money

Ganti Profesi? Siapa Takut!

Masih ingat bagaimana Michael ‘Air’ Jordan legenda basket NBA memutuskan untuk berpindah profesi menjadi pemain Baseball? Hal semacam ini sejatinya makin lumrah terjadi. Menurut hasil riset AON hewitt pada 2011, ada sekitar 16,11% karyawan di Indonesia yang pernah beralih profesi. Angka ini memang masih lebih rendah jika dibandingkan rata-rata dunia yang mencapai 19,1%.

Perubahan tersebut sangat memungkinkan karena keahlian itu sebenarnya bisa ditransfer dari satu jenis profesi ke profesi lainnya. Sementara untuk faktor yang lebih berperan adalah masalah karakter dan kemauan untuk bekerja keras. Lantas apa yang perlu diperhatikan jika ingin berganti profesi?

Kumpulkan referensi

Sebenarnya setelah kita mendapatkan pekerjaan pertama, seharusnya kita tidak lagi kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang kedua. Karena pekerjaan pertama ini adalah modal kita untuk dapat menunjukan kemampuan bekerja dan mengumpulkan referensi dari orang yang bekerja sama dengan kita.

Nah, jika berminat untuk mengganti profesi, cobalah untuk mencari kawan yang sudah lebih dulu bekerja dibidang yang kita minati dan baru akan masuki tersebut. Akan lebih baik jika ternyata pemberi referensi ini adalah orang yang dulu juga pernah terlibat bekerja sama dengan kita atau bisa saja yang dulu menjadi klien kita.

Masih kesulitan mencari pemberi referensi? Coba buka-buka kontak lama seperti kawan masa kuliah atau sahabat SMA dahulu. Bisa jadi salah satu dari mereka sudah bekerja di bidang yang kita inginkan, dan mau memberikan referensinya.

Mereka yang akan memberikan referensi harus dapat mendeskripsikan gambaran bagaimana nantinya kita bisa dikaitkan dengan bidang baru yang akan kita masuki. Mereka yang sudah paham karakter dan pola kerja kita tentunya tidak akan sulit melakukannya. Toh, nantinya calon pemberi kerja kita yang baru hanya akan menghabiskan maksimal 5 menit untuk melakukan cross check kepada pemberi referensi ini. Dan pertanyaannya hanya akan seputar karakter dan bukan masalah pekerjaan.

ganti profesiCoba untuk freelance

Pepatah rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, sering kali benar! Karena itu jika profesi baru yang akan kita tuju punya opsi kerja lepas alias freelance, masuklah dulu di opsi ini. Dengan begitu kita tidak terburu-buru menceburkan diri dan menyesalinya kemudian.

Rasakan dengan dalam hal-hal apa saja yang akan menjadi tantangan dalam profesi baru ini. Tanyakan dengan sungguh-sungguh dalam diri, apakah secara karakter kita memang cocok ditempat baru itu.

Sebagai contoh, lihat bagaimana juara dunia 7 kali MotoGP Valentino Rossi menjajal balap Formula 1 dan balap Rally ketika musim libur MotoGP tiba. Berulang kali pembalap legendaris ini mengatakan berminat untuk masuk ke F1 atau Rally dunia. Tapi alih-alih segera pindah profesi, ia lebih dahulu mencoba beberapa kali untuk menguji minat dan kesiapannya.

Bersiap menurunkan ekspektasi

Sehebat apapun kita diprofesi sebelumnya, besar kemungkinan kita akan memulai dari nol jika berpindah profesi. Kita harus mengulang kembali pembuktian kemampuan kerja kepada atasan, klien dan rekan kerja baru kita tersebut. Hal ini bisa menimbulkan rasa frustasi seandainya kita masih terikat memori lama dan belum siap dengan keadaan yang baru.

Kembali ke cerita Micahel Jordan. Semasa bermain basket di Chicago Bulls ia seolah menjadi dewa karena kemampuan slam dunknya yang di atas rata-rata. Sebagai point guard basket ia beberapa kali mendapat cincin MPV dan mencatatkan namanya sebagai top scorer. Tapi lihat bagaimana jadinya ketika ia terjun ke baseball? Ia bahkan kerap kali terlihat kesulitan menyesuaikan pukulannya.

Simak juga kisah Tony Fernandes yang sangat gemilang memimpin Warner Music di Asia tenggara, tapi tertatih-tatih ketika memutuskan mendirikan perusahaan penerbangan. Kala itu pria berwarga negara Malaysia ini sama sekali tidak punya pengalaman berbisnis air line. Namun, dengan kesiapannya untuk belajar lagi dari nol, kini maskapai penerbangan Air Asia jadi pemimpin di langit Asia.

[box type=”note” border=”full”] 7 Blunder yang harus dihindari jika memutuskan ganti profesi
1. Tidak punya alasan jelas kenapa harus ganti profesi
2. Tidak siap untuk kembali memulai karir dari nol
3. Ganti profesi hanya karena uang
4. Ganti profesi hanya karena industri yang hendak dituju sedang naik daun
5. Ganti profesi hanya karena tergoda iming-iming pihak lain
6. Gagal melihat sisi positif dan negatif profesi yang baru
7. Tidak punya misi yang jelas tentang tujuan akhir profesi tersebut[/box]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Money & Power

Bagi Bung Pekerjaan Ini Kurang Memikat, Tapi Bagi Orangtua Ini Hakikat

Ada beberapa ranah pekerjaan yang langsung saklek di mata orangtua pasangan. Pekerjaan tersebut biasanya dilihat dari bebet dan bobotnya Bung. Orangtua biasanya punya pandangan tersendiri soal pekerjaan yang bonafid di mata mereka. Dalam imajinasinya, mereka juga membayangkan kalau anak perempuannya akan hidup makmur apabila membangun mahligai rumah tangga dengan calon yang diminatinya (dari segi pekerjaan).

Hasil riset yang dirilis Smart Asset di Amerika, menempatkan ahli statistik sebagai pekerjaan yang paling diminati generasi milenial sebesar 45%,  pengembang web sebesar 38%, analisa riset pasar dan spesialis pemasaran 37%. Hidup sebagai generasi yang digital native alias tidak gagap teknologi membuat pekerjaan dibidang tekonologi menjadi sangat digemari. Tetapi apa yang digemari generasi milenial jelas berbeda Bung dengan generasi X dan Baby Boomers. Kira-Kira apa saja ya Bung pekerjaan yang diminati oleh orangtua si nona?

Menolong Orang Lain Ketika Sakit Adalah Pekerjaan Mulia. Tak Hanya Di Mata Mereka Tapi Juga Di Mata Mertua

Dokter adalah pekerjaan yang masih dipandang tinggi oleh orangtua pasangan. Pekerjaan mulia mengobati orang ini, juga tidak main-main dalam hal pendidikannya yang memang terkenal merogoh kocek dalam-dalam. Maka tak heran, jika jarang ada yang memandang rendah pekerjaan dokter.

Terlebih lagi penghasilan sebagai dokter spesialis saja bisa mencapai 50 juta rupiah. Jelas itu bukan angka yang kecil. Orangtua mana yang tak tergiur melihatnya. Bukan mendiskreditkan orangtua sebagai pihak yang matrealistis ya Bung. Namun rasanya wajar apabila orangtua rela menitipkan anaknya kelak kepada Bung yang berprofesi sebagai dokter.

Fisik Yang Kuat Dan Gagah Dapat Menjadi Daya Tarik. Tapi Semangat Juangnya Buat Negara Mungkin Juga Menarik Ya!

Profesi TNI atau tentara adalah garda terdepan Indonesia dalam menghadapi ancaman dari luar. Siapa saja yang ingin memporak-porandakan kedaulatan, pasti tentara tak tinggal diam. Angkatan bersenjata memiliki kesan gagah dan kuat. Porsi latihan fisik yang dilakukan memang sengaja untuk menumbuhkan jiwa nasionalis Bung. Fisik seorang tentara pun pasti kuat dan terjaga.

Di era orde baru, pekerjaan TNI tak dapat dipandang remeh. Para orangtua pasti mengangkat topi atau hormat pada pekerjaan tentara. Orangtua pun bakal turut bangga apabila Bung memiliki profesi sebagai tentara dan berpangkat panglima. Karena menjaga kedaulatan negara saja bisa, apa lagi kedaulatan rumah tangga. Bukan begitu Bung?

Kerja Di Lapangan Panas-Panasan Tapi Di Rumah Mertua Disanjung-Sanjung. Bung Mau Seperti Itu?

Kerja di lapangan mungkin kurang menyenangkan dibanding kerja di gedung dengan dinginnya AC yang kadang  membuat menggigil. Memiliki kesan panas dan berdebu, sudah identik sekali dengan pekerjaan lapangan, salah satunya pertambangan.

Terbakarnya kulit oleh matahari memang membuat kondisi badan terasa gersang.  Namun kalau berbicara gaji, sepertinya dapat membuat perasaan senang Bung. Pekerjaan ini memang beresiko. Tingkat kesulitan pun juga tinggi. Jadi tak ayal, fresh graduate yang bekerja di bidang ini saja sudah diganjar gaji tinggi. Bisa 2x lipat dari UMR saat ini. Ketika Bung datang ke rumah perempuan kemudian memperkenalkan diri sebagai orang yang bekerja di pertambangan, rasanya jalan lapang untuk meminang pun telah terpampang di depan mata.

Profesi Ini Mungkin Kurang Memikat, Tapi Kalau Orangtua Si Nona Tahu Bisa Jadi Seperti Sahabat Dekat

PNS (Pegawai Negeri Sipil) untuk generasi milenial mungkin kurang terlalu memikat, tapi lingkungan kerja dan besarnya pendapatan menjadikan profesi ini jadi incaran. Data jumlah pendaftar CPNS tahun ini saja tembus sampai angka 1 juta orang. Semua saling bersaing untuk masuk di beberapa kementerian dan lembaga. Kalau dari kacamata orangtua, pekerjaan ini tentu jadi idaman.

Karena dapat menjamin kehidupan dengan adanya tunjangan dan uang pensiunan. Di mata masyarakat, PNS memiliki prestis yang tinggi. Toh orangtua pasangan pasti turut senang apabila sang anak dinikahi oleh PNS, selain bisa menjamin kehidupan, juga dapat meningkatkan kehormatan.

Kalau Berbicara Nasib Memang Sulit Ditebak, Terkadang Profesi Bisa Kalah Dengan Nama Besar Perusahaan

Selain prestisnya profesi sebagai PNS, menjadi pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga tak kalah mentereng. Terlebih lagi BUMN membawahi semua perusahaan besar di Indonesia seperti Pertamina, PLN, Pelindo dan perusahaan maskapai, Garuda Indonesia. Usut punya usut, profesi pegawai di BUMN bakal makmur sejahtera nasibnya.

Orangtua biasanya tidak hanya terkesan oleh besar kisaran gaji yang didapat Bung. Tapi terkesima juga dengan perusahaan tempat bekerja. Apa pun perusahaannya, kalau Bung bekerja di perusahaan BUMN pasti tak terlalu rumit untuk menggapai si nona.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top