Relationship

Si Nona Ini Bahagia dan Ikhlas Dimadu Saat Sang Suami Menambah Pendamping Baru, Bung

Tak semua perempuan setegar Lela Qaseh Arayyan Arfan, lantaran ia bahagia saat suaminya menikah lagi atau yang kerap dikenal dengan poligami. Kebahagiaan Lela bukan sekedar anggapan saja, melainkan ia coba mencurahkan rasa bahagianya lewat akun media sosial.

“Alhamdulillah semuanya selamat, selamat pengantin baru suamiku. Bertambah lagi tanggung jawab awak. Moga awak boleh membimbing kami ke jalan yang diredhai, dan kami sentiasa bahagia bersamamu hingga Jannah Allah, Aminn. #2julai #Diemaduku #ManisnyeMadu #kamiIsteriDie #AllahSebaikBaikPerancang #DoakanKebahagiaanKami,” tulis Lela Qaseh.

Ketegaran perempuan asal Malaysia ini semakin menjadi-jadi saat ia mengunggah kebahagiannya menghadiri acara pernikahan sang suami dengan pendamping barunya. Kelapangan hatinya makin terlihat, setelah ia memberi caption pada foto tersebut dengan kalimat “Pengantin Baru Suamiku”.

Tak ayal, postingan dari Lela Qaseh mengudang perhatian netizen atau dunia maya. Bahkan hingga berita ini diturunkan, postingan soal lelah telah dibagikan sebanyak 11.000 kali dengan ribuan tanggapan, yang mana berisikan pro dan kontra akan keputusannya. Postingan tersebut diunggah pada tanggal 3 Juli 2018.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Siapa Bilang Telat Menikah Menunda Bahagia? Justru Sebaliknya Bung!

Digempur pertanyaan tentang menikah menjadi hal yang kurang nyaman bagi mereka yang belum memutuskan untuk melepas masa lajang. Maklum bung, para laki-laki biasanya mempunyai pertimbangan lebih kenapa tidak menikah saat ini. Meskipun urusan finansial sudah bukan menjadi masalah. Apabila banyak tekanan menekan anda yang membuat bung jadi ‘kebakaran jenggot’ untuk buru-buru menikah, itu juga salah.

Penelitan yang dimuat dalam Journal of Family Psychology yang dilakukan University of Alberta menemukan, kalau mereka yang menikah di usia lebih tua atau lebih lambat dari teman-temannya ternyata terdapat level kebahagiaan dan kepercayaan diri tinggi dibanding teman-teman bung yang menikah muda lho. Risiko macam perceraian dan depresi tidak akan menghantui mereka yang menikah di usia matang bung. Seperti dituturkan Matt Johnson sang peniliti secara langsung.

Partisipan laki-laki rata-rata menikah di usia 28 tahun dan partisipan perempuan di usia 25 tahun. Survei dilakukan terhadap 405 orang Kanada yang telah lulus SMA dan usia paruh baya yang lahir tahun 1984 yang menikah di usia muda maupun tua. Demi melihat seberapa bahagia dan tenang pernikahan berdasarkan usia saat pertama kali menikah.

Jadi nggak perlu pusing lagi bung kalau ditanya “Kapan nikah?”, lebih baik mantapkan karir  dan mencari kebahagiaan yang hakiki.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Bertutur Kata Sopan Jadi Kunci Mendapatkan Lampu Hijau Dari Calon Mertua

Tindak tanduk laki-laki menjadi tinjauan setiap orang tua pasangan. Apakah ia cocok untuk disandingkan dengan anak perempuanya yang masih melajang. Dari sekian banyak hal yang harus disiapkan, terutama saat ingin meminta restu dari orang tua si nona. Satu hal yang harus bung utamakan yakni sikap yang sopan.

Yap, sopan, menjadi kunci untuk bisa meyakinkan orang tua pasangan, kalau bung bukan orang yang sembarangan atau urakan. Nah, perihal Sopan menyopan tidak hanya mengacu pada satu hal. Bisa dari verbal dan non verbal, termasuk pakaian. Maka dari itu utamakan kesopanan secara sikap menjadi hal utama selain kata-kata jitu yang akan dinyatakan kepada orang tua pasangan.

Perihal restu sangatlah sakral tuk didapatkan dan tidak mudah. Orang tua pasangan pasti akan memikirkan bebet dan bobot dari siapa yang berani datang mengetuk pintu rumahnya, guna melamar buah hatinya. Demi mempersiapkan hal itu semua bung harus memikirkan matang-matang. Tentang apa yang bung bawa untuk meyakinkan orang tua si nona.

Sebelum Memupuk Keberanian untuk Bertemu Orang Tua Pasangan, Pastikan Si Nona Mau Bung Pinang

Pacaran yang bung lakukan bertahun-tahun lamanya, tidak sejalan dengan ia mau untuk menikah lho. Ada beberapa perempuan yang masih memiliki keinginan sendiri, lantaran masih enggan untuk berumah tangga. Meskipun kami juga meyakini kalau laki-laki juga banyak yang memiliki persepsi semacam ini. Maka, sebelum melancarkan strategi untuk bertemu orang tua pasangan. Ada hal utama yang tak boleh bung lupakan yaitu memastikan si nona mau untuk bung bawa ke pelaminan.

Tapi beda kasus apabila si nona sendiri yang meminta kepastian kapan ia akan dilamar. Kalau kode semacam itu sudah diunggah oleh nona, berarti sudah tepat waktunya untuk berbicara kepada calon mertua. Tentu dengan catatan bung juga sudah siap mengemban tanggung jawab menjadi kepala rumah tangga.

Ketahui Tradisi Keluarga Pasangan, Supaya Semuanya Berjalan Aman

Di zaman modern semacam ini, nilai-nilai tradisi keluarga tidak akan luntur begitu saja. Tradisi semacam yang diturunkan secara turun-temurun harus bung ketahui agar tidak salah kaprah. Untuk mengetahui secara detail, gali informasi dari si nona dengan menanyakan apa saja yang perlu bung siapkan.

Jangan sampai bung gegabah dengan alasan, “Aku datang dengan niat baik, masa iya diperlakukan tidak baik”, karena pointnya bukan di situ. Intinya ketahui dulu medan seperti apa yang akan bung jalani sebelum memberanikan diri.

Yakinkan Diri Sendiri, Jangan Sampai Bung Menikah Karena Terbawa Emosi

Saat memantapkan diri untuk melamar si nona, pastikan diri bung juga telah siap berumah tangga. Jangan sampai bung bertindak gegabah saat memberanikan diri bertemu orang tua pasangan, lantaranbung emosi akibat ditekan terus menerus oleh sebuah pertanyaan “Kapan kamu nikahin aku?“.

Berumah tangga bukan urusan sepele seperti membina kehidupan berdua secara bersama-sama. Berumah tangga juga bukan urusan ranjang yang sebelumnya haram dilaksanakan kemudian berubah menjadi halal. Tetapi akan banyak ujian yang menguji rumah tangga.

Otomatis menyiapkan dan meyakinkan diri jangan sampai tidak dilaksanakan. Ambilah waktu sejenak, berkontemplasilah dengan memberikan pertanyaan kepada diri sendiri. Jangan sampai ada rasa tidak cocok dengan si nona hingga akhirnya memutuskan di tengah jalan.

Tentukan Waktu yang Tepat Untuk Menikahinya

Pikirkan waktu yang tepat untuk menikahi si nona menjadi sebuah estimasi yang tepat guna. Waktu tidak terasa cepat berlalu, penentuan waktu menikah juga menyesuaikan kesiapan bung untuk memikirkan tetek bengek seperti gedung, wedding organizer, catering sampai acara lamaran.

Mempersiapkan hal tersebut tidak bisa dadakan. Ingat, meskipun ini pernikahan kalian, orang tua  pasti akan meng-intervensi dengan kemauan dan tradisi mereka. Apakah pernikahan dengan cara adat atau tidak. Maka dari itu urusan estimasi waktu harus ditentukan.

Terlebih lagi, bung harus membicarakan masalah waktu dengan orang tua dan juga orang tua pasangan. Kondisi umum yang terjadi adalah para orang tua ingin digelar secepatnya. Lebih cepat lebih baik menurutnya. Sedangkan menunda akrab dengan kesan-kesan mitos semacam pamali atau terjadi hal yang tidak diinginkan.

Tetapi kalau bung mampu menjelaskan alasan yang masuk akal, tentu orang tua bisa mempertibangkan dan mendoakan agar berjalan tanpa hambatan.

Kenali Orang Tua Pasangan dan Datang Dengan Sopan

Seperti yang sudah kami bilang, bahwa kesopanan harus dijunjung tinggi saat berkunjung, terutama saat bertemu orang tua. Mulai dari bertutur kata sampai bersikap dihadapannya harus diatur sedemikian rupa. Kami tak menjadikan bung sebagai boneka dengan tidak bersikap asli seutuhnya saat dihadapan orang tua.

Tapi bung pikir saja, masa iya di hadapan calon mertua bung bersikap seenaknya? yang ada bung akan diusir dari rumahnya. Tentu sebelum bung melancarkan obrolan serius, pastikan bung telah melakukan obrolan sebelumnya guna membaca sikap orang tua sekaligus memperkenalkan diri bahwa bung yang ada di depannya sekarang adalah orang yang akan melamar nantinya.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Memasuki Usia 10 Tahun Pernikahan, Banyak Hal yang Dulunya Dilakukan Mulai Menghilang

Menyatukan dua kepala, dua insan dalam satu rumah tangga memang bukan hal mudah. Meskipun begitu, bukan berarti bung bersikap dengan menghindari pernikahan, tetapi hadapilah. Toh sulit atau rumitnya pernikahan juga memiliki keuntungan, yang tak perlu lagi dijabarkan.

Dalam pernikahan tersedia beberapa fase untuk memajukan kualitas hubungan. Dengan kata lain, fase-fase tersebut adalah ujian yang sedang mengasah kebersamaan. Karena kalau bung dan nona berhasil melewati secara kualitas hubungan kalian telah teruji.

Senada dengan kami, Bright Side juga mengatakan jika bung tidak perlu takut akan krisis pernikahan. Hal utama yang harus dilakukan kepala rumah tangga adalah tidak lelah untuk mencari cara dalam mengatasi kesulitan. Terlebih kalau usia pernikahan telah berjalan selama 10 tahun.

Sebuah penelitian baru-baru ini mengatakan kalau 10 tahun adalah ambang sulit dalam pernikahan. Hal ini didasari dari sebuah riset yang melibatkan 2.000 wanita di AS. Mayoritas mereka mengatakan tahun ke-11 adalah masa yang sulit. Beragam kesulitan dan cobaan bakal tersaji di usia ke-10 sebuah pernikahan. Untuk itu kami jabarkan masalah-masalah umum yang biasa ditemui saat hubungan sakral terjalin lebih dari satu dekade.

Bertambahnya Usia Semakin Lupa Bagaimana Bercanda Antara Bung dan Nona

Hidup semakin lama dijalani semakin serius, ada banyak hal yang membuat kita jadi lupa bagaimana cara bercanda dan bersenang-senang. Kita kehilangan selera humor untuk dibagikan kepada pasangan. Hubungan berjalan begitu garing tanpa ada hal-hal yang membuat bung dan nona tertawa. Bahkan hal yang tadinya dapat ditertawakan secara bersama-sama, sekarang malah tidak bisa lagi diakses untuk bahan canda.

Guna mengatasi hal ini, janganlah terlalu serius dalam menjalani hidup. Bangunlah topik ringan atau hal receh. Tawa nona yang bung rindukan setelah sekian lama mungkin akan kembali bergelora. Jadikan hal-hal konyol tersebut sebagai hal yang membawa warna baru dalam hubungan.

Kesabaran Menghilang, Dulu Toleransi Kini Tidak Lagi

Proses saling mengerti satu sama lain tidak lagi terjalin. Saat nona melakukan kesalahan, dahulu bung bisa memaklumi dan memahami. Tidak ada teguran yang berlebihan, dari lisan pun keluar kata-kata untuk sekedar mengingatkan. Seiring berjalannya waktu semuanya telah berubah. Bung menjadi pribadi yang tidak sabar, saat nona salah bung tidak lagi bisa memaklumi namun cenderung untuk memaki.

Suasana yang dulu harmonis sekarang berubah kritis. Tadinya hari-hari penuh canda dan tawa kini cenderung kaku. Apabila hal semacam ini terjadi, cobalah pikirkan sejenak tentang awal pernikahan kalian. Di mana hubungan dibangun atas dasar cinta dan kesiapan berumah tangga. Bung dan nona berada dalam satu tim yang sama. Saling support sampai saling berbagi cara bahagia. Otomatis toleransi tersebut akan muncul kembali.

Tidak Terasa Ada Hubungan yang Hidup Dalam Pernikahan

Memilukan dari hubungan yang tidak dapat terjalin. Semuanya lebih kepada urusan masing-masing. Bung dengan nona yang tadinya satu, kita sudah tak lagi menyatu. Nona sibuk dengan pekerjaan dan rumah tangga, sedangkan bung mulai lupa dengan anak dan berkonsentrasi dengan karir.

Ketika menjalani hidup yang menghabiskan waktu bertahun-tahun memang wajar akan ada fase semacam ini. Untuk menjaga nafas hubungan tetap ada, ingatlah niat kalian untuk bersama seperti menjaga hubungan tetap kuat dan harmonis. Lakukan kebiasaan kecil yang dulu membuat kalian tetap terikat. Bertukar pikiran, makan bersama, menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan, dapat menjadi penawar rasa hambar dalam hubungan pernikahan.

Sampai Berfikiran, Cita-cita Harus Hilang Harapan Karena Pernikahan

Sebelum menikah bung memiliki cita-cita untuk mempunyai mobil mewah atau mengelilingi Asia Tenggara. Cita-cita itu terus bung pegang, dan berharap dapat diwujudkan. Saat menikah semua prioritas pun bergeser ke arah keluarga, cita-cita itu perlahan musnah karena semuanya bertuju kepada pasangan dan juga anak tentunya.

Bung pun mulai berpikiran bahwa menikah menghalangi segalanya. Padahal tidak semestinya bung berpikir semacam itu di kondisi seperti ini, fase 10 tahun dalam pernikahan tidak membuat pasangan ditempatkan sebagai beban. Justru demi kedewasaan dalam memang kehidupan mengharuskan bung memilih kepenting bersama dari pada pribadi.

Kadar Bercinta pun Mulai Tidak Terencana, Sampai Hasratnya Telah Tiada

Menikah selama sepuluh tahun akan memudarkan kehidupan seks dengan pasangan. Sejumlah alasan pun diterima masuk akal, kesehatan fisik dan mental, masalah anak, efek samping obat-obatan sampai stres bahkan masalah tidur. Apakah hal ini salah? tentunya iya, harus ada diskusi antar bung dengan si nona terkait persoalan seksual.

Komitmen untuk membangkitkan kembali gairah seksual, terlebih bagi pasangan yang sudah bertahun-tahun tidak lagi bersentuhan. Saat bersentuhan otomatis akan terasa canggung pada awalanya. Tetapi ini dapat diatasi lewat obrolan dari hati ke hati soal masalah seksual.

Mengatasi krisis dalam hubungan seperti tahun ke-10 pernikahan menjadi masalah yang dialami setiap pasangan. Menurut ahli terapi keluarga semacam Dana Fillmore dan Amy Barnhart menyertakan humor dalam hubungan akan menambah keceriaan dalam pernikahan. Karena kalian dihaurskan untuk sering tertawa bersama. Jika periode waktu dapat diatasi, maka kepuasan hubungan akan meningkat selama 20 tahun ke depan.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top