Sport

Saudara Sekota Manchester Yang Sukses Buat Arsenal Gemetar Dan Juga Baper

Kemenangan 3-0 tanpa balas menjadikan Manchester City keluar sebagai juara Piala Liga Inggris 2018 atau Carabao Cup. Apa lagi yang mau dilihat dari Arsenal Bung? Entah kutukan atau memang Wenger mesti segera menyingkir dari Emirates stadium karena performanya yang tak kunjung menjanjikan dari musim ke musim. Atau memang Manchester City dibawah asuhan Pep Guardiola sedang matang-matangnya membangun dinasti Tiki-taka di tanah Britania Raya.

Kembali ke soal laga final yang dilakukan di stadion kebanggaan masyarakat Inggris yakni Wembley Stadium, Arsenal harus bertekuk lutut kala Sergio Kun Aguero, Vincent Kompany, dan David Silva membungkam jala yang dikawal oleh Peter Cech. Arsenal seperti tanpa perlawanan, bahkan bisa dibilang tak kuasa untuk melawan. Hal ini tentu menjadikan Arsenal pesakitan, karena bisa dipastikan tahun ini nihil gelar, ya kan Bung? Wahai The Gunners di mana pun kau berada, tidakkah kau selalu menjadi bahan olokan diantara teman-temanmu?

Wenger Kelabakan, Sampai Memarahai Wasit Soal Waktu Tambahan

Sumber : ESPN.com

Aduh, Bung pasti bingung juga bukan kenapa kekalahan Arsenal yang sudah tidak dapat dielakkan. Tetapi pelatih Arsenal ini masih saja mencari alasan dengan menyalahkan wasit yang tak adil memberikan waktu tambahan. Padahal secara logika apa bisa mengejar ketertinggalan hanya dengan mengandalkan waktu tambahan? Mungkin Wenger terinspirasi kala Manchester United yang berhasil mencetak dua gol dalam tempo waktu 3 menit kala menghadapi Bayern Munchen di final Liga Champions tahun 1999.

“Ketika saya bilang, ‘Mengapa Anda tidak memberikan lebih banyak waktu?’ dia (wasit) membalas, ‘Mengapa Anda menginginkan waktu tambahan lebih banyak?’. “Saya katakan padanya, ‘Ini bukan kewenangan Anda untuk menilai, atau soal berapa lama waktunya dan apakah Anda menginginkannya atau tidak. Berikan waktu tambahan yang normal’.” ujar Wenger dikutip dari Goal.

Ketika Mereka Yang Tertinggal Tak Rela Untuk Mengejar, Apakah Arsenal Mulai Bebal?

Sumber : ESPN.com

Ini adalah hal mendasar yang terjadi pada olahraga yang kompetitif seperti sepak bola, di mana setiap ketinggalan hanya bisa dikejar dengan usaha yang dua kali lipat dari sebelumnya. Misalkan Bung lomba lari, ketika tertinggal, otomatis Bung pun harus lari lebih cepat untuk mengejarnya. Namun hal itu sangat kontras dengan pemandangan  pada laga Final Carabao Cup, apa lagi setelah Vincent Kompany menggandakan keunggulan The Citizen jadi 2-0.

Arsenal bukanya terpecut untuk tampil lebih garang ibarat sebuah kuda yang dipecut penunggangnya. Yang ada Arsenal malah bersantai dengan berjalan. Mungkin itu menjadi pertanda kalau mereka sedang memutar otak untuk melesat ke pertahanan City, atau ini bagian dari strategi usang pelatih asal Perancis. Pemandangan mustahil seperti itu pun memancing Gary Neville yang gregetan kala menjadi komentator seperti dilansir The Guardian.

“Aaron Ramsey berjalan. Mereka berjalan.  Xhaka berjalan.  Ozil berjalan. Di Wembley tidak boleh berjalan. Kalian tertinggal 2-0. Lari!” tegas Neville pada menit ke-64.

Tampil Di Partai Puncak Ternyata Tak Selalu Mulus, Anggap Saja Ini Kutukan Mahluk Halus

Sumber : ESPN.com

Arsenal sudah 8 kali melakoni laga final Piala Liga Inggris, namun hanya 2 kali berhasil menjadi juara. Juara terakhir pun diraih pada tahun di mana pentolan band Grunge, Nirvana, Kurt Cobain meninggal karena bunuh diri. Kala skuad London menumbangkan Sheffield Wednesday dengan skor 2-1. Tentu partai yang digelar minggu malam menjadi kesialan. Apa lagi Arsenal sering dicibir fans sebagai klub yang besar tapi urung juara. Dengan kekalahan itu, tentu semakin menjadi-jadi cibiran para fans. Ditambah lagi dengan penampilan Arsenal yang seperti tak bertaji saat partai puncak, yang biasanya sarat emosi, taktik, dan juga gengsi.

Manchester City Kini Sejajar Dengan Saudara Sekotanya, Dan Juga Chelsea

Sumber : ESPN.com

Kemenangan melawan Arsenal menjadi gelar ke-5 bagi Citizen dalam merengkuh piala liga. Berbeda dengan Arsenal dari 8 partai puncak yang dijalani hanya menang 2 kali, City lebih beruntung karena dari 6 partai puncak hanya sekali jadi runner-up. Oleh karena itu, Manchester City sekarang sejajar dengan Manchester United, Chelsea dan juga Aston Villa.

Adapun tim tersukses dalam gelaran yang dimulai pada tahun  1961 adalah Liverpool dengan 8 kali juara. Sejajarnya City dengan beberapa klub tersukses membuat tim ini bakal memiliki kans besar di pagelaran Piala Liga di tahun-tahun selanjutnya. Dan jangan harap bakal mudah menangani City sebagai tim yang punya sejarah manis di Piala Liga Inggris yang bergengsi.

Pep Guardiola Kian Bangga Dengan Anak Asuhnya, Membuktikan Dirinya Sebagai Pelatih Elite Di Eropa

Sumber : ESPN.com

Pep Guardiola sebagai pelatih memang piawai, terlihat dari beberapa tim yang diasuhnya selalu tampil ganas di setiap kompetisi. Meskipun banyak yang mencibir kalau Pep berhasil lantaran berada di tim besar, memiliki banyak uang, sehingga fasilitas yang diperlukan oleh mantan pemain Barcelona ini terpenuhi. Tak hanya sampai disitu, kala membawa Barcelona sebagai klub yang superior di musim 2008-2009, banyak juga kalangan yang menyebutkan ia hanya beruntung karena memiliki Messi di Barcelona.

Namun, meracik pemain bintang dengan ego besar tidak mudah Bung. Lihat pelatih macam Rafael Benitez kala gagal menukangi Real Madrid atau David Moyes ketika mengepalai Manchester United. Kedua pelatih tersebut adalah contoh kalau memiliki skuad bintang tak membuat kerja pelatih lantas jadi gampang. Kini, Pep sedang membuktikan. Cobalah Bung tengok papan klasemen Liga Inggris sekarang, di mana Manchester City berada di puncak tanpa terganggu dengan tim-tim yang ada di bawahnya. Dengan torehan 72 point, sukar untuk tim lain yang baru mengumpulkan 50 point dapat mengejarnya. Kedigdayaan Pep di City sedang berlangsung dan dimulai saat ia berhasil keluar sebagai juara Piala Liga. Kita tunggu saja Bung taktik jitu dari pelatih berkepala pelontos ini.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kisah

Bayangkan apabila Tim Luar Biasa Ini Tidak Berpencar Punggawanya, Pasti Kini Sudah Besar

Sebuah dongeng perihal upaya merangkai tim berlabel debutan, atau kuda hitam namun menjelma menjadi kekuatan baru mungkin dapat Bung temui lewat sebuah film Damned United, yang menceritakan tentang kisah nyata dari Brian Clough kala membuat Nottingham Forest menjadi jawara di Eropa era 80-an. Setelah dua tahun back to back champions di Liga Champuons, kisah tentang Nottigham Forest tenggelam. Tak ada lagi tim yang dulu berlabel raja Eropa di era sekarang. Keperkasaan pun hanya tinggal kenangan.

Nottingham Forest hanyalah satu dari sekian contoh, kalau setiap tim punya potensi untuk jadi luar biasa, tak hanya yang dinobatkan sebagai tim besar macam Real Madrid, Juventus, Manchester United, sampai Barcelona. AS Monaco pun sempat  menunjukan taji di musim 2016/17 saat mampu tembus semi-final dan mampu bersaing dengan PSG, sebuah tim yang kaya raya.

Namun setahun berselang para pemain andalan pindah. Bernardo Silva, Benjamin Mendy, Tiemoue Bakayoko, dan Kylian Mbappe hijrah ke Manchester City, Chelsea, dan PSG. Tiga klub terboros di Eropa. Andai pemain andalan ini tetap mempertahankan loyalitasnya di Monaco, mungkin Monaco bisa menjadi tim hebat yang menjadi kekuatan baru di Eropa. Sampai-sampai muncul akun @ASMonaco_Indo di Twitter seking kepincutnya. Namun tak hanya Monaco saja, banyak tim lain yang nasibnya tak jauh berbeda.

AS Monaco Musim 2003/04

Kepergian beberapa bintang Monaco, ternyata  pernah dilakukan era 2000-an. Kala itu AS Monaco diisi pemain berkualitas seperti Patrice Evra, Fernando Morientes, Jerome Rothen, dan Ludovic Giuly. Secara mengejutkan di musim Liga Champions musim 2003/04 mereka berhasil menembus babak final Liga Champions, namun sayang harus ditundukkan oleh FC Porto dengan skor meyakinkan 3-0 (kala itu FC Porto diasuh oleh Jose Mourinho).

Keempat pemain pun pergi setelah kekalahan tersebut, hanya Evra saja yang bertahan. Jerome Rothen berlabuh ke PSG, Morientes pindah ke Liverpool, Ludovic Giuly dijual ke Barcelona. Sejak saat itu AS Monaco benar-benar kehilangan taji sebagai tim besar. Meskipun tidak bubar.

Ajax Musim 2003/04

Jika menyebut tim Belanda yang sukses di Eropa, otomatis tertuju kepada Ajax Amsterdam. Di era 90-an Ajax merupakan klub yang layak diperhitungkan karena filosofi permainanya mampu meluluhlantahkan lawan. Jelas saja, kejayaan dapat diraih dengan sempurna. Tetapi masalah besar sekaligus anomali terjadi di generasi berikutnya.

Dihuni oleh Zlatan Ibrahimovic, Wesley Sneijder, Rafael van der Vaart, Jari Litmanen, Nigel de Jong, Thomas Vermaelen, Maxwell, dan Hatem Trabelsi tapi tak mampu berbicara banyak khususnya di Eropa. Semuanya dimulai dengn kepergian Ibrahimovic ke Juventus di tahun 2004, membuat ambisi mereka untuk meraih kesuksesan satu dekade lalu telah sirna. Di tahun-tahun berikutnya, Sneijder bergabung di Real Madrid di tahun 2007 dan hanya menyisahkan Vermaelen.

Parma Musim 1998/99

Mungkin bagi Bung yang tumbuh seiring Serie A Italia sebagai tontonan sepakbolanya, pasti mengenal Parma sebagai tim yang memiliki segudang talenta. Wajar saja keberhasilannya membuatnya berhasil meraih gelar Piala UEFA di tahun 1999. Bayangkan saja Parma melahirkan pemain terbaik seperti Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Lilian Thuram. Juan Sebastian Veron, dan Hernan Crespo, komunal para pesepakbola hebat di Eropa saat itu.

Keberhasilannya terlihat dari pencapiannya di luar klub. Thuram berhasil  memenangi Piala Dunia bersama Perancis. Selang beberapa tahun kemudian Cannavaro dan Buffon melakukannya bersama Italia. Crespo menjadi striker termahal dan Veron menjadi gelandang tengah yang dikagumi. Setelah itu Parma tak pernah lagi mendulang kesuksesan sepeninggalan mereka.

Borrusia Dortmund 2012/13

Asuhan Jurgen Klopp kepada Dortmund di musim itu sangat populer meskipun harus mengakhiri Liga Champions tahun 2013 di posisi runner up. Jadi tak ada cara fans untuk mengenang tahun itu seperti saat Dortmund juara kompetisi di tahun 1997.

Jahatnya setelah Bayern Munich berhasil unggul di laga All Germany Final tersebut, Die Rotern justru mencomot beberapa pemain andalan Dormun seperti Robert Lewandowski dan Mario Gotze. Setelah itu, Dortmund tak lagi berjaya meskipun Nuri Sahin, Marco Reus, dan Ilkay Gundogan telah memenuhi tim ini secara potensial.

West Ham Musim 2000/01

West Ham tak bisa dilewatkan dari daftar ini, karena tim inilah yang melahirkan algojo-algojo Inggris di masa depan. Sebuta saja Rio Ferdinand, Frank Lampard, Michael Carrik, Joe Cole, dan Jermain Defoe sudah menampilkan puncak permainanya kala di West Ham. Tetapi torehan kesuksesannya diraih di tim liga Inggris lainya.

Ferdinand dan Carrick memenangi Liga Champions 2008 bersama Manchester United; Lampard di tahun 2012 bersama Chelsea, dan di klub yang sama Joe Cole sukses menjadi finalis. Sementara Defoe membuktikan dirinya sebagai striker tajam di Premier League dan juga tim nasional Inggris.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Mereka yang Menyatakan Ketidaksukaan terhadap Pep Guardiola secara Terang-terangan

Keputusan pelatih dalam menentukan taktik dan strategi terkadang jitu bagi kepentingan tim, tetapi belum tentu berdampak baik untuk karier pemain. Banyak pemain yang harus rela duduk manis di bangku cadangan, karena tak masuk dalam strategi sang pelatih. Pep Guardiola merupakan salah satu pelatih tersukses, yang mulai melatih di tahun 2008 sampai sekarang, 23 trophy sudah dikoleksi oleh pelatih asal Spanyol.

Di jajaran pelatih, nama Pep Guardiola sudah diakui kehebatannya. Namun, ada beberapa pemain yang secara terang-terangan membenci dirinya karena beberapa faktor yang membuatnya kehilangan tempat di tim utama. Bahkan secara terang-terangan beberapa pemain ini membencinya. Kira-kira siapa saja mereka, Bung?

Kaya Akan Taktik tapi Tak Handal dalam Berkomunikasi

Bek asal Brasil, Dante merupakan pemain andalan di Bayern Munchen semenjak didatangkan pada bursa transfer musim panas 2012 dari Borrusia Moenchengladbach. Jupp Heynckes, yang saat itu menjadi pelatih kepala menjadikan Dante pemain andalan sebelum ia digantikan oleh Guardiola.

Selama dua musim Guardiola melatih di tahun 2013 sampai 2015 Dante masih mendapatkan banyak laga bersama Bayern. Tetapi bek satu ini mengatakan kalau Guardiola merupakan pelatih yang kaya taktik tapi tak handal dalam berkomunikasi.

Tak Dimaksimalkan Membuat Hleb Bertengkar

Di Arsenal, Alexander Hleb merupakan salah satu gelandang andalan. Tetapi saat pindah ke Barcelona di tahun 2008, kekuatan Hleb tidak dimaksimalkan. Hal itu karena Hleb tak suka dengan pendekatan strategi yang dilakukan Guardiola, yang sangat mendewakan tiki-taka. Saran yang diberikan kepada Hleb untuk memainkan gaya permainan tiki-taka tidak disenanginya. Lantaran ritme permainan Hleb di Arsenal sangat gemar mendribel bola dalam waktu lama. Sehingga pertengkaran antara Hleb dan Guardiola tidak dapat dihindari.

Dua Kali Dilatih Guardiola, Dua Kali Terdepak dari Skuat Utama

Ironis bagi pemain tengah bertalenta seperti Yaya Toure, kala memperkuat Barcelona di tahun 2008-2010 ia meninggalkan Catalunya karena tak betah ditangani oleh pelatih seperti Guardiola. Membuatnya pindah ke Manchester City, ironisnya, ketika ia berniat menghindari Guardiola, di tahun 2016 Guardiola malah memperkuat Manchester City. Tak banyak berubah setelah Guardiola pindah ke Manchester City, peran Yaya Toure tetap tergerus dan ia pun memutuskan untuk meninggalkan Manchester City sebelum kontraknya habis.

Hanya Bersikap Manis di Depan Kamera

Sikap buruk Guardiola pun diungkapkan langsung oleh mantan striker Barcelona era musim 2008-2009. Samuel Eto’o, ia memutuskan pindah ke Inter Milan karena tak tahan dengan sikap Guardiola. Inter dan Barcelona pun bertemu sebanyak empat kali di Liga Champions 2009-2010, Eto’o pun mengatakan Guardiola menyalaminya tiap kali ada kamera yang menghampiri, namun enggan menyalami kalau tak ada kamera.

Tak Tahan Dimainkan Bukan sebagai Posisi Aslinya

Penyerang berpaspor Swedia ini, mengaku kalau semuanya berjalan baik-baik saja pada enam bulan awal. Setelah itu hubungannya dengan Guardiola tidak begitu nyaman. Posisi penyerang yang menjadi posisi aslinya dipindahkan sebagai sayap kiri yang membuat Ibrahimovich kesal. Guardiola melakukan hal itu demi mengakomodir Lionel Messi, hingga Ibrahimovich hanya bertahan satu musim saja di Barcelona.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport Update

Sosok Menawan dari Pesepakbola Perempuan Asal Indonesia yang Mencuri Perhatian

Timnas wanita Indonesia akan berlaga di Asian Games 2018. Dibalik persiapan yang telah dilakukan demi memberi raihan positif, ada sosok yang mencuri perhatian bernama Dhanielle Daphne yang berposisi sebagai gelandang serang. Tak hanya dikaruniai dengan skill yang mumpuni, tetapi paras cantik dan imut menjadi daya tarik tersendiri bagi pesepakbola yang baru menginjak usia 17 tahun itu.

Selama lima bulan terakhir, DD sapaan akrab dari Dhanielle Daphne, sibuk menekuni porsi latihan yang berat agar timnas Indonesia bisa tampil maksimal. Pelatihannya dipusatkan di daerah Sawangan, Depok, dan sekitaran Jawa Barat. Rekam jejak DD sebagai pesepakbola dimulai saat ia memperkuat tim nasional U-12.

Kemampuannya juga diasah dengan melakoni turnamen di luar negeri saat usianya belum mencapai 15 tahun. DD sendiri terpilih memperkuat timnas wanita Indonesia sejak Maret 2018 saat dipilih oleh PSSI ketika tampil di Pertiwi Cup tahun lalu. Kini ia pun tak sabar untuk mengerahkan segala kemampuannya guna mengharumkan nama bangsa Indonesia di tingkat Asia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top