Sport

Pergi Ke Italia, Ronaldo Meninggalkan Sepucuk Surat Untuk Mantan Klubnya

Nama Ronaldo memang sudah identik dengan Real Madrid dalam satu dekade ini. Sembilan tahun berada di ibu kota Madrid, Ronaldo kerap kali menciptakan banyak rekor secara individu. Kontribusinya pun tak perlu lagi ditanyakan, total ada 16 trophy sudah bersarang di lemari Real Madrid. Termasuk empat trophy Liga Champions.

Soal menjebol gawang, tak perlu diragukan 451 gol sudah berhasil dilesatkannya dari 438 pertandingan bersama Real Madrid. Hingga membuat namanya sudah sejajar dengan beberapa legenda dari klub tersebut. Tetapi, Ronaldo bukannya tak cinta, tapi ia menginginkan petualangan baru dengan bergabung ke tim lain.

Juventus, sebuah klub yang seisi stadionnya memberikan standing applause terhadap dirinya saat mencetak gol akrobatik di Liga Champions beberapa waktu lalu, jadi pelabuhan selanjutnya. Selepas kepindahannya yang sudah diresmikan, Ronaldo pun memberikan pesan terhadap mantan klubnya sebagai ungkapan terima kasihnya.

“Selama bertahun-tahun di Real Madrid, dan di kota Madrid ini, saya mengalami momen terbaik dalam hidup. Saya mengungkapkan rasa terima kasih luar biasa kepada klub, fans, dan kota ini. Saya hanya bisa berterima kasih atas cinta kalian semua dan kasih sayang yang saya terima,” tulis Ronaldo dalam situs resmi Real Madrid.

“Meski begitu, saya yakin bahwa ini waktunya untuk membuka tahap baru dalam hidup Itulah alasan saya meminta klub untuk menerima transfer ini. Saya merasakannya dan saya meminta kepada setiap orang, terutama para penggemar, untuk memahami permintaan saya ini.”

“Klub telah mengalami sembilan tahun yang tentu luar biasa. Mereka mengalami sembilan tahun yang spesial. Segalanya menjadi waktu yang menyenangkan buat saya. Semua hal ini telah menjadi pertimbangan, tapi (keputusan pindah) juga sulit karena Real Madrid memiliki ekspektasi yang tinggi. Namun, saya yakin benar, saya tak akan pernah lupa bahwa saya pernah menikmati sepak bola di sini dengan cara spesial.”

“Saya mempunyai rekan-rekan setim yang luar biasa di dalam lapangan dan di ruang ganti. Saya pernah merasakan sambutan hangat di hadapan para penonton saat perkenalan di stadion. Terima kasih kepada semuanya dan, tentu, seperti yang saya ucapkan kali pertama di stadion sembilan tahun yang lalu: Hala Madrid!” tutup surat Ronaldo.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kisah

Apa Rasanya kalau Pemain Bintang Malah Dijual ke Rivalnya?

Sepak bola sepenuhnya besar dengan rasa gengsi, terutama gengsi pada saat laga bertemu rival abadi dan laga derby. Gengsi tersebut harus dibayar mati dengan kemenangan. Jangan sampai pada kedua tipe laga tersebut, tim mengalami kekalahan karena itu lebih memalukan dibanding gagal eksekusi penalti hingga membuat suatu tim tidak juara. Sehingga intensitas suatu laga dengan rival abadi sarat akan gengsi tinggi.

Dibalik rasa gengsi akan tim lain, sepak bola juga memikirkan bagaimana bertahan hidup dari industri yang menjanjikan ini. Salah satu opsi adalah menjual pemain untuk menambal keuangan klub. Meskipun terkadang penjualan sangatlah memilukan karena mengorbankan pemain andalan. Tetapi yang paling memilukan adalah bila pemain andalan dijual ke klub rival. Apakah Bung tahu seperti apa rasanya?

Membuang Cuma-cuma Maestro Lapangan Tengah Adalah Hal Gila!

AC Milan adalah korban dari penjualan pemain andalan ke tim rival, Juventus. Tak tanggung-tanggung yang ia jual adalah maestro lapangan tengah yang menjadi sosok kunci dari kesuksesan Milan di tahun 2000-an, Andrea Pirlo, yang menyumbangkan dua gelar Serie A dan dua gelar Liga Champions. Gilanya yang dilakukan AC Milan adalah melepas Andrea Pirlo secara cuma-cuma ke Juventus.

Setelah dibuang ia memberikan gelar pertama bagi Juventus selama sembilan tahun terakhir, setelah itu Juventus kembali mendominasi Serie A. CEO Milan pun mengakui bahwa melepas Pirlo begitu saja adalah kesalahan terbesarnya di dunia sepak bola. Sabar, Adriano Galliani!

Bisnis Sepak Bola Memang Tak Sejalan dengan Apa yang Terjadi di Lapangan

Bos Newcastle United, Kevin Keegan pernah merasakan apa yang dialami Adriano Galliani. Di tahun 1995 ia mengatakan tak membutuhkan sang striker haus gol Andy Cole yang nyatanya telah mencetak 55 gol dari 70 penampilan bagi The Magpies di Liga. Ketegangan terjadi ketika Cole diposisikan di bangku cadangan. Kemudian Newcastle pun menerima tawaran £6 juta (plus Keit Gillespie) dari Manchester United untuk Andy Cole.

Sang suporter pun geram menuntut jawaban dari Keegan yang direspon secara langsung dengan jawabnya di depan muka mereka. Keegan mengatakan kalau ini hanyalah semata-mata untuk bisnis di sepak bola. Memang benar sangat menguntungkan, tetapi Andy Cole jauh lebih beruntung karena memenangkan lima gelar Liga Inggris bersama Manchester United setelah kejadian itu.

Ajax Tak Lagi Tertawa, Sepatutnya Ia Kecewa Membuang Pemain yang Mengharumkan Namanya

Tak ada yang tak kenal nama Johan Cruyff di era-80an bahkan sampai dengan sekarang. Tapi cara yang dilakukan Ajax tidak menghormati sang legenda hidupnya. Tepat di musim panas 1983, di usia yang telah memasuki 36 tahun ia tidak mendapat kontrak baru meskipun sudah membantu menjuarai kejuaraan domestik. Cruyff sepertinya kesal dan memutuskan bergabung dengan rival bebuyutan, Feyenoord.

Tim yang meraih kesuksesan di 1974 setelah menjuarai liga dan piala UEFA. Ajax seperti tak menganggap itu sebagai ancaman karena dipertemuan terakhir ia mampu menggulung Feyenoord dengan skor 8-2. Namun, kedatangan Cruyff yang dikombinasikan dengan pemain muda bertalenta Ruud Gullit dan striker haus gol, Peter Houtman. Ia mampu membalaskan dendam Feyenoord dengan mengandaskan Ajax 4-1 . Selain itu Cruyff mampu membawa Feyenoord meraih gelar pertama dalam 10 tahun terakhir dan Piala KNVB. Cara balas dendam Cruyff memang menyakitkan.

Robin Van Persie Pergi Karena Kebijakan Transfer Tim London yang Suka Menjual Pemain Andalan

Arsenal memang suka sekali menjual pemain andalan demi menyelamatkan neraca keuangan. Dahulu ia pernah menjual Patrick Vieira, Thierry Henry, sampai Cesc Fabregas. Sebelum Alexis Sanchez, Robin Van Persie adalah pemain yang pernah mencoba berada di Manchester United. Setelah perwakilannya duduk bersama dengan direksi The Gunners, menjelaskan tentang kebijakan transfer mereka, akhirnya disetujui akan menjual RVP. Tawaran pun datang dari Manchester United dengan harga masuk akal ketimbang Juventus yang sempat memperlihatkan ketertarikannya kepada striker asal Belanda itu.

Bagi Arsenal, terasa begitu menguntungkan bisa menjual pemain dengan harga  £24 juta yang memiliki rekam jejak cedera panjang. Apalagi ada sosok pengganti seperti Lukas Podolski dan Oliver Giroud. Kenyataanya berbanding terbaik, di tahun 2012 justru suporter The Gunners sakit hati melihat kehebatan RVP yang sukses membawa Setan Merah meraih gelar ke-20 mereka. Sementara Arsenal hanya berada di empat besar.

Membawa Rival Setan Merah Merasakan Juara Setelah 44 Tahun Lamanya

Lagu sudah ‘Sewindu’ Tulus tidak begitu menyakitkan apabila dikondisikan kepada Manchester City yang belum merasakan juara hampir setengah abad. Carlos Tevez, sosok yang dicintai Manchester United karena membantu merebut dua gelar Liga Inggris dan satu Liga Champions sebagai pemain pinjaman. Tapi ada hal yang membuat Tevez tidak disukai Sir Alex Ferguson saat itu pada 2009 terkait jawaban kepada media tentang masa depannya. Alhasil Tevez bergabung dengan rival sekota Manchester City yang kepindahannya mendapatkan komentar bahwa City tak pantas membeli Tevez dengan harga yang terlalu tinggi.

Beberapa musim dijalankan dengan baik namun di tahun 2011 ia bersitegang dengan Roberto Mancini karena menolak dibangku cadangkan, dan membuat suporter United senang atas kesengsaraannya. Namun setelah perselisihan usai ia mampu menciptakan mimpi buruk buat Manchester United yang gagal juara di menit-menit akhir dan membawa City meraih gelar juara setelah 44 tahun lamanya. Lantas siapa yang pantas tertawa, Bung?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Ronaldo Terganjal Kartu Merah, Pelatih Lawan Justru Mempertanyakannya

Juventus memang mendulang kemenangan 2-0 atas Valencia, tetapi kemanangan itu harus mengorbankan Cristiano Ronaldo untuk tiga laga berikutnya karena diganjar kartu merah setelah dianggap mengasari pemain Valencia. Insiden tersebut terjadi di menit ke-30 saat Ronaldo dan bek Valencia, Jeison Murillo yang terlibat duel.

Kemudian wasti Felix Brych pun mengeluarkan sepucuk kartu merah kepada Ronaldo yang disambut protes para pemain Juve. Ronaldo yang tidak merasa melakukan kesalahan apa pun akhirnya tak kuasa menahan air mata saat berjalan mneninggalkan lapangan. Meskipun kalau dilihat dari tayangan ulang Ronaldo seperti menjambak rambut Murillo saat meminta pemain Kolombia itu untuk segera berdiri.

Usai pertandingan, Marcelino selaku pelatih Valencia mengutarakan simpatinya kepada Ronaldo. Marcelino mengaku bingung dengan keputusan wasit tersebut karena menurutnya Ronaldo tidak melakukan kesalahan apa pun.

“Dia sangat sedih, bahkan menangis, karena dia bilang dia tidak melakukan kesalahan apapun,” ujar Marcelino seperti dilansir ESPN.

“Saya tidak melihat adanya tindakan yang pantas membuatnya dikartumerah,” sambungnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

PSG Harus Bertekuk Lutut terhadap Liverpool

Laga perdana fase grup Liga Champions nampaknya belum menguntungkan bagi PSG dengan menerima kekalahan tipis 3-2 atas Liverpool saat bermain di Anfield semalam. Hasil ini justru baik bagi Liverpool dengan memperpanjang trend kemenangan, karena Liverpool sudah meraih enam kemenangan beruntun saat ini.

Hasil ini pun membuat Liverpool menjadi pemimpin grup C dengan nilai 3 sedangkan PSG berada di dasar grup dengan poin 0. Bermain di Anfield nampaknya menjadi salah satu kekuatan tersendiri bagi Liverpool. Lantaran PSG bukanlah tim sembarangan, karena dihuni oleh beberapa pemain berkelas seperti Neymar JR dan Kyian Mbappe.

Daniel Sturridge dan James Milner membuka keunggulan bagi Liverpool di babak pertama sebelum disusul sepakan voli kaki kiri Thomas Meunier yang masuk mulus ke dalam gawang Liverpool. Di babak kedua pertandingan nampaknya akan berakhir kuat 2-2 karena Kylian Mbappe membuat kedudukan sama kuat di menit ke-83. Namun Roberto Firmino tampil sebagai pahlawan lewat sepakannya dengan kaki kanan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top