Entertainment

Metallica: Ketika Si Anak Metal Sudah Berkeluarga

Jakarta pasti tidak bisa lupa ketika Metallica tampil di lebak bulus Jakarta tahun 1993 yang lalu. Di akhir konser terdapat catatan hitam sedikitnya terbakarnya 55 mobil hingga 38 orang terluka akibat kerusuhan yang terjadi. Kerasnya musik Metallica seolah jadi cermin sangarnya pemberontakan anak-anak muda berpenampilan hitam-hitam yang malam itu mengisi ruang-ruang jalanan di Jakarta.

Tepat 20 tahun kemudian Band yang digawangi James Hetfield ini kembali lagi ke Jakarta. Pemandangan sedikit berbeda mulai terlihat sejak dari bandara Halim Perdana Kusuma tempat mereka mendarat. Di tengah barisan personil yang turun dari pesawat terselip istri-istri mereka. Bahkan terlihat bocah kecil perempuan yang sibuk menarik-narik koper berwarna pink mengejar sang ayah yang bertato.

Nuansa ala keluarga ini terus menjalar hingga mendekati waktu konser di Gelora Bung Karno. Penonton yang dulu masih berstatus remaja kini mulai mendewasa. Riuh rendah kerumunan nampak mirip dengan nuansa nostalgia ala reuni. Kami bahkan sempat bertemu dengan sekelompok pria yang menggunakan kaos “I Survive Metallica 93”. Cool!

“Kalian bersama kami lagi, keluarga besar Metallica. Follow me!” ujar James Hetfield membuka konser pukul 8 malam itu.

Tawaran sebagai keluarga besar Metallica itu langsung disambut gemuruh penonton di Gelora Bung Karno. Tanpa komando lebih lanjut 55 ribu penonton langsung mengacungkan tinju ke udara ala persaudaran musik cadas.

metallica konser jakarta

Rangkulan hangat ini makin terasa ketika James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammet dan Robert Trujillo memulai musik mereka. Meski usia kepala 5 tak lagi bisa dikatakan muda, namun energi tinggi para personil ini seolah tak berubah sejak kedatangan mereka 20 tahun lampau.

Semangat makin menggelora ketika lagu-lagu andalan mereka dibawakan. Tak satu pun terlihat diam ketika “Enter Sandman” digaungkan. Baru terdengar bagian intro, semua sudah berteriak histeris. Hentakan-hentakan kaki mulai dari kelas festival hingga tribun terasa ingin meruntuhkan dinding GBK.

Kekhasan musik Metallica yang sarat gitar penuh distorsi bernada rendah, bersinergi kuat dengan dentuman drum keras dari Lars Ulrich. Lirik lagu macam “Sad But True” dan “Master of Puppets” dilantunkan membentuk koor yang membahana hingga sudut-sudut stadion. Bisa dibilang inilah nostalgia yang dilalui dengan semangat tinggi.

Sejarah kelam memang tak bisa dihapus. Bahkan Kirk Hammet dalam konfrensi pers di VIP Timur Gelora Bung Karno mengaku masih ingat jelas dan merasa sedih dengan peristiwa tersebut.

“Kami ingat ada kerusuhan di luar stadion sampai akhirnya diungsikan dengan ambulans,” ujarnya

Meski begitu, malam tadi seolah menggambarkan betapa personil Metallica sudah tumbuh dewasa. Dan yang lebih mengharukannya adalah melihat gambaran betapa penggemarnya pun sudah jauh lebih dewasa. Semua bisa menikmati musik keras, head bangging, meloncat tinggi dengan tangan di udara dalam suansa kekeluargaan yang sangat damai dan kondusif.

Keguyuban malam itu juga diakui Raja konser Indonesia Adrie Soebono. Meski bukan berstatus sebagai penyelengara namun ia memberikan pujian untuk konser malam itu.

“Belum ada dalam sejarahnya di Indonesia konser sedahsyat konser Metallica malam ini! Pertama kali!” ucapnya melalui twitter @adriesubono.

Dengan kondisi ini, tak heran jika diakhir konser para personilnya mengatakan mereka akan secepatnya kembali ke Indonesia. Mereka akan segera rindu kembali kepada keluarga besarnya! Metalhead indonesia!

1 Comment

1 Comment

  1. Cingmeu

    August 26, 2013 at 4:31 pm

    pasca konser kabarnya memang positif; semuanya berjalan aman dan tertib, sampe semua mendapatkan untung; promotor hingga calo tiket, win-win solution deh KK !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Review

Karena Urusan kunci motor pun soal selera Bung

Tersematnya teknologi Keyless Ignition System sebelumnya pada Suzuki GSX-R150 memang memberikan suatu dobrakan dan fenomena di industri motor sport 150cc. Mengingat teknologi itu pertama di kelasnya ketika itu. Namun Terlepas dari hal tersebut, SIS selaku produsen Suzuki juga mendengar dan memenuhi permintaan dari konsumen lain yang memiliki karakter berbeda, dengan menyediakan Suzuki GSX-R150 menggunakan Shuttered Key System.

 

SIS melihat adanya celah permintaan pasar yang dapat dipenuhi oleh Suzuki GSX-R150 Shuttered Key System, dimana hal tersebut diamati dari kebiasaan dan suara konsumen yang masih lebih memilih menggunakan metode pengaman dengan sistem anak kunci yang lebih sederhana dan bekerja secara mekanis. Meski demikian, tuntutan terhadap jaminan kemanan tetap diprioritaskan demi ketenangan dan kenyamanan memiliki motor sport DOHC 150cc yang sedang digandrungi tersebut.

Sambil menemani keberadaan penjualan Suzuki GSX-R150 varian Keyless Ignition System saat ini, SIS memproduksi varian Shuttered Key System dengan komposisi secara khusus sebanyak 15% dari total produksi GSX-R150 setiap bulan. Dengan demikian, calon konsumen bisa memiliki pilihan lebih banyak sebelum memutuskan pilihannya.

Secara spesifikasi sendiri tidak ada perbedaan antara GSX-R150 varian Keyless Ignition System dan varian Shuttered Key System, kecuali hanya pada sistem kunci pengaman dan ketersediaan pilihan warna saja. Alhasil, SIS memberikan pilihan produk yang lebih terjangkau bagi calon konsumen yang sudah tidak sabar ingin memiliki Suzuki GSX-R150, yaitu dengan harga Rp 28.900.000,- (On The Road DKI Jakarta). Terdapat 3 warna menarik yang dapat dipilih sesuai selera konsumen, antara lain Brilliant White, Stronger Red/Titan Black dan Solid Black/Gloss. Sebagai bonus pembelian, SIS juga melengkapi anak kunci GSX-R150 dengan keyholder Suzuki.

“GSX-R150 dengan Shuttered Key System yang kami luncurkan ini menjadi penanda keseriusan Suzuki untuk terus memperbanyak pilihan varian maupun model sepeda motor Suzuki lainnya di tahun 2018 ini. Kami mencoba untuk menjawab satu-per-satu permintaan konsumen Suzuki yang berada di wilayah-wilayah lain, dimana menjadi pangsa pasar utama untuk GSX-R150 Shuttered Key System ini. Dengan harga lebih ekonomis, konsumen tetap bisa memiliki Suzuki GSX-R150 yang berkualitas dan menjadi pilihan bikers masa kini.” tutup Yohan Yahya – Sales & Marketing 2W Department Head PT. SIS

1 Comment

1 Comment

  1. Cingmeu

    August 26, 2013 at 4:31 pm

    pasca konser kabarnya memang positif; semuanya berjalan aman dan tertib, sampe semua mendapatkan untung; promotor hingga calo tiket, win-win solution deh KK !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lifestyle & Fashion

Tim Garuda Mau Mencontoh Tim Panser, Tapi Kok Tanggung Ya?

Sepak bola Indonesia baru-baru ini ingin mencontoh sepak bola Jerman dengan membuat bank data pemain yang komprehensif, yang lahir dari tahun 2005 sampai 2007. Bakat-bakat muda tersebut akan disaring oleh PSSI untuk dimonitoring dari tahun ke tahun, kemudian perkembangannya akan dicatat dari segi fair play, injury dan track record. Pemain-pemain tersebut nantinya hanya diawasi saja, tidak dibentuk. Hal itu dilakukan agar sepak bola Indonesia mampu unjuk gigi di Olimpiade 2024.

Hal yang dilakukan oleh PSSI sebenarnya tidak ada yang salah. Bagus malahan, dengan demikian akan ada pelatih macam Indra Sjafri yang dimudahkan untuk mencari bakat sampai ke pelosok Indonesia. Namun terlalu tanggung kalau hanya mengikuti satu sistem saja. Lebih baik, hal yang diterapkan Der Panzer tersebut, dicontoh dari semua aspek dan dimaksimalkan dengan baik.

Ketika terpuruk di Piala Eropa tahun 2000, Jerman mulai berbenah soal sepak bola. Banyak hal yang dilakukan oleh negara yang sempat terpecah menjadi dua bagian tersebut, memaksimalkan pemain muda salah satu contohnya. Kalau Indonesia mau mencontoh, alangkah baiknya dari semua sisi agar tidak terlalu tanggung. Karena kalau hanya mencontoh soal bank data yang komprehensif tanpa didukung iklim kompetisi yang baik, rasanya terlalu sulit.

Pemain Muda Adalah Nafas Sepak Bola Setiap Negara Bung

Sebenarnya pembenahan pemain muda di Indonesia sudah cukup baik apabila di lihat dari segi aspek U16 dan juga U19, kedua tim tersebut memiliki prestasi yang membanggakan. Apa lagi pemain berbakat Indonesia, Egy Maulana Vikri, dapat masuk dalam calon bintang muda terbaik atau wonderkid yang dilansir The Guardian tahun lalu. Namun, dari segi kompetisi usia muda rasanya kurang begitu maksimal, tidak seperti Jerman.

Jerman menghabiskan 20 juta Euro untuk pembinaan pemain muda meliputi penyelenggaraan turnamen regional di level junior dan pembangunan pusat pelatihan di banyak daerah yang dimulai dari usia 10 tahun. Selain itu, klub-klub Jerman juga mulai mengikuti jejak federasi dengan membuat akademi pemain muda. Sehingga lahir pemain seperti Mario Gotze,Thomas Muller dan Andre Schurrle yang terlahir dari 3 akademi berbeda (Dortmund, Munchen, dan Leverkusen).

Lebih Baik Federasi Mengatur Keuangan Klub, Dari Pada Klub Berusaha Mandiri Tapi Hanya Teori

Tidak hanya soal pembinaan pemain muda saja yang difokuskan oleh Jerman, keuangan klub pun juga diatur dengan ketat. Federasi Sepak Bola Jerman (FDB) paham bahwa keberadaan klub harus tetap dipertahankan. Karena bila tidak diatur, klub bisa bangkrut yang berimbas kepada kompetisi yang tidak lagi kompetitif dan wadah pembinaan pemain muda juga bisa berkurang. Semua klub Jerman dibatasi utangnya sampai 30 juta poundsterling.

Sedangkan di Liga Indonesia, keuangan klub masih diatur secara mandiri oleh klub itu sendiri. Hal tersebut banyak berakibat buruk, seperti gaji pemain yang tidak dibayar. Sampai-sampai pemain secara solidaritas membentuk suatu badan untuk menjembatani hak-hak pemain yang tidak dipenuhi oleh klub, yang dikenal dengan nama APPI (Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia). Seharusnya untuk soal keuangan klub, PSSI bisa bersikap seperti Federasi Sepak Bola Jerman (FDB), sebab kondisi klub-klub Indonesia belum cukup aman secara keuangan.

Talenta Lokal Juga Nggak Kalah Saing Dengan Pemain Asing Lho

Sumber : Bundesliga.com

Untuk pemain lokal memang kurang begitu maksimal dalam beberapa posisi di Indonesia. Terutama dalam posisi striker, karena rata-rata posisi penyerang selalu diisi oleh pemain asing. Hal tersebut dapat mematikan kreatifitas serangan yang berimbas pada tim nasional. Berbeda dengan Bundesliga (liga lokal Jerman) yang memang terkenal ramah bagi para pemain muda. Beberapa tim di Jerman pun sudah jarang memakai jasa pemain asing, lebih mengutamakan talenta lokal yang berkembang. Bahkan sekitar 15% pemain Jerman di bawah 23 tahun sudah berkompetisi di Bundesliga, naik 6% dibanding dekade sebelumnya.

Sekarang Saatnya Memaksimalkan Teknik, Bukan Hanya Fisik

Sumber : Mediaindonesia.com

Sepak bola memang permainan yang sangat melelahkan. Kenapa? Karena permainan ini mengandalkan otak, fisik, dan stamina. Seorang pemain harus tahu teknik melesatkan umpan atau tendangan, misalkan mengumpan, mereka mesti tahu harus mengumpan ke mana. Maka banyak yang berujar kalau keputusan yang diambil oleh pemain bola sudah seperti seorang CEO perusahaan. Salah mengumpan, maka bisa berbuah simalakama.

Ulf Schott, direktur pembinaan usia muda Jerman, mengungkapkan perubahan visi permainan yang semula mengandalkan fisik jadi lebih ke teknik. Selain itu, federasi juga membuat kurikulum dan skema taktik yang diberikan kepada seluruh tim yang berada di liga lokal, yang kemudian menjadi bahan pembelajaran. Seharusnya Indonesia juga melakukan perubahan dengan mengandalkan passing pendek, karena sering kali terlihat para pemain masih mencoba memaksimalkan umpan-umpang crossing yang jelas kurang efektif karena postur tubuh pemain kita yang tidak tinggi.

Proses Pasti Membuahkan Hasil Bung!

Untuk hasilnya, Bung bisa melihat sendiri secara gamblang. Berapa kali Jerman menembus babak akhir dalam setiap pagelaran internasional. Menjadi finalis Piala Eropa 2008, semi finalis Piala Dunia 2010, semi finalis Piala Eropa 2012, hingga juara Piala Dunia 2014. Pada tahun lalu pun, Jerman menjadi jawara Piala Konfederasi 2017 dan jawara Piala Dunia U21. Apabila Indonesia memaksimalkan segala aspek, pasti sepak bola kita akan membaik Bung, bukannya kaya kontroversi tapi minim prestasi.

 

1 Comment

1 Comment

  1. Cingmeu

    August 26, 2013 at 4:31 pm

    pasca konser kabarnya memang positif; semuanya berjalan aman dan tertib, sampe semua mendapatkan untung; promotor hingga calo tiket, win-win solution deh KK !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Narasi

Pasar Musik Blok M: Mencoba Tetap Berkumandang Meski Tak Lagi Lantang

Sejumlah musisi besar macam Metallica, Pink Floyd, Red Hot Chilli Peppers pernah keras menolak musiknya dijual melalui layanan streaming macam Spotify, Joox, Deezer dan lain-lain. Menurut mereka tidak selayaknya musik dinikmati secara receh dengan dibeli satuan. Pasalnya musisi membuat musik dalam album untuk dinikmati secara keseluruhan.

Tapi toh arus perubahan jaman memang tak bisa dibendung. Gempuran kehadiran smartphone makin mempermudah akses terhadap layanan streaming. Buntutnya para artis pun mulai melunak. Layanan musik streaming makin berjaya.
Efeknya jelas yang paling terpukul adalah industri musik fisik. Pejualan CD apalagi kaset langsung terjun bebas. Di Indonesia sendiri toko-toko yang semula digdaya di bidang musik macam Disc Tara atau Aquarius harus gulung tikar.

Meski terjepit bukan lantas rilisan musik berbentuk musik sudah mati. Tempat dan pangsa pasarnya saja yang bergeser. Dari semula toko ber AC atau di mall mewah, kini para penjual rilisan fisik seperti CD dan kaset seperti bergerak di bawah tanah.

Penggemarnya pun tak lagi penikmat musik mainstream. Pencari rilisan fisik ini berubah menjadi penggila sejati musik, kolektor atau mereka yang masih berbalut nostalgia masa lalu.

Pasar Musik Blok M Yang Sempat Jadi Pelarian Para Penikmat Rilisan Musik Fisik

Salah satu tempat berburu untuk rilisan fisik adalah areal Blok M. Pasar musik Blok M masih berada setia meskipun platform digital terus mengembangkan sensasinya. Ketika gerai-gerai musik besar seperti Aquarius dan Disc Tarra tutup, gerai-gerai musik di Blok M tak surut nyali untuk tetap menjual riilisan fisik.

Seperti Bang Udin, penjual yang melapak di Blok M sejak 2010. Sesungguhnya ia telah berjualan sejak tahun 2000, ketika itu ia berjualan di Taman Puring. Namun setelah kasus kebakaran yang melanda lapak lawasnya itu, ia berpindah menuju Jalan Surabaya di kawasan Menteng dan kemudian belakangan ke pasar Blok M.

“Bagi saya berjualan seperti ini sudah seperti hobi. Dulu saya mendambakan memiliki piringan hitam sejak kelas 4 SD, namun saya baru mampu membelinya ketika dewasa. Musik rock seperti Deep Purple dan kawanannya menjadi idola saya. Pokoknya rock-rock lawas lah. mungkin kalau orang yang berjualan seperti ini niatnya bisnis. Pasti tidak akan kuat,” ujarnya.

Bang Udin setia membuka lapaknya tiap hari, kebetulan pula rumahnya memang berada di dekat kawasan Blok M. Selain menjual rilisan fisik, pria berambut gondrong ini juga menjual jasa untuk servis turn table (alat pemutar piringan hitam) dengan biaya 80 sampai 100 ribu. Tak hanya itu, ia juga memiliki jasa untuk memindahkan rekaman dari VHS ke medium CD, kaset dan DVD.

“Dulu pernah ada seorang anak muda dateng ke tempat saya untuk meminta CD The Beatlesnya ditransfer ke kaset. Ketika saya tanya untuk apa, ia bilang untuk hadiah pacarnya,”  kenang Bang Udin sambil tersenyum.

Tapi Tak Semua Mentereng, Beberapa Toko Malah Sudah Mulai Tutup

Tidak hanya Bang Udin yang masih membuka lapak di daerah Blok M. Masih ada sejumlah toko lainnya yang  bergerak sepertinya. Piringan hitam terpampang di katalog mulai dari musisi lawas Indonesia seperti Duo Kribo, AKA, Koes Plus, Panbes sampai The Beatles tersedia. Rak-rak kaset juga masih ramai berjejer, dari yang covernya berdebu sampai yang sangat terawat.

Namun tak semua toko di pasar Blok M tampil terawat. Beberapa nampak sudah lusuh bahkan tak lagi ada penghuninya. Tak pelak rasa penasaran pun tumbuh ketika melihat beberapa toko musik yang tertera plangnya namun tidak ada aktivitasnya.

“Ya beberapa (sambil menunjuk ke arah toko), ada yang tutup karena memang tidak berjualan lagi, ada juga yang sedang mengikuti acara musik untuk membuka lapak dagangannya,” imbuh Bang Udin.

Kontras dengan itu, terdapat satu toko yang terlihat masih asri dan terawat. Toko yang dijaga pemuda bernama Allen itu, baru buka sejak tahun 2014. Dengan tampilan rambut keriting dan tampang belia, pria ini mengaku ketertarikannya terhadap rilisan fisik terutama piringan hitam sudah muncul sejak masa SMA, namun ia baru dapat menggelutinya sejak tahun 2011. Meskipun dia hanya berjaga di toko ini (Pegawai) ia cukup cinta terhadap piringan hitam.

“Kalau di toko yang gua jaga ini memang khusus menjual piringan hitam. Gua pun jatuh cinta sama piringan hitam, karena ada beberapa part lagu yang tidak tertangkap dengan baik di CD dan kaset, dapat ditangkap oleh piringan hitam. Jadinya mendengarkan pun jauh lebih nikmat” celoteh Allen.

Hal yang diungkapkan Allen sama seperti yang diutarakan oleh Bang Udin, bagi dia vinyl  (nama lain dari piringan hitam) lebih “dapet” feel-nya untuk mendengarkan musik.

Sanggupkah Cinta Sesaat, Membuat Pasar Musik Bertahan?

Dua tiga tahun lalu memang jadi romansa manis bagi pedagang macam Bang udin dan Allen. Ketika itu mereka yang menamakan dirinya kaum hipster ramai-ramai memburu kaset, piringan hitam serta CD lawas. Pasar musik pun bergeliat ketika itu.

Namun toh nyatanya tak semua yang gandrung ketika itu benar-benar mencintai rilisan musik. Sebagian hanya sekedar ikut-ikutan atau ajang pamer di sosial media untuk dibilang vintage. Bisa ditebak, arus ini pun mereda dengan sendirinya.

“Gua sih udah ngebaca kalau moment ini pasti nggak bakal lama masanya sama seperti batu akik. Ketika booming, harganya gila-gilaan tapi satu atau dua tahun kemudian harganya kembali normal,” Bilang Bang Udin.

Hal ini pun diamini oleh Allen yang mengatakan, bahwa kejadian macam ini normal terjadi.

“Menurut gua sih itu nomral bahwa setiap fenomena pasti akan ada, kalau dua tahun lalu sempet naik dan sekarang turun. Tinggal tunggu aja nanti ada aja moment di mana piringan hitam naik lagi,” tambah Allen

Bukan Barang Antik, Rilisan Fisik Masih Bergantung Total Pada Romansa Penggilanya

Karena sesungguhnya piringan hitam memang barang antik namun tak juga mewah, karena ada saja orang umum yang menganggap bahwa piringan hitam itu harganya bisa mencapai juta-jutaan yang bisa dijadikan investasi. Padahal kenyataaannya tidak selalu demikian. Seperti di toko Allen misalnya di mana harga beragam dari 200 ribu sampai 450 ribu.

Namun turunnya peminat piringan hitam dan sejenisnya, tidak ditakuti akan membuat bisnis mereka mati. Untuk per harinya pengunjung yang datang bisa 2 sampai 3 orang di kawasan pasar musik Blok M walaupun belum tentu membeli. Bahkan ada saja orang-orang yang hanya “demam” sesaat yang seketika peristiwa ini sedang hype mereka tiba-tiba bermunculan dan bagi Allen itu sudah biasa.

“Kalau gua sih percaya, ketika gua beranjak dari rumah dan melangkahkan kaki keluar itu pertanda gua sudah dapat rezeki, entah bentuknya seperti apa. Bagi gua rezeki sudah diatur ya gua tinggal menjalaninya saja,” pungkas Bang Udin.

Senada dengannya Allen pun, yang terbilang masih muda dan belum berkeluarga juga berkata hal yang sama. Ia mengatakan bahwa selain berjualan banyak pengalaman lain yang di dapatnya dari menjaga toko di Blok M.

“Rezeki mah nggak bakal ketuker, gua sih jalanin saja karena gua yakim Tuhan udah ngatur rezeki buat masing-masing orang. Bahkan gua pernah ketemu bule untuk belanja vinyl di Blok M (tapi bukan di toko gue) gua bawa ke toko tetangga, dan gua liat 4 juta dia menghabiskan uangnya untuk menghabiskan vinyl musisi pop lawas Indonesia. Melihat begitu, ya gua bahagia aja, nggak ada rasa iri” tuturnya.

Pasar musik akan terus ada meskipun tentative untuk membicarakan perkembangannya. Karena rasa memiliki rilisan fisik masih dapat dirasakan setiap orang seperti memiliki album favorit musisi idola.

Lagi-lagi, digital boleh saja bangga dengan perkembangannya. Namun, suatu bentuk media rilisan fisik memang tidak tertandingi kualitas dan sensasinya, karena memiliki hal tersebut seperti suatu ada bentuk yang membanggakan dalam hati, meskipun hanya untuk bernostalgia. Sampai kapan? Cuma waktu yang bisa membuktikannya.

1 Comment

1 Comment

  1. Cingmeu

    August 26, 2013 at 4:31 pm

    pasca konser kabarnya memang positif; semuanya berjalan aman dan tertib, sampe semua mendapatkan untung; promotor hingga calo tiket, win-win solution deh KK !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Entertainment

Karisma Rocker Di Mata Perempuan Tetap Ada, Meski Usia Tak Lagi Muda

Menjadi rocker papan atas pasti selalu bersanding dengan perempuan-perempuan cantik. Lagu yang indah ditambah dengan aksi panggung menawan membuat penonton tergoda, teriakan histeris dari penonton saat mereka di panggung membuat aksi begitu lengkap. Jadi tidak salah, kalau wanita banyak yang jatuh hati dengan mereka. Nama Dave Grohl pasti tidak asing di telinga Bung, mantan personil Nirvana dan vokalis Foo Fighters ini pernah mengencani sejumlah wanita bertalenta dan juga cantik, seperti Winona Ryder, Melissa Auf Der Maur, sampai akhirnya menikahi Jordyn Blum.

Karisma yang terbentuk dari atas panggung memang mampu memancar penuh ke dalam sanubari kaum hawa sehingga perempuan banyak yang kepincut. Selain Dave Grohl, nama Mick Jagger tak bisa absen dalam urusan perempuan, karena vokalis sekaligus pentolan Rolling Stones sudah memiliki 8 anak dari 5 perempuan berbeda. Marsha Hunt, Jerry Hall, Bianca Jagger, Luciana Morad, dan Melanie Hamrick adalah kelima perempuan yang pernah menjalin kasih dengan laki-laki berbibir tebal ini.

Sedangkan di Indonesia, setiap rocker pun tidak jauh kehidupannya dengan urusan perempuan. Eno yang merupakan drummer Netral telah menikahi aktris cantik Nadilla Ernesta, setelah menjalin hubungan dengan beberapa artis cantik lain, salah satunya Cathy Sharon. Baru-baru ini gitaris dari band kawakan /rif, yakni Ovy, baru saja menikahi Marissa Aziz, sosok yang hot juga cantik berhasil menggaet hati Ovy.

Setelah Diva Indonesia Sekarang Model

Ovy memang merupakan definisi dari rocker yang dikelilingi perempuan cantik. Sempat menikah dengan salah satu diva Indonesia, Titi DJ, yang bercerai 7 tahun lalu, Ovy yang memiliki nama lengkap Noviar Rachmansyah baru saja menggaet seorang model Bung. Karisma pria berumur 51 tahun ini masih bersinar seperti rocker-rocker di luar. Tak pelak model bernama Marissa Aziz ini menerima pinangan dari Ovy. Kecantikan Marissa dan Titi DJ tak dapat diragukan meskipun usia tak lagi muda.

Ovy dan Marissa Terpaut 16 Tahun Secara Usia

Ovy memang tidak muda lagi karena sudah memasuki usia kepala lima, jelas saja laki-laki disekitaran umur seperti itu pasti sudah tidak belia, dan rupawan ketika muda. Namun, pelantun nada “Radja” masih tetap bugar dan juga tampan. Mungkin hal itu yang membuat Marissa mau menjalani hubungan bersama Ovy, karena meskipun tak lagi muda namun tak nampak tua.

Selisih usia Ovy dengan Marissa terpaut 16 tahun Bung. Ovy sudah berusia 51 tahun, sedangkan Marissa baru 35 tahun. Meskipun banyak pula, terutama netizen, yang menganggap kalau Marissa tampak seperti perempuan berusia 26 tahun. Apakah Bung juga sependapat?

Menjalani Hubungan Dua Tahun Dan Menikah

Rencana pernikahan Ovy dan Marissa memang tidak disusun dalam jangka waktu yang lama. Lewat manajemennya yang dikutip dari Kumparan.com, diketahui jika hubungan yang dijalin Ovy dan Marissa sudah berjalan dua tahun. Bahkan, pihak manajemen pun sudah tahu kalau memang kedua pasangan ini akan segera menikah. Pernikahan dilangsungkan secara sederhana di Surabaya dengan dihadiri keluarga dan kerabat dekat saja.

Tergabung Dalam Manajemen Model

Usia memang bukan menjadi takaran dan batas dalam mencapai sesuatu, buktinya saja Marissa Aziz meskipun telah memasuki usia 35 tahun tapi tetap menekuni dunia modelling. Dunia yang akrab dengan badan langsing dan wajah rupawan, juga kemolekan tubuh dengan berbagai gaun saat melanggang di atas catwalk atau pun difoto.

Tergabung dalam modelmanagement.com, perempuan yang memiliki tinggi 163 cm, kalau dilihat-lihat memang masih mumpuni untuk menjalani karir sebagai model, karena wajah dan tubuhnya yang seksi.

Kenapa Nikahnya Dipercepat?

Adapun rencana pernikahan yang dijalankan Ovy dan Marissa dipercepat karena satu alasan, yakni kondisi ayah dari Marissa yang sedang mengalami sakit, dan ingin anaknya segera menikah. Alhasil, pernikahan pun dilakukan dengan persiapan waktu yang singkat. Dan setelah pernikahan dilakukan, tak lama kemudian ayahanda dari Marissa meninggal.

Hubungan Ovy dan Marissa sudah resmi sebagai suami istri, namun karir yang dijalani dari dunia berbeda. Sehingga Ovy yang sekarang masih aktif sebagai gitaris /rif harus menetap di Jakarta, sedangkan Marissa yang menjalani karirnya di Bali bermukim di sana.

 

 

1 Comment

1 Comment

  1. Cingmeu

    August 26, 2013 at 4:31 pm

    pasca konser kabarnya memang positif; semuanya berjalan aman dan tertib, sampe semua mendapatkan untung; promotor hingga calo tiket, win-win solution deh KK !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top