Lebih Tahu

Tumbuh Rasa Suka dengan Sepupu, Apakah Boleh Menikahinya?

Menikah dengan sepupu jadi pertanyaan besar yang dicari di google di awal bulan Juni lalu. Tren pencarian kata ‘Menikah dengan Sepupu’ dalam 5 tahun terakhir meningkat pada pekan silaturahmi lebaran. Nah, untuk boleh atau tidaknya, jawabannya ‘boleh’.

Akan tetapi, banyak risiko mengintai apabila seseorang menikahi sepupunya sendiri. Faktor kesehatan dan keturunan jadi dua hal yang dipertimbangkan sebelum bertekad penuh ingin menikahi sepupu sendiri.

Tak lama bersua, kemudian bertemu di saat dewasa jadi alasan timbul rasa ketertarikan. Bahkan ditelisik di Google tren, terdapat tiga topik yang berkaitan dengan pencarian tersebut. Pertama adalah soal kesehatan, kedua hukum dan ketiga topik syariah (hukum islam). Selain risiko yang mengintai, kira-kira hal lain apa lagi yang berkaitan dengan keinginan menikahi sepupu? Bagaimana hukum mengatur pernikahan antar-sepupu?

Negara Tak Melarang Perkawinan Antar Sepupu

Secara hukum negara Indonesia tidak melarang perkawinan antar-sepupu bung. Dijelaskan lewat Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan, isinya perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya.

Beda soal kalau di negara berpenduduk sedikit seperti Islandia, penduduk khawatir secara tidak sengaja menikahi kerabat mereka. Dilansir dari situs Worldmeters, populasi penduduk negara ini Per Juni 2019  sekitar 340.395 orang.

Tentu berbanding jauh dengan Indonesia yang dapat mencapai 200 juta jiwa lebih. Untuk menanggulangi ‘ketidaksengajaan’ terdapat aplikasi bernama Islendinga-App yang mampu memeriksa kekerabatan penduduk Islandia asli.

Praktik Pernikahan Sedarah Sudah Dilakukan Sebelum 1950

Pernikahan sedarah ternyata sebuah praktik pernikahan yang sudah dilakukan sejak lama. Dilansir dari Popular Science, ini dilakukan ketika moda transportasi masih terbatas dan masyarakat cenderung tinggal di tanah kelahirannya.

Bahkan praktik pernikahan ini juga dilakukan beberapa tokoh dunia yang terkenal, sebut saja Charles Darwin dan Albert Einstein. Kedua orang yang sangat berpengaruh dalam dunia teknologi dan biologi ini menikahi sepupu pertamanya. Seperti Darwin dengan Emma Wedgwood, Eintsein dengan Elsa Lowenthal.

Persamaan Genetik Bisa Memicu Masalah Besar

Kesehatan dan keturunan jadi masalah besar dalam pernikahan antar-sepupu. Dapat dilihat dari besar kemungkinan persamaan genetik. Dilansir dari Tirto, persamaan genetik manusia dari persatuan sepupu adalah 12,5%, pada persatuan sepupu pertama, 3,13% pada persatuan sepupu kedua, 0,78% pada persatuan sepupu ketiga, 0,20% pada persatuan sepupu keempat, 0,05% pada persatuan sepupu kelima dan 0,01% pada persatuan sepupu keenam.

Sedangkan pada persatuan sepupu ketujuh hubungan genetik yang dimilik sudah tak berati sama sekali. Masih dilansir di laman yang sama, ternyata perbedaan materi genetik akan melindungi seseorang dari penyakit tertentu. Perbedaan susunan gen dapat membantu mencegah penyakit tersebut tak muncul pada keturunan apabila di salah satu pasangan memiliki penyakit tertentu.

Keturunan Dapat Mengalami Cacat Lahir

Keturunan akan jadi korban yang merasakan imbas dari perniakahan sedarah. Seperti yang dialami Ruba dan Saqib yang diceritakan langsung dalam artikel BBC. Hasil pernikahan sedarah membuat harus kehilangan tiga anaknya, bahkan Ruba, sang istri pernah mengalami enam kali keguguran.

Selain itu risiko seperti cacat lahir atau kelainan bawaan, gangguan pendengaran dini, gangguan penglihatan dini, keterbelakangan mental, ketidakmampuan belajar, perkembangan terhambat, kelainan darah bawaan, kematian bayi, epilepsi, dan kondisi parah tertentu yang tidak terdiagnosis.

Ini disebabkan karena ayah dan ibu memiliki DNA serupa, yang berakibat pada 4 sampai 7 persen anak-anak lahir dari pernikahan dengan sepupu pertama bisa memiliki cacat lahir seperti Ruba dan Saqib.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Kerja Sampai Larut Malam dan Alami Sakit Kepala Konstan Dapat Menyebabkan Stroke

Kasih sayang seorang guru kepada murid memang tak terukur. Waktu istirahat digadai untuk bekerja agar murid dapat jadi siswa pintar di masa depan. Diberitakan China Press, Zhang merupakan seorang guru yang tiba-tiba mengalami stroke saat mengajar. Insiden terjadi dua tahu lalu hingga kini, kemampuan bicaranya belum pulih seutuhnya.

Tipikal pekerja keras seperti Zhang, menyesal karena tidak menjaga kesehatan lantaran sibuk mempersiapkan murid-muridnya menghadapi ujian kelulusan. Bermula dari kebiasaan bekerja sampai larut malam, kurang tidur sampai mengalami sakit kepala akut. Merasa ini hal biasa, ia hanya mengonsumsi obat dan istirahat cukup untuk meredakannya.

Sebelum liburan sekolah tiba, Zhang mengalami sakit kepala konsisten. Mengambil obat untuk mengatasi malah terjadi sebaliknya. Dengan mengalami pusing mual, sang istri menyuruhnya untuk berisitrahat tetapi tidak digubris. Kemudian saat mengajar, Zhang jatuh ke lantai dan dilarikan ke rumah sakit. Kemudian di-diagnosa menderita stroke.

Dilansir dari Verywell Health, dokter yang menangani Zhang mengatakan kalau tak bisa mengabaikan gejala yang tak biasa. Seperti sakit kepala konstan selama hampir satu tahun, ditambah rasa pusing dan mual. Karena sakit kepala gejala umum tekanan darah tinggi dan stroke. Apalagi Zhang tidak tahu kalau sakit kepala yang dialami berhubungan dengan stroke, justru ia menganggap ini masalah kecil

Sedangkan menurut dokter, sakit kepala berkepanjangan, pusing dan mual adalah sinyal tak beres yang dikirimkan tubuh. Seorang pengindap harus memperhatikan sinyal tersebut jangan menganggapnya penyakit biasa atau gejala umum.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Cinta Beda Agama Adalah Pelajaran, Pilihan Sekaligus Konsekuensi

Topik cinta beda agama sangat sensitif. Terutama di Indonesia. Agama hal sakral yang secara lahir tak bisa diotak-atik. Tapi cinta bisa hadir tanpa memandang keyakinan, asalkan kedua insan merasa nyaman, cinta bisa hadir tanpa halangan. Terkecuali orang tersebut berpikir dua kali kalau sulit untuk merealisasi (dibaca : menikah). Banyak tatanan yang didobrak, background keluarga jadi hal vital yang sulit menerima cinta beda agama.

Mungkin kalau hanya berpacaran saja, itu bisa diakali dan diterima. Tanpa perlu meributkan segala sesuatu. Kenapa? karena yang terjadi saat itu adalah satu kalimat klise. ‘Jalanin aja dulu’. Benar, kan? nah sesungguhnya cinta beda agama adalah pelajaran hidup, terkait pilihan sekaligus konsekuensi yang diterima. Kira-kira seperti apakah itu? coba bung simak di bawah ini.

Belajar Menerima Perbedaan, Lebih Sabar Menerima Keadaan

Kalau sudah di tahap pacaran dengan perempuan beda agama. Pasti kalian lebih mengenal keyakinan lain. Sosok disampingmu tidak menyembah apa yang kamu sembah, tidak juga berpatokan halal dan haram seperti yang kamu yakini. Terdapat perbedaan yang membuatmu lebih menghargai. Bahwa tidak bisa melakukan hal yang sudah sepatutnya tidak bisa ia lakukan karena kepercayaan.

Sabar menerima keadaan terjadi dalam momen keagamaan. Kalian sulit membawanya saat lebaran, karena takut ditanya dan mendapat intervensi keluarga. Apalagi dapat wejangan untuk berpisah ketika hati belum rela. Begitu pula sebaliknya, saat natal mungkin ia juga sulit membawamu masuk ke dalam keluarganya. Karena takut akan hal yang sama. Lebih sabar dalam menerima keadaan jadi pelajaran yang dipetik saat cinta beda agama.

Mulai Memperdalam Agama, Mencari Alasan Kenapa Beda Agama Tak Bisa Bersama

Aspek agama dalam kehidupan mungkin tidak terlalu kamu kulik dalam. Ibarat buah, kamu pelajari hanyalah kulit, belum capai isi. Seringnya berbenturan antara kalian dan pasangan, membuat debat semakin hebat. Tak sadar baik bung atau si nona sama-sama mempelajari agama.

Apalagi kalau sudah ‘mantap’ ingin sehidup semati, ingin menikahi tapi tak tahu mana cara yang terbaik. Mulai mempelajari kenapa agama tidak bisa mempersatukan kalian, jadi hal realistis yang dilakukan.

Mengetahui, Kalau Memilih Berarti Merelakan

Cinta atau agama? mana yang bung pilih dari dua pilihan itu? Dua hal sulit, terutama bagi kalian yang religius tapi cinta dengan si nona. Alhasil dilema untuk menetapkan pilihan. Curhat ke kerabat, hasilnya beragam. Ada yang mendukung untuk bertahan, ada juga yang memberi saran untuk iklhas dan percaya keyakinan.

Setidaknya dari sini Bung belajar, bahwa memilih itu berarti merelakan yang satu, kemudian menetapkan yang satunya lagi. Pelajaran ini bisa kalian pahami dalam aspek lain di saat nanti.  Seperti karir. Mulai berpikir secara matang mana yang harus dikalahkan, dan mana yang harus diperjuangkan. Intinya, kalian tidak asal spontan memilih tapi lebih melihat visi ke depan dari yang dipilih.

Mendapat Pelajaran Bahwa Hal Krusial Harus Dibicarakan Sejak Awal

Apabila cinta beda agama ujung perpisahan. Pelajaran yang didapat adalah fokus kepada hal krusial. Psikolog dari International Wellbeing Center Jakarta, Tiara Puspita mengatakan kalau cepat atau lambat, perbedaan keyakinan akan jadi masalah. Tak bisa seseorang santai dulu saat ia memulai hubungan dengan pasangan beda agama. Hal krusial harus dibicarakan sejak awal.

Seringkali kita berpikir jalani saja apa yang terjadi saat ini, toh masih masa pacaran. Belum tentu juga menikah dengan dia, jika terus-menerus menunda untuk membicarakan urusan serius ini, mau sampai kapan hubungan kalian akan terus begitu. Jangan lari dari kenyataan. Cepat atau lambat, perbedaan keyakinan tetap bisa menjadi masalah,” ujarnya dilansir Tempo.co

Mengalah, Memilih atau Mengakhiri

Di point kelima ini adalah konsekuensi. Apa yang harus diterima dari cinta beda agama. Mengalah berarti salah satu dalam pasangan, merelakan keyakinan yang selama ini diemban terbuang demi meyakini keyakinan pasangan. Otomatis mendapat pertentangan keluarga sampai dikucilkan.

Kemudian memilih berhubungan dan komitmen menjalankan pernikahan beda agam di masa depan. Pertimbangannya adalah menjelaskan kepada anak-anak bagaimana ini berjalan, dan apa yang mereka anut. Terakhir adalah mengakhiri hubungan. Melupakan euforia cinta, memilih pasangan sesuai keyakinan dan merelakan dia yang telah bersama.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Pelajari Tanda-Tanda Saat Hubungan Membutuhkan Konseling Pernikahan

Harapan itu selalu ada. Seperti berharap pernikahan berjalan harmonis. Tetapi yang namanya masalah tak mungkin terhindarkan. Jika masalah timbul tak terbendung, sedangkan penyelesaian tak berujung kedamaian, ada baiknya bung mencoba konseling pernikahan. Itu sebuah solusi menyertakan intervensi para ahli.

Berbicara tentang konseling pernikahan memang tak lazim di Indonesia. Namun beberapa metode dari konseling pernikahan sangat efektif kalau diimplementasikan. Hubungan renggang bisa segera erat, seperti pasangan yang baru menikah. Sebelum coba menghubungi konseling pernikahan, kenali dulu tanda-tanda pasangan butuh konseling pernikahan.

Mengabaikan, Mempermalukan Sampai Menghakimi Jadi Tema Pembicaraan Sehari-Hari

Apabila terjadi hal seperti ini dengan pasangan, segeralah melakukan konseling pernikahan. Mengabaikan, mempermalukan, menghakimi dikatakan sebagai bentuk komunikasi negatif. Biasanya hal ini terjadi karena ada satu pemicu yang terbentuk dari masalah-masalah kecil.

Hubungan sudah menjadi toxic, pembicaraan yang ditimbulkan berbentuk hal-hal sifatnya kekerasan emosional. Karena cara membicarakan dalam konteks semacam ini pastilah memakai nada tinggi atau nyinyir. Tentu tak ada yang mampu bertahan di hubungan seperti ini.

Takut Bersuara, Enggan Berbicara

Menjalani pernikahan dengan landasan ‘ogah-ogahan’  adalah seperti judul ini. Takut untuk bersuara. Membicarakan, meminta tolong atau berdiskusi dengan pasangan tak lagi menjadi keharusan. Hingga untuk berbicara saja sudah tidak mau.

Ketika suami pulang bekerja, yang dilakukan langsung tidur tanpa ada obrolan mendalam. Pagi-nya langsung keluyuran bekerja tanpa memberikan salam. Begitupula dengan sang istri. Sampai suatu masalah yang timbul tidak lagi diselesaikan bersama.

Kalau hubungan berada di tahap ini, kalian sudah seharusnya melakukan konseling. Terdapat suatu metode atau terapi terhadap pasangan yang enggan mengobrol satu sama lain.

Terbesit Rencana Untuk Mendua

Mendua atau berselingkuh, apabila sudah terencana adalah sinyal hubungan tidak sehat. Pemicu-nya bisa terjadi karena hubungan sudah tidak berjalan seperti sedia kala. Bertengkar, tidak berbicara satu sama lain, dan ada potensi untuk mendekati lawan jenis lain.

Apalagi kalau perselingkuhan sudah terjalin meskipun baru seumur jagung. Sudah jelas, kalau pasangan membutuhkan konseling pernikahan. Soalnya, kalau diselesaikan secara kekeluargaan, justru akan menimbulkan pertengkaran

Melakukan Hukuman Terhadap Pasangan

Contoh hubungan yang membutuhkan bantuan dari konseling saat pasangan sudah saling menghukum. Hukumannya biasa dengan sikap seperti mendiamkan atau cuek, menjauhkan dari anak-anak, sampai dalam mengambil keputusan apapun tidak melibatkannya. Esensi dari berhubungan adalah berbagi rasa, duka dan bahagia. Kalau sudah seperti ini, jangan merasa tidak terjadi apa-apa.

Soal Berbagi Hasrat Sudah Tak Lagi Sama Bahkan Tak Melakukannya

Rutinitas seks sudah tidak lagi ada. Yang biasanya seminggu dua kali jadi tidak sama sekali. Bung dan pasangan sudah tak aktif seperti dulu. Otomatis ada yang salah dari semua ini. Apalagi kalau dulunya sangat aktif dalam melakukan hubungan badan. Coba bicarakan baik-baik, kalau tidak ada solusi. Mungkin intervensi dari para ahli seperti konseling pernikahan bisa menemukan jalan.

Konseling pernikahan memang jarang di Indonesia. Tapi ini bisa membantu hubungan kembali seperti biasa, dan harapan hubungan harmonis bisa terjaga. Coba cari di situs, atau meminta rekomendasi dari teman. Jangan mudah terpancing ke jurang perceraian. Sesungguhnya berpisah bukan solusi satu-satunya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top