Review

Katanya Laki-Laki, Kok Masih Facebookan!

Boleh saja Facebook masih jadi raja sosial media dengan jumlah penggunanya yang menyentuh angka 1 miliar. Tapi harus diakui, prestige menggunakan layanan ini sudah jauh merosot. Masuknya ibu rumah tangga, abg dan para penjual barang harian menjadi salah satu biang keladi penyebab kurang kerennya layanan ini.

Coba bayangkan jika seorang kita sedang hang out bersama kawan sambil menikmati cofee late, kemudian membuka akun Facebook. Seketika di didingnya tampil sederet foto-foto produk plastik tempat makan-minum, sepatu diskonan, dan sejenisnya. Tentunya citra diri maskulin langsung akan akan menurun drastis.

Untuk itu sebelum jauh tertinggal teknologi, ada baiknya kita melirik layanan sosial media alternatif lain yang juga sedang naik daun. Okay mari kita prediksi sosmed yang akan bersinar di 2013 nanti.

Twitter
Sosmed berlogo burung biru ini sudah jadi pesaing terberat facebook. Meski penggunanya belum sebanyak facebook tapi efektivitasnya dinilai hampir setara. Mengandalkan kekuatan teks yang hanya 144 karakter, twitter merupakan menjadi salah satu sumber informasi tercepat diplanet ini.

Kepopulerannya melonjak drastis sejak Obama sukses menjadi presiden Amerika Serikat dengan mengandalkan twitter. Di Indonesia sendiri politisi macam Jokowi juga sudah merasakan efektivitasnya. Tips: Pelajari fungsi follow, Retweet, Reply.

LinkedIn

Ini khusus untuk para profesional. Semula layanannya mirip dengan curriculum vitae, kemudian berkembang dengan fungsi jejaring. Kini penggunannya sudah mencapai 135 juta, dan terus berkembang cepat. Beberapa perusahaan kini tidak menerima lamaran kecuali hanya dengan melihat akun LinkedIn sesorang.

Layanan ini terasa makin dekat semenjak 2011 lalu, perusahaan ini masuk ke Indonesia. Yang harus diperhatikan adalah fungsi utamanya yang untuk berbagi ide, membangun kredibilitas diri dan membentuk lingkaran koneksi yang dipercaya. Tips: Mengingat fungsi utamanya tadi, hindari menggunakan nama akun aneh, dan hanya gunakan nama asli.

Google Plus+

Raksasa internet google merancang Google Plus+ untukmelawan kedigdayaan Facebook. Sosial media ini merupakan penyempurnaan dari Google wave yang gagal total sebelumnya. Plus+ memiliki tampilan yang jauh lebih ringan dan sederhana jika dibandingkan pesaingnya Facebook.

Meski penetrasinya belum seagresif yang diperkirakan, tapi perkembangan pesat OS Android yang juga dimiliki google diduga bisa mendorong pertumbuhan pengguna Plus+ secara siginifikan. Tips: Pelajari fungsi “menambah lingkaran” di Google Plus+ yang serupa tapi tak sama dengan Facebook.

Instagram

Awalnya aplikasi ini eksklusif milik pengguna Apple, sebelum akhirnya muncul di Android. Konsepnya sederhana, layanan ini memungkinkan penggunanya untuk mengedit foto dengan teknis yang sederhana. Fungsi lainnya yang mebuatnya begitu popluer adalah kemampuannya untuk membagi foto yang sudah diedit tersebut.

Para analis memprediksi Instagram akan melesat setelah di akhir 2012 sahamnya dibeli raksasa Facebook. Sayangnya dipenghujung tahun itu pula, Instagram menuai protes dari penggunanya setelah mengeluarkan peraturan kontroversial yang menyatakan akan menjual foto penggunanya.

Meski begitu, Instagram mengaku keliru dengan penerapan ToS baru dan kembali mendapat kepercayaan penggunanya. Tips: Pelajari fungsi follow yang serupa dengan twitter dan ingat untuk tidak mempublikasi foto privat orang lain tanpa ada ijin sebelumnya.

Path

Jika sosial media lain mendorong penggunanya untuk menjalin pertemanan sebanyaknya, Path tampil beda dengan hanya membatasi jejaring hingga 150 orang saja. Tujuannya adalah untuk meberikan keamanan dan kenyaman penggunanya dari gangguan akun yang tidak dikenal.

Jika ingin tampil eksklusif dan membuat jaringan keren terbatas, ini merupakan pilihan tepat. Tips: Pelajari juga fungsi berbagi musik dan film milik path.

MindTalk

Yang satu ini asli buatan anak Indonesia. Adalah Robin Ma’rufi asal wonosobo yang menggagas layanan tersebut. Basis sosial media ini adalah forum dan kelompok. Setiap penggunanya bisa membuat atau bergabung dengan kelompok yang sesuai dengan minatnya.

Salah satu kesuksesan yang berhasil adalah digunakannya MindTalk dalam pembuatan film Demi Ucok. Film yang meraih 8 nominasi FFI ini, digulirkan dengan dana yang dikumpulkan dari sumbangan orang lain. Salah satu media yang digunakan adalah MindTalk dan berhasil mengumpulkan dana hingga Rp250 juta yang akhirnya cukup untuk mendanai keseluruhan film. Tips: Coba dulu bergabung dengan kelompok yang sudah ada sebelum mebuat sebuah kelompok baru.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top