Sport

Sial! Saat Piala Dunia 2022 Tiba Para Pemain Hebat Ini Tak Lagi Berlaga

Membanggakan negara mungkin sudah menjadi salah satu pencapaian para pesepakbola. Konotasi pahlawan kan tidak lagi berjuang di medan perang, namun membawa nama negara ke kejuaraan dunia juga  dianggap pahlawan. Ada tekanan besar, terutama dari publik yang menginginkan negaranya dapat berbicara banyak di persepakbolaan, tidak hanya ditingkat benua namun juga dunia.

Tapi sialnya nih, para pemain hebat yang bung saksikan di Piala Dunia 2018 lalu, yang  kini berlaga di kompetisi Eropa. Mungkin sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk berlaga saat Piala Dunia 2022 mendatang di Qatar. Berbagai alasan dan faktor bisa membuat ia tak lagi dipanggil ke timnas, atau memang menolak?

Kira-kira siapa saja ya bung pemain hebat tersebut?

Cristiano Ronaldo

Di tahun 2022 nanti, Ronaldo sudah menginjak usia 37 tahun. Usia yang terbilang sudah tua bagi pesepakbola. Bisa jadi, tahun 2018 lalu menjadi tahun terakhir bagi pemain yang selama satu dekade ini menjadi pusat perhatian dan pembicaraan bersama Lionel Messi.

Ronaldo memang berujar, ingin bermain bola sampai umur 40 tahun, tapi kita tidak mengetahui apakah punggawa Juventus ini masih bertaji seperti saat ini. Atau secara tidak terduga memutuskan pensiun beberapa tahun lagi.

Lionel Messi

Seteru abadi Cristiano Ronaldo ini, memang menjadi pemain paling ajaib yang kita lihat. Bisa dibilang Messi adalah titisan Maradona dari cara menggoceknya. Di Piala Dunia 2018 lalu, ia seperti terbebani membawa panji-panji Argentina.

Tim Tango pun, tak begitu menggigit dengan adanya Lionel Messi. Di usianya yang sekarang sudah menginjak 32 tahun rasanya sukar untuk kembali mengisi timnas Argentina. Apalagi ia pernah menyatakan pensiun setelah gagal membawa negaranya juara Copa America tahun 2016, sebelum ia meralatnya.

Manuel Neuer

Bung ingatkan saat Neuer maju hampir melewati lapangan tengah, dan bolanya terebut? kemudian kesempatan itu dimanfaatkan Korea Selatan untuk mencetak gol dan mengagalkan jalan Jerman ke babak 16 besar Piala Dunia 2018 lalu. Itu adalah pengalaman pahit Manuel Neuer kami pikir.

Kiper yang sekarang menginjak usia 32 tahun ini, seharusnya tak menjadikan usia sebagai masalah. Karena banyak kiper yang makin tua, makin matang pengalamannya di bawah mistar seperti Gianluigi Buffon. Tetapi di musim 2017/18 ia hampir diterjang cedera sepanjang musim, bisa jadi ia tak lagi mengigit performanya saat Piala Dunia 2022 tiba.

Andres Iniesta

Usianya yang sudah menginjak 34 tahun di Piala Dunia 2018 lalu, sangat tidak mungkin untuk membela Spanyol kembali di tahun 2022. Sekarang pun ia telah meninggalkan Barcelona dan meneruskan karir di Liga Jepang. Di mana liga-liga di Asia tidak seketat di Eropa, otomatis performa pun sudah tak lagi istimewa seperti sebelumnya.

Belum lagi bintang-bintang Spanyol, terutama di lini tengah bermunculan. Rasanya Piala Dunia 2018 menjadi edisi terakhir bagi karir pemain satu ini.

Luka Modric

Terpilih sebagai pemain terbaik Piala Dunia 2018 dan mendapatkan Ballon d’Or 2018, sekaligus memutus rantai dualisme Ronaldo Messi di trofi tersebut membuat tahun 2018 menjadi istimewa bagi Luka Modric. Sayang saat membawa Kroasia di partai puncak menghadapi Prancis, mereka harus menyerah 1-4.

Gagal lah trofi Piala Dunia mampir ke Kroasia. Usianya kini yang sudah menginjak 32 tahun, rasanya sulit untuk kembali tampil di Piala Dunia 2022. Kemungkinan ia juga sudah tak membela Real Madrid di tahun tersebut.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Alat Fogging Dipakai Saat Penyerahan Juara Demi Efek Asap Layaknya Turnamen Sepakbola Dunia

Menaiki podium jadi mimpi setiap tim dalam sebuah turnamen. Podium layaknya tempat terindah yang diperjuangkan, apalagi kalau jadi nomor satu. Proses penyerahan tropi jadi momen bangga dan haru. Dalam setiap turnamen besar sepakbola di dunia, biasanya ada efek asap saat penyerahan tropi diiringi confetti. Justru hal unik terjadi di Indonesia lewat unggahan video akun Twitter @adesaktiawan.

Video yang diunggah tersebut memperlihatkan momen unik ketika sebuah turnamen dan proses penyerahan tropi, memberikan efek asap menggunakan alat fogging pembasi nyamuk. Lantas hal ini menjadi bahan pembicaraan. Dalam video tersebut penyerahan tropi diberikan penyelenggara.

Ketika tim dokumentasi mengabadikan momen kemenangan, pantia berikan aba-aba kepada seseorang yang memegang alat fogging untuk memberikan efek asap yang keluar dari belakang panggung. Kejadian unik ini dinyatakan terjadi di daerah Tarakan, Kalimantan Utara.

“Perayaan juara Liga Anti DBD,” tulis @adesaktiawan dalam akunnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Ditengah Isu Mafia Bola, Garuda Muda Justru Memberikan Kabar Bahagia Dengan Jadi Juara

Garuda muda kita kembali berjaya! aktor dibalik itu semua lagi-lagi adalah Indra Sjafri bung yang pada 2013 lalu membawa Timnas Indonesia U-19 yang saat itu digawangi Evan Dimas cs menjuarai Piala AFF U-19 2013. Kini ia kembali membawa Indonesia berada di podium tertinggi setelah Indonesia berhasil menekuk Thailand 2-1 di ajang Piala AFF U-22 2019 di Kamboja.

Dalam laga sengit tersebut Indonesia sempat tertinggal terlebih dahulu lewat gol tandukan pemain Thailand. Publik Indonesia yang hadir di Olympic Stadium, Phnom Penh, Kamboja punt terdiam. Tapi hanya berdurasi satu menit saja bung, setelah Sani Rizky menyamakan kedudukan tepat lewat tendangan dari luar kotak penalti. Sebelum akhirnya Osvaldo Haay mengunci kemenangan dengan gol tandukannya yang jadi penentut gelar juara menjadi miliki Indonesia U-22.

Prestasi ini tentu menjadi pemanis dibalik cerita buruk persepakbolaan Indonesia yang sedang hangatnya isu mafia bola dan pengaturan skor. Menpora, Imam Nahrawi menjanjikan sejumlah bonus yang menggiurkan kepada Timnas Indonesia U-22.

Kami siapkan bonus buat pemain. Kalau hitung total bonus mencapai Rp 2,1 miliar. Pemain belum ada yang tahu soal ini,” terang Imam.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Menolak Menjadi Pengikut ‘Setan Merah’ Demi Fokus Menjalani Agama

Mendapat tawaran dari klub macam Manchester United, pasti membuat pemain berpikir dua kali untuk menolak. Lebih besar kemungkinan untuk menerima tawaran dari pada menampik. Baru-baru ini mantan bek Juventus, Mehdi Benatia lebih memilih gabung ke Al-Duhail dari pada mempertajam karirnya di klub raksasa Premier League, Manchester United. Ia mengaku menolak menjadi ‘Setan Merah’ demi fokus menjalankan agama.

Saat menolak tawaran dari Manchester United, banyak kritikan yang hadir dari mulut para ahli olahraga di negara asalnya, Maroko. Benatia sadar kalau dirinya mendapat kepungan kritikan atas keputusannya pindah ke Qatar. Ia memilih Al-Duhail tidak serta merta karena gaji yang tinggi tapi bertujuan untuk hidup dalam nuansa islami yang kental.

“Saya menghadapi kritikan dari kritikus olahraga Maroko setelah pindah ke Doha, tapi saya inign semuanya menghormati pilihan saya. Sebab ini adalah yang terbaik untuk saya beserta keluarga,” tutur Benatia dalam situs resmi Al-Duhail.

“Saya ingin anak-anak tumbuh dalam atmosfer islami, dan saya bisa pindah ke klub Uni Emirat Arab atau Arab Saudi, tapi saya lebih memilih Al Duhail, dan karena ada banyak pemain Maroko yang bermain bersama tim nasional dan juga klub golf,” lanjutnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top