Kisah

Sang Pengadil Lapangan Tengah Menyajikan Keputusan Kontroversial Sepanjang Sejarah

Sang pengadil lapangan memang terkadang bersikap tak adil hingga berbau kontroversi. Tudingan disuap ataupun memihak pasti santer terdengar ketika salah satu tim dirugikan. Menyoal kepada keputusan yang diambil selalu saja salah, otomatis pertandingan yang tadinya berjalan seru bisa ternodai dengan keputusan keliru yang sering dianggap tidak disengaja karena wasit juga manusia.

Dalam laga di babak Perempat Final dan Semi-Final Liga Champions saja, terjadi banyak keputusan yang menurut netizen budiman adalah kesalahan. Seperti penalti di menit akhir yang diberikan kepada Real Madrid saat melawan Juventus di Leg 2. Atau saat Marcelo mengakui handsball di kotak terlarang saat sang juara bertahan bertemu Bayern Munchen di babak semi-final tetapi hukuman penalti untuk Munchen tak diberikan.

Dibalik keputusan wasit yang kerap keliru, membuat timbulnya banyak teknologi untuk membantu kinerja wasit seperti adanya teknologi garis gawang sampai teknologi video asisten wasit. Berbicara soal keputusan wasit, berikut ini ada beberapa keputusan wasit yang kontroversial dalam sejarah sepak bola.

Ali Bin Naseer Seseorang yang Mengesahkan Gol Dengan Tangan Argentina

Andai saja wasit Ali Bin Naseer lebih jeli dalam melihat kondisi yang terjadi, pasti tidak ada dongeng ‘Gol Tangan Tuhan’ yang dicetak Diego Maradona. Dan mungkin saja di tahun 1986 Argentina tidak menjadi juara dunia.

Ya, itu semua terjadi di menit ke-51 saat Argentina menjamu Inggris di semi-final. Maradona melompat dan meninju bola dengan tangan hingga akhirnya masuk ke gawang. Lewat gol tersebut, Argentina lolos ke partai final dan menumbangkan perlawanan tim panzer Jerman dengan skor 3-2.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Gol Bunuh Diri, Berbuah Kematian Dini

Ungkapan klise ‘manusia tidak ada yang sempurna’ tidak hanya merujuk kepada kehidupan di dunia saja, melainkan itu juga terjadi di lapangan hijau. Andres Escobar mungkin salah satu mendiang yang pas disematkan dengan ungkapan tersebut. Pemain bertahan Kolombia ini adalah sosok yang sempurna di lini belakang. Terbukti saat membawa negara tercinta ke kancah Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.

Namun gol bunuh diri yang dilakukan dalam turnamen akbar empat tahunan tersebut, adalah buah kesalahan kecil dalam karirnya yang tak sebanding dengan menghilangkan nyawanya. Yap, Escobar mesti meninggal lebih dulu dari takdir yang dituliskan, setelah ditembak oleh seseorang saat hendak pulang dari klub malam bersama temannya. Pemicu terbesar kematiannya, adalah gol bunuh diri saat melawan tuan rumah.

Padahal sepak terjang Escobar membawa Kolombia ke jalur Piala Dunia cukup solid, bung tak percaya? coba simak saja ceritanya

Pemimpin Elegan dan Gentleman Jadi Julukan Escobar Secara Permanen

Solidnya tim Kolombia tak akan berjalan sempurna tanpa kehadiran Escobar. Sosok pemimpin bertalenta yang piawai menghalau serangan. Gaya permainan yang elegan, selalu tenang meskipun digempur serangan dan mengambil takel bersih di lapangan membuat pemain ini mendapat julukan Caballero del Futbol atau Gentleman of Football. Pemain kelahiran 13 Maret 1968 ini memiliki karir cemerlang tak hanya di tim nasional, karena ia sempat berkarier di klub BSC Young Boys di Swiss meskipun untuk periode yang tidak begitu lama.

Datang Sebagai Penantang, yang Digadang Memberikan Perlawanan Garang

Salah satu kandidat negara yang bakal disebut bakal berbicara banyak di Piala Dunia 94 kala itu adalah Kolombia. Bukan sesumbar atau prediksi asal, Kolombia tak terkalahkan di fase kualifikasi Piala Dunia Grup A Amerika Selatan bung. Tim yang dimotori oleh Faustino Asprilla, Carlos Valderrama, Freddy Rincon, menjadi negara yang tak terkalahkan. Total dari enam laga, mereka berhasil membubukan empat kemenangan dan dua kali imbang.

Ditambah lagi, jawara sepakbola Amerika Selatan macam Argentina, dibantai habis dengan skor telak 5-0 di laga terakhir! membuat skuad tim tango harus menjalani partai play-off demi memastikan tampil di Piala Dunia. Ketangguhan Kolombia pun dapat dilihat secara statistik menjelang pagelaran akbar tersebut, dari total 26 pertandingan menuju Piala Dunia, Kolombia hanya sekali bertekuk lutut alias kalah. Kepiawaian tim ini tentu saja berkat Escobar yang saat itu menjabat sebagai kapten tim.

Dari Prediksi Pele Sampai Harapan, Hingga Menenangkan Ketegangan di Kolombia

Ekspetasi, sebuah kata yang menghantui skuad Kolombia di masa itu. Calon kuda hitam terkuat pun diberikan oleh para pengamat sepak bola. Legenda Brasil yang menjuarai Piala Dunia tiga kali, Pele, memberikan prediksi kalau Kolombia bakal menembus babak semifinal.

Rakyat Kolombia pun berharap atas kiprah negaranya, terlebih situasi saat itu tengah memanas setelah tewasnya sang dedengkot narkoba, Pablo Escobar. Pasalnya, pasca meninggal Pablo Escobar memicu perang antar geng untuk memuncaki kekuasaan tertinggi di jalur perdagangan barang haram tersebut. Alhasil Kolombia di Piala Dunia diharapkan memberi secercah kebahagiaan, dengan menjadi pemersatu perang antar geng. Lantas apakah bisa Kolombia menjawab harapan itu semua?

Jawabannya tidak. Sinyal buruk sudah menerpa Los Cafeteros, ketika takluk di tangan Romania di laga perdana oleh Maradona dari Carpathia alias Gheorghe Hagi. Skor ditutup dengan hasil telak 1-3. Dampak kekalahan memicu kerusuhan, penjudi yang berasal dari geng narkoba yang kalah, jadi penyebab utama. Mereka yang kalah judi memberi ancaman pembunuhan yang dilayangkan kepada para pemain termasuk sang manajer, Maturana.

Menjamu Tuan Rumah di Laga Kedua, Gol Bunuh Diri Jadi Awal Mula Dihabisi Nyawanya

Setelah kekalahan telak 1-3 dari Rumania, membuat Kolombia harus tertekan di laga kedua. Menjamu Amerika Serikat, selaku tuan rumah, dukungan publik Paman Sam pun menambah tekanan semakin mendalam. Dan di laga ini lah terjadi momen yang mana sosok Escobar melakukan gol bunuh diri.

Turun sebagai starter, Escobar coba bermain rapih dengan menghalau serangan lawan. Selaku tuan rumah permainan menekan sesekali ditunjukan. Tepat di menit ke-35, umpan silang  dilepaskan oleh John Harkes  ke mulut gawang Kolombia. Bola tersebut coba dipotong oleh Escobar dengan menggunakan kakinya, bola tersebut memang terhalau namun naas malah masuk ke gawang sendiri. Lantaran Escobar merentangkan kakinya dalam posisi menghadap gawang sendiri.

Penjaga gawang Kolombia mati langkah. Alhasil skor pun berubah 0-1 untuk Amerika Serikat. Diakhir laga Kolombia harus takluk 1-2. Kans buat lolos pun semakin suram dengan dua laga dijalani dengan kekalahan. Dan terbukti, meskipun di laga terakhir Kolombia menang lawan Swiss, di pertandingan lain Rumania mengalahkan AS. Prediksi pele pun berhenti, dengan kenyataan Kolmbia tersingkir sebagai juru kunci.

Simpang Siur Cerita, Antara Ditembak Karena Dianggap Biang Kesalahan Atau Pelampiasan Kalah Perjudian

Usai tak bisa berbicara lebih banyak di Piala Dunia 94, Escobar kembali ke tempat kelahirannya, Medellin, Kolombia. Yang mana juga jadi tempat di mana ia menutup mata. Sebenarnya, Escobar sudah diperingatkan untuk tidak pulang, karena kondisi kota yang tidak kondusif. Tapi hasrat memanggilanya untuk pulang.

Mungkin untuk melupakan kesalahan atau meringankan beban yang dihantui, Escobar berkumpul bersama temannya di satu bar daerah Medllin. Setelah itu, mereka pun berpindah ke klub malam lainnya masih di daerah yang sama bernama El Indio. Escobar berpamitan dengan temannya lebih dulu untuk segera pulang, saat di parkiran ia terlibat perseteruan dengan beberapa orang yang menyebutkan kegagalan Kolombia di Piala Dunia adalah kesalahannya.

Setelah bersitegang, tiba-tiba salah seorang mengeluarkan pistol dan menembakkan ke arah Escobar sebanyak enam kali. Tiap tembakan, sang penembak berteriak “Gool!”. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, ia tetap tidak selamat. Dan harus meninggal lebih cepat. Selang beberapa hari dari kasus tersebut muncul sebuah nama, Humberto Castro Munoz yang diduga sebagai penembak.

Setelah dikulik lebih dalam ternyata ia adalah seorang supir dan bodyguard dari gembong narkoba bersaudara Kolombia, Peter David Gallon dan Juan Santiago Gallon.  Munoz pun diringkus dan ditetapkan sebagai tersangka. Meskipun beredar beberapa versi tentang kematian Escobar, namun hingga sekarang alasan terkuat ia dibunuh adalah perjudian. Antara sang majikan yang kalah judi, atau Munoz sendiri.

Di pemakamannya, lebih dari 120 ribu orang datang dan mengantar kepergiannya. Kematiannya mencoreng nama Kolombia di publik internasional, dan beberapa pemain timnas memutuskan pensiun dini untuk menghindari hal serupa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Kisah Jorge Campos yang Lihai Menjadi Kiper, Piawai Menjadi Striker

Di bawah mistar gawang nama kiper berkebangsaan Meksiko ini sangat handal menahan tendangan lawan. Saat berada di depan, ia juga tak kalah sangar menghukum penjaga gawang. Jorge Campos pun masuk dalam ensiklopedi pesepakbola yang berpengaruh di dunia. Meskipun namanya kurang begitu terdengar dibanding kiper veteran lain macam Lev Yashin atau Fabian Barthez.

Bung yang akrab dengan sepakbola era 90-an, di dua edisi Piala Dunia tahun 94 dan 98, nama Jorge Campos berada di bawah mistar gawang tim nasional Meksiko. Sialnya, banyak cerita menarik tentang dirinya yang tidak diketahui publik, apalagi ia merupakan salah satu kiper yang memiliki produktifitas gol cukup banyak hingga sekarang.

Untuk itu, kali ini kami akan mengulasnya.

Campos Membuka Mata Publik Sepak Bola Dengan Melawan Standar Kiper Dunia

Olahraga seperti sepakbola tak hanya berbicara masalah skill, tetapi juga membahas soal postur. Saat itu banyak yang berfikiran kalau postur penjaga gawang yang ideal adalah bertubuh tinggi. Dengan alasan dapat lebih mudah menghalau bola yang akan masuk gawang. Hal ini tidak ditemukan dalam tubuh pemain kelahiran 15 Oktober 1966, lantaran ia hanya memiliki tinggi badan 168 cm, yang mana menjadikan ia sebagai kiper terpendek dalam sejarah sepak bola.

Akan tetapi ketidakideal’an tubuh dari Campos ditutupi dengan gerak refleks, lompat sampai kecepatan. Menjadikan ia tak kalah dengan kiper hebat lainnya. Sampai pada tahun 1994 mata dunia pun terbuka, bahwa siapapun bisa menjadi kiper hebat meskipun tidak didukung dengan postur yang ideal, lantaran Jorge Campos menjadi kiper terbaik dunia di tahun tersebut.

Tampilan Eksentrik Menjadi Pembeda di Lapangan Secara Menarik

Selain karena kemampuan yang dimiliki Campos membuatnya jadi seorang pesepakbola yang apik. Di satu sisi, tampilan Campos adalah hal yang sangat amat melekat kepadanya. Pasalnya, kiper ini sering kali membawa jersey sendiri dengan warna-warna terang dan relatif mencolok di lapangan.

Wajar apabila publik, sangat ingat akan dirinya lantaran jarang pemain yang memakai jersey dengan warna eksentrik di era 90-an kecuali dirinya. Belum lagi ia yang bertubuh pendek memakai jersey berbahan panjang atau gombrong. Makin membuatnya terlihat menarik.

Ketika Dikontrak Sebagai Pelapis Kiper Utama, Campos Minta Diturunkan Jadi Ujung Tombak Saja

Meskipun lebih dikenal sebagai penjaga gawang, namun nama Jorge Campos ternyata mengawali karirnya sebagai striker. Hal ini terjadi kala ia membela Pumas UNAM sebuah klub di Meksiko pada tahun 1989. Secara kontrak, ia memang dipakai jasanya untuk menjadi penjaga gawang. Akan tetapi Pumas sudah memiliki kiper inti bernama Adolfo Rios, membuat Campos menjadi pelapis kala itu.

Namun ia meminta permintaan cukup menarik kepada sang pelatih untuk diturunkan sebagai striker. Alhasil di musim pertamanya, Campos menjalani karir sebagai striker dengan mencetak 14 gol. Cukup produktif sebagai seorang ujung tombak. Meskipun gemilang sebagai ujung tombak, di musim kedua ia mulai mendapat kepercayaan pelatih dengan diturunkan sebagai penjaga gawang. Sekaligus berhasil menjadi jawara liga Meksiko saat itu di musim 1990/91.

Bahkan Campos Sering Dimainkan Sebagai Striker Pengganti Di Salah Satu Klub

Pada tahun 1997, Jorge Campos memperkuat tim Meksiko lainnya, bernama Cruz Azul. Namun di sini, Campos lebih sering dipaksa turun sebagai striker pengganti! Karena tim tersebut sudah mempunyai kiper andalan bernama Oscar Perez. Alhasil selama periode tersebut ia pun jarang dilihat di bawah mistar gawang Cruz Azul, melainkan berada di lini depan. Meskipun begitu kontribusinya membawakan sebuah trophy liga untuk tim tersebut.

Kepiawaian Campos berada di lini depan memang tak bisa diremehkan. Pemain ini menciptakan beberapa gol lewat permainan di ruang terbuka, tidak hanya mengandalkan tendangan bebas atau penalti. Bahkan saat menjadi penjaga gawang pun ia sempat membantu lini depan dengan keluar dari sarang, apabila tim membutuhkan gol. Total 38 gol sudah dicetak oleh Campos, menjadikannya sebagai salah satu kiper yang produktif dalam sejarah sepakbola.

Dan Menjadi Pemain Pertama Meksiko yang Disodorkan Kontrak Oleh Nike

Bakat sertai keahlian Campos dalam menghalau serangan, serta pakaian yang mencolok menjadikan El Brody, julukan campos, membuatnya semakin terkenal. Popularitasnya pun semakin menanjak setelah ia bermain di dua klub Amerika Serikat atau MLS, LA Galaxy dan Chicago Fire. Lewat karir yang dibangun tersebut, popularitas Campos melonjak naik setelah dipilih sebagai penjaga gawang untuk iklan Nike : Good vs Evil pada 1994.

Dalam iklan tersebut, ia pun disejajarkan dengan pemain kelas dunia lainnya seperti Paolo Maldini, Eric Cantona, Luis Figo, Patrick Kluivert, dan Ronaldo.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Kebohongan dan Hoax Mengantar Carlos Kaiser Jadi Pesepakbola Penuh Tipu Daya

Bagaimana kisah seorang pemain bola seperti Carlos Kaiser, terbilang mulus? padahal dalam 20 tahun ia berkarir, tak pernah satu laga full ia mainkan dari 10 klub yang dibelanya. Usut punya usut pemain asal Brazil yang menempati posisi sebagai striker ini, rajin mengarang cerita untuk menipu berbagai klub! Cara menipunya cukup beragam, dari pura-pura cidera sampai seolah-olah membela presiden klub.

Ungkapan sebagai pesepakbola terhadap Carlos Kaiser, nampaknya jadi sebuah lelucon. Lantaran ia dikenal pandai dalam merangkai hoax demi menapaki karirnya, bahkan sampai di kontrak tim Eropa. Kelihaiannya dalam menipu beberapa rekan pesepakbola pun, sampai diangkat dalam film dokumenter. Lalu bagaimana kisah Kaiser dalam menipu setiap klub yang dibela? Simak cerita di bawah ini ya bung

Mimpi Jadi Bintang Lapangan Tak Hilang, Meski Skill Mengolah Bola Terbilang Malang

Di saat seseorang ingin menjadi pesepakbola tapi tak memiliki skill, secara logis ia akan mengubur mimpinya dalam-dalam. Namun tidak dengan pesepakbola yang bernama asli Carlos Henrique Raposo. Tipu muslihat dimainkan demi mewujudkan ambisi. Ia memang pernah menjalani trial bersama klub Meksiko Puebla, tapi ia dipulangkan karena dianggap pelatih tidak memiliki kemampuan yang handal dalam mengolah si kulit bundar.

Sepulang dari Puebla, ia mulai melancarkan aksi tipu muslihat. Di tahun 1980-an ia mulai membangun relasi bersama bintang sepakbola berkelas di Brazil seperti Bebeto, Carlos Alberto, Zico, Junior dan Renato Gauncho, tujuannya untuk mendapatkan hati sang pemain bintang tersebut dan meminta direkomendasi di klub.

Dengan cara memberikan servis di klub malam, Kaiser bakal meminta imbalan balik dengan meyakinkan para pelatih di tim para bintang tersebut bermain, dengan memberikan masa kontrak tiga bulan kepada dirinya sebagai uji coba.

Obrolan yang dia (Carlos Kaiser) buat sangat menarik. Jika Anda membiarkan dia membuka mulut, dia akan memanipulasi Anda. Dia akan membuat Anda terpesona. Anda tak bisa menghindari itu” kata Bebeto dilansir  The Sun.

Masa Uji Coba Diisi dengan Tipu Daya, Dengan Alasan Demi Mengembalikan Performa

Memang, setiap pesepakbola butuh latihan keras untuk mengembalikan performa. Namun, apa yang dilakukan Kaiser adalah tipu daya. Setelah berhasil mendapat kontrak uji coba, ia akan meminta latihan fisik kepada klub, dengan alasan untuk mengembalikan performa. Dalam satu bulan, Kaiser akan berada di lapangan dengan latihan tanpa bola. Di sisi lain, postur tubuh Kaiser memang menipu, karena untuk ukuran sepakbola ia memang terbilang memiliki badan yang bagus.

Setelah satu bulan selesai dengan latihan fisik, ia akan mulai tipu daya keduanya yakni pura-pura cidera. Apalagi di era 80-an, belum dikenal alat MRI Scan, yang dapat memindai tubuh seseorang untuk mengetahui secara pasti letak cidera. Selama 20 hari bahkan lebih, ia akan hanya ditemani tim medis. Klub pun sulit untuk tidak percaya, selain tidak ada MRI Scan, informasi sulit didapat kala itu.

Setelah latihan fisik selesai dan memulai latihan dengan bola, saya akan meminta pemain lain memberi saya umpan. Lalu, saya menendang bola itu jauh-jauh, setelah pemain itu kembali mengambil bola. Saya akan memegangi hamstring saya dan pura-pura cidera,” ujar Kaiser.

Modus ini terus dilakukan Kaiser, dari satu klub ke klub lainnya.

Menenteng Gawai yang Mewah di Zamannya dan Bertingkah Seolah-olah Ada Klub Eropa Mengincarnya

Memang tak habis akal yang dilakukan oleh Kaiser. Selain handal dalam berakting dan lip service, pemain ini juga kerap memberikan sentuhan menarik saat ia berpura-pura cidera. Seperti ketika ia dikontrak oleh Botafogo di 90-an, salah satu klub terbesar di Brasil.

Modus yang dilakukannya masih sama, tapi kali ini ia selalu berakting bahwa seolah-olah sedang mengobrol dengan petinggi klub Eropa yang mengincarnya. Bahkan ia melakukan pembicaraan tersebut menggunakan bahasa inggris lewat sebuah telfon genggam, yang mana menjadi barang mewah ketika itu.

Namun tak selamanya modus berjalan lancar, diawali dari kecurigaan dokter tim medis Botafogo yang piawai berbahasa Inggris. Ia menilai bahasa inggris yang dilafalkan Kaiser sangat ngawur, alhasil ia curiga dengan tindakannya.

Saat sedang mandi, tanpa sepengetahuan Kaiser, sang dokter coba merampas telfon genggam tersebut secara diam-diam untuk mengetahui dengan siapa ia bicara. Ternyata setelah telfon genggam itu diambil, sang dokter pun kaget kalau ternyata telfon tersebut hanya mainan.

Ribut dengan Supporter Klub dengan Alasan Ada yang Menghina Presiden Klub

Kejadian ini hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh Eric Cantona sewaktu berseragam Setan Merah. Namun, kali ini apa yang dilakukan Kaiser, demi membungkus manis kebohongannya. Kejadian ini terjadi sewaktu ia membela klub Brasil lainnya, Bangu Atletico Clube di tahun 1988. Saat itu ia masih menjalankan modus andalan, namun ia kaget ketika namanya dimasukkan ke dalam skuad. Alhasil mau tidak mau, ia harus menunjukan bakat aslinya dengan bola, tapi bukan Kaiser namanya kalau tidak pandai berbohong.

Saat ia dimasukkan ke dalam lapangan, tiba-tiba ia memanjat tribun penonton dan menyerang supporter. Wasit tak bergeming dan  memberikannya kartu merah. Kaiser pun selamat karena kebohongannya masih tertutup rapat. Usai pertandingan, presiden Bangu Ateltico Clube kala itu, Castor De Andrade meminta penjelasan. Ia kembali berbohong dengan mengatakan bahwa sekelompok supporter menghina Castro, dengan menyebutnya sebagai pencuri.

Setelah ayah saya meninggal, saya menganggap anda (Castor De Andrade) sebagai ayah saya. Saya tidak rela ketika ayah saya dihina,” ungkapnya.

Bukan mendapatkan hukuman, justru Kaiser mendapat pujian. Alhasil kontrak pun diperpanjang selama 6 bulan.

Tak Mau Ketinggalan, Main di Klub Eropa pun Jadi Incaran

Entah kebohongan atau tipu muslihat apa yang dilakukan oleh Kaiser sehingga ia mendapat kontrak bermain di Gazalec Ajjacio di era 90-an, sebuah klub asal Perancis yang bermain di Ligue 2. Kala itu, invasi pemain Brasil bermain di klub Eropa cukup gencar, ini jadi alasan kalau ia tak boleh ketinggalan. Apalagi kedatangan pemain dari Brasil, yang sudah dikenal sebagai gudang pemain berkelas. Antusias para fans pun memuncak untuk menyambut Kaiser.

Di hari perkenalan, ia sudah seperti bintang, di mana stadion hampir penuh untuk menyaksikannya. Ia pun memasuki lapangan dengan melambaikan tangan dan mencium emblem klub. Karena tak ingin ada latihan dengan bola, ia menendang Seluruh bola di lapangan ke arah penonton, sebagai souvenir.

Pelatih pun tak bisa berbuat apa-apa. Karena stok bola habis, alhasil hari itu latihan pun diisi dengan peregangan dan semacamnya. Yang mana jadi kelihaian Kaiser dibanding latihan dengan bola. Selama karirnya di sini, ia hanya bermain sebagai pemain pengganti sebanyak 12 belas kali tanpa mencetak sebiji gol.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top