Sport

Mereka yang Menyatakan Ketidaksukaan terhadap Pep Guardiola secara Terang-terangan

Keputusan pelatih dalam menentukan taktik dan strategi terkadang jitu bagi kepentingan tim, tetapi belum tentu berdampak baik untuk karier pemain. Banyak pemain yang harus rela duduk manis di bangku cadangan, karena tak masuk dalam strategi sang pelatih. Pep Guardiola merupakan salah satu pelatih tersukses, yang mulai melatih di tahun 2008 sampai sekarang, 23 trophy sudah dikoleksi oleh pelatih asal Spanyol.

Di jajaran pelatih, nama Pep Guardiola sudah diakui kehebatannya. Namun, ada beberapa pemain yang secara terang-terangan membenci dirinya karena beberapa faktor yang membuatnya kehilangan tempat di tim utama. Bahkan secara terang-terangan beberapa pemain ini membencinya. Kira-kira siapa saja mereka, Bung?

Kaya Akan Taktik tapi Tak Handal dalam Berkomunikasi

Bek asal Brasil, Dante merupakan pemain andalan di Bayern Munchen semenjak didatangkan pada bursa transfer musim panas 2012 dari Borrusia Moenchengladbach. Jupp Heynckes, yang saat itu menjadi pelatih kepala menjadikan Dante pemain andalan sebelum ia digantikan oleh Guardiola.

Selama dua musim Guardiola melatih di tahun 2013 sampai 2015 Dante masih mendapatkan banyak laga bersama Bayern. Tetapi bek satu ini mengatakan kalau Guardiola merupakan pelatih yang kaya taktik tapi tak handal dalam berkomunikasi.

Tak Dimaksimalkan Membuat Hleb Bertengkar

Di Arsenal, Alexander Hleb merupakan salah satu gelandang andalan. Tetapi saat pindah ke Barcelona di tahun 2008, kekuatan Hleb tidak dimaksimalkan. Hal itu karena Hleb tak suka dengan pendekatan strategi yang dilakukan Guardiola, yang sangat mendewakan tiki-taka. Saran yang diberikan kepada Hleb untuk memainkan gaya permainan tiki-taka tidak disenanginya. Lantaran ritme permainan Hleb di Arsenal sangat gemar mendribel bola dalam waktu lama. Sehingga pertengkaran antara Hleb dan Guardiola tidak dapat dihindari.

Dua Kali Dilatih Guardiola, Dua Kali Terdepak dari Skuat Utama

Ironis bagi pemain tengah bertalenta seperti Yaya Toure, kala memperkuat Barcelona di tahun 2008-2010 ia meninggalkan Catalunya karena tak betah ditangani oleh pelatih seperti Guardiola. Membuatnya pindah ke Manchester City, ironisnya, ketika ia berniat menghindari Guardiola, di tahun 2016 Guardiola malah memperkuat Manchester City. Tak banyak berubah setelah Guardiola pindah ke Manchester City, peran Yaya Toure tetap tergerus dan ia pun memutuskan untuk meninggalkan Manchester City sebelum kontraknya habis.

Hanya Bersikap Manis di Depan Kamera

Sikap buruk Guardiola pun diungkapkan langsung oleh mantan striker Barcelona era musim 2008-2009. Samuel Eto’o, ia memutuskan pindah ke Inter Milan karena tak tahan dengan sikap Guardiola. Inter dan Barcelona pun bertemu sebanyak empat kali di Liga Champions 2009-2010, Eto’o pun mengatakan Guardiola menyalaminya tiap kali ada kamera yang menghampiri, namun enggan menyalami kalau tak ada kamera.

Tak Tahan Dimainkan Bukan sebagai Posisi Aslinya

Penyerang berpaspor Swedia ini, mengaku kalau semuanya berjalan baik-baik saja pada enam bulan awal. Setelah itu hubungannya dengan Guardiola tidak begitu nyaman. Posisi penyerang yang menjadi posisi aslinya dipindahkan sebagai sayap kiri yang membuat Ibrahimovich kesal. Guardiola melakukan hal itu demi mengakomodir Lionel Messi, hingga Ibrahimovich hanya bertahan satu musim saja di Barcelona.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Sejauh Mana Bung Tahu Tentang Teknologi Kaos Sportswear yang Dikenakan?

Bung gemar berolahraga? kalau iya, tentu memiliki sportswear yang kerap dipakai, kan? dan sejauh mana bung tahu tentang teknologi yang terkadung di sportswear tersebut? Bagi bung yang masih awam untuk soal pakaian olahraga pasti alasan memilih adalah demi kenyamanan. Atau agar keringat lebih mudah terserap. Tak jarang juga alasan lainnya seperti supaya tampilan jauh lebih ‘keren’. Tidak salah juga kok, karena bagi sebagian orang yang berolahraga penampilan juga penting.

Namun kalau bung penasaran dengan teknologi yang terkadung, sebaiknya bung membaca ulasannya di bawah ini. Terutama tentang tag yang sering ditemui bertuliskan AIRism, Dry ex atau Dri fit. Karena dibalik tag tersebut mungkin ada teknologi yang sebenarnya kalian cari selama ini saat berolahraga.

AIRism

Kalau kalian mencari produk sportswear yang nyaman beraktivitas serta yang memiliki masalah bau badan sangat cocok untuk memakai sportswear dengan tag AIRism. Material ini memang dibuat khusus untuk masalah bau badan karena ada fitur anti bau dan anti apek. Jadi bung tak perlu khawatir kalau bau badan bakal tercium ke mana-mana. Selain itu, produk berlabel tag AIRism sangat ringan, cepat kering dan halus di tubuh. Teknologi ini pun digunakan oleh Uniqlo oleh produk-produk sporstwear.

Airism Seamless

Kalau desain yang terdapat pada Airism Seamless berbeda dengan AIRism. Sportswear ini didesain khusus untuk menjaga kulit agar tidak mengalami iritasi dan gatal ketika bergesekan dengan kulit. Apabila diperhatikan pakaian yang memiliki tag Airism Seamless tidak memiliki jahitan dan lipatan pada pinggiran bahan. Tentu cocok bagi kalian yang suka merasakan iritasi saat berolahraga karena pakaian.

Block Tech

Kecanggihan dari produk sportswear berlabel Block Tech memiliki teknologi khusus agar si pemakai tetap merasa nyaman. Sekaligus membuat pakaian ini anti air dan anti angin. Kalau bung pernah memakai pakaian luar seperti parka dan jaket merek Uniqlo, nah kira-kira hampir sama seperti itu. Tentu saja teknologi tersematkan agar aktivitas olahraga tidak terganggu.

Dry Ex

Terdapat teknologi pengering khusus dalam produk berlabel Dry Ex jadi tetap naman dipakai meskipun berkeringat. Bahan yang cepat kering dan biasanya dipakai saat melakoni olahraga berat yang mana mudah berkeringat. Lagi-lagi teknologi juga terdapat dalam brand Uniqlo seperti Dry Ex Crew Neck T-Shirt dan Dry Ex Knee Lenght Pants.

Dri Fit

Kalau bung yang gemar sepakbola pasti akrab dengan tag Dri Fit di jersey klub favorit kalian yang terbuat dari Nike. Bahan lembut, nyaman dan atasan pakaian lari yang sangat ringan sekaligus stylish. Teknologi yang dipopulerkan oleh Nike ini memiliki lubang ventilasi di bawah ketiak dengan grommet menambah kemampuan untuk bernapas. Jadi keringat dari tubuh ke permukaan bahan menguap dengan cepat.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Setidaknya Ronaldo Lampaui Messi Dalam Soal Trofi Internasional

Setuju atau tidak kiprah Ronaldo dalam dunia sepakbola selalu berada di bawah bayang-bayang Lionel Messi. Meskipun keduanya saling salip menyalip dalam soal rekor maupun skill individu, tapi banyak yang meyakini kalau Messi di atas kertas lebih piawai dari pada Ronaldo. Hal ini masih menjadi perdebatan panjang bagi para pecinta kedua orang tersebut.

Tapi kalau soal berkarir untuk mengharumkan nama negara atau bangsa setidaknya Messi tidak bagus seperti rivalnya. Ronaldo memiliki andil besar bagi Portugal untuk juara Piala Eropa 2016 lalu saat mengkandaskan tuan rumah Prancis. Dan Portugal baru saja menjuarai UEFA Nations League setelah mengalahkan Belanda dengan skor tipis 1-0. Menjadikan Ronaldo memiliki dua gelar internasional! sedangkan Messi hampa sama sekali.

Keberhasilan ini jelas tidak dapat diimbangi Messi, sebagaimana ia sukses bersama  Barcelona. La Messiah sendiri hanya mampu menjadikan Argentina sebagai runner up dalam kejuaraan lantaran pernah mengantar Argentina ke final Piala Dunia 2014 dan tiga final Copa America. Namun Messi  masih memiliki kesempatan untuk mencoba menyamai pencapaian Ronaldo, karena ia akan tampil di Copa America 2019 yang bakal digelar di Brasil pada 14 Juni sampai 7 Juli nanti.

Balik ke ajang UEFA Nations League, Ronaldo memang tidak mencetak gol saat melawan Belanda. Tapi ia berhasil mengantarkan Portugal ke final setelah mencetak hat-trick di Semi Final saat menghadapi Swiss.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Richarlison, Tumbuh di Lingkungan Penjahat Namun Karir Melesat Hebat

Brasil tidak pernah miskin talenta si kulit bundar, setiap tahun pasti tumbuh satu per satu bintang baru salah satunya adalah Richarlison. Pemain kelahiran 10 Mei 1997 ini memang istimewa, karena tidak butuh waktu lama untuk dirinya dikenal dunia. Karirnya terbilang instan, bagaimana tidak, Richarlison hanya membutuhkan dua tahun untuk membuatnya melangkah dari tim Divisi II Brasil tuk menuju Liga Inggris.

Bermain di Premier League merupakan mimpiku sejak kecil. Dan saya masih harus membiasakan diri melihat namaku tercetak di papan skor,” ujarnya

Bahkan saat dirinya bermain untuk Everton, perfoma pun tak surut, justru ia tampil dengan gemilang dengan mencetak gol di setiap pertandingan. Sejauh ini ia layak disebut sebagai bintang brasil, apalagi usianya yang masih terbilang muda yakni 21 tahun. Lantas karir Richarlison yang gemilang seperti sekarang terjadi bukan karena didukung fasilitas yang megah, tapi dibangun dari cerita merana ala rakyat jelata.

Kampung Halaman Kelam, Jadi Pengedar Narkoba Sudah Biasa Didengar

Richarlison seperti kami bilang tidak berasal dari lingkungan yang mapan dengan memiliki support system yang baik. Villa Rubia, kampung halaman yang terletak di Nova Venecia  dikenal sebagai salah satu penghasil minyak di Brasil.

Tempat tersebut menjadi tempat di mana ia tumbuh dewasa. Ironisnya tidak semua rekan sebayanya beruntung seperti ia yang sedang menjajaki karir sebagai pesepakbola. Rekannya ada yang bekerja sebagai kuli tambang dan pengendar narkoba, sebuah potret kelam dalam hal mencari nafkah.

Banyak teman sekampung saya terjerumus narkoba, sebagian besar dari mereka masuk penjara. Saya kadang masih berbicara dengan mereka, tapi saya beruntung karena tidak terjerumus hal serupa,” kata Richarlison kepada FourFourTwo 2018 lalu.

Keluarganya pun juga bukan dari keluarga yang baik-baik, di mana orang tuanya bercerai saat ia memasuki usia tujuh tahun. Richar pun pernah hidup dengan ayahnya lalu menetap dengan ibunya di usianya yang ke-10 tahun.

Sebelum Jadi Pemain Bola, Ia Mati-Matian Menghidupi Kelurga

Saya terpaksa harus menjual permen dan es krim di jalanan dan bekerja di lapangan untuk membantu kedua orang tua. Saya melakukan itu sebab semua orang melakukan apapun agar mereka bisa mewujudkan mimpi menjadi pesepak bola,” kata Richarlison.

Tingga bersama ibunda di Aguia Branca yang tak jauh dengan Nova Venecia, membuat kehidupan Richarlison semakin sulit. Apalagi ia harus membantu menafkahi empat orang adik, maka pekerjaan apapun dilakoni. Di sela-sela kehidupan yang berjalan miris, hanya sepakbola yang dijdikan hiburan.

Berkat Pemandu Bakat Talenta Richarlison Terasah Sedemikian Hebat

Salah satu sosok yang mungkin membuat Richarlison berhutang budi adalah Renato Velasco yang melihat keajaiban dari dirinya saat usia 16 tahun. Pebisnis, Pemandu bakat sekaligus Agen sepakbola ini secara jujur menyaksikan potensi Richarlison dalam beberapa kali latih tanding. Sejak saat itu, ia yang tadinya bergabung dengan akademi lokal, Real Noroeste hijrah ke America Mieneiro.

Saya akan membantumu karena kamu punya potensi,” ungkap Velasco, yang hingga kini menjadi agen.

Belum genap 12 bulan ia berada di akademi, Richarlison langsung dirpomosikan ke skuat senior. Setahun berikutnya, tepat pada tahun 2015 klub tangguh Brasil Fluminense lansgung meminangnya. Dua musim gemilang, mengantarkan ia mulai merambah liga Inggris yang diawali berssama Watford. Sebelum pindah ke Evertor dengan banderol harga sebesar 45 juta euro.

Tak Rela Dibilang Instan Karena Semua Adalah Bagian dari Usaha dan Proses

Hanya membutuhkan 5 tahun bekerja sama dengan Velasco, Richarlison disulap langsung jadi pemain bintang. Dan hanya membutuhkan dua tahun untuk melangkah hebat dari Ateletico Mineiro sampai ke Everton. Tak ayal label pemain instan mengarah kepadanya.

Jika yang dibicarakan karier profesional, barangkali ya (instan). Di akademi saya bahkan hanya main 11 pertandingan sebelum masuk ke skuat inti. Tapi ada proses panjang yang tak bisa saya jelaskan. Saya rasa itu adalah kerja keras, konsistensi, keyakinan, dan kekuatan mental untuk melewati cobaan berat,” tuturnya.

Komitmen Richarlison adalah penolakan, yakni menolak menyerah dan putus asa. Semua orang melihat dari sisi berlawanan, yakni di mana ia berhasil ke merantau ke beberapa klub besar.  Namun, jauh sebelum itu Richarlison adalah orang yang kerap gagal. Bahkan secara jujur ia telah berulangkali menjalani trial dan seluruhnya gagal.

Saya tidak punya jari yang cukup untuk menghitung siapa saja yang menolak saya. Di titik itu saya nyaris menyerah dan berhenti dari sepakbola,”

Paling Dinantikan, Membawa Brasil Menuju Juara

Meskipun bersinar di klub, sebagaimana yang namanya pemain sepakbola pasti menginginkan berada di skuat utama tim nasional. Membawa nama negara harum di kancah internasional adalah hal yang membanggakan bahkan layak disebut pahlawan olahraga. Namun itu semua tak terwujud kalau pemain tak masuk dalam daftar skuad tim utama.

Nah, hal ini juga terjadi kepada Richarlison di mana tayangan di televisi pada tanggal 17 Mei 2019 lalu sedang mengumumkan daftar pemain untuk Copa America 2019. Keluarga besar Richarlison menyimak dengan seksama di ruang tamu, kondisi semakin hening ketika pemain yang disebutkan sudah berada di urutan paling akhir.

Kemudian Tite, Pelatih Brasil menyebut namanya sebagai pemain ke-19 dan nama yang disebut adalah Richarlison de Andrade, sontak keluarga lompat kegirangan dan langsung memberi selamat kepada Richarlison yang mengenakan seragam basket Lakers.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top