Review

Bagaimana Raline Shah Membuat Matamu Betah Memandang Fotonya

Iya Raline Shah memang cantik dari sananya. Tak perlu kita berdebat lagi. Kalau masih tak percaya coba saja tengok koleksi foto pribadi yang sering diunggahnya di instagram. Tapi, punya paras cantik itu satu hal, selalu terlihat menarik dan tak membosankan di mata laki-laki, itu soal lain.

Nah, soal selalu terlihat menarik wanita kelahiran Jakarta 4 Maret 1985 ini ternyata menyimpan sejumlah trik menarik. Hal yang mungkin malah tak kita sangka sebagai laki-laki. Apa itu?

Kunci Terlihat Cantik Adalah Dengan Tak Terlalu Memusingkan Agar Terlihat Cantik

Kenapa ketika menengok instagram Raline, kamu tak pernah bosan? Karena Aktris yang pernah meraih nominasi pemeran pendukung wanita terbaik di FFI piala citra ini mengatakan, dirinya justru tidak mau tampil dengan gaya yang super cantik dan sempurna ketika ia melakukan selfie. Karena menurutnya untuk penampilan macam itu sudah ada porsi di tempat yang lain.

“Pose-pose yang aku suka itu, pose-pose lucu aja. Soalnya pose-pose cantik sudah ada di iklan, di tv, dan media-media yang lain” tutur Raline.

 

Jadi kita tak melulu melihat pose yang macam di majalah atau televisi kalau melihat instagramnya. Bisa jadi ada fotonya yang dengan raut “jelek” atau sedang melakukan hal seru lainnya.

Sendiri Saja Raline Cantik, Apalagi Ketika Foto Bersama Orang Lain

Tentu saja Raline cantik ketika berselfie, namun yang membuatnya tak terlihat membosankan karena ia juga gemar mengambil Wefie, alias foto beramai-ramai. Artis cantik lulusan National University of Singapore di bidang politik ini nyatanya tak hanya suka dengan selfie berbagai ekspresi. Jika kita lihat instagramnya, foto wefie bersama teman-teman ataupun saudaranya tidak kalah banyak meramaikan akun instagramnya ini. Karena menurutnya ada keseruan tersendiri pada saat wefie.

“Aku lebih suka wefie sama temen-temen. Karena Wefie itu bukan hanya karena kita ingin hasil fotonya, tapi prosesnya juga seru” kata Putri Terfavorit dalam ajang Pemilihan Putri Indonesia 2008 ini sambil tersenyum.

Pada saat melakukan wefie kamu harus mengumpulkan teman dan mengatur posisi yang pas agar semua terlihat dengan jelas. Raline mengungkapkan kalau kini ia punya mainan baru yang membuatnya makin bersemangat melakukan Wefie, yaitu Oppo F3 Plus.

“Aku suka dual selfie cameranya karena lebih dari 3 orang, otomatis masuk ke kamera yang satunya lagi yang bisa mengambil wide angle” tuturnya.

Oppo F3 Plus seperti yang dimiliki Raline ini memang dilengkapi dengan dual camera. Kamera pertama dengan 16 MP yang tentunya digunakannya untuk berselfie. Sementara kamera kedua 8 MP dengan 120 derajat wide angle, digunakan untuk mengambil foto ketika bersama kawan-kawannya.

Karena Foto Itu Soal Momen, Raline Pandai Mengabadikan Ini

Background yang bagus memang jadi godaan tersendiri untuk selfie. Tapi menurut Raline, kita tak harus fokus pada hal itu saja. Soal proses apa yang sedang kita alami dan ingin kita bagikan kepada orang lain juga menjadi penting.

Nah, ini juga kunci utama Raline tak tampak membosankan. Karena ketika melirik instagramnya, kita bisa melihat kegiatan sehari-harinya dan tak hanya berfokus di tema yang itu-itu saja. Apalagi Raline juga gemar traveling, jadilah banyak fotonya yang bertemakan perjalanannya.

Itu juga kenapa selain fitur selfie dan wefie yang diberikan oleh Oppo F3 Plus miliknya, hal lain yang sangat disukai oleh Raline adalah Kemampuan fast Charging yang bisa membantu ia dalam kegiatannya. Meski hanya diisi 30 menit tapi sudah megisi 75% isi baterai.

Bagi Raline ia sering kewalahan jika harus membawa powerbank yang besar jika hendak beraktifitas diluar atau pergi berlibur.

“Aku juga suka fitur fast charging-nya, sangat berguna. Kan sekarang smartphone kita cenderung low batt, kalau kita sering di sosial media apalagi spotify dengerin musik, waze untuk ajalan, google map. Semua on, tapi batere low. Aku males bawa baterry pack yang gede-gede. Sementara untuk Oppo F3 Plus ini dicharge 5 menit untuk ngobrol dua jam dan setengah jam sudah 75 persen full. Hape-hape aku yang dulu gak pernah bisa seperti itu” tutur Raline Shah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Sebetulnya Kapan Saat yang Tepat Beli Mobil Baru?

Berhubung membeli mobil tak semudah membayar makanan di angkringan, pastinya banyak hal yang jadi pertimbangan. Apalagi membeli mobil membutuhkan komitmen yang tidak sebentar. Tak mungkin juga, bulan ini beli lalu bulan berikutnya sudah harus dijual lagi. Nah jadi sebetulnya, kapan waktu yang tepat untuk membeli mobil baru?

Ketika Kebutuhan Tak Bisa Lagi Diakomodir Si Kuda Besi

Mungkin selama ini Kita begitu menikmati menunggang si kuda besi alias motor. Sedari muda, moda transportasi roda dua ini jadi pilihan dalam situasi apa pun. Namun toh nyatanya hidup mengalami perubahan. Ada beberapa kegiatan yang ada saat ini sudah tak mungkin lagi dilakukan dengan mengendarai motor.

Misalnya, dulu mungkin tak begitu masalah naik motor ketika masih membujang tanpa ada yang menemani. Ketika sudah berpasangan apalagi berstatus keluarga muda dengan anak yang masih kecil-kecil tentu jadi berbeda kasus. Tak mungkin lagi membonceng si kecil di motor dan membawanya dalam perjalanan jauh.
Ini salah satu momen yang pas untuk mulai berpikir mengambil mobil untuk kendaraan cadangan. Bukan berarti meninggalkan tunggangan setia, tapi memang ada kebutuhan yang mau tak mau harus menggunakan roda empat.

Ketika Mobil Sudah Punya, Tapi Usianya Sudah Lanjut

 

Tak salah memang terhanyut dalam romansa dan memori dengan mobil yang selama ini telah menemani. Tapi kita juga harus realistis, bahwa mobil juga punya usia sebaik apapun kita merawatnya. Mungkin bukan berarti kita menjual yang lama tapi tidak lagi menggunakannya untuk kendaraan sehari-hari adalah langkah yang bijak.

Kondisi paling ideal mobil itu berada pada usia tiga tahun pertama. Lima tahun berikutnya masih bisa dijadikan andalan namun sudah akan mulai ditemui beberapa masalah. Sementara durasi pemakaian mobil untuk harian, yakni sekitar 8 hingga 10 tahun atau jika sudah menempuh jarak lebih dari 200 ribu kilometer.

Sama halnya dengan manusia yang telah lanjut usia, mobil juga sama. Walau suku cadang tersedia, ketika batas pemakaian tersebut sudah dilewati, maka kondisi mesin dan sasis sudah masuk pada level tak layak pakai.

Tak hanya kekhawatiran untuk mogok dan tiba-tiba rusak dijalan saja, menunggangi mobil-mobil yang sudah tak lagi diproduksi juga jadi sebuah resiko yang tinggi. Ketika kita masih berusaha merawat dan mencintainya, bisa jadi perusahaan yang ada disana sudah tak lagi memproduksi spare part yang mobil tersebut miliki. Sementara mobil sudah melulu minta ‘jajan’ karena suku cadang yang rusak. Walhasil selain biaya perawatan tinggi, bisa jadi mobil hanya teronggok tak bisa digunakan karena menunggu suku cadang tersedia.

Ketika Fitur dan Fungsi yang Ditawarkan Mobil Baru Begitu Menggoda Dan Sesuai Kebutuhan Saat Ini

Dulu mungkin kita merasa sah-sah saja dengan fasilitas yang ada di kendaraan roda empat yang kita miliki. Namun teknologi tak hanya diam di tempat. Kalau masih terus berkutat di mobil lama, kita tak akan paham sudah ada inovasi yang akan memudahkan kita dalam berkendara.

Coba tengok misalnya Renault KWID. Di bagian interiornya yang paling mencolok adalah hadirnya head unit layar sentuh berukuran 7 inci yang mengatur sistem hiburan di dalam kabin mobil yang juga telah terintegrasi dengan navigasi satelit menggunakan tampilan 2D/3D.

Sementara untuk fitur sisi keamanan Renault KWID dibekali dengan keyless entry dengan remote dan central lock. Nah untuk kenyamanan Renault KWID juga memiliki fitur heater atau penghangat kabin jika udara di luar terlalu dingin.

Fitur macam ini belum dimiliki mobil terdahulumu bukan?

Ketika Model Baru Yang Ditawarkan Unik Dan Modern

Secara teknis mungkin kendaraan lama belum bermasalah. Tapi bisa jadi kitanya yang sudah dilanda jenuh dengan kendaraan yang itu-itu saja. Jangan anggap remeh karena efek bosan ini bisa melanda kemana-mana. Bayangkan mood yang tak bagus karena waktu di jalan tak dapat sensasi asiknya mengendarai mobil.

Kala itu terjadi maka saatnya untuk melirik kendaraan yang baru. Supaya tak dilanda bosan, cobalah sesuatu yang benar-benar unik. Contoh, misalnya kamu ingin punya mobil yang ramah jalanan perkotaan tapi masih gagah dari sisi penampilan.

Paduan macam itu tentu tak akan bikin kita lekas bosan. Seperti Renault KWID yang jika menilik dari dimensinya mobil yang mengusung mesin 1.000 cc tiga silinder ini memang masuk di kategori City Car.

Namun KWID punya desain unik yang membuatnya bertipe crossover dengan tampilan SUV. Ciri paling kentalnya adalah ground clearance alias jarak bodi terendah ke tanah yang mencapai 180 mm. Didukung pula dengan fender yang cukup besar khas mobil crossover. Sementara bagian grille depan Renault KWID juga tampil tegas dan kokoh. Lampu depan terdapat “C” shape signature sebagai ciri khas Renault terbaru.

Dengan desain apik tersebut, tak heran jika di tahun pertama kehadirannya di Indonesia, Renault KWID langsung meraih penghargaan bergengsi di ajang OTOMOTIF Award 2017. Dalam kategori The Best Small City Hatchback.

Ketika Garansi Dan Asuransi Mobil Baru Memudahkan Untuk Beraktivitas

Sama halnya dengan usia yang telah tua, batas garansi pada perawatan mobil jadi pertimbangan pelik lain. Mobil baru seperti contohnya Renault KWID tadi dilengkapi dengan garansi minimal 3 tahun untuk mesin atau telah menempuh jarak 100 ribu Km. Dengan kata lain, memiliki mobil baru akan memangkas biaya perawatan mobil yang mungkin akan kita keluarkan jika terus bertahan dengan mobil yang sudah uzur.

Tak percaya? Coba tengok layanan purna jual “Renault Peace of Mind”. Ada Silver Package for Renault Kwid & Renault Koleos, tambahan 2 tahun jaminan garansi kendaraan Anda sehingga menjadi total 5 tahun jaminan garansi atau 100.000 km (mana yang tercapai lebih dahulu).

Kemudian ada Gold Package for Renault Kwid, Renault Duster 4×2, Renault Duster 4×4 & Renault Koleos, jaminan bebas biaya sparepart dan jasa service berkala dimulai dari service 1.000 km dan kelipatan 10.000 km sampai dengan 60.000 km dengan masa jaminan garansi kendaraan 3 tahun atau 100.000 km (mana yang tercapai lebih dahulu).

Terakhir ada Platinum Package for Renault Kwid & Renault Koleos, jaminan bebas biaya sparepart dan jasa service berkala dimulai dari service 1.000 km dan kelipatan 10.000 km sampai dengan 100.000 km dengan tambahan 2 tahun jaminan garansi kendaraanmu sehingga menjadi total 5 tahun jaminan garansi atau 100.000 km (mana yang tercapai lebih dahulu).

Tapi memboyong mobil baru bergaransi saja tidak cukup. Karena untuk apa dilengkapi garansi kalau bengkel ternyata sulit ditemui. Kalau kita melirik Renault misalnya, hati tentu akan lebih tentram. Karena pabrikan asal Perancis tersebut sudah bekerja sama dengan group Nissan.

Jadi layanan bengkel dan purna jualnya selain dari renault juga bisa dikerjakan di bengkel Nissan. Hal ini dimungkinkan karena berbekal kekuatan aliansi Renault – Nissan dimana untuk distribusi, pemasaran dan layanan purna jual merek Renault pun ditangani oleh Indomobil Group yang juga menangani Nissan.

Di samping garansi, masalah perlindungan asuransi kehilangan dan kerusakan juga harus jadi pertimbangan. Mobil dengan usia muda akan lebih mudah disetujui oleh pihak asuransi. Sementara mobil yang sudah tua akan sulit mendapatkan perusahaan asuransi yang mau melindungi. Kalaupun disetujui, biasanya akan membutuhkan uang premi yang tidak sedikit.

Jadi ingat, terikat romansa dengan kendaraan lama boleh saja, tapi terus menutup mata dengan kehadiran yang baru tentunya bukan langkah yang bijak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Money & Power

Bagi Bung Pekerjaan Ini Kurang Memikat, Tapi Bagi Orangtua Ini Hakikat

Ada beberapa ranah pekerjaan yang langsung saklek di mata orangtua pasangan. Pekerjaan tersebut biasanya dilihat dari bebet dan bobotnya Bung. Orangtua biasanya punya pandangan tersendiri soal pekerjaan yang bonafid di mata mereka. Dalam imajinasinya, mereka juga membayangkan kalau anak perempuannya akan hidup makmur apabila membangun mahligai rumah tangga dengan calon yang diminatinya (dari segi pekerjaan).

Hasil riset yang dirilis Smart Asset di Amerika, menempatkan ahli statistik sebagai pekerjaan yang paling diminati generasi milenial sebesar 45%,  pengembang web sebesar 38%, analisa riset pasar dan spesialis pemasaran 37%. Hidup sebagai generasi yang digital native alias tidak gagap teknologi membuat pekerjaan dibidang tekonologi menjadi sangat digemari. Tetapi apa yang digemari generasi milenial jelas berbeda Bung dengan generasi X dan Baby Boomers. Kira-Kira apa saja ya Bung pekerjaan yang diminati oleh orangtua si nona?

Menolong Orang Lain Ketika Sakit Adalah Pekerjaan Mulia. Tak Hanya Di Mata Mereka Tapi Juga Di Mata Mertua

Dokter adalah pekerjaan yang masih dipandang tinggi oleh orangtua pasangan. Pekerjaan mulia mengobati orang ini, juga tidak main-main dalam hal pendidikannya yang memang terkenal merogoh kocek dalam-dalam. Maka tak heran, jika jarang ada yang memandang rendah pekerjaan dokter.

Terlebih lagi penghasilan sebagai dokter spesialis saja bisa mencapai 50 juta rupiah. Jelas itu bukan angka yang kecil. Orangtua mana yang tak tergiur melihatnya. Bukan mendiskreditkan orangtua sebagai pihak yang matrealistis ya Bung. Namun rasanya wajar apabila orangtua rela menitipkan anaknya kelak kepada Bung yang berprofesi sebagai dokter.

Fisik Yang Kuat Dan Gagah Dapat Menjadi Daya Tarik. Tapi Semangat Juangnya Buat Negara Mungkin Juga Menarik Ya!

Profesi TNI atau tentara adalah garda terdepan Indonesia dalam menghadapi ancaman dari luar. Siapa saja yang ingin memporak-porandakan kedaulatan, pasti tentara tak tinggal diam. Angkatan bersenjata memiliki kesan gagah dan kuat. Porsi latihan fisik yang dilakukan memang sengaja untuk menumbuhkan jiwa nasionalis Bung. Fisik seorang tentara pun pasti kuat dan terjaga.

Di era orde baru, pekerjaan TNI tak dapat dipandang remeh. Para orangtua pasti mengangkat topi atau hormat pada pekerjaan tentara. Orangtua pun bakal turut bangga apabila Bung memiliki profesi sebagai tentara dan berpangkat panglima. Karena menjaga kedaulatan negara saja bisa, apa lagi kedaulatan rumah tangga. Bukan begitu Bung?

Kerja Di Lapangan Panas-Panasan Tapi Di Rumah Mertua Disanjung-Sanjung. Bung Mau Seperti Itu?

Kerja di lapangan mungkin kurang menyenangkan dibanding kerja di gedung dengan dinginnya AC yang kadang  membuat menggigil. Memiliki kesan panas dan berdebu, sudah identik sekali dengan pekerjaan lapangan, salah satunya pertambangan.

Terbakarnya kulit oleh matahari memang membuat kondisi badan terasa gersang.  Namun kalau berbicara gaji, sepertinya dapat membuat perasaan senang Bung. Pekerjaan ini memang beresiko. Tingkat kesulitan pun juga tinggi. Jadi tak ayal, fresh graduate yang bekerja di bidang ini saja sudah diganjar gaji tinggi. Bisa 2x lipat dari UMR saat ini. Ketika Bung datang ke rumah perempuan kemudian memperkenalkan diri sebagai orang yang bekerja di pertambangan, rasanya jalan lapang untuk meminang pun telah terpampang di depan mata.

Profesi Ini Mungkin Kurang Memikat, Tapi Kalau Orangtua Si Nona Tahu Bisa Jadi Seperti Sahabat Dekat

PNS (Pegawai Negeri Sipil) untuk generasi milenial mungkin kurang terlalu memikat, tapi lingkungan kerja dan besarnya pendapatan menjadikan profesi ini jadi incaran. Data jumlah pendaftar CPNS tahun ini saja tembus sampai angka 1 juta orang. Semua saling bersaing untuk masuk di beberapa kementerian dan lembaga. Kalau dari kacamata orangtua, pekerjaan ini tentu jadi idaman.

Karena dapat menjamin kehidupan dengan adanya tunjangan dan uang pensiunan. Di mata masyarakat, PNS memiliki prestis yang tinggi. Toh orangtua pasangan pasti turut senang apabila sang anak dinikahi oleh PNS, selain bisa menjamin kehidupan, juga dapat meningkatkan kehormatan.

Kalau Berbicara Nasib Memang Sulit Ditebak, Terkadang Profesi Bisa Kalah Dengan Nama Besar Perusahaan

Selain prestisnya profesi sebagai PNS, menjadi pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga tak kalah mentereng. Terlebih lagi BUMN membawahi semua perusahaan besar di Indonesia seperti Pertamina, PLN, Pelindo dan perusahaan maskapai, Garuda Indonesia. Usut punya usut, profesi pegawai di BUMN bakal makmur sejahtera nasibnya.

Orangtua biasanya tidak hanya terkesan oleh besar kisaran gaji yang didapat Bung. Tapi terkesima juga dengan perusahaan tempat bekerja. Apa pun perusahaannya, kalau Bung bekerja di perusahaan BUMN pasti tak terlalu rumit untuk menggapai si nona.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Dating

Jadi Laki-laki yang Dicari Tak Perlu Mengumbar Janji

Perempuan tak butuh janji, mereka hanya ingin mencari laki-laki yang pasti. Yap, pasti memberi kepastian bukan bualan.

Bung boleh bangga untuk kemampuan mengeluarkan kata manis yang buat si nona jatuh hati. Tapi untuk suatu hubungan yang pasti, perempuan tak butuh itu.

Hari ini si nona mungkin tersenyum, merasa disanjung oleh kalimat-kalimat puitis yang Bung sampaikan. Tapi jangan heran, esok tiba-tiba si nona akan datang dan bilang Bung adalah pembual.

Sekilas ini memang beda, antara suka berbicara yang manis dengan membual. Namun pada dasarnya dua kata ini memiliki pengertian yang sama.

Sebab Janji Jadi Sebuah Ilusi yang Mudah Terucap Namun Sulit Dijaga

“Iya, besok aku belikan ya!”

Padahal dalam hati Bung sedang berpikir keras mau cari uang dari mana untuk membelikan permintaan si nona. Gambaran ini jadi satu dari banyaknya janji yang kadang Bung buat. Bukan karena memang ingin, bisa jadi hanya sebagai tameng untuk terlihat keren atau berusaha selamat dari desakan.

Ya kalau ternyata si nona terus menuntut itu wajar sebab Bung sudah menjanjikannya. Sebaliknya jika ternyata masih saja menuntut meski Bung bilang tak bisa, ya tinggalkan, itu artinya doi tak baik untuk Bung.

Sekilah pesan yang terbersit dalam ucapan yang Bung sampaikan memang menjanjikan sebuah kesenangan yang lebih baik. Padahal bukankah tak ada yang bisa menjamin segala sesuatu yang ada didepan?

Baik Kalau Tidak Ada Halangannya, Tapi Kalau Ada? Lantas Bagaimana?

Situasi bisa berubah kapan saja, janji yang tadi Bung rasa mudah akan terasa lebih sulit dari biasanya. Sialnya jika kendala yang hadir justru akan menggagalkannya, itu artinya Bung harus siap dicap sebagai pembual. Bukannya makin dipercaya, ini malah jadi sisi negatif yang membuat Bung dijauhi olehnya.

Berharap yang baik tentu saja tak salah, namun Bung tentu tak punya kuasa untuk menghalau semua yang akan terjadi. Coba Bung ukur dulu kemampuan diri, agar janji yang tersepakati bisa dipenuhi.

Ya Benar Ini Jadi Bukti, Tapi Faktanya Kadang Hanya Ucapan Bibir Semata

Nah ini adalah tameng yang sering Bung pakai untuk membuatnya terkesan. Dengan harapan si nona akan berpikir bahwa Bung memang sungguh-sungguh sayang. Padahal hal lain yang jadi alasannya, tak selalu begitu.

Rencana tentu bukan sebuah kemustahilan yang tak bisa kita lakukan, tapi pada janji ada sebuah ikatan yang memang harus Bung buktikan.

Jangan Bung pikir berjanji adalah salah satu tugas dari mencintai, sebab cinta tak melulu soal memberinya sebuah harapan.

Sialnya Lagi, Janji yang Terlalu Banyak Hanya Akan Membuat Bung Merasa Terbebani

Bung boleh tak setuju, tapi percaya atau tidak inilah yang akan Bung alami. Sepanjang perjalanan Bung mungkin akan tertawa bersamanya, namun setiap kali berbalik, ada sesuatu yang tiba-tiba tergiang.

Terlalu sibuk untuk menepati janji, bisa-bisa Bung lupa bagaimana caranya mencintai. Rasa yang tadinya harusnya tumbuh dengan natural, malah terkontaminasi oleh bualan.

Bung sibuk memenuhi, si Nona sibuk menanti. Lalu akankah ada cinta yang bisa dinikmati? Rasanya tidak!

Diibaratkan dengan Utang, Janji Jadi Sesuatu yang Harus Ditepati

Hal ini tentu jadi indikasi lain, seberapa jantan Bung sebetulnya.

Tak perlu berpikir terlalu jauh, sebenarnya Bung cukup berjanji akan hal-hal yang memang bisa terpenuhi. Jika ternyata apa yang ucapkan jauh dari kemampuan maka akan selamanya menjadi utang.

Okelah hari ini si nona mungkin tak mengungkitnya. Namun situasi seseorang tak selalu sama. Jika nanti ada pertentangan yang cukup menegangkan, jangan heran jika si nona tiba-tiba menyeret kembali angan-angan yang telah lampau namun belum tergenapi.

Oleh Karena Itu Bung Tak Perlu Banyak Berjanji, Cukup Cari Jalan Untuk Memberi Bukti

Terdengar sangat naif memang jika Bung bilang tak akan memberi janji. Namun sebenarnya pemahaman yang kami ingin sampaikan bukan itu Bung. Meminta Bung tak perlu mengumbar janji, bukan berarti Bung lantas tak boleh berjanji. Hanya saja Bung perlu lihat dulu kemampuan Bung untuk menepatinya. 

Jika ternyata tidak? Lantas untuk apa? Alih-alih membuat si nona terkesan, bisa-bisa si nona  malah akan merasa dipermainkan.

Sebab menyampaikan cinta tak melulu dengan hal-hal besar yang tampak mewah. Bung bisa memulainya dari hal-hal kecil yang Bung bisa. Itu jauh lebih berarti dari berpuluh-puluh janji mewah yang tak pernah jadi nyata.

Sikap yang Begitu Malah Jadi Bukti dari Komitmen Atas Cinta yang Sedang Bung Jalani

John Mayer pernah berkata bahwa Love is a verb, yang berarti bagaimana besarnya rasa cinta dan sayang yang Bung punya tak selalu dilihat dari banyaknya janji yang Bung lontarkan. Tapi jangan pula Bung jadi tak mau berjanji, sebab ini jadi indikasi tak gentle yang lebih parah dari si pengumbar janji.

Artikel ini bukan sedang ingin melarang Bung untuk mengumbar janji, namun sekedar mengingatkan bahwa ada porsi yang baik untuk diikuti. Sebab kaum adam sering luput untuk mengukur diri, berpikir bahwa semua hal bisa dilakoninya. Meski faktanya tidak demikiani.

Cobalah Bung pikirkan lagi, apa iya mengumbar janji masih diminati?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Personality

Laki Itu Otot Kawat Tulang Besi, Bukan Wajah Dirawat Lalu Kerjaannya Selfie

Keliru kalau menganggap selfie itu baru ada di era sekarang. Pasalnya swafoto pertama yang tercatat dalam sejarah sudah dilakukan sejak tahun 1839. Ketika itu Robert Cornelius mengambil gambar selfie pertamanya di depan toko lampu milik keluarganya di Philadelphia, Amerika Serikat. Pada saat itu dia menggunakan kamera analog primitif merek Daguerreotype yang diciptakan oleh orang Perancis, Louis Daguerre.

Karena tak ada shutter release jarak jauh pada kamera itu, Robert harus berlari cepat di depan peralatan setelah melepas penutup pada lensa kameranya. Dia membutuhkan waktu antara 3-15 menit untuk memegang kamera, dan memastikan ada cukup cahaya untuk membuat foto yang baik. Hingga saat ini foto itu masih tersimpan di Perpustakaan Kongres di Washington DC.

Tapi meskipun Selfie yang pertama tercatat sejarah itu dilakukan oleh laki-laki, aksi swafoto itu malah dipandang rendah oleh lawan jenis. Setidaknya ini ditunjukan oleh beberapa hasil penetilian. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh situs kencan Zoosk. Dari 40 juta penggunanya, disebarkan survey terhadap 4000 foto laki-laki. Hasilnya? Hanya 10 persen perempuan yang menyatakan tertarik dengan foto yang diambil dengan metode selfie. Kenapa demikian?

Menampilkan Wajahmu Setiap Saat Tak Membuat Nona Terpikat

Pernah ada istilah yang cukup dibicarakan di sosial media soal selfie, yakni “ganteng dikit, cekrek”. Ya itu adalah istilah satir bagi laki-laki yang suka selfie. Mereka yang terlalu percaya diri dengan kualitas wajahnya. Setiap saat, mereka berfoto ria.

Tak salah memang untuk berswafoto, namun tak harus pula bung melakukan selfie setiap hari. Karena nona justru merasakan hal yang aneh ketika pria suka selfie. Apalagi isi sosial medianya hanya berkutat pada foto tentang dirinya. Foto selfie yang terlalu mendominasi memperlihatkan minimnya perhatian bung pada dunia lain selain diri sendiri.

Sebetulnya Nona Jadi Tertarik Berhubungan Serius Kalau Bung Sedikit Misterius

Pria misterius memang lebih memikat. Karena mengundang sejuta rasa penasaran, yang rasa-rasanya perempuan ingin menyelami kehidupannya. Bahkan dalam film-film mulai dari era klasik macam Rebel Without a Cause, tokoh utamanya digemari karena sifatnya yang misterius dan pemberontak.

Apabila bung menjadi karakter yang misterius bukan tak mungkin justru membuat nona penasaran. Sehingga nona bertanya-tanya dalam dirinya, seperti apakah bung sebenarnya. Karena menjadi misterus mungkin bisa membuat nona ingin mengajak bung untuk berhubungan serius. Lebih baik menjadi yang dikagumi, dari pada sibuk mencari atensi dengan selfie.

Karena Dunia Ini Bukan Hanya Soal Selfie Saja, Lebih Baik Berusaha Membuka Jendela Dunia

Dunia ini terlalu luas. Luasnya dunia ini tidak mungkin hanya berpatok tentang dirimu saja bung. Terlebih lagi ketika nona iseng buka sosial media dan hanya menemukan foto selfie di mana-mana. Bagi perempuan, laki-laki yang suka selfie lebih kepada orang yang menyombongkan diri, dan terkesan pamer. Ketika menyadari bahwa memiliki paras wajah yang ganteng. Membuat dirinya selalu berlaku selfie.

Kesombongan seperti itu, akan membuat nona enggan menaruh hatinya kepada anda bung. Jangankah menoleh, melirik saja mungin tidak terlaksana.  Lebih baik mengeskplore diri, lebih berkembang dengan membuka jendela dunia. Karena laki-laki yang pintar justru disukai para wanita.

Dan Penelitian Menyebut, Pria Gemar Selfie Cenderung Psikopat

Penelitian yang dilakukan oleh Ohio State University, juga menemukan, laki-laki pencinta selfie lebih mungkin menunjukkan tanda-tanda menjadi narsis, impulsif, dan menampilkan karakteristik antisosial lainnya seperti kurangnya empati. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Personality and Individual Differences itu melibatkan 800 pria berusia antara 18 sampai 40 tahun.

Para peneliti tersebut menemukan, mengunggah foto diri sendiri lebih dikaitkan dengan menjadi narsis dan psikopat. Jesse Fox, penulis utama studi ini dan asisten profesor komunikasi di Ohio State, mengatakan tidak mengherankan bahwa pria yang mem-posting banyak foto selfie akan menghabiskan lebih banyak waktu menyunting foto mereka. Ini menandakan mereka lebih narsis.

Gagah Tidak Terpancarkan Lewat Hasil Foto Bung

Pernahkah bung melihat beberapa pria yang suka selfie? Maksud kami bukan melihat fotonya. Tapi melihat proses pengambilan gambarnya. Kalau belum pernah menyaksikan secara langsung, coba saja bayangkan dalam pikiran.

Tak ada angin tak ada hujan, laki-laki berbadan tegap mengeluarkan hapenya dan menyalakan kamera depan. Sejurus kemudian menebar senyum tertahan lalu “cekrek”. Setehal itu membuka sosial media, mengupload foto tersebut dengan caption yang ala-ala. C’mon bung, dimana gagahnya laki-laki dalam proses itu?

Mau gagah? Bangun lewat sikap bung! Tunjukan dengan kerja keras. Dan biar orang lain yang mengambil foto bung dan menguploadnya ke sosial media dengan caption kekaguman mereka.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top