Personality

Selisih Dengan Rekan Kerja, Buat Bung Tak Enak Hati Tapi Selalu Bisa Diatasi

Dalam bekerja pasti ada saja moment di mana bung berselisih dengan rekan kerja, hal ini memang tak dapat dihindarkan lantaran bekerja itu artiknya kita harus berinteraksi. Biasanya selisih dengan rekan kerja terjadi, karena adanya salah paham antara satu sama lain.

Adanya selisih pun tidak dapat bung diamkan begitu saja, karena dapat mengganggu performa kita saat bekerja. Mau tidak mau permasalahan ini pun harus diselesaikan. Kalau bung diamkan saja, yang ada konflik timbul makin berkepanjangan. Selain itu, selisih rekan kerja memang normal terjadi meskipun bung pindah tempat kerja sekalipun.

Lantas bisakah perselihan tersebut diselesaikan? sudah pasti bisa bung!

Ketenangan Harus Dijaga Meskipun Perselisihan Melanda

Ingin berkata kasar rasanya, apalagi posisinya bung benar dan rekan bung yang salah. Namun, kalau bung menuruti emosi dengan berkata kasar yang ada permasalahan kian memanas hingga bisa terbawa sampai keluar ranah pekerjaan. Guna menghindari hal seperti itu bung harus mengedepankan sikap tenang.

Ketenangan yang bung hadirkan harus dijunjung tinggi agar permasalahan tidak berdampak lebih besar, juga jadi salah satu cara untuk  menghargai diri sendiri. Jadilah pribadi yang baik dan bisa menahan emosi. Dengan sikap tersebut, masalah pun dijamin tidak bakal berkepanjangan apalagi mengakar sampai baku hantam.

Jangan Membicarakan Keburukannya dengan Rekan Lainnya

Terkadang unek-unek yang dirasakan ingin sekali dibagi kepada orang lain, guna sebagai bahan sharing untuk melihat kondisi di mata orang lain, antara siapa yang salah atau yang benar. Tetapi sharing yang dilakukan pasti malah berbuah kepada ghibah dengan menyebarkan keburukan-keburukan rekan kerja bung yang sedang berselisih.

Meskipun bung berusaha seobjektif mungkin, tetap saja rasa sakit hati membuang bung membuka keburukan tersebut sedikit demi sedikit, belum lagi orang lain yang menyimak menceritakannya ke rekan lain dengan dimbumbui hal dramatis. Sehingga permasalahn pun semakin keruh bukan?

Coba Berkompromi Dengannya Agar Tahu, Dimana Letak Salahnya

Kompromi dapat bung lakukan saat masalah antara bung dengan rekan kerja sudah mereda. Temui dirinya, dan cobalah berdiskusi dengan pikiran terbuka guna mendengar apa alasannya yang membuatnya bisa berselisih dengan Anda bung. Mungkin perbedaan pendapat bakal terjadi namun bukan berarti titik temu tidak bertemu antara bung dengannya, pasti bakal ada solusi atau hal pahitnya bung bisa saling mengerti satu sama lain.

Selanjutnya, Bung Bisa Juga Meminta Saran Kepada Bagian HRD

Sebelum bung menemui HRD pastikan terlebih dahulu permasalahan yang bung hadapi sudah mencapai titik klimkas, dalam artian sudah gawat sehingga mengganggu perfoma bung dan juga berkembangnya perusahaan. Siapa tau, HRD memiliki langkah bijak untuk mengatasi konflik yang terjadi dalam skalan horizontal. Jika yang bung bicarakan masalah pribadi, nampaknya tidak perlu harus memanggil HRD.

Jika Selesainya Masalah Menjadi Hal Fana, Lupakanlah

Life must go on, ketika upaya berdamai dan rekonsiliasi antara bung dengannya tidak terjadi. Lebih baik bung lupakan seolah-olah tidak ada yang terjadi. Bung fokuskan diri kepada karir bung saja, karena itu jauh lebih baik. Dari pada bung terus meributkan dan kerap membahas, yang ada masalah kian memanas dan berjalan seperti itu saja. Lagi pula buat apa bung capek-capek memikirkan orang yang tidak mau berdamai? seperti tidak ada hal lain yang lebih baik saja bukan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Cara Menolak Tugas dari Bos Tanpa Rasa Tak Enak

Pernahkah bung mendapat satu tantangan dari atasan untuk mengerjakan proyek besar. Dengan iming-iming  membuatmu lebih berkembang secara kemampuan? pasti pernah dong. Lantas apa yang bung lakukan? mungkin saja menerima karena merasa itu bukan masalah. Sekaligus bisa dijadikan batu loncatan untuk naik jabatan.

Tapi bagaimana kalau tantangan tersebut tak bisa bung kuasai. Namun untuk menolak merasa sungkan, karena atasan yang meminta. Kalau jawab ‘ya’ akan membebani dan memikul tanggung jawab berat. Sedangkan mengatakan ‘tidak’ mengancam karir karena merusak kepercayaan atasan. Jadi dilema kan?

Nah, ada beberapa tips bagaimana seorang bawahan bisa mengatakan ‘tidak’ kepada atasan tanpa rasa tidak enak seperti dijelaskan Forbes.

Lebih Baik Jujur Kalau Bung Takut Mengecewakan

Saat berada di kondisi dipaksa  mengerjakan sesuatu oleh orang lain, kalimat yang bisa dipakai adalah ‘Saya takut mengecewakan anda‘. Kalimat ini bisa dikatakan saat tidak memiliki kapasitas baik saat dipaksa memegang suatu kerjaan atau proyek.

Mungkin secara cerdas, bung berpendapat ini bisa jadi sebagai ‘tangga’ untuk naik jabatan. Namun dari pada memaksa diri hingga akhirnya berujung kekecewaan dua pihak, sebaiknya katakan kalau bung tak mampu melakukannya.

Itu Bukan Ruang Lingkup Kerja Bung Sendiri

Sumber : Medium.com

Itu bukan ruang lingkup kerjaan saya‘, kalimat ini dipakai saat dimintai tolong untuk mengerjakan sebuah proyek. Secara jelas proyek tersebut bukan ruang lingkup kerjaan anda, jadi bisa memakai kalimat di awal paragraf sebagai alasan. Apalagi kalau memang tugas atau proyek tersebut  jelas-jelas buang ruang lingkup bung, katakan apa adanya. Dengan bilang, ‘saya tidak bekerja untuk itu’.

Dalam satu kondisi, kantor atau perusahaan bisa menyuruh bung mengerjakan apa saja. Baik yang bung bisa, atau yang tidak. Semisal kalian seorang finance, tapi disuruh menjadi sales. Memang itu bisa jadi tahapan untuk menggali kemampuan atau menemukan passion baru. Tapi pemberian tugas atau proyek itu bukan main-main atau ajang coba-coba. Saat salah, atasan bisa kecewa. Who knows?

Menyarankan Untuk Memilih Orang Lain Saja

Saat mendapatkan tugas yang tidak bisa di-handle namun bung memiliki rekan yang bisa dipercaya bahkan mengusai, sebaiknya berikan saran kepada atasan untuk memilih orang lain. Dengan bilang, ‘Jangan saya pak, sepertinya ada orang lain yang lebih mampu’.

Kedengarannya memang mengecewakan di telinga, tapi ini baik bagi karir, setidaknya untuk tidak mengira-mengira kalau kerjaan ini bisa diselesaikan atau tidak. Kalau landasan-nya hanya ‘kira-kira’, justru salah. Karena kerja bukan untuk dikira-kira kan?

Untuk melengkapi, katakan juga kalau bung bersedia membantu tapi tidak bertanggung jawab penuh. Karena memiliki prioritas pekerjaan. Namun kalau tugas tersebut masih ringan, bisa dipertimbangkan jika itu mempertaruhkan nama perusahaan. Intinya, jangan asal tertantang tanpa rencana matang.

Jangan Diambil Pusing, Kalau Tak Bisa Jangan Memaksa

Kalimat Push your limit, tidak cocok diterapkan di dunia kerja. Memaksakan sesuatu adalah hal yang tidak bisa dlakukan. Karena setiap pekerjaan memiliki risiko positif (benefit) dan negatif (kerugian). Memaksa diri kemudian gagal, bisa membuat atasan kecewa. Jadi saat ada tugas sulit dan bung tidak bisa menerima, jangan merasa tidak enak dan dianggap tak mau belajar.

Kalau kenyataan memang sulit sebaiknya tunjuk orang lain yang kompeten. Menjaga kepercayaan dan keyakinan itu sulit. Kalau bung memaksa dan gagal, dapat melunturkan kepercayaan seseorang. Jadi tak usah ambil pusing saat belum siap menerima. Katakan dengan alasan yang masuk akal. Karena setiap orang memiliki batasan dan tidak bisa memaksa kemampuan, benar kan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Resign Jadi Karyawan Melanjutkan Bisnis, Perlu Persiapan yang Bukan Sekedar Harapan

Berbicara soal bisnis, memang jadi tujuan sebagian orang. Kalian tidak akan kaya tanpa memilki bisnis memadai. Kalau bercita-cita menunggangi Harley atau Lamborghini, jangan harap bermodalkan kerja nine-to-five. Mereka yang berhasil memiliki itu semua karena mempunyai bisnis. Bukan karyawan atau budak korporat seperti kita, yang bekerja setengah mati sampai setengah hati.

Tapi sebelum jadi bisnis man, mungkin mereka juga jadi karyawan kantoran biasa. Rata-rata entrepreneuer pun melakukan itu. Sebelum mereka mendapat ide-ide brilian untuk menjalankan bisnis. Transisi dari karyawan jadi entreprenuer memang memakan waktu. Perlu belajar lagi, waktu lagi dan merencanakan kembali. Seperti kisah dari pendiri SeedProd

“Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun mengembangkan sebuah produk, tapi tidak juga menghasilkan uang yang cukup untuk menggantikan pekerjaan saya sebagai karyawan. Sampai akhirnya momen yang saya tunggu datang, ketika saya berhasil merilis plugin: page builder “Coming Soon” diluncurkan pada tahun 2011. Perjalanan menuju kesuksesan kecil itu membuat saya sadar tentang sulitnya untuk mencoba menjadi “bos” untuk diri sendiri,” ujarnya.

Saat seseorang siap melepas status karyawan menjadi pebisnis full time. Bukan modal doa nyaring saja yang dikumandangkan. Namun ada beberapa tips yang harus dilakukan dilansir dari beberapa sumber.

Renungkan Seksama, Apa Untung Rugi Kalau Melepas Status Karyawan Saat Ini Juga

Seorang harus mempersiapkan langkah apa yang dicapai, sebelum menggerakan kakinya. Itu semua lewat pertimbangan yang direnungkan. Baca biografi orang sukses lalu terinspirasi, bisa dibilang bukan sebuah pemantik. Itu hanya menambah wawasan dan motivasi.

Justru perenungan yang dilakukan apakah bung harus keluar dari pekerjaan sekarang? meskipun ada yang melakukan dan sukses. Tapi jalur kehidupan setiap orang berbeda. Ada yang butuh waktu untuk memulai bisnisnya.

Gallup Survey menyatakan 66% karyawan kantoran tidak sreg dengan pekerjaanya. Hingga merasa harus lepas dari rutinitas berangkat pagi pulang malam semacam ini. Hal ini bisa jadi alasan kuat kenapa seseorang mau berbisnis. Tapi kalau belum memiliki modal dan masih bergantung pada gaji (untuk kehidupan sehari-hari), lebih baik pikirkan lagi.

Bisnis Butuh Uang, Siapkan Tabungan dari Sekarang

Banyak orang mengakui kalau bisnis itu sulit. Produk menarik, pemasaran dan persaingan membuat dunia bisnis tidak gampang. Kalah bersaing uang pun hilang. Sedangkan karyawan, perusahaan kalah bersaing setidaknya masih merasakan upah peluh selama sebulan. Dilema ini jadi pertimbangan membuat bisnis jadi wacana sejalan. Maka siapkan tabungan untuk berjaga-jaga atas kondisi tak menyenangkan. penghasilan tetap sebagai karyawan tak boleh dihabiskan untuk gaya hidup! tapi sisihkan, kalau bisa 70%.

Cobalah hidup dengan kondisi pas-pasan, kurangi hal-hal yang masih bisa dikompromi seperti rokok atau biaya kongkow. Mengantisipasi setiap ketidaknyamanan yang ada, jadi pelajaran berharga saat nanti berbisnis. Ketika memulai kamu tidak tahu untung-nya berapa bahkan balik modal atau tidak.

Maka simpan uang sebanyak-banyaknya sebelum tekad bulat menjalankan bisnis. Paling tidak dari uang tabungan tersebut bisa bertahan sampai 4 bulan, dan siapkan dana terpisah untuk modal bisnis jangan sampai lupa.

Pelajari Satu Bisnis, Dalami dan Kembangkan

Stand Up Comedian, Pandji Pragiwaksono pernah mengatakan “Sedikit lebih beda, lebih baik dari pada sedikit lebih baik“. Dalam bisnis memang harus menghadirkan suatu inovasi. Seperti halnya Go-jek yang memodifikasi tukang ojek yang bisa mangkal di mana-mana.

Tidak hanya jadi alat tranportasi, Antar pesan makanan sampai mengantar barang bisa dilakukan oleh Go-jek. Inovasi semacam ini yang dapat membut bisnis tumbuh pesat. Maka dari itu lebih baik perhatikan fenomena apa yang ada disekitar, apa yang dibutuhkan. Kemudian pelajari dan kembangkan.

Rangkai Pencapaian Jangka Pendek dan Panjang

Dalam film Parasite (2019) sebuah film ber-genre Tragic Comedy dari Korea. Mengatakan kalau rencana paling baik dalam hidup adalah tanpa rencana. Karena hidup terkadang tak sesuai rencana seseorang meskipun orang tersebut memiliki rencana.

Hal ini menggelitik, lantaran hidup tanpa rencana adalah suatu ketidakpastian. Apalagi bagi para calon entrepreneur seperti kalian. Buatlah set pencapaian di awal dan di akhir. Ini berguna untuk merangsang kepercayaan diri. Mulai dari pencapaian tahun ini, lima tahun ke depan sampai 10 tahun ke depan.

Stres itu Wajar, Tumbuhlah Dengan Mental Petarung

Beryuskurlah kalau kamu sering menghadapi tekanan bung. Saat menjalankan bisnis tekanan itu makin besar, karena apa-apa kamu urus sendiri. Dari urusan finansial, operasional, investasi, perpajakan, segala macam halnya akan dirasakan.

Tentu tekanan seperti itu akan dirasakan. Maka dari itu siapkan mental jangan mudah menyerah. Fase seperti ini dilewati setiap entrepreneur. Namun seiring waktu berjalanan, tuntutan dan tekanan akan membuat bung berkembang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Agar Tak Merasa Krisis di Dunia Kerja, Cobalah Lakukan Ini Agar Lebih Lega

Dunia kerja memang pelik untuk dijalankan bagi karyawan muda, ekspektasi gaji sampai jenis pekerjaan yang dilakukan membuatnya kerap menaruh patokan yang tinggi. Tapi ada juga yang bertanya-tanya, sampai mengalami krisis dan depresi, hal ini lebih akrab didengar dengan sebutan quarter life crisis.

Saat menginjak usia 25 (di mana hal yang umum terjadi krisis dan depresi) muncul secercah kekhawatiran akan pekerjaan, finansial, keluarga dan asmara. Fase ini wajar sebenarnya untuk dialami setiap orang, selain itu pada usia 25 memang dianggap sebagai usia yang matang diharapkan seseorang untuk mencapai status mapan.

Tak heran saat sedang meniti karir rasa khawatir ini muncul, akan tetapi ada cara untuk menghadapi quarter life crisis terutama di tempat kerja.

Coba Menekuni Bidang Pekerjaan yang Diminati

Sebenarnya tidak ada masalah dalam dunia kerja yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Situasi semacam ini lumrah dijalankan oleh beberapa orang, namun dalam fase quarter life crisis ada kalanya orang merasa tidak nyaman.

Nah cara untuk menghadapi adalah dengan tidak ragu menantang diri sendiri untuk berkarir di bidang yang dipilih. Karena tekanan tidak akan terasa semakin berat apabila bung memiliki motivasi yang tinggi dan pastikan belajar dan berkembang di bidang pekerjaan yang dipilih.

Jangan Terlalu Idealis

Idealis saat masih muda? pasti beberapa kerabat bahkan bung sendiri adalah orang yang memiliki idealis sangat tinggi. Dalam fase quarter life crisis, orang memang cenderung memiliki sikap idealis yang tinggi. Idealis memang penting sebagai landasan untuk hidup namun jangan junjung idealis di dunia kerja karena itu akan menciptakan benturan dalam dunia karir. Ada kalanya perlu mengurangi sikap yang idealis agar membuat diri menjadi nyaman.

Kurangi Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain

Hal yang semakin memperparah seseorang dalam quarter life crisis adalah bagaimana ia bersikap membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang telah ditentukan dan memiliki kemampuan dan jalan hidup masing-masing.

Jadi tak perlu merasa bahwa bung kalah saing dengan rekan seumuran yang telah mapan. Yakinlah kalau kamu juga bisa, dengan cara mengerahkan kemampuan kerja semaksimal mungkin dan kesempatan untuk meraih jenjang karir cemerlang itu ada.

Mandiri Secara Finansial

Mandiri secara finansial adalah hal yang didambakan bagi setiap pekerja, setidaknya tidak lagi merepotkan orang tua. Justru, kalau bisa malah membantu. Tapi acap kali pekerja menyikapi mandiri secara finansial terletak pada sebuah standar yakni dengan memiliki gaji besar, rumah, kendaraan mewah hingga gadget terabru.

Bung tentu bisa menggapai pencapaian finansial yang lebih baik. Meskipun semua orang mengalami quarter life crisis, tentu saja dampaknya berbeda tergantung dari cara menyikapi. Jadi jangan sampai hal finansial menganggu keseimbangan hidup dan mulailah untuk menyemangati diri sendiri demi kesuksesan karir yang diimpikan.

Lakukan Konsultasi dengan Orang Terdekat

Sebagian besar orang melewati quarter life crisis dengan berkonsultasi lewat orang tedekat. Tentu saja yang sudah melewati fase ini, agar mendapatkan bantuan untuk menemukan solusi serta menguatkan mental. Dan di saat seperti inilah keberanian akan bangkit dan terbentuk.

Coba dengarkan nasihat mereka dan jalankan satu per satu. Jika bung merasa tak ingin menceritakan dengan orang terdekat, bisa meminta bantuan psikolog yang memang pakar dalam bidang ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top