Narasi

Sering Tak Adil Pada Wanita, Hari Ini Biarkan Mereka Bebas Tanpa Bra

Wanita dan penampilannya tentu jadi sesuatu yang menarik perhatian, dan poin utamanya sering kita letakkan pada bagian tubuh terdepan. Apalagi kalau bukan payudara yang ia punya. Wajar memang jika hal tersebut tak bisa dilewatkan, karena memang letaknya ada di depan.

Hanya saja hal ini sering kali kita jadikan ajang yang malah terdengar sangat tak adil bagi mereka. Masih tak sadar? Mari kita telisik lebih dalam

 

Memberi Mereka Vonis Yang Kejam, Hanya Karena Tak Pakai Bra Saat Sedang Bepergian

Dipertengahan tahun 2016 lalu, terkait laporan yang dilayangkan oleh mantan suaminya Sajad Ukra. Artis Nikita Mirzani yang memang dikenal selalu tampil seksi dengan pakaian yang kerap terbuka, mendatangi Polda Metro Jaya dengan hanya menggunakan baju tipis tanpa mengenakan bra.

Lalu selanjutnya, beberapa dari netizen belomba-lomba untuk memberi komentar atas penampilannya yang lebih didominasi oleh kita kaum laki-laki. Mulai dari sebutan “murahan” hingga kata-kata lain yang rasanya tak pantas untuk disampaikan. Padahal sekalipun Nikita adalah istri atau pacar kita, tentu kita juga tak berhak untuk menghakiminya hanya karena tak pakai bra. Toh itu adalah haknya.

 

Terlepas Dari Manfaat Baik Yang Mungkin Mereka Inginkan, Dia Yang Tak Pakai Bra Sungguh Bukanlah Urusan Kita

Faktanya pro dan kontra pemakaian bra yang katanya jadi pemicu kanker payudara memang belum menemukan titik temu. Namun sebagian besar perempuan percaya bahwa mengurangi frekuensi pemakaian bra dalam aktivitasnya, bisa berdampak baik untuk kesehatan mereka. Dan hal itu pulalah yang menjadi alasan mengapa sebagian wanita sering memilih untuk tidak memakai bra.

Lalu coba bayangkan, bagaimana reaksi yang kerap kita tunjukkan bagi meraka? Kita sering merasa bahwa itu jadi sebuah pilihan yang tak wajar. Mengingat mereka adalah wanita, sudah seharusnya menjaga segala sikapnya. Termasuk dalam hal memilih pakaian, mungkin begitu kata kita. Padahal itu semua hanyalah sebuah topeng yang sering kita gunakan, untuk ikut mencampuri pilihan mereka.

 

Padahal Memakai Suatu Pakaian Tentu Soal Kenyamanan, Lalu Apakah Kita Berhak Menyalahkan?

Siapa pun tentu tak berhak untuk menilai baik buruknya pilihan seseorang. Tak hanya kita saja, yang sering memutuskan untuk mengenakan sesuatu, mereka juga memiliki hak yang sama.

Tak jauh berbeda dengan jenis pakaian lainnya, urusan kenyamanan tentu jadi hal yang utama. Beberapa dari kita mungkin tak akan memakai kemeja, karena lebih nyaman dengan kaos oblong biasa. Demikian pula mereka, yang sering memutuskan untuk tak pakai bra karena tak nyaman. Ini bukanlah sesuatu yang berbeda, hal ini tentu sama dengan pilihan lain untuk urusan pemakain baju, atau celana.

 

Karena Sejatinya, Mereka Jadi Orang Yang Paling Berhak Untuk Memutuskan Mau Pakai Atau Tidak!

Sebagai seseorang yang tak pernah tahu bagaimana rasanya mengenakan bra. Kita tentu tak boleh jadi pihak yang akan jadi hakim untuk mereka. Kita boleh saja menyimpulkan bahwa ada efek baik dan buruk dari pemakaian bra. Namun untuk itu semua tentu setiap perempuan punya tolak ukur yang akan dijadikan patokan. Apakah nanti ia akan tetap dipakai atau tidak.

Memang pada beberapa kesempatan tentu pilihan tersebut tidak selalu sejalan. Namun lebih daripada itu, semua hal yang akan dilakukan oleh perempuan, pilihannya tetap berada pada tangan mereka.

 

Meski Katamu Ini Jadi Sesuatu Yang Biasa, Tapi Bisa Jadi Itu Sungguh Tak Adil Ia Rasakan

Terlepas dari semua hal yang telah sering kita lakukan, kali ini kita bisa saja berdalih dengan menyebutkan bahwa apa yang kita sampaikan adalah sesuatu yang wajar. Mungkin kalimat ini bisa menyelamatkan kita dari beberapa tuduhan mereka. Tapi coba bayangkan, dimana letak kerugian atau keuntungan yang akan kita dapatkan. Jika berhasil untuk memberi komentar atas pilihan seorang wanita, apakah akan pakai bra atau tidak. Tentu saja tak ada.

Kita mungkin bisa saja tak sadar, berniat untuk memberi perhatian tapi malah berujung dengan perbuatan yang tak adil baginya.

 

Dan Pada Tanggal Yang Sama Seperti Tahun-tahun Sebelumnya, Hari Ini Biarkan Mereka Bebas Tanpa Bra

Peringatan yang dihelat tiap satu tahun sekali ini, memang selalu datang dengan berbagai kontraversinya. Sebagian orang berpikir bahwa kampanye ini jadi pemicu wanita untuk tak mengenakan bra salama sehari penuh. Padahal menurut awarenessdays.co.uk sebuah organisasi kesehatan masyarakat, kampanye ini sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pada para wanita mengenai kanker payudara. Denga kata lain, setiap wanita diharapkan lebih peduli pada dirinya sendiri, dengan rutin memeriksakan kesehatan payudaranya sejak dini.

Meski asal-usul No Bra Day yang diperingati setiap tanggal 13 Oktober ini masih tidak jelas. Setidaknya kampanye ini telah berjalan sejak 2011, ini artinya tahun ini adalah peringatan tahun ke 6 No Bra Day. Dengan pesan meningkatkan kesadaran akan pentingnya skrining kanker payudara bagi wanita.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Merasa Kaya Padahal Sebetulnya Kere, Ini Cirinya Bung!

Faktanya ada orang yang tak menyadari kalau mereka sebenarnya masih miskin. Bung sendiri bagaimana? Walau kaya miskin itu relatif, tapi sesungguhnya ada patokan jelas yang bisa membedakan apakah seseorang itu termasuk miskin atau tidak. Supaya tak terjebak ilusi yang membuat diri merasa kaya, coba simak beberapa cirinta berikut ini.

Bila Kehilangan Pekerjaan, Maka Tabungan Bung Tak Cukup Sebagai Biaya Hidup Setidaknya untuk 3 Bulan ke Depan

Tanda pertama kalau finansial Bung masih bermasalah adalah bila saldo tabungan Bung selama ini tak cukup untuk menopang hidup Bung selama setidaknya tiga bulan ke depan, bila Bung kehilangan pekerjaan sewaktu-waktu.

Sementara mereka yang sudah mengalami kebebasan finansial, sekalipun mendadak tak punya kerja di hari ini juga, ada dana cadangan yang sudah mereka siapkan sehingga tak perlu khawatir memakai uang tabungan. Tak banyak orang yang memikirkan soal hal ini. Ya, memang hanya orang-orang kaya yang sudah menyiapkan ‘dana darurat’ untuk kehidupan mereka.

Bung Masih Kesulitan Membayar Berbagai Macam Tagihan Pokok

Faktanya, masih ada tagihan yang perlu Bung lunasi. Entah tagihan telepon, listrik, air, dan semacamnya. Bahkan ada kalanya Bung menunda pembayarannya karena memang anggaran untuk membayar hal tersebut sedang dipakai untuk membiayai tagihan lainnya. Nah jika Bung belum bisa membayar tagihan-tagihan biaya hidup ini, maka Bung bisa dipastikan masih miskin

Saat Belanja, Bung Masih Terbuai dengan Rayuan Potongan Harga

Bung, masih sering memanfaatkan diskon atau voucher saat berbelanja? Atau masih sering terbuai diskon dan akhirnya beli barang padahal belum tentu Bung butuh barangnya juga. Terperdaya dengan diskon adalah kelemahan yang dimiliki mereka yang belum memiliki kebebasan finansial. Coba ingat lagi, kapan Bung belanja hanya karena melihat barang tersebut murah harganya?

Begini Bung, tak ada yang salah dengan memanfaatkan diskon. Tapi pola pikir ini sebaiknya segera Bung ubah bila memang mau melatih diri jadi orang sukses. Orang sukses bukan menghambur-hamburkan uang saat melihat diskon. Mereka fokus pada cara mereka menaikkan pendapatan dan memanfaatkan uang yang ada demi mendapat uang yang lebih banyak.  

Bung Masih Sering Mengonsumsi Makanan Cepat Saji

Memang tak ada yang salah dengan mengonsumsi makanan cepat saji. Tapi jangan lupakan urusan nutrisi apalagi makanan bernutrisi dibutuhkan tubuh setiap harinya. Nutrisi adalah bahan bakar untuk beraktivitas, Bung. Makanan cepat saji hanya mengandung sedikit nutrisi. Efeknya, kalau tubuh Bung tak sehat, maka produktivitas pun berpengaruh, bahkan Bung jadi tak fokus pada pekerjaan. Daripada biasa jajan makanan cepat saji, lebih baik latihan masak saja Bung.

Saat Orangtua Meminta Dibelikan Sesuatu, Bung Masih Pikir-pikir untuk Memenuhinya

Bukan Bung tak sayang orangtua. Tapi memang keadaan finansial yang tak mendukung ya Bung? Jauh di lubuk hati Bung tentu Bung maunya memenuhi keinginan orangtua. Tapi tak usah bersedih hati bila Bung memang harus menunda keinginan tersebut. Setidaknya, jadikanlah hal tersebut sebagai motivasi agar Bung bisa memenuhi permintaan tersebut suatu hari nanti.

Di Hari-hari Tertentu, Bung Masih Kekurangan Pakaian Dalam dan Kaos Kaki

Prinsip hidup orang kaya adalah membuat diri mereka nyaman. Sudahkah Bung berpikir demikian? Urusan sederhana seperti jumlah pakaian dalam dan kaos kaki saja rasanya masih kurang ya Bung. Kebersihan dua barang ini pun masih dipertanyakan. Sementara mereka yang sudah mapan, percayalah, tak ada yang namanya membuka lemari lalu kehabisan celana dalam dan kaos kaki.

Bung Masih Belum Bisa Lepas dari Kecanduan akan Barang Tertentu

Bung, coba pikirkan lagi, apakah Bung masih memiliki kecanduan terhadap satu hal tertentu yang belum bisa dilepaskan sampai hari ini? Ini salah satu tanda Bung belum bisa masuk golongan orang kaya. Begini, orang kaya adalah orang yang suka kebebasan. Mereka tak mu dikontrol oleh sesuatu bahkan oleh orang lain. Mungkin memang setiap orang punya kesukaan terhadap sesuatu, tapi tak semuanya bisa mengatasi rasa sukanya itu agar tak jadi kecanduan.

Apapun yang sifatnya berlebihan, tak baik kan Bung? Orang yang sukses biasanya sudah memiliki pola pikir bahwa mereka sampai melakukan kesalahan yang tak seberapa tapi efeknya besar untuk hidup mereka.

Kalaupun Punya Mobil, Usianya Sudah Lebih dari 10 Tahun

Untuk urusan mobil, orang kaya mengerti kalau memiliki kendaraan dengan fitur terbaru bukan semata prestis, tapi memang sangat menguntungkan mereka karena bisa memberikan kenyamanan sekaligus menjanjikan performa yang baik. Tapi kali ini, Bung belum bisa menyamai gaya hidup mereka. Alih-alih beli mobil baru, seseorang belum bisa dikatakan kaya bila usia mobilnya sudah lebih dari sepuluh tahun.

Bung Masih Berharap Kelak ada Dana Pensiun dari Pemerintah

Orang sukses punya prinsip untuk tak berharap pada pihak manapun. Sementara orang dengan mental miskin sejatinya selalu berharap datangnya bantuan dari orang lain demi melepaskan diri dari jerat masalah finansial yang menderanya.

Contoh nyatanya, bila Bung masih berharap di masa pensiun kelak ada dana pensiunan atau pemerintah yang mau memberi tunjangan pensiun, berarti Bung masih belum bisa dikategorikan sebagai golongan orang kaya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Kiat Kencan Ala Film ‘Before Sunrise’ untuk Bung dan si Nona

Film pertama yang kemudian jadi tripologi karya Richard Linklater ini memang sangat legendaris bung. Menyajikan kisah romansa sederhana, obrolan yang dibangun oleh bung Jesse dan nona Celine di film ini, memang patut di acungi jempol. 

Tak tanggung-tanggung, mereka ngobrol ngalur-ngidul untuk membicarakan segala hal. Mulai dari kehidupan, kultural, kepercayaan, filsafat, seni, cinta, dan dinamika kehidupan yang ada. Lalu coba bayangkan jika perjalanan keliling kota Viena yang mereka lakukan, bung contek untuk mengajak si nona kencan.

Percaya pada kami, ini akan jadi ide kencan tak biasa yang membuat si nona makin cinta. Tapi, sebelum melangkah membopong si nona. Ada kiat dari kami yang mungkin perlu bung pahami.

Coba Tanya Ketersedian Waktu si Nona, Jangan Sampai Tak Bisa Diajak Pergi Ketika Hari-H

Boleh saja memang, jika bung ingin mengajak nona secara dadakan. Tapi untuk menghindari kemungkinan waktu yang tak sejalan, ada baiknya bung beritahu nona sebelum hari-H. Tanyakan padanya, apakah ia tertarik pada ide kencan yang bung ingin ajukan. Dari sini, bung bisa lihat apakah si nona tertarik atau tidak. Tapi tebakan kami, si nona pasti suka bung.

Bung boleh percaya diri jika si nona pasti dengan senang hati ikut pergi. Karena kaum hawa selalu merasa istimewa jika pasangannya berbuat hal-hal berbeda untuk dirinya. Untuk itulah bung tak boleh mengecewakannya, buat ia bahagia di kencan yang tak biasa.

Tentukan Tujuan, Titik Mana yang Jadi Awal dan Akhir Perjalanan Kencan

Untuk bung yang sudah menonton film ‘Before Sunrise’, bung pasti tahu jika pertemuan Jesse dan Celine terjadi di dalam kereta. Hingga akhinya mereka berkenalan, mengobrol, lalu bung Jesse menawarkan nona Celine untuk turun di Viena saja. Disinilah awal mulanya, mereka menapaki berbagai tempat berdua.

Tapi status bung kan berbeda, si nona sudah jadi kekasih. Itulah mengapa perlu untuk menentukan, tempat mana saja yang akan jadi tujuan untuk kencan sebelum pagi menjelang. Jika sekiranya bung kehabisan ide untuk mencari tempat, tak ada salahnya untuk meminta rekomendasi pada si nona. Siapa tahu ia juga punya keinginan untuk berdua di suatu tempat pada waktu yang tak biasa.

Barangkali bung akan memulainya dari tempat makan, disambung ke tempat bersejarah untuk hubungan, untuk kemudian dilanjutkan ke tempat kesukaan, dan untuk kesan romantis yang tak biasa, cari titik finish di tempat yang pas untuk melihat matahari terbit.

Siapkan Diri untuk Membangun Obrolan Menyenangkan, Jangan Sampai si Nona Bosan

Ini adalah kunci dari keberhasilan kencan yang akan bung lakukan, cari topik obrolan yang bisa membuat bung dan nona terus mengbrol tanpa jeda. Sebagaimana bung dan Jesse dan Nona Celine di filmnya. Tak perlu yang berat-berat, biarkan obrolan mengalir begitu saja. Dan kian mudah jika bung punya selera humor yang sama dengan si nona.

Saran kami, bung hanya perlu menjadi diri sendiri untuk membangun komunikasi yang akan dilakukan sepanjang kencan. Beberapa kali, selipan pertanyaan perasaan nona selama berdua. Tanyakan pula apa hal yang mungkin ia inginkan dari kita. Percayalah bung, ini akan jadi kencan yang menyenangkan jika bung mampu tetap mempertahankan obrolan.

Karena Ini Akan Berlangsung Malam ke Pagi, Buat Persiapan untuk Kemungkinan yang Bisa Terjadi

Bung harus melakukan persiapan total, jangan sampai ada hal yang kurang ketika hendak memulai perjalanan kencan. Maka sebelum berangkat, pastikan jika tubuh bung sedang sehat, begitu pula dengan si nona. Siapkan kebutuhan logistik kecil, macam air mineral dan snack untuk menemani perjalanan.

Bahkan kalau perlu, bung buatkan playlist lagu kesukaan berdua yang bisa didengarkan di setiap pemberhentian yang ada. Dan jika kencan ini ingin bung lakukan dalam waktu dekat. Ingat juga bawa jas hujan, karena cuaca kadang tak bisa diterka bung.

Dan Pastikan Bung Tak Salah Memilih, Kendaraan untuk Kencan Kali Ini

Berbalik sebentar pada filmnya, kedua tokoh utama memang bertemu di dalam kereta. Berkeliling kota dengan angkutan umum dan berjalan kaki berdua. Nah, berhubung kota-kota di Indonesia tak seperti Viena. Bung perlu untuk menentukan kendaraan yang akan dibawa untuk pergi kencan.

Untuk kesan yang lebih intim dengan si nona, kuda besi Suzuki GSX150 Bandit jadi kendaraan yang pas untuk dijadikan teman sejalan. Dirancang untuk memberikan kenyamaan yang pas kala berkendara, si nona yang dibonceng tak akan merasa jengah. Sebab Suzuki GSX150 Bandit punya jok yang empuk dan panjang.

Dibekali mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal. GSX150 Bandit menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan. Jadi kombinasi dapur pacu yang pas untuk kencan ala ‘Before Sunrise’ yang akan bung lakukan.

Nah, karena kencannya akan dimulai ketika matahari tenggelam hingga terbit lagi. Sepanjang perjalanan, bung tentu butuh pencahayaan yang terang. Berita baiknya, Suzuki GSX150 Bandit ini, jugasudah mengadopsi tipe LED sehingga terlihat elegan. Kemudian beralih ke speedometer mata juga akan dimanjakan oleh tampilan full digital berwarna putih. Dan kami yakin, kombonasi ini jadi sesuatu yang cukup mumpuni untuk bung nikmati.

Terakhir, motor ini punya pilihan warna menarik. Mulai dari Metallic Matte Titanium Silver, Brilliant White / Aura Yellow, Stronger Red / Titanium Black hingga yang menyukai tampilan polos bisa memilih Titanium Black. Jadi bung bisa bebas memilih sesuai warna kesukaan. Bagaimana bung, tertarik ingin kencan ala film ‘Before Sunrise’ dengan Suzuki GSX150 Bandit seperti yang kami sarankan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Tingkah Polah Orang-Orang yang Pura-Pura Kaya

Ironisnya ya Bung, segelintir orang menolak fakta kalau memang harta mereka belum seberapa. Alih-alih memperbaiki kasta, ada yang memilih masuk golongan pura-pura kaya. Mereka menghidupi imajinasi dengan banyak sesumbar. Kalau Bung jeli, mudah sekali mengenali tipikal orang yang demikian. Salah satunya tentu, dia kelihatan banyak bicara padahal tak punya apa-apa.

Orang yang Ngaku Kaya, Memuja Merek Setinggi Langit Bukan Karena Kualitas

Ya, mereka lebih peduli pada imej yang dimiliki merk tersebut. Katakanlah sebuah sepatu dengan merk terkenal. Mereka yang ingin terlihat kaya akan menjadikan merk tersebut sebagai ‘tameng’. Alih-alih memahami kualitas dan mengutamakan kenyamanan, golongan orang-orang ini justru jumawa karena sudah ‘sanggup membeli’. Tujuannya, tentu berharap dapat afirmasi dari sekelilingnya atas kesanggupannya itu.

Nah, untuk golongan yang benar-benar kaya, ihwal merk adalah urusan kesekian. Yang penting, barang  tersebut berkualitas dan nyaman dipakai. Itulah kenapa beberapa barang dengan merk kelas atas justru kelihatan memiliki tampilan yang membosankan dan itu-itu saja.

Merek pengenalnya biasanya hanya tampil kecil nan tersembunyi. Ini karena para produsen mengerti pasar. Mereka hanya akan memproduksi barang untuk kalangan sendiri yang tak akan dipahami oleh golongan yang hanya mengglorifikasi sebuah merk.

Ngaku Kenal dengan Banyak Orang Besar Demi Terlihat Gahar

Bung pernah kan ketemu dengan orang-orang semacam ini? Mereka entah kenapa suka dan piawai sekali membangun cerita seolah-olah mereka kenal akrab dengan orang besar seperti pejabat atau selebritis. Padahal kita sama-sama tahu ya Bung, hal tersebut hanya omong kosong belaka.

Percayalah, orang yang benar-benar kaya dan punya banyak koneksi hebat tak akan sesumbar mengenai teman-teman dekat mereka. Buat orang kaya betulan, privasi justru nomor satu.

Entah Mengapa, Lawan Bicara Akan Mudah Bosan Berinteraksi dengan Orang yang Pura-pura Kaya

Bung, kasta mungkin bisa dimanipulasi. Tapi kelas dan perilaku tak bisa dibuat-buat. Orang yang pura-pura kaya biasanya tak disertai kemampuan yang cakap untuk membuat lawan bicara mereka percaya 100 persen dan tahan untuk berinteraksi terus dengannya. Ini karena bahasan mereka tak bisa meluas.

Mereka terjebak pada topik membangun imej kaya sehingga yang dibicarakan selalu mengenai uang dan kekayaan. Tak ada yang lebih menyenangkan selain pamer kepada lawan bicara. Padahal, orang kaya raya betulan tak akan banyak sesumbar mengenai uang yang mereka hasilkan.

Dia yang Mau Dicap Sukses, Selalu Ingin Kelihatan Punya Proyek Besar

Orang yang pura-pura sukses selalu membicarakan sesuatu besar nan potensial yang sedang ia kerjakan. Memang, mereka memiliki rencana. Hanya saja, mereka tak punya konsistensi dan disiplin diri yang tinggi. Hal ini membuat potensi nan besar itu akhirnya tak bisa membawa mereka benar-benar naik kasta. Proyek besar yang dikerjakannya sekarang tak dibarengi dengan perencanaan matang untuk jangka waktu lima sampai sepuluh tahunan.

Sementara yang benar-benar sukses biasanya adalah orang yang mau bekerja dari nol. Mereka adalah orang-orang yang punya fokus besar dan disiplin tinggi pada satu hal yang mereka kerjakan sejak lama dan tahu apa yang mereka kerjakan bahkan bisa melihat potensinya di masa mendatang. Yang membedakan orang yang suksesnya hanya pura-pura dengan yang sukses dari lama adalah konsistensi dan komitmen.

Lucunya, Mereka Tak Suka Bila Merasa Tersaingi

Bung, coba perhatikan. Orang yang pura-pura kaya biasanya ekspresinya berubah bila bertemu dengan orang yang jauh lebih kaya pengalaman dan sudah merasakan asam garam. Dalam sebuah percakapan, orang yang pura-pura kaya cenderung ingin terus menerus menguasai percakapan dan berusaha mengembalikan suasana agar topik dan arah pembicaraan kembali berbicara tentang kehebatannya.

Sementara mereka yang benar-benar kaya justru lebih sering bertanya daripada berbicara tetang diri mereka sendiri. Mereka selalu tertarik untuk mendengarkan cerita lawan bicara mereka. Jelas sekali perbedaannya, kan?

Urusaan Pekerjaan, Orang yang Pura-pura Kaya Selalu Mencari Nama yang Fancy untuk Jabatan Mereka

Memang ada beberapa pekerjaan yang sejatinya sudah punya nama pasti, namun dipercantik supaya orang lebih mengapresiasi pekerjaan atau jabatan tersebut. Nah, situasi ini yang dimanfaatkan mereka yang suka panjat sosial sekaligus ingin terlihat hebat di mata rekanannya.

Bukan hanya gelar akademik yang bisa dimanipulasi, jabatan di kantor pun dilihat semenarik mungkin supaya kelihatan ‘wah’. Kantornya memberi sebutan jabatan “sales” misalnya, maka si pura-pura kaya akan bilang jabatannya “Business Development And Relationship Maintenance Manager”

Mereka yang Pura-pura Kaya Belum Tentu Punya Banyak Tabungan

Urusan uang simpanan, ini jadi tantangan besar untuk golongan pura-pura kaya. Alih-alih mengumpulkan uang dan investasi saham, mereka memilih berinvestasi pada penampilan. Ini karena sejatinya mereka belum mengerti cara mengatur uang, yang mereka pahami hanya memakai, memakai, dan memakai, Bung.

Seiring berjalannya waktu, uang pun habis dan mereka perlu uang, maka mau tak mau berhutang. Sementara yang benar-benar kaya, urusan tabungan tak perlu ditanya.

Orang yang Benar-benar Kaya, Punya Kelasnya Tersendiri

Karena memang sudah punya ‘taste’, orang yang sudah kaya dari sananya biasanya mengerti nilai sebuah benda. Tidak hanya untuk jangka waktu sebentar, tapi beberapa waktu ke depan. Prinsip ini yang belum tentu dipahami orang yang pura-pura kaya, mereka terjebak pada tren yang berkembang dan mengikutinya.

Alih-alih menciptakan dan memili ‘taste’nya tersendiri, mereka terlalu takut untuk ketinggalan sesuatu yang sedang hits. Ya, orang dengan tipikal seperti ini bisa jadi mengidap FOMO alias Fear Of Missing Out.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top