Otomotif

Tak Mau Urus Hal Ini, Jelas Akan Bikin Bensin Motor Boros

Berapa banyak biaya yang kita keluarkan dalam sebulan untuk keperluan mengisi bensin pada motor? tentu jawaban dari masing-masing kita akan berbeda-beda. Tentunya bergantung pada jenis motor yang digunakan dan banyaknya perjalanan yang ditempuh di setiap bulannya.

Memang benar demikian. Namun sesungguhnya tiap jenis motor itu punya konsumsi bahan bakar yang optimal. Sejumlah perawatan dan hal kecil lainnya akan mempengaruhi, dekat tidaknya kita pada kondisi optimal tersebut. Sayangnya, banyak dari kita yang menganggap remeh hal-hal tersebut dan menganggap wajar jika budget bensin kita melonjak.

Tak Cuma Untuk Melumasi Mesin, Oli Juga Sangat Berpengaruh

Pelumas oli yang baik dan sesuai standar pasti akan lebih baik dalam mempengaruhi kemampuan mesin dalam bekerja. Membuat gesekan yang terjadi pada dapur pacu motor akan lebih halus dan mengurangi suhu panas pada mesin. Tentnya ini akan memacu lari motor lebih cepat karena ringan dan tentunya yang akan berujung pada berkurangnya konsumsi bensin. Dan sebaliknya pemilihan pelumas oli yang tidak sesuai dengan rekomendasi pabrikan akan mempengaruhi performa mesin. Jangan heran jika kemudian bensin menjadi boros karena pemilihan oli yang keliru.

Hal lain yang perlu untuk diperhatikan adalah jangka waktu untuk penggantian oli mesin. Sebaiknya dilakukan ketika jarak tempuh sudah mencapai 2.000 – 2.500 km. Lewat dari waktu tersebut juga bisa mempengaruhi cara kerja mesin pada motor. Karena oli yang usianya terlalu lama akan bersifat encer dan tak akan melumasi mesin dengan baik.

Tekanan Udara Pada Ban Motor Bukan Hanya Semata Soal Kenyamanan

Mungkin terdengar sepele tapi nyatanya tekanan udara yang kurang berpengaruh pada performa mesin dan konsumsi bahan bakar. Kurangnya tekanan udara pada ban akan membuat lari motor lebih berat. Nyatanya tekanan udara pada ban yang kurang mampu membuat pemakaian bensin lebih boros hingga 10% – 15%.

Sehingga bensin yang tadinya kita perkirakan akan bertahan untuk seminggu tiba-tiba sudah habis dalam waktu 3 hari hanya karena ban motor yang kurang udara. Untuk itu menjaga tekanan udara pada ban adalah hal yang perlu kita perhatikan agar pemakaian bensin lebih hemat lagi. Selalu pastikan ban dalam keadaan optimal dan tidak kurang udara.

Ganti Serta Bersihkan Busi Pada Rentang Waktu Yang Dianjurkan

Ini adalah salah satu komponen paling penting yang mampu menentukan hemat atau tidaknya konsumsi bensin pada motor. Mesin bisa bekerja karena adanya pembakaran yang dipicu oleh percikan api dari busi. Nah, pemakaian busi yang sudah melebihi waktu yang dianjurkan akan membuat pembakaran tak sempurna, hingga menuntut pemakaian bensin yang lebih banyak.

Maka dari itu perhatikan waktu penggantian busi ketika motor sudah mencapai jarak tempuh antara 6.000 – 7.000 km. Karena jika sudah lebih dari itu dapat dipastikan bahwa ini akan mempengaruhi performa mesin dan pemakaian bensin. Selain itu perhatikan pula kebersihan busi yang kita pakai. Sebab bila elektroda busi sampai diselimuti kerak, bisa menurunkan kualitas percikan busi. Serta jangan lupa pula untuk mengatur kerenggangan elektroda busi sesuai spesifikasi yang dianjurkan oleh pabrik.

Perhatikan Kondisi Pelek dan Pengaturan Kopling

Hal lain yang sering mempengaruhi beratnya laju motor adalah kondisi pelek pada motor, untuk itu kita perlu melakukan pengecekan pada pelek motor secara bertahap sesuai waktu yang kita tentukan. Perhatikan kebersihan roda serta kemampuan berputarnya, laju motor yang berat biasanya dikarenakan bearing roda yang sudah aus.

Selain itu pilihan cara untuk pengaturan kopling pada motor (yang mungkin memakai kopling) juga berpengaruh pada konsumsi pemakaian bensin. Penyetelan kopling stel pada motor jangan terlalu sensitif, artinya saat tuas kopling ditekan, gigitan kampas kopling jadi cepat ngelos. Dimana hal ini akan membuat kopling mudah selip saat gas dipelintir serta kondisi motor yang jadi tertahan tapi putaran mesin malah meninggi. Kita harus memastikan bahwa kondisi kampas kompling masih bisa berfungsi dengan baik jika ternyata sudah mulai tidak baik segeralah untuk menggantinya dengan yang baru.

Hindari Bobot Serta Aksesoris Yang Berlebihan Pada Motor

Rasanya ini adalah sesuatu yang wajar karena biar bagaimanapun setiap motor telah dirancang dengan beban maksimal yang memang sanggup untuk beban bawaan tertentu. Jika ternyata motor kita sering mengangkut beban bawaan yang melebihi kapasitas jangan heran jika konsumsi bensinnya juga akan lebih boros.

Karena beban yang berat akan memaksa motor untuk mengeluarkan tenaga dan laju yang juga lebih berat lagi, disamping itu kita juga patut untuk memerhatikan pemasangan aksesoris pada body motor yang kita gunakan. Hadir dengan desain dan komponen yang telah ditentukan oleh pabrik sudah membuat motor tersebut layak untuk dipakai sehingga seharusnya kita tidak perlu lagi untuk menukar dan menambah modifikasi pada motor demi menjaga beban bawaannya.

Sesekali Gunakan Bahan Bakar Beroktan Tinggi

Meski terdengar aneh karena harganya justru lebih mahal tapi pilihan ini dipercaya mampu mengurangi pemakaian bensin yang lebih sedikit. Karena penggunaan bensin setingkat Pertamax atau Pertamax turbo dipercaya lebih irit daripada penggunaan bensin premium biasa.

Ini tak lain karena penggunaan pertamax mampu membuat pembakaran lebih besar daripada menggunakan premium bensin biasa. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah penggunaan pertamax juga akan membuat tarikan lebih enteng dan mesin menjadi selalu pada keadaan prima daripada menggunakan premium. Dengan laju yang ringan dan enteng tentu akan membantu mesin lebih hemat dalam pemakaain bahan bakar.

Dan Yang Terakhir Adalah Mengubah Cara Kita Berkendara

Point paling penting dari semua hal diatas adalah bagaimana cara kita dalam berkendara, karena semuanya hanya akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan cara berkendara yang tepat. Beberapa diantaranya adalah kebut-kebutan dijalan, menarik gas mendadak setelah motor berhenti dan menarik rem mendadak saat laju motor masih cukup kencang.

Sebaliknya jika kita jalankan motor dengan tenang dan beraturan, mengurut gas perlahan-lahan waktu berakselerasi, memposisikan perseneling pada kondisi kecepatan dan putaran mesin yang pas akan lebih membantu kita untuk menghemat bensin yang akan dipakai oleh motor.

Karena intinya semuanya telah diatur dengan standar yang sesuai dari pabrik, pakailah motor sesuai dengan aturan yang memang dianjurkan untuk pemakaian yang lebih hemat tentunya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Merasa Kaya Padahal Sebetulnya Kere, Ini Cirinya Bung!

Faktanya ada orang yang tak menyadari kalau mereka sebenarnya masih miskin. Bung sendiri bagaimana? Walau kaya miskin itu relatif, tapi sesungguhnya ada patokan jelas yang bisa membedakan apakah seseorang itu termasuk miskin atau tidak. Supaya tak terjebak ilusi yang membuat diri merasa kaya, coba simak beberapa cirinta berikut ini.

Bila Kehilangan Pekerjaan, Maka Tabungan Bung Tak Cukup Sebagai Biaya Hidup Setidaknya untuk 3 Bulan ke Depan

Tanda pertama kalau finansial Bung masih bermasalah adalah bila saldo tabungan Bung selama ini tak cukup untuk menopang hidup Bung selama setidaknya tiga bulan ke depan, bila Bung kehilangan pekerjaan sewaktu-waktu.

Sementara mereka yang sudah mengalami kebebasan finansial, sekalipun mendadak tak punya kerja di hari ini juga, ada dana cadangan yang sudah mereka siapkan sehingga tak perlu khawatir memakai uang tabungan. Tak banyak orang yang memikirkan soal hal ini. Ya, memang hanya orang-orang kaya yang sudah menyiapkan ‘dana darurat’ untuk kehidupan mereka.

Bung Masih Kesulitan Membayar Berbagai Macam Tagihan Pokok

Faktanya, masih ada tagihan yang perlu Bung lunasi. Entah tagihan telepon, listrik, air, dan semacamnya. Bahkan ada kalanya Bung menunda pembayarannya karena memang anggaran untuk membayar hal tersebut sedang dipakai untuk membiayai tagihan lainnya. Nah jika Bung belum bisa membayar tagihan-tagihan biaya hidup ini, maka Bung bisa dipastikan masih miskin

Saat Belanja, Bung Masih Terbuai dengan Rayuan Potongan Harga

Bung, masih sering memanfaatkan diskon atau voucher saat berbelanja? Atau masih sering terbuai diskon dan akhirnya beli barang padahal belum tentu Bung butuh barangnya juga. Terperdaya dengan diskon adalah kelemahan yang dimiliki mereka yang belum memiliki kebebasan finansial. Coba ingat lagi, kapan Bung belanja hanya karena melihat barang tersebut murah harganya?

Begini Bung, tak ada yang salah dengan memanfaatkan diskon. Tapi pola pikir ini sebaiknya segera Bung ubah bila memang mau melatih diri jadi orang sukses. Orang sukses bukan menghambur-hamburkan uang saat melihat diskon. Mereka fokus pada cara mereka menaikkan pendapatan dan memanfaatkan uang yang ada demi mendapat uang yang lebih banyak.  

Bung Masih Sering Mengonsumsi Makanan Cepat Saji

Memang tak ada yang salah dengan mengonsumsi makanan cepat saji. Tapi jangan lupakan urusan nutrisi apalagi makanan bernutrisi dibutuhkan tubuh setiap harinya. Nutrisi adalah bahan bakar untuk beraktivitas, Bung. Makanan cepat saji hanya mengandung sedikit nutrisi. Efeknya, kalau tubuh Bung tak sehat, maka produktivitas pun berpengaruh, bahkan Bung jadi tak fokus pada pekerjaan. Daripada biasa jajan makanan cepat saji, lebih baik latihan masak saja Bung.

Saat Orangtua Meminta Dibelikan Sesuatu, Bung Masih Pikir-pikir untuk Memenuhinya

Bukan Bung tak sayang orangtua. Tapi memang keadaan finansial yang tak mendukung ya Bung? Jauh di lubuk hati Bung tentu Bung maunya memenuhi keinginan orangtua. Tapi tak usah bersedih hati bila Bung memang harus menunda keinginan tersebut. Setidaknya, jadikanlah hal tersebut sebagai motivasi agar Bung bisa memenuhi permintaan tersebut suatu hari nanti.

Di Hari-hari Tertentu, Bung Masih Kekurangan Pakaian Dalam dan Kaos Kaki

Prinsip hidup orang kaya adalah membuat diri mereka nyaman. Sudahkah Bung berpikir demikian? Urusan sederhana seperti jumlah pakaian dalam dan kaos kaki saja rasanya masih kurang ya Bung. Kebersihan dua barang ini pun masih dipertanyakan. Sementara mereka yang sudah mapan, percayalah, tak ada yang namanya membuka lemari lalu kehabisan celana dalam dan kaos kaki.

Bung Masih Belum Bisa Lepas dari Kecanduan akan Barang Tertentu

Bung, coba pikirkan lagi, apakah Bung masih memiliki kecanduan terhadap satu hal tertentu yang belum bisa dilepaskan sampai hari ini? Ini salah satu tanda Bung belum bisa masuk golongan orang kaya. Begini, orang kaya adalah orang yang suka kebebasan. Mereka tak mu dikontrol oleh sesuatu bahkan oleh orang lain. Mungkin memang setiap orang punya kesukaan terhadap sesuatu, tapi tak semuanya bisa mengatasi rasa sukanya itu agar tak jadi kecanduan.

Apapun yang sifatnya berlebihan, tak baik kan Bung? Orang yang sukses biasanya sudah memiliki pola pikir bahwa mereka sampai melakukan kesalahan yang tak seberapa tapi efeknya besar untuk hidup mereka.

Kalaupun Punya Mobil, Usianya Sudah Lebih dari 10 Tahun

Untuk urusan mobil, orang kaya mengerti kalau memiliki kendaraan dengan fitur terbaru bukan semata prestis, tapi memang sangat menguntungkan mereka karena bisa memberikan kenyamanan sekaligus menjanjikan performa yang baik. Tapi kali ini, Bung belum bisa menyamai gaya hidup mereka. Alih-alih beli mobil baru, seseorang belum bisa dikatakan kaya bila usia mobilnya sudah lebih dari sepuluh tahun.

Bung Masih Berharap Kelak ada Dana Pensiun dari Pemerintah

Orang sukses punya prinsip untuk tak berharap pada pihak manapun. Sementara orang dengan mental miskin sejatinya selalu berharap datangnya bantuan dari orang lain demi melepaskan diri dari jerat masalah finansial yang menderanya.

Contoh nyatanya, bila Bung masih berharap di masa pensiun kelak ada dana pensiunan atau pemerintah yang mau memberi tunjangan pensiun, berarti Bung masih belum bisa dikategorikan sebagai golongan orang kaya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Tingkah Polah Orang-Orang yang Pura-Pura Kaya

Ironisnya ya Bung, segelintir orang menolak fakta kalau memang harta mereka belum seberapa. Alih-alih memperbaiki kasta, ada yang memilih masuk golongan pura-pura kaya. Mereka menghidupi imajinasi dengan banyak sesumbar. Kalau Bung jeli, mudah sekali mengenali tipikal orang yang demikian. Salah satunya tentu, dia kelihatan banyak bicara padahal tak punya apa-apa.

Orang yang Ngaku Kaya, Memuja Merek Setinggi Langit Bukan Karena Kualitas

Ya, mereka lebih peduli pada imej yang dimiliki merk tersebut. Katakanlah sebuah sepatu dengan merk terkenal. Mereka yang ingin terlihat kaya akan menjadikan merk tersebut sebagai ‘tameng’. Alih-alih memahami kualitas dan mengutamakan kenyamanan, golongan orang-orang ini justru jumawa karena sudah ‘sanggup membeli’. Tujuannya, tentu berharap dapat afirmasi dari sekelilingnya atas kesanggupannya itu.

Nah, untuk golongan yang benar-benar kaya, ihwal merk adalah urusan kesekian. Yang penting, barang  tersebut berkualitas dan nyaman dipakai. Itulah kenapa beberapa barang dengan merk kelas atas justru kelihatan memiliki tampilan yang membosankan dan itu-itu saja.

Merek pengenalnya biasanya hanya tampil kecil nan tersembunyi. Ini karena para produsen mengerti pasar. Mereka hanya akan memproduksi barang untuk kalangan sendiri yang tak akan dipahami oleh golongan yang hanya mengglorifikasi sebuah merk.

Ngaku Kenal dengan Banyak Orang Besar Demi Terlihat Gahar

Bung pernah kan ketemu dengan orang-orang semacam ini? Mereka entah kenapa suka dan piawai sekali membangun cerita seolah-olah mereka kenal akrab dengan orang besar seperti pejabat atau selebritis. Padahal kita sama-sama tahu ya Bung, hal tersebut hanya omong kosong belaka.

Percayalah, orang yang benar-benar kaya dan punya banyak koneksi hebat tak akan sesumbar mengenai teman-teman dekat mereka. Buat orang kaya betulan, privasi justru nomor satu.

Entah Mengapa, Lawan Bicara Akan Mudah Bosan Berinteraksi dengan Orang yang Pura-pura Kaya

Bung, kasta mungkin bisa dimanipulasi. Tapi kelas dan perilaku tak bisa dibuat-buat. Orang yang pura-pura kaya biasanya tak disertai kemampuan yang cakap untuk membuat lawan bicara mereka percaya 100 persen dan tahan untuk berinteraksi terus dengannya. Ini karena bahasan mereka tak bisa meluas.

Mereka terjebak pada topik membangun imej kaya sehingga yang dibicarakan selalu mengenai uang dan kekayaan. Tak ada yang lebih menyenangkan selain pamer kepada lawan bicara. Padahal, orang kaya raya betulan tak akan banyak sesumbar mengenai uang yang mereka hasilkan.

Dia yang Mau Dicap Sukses, Selalu Ingin Kelihatan Punya Proyek Besar

Orang yang pura-pura sukses selalu membicarakan sesuatu besar nan potensial yang sedang ia kerjakan. Memang, mereka memiliki rencana. Hanya saja, mereka tak punya konsistensi dan disiplin diri yang tinggi. Hal ini membuat potensi nan besar itu akhirnya tak bisa membawa mereka benar-benar naik kasta. Proyek besar yang dikerjakannya sekarang tak dibarengi dengan perencanaan matang untuk jangka waktu lima sampai sepuluh tahunan.

Sementara yang benar-benar sukses biasanya adalah orang yang mau bekerja dari nol. Mereka adalah orang-orang yang punya fokus besar dan disiplin tinggi pada satu hal yang mereka kerjakan sejak lama dan tahu apa yang mereka kerjakan bahkan bisa melihat potensinya di masa mendatang. Yang membedakan orang yang suksesnya hanya pura-pura dengan yang sukses dari lama adalah konsistensi dan komitmen.

Lucunya, Mereka Tak Suka Bila Merasa Tersaingi

Bung, coba perhatikan. Orang yang pura-pura kaya biasanya ekspresinya berubah bila bertemu dengan orang yang jauh lebih kaya pengalaman dan sudah merasakan asam garam. Dalam sebuah percakapan, orang yang pura-pura kaya cenderung ingin terus menerus menguasai percakapan dan berusaha mengembalikan suasana agar topik dan arah pembicaraan kembali berbicara tentang kehebatannya.

Sementara mereka yang benar-benar kaya justru lebih sering bertanya daripada berbicara tetang diri mereka sendiri. Mereka selalu tertarik untuk mendengarkan cerita lawan bicara mereka. Jelas sekali perbedaannya, kan?

Urusaan Pekerjaan, Orang yang Pura-pura Kaya Selalu Mencari Nama yang Fancy untuk Jabatan Mereka

Memang ada beberapa pekerjaan yang sejatinya sudah punya nama pasti, namun dipercantik supaya orang lebih mengapresiasi pekerjaan atau jabatan tersebut. Nah, situasi ini yang dimanfaatkan mereka yang suka panjat sosial sekaligus ingin terlihat hebat di mata rekanannya.

Bukan hanya gelar akademik yang bisa dimanipulasi, jabatan di kantor pun dilihat semenarik mungkin supaya kelihatan ‘wah’. Kantornya memberi sebutan jabatan “sales” misalnya, maka si pura-pura kaya akan bilang jabatannya “Business Development And Relationship Maintenance Manager”

Mereka yang Pura-pura Kaya Belum Tentu Punya Banyak Tabungan

Urusan uang simpanan, ini jadi tantangan besar untuk golongan pura-pura kaya. Alih-alih mengumpulkan uang dan investasi saham, mereka memilih berinvestasi pada penampilan. Ini karena sejatinya mereka belum mengerti cara mengatur uang, yang mereka pahami hanya memakai, memakai, dan memakai, Bung.

Seiring berjalannya waktu, uang pun habis dan mereka perlu uang, maka mau tak mau berhutang. Sementara yang benar-benar kaya, urusan tabungan tak perlu ditanya.

Orang yang Benar-benar Kaya, Punya Kelasnya Tersendiri

Karena memang sudah punya ‘taste’, orang yang sudah kaya dari sananya biasanya mengerti nilai sebuah benda. Tidak hanya untuk jangka waktu sebentar, tapi beberapa waktu ke depan. Prinsip ini yang belum tentu dipahami orang yang pura-pura kaya, mereka terjebak pada tren yang berkembang dan mengikutinya.

Alih-alih menciptakan dan memili ‘taste’nya tersendiri, mereka terlalu takut untuk ketinggalan sesuatu yang sedang hits. Ya, orang dengan tipikal seperti ini bisa jadi mengidap FOMO alias Fear Of Missing Out.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Oke, Ini 9 hal yang Perlu Kita Lakukan Saat Kaya Mendadak

Kaya mendadak tak cuma penghias cerita fiksi, sebab hal itu sangat mungkin terjadi di dunia nyata. Mulai dari menang judi bola, dapat warisan nenek moyang sampai urusan kaya mendadak akibat dapat gusuran tanah yang terkena proyek pemerintah. Apapun itu, sebenarnya selalu ada peluang untuk bisa kaya mendadak. Pertanyaannya, bila Bung dihadapkan dengan situasi yang demikian, sudah siapkah mental Bung untuk menghadapinya?

Masalahnya, banyak orang yang tiba-tiba bisa punya banyak uang tapi tak diiringi dengan mental untuk menghadapi perubahan seiring datangnya uang tersebut. Alih-alih sejahtera sampai tujuh turunan, yang terjadi justru lebih sering uang yang tiba-tiba datang habis begitu saja. Untuk itu, pastikan dulu Bung siap melakukan 9 hal ini bila sewaktu-waktu kaya mendadak.

Situ OKB? Jangan Tergoda Untuk Pamer

Hal paling norak yang dilakukan para OKB (Orang Kaya Baru) adalah pamer ke semua orang. Padahal hal paling penting adalah tetap utamakan privasi. Tak usah pamer atau memberitahukan banyak kolega kalau finansial Bung sekarang sedang ‘naik level’. Prioritas utama saat Bung memiliki banyak uang adalah soal privasi.

Bila Bung justru memamerkan dengan jelas keberadaan uang ini yang tiba-tiba mengubah hidup Bung, maka siap-siaplah untuk menyambut kedatangan ‘teman-teman palsu’ secara bertubi-tubi. Besar kemungkinan teman-teman macam ini yang akan menghabiskan duit kita secara cepat. Jadilah bijak, biarkan sekeliling Bung tahu bila waktunya memang sudah tepat.

Lunasi Dulu Semua Hutang Bung, Jangan Menunda untuk Prioritas yang Satu Ini

Ada banyak orang yang terlanjur terlena dengan uang yang dimilikinya sehingga ia tak keberatan memakainya untuk belanja banyak hal yang tak perlu. Padahal, prioritas lainnya saat Bung mengantongi banyak uang adalah lunasi dulu semua hutang Bung. Perasaan lega karena hutang lunas jauh lebih menyenangkan dibanding berbelanja barang mahal tapi setoran hutang masih mengintai. Hal penting lainnya, usahakan untuk tidak berhutang lagi ya Bung.

Kaya Mendadak Bukan Alasan yang Tepat Bung Memilih Keluar dari Pekerjaan

Ini memang salah satu godaan paling luar biasa. Terbayang muka bos yang menyebalkan itu jika kita tiba-tiba menyatakan diri ingin resign karena sudah kaya raya. Tapi, Janganlah jadi pribadi yang terburu-buru.

Tak usah keluar alias resign dari pekerjaan yang Bung lakoni sekarang. Justru dengan memilih keluar seolah-olah Bung tak perlu lagi bekerja dan gaji dari tempat Bung bekerja sekarang, bisa jadi ini adalah sumber kekacauan pertama yang berpotensi membuat Bung bangkrut mendadak di masa depan.

Dari sejumlah penelitian ditemukan, tidak ada orang yang betah tidak melakukan aktivitas apapun. Bahkan orang paling malas sekalipun lekas bosan kalau tak punya kegiatan. Sekarang bayangkan kalau Bung resign dan tiba-tiba tak punya aktivitas, apa yang akan Bung lakukan? Mencari aktivitas mulai dari jalan, berbelanja, liburan, menjalankan hobi dan hal-hal lainnya yang jelas-jelas akan menguras kekayaan.

Simpan Uang Bung dan Diamkan Setidaknya Selama Enam Bulan

Mendiamkan uang selama enam bulan kelihatannya terlalu lama? Tidak juga Bung. Justru Bung dianjurkan melakukan hal ini karena Bung perlu memproses perubahan yang terjadi dengan sebaik dan sebijak mungkin seiring datangnya uang tersebut. Percayalah, sekarang ini pasti Bung merasa setiap hal dalam hidup Bung berubah seketika.

Padahal sejatinya yang berubah hanyalah kondisi finansial Bung, sementara karakter dan pengendalian diri Bung tetap sama. Jangka waktu selama enam bulan akan membuat Bung belajar mengontrol diri terhadap keinginan yang sifatnya impulsif. Mungkin akan ada kejadian menarik nan dramatis. Yang penting, nikmati saja masa-masa itu selama kira-kira enam bulan lamanya.

Mencari Instrumen Investasi yang Tepat Seharusnya Pun Sudah Masuk dalam Daftar Prioritas yang Ingin Bung Penuhi

Investasi jelas perlu. Uang yang Bung miliki anggap saja sebagai sebuah tunas kecil yang perlu ditanam sehingga ia nantinya tumbuh jadi pohon yang kokoh. Investasi pun perlu karena disinilah Bung belajar rasanya jadi orang kaya. Terlebih bila Bung tak terbiasa ‘menanam uang’, maka investasi adalah tempat terbaik untuk belajar lebih bijak lagi mengendalikan uang.

Kuncinya, pastikan Bung memiliki perencana atau penasehat keuangan yang akan mengarahkan Bung pada instrumen investasi yang tepat serta mengajarkan konsep kalau uang adalah sesuatu yang bergerak. Ia bisa tumbuh, bak sebatang pohon. Belajarlah memakan buah (hasil investasi) dari pohon tersebut. Dan bukan terburu-buru menebang pohonnya (mengambil modal).

Jangan Cari Kemewahan, Justru Carilah Kenyamanan

Sekalipun ada istilah yang mengatakan semua bisa dibeli dengan uang, tapi tetapkan batasan pasti pada diri Bung. Pasti ada keinginan dalam diri untuk berbuat impulsif mencari kemewahan seperti yang sudah Bung idam-idamkan sejak lama. Tak usah menuruti nafsu impulsif ini Bung. Jika hendak beli rumah, carilah yang sekiranya nyaman.

Tak perlu mencari rumah di lingkungan old money alias mereka yang kaya raya sejak lama. Justru beli rumah di lingkungan yang demikian tak akan menguntungkan Bung. Banyak biaya tambahan yang akan dibebankan sepanjang tahun. Dan itu lambat laun hanya akan membuat Bung kembali berhutang.

Siapa Bilang Saat Banyak Uang Harus Baik Pada Teman?

Maksudnya kali ini, Bung dianjurkan untuk tak usah menginvestasikan apapun pada bisnis temanmu atau meminjamkan uang padanya. Justru hal in akan membuat privasimu jadi terancam dan orang-orang tahu kalau kamu punya banyak uang. Bung dijadikan incaran oleh mereka yang punya banyak rencana bisnis, hutang besar, suntikan dana, bahkan butuh modal secara cuma-cuma.

Apalagi semua pakar bisnis tahu bahwa 9 dari 10 bisnis baru itu pasti bangkrut. Jadi alau Bung memberi modal kepada kerabat atau teman kemudian bisnis tersebut bangkrut, hal itu bukan tak mungkin akan merusak hubungan baik yang telah terjalin selama ini.  

Investasi Lainnya yang Perlu Bung Lakukan: Investasi Kesehatan

Ya, tetap fokuslah jaga kesehatan. Dengan jumlah uang yang cukup besar di tabungan Bung, mungkin Bung berpikir saatnya menikmati hidup selagi masih diberi umur. Tapi jangan lupakan urusan kesehatan. Bung perlu lakukan full medical check up untuk memastikan kondisi tubuh Bung, dan mulailah untuk memperhatikan kesehatan dimulai dari memilih makanan yang konsumsi dan cari cara untuk semakin membuat diri jadi sehat. Untuk apa kaya tapi tak didukung tubuh yang sehat? Ujung-ujungnya tetap menderita, Bung.

Jangan Selingkuh Atau Buru-buru Cari Pasangan Baru

Membaiknya urusan finansial seharusnya bisa mempererat hubungan keluarga atau relasi suami istri yang sempat berselisih paham. Tapi kenyataannya tak demikian, justru banyak yang menganggap uang bisa membeli segalanya. Termasuk pasangan baru. Bila sudah begini, tandanya bukan Bung yang mengendalikan uang, tapi uanglah yang mengendalikan Bung.

Selingkuh dari pasangan hanya akan mengantarkan Bung pada masalah baru dan awal-awal kehancuran hubungan dan finansial. Coba bayangkan pasangan baru yang Bung temui ketika sudah punya uang besar kemungkinan gaya hidupnya juga tak sesederhana pasangan yang dulu ikut berjuang di sebelah Bung bukan?

Nah, untuk itu, menjadi kaya mendadak memang perlu mental untuk siap pada perubahan di depan mata. Semakin banyak uang yang dimiliki, semakin banyak orang yang akan menjadikan Bung sebagai target. Kini orang-orang akan berpikir bagaimana caranya meraup uang yang Bung miliki. Ya, orang-orang bisa jadi jahat sewaktu-waktu.

Nyatanya, punya uang adalah suatu pekerjaan besar. Jika Bung kira hidup akan lebih mudah saat punya uang, sejatinya tidak juga. Bisa jadi satu masalah selesai, justru muncul masalah lainnya. Tapi dengan memiliki mental yang siap pada perubahan, percayalah, jadi kaya mendadak justru akan terasa menyenangkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top