Lifestyle & Fashion

Suarez Hat-Trick, Real Madrid Tercabik-cabik

Sepeninggalan Cristiano Ronaldo ke Juventus, Real Madrid seperti memiliki kesulitan dalam meraih kemenangan. Hal ini pun terjadi paka laga El Clasico jilid I di musim 2018/019, di mana Real Madrid harus kalah 1-5 dari Barcelona. Luis Suarez menjadi momok bagi lini pertahanan Real Madrid, dengan menceploskan tiga gol sekaligus. Suarez hampir saja mencetak Quat-trick andai saja mistar gawang tak menyelematkan gawang Real Madrid.

Di pembuka laga pada menit ke-10 Philipe Countihio berhasil menyalakan dentuman pesta golnya sebelum digandakan Suarez 20 menit kemudian dari titik putih. Real Madrid coba keluar dari tekanan namun hanya sebiji gol yang mampu dicetak oleh Marcelo, itu pun belum bisa menutup rasa malu tim ibu kota yang nantinya menjadi bulan-bulanan. Benar saja Suarez tampil menggila di laga tersebut dengan sundulan di menit ke-76 dan bola chop di menit  ke-83. Barcelona nampaknya masih ingin menghabisi Real Madrid dengan gol dari Arturo Vidal di menit ke-87.

Dengan hasil ini melebarkan jalan Barcelona untuk nyaman di puncak klasemen La liga dengan 21 poin dari 10 laga yang dilakoni, sedangkan Real Madrid harus nyaman berada di posisi ke sembilan dengan 14 poin. Meskipun baru pekan kesepuluh, Real Madrid harus berbenah bukan tidak mungkin ia tidak bisa menempel Barcelona, bahkan sang juara 13 kali Liga Champions tersebut pun dapat terdepak dari perebutan slot ke Liga Champions.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Siapapun Presidennya Kita Bukan Anaknya

Aroma pesta demokrasi memang belum sepenuhnya usai, karena surat suara masih banyak yang terbengkalai. Masing-masing calon pun mengklaim kemenangan berdasarkan hitung cepat yang dilakukan lembaga survey. Walaupun itu belum valid, karena data resmi hanya keluar dari KPU. Tapi kedua kubu pendukung masih saling berkoar mengutarakan perlawanan, meskipun hanya tersirat tanpa secarik dendam yang kuat. Lantas kapan perseteruan kedua pendukung ini selesai?

Seharusnya Kita Semua Sudah Santai, Karena Pemilu Telah Usai

Kalau dipikir-pikir kembali bung, sesungguhnya pilpres itu sudah selesai pasca pencoblosan. Yang perlu dilakukan saat ini hanyalah menunggu hasil siapa pemenang. Tanpa perlu lagi ada perdebatan apalagi sampai sikut-sikutan.

Masa iya, masih terus saling bermusuhan? sekarang bukan saatnya lagi saling membanggakan paslon favorit masing-masing. Tapi sekarang adalah waktu yang tepat untuk keluar dari nuansa politik bersebrangan dengan kembali menjalankan aktivitas harian.

Perdebatan dengan Emosi, Memperkeruh Silaturahmi

Dalam setiap obrolan politik warung kopi, apalagi yang melibatkan kedua pendukung pasangan calon nomor urut 1 dan 2, pasti berujung pada perdebatan. Beberapa orang cukup sebal akan debat karena memicu pertengkaran. Tapi bung, di sisi lain Psychology Today berkata sebaliknya. Dengan mengatakan konflik dan pertengkaran memfasilitasi pembicaraan dan kesadaran akan perspektif orang lain, bermanfaat bagi kesehatan hubungan pertemanan dan hubungan romantis.

Lalu bagaimana dengan mereka yang terlibat adu mulut, sampai berujung baku hantam? Seorang pakar Psikologi Jennifer  A. Samp mengatakan kalau itu semua terjadi karena mereka yang berdebat saat emosi terlalu mentah. Disebabkan karena mereka tidak mau terbuka untuk mendengarkan masalah dari orang lain.

Ingat, Pertengkaran Tak Akan Muncul Ke Permukaan, Apabila Salah Satu Pihak Tidak Memulai Serangan

Nampaknya hal paling sulit itu bertoleransi, toleransi akan perbedaan pemimpin. Fanatisme akan satu pemimpin sesungguhnya tidak salah kok bung, asalkan bung masih mau “waras” saja untuk coba terbuka akan semua hal yang ada. Bukan malah menghindar atau mengkultuskan hoax akan satu informasi tanpa ada bukti, demi meremehkan pilihan orang lain yang tak bung senangi.

Selain itu jangan coba untuk membagikan hal-hal yang menyudut salah satu pemimpin. Toh, itu akan memicu pertengkaran, apabila salah satu temanmu ada yang bersebrangan. Lain cerita kalau teman bung masih “waras”, yang tidak terbawa emosi. Tapi yang paling aneh adalah mereka yang merasa terhina padahal yang merasa dihina pun, tidak ada ikatan darah dengannya.

Hidup Kita Panjang, Tak Baik Dihabiskan Dengan Permusuhan

Hidup itu panjang, tak habis saat pemilu telah usai. Kini sudah tak perlu lagi membahas hal sensitif yang menyangkut kedua belah pihak pasangan. Berhentilah saling mencela seolah-olah pemimpin favoritmu itu dewa, dan yang diserang hanya manusia biasa.

Hal paling menjijikan bagi kami adalah jika perbedaan calon pemimpin, membuat hubungan pertemanan selesai. Karena itu adalah pertengkaran yang tidak penting untuk dibawa serius. Lebih baik bung kembali berteman, kalau malu untuk memulai rekonsiliasi, tenang, manfaatkan bulan ramadhan untuk basa-basi.

Jalani Hidup Seperti Biasa. Antara Bung, Dia, dan Pemimpin Favoritnya Semua Punya Kehidupan Berbeda

Secara realistis, kehidupan terus berjalan, kehidupan tak sebegitu cepat berubah saat pemimpin berganti. Ada proses dibalik semua itu. Di sisi lain, sayang apabila tenaga kalian habis untuk urusan yang tidak begitu penting. Seperti berdebat dengan emosi hebat, saling mencari kesalahan pemimpin lain, bahkan sampai niat membuat meme tapi untuk serius, bukan untuk iseng belaka atau bercanda.

Lebih baik bung manfaatkan sekumpulan tenaga yang dipunya untuk menjalani aktivitas masing-masing. Karena itu akan menentukan perubahan dalam dirimu, sebelum mempercayakan perubahan kepada pemimpin negeri ini. Lima tahun yang dicanangkan belum tentu ada perubahan yang signifikan bakal dirasakan. Tapi kalau bung yang berusaha sekuat tenang, pasti ada perubahan, bahkan sebelum 5 tahun, perubahan tersebut sudah dapat dirasakan.

Lagi pula buat apa membela sehebat-hebatnya pemimpin pilihan kita, sampai saling mencela. Sampai mengorbankan persahabatan. Yang tadinya asik jadi terusik. Selayaknya hubungan, orang tua akan selalu peduli dan ingat hanya kepada anak dan istrinya, kan? Jadi kalau pemimpin favoritmu terpilih belum tentu ingat denganmu bung, karena bung bukan siapa-siapa. Lebih baik jalani hidup seperti biasa, kan? karena siapapun presidennya kita bukan anaknya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Gol Bunuh Diri, Berbuah Kematian Dini

Ungkapan klise ‘manusia tidak ada yang sempurna’ tidak hanya merujuk kepada kehidupan di dunia saja, melainkan itu juga terjadi di lapangan hijau. Andres Escobar mungkin salah satu mendiang yang pas disematkan dengan ungkapan tersebut. Pemain bertahan Kolombia ini adalah sosok yang sempurna di lini belakang. Terbukti saat membawa negara tercinta ke kancah Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.

Namun gol bunuh diri yang dilakukan dalam turnamen akbar empat tahunan tersebut, adalah buah kesalahan kecil dalam karirnya yang tak sebanding dengan menghilangkan nyawanya. Yap, Escobar mesti meninggal lebih dulu dari takdir yang dituliskan, setelah ditembak oleh seseorang saat hendak pulang dari klub malam bersama temannya. Pemicu terbesar kematiannya, adalah gol bunuh diri saat melawan tuan rumah.

Padahal sepak terjang Escobar membawa Kolombia ke jalur Piala Dunia cukup solid, bung tak percaya? coba simak saja ceritanya

Pemimpin Elegan dan Gentleman Jadi Julukan Escobar Secara Permanen

Solidnya tim Kolombia tak akan berjalan sempurna tanpa kehadiran Escobar. Sosok pemimpin bertalenta yang piawai menghalau serangan. Gaya permainan yang elegan, selalu tenang meskipun digempur serangan dan mengambil takel bersih di lapangan membuat pemain ini mendapat julukan Caballero del Futbol atau Gentleman of Football. Pemain kelahiran 13 Maret 1968 ini memiliki karir cemerlang tak hanya di tim nasional, karena ia sempat berkarier di klub BSC Young Boys di Swiss meskipun untuk periode yang tidak begitu lama.

Datang Sebagai Penantang, yang Digadang Memberikan Perlawanan Garang

Salah satu kandidat negara yang bakal disebut bakal berbicara banyak di Piala Dunia 94 kala itu adalah Kolombia. Bukan sesumbar atau prediksi asal, Kolombia tak terkalahkan di fase kualifikasi Piala Dunia Grup A Amerika Selatan bung. Tim yang dimotori oleh Faustino Asprilla, Carlos Valderrama, Freddy Rincon, menjadi negara yang tak terkalahkan. Total dari enam laga, mereka berhasil membubukan empat kemenangan dan dua kali imbang.

Ditambah lagi, jawara sepakbola Amerika Selatan macam Argentina, dibantai habis dengan skor telak 5-0 di laga terakhir! membuat skuad tim tango harus menjalani partai play-off demi memastikan tampil di Piala Dunia. Ketangguhan Kolombia pun dapat dilihat secara statistik menjelang pagelaran akbar tersebut, dari total 26 pertandingan menuju Piala Dunia, Kolombia hanya sekali bertekuk lutut alias kalah. Kepiawaian tim ini tentu saja berkat Escobar yang saat itu menjabat sebagai kapten tim.

Dari Prediksi Pele Sampai Harapan, Hingga Menenangkan Ketegangan di Kolombia

Ekspetasi, sebuah kata yang menghantui skuad Kolombia di masa itu. Calon kuda hitam terkuat pun diberikan oleh para pengamat sepak bola. Legenda Brasil yang menjuarai Piala Dunia tiga kali, Pele, memberikan prediksi kalau Kolombia bakal menembus babak semifinal.

Rakyat Kolombia pun berharap atas kiprah negaranya, terlebih situasi saat itu tengah memanas setelah tewasnya sang dedengkot narkoba, Pablo Escobar. Pasalnya, pasca meninggal Pablo Escobar memicu perang antar geng untuk memuncaki kekuasaan tertinggi di jalur perdagangan barang haram tersebut. Alhasil Kolombia di Piala Dunia diharapkan memberi secercah kebahagiaan, dengan menjadi pemersatu perang antar geng. Lantas apakah bisa Kolombia menjawab harapan itu semua?

Jawabannya tidak. Sinyal buruk sudah menerpa Los Cafeteros, ketika takluk di tangan Romania di laga perdana oleh Maradona dari Carpathia alias Gheorghe Hagi. Skor ditutup dengan hasil telak 1-3. Dampak kekalahan memicu kerusuhan, penjudi yang berasal dari geng narkoba yang kalah, jadi penyebab utama. Mereka yang kalah judi memberi ancaman pembunuhan yang dilayangkan kepada para pemain termasuk sang manajer, Maturana.

Menjamu Tuan Rumah di Laga Kedua, Gol Bunuh Diri Jadi Awal Mula Dihabisi Nyawanya

Setelah kekalahan telak 1-3 dari Rumania, membuat Kolombia harus tertekan di laga kedua. Menjamu Amerika Serikat, selaku tuan rumah, dukungan publik Paman Sam pun menambah tekanan semakin mendalam. Dan di laga ini lah terjadi momen yang mana sosok Escobar melakukan gol bunuh diri.

Turun sebagai starter, Escobar coba bermain rapih dengan menghalau serangan lawan. Selaku tuan rumah permainan menekan sesekali ditunjukan. Tepat di menit ke-35, umpan silang  dilepaskan oleh John Harkes  ke mulut gawang Kolombia. Bola tersebut coba dipotong oleh Escobar dengan menggunakan kakinya, bola tersebut memang terhalau namun naas malah masuk ke gawang sendiri. Lantaran Escobar merentangkan kakinya dalam posisi menghadap gawang sendiri.

Penjaga gawang Kolombia mati langkah. Alhasil skor pun berubah 0-1 untuk Amerika Serikat. Diakhir laga Kolombia harus takluk 1-2. Kans buat lolos pun semakin suram dengan dua laga dijalani dengan kekalahan. Dan terbukti, meskipun di laga terakhir Kolombia menang lawan Swiss, di pertandingan lain Rumania mengalahkan AS. Prediksi pele pun berhenti, dengan kenyataan Kolmbia tersingkir sebagai juru kunci.

Simpang Siur Cerita, Antara Ditembak Karena Dianggap Biang Kesalahan Atau Pelampiasan Kalah Perjudian

Usai tak bisa berbicara lebih banyak di Piala Dunia 94, Escobar kembali ke tempat kelahirannya, Medellin, Kolombia. Yang mana juga jadi tempat di mana ia menutup mata. Sebenarnya, Escobar sudah diperingatkan untuk tidak pulang, karena kondisi kota yang tidak kondusif. Tapi hasrat memanggilanya untuk pulang.

Mungkin untuk melupakan kesalahan atau meringankan beban yang dihantui, Escobar berkumpul bersama temannya di satu bar daerah Medllin. Setelah itu, mereka pun berpindah ke klub malam lainnya masih di daerah yang sama bernama El Indio. Escobar berpamitan dengan temannya lebih dulu untuk segera pulang, saat di parkiran ia terlibat perseteruan dengan beberapa orang yang menyebutkan kegagalan Kolombia di Piala Dunia adalah kesalahannya.

Setelah bersitegang, tiba-tiba salah seorang mengeluarkan pistol dan menembakkan ke arah Escobar sebanyak enam kali. Tiap tembakan, sang penembak berteriak “Gool!”. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, ia tetap tidak selamat. Dan harus meninggal lebih cepat. Selang beberapa hari dari kasus tersebut muncul sebuah nama, Humberto Castro Munoz yang diduga sebagai penembak.

Setelah dikulik lebih dalam ternyata ia adalah seorang supir dan bodyguard dari gembong narkoba bersaudara Kolombia, Peter David Gallon dan Juan Santiago Gallon.  Munoz pun diringkus dan ditetapkan sebagai tersangka. Meskipun beredar beberapa versi tentang kematian Escobar, namun hingga sekarang alasan terkuat ia dibunuh adalah perjudian. Antara sang majikan yang kalah judi, atau Munoz sendiri.

Di pemakamannya, lebih dari 120 ribu orang datang dan mengantar kepergiannya. Kematiannya mencoreng nama Kolombia di publik internasional, dan beberapa pemain timnas memutuskan pensiun dini untuk menghindari hal serupa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Kisah Jorge Campos yang Lihai Menjadi Kiper, Piawai Menjadi Striker

Di bawah mistar gawang nama kiper berkebangsaan Meksiko ini sangat handal menahan tendangan lawan. Saat berada di depan, ia juga tak kalah sangar menghukum penjaga gawang. Jorge Campos pun masuk dalam ensiklopedi pesepakbola yang berpengaruh di dunia. Meskipun namanya kurang begitu terdengar dibanding kiper veteran lain macam Lev Yashin atau Fabian Barthez.

Bung yang akrab dengan sepakbola era 90-an, di dua edisi Piala Dunia tahun 94 dan 98, nama Jorge Campos berada di bawah mistar gawang tim nasional Meksiko. Sialnya, banyak cerita menarik tentang dirinya yang tidak diketahui publik, apalagi ia merupakan salah satu kiper yang memiliki produktifitas gol cukup banyak hingga sekarang.

Untuk itu, kali ini kami akan mengulasnya.

Campos Membuka Mata Publik Sepak Bola Dengan Melawan Standar Kiper Dunia

Olahraga seperti sepakbola tak hanya berbicara masalah skill, tetapi juga membahas soal postur. Saat itu banyak yang berfikiran kalau postur penjaga gawang yang ideal adalah bertubuh tinggi. Dengan alasan dapat lebih mudah menghalau bola yang akan masuk gawang. Hal ini tidak ditemukan dalam tubuh pemain kelahiran 15 Oktober 1966, lantaran ia hanya memiliki tinggi badan 168 cm, yang mana menjadikan ia sebagai kiper terpendek dalam sejarah sepak bola.

Akan tetapi ketidakideal’an tubuh dari Campos ditutupi dengan gerak refleks, lompat sampai kecepatan. Menjadikan ia tak kalah dengan kiper hebat lainnya. Sampai pada tahun 1994 mata dunia pun terbuka, bahwa siapapun bisa menjadi kiper hebat meskipun tidak didukung dengan postur yang ideal, lantaran Jorge Campos menjadi kiper terbaik dunia di tahun tersebut.

Tampilan Eksentrik Menjadi Pembeda di Lapangan Secara Menarik

Selain karena kemampuan yang dimiliki Campos membuatnya jadi seorang pesepakbola yang apik. Di satu sisi, tampilan Campos adalah hal yang sangat amat melekat kepadanya. Pasalnya, kiper ini sering kali membawa jersey sendiri dengan warna-warna terang dan relatif mencolok di lapangan.

Wajar apabila publik, sangat ingat akan dirinya lantaran jarang pemain yang memakai jersey dengan warna eksentrik di era 90-an kecuali dirinya. Belum lagi ia yang bertubuh pendek memakai jersey berbahan panjang atau gombrong. Makin membuatnya terlihat menarik.

Ketika Dikontrak Sebagai Pelapis Kiper Utama, Campos Minta Diturunkan Jadi Ujung Tombak Saja

Meskipun lebih dikenal sebagai penjaga gawang, namun nama Jorge Campos ternyata mengawali karirnya sebagai striker. Hal ini terjadi kala ia membela Pumas UNAM sebuah klub di Meksiko pada tahun 1989. Secara kontrak, ia memang dipakai jasanya untuk menjadi penjaga gawang. Akan tetapi Pumas sudah memiliki kiper inti bernama Adolfo Rios, membuat Campos menjadi pelapis kala itu.

Namun ia meminta permintaan cukup menarik kepada sang pelatih untuk diturunkan sebagai striker. Alhasil di musim pertamanya, Campos menjalani karir sebagai striker dengan mencetak 14 gol. Cukup produktif sebagai seorang ujung tombak. Meskipun gemilang sebagai ujung tombak, di musim kedua ia mulai mendapat kepercayaan pelatih dengan diturunkan sebagai penjaga gawang. Sekaligus berhasil menjadi jawara liga Meksiko saat itu di musim 1990/91.

Bahkan Campos Sering Dimainkan Sebagai Striker Pengganti Di Salah Satu Klub

Pada tahun 1997, Jorge Campos memperkuat tim Meksiko lainnya, bernama Cruz Azul. Namun di sini, Campos lebih sering dipaksa turun sebagai striker pengganti! Karena tim tersebut sudah mempunyai kiper andalan bernama Oscar Perez. Alhasil selama periode tersebut ia pun jarang dilihat di bawah mistar gawang Cruz Azul, melainkan berada di lini depan. Meskipun begitu kontribusinya membawakan sebuah trophy liga untuk tim tersebut.

Kepiawaian Campos berada di lini depan memang tak bisa diremehkan. Pemain ini menciptakan beberapa gol lewat permainan di ruang terbuka, tidak hanya mengandalkan tendangan bebas atau penalti. Bahkan saat menjadi penjaga gawang pun ia sempat membantu lini depan dengan keluar dari sarang, apabila tim membutuhkan gol. Total 38 gol sudah dicetak oleh Campos, menjadikannya sebagai salah satu kiper yang produktif dalam sejarah sepakbola.

Dan Menjadi Pemain Pertama Meksiko yang Disodorkan Kontrak Oleh Nike

Bakat sertai keahlian Campos dalam menghalau serangan, serta pakaian yang mencolok menjadikan El Brody, julukan campos, membuatnya semakin terkenal. Popularitasnya pun semakin menanjak setelah ia bermain di dua klub Amerika Serikat atau MLS, LA Galaxy dan Chicago Fire. Lewat karir yang dibangun tersebut, popularitas Campos melonjak naik setelah dipilih sebagai penjaga gawang untuk iklan Nike : Good vs Evil pada 1994.

Dalam iklan tersebut, ia pun disejajarkan dengan pemain kelas dunia lainnya seperti Paolo Maldini, Eric Cantona, Luis Figo, Patrick Kluivert, dan Ronaldo.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top