Lifestyle & Fashion

Tim Garuda Mau Mencontoh Tim Panser, Tapi Kok Tanggung Ya?

Sepak bola Indonesia baru-baru ini ingin mencontoh sepak bola Jerman dengan membuat bank data pemain yang komprehensif, yang lahir dari tahun 2005 sampai 2007. Bakat-bakat muda tersebut akan disaring oleh PSSI untuk dimonitoring dari tahun ke tahun, kemudian perkembangannya akan dicatat dari segi fair play, injury dan track record. Pemain-pemain tersebut nantinya hanya diawasi saja, tidak dibentuk. Hal itu dilakukan agar sepak bola Indonesia mampu unjuk gigi di Olimpiade 2024.

Hal yang dilakukan oleh PSSI sebenarnya tidak ada yang salah. Bagus malahan, dengan demikian akan ada pelatih macam Indra Sjafri yang dimudahkan untuk mencari bakat sampai ke pelosok Indonesia. Namun terlalu tanggung kalau hanya mengikuti satu sistem saja. Lebih baik, hal yang diterapkan Der Panzer tersebut, dicontoh dari semua aspek dan dimaksimalkan dengan baik.

Ketika terpuruk di Piala Eropa tahun 2000, Jerman mulai berbenah soal sepak bola. Banyak hal yang dilakukan oleh negara yang sempat terpecah menjadi dua bagian tersebut, memaksimalkan pemain muda salah satu contohnya. Kalau Indonesia mau mencontoh, alangkah baiknya dari semua sisi agar tidak terlalu tanggung. Karena kalau hanya mencontoh soal bank data yang komprehensif tanpa didukung iklim kompetisi yang baik, rasanya terlalu sulit.

Pemain Muda Adalah Nafas Sepak Bola Setiap Negara Bung

Sebenarnya pembenahan pemain muda di Indonesia sudah cukup baik apabila di lihat dari segi aspek U16 dan juga U19, kedua tim tersebut memiliki prestasi yang membanggakan. Apa lagi pemain berbakat Indonesia, Egy Maulana Vikri, dapat masuk dalam calon bintang muda terbaik atau wonderkid yang dilansir The Guardian tahun lalu. Namun, dari segi kompetisi usia muda rasanya kurang begitu maksimal, tidak seperti Jerman.

Jerman menghabiskan 20 juta Euro untuk pembinaan pemain muda meliputi penyelenggaraan turnamen regional di level junior dan pembangunan pusat pelatihan di banyak daerah yang dimulai dari usia 10 tahun. Selain itu, klub-klub Jerman juga mulai mengikuti jejak federasi dengan membuat akademi pemain muda. Sehingga lahir pemain seperti Mario Gotze,Thomas Muller dan Andre Schurrle yang terlahir dari 3 akademi berbeda (Dortmund, Munchen, dan Leverkusen).

Lebih Baik Federasi Mengatur Keuangan Klub, Dari Pada Klub Berusaha Mandiri Tapi Hanya Teori

Tidak hanya soal pembinaan pemain muda saja yang difokuskan oleh Jerman, keuangan klub pun juga diatur dengan ketat. Federasi Sepak Bola Jerman (FDB) paham bahwa keberadaan klub harus tetap dipertahankan. Karena bila tidak diatur, klub bisa bangkrut yang berimbas kepada kompetisi yang tidak lagi kompetitif dan wadah pembinaan pemain muda juga bisa berkurang. Semua klub Jerman dibatasi utangnya sampai 30 juta poundsterling.

Sedangkan di Liga Indonesia, keuangan klub masih diatur secara mandiri oleh klub itu sendiri. Hal tersebut banyak berakibat buruk, seperti gaji pemain yang tidak dibayar. Sampai-sampai pemain secara solidaritas membentuk suatu badan untuk menjembatani hak-hak pemain yang tidak dipenuhi oleh klub, yang dikenal dengan nama APPI (Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia). Seharusnya untuk soal keuangan klub, PSSI bisa bersikap seperti Federasi Sepak Bola Jerman (FDB), sebab kondisi klub-klub Indonesia belum cukup aman secara keuangan.

Talenta Lokal Juga Nggak Kalah Saing Dengan Pemain Asing Lho

Sumber : Bundesliga.com

Untuk pemain lokal memang kurang begitu maksimal dalam beberapa posisi di Indonesia. Terutama dalam posisi striker, karena rata-rata posisi penyerang selalu diisi oleh pemain asing. Hal tersebut dapat mematikan kreatifitas serangan yang berimbas pada tim nasional. Berbeda dengan Bundesliga (liga lokal Jerman) yang memang terkenal ramah bagi para pemain muda. Beberapa tim di Jerman pun sudah jarang memakai jasa pemain asing, lebih mengutamakan talenta lokal yang berkembang. Bahkan sekitar 15% pemain Jerman di bawah 23 tahun sudah berkompetisi di Bundesliga, naik 6% dibanding dekade sebelumnya.

Sekarang Saatnya Memaksimalkan Teknik, Bukan Hanya Fisik

Sumber : Mediaindonesia.com

Sepak bola memang permainan yang sangat melelahkan. Kenapa? Karena permainan ini mengandalkan otak, fisik, dan stamina. Seorang pemain harus tahu teknik melesatkan umpan atau tendangan, misalkan mengumpan, mereka mesti tahu harus mengumpan ke mana. Maka banyak yang berujar kalau keputusan yang diambil oleh pemain bola sudah seperti seorang CEO perusahaan. Salah mengumpan, maka bisa berbuah simalakama.

Ulf Schott, direktur pembinaan usia muda Jerman, mengungkapkan perubahan visi permainan yang semula mengandalkan fisik jadi lebih ke teknik. Selain itu, federasi juga membuat kurikulum dan skema taktik yang diberikan kepada seluruh tim yang berada di liga lokal, yang kemudian menjadi bahan pembelajaran. Seharusnya Indonesia juga melakukan perubahan dengan mengandalkan passing pendek, karena sering kali terlihat para pemain masih mencoba memaksimalkan umpan-umpang crossing yang jelas kurang efektif karena postur tubuh pemain kita yang tidak tinggi.

Proses Pasti Membuahkan Hasil Bung!

Untuk hasilnya, Bung bisa melihat sendiri secara gamblang. Berapa kali Jerman menembus babak akhir dalam setiap pagelaran internasional. Menjadi finalis Piala Eropa 2008, semi finalis Piala Dunia 2010, semi finalis Piala Eropa 2012, hingga juara Piala Dunia 2014. Pada tahun lalu pun, Jerman menjadi jawara Piala Konfederasi 2017 dan jawara Piala Dunia U21. Apabila Indonesia memaksimalkan segala aspek, pasti sepak bola kita akan membaik Bung, bukannya kaya kontroversi tapi minim prestasi.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Otomotif

Menjajal Si Merah: Jinak Di Bawah, Galak Di Atas

Akhirnya kami punya kesempatan untuk menjajal langsung motor GSX-R150 dari Suzuki. Kebetulan yang kami jajal berwarna merah, yang nampak begitu menggoda. Secara umum motor satu ini kami bawa untuk penggunaan harian di aera jabodetabek. Di beberapa kesempatan kami juga membawa motor ini di jalan yang lebih luang untuk menjajal performanya.

Tampilan Fungsional Tanpa Banyak Ornamen Basa-Basi

Kami memilih kata sexy, untuk menggambarkan Suzuki GSX-R150 ini. Nama GSX yang disandangnya sesungguh tak sekedar tempelan belaka. Karena kita bisa melihat tarikan garis serupa dari tipe-tipe GSX yang menggendong mesin lebih besar. Coba kita bandingkan tampilan GSX-R1000 ini dengan GSX-R150 ini. Tarikan garisnya tampak serupa.

Desain bodynya tak di rancang main-main karena dibangun menggunakan perhitungan hasil pengujian wind tunnel di jepang. Hasilnya, GSX-R15o ini menganut model yang terlihat mengalir dan aerodinamis. Pastinya tidak banyak ornamen atau bentuk-bentuk tak bermanfaat yang jamak kita lihat di merk lain. Tapi bukan berarti tampilannya jadi tak menarik.

Karena kami sempat beberapa kali mendapati pengendara lain melirik motor yang kami tunggangi. Terutama bagi sesama pengguna kelas 150cc, motor cukup menyita perhatian di jalan raya. Waspada khusus kami berikan pada sektor spion. Bentuknya yang mendatar dan sangat lebar, menempatkan perangkat satu ini sejajar dengan spion mobil kebanyakan. Walhasil, untuk lancar mengarungi kemacetan, ketika menggunakan motor ini harus sesekali melipat spionnya ke dalam.

Posisi Riding Agresif Dengan Handle Bar Under Yoke

Untuk kelas motor sport 150cc bisa dibilang posisi berkendara GSX-R150 ini paling agresif kalau dibandingkan dengan kompetitor lainnya. Stang jepitnya sendiri bertipe under the yoke alias berada di bawah segitiga depan.

Dalam kondisi berkendara normal, badan menjadi membungkuk dan mendukung tampilan balap dari motor ini. Ketika dalam kecepatan tinggi dengan mudah badan pengendara mendekat dan memeluk tangki. Hal ini didukung dengan jok belakang yang tinggi sehingga menambah kesan agresif.

Hal menarik lainnya, bobot GSX-R150 yang hanya 126 kg lebih ringan dibanding motor 150cc lain yang lebih dari 130 kg. Ditambah lagi tinggi joknya juga paling rendah di kelasnya. Sehingga untuk mereka yang bertinggi badan kurang dari 170 cm pun masih nyaman mengendarai motor ini. Untuk diajak rebah ketika menikung juga tak ragu karena bobotnya yang ringan tadi.

Mesin Over Bore, Galak Di Putaran Menengah Atas

Lagi-lagi Suzuki mengambil langkah berbeda dengan para kompetitornya yang memilih mesin over stroke atau Square. Karena dapur pacu yang disematkan pada GSX-R150 ini justru mengadopsi tipe ukuran over bore alias diameter pistonnya (62,0 mm) lebih lebar bahkan berselisih jauh dibanding langkahnya (48,8 mm).

Layaknya mesin over bore, tenaga yang dihasilkan pada putaran bawah cenderung lebih jinak dan kalem. Karena itu motor ini cukup ramah digunakan di tengah kemacetan tanpa kerepotan mengatasi tenaga dan torsi berlebihan pada putaran bawah.

Tapi sifat asli over bore mulai kelihatan pada putaran menengah dan atas dimulai dari 7000 RPM. Apalagi putaran mesinnya bisa berteriak hingga 13.000 RPM. Tenaga maksimalnya berada di 18,9 dk dengan torsi 14NM. Jangan heran seandainya bung menggunakan motor ini untuk beradu kecepatan, di putaran tengah dan atas cepat mengasapi motor lain.

Teknologi Keyless, Nyalakan Motor Bisa Pakai ID

Kecangihan tak berhenti sampai situ, untuk mengoperasikan motor, Bung cukup mendekatkan remote ke motornya. Motor baru bisa dioperasikan dengan memutar knob yang ada di tangki apabila remote berada dalam radius 1 meter. Sementara sebaliknya keyless ignition system otomatis akan mengunci jika jarak remote lebih dari 1 meter.

Demi keamanan, knob ini pun tidak bisa diputar paksa. Apabila main switch knob diputar paksa dengan tujuan akan dicuri, maka sesuai konstruksinya main switch knob akan berputar kosong.

Setiap keyless remote memiliki nomor ID. Nomor tersebut memungkinkan pemilik motor untuk tetap bisa mengakses main switch knob dalam keadaan remote rusak atau gangguan teknis lainnya. Kita tinggal memasukan 4 digit pin dengan acara menekan knob. Karena itu Pemilik motor disarankan untuk mencatat dan rahasiakan Remote ID serta simpan di tempat yang aman.

Namun Terlepas dari kecanggihannya tersebut, SIS selaku produsen Suzuki juga mendengar dan memenuhi permintaan dari konsumen lain yang memiliki karakter berbeda, dengan menyediakan Suzuki GSX-R150 menggunakan Shuttered Key System.

Sambil menemani keberadaan penjualan Suzuki GSX-R150 varian Keyless Ignition System saat ini, SIS memproduksi varian Shuttered Key System dengan komposisi secara khusus sebanyak 15% dari total produksi GSX-R150 setiap bulan. Dengan demikian, calon konsumen bisa memiliki pilihan lebih banyak sebelum memutuskan pilihannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Tim yang Dicap Kerdil Oleh Sir Alex 9 Tahun Lalu, Kini Kembali Juara Liga Inggris Ke-5 Kalinya

Manchester City berhasil mengunci gelar sebagai kampiun Liga Inggris musim ini. Setelah saudara sekota yang mana menjadi rival sekaligus membuntuti di posisi kedua kembali tampil inkonsisten setelah kalah 0-1 dari West Bromwich Albion. Alhasil, perolehan poin City tak bakal mampu dikejar oleh pesaing-pesaingnya seperti Manchester City, Liverpool, dan Tottenham.

Selamat bagi City memang harus diucapkan, meskipun Bung bukan pendukung atau pecinta Liga Inggris. Tampil ganas sejak awal dan kerap dilabeli sebagai tim “gaib” membuat City harus menyudahi perburuan gelar lebih cepat dari jadwal yang sudah ditentukan. Dengan mengoleksi 87 poin dari 28 kemenangan, 3 seri, dan 2 kali kalah sudah cukup membuat City untuk menjadi yang terbaik dengan mengoleksi 5 gelar sepanjang berlaga di sepak bola Inggris.

Tetangga yang Berisik Kini Kembali Berulah Dan Membuat Rival Terusik

Sumber : ESPN.com

Manchester City dicap sebagai tetangga berisik oleh pendukung Setan Merah. Lebih tepatnya bermula dari mulut sang Ayah yang telah pensiun, Sir Alex Fergusson. Pada Derby musim 2009/2010, Sir Alex berkata “Terkadang Anda punya tetangga yang berisik. Anda tak bisa melakukan apa pun soal itu. Mereka akan selalu berisik,” begitu bunyinya. Semenjak itu cap sebagai tetangga berisik selalu mengarah kepada City yang sejak musim itu sudah kedatangan sugar daddy, Syeikh Mansour dari Timur Tengah.

Lagi-lagi tetangga yang berisik kembali berulah dengan mengunci gelar ke-5 kalinya. MU pun mesti terdiam, bahkan bisa juga berisik, dengan membuat cuitan tentang memberi cap City sebagai tim baru “kaya”. Mungkin Citizen tidak memperdulikan. Karena apa pun yang terjadi juara tetaplah juara. Jadi ingat, kalau Sir Alex juga pernah berkata pada awal musim 2009/2010 bahwa, “Mereka (Manchester City) adalah kesebelasan kecil dengan mentalitas yang kerdil.” Berarti si kerdil sekarang telah bangkit menjadi tim besar ya Bung?

Menyamai Rekor Manchester United dan Everton, Jadi Bukti Level Permainan City Sudah Sekuat Beton

Rekor disamakan tim lain mungkin rasanya biasa saja. Tetapi ketika disamakan oleh tim rival seperti Manchester City, adalah proses kiamat dunia kedua. Manchester City tak bisa dipungkiri memang tampil fantastis musim ini. Dengan gaya permainan yang coba diberi pelatih sekelas Pep Guardiola berhasil diterapkan dengan baik.

Terlebih lagi memastikan gelar dengan menyisahkan lima laga, membuat The Citizen sejajar dengan Manchester United dari segi rekor yang pernah dibuat Setan Merah. Bahkan United pernah menorehkannya di dua musim yakni 1907/1908 dan 2001/2002. Selain itu Everton pun pernah membuat rekor yang sama di musim 1984/1985.

Sekali Dipucuk Tetaplah Dipucuk

Pep pun tak bisa berada di posisi ini apabila pemain yang dibesutnya tidak tampil baik seusai arahannya. Ketika apa yang djalankannya sukses, ia pun tak lupa memberikan sepatah dua patah pujian kepada para punggawanya lewat situs resmi Manchester City.

“Para pemain sangat fantastis, menakjubkan, mereka luar biasa. Klub ini sungguh luar biasa di semua aspek,” begitu kata pelatih bergaya casual ini. Kebanggaan pun wajar dilontarkannya Bung. Bagaimana tidak, tim asuhannya tidak tersentuh selama 240 hari di puncak klasemen Liga Inggris. Torehan yang luar biasa bukan?

Pep Guardiola Menjadi Pelatih yang Bahagia Sekaligus Sukses Selama Membesut Tim Di Tiga Liga Berbeda

Sosok yang satu ini memang banjir tawaran melatih di mana-mana, lantaran gaya permainan yang diterapkan mengesankan hingga peringkat terburuknya selama melatih sepak bola hanyalah berada di peringkat 3, itu pun terjadi di musim lalu kala menangani Citizen.

Kalau dirunut lewat catatan per musim selama melatih Barcelona empat musim Pep berhasil mengantarkan tim tersebut 3 kali meraih gelar juara dengan sekali menjadi runner-up, kemudian vakum satu tahun sebelum mengantarkan Bayern merebut gelar Bundesliga 3 kali berturut-turut. Setelah itu, pelatih berkepala pelontos ini berlabuh ke Inggris dengan menjadi pelatih Manchester City. Maka wajar kalau Pep Guardiola didaulat sebagai pelatih tim terbaik di dekade ini.

Akankah di Musim Depan Pep Guardiola Bakal Mengulanginya?

Sumber : ESPN.com

Melatih di tiga klub besar dengan iklim kompetisi berbeda tentu tidak mudah. Apalagi tensi dan permintaan supporter sekaligus pemilik klub tentu saja menginginkan prestasi yang tinggi. Mungkin, iklim Liga Inggris lah yang paling berbeda.

Liga yang sering disebut sebagai liga terbaik ini, dihuni oleh para pelatih kawakan dan berkelas seperti Jose Mourinho, Antonio Conte, Arsene Wenger, dan Jurgen Klopp. Tentu saja secara kompetitif di ranah pelatih, hal ini menjadi pertandingan taktik dan ujian yang bakal diuji setiap musim. Setelah Pep berhasil mengembangkan tiki-taka, yang kemudian dianggap usang oleh sebagian orang. Akankah Pep kembali mengembangkan strategi jitu lainnya?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Jupp Heynckes Secara DNA Adalah Ayah Bagi Bayern Munchen

Hasil imbang yang diterima Bayern kala menjamu Sevilla di leg kedua perempat final Liga Champions, sudah cukup mengantarkan mereka ke semi-final. Pencapaian yang diterima oleh Bayern lebih ditengarai oleh kehadiran sang “ayah” yang baru saja turun gunung, yakni Jupp Heynckes. Heynckes resmi menggantikan Carlo Ancelotti sejak akhir tahun lalu, lantaran tidak kondusifnya ruang ganti hingga rentetan dosa yang dilakukannya tidak bisa diterima pemain, salah satunya kalah 0-3 dari Paris Saint Germain di babak fase grup Liga Champion 2017/2018.

Ancelotti memang dikenal bukan sebagai pelatih matang yang mampu meracik tim hingga masa jabatannya habis. Secara pasti ia bakal didepak saat kontraknya masih menyisahkan satu atau dua tahun lagi. Hal ini sudah terjadi semenjak ia memutuskan menjadi pelatih saat menukangi Parma, Juventus, AC Milan, Chelsea, PSG, Madrid, hingga Bayern Munchen.

Di saat tim besar sekelas Bayern tengah kelimpungan untuk memburu banyak gelar, Jupp Heynckes, yang pernah memberikan Treble Winner kembali dipanggil. Meskipun ia sudah menyatakan pensiun di tahun 2012. 5 tahun berselang, Heynckes harus kembali ke rumahnya lagi, dengan menjalankan suatu misi suci yakni menghapus dosa-dosa skala mikro yang ditimbulkan Ancelotti yang dulu digadang sebagai suksesor FC Hollywood.

Pelatih Kehilangan Wibawa Di Ruang Ganti, Menjadi Bukti Tidak Adanya Sinkronisasi

Kalau dilihat secara statisik selama Bayern di bawah kepemimpinan Ancelotti memang tidak buruk. Dari 60 laga, Bayern berhasil membubuhkan 42 kemenangan, 9 kali imbang, dan 9 kali kalah. Tetapi apa yang membuat Bayern harus memecat Ancelotti karena terdapat 5 pemain secara terang-terangan tidak mau mendukungnya lagi. Salah satunya adalah winger terbaik mereka, Arjen Robben.

Otomatis secara hubungan vertikal, antara pemain dan pelatih tidak ada kesamaan dan benang merah, apabila dipaksakan, hal seperti ini bakal berakibat buruk bagi internal tim. Sama kasusnya seperti musim terakhir Jose Mourinho bersama Madrid yang mana ada gap antara beberapa pemain. Ayah datang, semuanya tenang, begitulah lakon yang coba dimainkan Heynckes di ruang ganti Bayern Munchen yang mana dijawabnya dengan baik. Karena dia mampu mengontrol hingga kondusif.

Perbedaan Karakter Kedua Pelatih Ibarat Air dan Api

Ancelotti terkenal sebagai pribadi yang santai seperti tidak ada kemauan keras untuk menopang prestasi secara mumpuni ketika diberikan amanat untuk menjadi kepala di sebuah tim. Tentu saja, hal ini tidak bisa diterima baik oleh Bayern yang mana ingin menjajaki diri sebagai tim terbaik di Eropa, bahkan dunia.

Di awal musim ini, Bayern sempat terseok-seok untuk menjalani liga, kemudian kurang baiknya performa di Liga Champions, tentu membuat presiden Bayern, Uli Hoeness geram, sehingga ia memanggil Heynckes sang RED (Retired Extremely Dangerous) untuk kembali bangun dari tidurnya. Alhasil semuanya pun dibenahi dengan kembalinya Bayern bertengger di pucuk sampai bisa melangkah ke semi-final Liga Champions.

Jupp Heynckes Memecut Kembali Pemainnya Untuk Mengerti, Kalau Menjadi Jawara Itu Tidak Bisa Santai-santai Sejak Dini

Watak keras yang dimiliki Heynckes membuat para punggawa Bayern terlucuti semangatnya. Ia kembali berpacu dan bergerak bagaikan kuda yang dipecut penunggangnya. Agar pemain kembali panas, seperti membangkitkan aroma semangat yang pernah tercipta saat menjadi jawara Eropa, Liga Lokal, dan Piala Liga. Terlebih lagi sebagian besar pemain yang ada saat ini pernah merasakan teknik kepelatihannya hingga mudah untuk Heynckes membangkitkan semangat tanpa perlu pendekatan lantaran hubungan sudah cukup erat.

Menghilangkan Standar Kepuasan Sejak Dini Seperti yang Diterapkan Ancelotti

Bentuk permainan yang dibangun Ancelotti memang berbeda. Permainan dibangun secara taktis hingga memaksimalkan serangan, dengan mencoba memetik keunggulan secara cepat terlebih dahulu. Ketika sudah unggul dengan selisih tiga gol, biasanya Munchen mulai merubah permainan cenderung bertahan dengan mencoba mengambil counter-attack.

Hal ini justru sangat disayangkan, ketika Bayern sedang panas-panasnya untuk menyerang malahan disuruh bertahan, sehingga timbul rasa cepat puas sedari dini. Pola pikir di lapangan seperti ini coba dirubah oleh Heynckes dengan mengutamakan kolektivitas bukan kemampuan individu pemain.

Saat Jupp Heynckes Datang, Bayern Kembali Senang. Suatu Hal Positif atau Negatif?

Berbicara soal positif dan negatif kedatangan orang kepercayaan memang sulit. Bagi Bung yang belum nyambung dengan maksud judul ini. Coba tengok tim macam Manchester United, yang kerap berjaya selama diasuh Sir Alex, Kemudian terseok-seok setelah gonta-ganti pelatih mulai dari David Moyes, Louis Van Gaal sampai Jose Mourinho belum mendapatkan formula ciamik yang membuat setan merah tampil konsisten.

Memang MU memiliki segudang pemain mumpuni tetapi tidak ada pelatih hingga saat ini yang mampu menggabungkan dan membangkitkan permainana seperti dulu lagi. Apabila hal ini terjadi kepada Bayern Munchen tentu bakal disayangkan bukan? Justru hal ini harus menjadi perhatian serius bagi Bayern Munchen, lantaran memilih orang tepat itu sulit, jangan sampai bayang-bayang kejayaan hanya bisa dikenang namun tidak dilanjutkan.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Apakah Wajar Bila Pesepakbola Membenci Sepakbola?

Bagaimana seseorang membenci profesinya sendiri? padahal profesi yang dilakoni pun, cukup digemari mayoritas laki-laki yakni sepakbola. Lantas, apakah wajar bila pesepakbola membenci olahraga yang mengantarkan namanya menjadi tekenal bahkan berkecukupan secara finansial?

Dibalik wajar atau tidaknya, tentu hal ini menjadi pergunjingan bagi sebagian orang yang notabene adalah netizen. Sederetan nama-nama yang bakal disebutkan ada yang dari underrated sampai yang sudah tidak asik ditelinga. Bahkan, ada salah satu pemain yang mengatakan semakin banyak mendapatkan uang dari sepakbola, semakin ia membencinya. Dilansir dari sportskeeda.com berikut ini adalah nama pemain yang anomali malah benci sepakbola.

Kegagalan Eksekusi Penalti Menjadi Biang Bagi Pemain Ini Untuk Membenci Sepakbola

Pernah berseragam Leeds, Blackburn dan Newcastle tak ayal membuat pemain ini dipanggil ke tim nasional Inggris, bahkan ia menjadi bagian Three Lions pada saat berlaga di Euro 1992 dan FIFA World Cup 1998. Karirnya sepanjang 18 tahun pada mulanya berjalan manis, David Batty kemudian didaulat menjadi biang kegagalan lantaran gagal menjadi eksekutor penalti saat meladeni Argentina di ajang 4 tahunan untuk mencari negara terbaik dalam sepakbola.

Di tahun 2007 David Batty pun membuat pernyataan yang membingungkan banyak orang saat ia bosan bermain bersama tim nasional. Hal ini jelas dipandang sebagian pemain sebagai bentuk nasionalisme. Lucunya lagi, David Batty, sejak kegagalan penalti ia tidak pernah menonton sepak bola lagi.

Bukan Penggemar Sepakbola Sejati Tapi Karirnya Cukup Melonjak Tinggi

Nama Bobby Zamora pasti tidak asing bagi bung yang kerap menonton liga Inggris. Lantaran pemain berkepala pelontos ini telah malang melintang membela klub-klub medioker di kasta tertinggi liga tersebut. Seperti Brighton & Hove Albion, Bristol Rovers, West Ham, Tottenham, Queens Park Rangers dan pernah tergabung dengan tim nasional Inggris sebanyak dua kali. Sebelum memutuskan untuk menggantung sepatu di tahun 2016.

Kilas balik ke tahun 2012 beberapa pertanyaan menghujam dirinya tentang apa yang bakal dilakukan setelah tidak lagi merumput di lapangan hijau. Secara tegas, Zamora menjawab tidak lagi ingin tergabung dalam dunia sepakbola. Bahkan, pemain ini mengatakan bahwa ia bukan penggemar sepakbola sejati selayaknya pemain lain. Kemudian selama berkarier pun, ia juga jujur kalau jarang melihat tim lain bahkan timnya sendiri selama bertanding.

Tak Puas Di Lapangan Hijau Beranjak Ke Ring Tinju

Menjadi pemain pesepakbola profesional nampaknya kurang begitu menyalurkan hasratnya. Curtis Woodhouse adalah pesepakbola yang merumput dari tahun 1997 sampai 2006. Di usianya yang memasuki umur 26 tahun ia memutuskan untuk berganti profesi sebagai petinju profesional.

Setelah itu, Curtis pernah kembali menjadi pesepakbola paruh waktu ketika menandatangani dengan Rushden dan Diamonds di bulan November 2006 sampai akhirnya ia memutuskan benar-benar pensiun di tahun 2012 di Sheffield United. Mantan pemain timnas Inggris U-21 ini pun pernah mengeluarkan pernyataan aneh ketika ia mengatakan bahwa semakin banyak ia mendapat uang dari sepakbola, ia semakin membenci sepakbola. Logis kah bung?

Bolos Timnas Agar Bisa Berduaan Dengan Kekasih, Anomali Terhadap Dedikasi Profesi

Ketika sekian pesepakbola profesional mendambakan memakai kostum timnas untuk dikenakan dan dibela lewat keringat sekaligus perjuangan. Stephen Ireland justru sebaliknya, pemain yang “gagal” bersinar di Manchester City ini lebih dikenal saat bermain di Stoke City sebagai gelandang serang.

Ireland pun pernah mangkat dari timnas Irlandia dengan alasan Neneknya meninggal padahal ia berduaan dengan kekasihnya. Selain itu, entah karena depresi atau tekanan, Ireland pernah curhat lewat sosial medianya ketika mengatakan jika sepakbola itu hanyalah omong kosong dan menyesal karena terjebak di dalam sepak bola itu sendiri.

Sepakan Luar Biasa Miliknya, Justru Tak Ingin Dikenang Banyak Orang

Batistuta mungkin dapat dibilang Tuhannya sepakbola beberapa dekade lalu. Julukan Batigol dan El Angel Gabriel, terwakilkan lewat sepakan kilatnya menghiasi layar kaca di mana gawang lawan menjadi korban bombardir. Memang gelar trophy secara tim yang didapatkan tidak sementereng Lionel Messi.

Tetapi di zamannya ia sangat disegani dan dihormati, bahkan ia termasuk pencetak gol terbanyakan tim nasional Argentina sebelum dirontokkan Lionel Messi di tahun 2016. Alessandro Rialti selaku penulis otobiografinya  mengatakan bahwa Batigol merupakan permain profesional yang tidak terlalu menyukai sepakbola. Lanjutnya, Batistuta ingin menjadi orang biasa yang tidak ingin terkait lagi dengan sepakbola saat keluar dari lapangan hijau.

Sepakbola memang dapat mendongkrak nama orang biasa menjadi berbeda, mereka yang tercekik finansial bisa tampil spesial ke depannya. Bahkan, banya warga Afrika yang mengadu nasib di Sepakbola demi mendapatkan kehidupan yang layak dan berbeda. Janggal, ketika mengetahui ada beberapa pesepakbola yang membenci Sepakbola. Itu semua pilihan, meskipun tak wajar karena mereka terkenal dan dikenal karena sepakbola. Tetapi balik lagi, membenci dan menyukai adalah pilihan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top