Sport

Si Muda Pandai Berlari Membawa Nama Indonesia di Kasta Tertinggi

Gemerlap Piala Dunia yang sudah menghampiri babak puncak membutakan jutaan pasang mata Indonesia, sehingga tak peka dengan prestasi yang dicetak oleh pemuda bernama Lalu Muhammad Zohri. Dirinya berhasil menjadi yang terdepan dalam ajang Dunia Atletik U-20 di nomor bergengsi lari 100 meter putra.

Pemuda berusia 18 tahun ini berhasil menjadi yang terdepan dengan perolehan waktu yang cukup tipis dari dua pelari asal negeri Paman Sam, Anthony Schwartz dan Eric Harrison yang sama-sama mencatat waktu 10,22 detik. Sedangkan Lalu mencatatkan waktu 10,18 detik. Di atas kertas, Lalu bukanlah nama yang diunggulkan meskipun notabene dia adalah juara Asia.

Berdirinya Lalu di podium merupakan sebuah sejarah baru dalam dunia atletik Indonesia. Prestasi terbaik atlet Indonesia di nomor lari 100 meter di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 adalah finis di posisi ke-8 pada babak penyisihan di tahun 1986.

“Saya sangat gembira dengan catatan waktu terbaik saya dan rekor junior nasional. Sekarang, saya akan mempersiapkan diri untuk Asian Games bulan depan,” kata Lalu di situs resmi Federasi Atletik Dunia (IAAF).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Nyawa Kembali Tumbang Akibat Sepak Bola, Pembekuan Sepekan pun Akan Dilakukan

Sepak bola kembali menjadi pemicu hilangnya satu nyawa penikmatnya lantaran menjadi korban amukan suporter rival saat laga Persib kontra Persija. Melihat kejadian yang tak pernah diusut secara tuntas dan selalu terjadi ini, membuat Badan Olahraga Profesional Indonesia atau BOPI mengancam akan menghentikan sepak bola profesional selama satu pekan ke depan. Hal ini pun disampaikan langsung oleh Richard Sambera selaku ketua.

Direktur Media dan Promosi, Gatot Widakdo mengatakan kalau BOPI telah menetapkan bahwa mulai hari ini, Selasa 25 September 2018 kompetisi sepak bola profesional yang ada di Indonesia akan dihentikan sementara waktu. Sehingga selama satu pekan ke depan, kompetisi profesional Indonesia seperti Liga 1 dan Liga 2 bakal tidak bergulir sebagaimana mestinya.

“BOPI sudah menetapkan jadwal itu dan kami segera mungkin berkoordinasi dengan PT LIB bagaimana implementasinya seperti apa selama 24 jam ke depan,” pungkas Gatot dilansir dari Tribun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Juara China Open 2018, Anthony Ginting Layak Jadi Pebulutangkis Papan Atas Dunia

Tak ada jalan mudah menuju tangga juara sepertinya jadi sebuah pepatah yang terjadi secara realistis pada pebulutangkis Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting pada ajang China Open 2018. Pasalnya Ginting, mengalahkan pebulutangkis-pebulutangkis peringkat atas BWF seperti Victor Axelsen sang unggulan pertama, lalu Chen Long, Lin Dan, Chou Tien Chen, dan Kento Momota di laga pamungkas.

Perjalangan Ginting mengalahkan para penjegal bisa dibilang sebagai mission impossible. Bung. Layaknya dalam film, akhirannya pun happy ending. Di babak pertama Ginting sudah harus berhadapan dengan sang legenda China, Lin Dan dengan tiga games 22-24, 21-5 dan 21-19. Melewati Lin Dan, ternyata ada lawan terkuat lainnya yakni sang peringkat satu dunia, Victor Axelsen. Secara mengejutkan performa Ginting sedang naik hingga mampu mengatasi Axelse dalam dua set sekaligus 21-18 dan 21-17.

Di perempat final, Chen Long mencoba menghadang Ginting namun gagal setelah memenangkan laga 18-21, 22-20 dan 21-16. Kemudian di semifinal giliran pemain Taipe, Chou Tein Chen yang menjadi korban keganasan performa dari Ginting dengan rubber set, 12-21, 21-17, dan 21-15. Sampai pada akhirnya Ginting pun berhasil menjadi jawara setelah mengalahkan Kento Momota.

Tak terbendungnya Ginting di ajang China Open dengan mengalahkan para pebulutangkis papan atas tentu adalah hasil dari usaha maksimal yang dilakukan oleh Ginting dan pelatihnya. Terlebih bila melihat perkembangan Ginting sampai kepada China Open. Meskipun sekarang hanya berada di posisi 13 dunia, namun dirinya telah telah berhasil mengalahkan 10 besar pebulutangkis dunia, tentu saja hal ini bisa menjadi alasan kenapa Ginting menjadi pebulutangkis dunia. Tentunya dengan catatan kalau performanya bisa terus terjaga seperti ini. Gimana Bung? Setuju?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Inspiring Men

Demi Berlaga di Asian Games, Yudha Rela Kehilangan Pekerjaannya sebagai Badut

Kisah atlet senam trampolin Yudha Tri Aditya, dapat menjadi inspirasi bagi kita semua, sebab baginya membela negara dan harapan orangtua adalah yang utama. Yudha dari awal merupakan atlet pesenam artistik gymnastik, bersama Sindhu Aji Kurnia yang menjadi wakil Indonesia di nomor tersebut untuk Asian Games 2018. Dua tahun lalu, Yudha sempat berhenti setelah gagal di Pekan Olahraga Nasional 2016 dan juga cedera.

Laki-laki yang usianya sudah mau menyentuh kepala tiga ini bekerja di taman bermain di Bandung, setelah berhenti jadi atlet. Yudha bekerja sebagai badut, pemain sirkus, sekaligus penjaga wahana. Pekerjaannya menuntutnya belajar senam trampolin yang ia pelajari secara otodidak mengandalkan video tutorial di YouTube. Pada prosesnya Yudha mulai berkembang dalam senam trampolin, hingga akhirnya masuk pelatnas trampolin untuk tanding di Asian Games 2018, setelah menyabet medali emas dan perak dalam ajang perlombaan trampolin di Houbii.

Ketika meminta izin untuk berlaga di Asian Games 2018, manajer tempatnya bekerja tak serta-merta memberikan izin. Apalagi sang manajer bilang bahwa Asian Games bukan momen penting. Hal itu melukai hati Yudha hingga ia bertekad bulat keluar dari pekerjaanya.

“Aku tidak dapat izin di tempat kerja itu, sampai akhirnya dia (manajer) memberi pilihan mau pekerjaan atau Asian Games. Dia bilang kerjaan tiap bulan ada (gaji) dan reguler juga ada, sedangkan Asian Games cuma sementara. Terus dia bilang Asian Games tidak penting juga,” ucap Yudha.

Bagi Yudha, ajang olahraga seperti ini adalah sebuah mimpi. Ucapan almarhum ayahnya terus mengalir di dalam sanubarinya ketika ia diajak dalam pembukaan festival olahraga tahun 1993.

“Waktu tahun 1993 ada pembukaan olahraga gitu, aku digendong bapak nonton pembukaan. Masih ingat betul aku omongannya. Bapak bilang kapan ya anakku bisa bela kota, apalagi sampai bisa bela negara,” kenang Yudha.

“Aku kecewa dengan omongan manajer. Gila, dia bilang Asian Games tidak penting. Itu padahal ajang yang tidak mudah. Akhirnya aku ambil keputusan ikut Asian Games demi mimpi almarhum bapak aku,” sambungnya.

Selepas Asian Games, Yudha mengakui belum tahu akan bekerja di mana. Terlebih selepas kepergian ayahnya, ia yang menjadi tulang punggung keluarga. Saat ini dirinya mengisi hari-hari dengan melatih pesenam trampolin di Houbii dengan bayaran yang tidak pasti. Akan tetapi memenuhi harapan sang ayah adalah prioritas yang tak dapat diganggu gugat baginya.

“Waktu pembukaan Asian Games aku langsung merasakan bahwa mimpi itu terjadi. Tapi, aku di saat itu juga merasakan lagi kehilangan bapak,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top