Lebih Tahu

Menkominfo Sindir Pegawai Dengan Kalimat, ‘Yang Gaji Kamu Siapa?’

Menkominfo Rudiantara namanya sedang hangat dibicarakan di media sosial. Perihal sikapnya yang menyindir pegawai negeri sipil di kementriannya, dengan menyatakan kalimat, ‘Yang Gaji Kamu Siapa?’. Kejadian ini bermula saat beliau meminta ratusan pegawai Kemenkominfo guna memilih stiker sosialisasi Pemilu 2019 yang akan ditempel di komplek kementrian.

Dua desain stiker yang ditawarkan di namai stiker nomor satu dan nomor dua. Desain stiker nomor satu memiliki warna dasar merah sedangkan yang satunya lagi dominan di warna putih.

Preferensi teman-teman memilih nomor satu atau nomor dua?” tanya Rudiantara dalam acara Kominfo Next di Hall Basket Senayan dilansir dari CNNIndonesia.

Pertanyaan pun disambut sorak sorai pegawai Kominfo. Rudiantara menyadari maksud dari sorakan para pegawai dan ia langsung mengklarifikasi kalau ini tak berkaitan dengan Pilpres 2019. Pemungutan suara dilanjutkan berdasarkan teriakan terkencang dan hasilnya desain nomor dua mendapat sorakan paling kencang.

Lewat hasil voting suara tersebut yang disambut dengan riuhan suara oleh para pegawai. Ia memanggil perwakilan pegawai yang memilih desain nomor dua. Hal ini pun memancing pegawai untuk bersorak kembali. Kemudian dua perempuan pegawai naik ke atas panggung. Ia meminta kedua pegawai tersebut memberikan alasan kenapa pilih desain nomor dua. Tetapi entah kenapa bung, jawaban salah satu pegawai merujuk kepada Pilpres 2019

Bismillahirrahmanirrahim, mungkin terkait keyakinan saja, Pak. Keyakinan atas visi-misi yang disampaikan nomor dua, yakin saja,” ucap pegawai tersebut lugas.

Karena jawaban tersebut beberapa pegawai lainnya ada yang tertawa, bersorak sampai bertepuk tangan. Rudiantara kemudian mementahkan jawaban tersebut, dengan menyatakan ini bukan soal Pilpres 2019 melainkan tentang desain stiker.

“Saya terima alasan yang nomor satu, tapi saya tidak bisa terima alasan nomor dua karena, mohon maaf, ibu tidak bicara mengenai desain. Terima kasih bu, terima kasih,” kata Rudiantara.

Sesaat kedua pegawai tersebut kembali ke tempat duduk, tiba-tiba Rudiantara berteriak memangil pegawai yang memilih desain nomor dua seraya berkata. “Bu! Bu! Yang bayar gaji ibu siapa sekarang? Pemerintah atau siapa? Hah?” ujar Rudiantara dengan suara meninggi. Sontak pegawai itu berbalik dan menjawab, tetapi keburu dimentahkan oleh sang Menkominfo.

Bukan yang keyakinan ibu? Ya sudah makasih,” kata Rudiantara.

Terkait dialog tersebut para pegawai Kemenkominfo pun riuh. Mereka mempertanyakan voting dan pertanyaan Rudiantara yang ditujukan kepada koleganya karena sarat unsur politis. Ia pun mengingatkan kepada para pegawai Kominfo untuk tidak terpolarisasi dalam perdebatan Pilpres 2019.

Tapi sekali lagi, jangan dikaitkan dengan pilpres karena ibu-ibu, bapak-bapak, masih digaji oleh Kominfo, digaji oleh pemerintah. Terima kasih banyak,” tutup dia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Kerajaan Perempuan Terbesar di Dunia Menganut Sistem Cinta Satu Malam, Tak Kenal Pernikahan

Suku Mosuo China, menempatkan perempuan sebagai kekuasaan tertinggi dalam kelompoknya. Suku yang mendiami tepi Danau Lugu, barat laut dataran tinggi Yunnan, China juga dikenal sebagai kerajaan perempuan terbesar di dunia. Tidak seperti di kebanyakan tempat di mana sistem Patriarki secara tersirat ada di masyarakat. Suku ini secara terang-terangan menerapkan sistem Matriarki. Otomatis perempuan mendominasi kepimimpinan atas seagala bidang kehidupan di sana.

Dilansir dari The Vintage News, suku Mosuo tidak hanya menarik karena menjadi kerajaan perempuan terbesar di dunia. Akan tetapi suku ini tidak mengenal adanya pernikahan, atau membangun keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu juga anak. Bahkan isitilah suami bagi pria yang menjalin hubungan, juga tidak dikenal dalam suku Mosuo. Lantaran mereka menganut sistem Walking Marriage alias pernikahan berjalan atau Axia.

Dengan kata lain para perempuan bebas memilih pria yang mereka sukai untuk berhubungan seksual tanpa ada ikatan pernikahan. Perempuan yang telah dinyatakan dewasa secara seksual akan meminta para laki-laki untuk mengunjungi kamarnya saat malam hari guna berhubungan seksual. Seorang laki-laki yang tidur dengan wanita Suku Mosuo akan menggantung topi di pegangan pintu kamar sebagai tanda, agar tidak ada laki-laki lain yang masuk ke dalam kamar bung.

Setelah melepas hasrat seksual, laki-laki diwajibkan pergi sebelum matahari terbit dan kembali ke rumah ibunya. Axia dapat berjalan satu malam atau bahkan lebih. Para wanita Suku Mosuo pun dapat mengajak pria yang berbeda di setiap malam. Tentu apabila perempuan hamil dan melahirkan, ia tidak tahu secara biologis siapa ayahnya.

Anak akan dibesar oleh ibu, dibantu dengan nenek dan saudaranya. Karena perempuan sangat dominan di Suku Mosuo, laki-laki tidak memiliki kewajiban guna mencari nafkah atau membesarkan anak-anaknya. Hanya ibu lah yang memiliki hak 100 persen atas anak yang lahir dari rahimnya.

Di era sekarang, banyak generasi muda Mosuo sudah meninggal tradisi mereka dan menjalani dunia modern dan memasuki masyarakat. Beberapa dari mereka bahkan memilih untuk menikah dengan suku lain. Intervensi pemerintah pun telah banyak dilakukan demi menjembatani Mosuo dengan seluruh dunia. Seperti di desa utama Luosho terdapat hotel, tempat makan, karaoke, fasilitas kasino demi mendukung pariwisata. Sampai-sampai hal pelacuran juga dipromosikan.

Apakah bung tertarik untuk datang ke Suku Mosuo?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Walhi Menuduh Prabowo Mendapatkan Tanah Ribuan Hektar di era Orde Baru

Calon Persiden nomor urut 02 Prabowo Subianto meyakini memiliki lahan seluas ribuan hektare. Menurut LSM Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) seharusnya beliau tak memiliki Hak Guna Usaha (HGU) seluas ribuan hektare di masa kini. Kemungkinan ia mendapatkan lewat koneksi politik saat Orde Baru.

Kepala Departemen Kajian Pembelaan dan Hukum Lingkungan Zenzi Suhadi mengatakan kalau kepemilikan tanah yang luasnya lebih dari 100 ribu hektare dalam satu koneksi itu tidak mungkin menggunakan HGU.

“Nah, seharusnya tidak boleh ada orang yang memiliki lahan itu dalam jumlah besar seperti yang dimiliki Pak Prabowo. Hanya saja sayangnya konsesi-konsesi dalam jumlah besar seperti itu bisanya kalau enggak HPH (Hak Pengusahaan Hutan), HTI (Hutan Tanaman Industri) dan perkebunan itu, tapi tidak ada yang dalam satu konsesi mencapai 100 ribu (hektare),” katanya dilansir dari CNNIndonesia.com

Kemungkinan besar tanah seluas tersebut didapat Prabowo karena merupakan eks menantu Presiden Kedua RI Soeharto sejak era Orde Baru menurut Zenzi. Lantaran penerbitan izin untuk lahan ratusan ribu hektare saat itu diperuntukkan untuk HPH ( (Hak Pengusahaan Hutan) dan HTI (Hutan Tanaman Industri). Bahkan tidak hanya jenderal saja menurutnya, tetapi orang yang memiliki relas politik juga mendapatkan izin tersebut.

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 98 tahun 2013 tentang Pedoman Perizinan Perusahaan Perkebunan mengatur soal batas paling luas pemberian Izin Usaha Perkebunan (IUP) untuk satu perusahaan atau kelompok (grup) perusahaan perkebunan. Seperti perkebunan sawit mencapai 100.000 hektare, teh 20 ribu hektare dan tebu 150.000 hektare.

IUP pun diwajibkan bagi perusahaan yang membudidayakan sawti lebih dari 1.000 hektare, teh lebih dari 240 hektare dan tebu lebih dari 2.000 hektare. Direktur Eksekutif Walhi Nur Hidayati dan Manajer Kampanye Walhi Fatilda Hasibuan juga mengatakan kalau HGU biasanya diberikan kepada korporasi. Tidak mugkin individu memiliki HGU dengan luas tanah mencapai ratusan ribu hektare.

Yang mesti dilihat itu perusahaan Prabowo apakah memiliki lahan ratusan ribu hekatare? karena untuk perorangan enggak bisa ya punya ratusan ribu hektare,” ungkap Nur dilansir dari laman yang sama.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Kapal Penjarah Ikan Lautan Dunia Berhasil Ditekuk di Indonesia

Sudah satu dekade kapal penangkap maling ikan menjarah ikan di lautan di dunia. Kapal tersebut dikenal dengan nama Andrey Dolgov. Sepak terjangnya selama 10 tahun menjarah ikan-ikan yang berada di perairan dunia harus berhenti, Kapal Andrey Dolgov berhasil diringkus di Indonesia setelah mencoba melarikan diri dari patroli Angkatan Laut (AL) Indonesia yang bersenjata lengkap. Dikutip dari BBC.com , kapal pencuri ini juga diintar oleh pesawat tak berawak yang berputar-putar di atasnya sampai para penjarah ikan menyerah.

Kapal Andrey Dolgov atau yang dikenal dengan STS-50 dan Sea Breez 1 merupakan bagian dari jaringan kriminal internasional yang sudah terorganisir yang secara tidak langsung tumbuh subur di antara garis hukum maritim dengan pejabat korupsi. Operasi penangkapan kapal dan awaknya buah kerjasama polisi dan otoritas maritim yang melacak kapal para perampok ikan lewat satelit.

Kapten dan kru terkejut telah ditangkap” kata Andreas Aditya Salim bagian dari gugus tugas keprisedenan di Indonesia yang memimpin operasi.

Kapal Andrey Dolgov ditangkap di Selat Malaka. Berada tepat di jalur pelayarang utama antara Semenanjung Melayu dan Pulau Sumatera. Setelah diselediki ternyata ditemukan setumpuk jaring-jaring besar berulir halus yang merentang setara 29 km jika digunakan.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top