria Ketika Pulang

Rasanya lelah sekali jika harus pulang ke rumah tapi kamu masih punya pekerjaan yang belum selesai pada hari itu. Entah apa penyebabnya, sampai rumah, kamu pun jadi suntuk dan pikiranmu jadi tak tenang.

Untuk mengatasinya, setidaknya kamu harus mulai disiplin untuk meluangkan sedikit waktumu untuk mencatat apa saja yang sudah kamu capai di hari itu. Ya, semacam daftar pencapaian kecil-kecilan yang bisa membantumu memantau progres harianmu.

Contohnya, sudah berhasil menghubungi klien A yang terkenal sulit, atau sudah berhasil merapihkan file yang semula berantakan, dan hal-hal kecil sejenis. Dengan mencatat macam ini, kamu akan lebih menghargai dirimu sendiri dan tentunya termasuk pekerjaanmu.

Coba Nikmati Perjalanan Menuju Kantor

Urusan satu ini memang harus diakui bukan perkara mudah. Apalagi untuk mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Urusan jalanan macet dan perkara tak tertibnya pengguna jalan lain jadi hal utama.

Tapi toh untuk apa berfokus pada hal negatif. Lebih baik kita mencoba membangkitkan suasana yang lebih positif. Agar tak bosan coba secara berkala ganti rute perjalanan menuju kantor. Pikiran akan dirangsang untuk terus aktif ketika melewati jalan baru.

Hal penting lainnya agar menikmati perjalanan ke kantor adalah memilih kendaraan yang nyaman. Ambil contoh misalnya Yamaha Nmax yang belum lama ini meraih penghargaan Good Design Indonesia (GDI) 2018 untuk kategori transportasi sepeda motor dari Kementerian Perdagangan.

Motor yang dilengkapi digital speedometer ini dinobatkan sebagai motor dengan Good Design Indonesia karena memiliki konsep desain “Active & Comfort Style” yang memberikan gaya berkendara baru. Nmax memiliki posisi berkendara yang nyaman dan enjoy yaitu dua posisi berkendara. Jadi kalau bosan dengan posisi kaki menekuk, tinggal julurkan kaki ke depan. Mengubah-ubah posisi berkendara ini, pastinya sangat berguna ketika menempuh perjalanan kantor yang tak singkat.

Apalagi Nmax mempunyai bagasi yang super besar dimana dapat menyimpan helm dan berbagai macam barang-barang lainnya. Jadi barang bawaan yang biasa menyertaimu ketika ke kantor bisa dimasukan saja ke bagasinya dan tubuh bisa lebih leluasa bergerak. Dan tak perlu khawatir motor amblas akibat barang bawaan berat, sebab shock belakang Nmax sudah menggunakan tipe sub tank suspension yang nyaman namun juga tangguh menopang bobot berat.

Kapasitas tangkinya juga besar yaitu 6,6 liter. Dengan begitu kita tak lagi bosan karena sering menghabiskan waktu hanya untuk mengantri di SPBU. Asyiknya tangki ini diletakan di tunnel tengah. Sehingga membuat motor lebih seimbang dan tak perlu turun ketika mengisi bahan bakar.


Beralih ke dapur pacu, mesin Yamaha Nmax ini menganut teknologi Blue Core yang membuat urusan konsumsi bahan bakar ini jadi lebih optimal. Sementara itu mesin ini juga mengadopsi sistem VVA (Variable Valve Actuation), yang menjaga tenaga dan torsi maksimum di setiap putarannya. Tentunya dengan paduan ini Nmax akan tetap lincah meliuk di tengah kepadatan kota.
Penasaran dengan motor ini? Lengkapnya bisa dilihat di laman Yamaha Nmax ini. Nah, dengan kombinasi di atas kamu akan terhindar dari bosan di tempat kerja dan pastinya akan lebih merasa bahagia bukan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kisah

Setidaknya Pemain Asia Tenggara Pernah Ada yang Bertengger di Eropa!

Menjadi pesepakbola otomatis memiliki mimpi untuk memperkuat tim besar di Eropa, pasti bung semua setuju kan? Karena Eropa masih dianggap kiblat untuk membangun karir sepakbola sekaligus bersaing dengan pemain-pemain kelas dunia.

Maka berada di Asia Tenggara, yang jauh dari Eropa tentu menjadi acuan tersendiri untuk bisa berkarir di sana. Jangan muluk-muluk bermain di tim besar, berada di iklim sepakbola Eropa saja sudah patut diacungi jempol seperti yang dilakukan Egy Maulana Vikri.

Egy yang kini memperkuat Lechia Gdanks di Liga Polandia, masih sedang menjajaki karirnya. Ia masih bermain bagi skuad muda Gdanks dan pernah beberapa kali mendapatkan kesempatan untuk memperkuat Gdanks di level seniornya. Ternyata sebelum Egy menjadi pusat pemberitaan karena bermain di Eropa, tercatat ada beberapa pemain asal Asia Tenggara bermain di Eropa bung. Bung tahu kira-kira siapa saja? coba simak dan cocokan dengan tebakan bung ya.

Dennis Cagara

Karena sang ayah dulu memilih untuk menjadi warga negara Filipina dan memperkuatnya, Dennis Cagara pun mengikuti jejaknya dan menjadi sosok yang tak tergantikan di lini pertahanan. Padahal Cagara memiliki peluang untuk memperkuat tim nasional Denmark saat itu.

Memulai karir sepakbola di tahun 2002 ia pernah menghuni Brondy IF klub asal Denmark dan hijrah ke Bundesliga di tahun 2004 dengan menjadi skuad Hertha Berlin. Pemain yang kini berusia 31 tahun pun pernah berada di Glasgow Rangers dan Eintrach Frankfurt saat aktif menjadi pesepakbola profesional.

Neil Ehteridge

Kiper beradarah Filipina Neil Etheridge menjadi sosok yang dibicarakan karena menjadi pemain asal Filipina sekaligus Asia Tenggara yang tampil di Premier League musim 2018/19. Etheridge mampu menopang sekaligus menjaga jala Cardiff City saat di kompetisi kasta kedua Championship Division musim 2017/18.

Alhasil skuat asuhan Neil Warnock mendapatkan promosi ke liga bergensi Premier League. Sebagai catatan dari 46 pertandingan yang dimainkan Cardiff di Championship Division, ia hanya mengalami 10 kekalahan.

Stephan Schrock

Masih dari tanah Filipina, ada pemain lawas yang memulai karir profesional di tahun 1991 bernama Stephan Schrock. Saat itu pemain berkepala pelontos ini memperkuat DJK Schweinfurt di Bundesliga. Kemudian lompat ke tahun 2012 dengan memperkuat Hoffenheim, namun karirnya tak cemerllang di sana sehingga memutuskan angkat koper ke Eintracht Frankfurt. Saat ini tercatat masih aktif bermain di Ceres Negros klub Asal Australia.

Fandi Ahmad

Mendengar nama Fandi Ahmad pasti tidak asing, pemain ini pernah memperkuat NIAC Mitra Surabaya yang pernah mencetak sebiji gol ke gawang Arsenal saat melaukan pertandingan persahabatan pada 1983. Sosok sepakbola tersukses asal Singapura ini pun tercatat pernah hijrah ke liga Belanda dengan memperkuat FC Groningen.

Karirnya pun makin terkenal saat ambil bagian melawan rasasa Italia, Inter Milan di UEFA CUP yang saat ini dikenal dengan nama Europa League, ia pun menyumbangkan satu gol dan membawa Groningen menang 2-0. Meskipun di leg kedua FC Groningen dilumat habis dengan skor 5-1.

Kurniawan Dwi Yulianto

Tak hanya Filipina dan Singapura saja, Indonesia pun pernah menghiasi sepakbola benua biru lewat kaki Kurniawan Dwi Yuianto. Pemain jebolan PSSI Primavera ini pernah merasakan iklim sepakbola Italia dengan menjadi bagian Sampdoria di tahun 1995.

Pelatih Sven Goran Erikson saat itu memberikan kesempatan pada sang pemain untuk berada di bangku cadangan saat melawan Parma. Tak terlalu bersinar di Sampdoria, ia memutuskan untuk memperkuat FC Luzern, klub asal Swiss. Salah satu gol terpentingnya terjadi saat melawan klub besar Swiss, FC Basel dan berhasil membawa kemenangan FC Luzern 2-1 keesokan harinya namanya muncul di halaman utama surat kabar Swiss.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kisah

Tak Ada Jaminan Jebolan La Masia Bisa Merdeka di Barcelona

Deretan pemain Barcelona yang merupakan jebolan La Masia adalah pemain-pemain hebat bung! Argumen ini dapat dibuktikan dari beberapa pendahulunya seperti Lionel Messi, Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Victor Valdes dan Carles Puyol. Nama-nama tersebut mendulang kesuksesan besar di Barcelona. Sehingga pada era mereka Barcelona menjadi tim yang kuat dan memangkan deretan trophy dari skala liga lokal, Eropa dan antar benua.

Lewat nama-nama tersebut Barcelona merupakan salah satu bentuk tim yang ideal di mana pemain-pemain mudanya berhasil bersinar, sampai nama La Masia selaku akademi melambung tinggi dan punya banyak pemain berbakat. Meskipun begitu tak ada jaminan bagi jebolan La Masia dapat sukses di Barcelona, karena banyak juga pemain berbakat yang pada akhirnya gagal menuai ekspetasinya menjadi bagian proyek terhebat Barcelona.

Konsisten di Level yang Berbeda dan Bersinar di Barcelona Hanyalah Angan Senja

Victor Vazquez merupakan salah satu pemain yang mampu menunjukkan performa konsisten di level Barceona B, tetapi dirinya gagal ketika skuat Barcelona senior pada 2008. Minimnya kesempatan bermain yang dimiliki sekaligus tak mampu menggeser nama besar membuatnya hengka ke Club Brugge. Lantarna 3 muim bersama Barcelona Vazquez hanya bisa menorehkan tiga laga. Pemain yang kini menginjak usia 31 tahun hanya membela klub MLS.

Publik Menilai Bahwa Ada Pemain Muda Itu Dapat Bersinar

Dalam La Masia ada sebauh bagian dari Samuel Eto’o Foundation yang diisi oleh Jean Marie Dongou. Tergabung dalam skuat akademi Barcelona di usia 13 tahun, Dongou pun mendapatkan debutnaya bermain di Barcelona B saat usianya masih 16 tahun bung.

Melihat akan hal itu, publik pun memprediksikan kalau Dongou akan memiliki masa depan yang cerah di skuad Barcelona. Nyatanya? itu semua salah, ia hanya mampu bermain tiga laga sebelum memutuskan berkarir di Real Zaragoza di tahun 2016.

Siapa yang Bisa Menggeser David Villa di Era Keemasannya di Barcelona?

Sandro Ramirez salah satu talenta yang bisa dibilang tak bisa menggeser skuat senior karena saat itu David Villa masih matang walaupun usia tak lagi belia, selain itu hadirnya Luis Suarez ke Barcelona juga tak kalah ganasnya. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh pemuda yang baru menginjak usia 19 tahun?

Debut seniornya dijalani pada musim 2013/14  tidak sukses karena tidak mendapatkan banyak menit bermain seperti pemain senior. Karena tak dapat menit bermain seperti yang diinginkan, alhasil ia memutuskan hengkang ke Malaga di tahun 2016.

Katanya Penerus Xavi Hernandez di Barcelona, Nyatanya Hanya 12 Laga yang dapat Ditorehakannya

Sandro Ramirez hanya cerita kecil dari La Masia, ada lagi pemain tengah bernama Sergi Samper yang digadang-gadang bisa jadi penerus Xavi Herndandez, sang maestro asli yang dibentuk di La Masia dan bersumbangsih bagi Barcelona.

Disandingkan bakal menjadi penerus nama besar tentu menjadi sebuah beban. Meskipun di Barcelona B ia tampil konsisten, tapi bukan berarti ia mendapatkan jalan mulus ke skuat senior. Ia hanya berhasil mencatatkan 12 laga bersama Blaugrana.

Isaac Cuenca yang Nyaris Menjadi Bagian dari Barcelona

Di musim 2011/12 nama Isaac Cuenca sudah mampu menjadi bagian skuat senior di usianya yang ke-22, dan pada musim debutnya ia memiliki kesempatan bermain cukup banyak yakni 30 laga dan menorehkan empat gol. Tetapi di musim berikutnya ia harus menyerah karena tak bisa beradu tempat dengan Lionel Messi.

Dipinjamkan ke Ajax Amsterdam di musim 2012/13 bisa jadi untuk menemukan kembali sentuhannya, namun itu semua tak membantu dirinya kemudian ia memilih hengkang ke Deportivo La Coruna.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kisah

The Special One Membuat Pemain Setan Merah Tak Mampu Berkembang

The Special One kini sudah tidak lagi spesial, ia sudah terlihat kehilangan momentumnya sebagai pelatih. Musim ini setelah menelah kekalahan dari West Ham di ajang liga Inggris, Setan merah nampaknya masih belum bisa kehilangan dari trend buruk.

Manchester United masih tetap tim favorit, namun tidak sebegitu favorit dibanding beberapa klub lain seperti Manchester City atau Liverpool, sekarang. Sudah jelas kalau Jose Mourinho adalah sosok yang harus bertanggung jawab, apalagi ini musim ketiganya. Selain turunnya performa tim secara keseluruhan, banyak juga yang berpendapat kalau beberapa pemain pun juga mengalami kemunduran secara performa.

Sebut saja Pogba salah satunya, pemain yang merengkuh Piala Dunia tahun ini bersama Perancis merupakan salah satu sosok pemain berbakat. Entah kenapa bermain di level klub sekaliber Setan Merah justru Pogba terlihat biasa saja.

Padahal kala berseragam Juventus pemain ini menarik perhatian, selain pogba masih ada beberapa pemain lainnya yang mengalami hal yang sama. Selain itu, Jose Mourinho juga terlibat pertengkaran dengan beberapa anak buahnya di ruang ganti. Kira-kira siapa saja ya bung?

Mungkin Ia Akan Bersinar di Klub Lain, Ya Mungkin Saja Bung!

Semua orang tahu, apabila para pendukung MU kalau Pogba yang berada di Manchester United sekarang bukanlah Pogba yang sebenarnya. Kedatangan pemain berpaspor Prancis ini tadinya diharap dapat mendongkrak performa MU setidaknya  di Liga Inggris.

Namun hal itu belum terwujud apabila kita membandingkan dengan performa Pogba waktu di Juventus kan bung? di sini Pogba terlihat tampil sangat kesulitan seperti dinaungi beban. Sehingga tak salah kalau dalam dua tahun terakhir Pogba seperti pemain biasa saja saat berada di Liga Inggris.

Eric Bailly Dengan Peran Inkonsitensi

Musim pertama bersama Setan Merah ia mampu memberikan asa dengan meraup juara Community Shield, EFL Cup sampai Liga Europa. Pemain internasional Pantai Gading ini tiba di tahun 2016 saat diboyong dari Villareal.

Setelah musim debut yang berjalan manis, ia diganggu dengan beberapa masalah salah satunya adalah cedera. Diboyong sebagai pemain yang harus memecah kebuntuan lini belakang justru tak mampu diselesaikan. Akhirnya Mourinho pun kecewa karena beberapa penampilan buruknya di awal musim.

Rashford Menjadi Bintang yang Tak Bersinar

Pemain Manchester United yang mengalami kemunduran di bawah asuhan Mourinho adalah salah satu wonderkid bernama Marcus Rashford, di saat MU di bawah kepemimpinan Luois Van Gaal yang mengalami krisis penyerang Rashford adalah jawaban.

Jalannya menjadi bintang besar terpupuk saat mencetak gol debut di Liga Europa, dua gol melawan Arsenal di Liga Inggris, kemudian itu semua mati ketika di bawah naungan The Special One. Sekarang, peluangnya bermain sangat terbatas lantaran tidak mengesankan seperti era kepemimpinan Van Gaal, sehingga Mourinho kerap ragu memasangnya.

Apalagi Saat Alexis Sanchez Tidak Bermain Secara Utuh

Makin menguatnya dugaan kalau beberapa pemain hebat tak mampu berpijar di bawah asuhan Mourinho ketika Alexis Sanchez yang dikaitkan dengan Manchester City kemudian dibajak menuju Old Trafford. Semua orang tahu mantan pemain Udinese, Barcelona dan Arsenal memiliki skill di atas rata-rata sehingga mampu memikat tim besar.

Tetapi di Manchester United anggapan itu semua sirna, ia tidak bisa menampilkan penampilan terbaiknnya bahkan tak jarang orang lain memberikan label pemain gagal di bawah Mouriho adalah Sanchez.

Martial Dibuat Kembang Kempis Tak Berkembang

Anthony Martial namanya sering kali megnhiasi daftar harapan para pendukung MU untuk mendapatkan sosok striker ganas di masa depannya. Martial bisa dikatakan sedang menuju masa berkembang untuk menjadi pemain hebat, pemain berkebangsaan Prancis ini memang terpinggirkan karena ia bermain di posisi sayap kanan pada saat kedatangan Zlatan Ibrahimovic.

Dan setelah Zlatan pergi ia kembali lagi mendapatkan tempatnnya namun hanya singkat karena Alexis Sanchez sebagai ujung tombak lebih menggiurkan dari Martial. Alhasil pemain berusia 22 tahun ini kesulitan untuk bersinar di usia emasnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top