Health & Personality

Laki-laki Kok Baca Novel?

Masa iya laki-laki baca novel?

Mungkin pertanyaan itu muncul di kepalamu ketika seseorang menyodorkan sebuah novel untuk di baca. Tak salah memang, karena mayoritas laki-laki tidak membaca buku fiksi macam novel itu. Bahkan di amerika serikat yang kultur membacanya lebih tinggi dibanding Indonesia, fakta ini juga tak terbantahkan.

Agensi Federal Amerika Serikat yang berfokus pada urusan seni dan budaya, The National Endowment for the Arts pernah merilis survey mengenai hal ini. Ditemukan bahwa, laki-laki yang membaca novel hanya 38 persen dari total populasi laki-laki yang membaca buku. Angka ini berbanding terbalik dengan perempuan.

Mari sejenak lupakan angka-angka tersebut. Karena sesungguhnya tak ada yang salah bagi laki-laki jika membaca novel. Dan Novel tak melulu picisan macam yang kita pikirkan. Bahkan beberapa novel menjadi bagian dari sejarah perubahan.

Di Indonesia, novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer misalnya, pernah dicekal dan dilarang edar karena dinilai sebagai ancaman bagi pemerintah. Atau misalnya novel-novel klasik Layar Terkembang, Siti Nurbaya dan Salah Asuhan yang dianggap sebagai penentu tonggak kebangkitan nasionalisme dan feminisme di tanah air.

Ya, novel memang punya kekuatan sebesar itu. Begitu pun efeknya terhadap diri kita.

Kemampuan Nalar Akan Disempurnakan Justru Ketika Membaca Buku novel

Ada hal yang tidak bisa kita dapatkan ketika membaca buku non fiksi, namun akan selalu bisa didapatkan ketika membaca buku fiksi. Buku-buku, non fiksi memberikan kita banyak pengetahuan, namun semua didasarkan pada apa yang saat ini ada dan berlaku di masyarakat. Hasilnya kita akan terkungkung pada pola pikir yang itu-itu saja.

Sementara Novel dengan segala imajinasinya menawarkan ruang untuk berspekulasi dengan sangat baik untuk kita tentang berbagai hal, seperti kepercayaan, norma, dan pengalaman bermain dalam konteks sosial. Hal itu memberi wawasan yang membantu kita untuk bekerja melampaui logika. Hal ini membuat kemampuan kita berpikir out of the box lebih terasah ketika di dunia nyata.

Membaca Buku novel Adalah Salah Satu Cara Ampuh Meredakan Stres yang Bisa Berakibat Buruk Untuk Kinerja dalam Bekerja

Sebagian besar orang berpikir jika cara ampuh mereka untuk meredakan stres yang mereka alami adalah dengan mendengarkan musik, berjalan-jalan, menikmati secangkir teh, ataupun olah raga. Tetapi ternyata menurut sebuah studi dari University of sussex membaca sebuah novel meredakan stres dibandingkan aktifitas lainnya.

Seorang neuropsikolog kognitif David Lewis, mengatakan bawa membaca dapat mengurangi tingkat stres hingga 65%. Temuannya ini menyebut hanya dengan membaca selama enam menit sudah bisa menurunkan detak jantung dan mengurangi ketegangan pada otot. Hal ini terjadi karena k etika sudah ‘tenggelam’ dalam sebuah novel, seseorang dapat melepaskan diri dari kekhawatiran dan tekanan dunia sehari-harinya.

Buku novel Dapat Membantu kita Menemukan Jati Diri dan Juga Kekuatan

Kekuatan cerita serta tokoh yang memiliki karakter yang kuat dijelaskan secara detail dalam sebuah novel. Hal ini memunculkan kekuatan secara tidak langsung di alam bawah sadar untuk menemukan jati dirimu melalui banyak hal yang dialami banyak tokoh serta banyak kejadian yang mereka alami di dalam cerita novel. Imajinasi kita juga akan membantu kita menemukan serta berpikir seperti apa diri kita sebenarnya.

Dalam Dunia Kerja kita Membutuhkan Rasa Empati yang Tinggi, Buku novel Akan Membantu kita Mendapatkannya

Ketika kita membaca sebuah buku novel, kita akan dihanyutkan oleh pengalaman tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita melalui berbagai macam kejadian yang dialami. Dan ketika kita membayangkan situasi yang mereka alami, secara tidak langsung akan membawa kita larut dan membuat kita lebih bisa berempati terhadap orang-orang di dalam dunia nyata.

Penelitian yang dilakukan oleh Raymond Mar, seorang psikolog di York University di Kanada menyebut bahwa dengan membaca novel kita sering memiliki pemikiran dan emosi yang konsisten dengan alur cerita. Dengan merefleksikan interaksi sosial masa lalu atau membayangkan interaksi masa depan.

Pengalaman yang kita miliki dalam kehidupan akan membentuk pemahaman kita tentang dunia. Hal Begitu juga ketika kita membaca novel. Membayangkan pengalaman dari cerita novel naratif cenderung membentuk atau mengubah kita menjadi orang yang memiliki rasa empati terhadap apa yang dialami oleh orang lain.

Kemampuan kita Dalam Memecahkan Masalah yang Kompleks akan Terasah dengan Membaca Buku novel

Ketika kita ingin memecahkan masalah, yang dibutuhkan sering kali bukan hanya keahlian soal bidang masalah tersebut. Namun, yang tak kalah pentingnya adalah pemahaman dan intuisi tentang situasi sekitar kita.

Menurut sebuah studi dari Universitynof Toronto, orang yang membaca novel akan mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang situasi dan orang lain. Karena ketika membaca novel, seiring berjalannya cerita kita akan melulu menebak-nebak jalan akhir dari jalan ceritanya. Disinilah intuisi kita akan terasah di kehidupan nyata sehari-hari.

Jadi lain kali, jika ada yang menawarkan buku novel untuk dibaca, jangan ditolak ya bro.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Otomotif

Ketika Beli Suzuki GSX-R150 dan GSX-S150 Kini Berhadiah Jaket Sporty

Sukses menghadirkan Suzuki GSX-R150 dan GSX-S150 ke hadapan publik Indonesia hingga akhirnya menjadi trend setter baru motor sport 150cc pada saat ini, kini PT. Suzuki Indomobil Sales (SIS) kembali memberikan program terbaik yang berlaku mulai bulan Oktober 2017. Setiap konsumen yang melakukan pembelian Suzuki GSX-R150 maupun GSX-S150 akan langsung mendapatkan jaket sporty berdesain keren dan penuh gaya masa kini.

“Tidak terasa Suzuki GSX-R150 dan GSX-S150 sudah memasuki periode semester kedua dari peluncurannya, dan penerimaan kehadirannya dinilai sangat baik bahkan hingga saat ini” ungkap Yohan Yahya – Sales & Marketing 2W Dept. Head PT. SIS

Melihat dari perkembangan dan semakin banyaknya pemilik Suzuki GSX-R150 dan GSX-S150 yang selalu tampil bergaya dengan pakaian dan perlengkapan berkendara yang modis, SIS berinisiatif untuk melengkapi konsumen baru Suzuki GSX dengan jaket sporty secara cuma-cuma yang bisa menambah pesona sang pengendara. Jaket sporty tersebut berdesain race fit dan dilengkapi dengan full protector untuk perlindungan. Pengguna akan tetap nyaman menggunakan jaket tersebut ketika bergerak, dan langsung mengisyaratkan bahwa jaket tersebut berkualitas tinggi. Bahan yang dipergunakan pun telah water proof sehingga aman dari tetesan air.

“Sebagai rasa terima kasih, kami ingin menciptakan komunitas pengguna sepeda motor Suzuki menjadi lebih besar kembali, khususnya untuk model GSX-R150 dan GSX-S150 ini melalui program hadiah jaket sporty secara langsung bagi konsumen yang baru akan melakukan pembelian mulai bulan Oktober 2017. Bagi yang belum memiliki Suzuki GSX, segeralah mengunjungi jaringan dealer Suzuki dan jangan sampai melewatkan kesempatan baik ini.” sebut Yohan Yahya menambahkan.

Fitur-fitur moderen dan canggih tersemat di GSX-R150, seperti keyless ignition system yang telah terbukti mampu meminimalisir tindak kejahatan pencurian sepeda motor. Untuk kenyamanan berkendara dengan performa mesin yang besar pun bisa dinikmati dengan tipe GSX-S150. Keduanya dibekali mesin 150cc berteknologi DOHC (Double Over Head Camshaft) dan fuel injection yang canggih, sehingga pengendara akan terpuaskan setiap saat. Posisi duduk yang rendah dan total bobot yang ringan dirancang sesuai dengan postur tubuh orang Indonesia dan Asia pada umumnya, sehingga tidak akan menjadi masalah untuk dikendarai setiap hari.

Berlaku serentak mulai bulan Oktober 2017, Suzuki memberikan harga yang berbeda dari sebelumnya. Kini GSX-R150 dibanderol dengan harga Rp 28.900.000,- (On The Road DKI Jakarta) dan GSX-S150 sebesar Rp 24.400.000,- (On The Road DKI Jakarta). Harga promo periode ke-2 tersebut masih berada di bawah harga normal yang pernah disiarkan sebelumnya. Suzuki masih menjadi pilihan terbaik dan terjangkau bagi konsumen Indonesia pada saat ini, sehingga semakin banyak konsumen yang bisa menjadi pusat perhatian dan menjadi bagian dari tren saat ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Mereka Ini Yang Paling Bahagia, Apakah Bung Termasuk Di Dalamnya?

Bahagia itu sederhana, begitu katanya. Tapi sebetulnya apa bahagia itu? Jawabannya mungkin relatif dan berbeda untuk masing-masing orang. Namun beberapa lembaga mencoba untuk membuat pengukuran kebahagian ini. Salah satunya adalah Badan Pusat Statistik alias BPS.

Lembaga ini melakukan survei yang terdiri atas indeks komposit yang disusun oleh tiga dimensi. Dimana ketiga dimensi ini terdiri dari Kepuasan Hidup (Life Satisfaction), Perasaan (Affect), dan Makna Hidup (Eudaimonia). Nah, berdasarkan tiga kompenen inilah kemudian ditentukan kategori orang-orang yang bahagia itu.

Tenang Bung, Dengan Para Wanita Kebahagiaan Kita Hanya Kalah Sedikit

Ini mungkin bisa jadi perdebatan tiada akhir. Soal mana yang lebih bahagia antara laki-laki dan perempuan. Apalagi struktur sosial di Indonesia belum bisa dikatakan sama kesempatannya untuk laki-laki dan perempuan.

Tapi hasil data dari BPS menujukan bahwa bahagia antara laki-laki dan perempuan cenderung sama. Malah angka tepatnya perempuan justru lebih unggul. Berdasarkan nilai yang dihasilkan, wanita bisa bahagia dengan indeks sebesar 71,12% lebih unggul sedikit dari laki-laki yang cuma 70,30% saja.

Meski Sering Sedih Saat Ditanya Kapan Menikah, Mereka Yang Single Malah Jauh Lebih Bahagia

Selama ini mungkin kita berpikir mereka yang menikah dan berpasangan akan lebih bahagia. Tapi ternyata tidak demikian hasilnya dari data yang ditunjukan oleh BPS. Meski hanya selisih 0,5% mereka yang masih single punya indeks kepuasan hidup yang lebih tinggi.

Jika dia yang sudah menikah hanya berada pada indeks kebahagian 71,09%, para barisan jomblowan atau jomblowatinya menempati angka 71,53%. Sementara itu hal lain yang juga perlu Bung ketahui, data ini juga menyebut dia yang bercerai dengan pasangan yang masih hidup jauh lebih tidak bahagia dengan mereka yang bercerai karena kematian.

Kita Boleh Kalah Pengalaman Dari Orang Tua Tapi Soal Kebahagiaan Kaum Muda Juaranya

Data terakhir yang disajikan oleh BPS menyebutkan, bahwa kepuasan para milenial lebih tinggi dibandingkan mereka yang sudah lebih senior. Karena semakin seseorang memasuki usia tua, indeks kepuasan hidup personal semakin menurun.

Fakta ini diambil dari usia rata-rata orang tua yang telah 65 Tahun, hanya mendapat indeks kebahagiaan di angka 69,18% sedang mereka kaum muda yang masih 24 tahun berada di nilai 71,29%. Survei indeks kebahagiaan yang dilakukan oleh BPS ini, diambil pada waktu April 2017 di 487 kabupaten atau kota di 34 provinsi, dengan sampel sekitar 72.317 rumah tangga.

Hidup di Kota Memang Nyaman, Tapi Hasil Survei Justru di Desa Jauh Lebih Bahagia

Lupakan dulu materi dan infrastruktur yang ada, mari bicara soal bahagia dari dalam diri setiap orang. Mereka yang tinggal di desa tentu memiliki lebih banyak waktu untuk sekedar bercengkrama dengan tetangga rumahnya. Sangat jauh berbeda dengan orang-orang yang hidup di kota, dengan predikat yang sangat individualis.

Jika di desa Bung tak akan susah payah untuk mendapatkan hasil bumi dan tanaman. Sebaliknya di kota Bung sering kelabakan akan harga dari barang yang sering menguras pendapatan.

Hal ini tercermin dari hasil survei dari BPS. Mulai dari tingkat kenyamanan dan juga keamanan, nilai dari kepuasan hidup di desa terbukti lebih unggul daripada mereka yang di kota. Dengan nilai perbandingan 71,64% untuk orang desa menyatakan dirinya puas dan bahagia. Berbanding hanya 69,75% bagi mereka yang hidup di kota.

Selain BPS, Tabolid Otomotif Juga Mengadakan Survei Kebahagian, Hasilnya…

Nah tabloid otomotif juga mengadakan survei tentang kebahagian. Fokusnya adalah soal Indeks Kebahagiaan Berkendara. Indeks Kebahagiaan Berkendara merupakan formulasi dari kepuasan berkendara, kondisi kendaraan dan tingkat emosi saat berkendara yang semuanya mempengaruhi seberapa besar kebahagiaan seseorang dalam berkendara.

Survey IKB 2017 ini diadakan pada bulan Juli hingga Agustus 2017. Melibatkan responden yang berusia lebih dari 18 tahun, mengendarai kendaraan sendiri, tahun produksi kendaraan minimal tahun 2000, serta kendaraan milik pribadi. Para responden yang terdiri dari pria dan wanita dengan kategori SES A sampai SES C melakukan survei IKB 2017 dengan mengisi angket online di website OTOMOTIFNET melibatkan pengguna kendaraan motor dan mobil.

Hasilnya? Pemilik Suzuki Satria F150 menjadi pengguna motor kelas bebek 150cc yang bahagia. Salah satu sumber kebahagian ini karena pengendara Satria F150 dapat mengoptimalkan performa setiap fiturnya dengan mudah saat mengendarai Satria F150 yang diklaim sebagai motor bebek tercepat di kelasnya. Hal ini dimungkinkan karena semburan tenaga motor ini bisa mencapai 13,6 KW pada 10 ribu RPM. Sementara torsinya mencapai 13,8 KW pada 8500 RPM. Sistem bahan bakarnya menganut injeksi dengan pengapian standar euro 3.

Tentunya kebahagian ini bisa bertambah karena di varian All new Satria punya 3 warna baru untuk memenuhi gaya hidup anak muda masa kini mulai dari Brillian White, Stronger Red dan Titan Black.

Ditambah lagi 2 warna spesial berikutnya ini juga tak kalah hebatnya. Bagaimana tidak, Titan Black Red dan Metallic Triton Blue, identik dengan tampilan Suzuki GSX-RR milik Team Suzuki Ecstar di MotoGP 2017. Sehingga membantumu menunjukkan sisi kejantanan penggunanya.

Itu dia list kategori mereka yang bahagia, jadi Bung sudah masuk kategori mereka yang bahagia atau belum?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lifestyle & Fashion

Kalau Tak Ingin Dicap Om-om, Jangan Buka Kancing Kemeja Cuma Buat Pamer Bulu Dada

Kecuali Bung memang sudah siap dipanggil ‘Om’ oleh sekumpulan cewek-cewek yang ada di sekitar Bung, ya tidak apa-apa kalau Bung mau bertingkah bak om-om parlente. Tapi sebentar, di mata cewek itu biasanya om adalah sosok pria yang memang seumuran dengan ayah mereka. Memangnya Bung sudah setua itu? Belum kan?

Dipanggil ‘om’ oleh keponakan yang masih balita mungkin sah-sah saja. Tapi coba bayangkan kalau si nona atau mungkin anak millenials di sekitarmu malah merasa penampilan Bung memang seperti om-om. Bung perlu tahu, karakteristik pria yang dikategorikan om-om itu jelas sekali terlihat. Bukan hanya dari penampilan, tapi juga tingkah lakunya. Duh, sepertinya ada yang perlu dirombak nih.

Bung Masih Suka Pakai Kemeja dengan Kancing Terbuka? Sekarang Sudah Bukan Zamannya Pamer Bulu Dada Bung!

Bung, coba rombak dulu bacaan atau referensi soal fesyen. Barangkali memang ada yang perlu dikoreksi dari situ. Walau sehari-hari Bung mungkin bekerja dengan setelan rapi, lebih baik biarkan apa adanya. Jangan sekali-kali melepas dua hingga tiga kancing kemeja sampai bulu dada Bung menyembul. Mungkin di benak Bung, hal itu bisa mendompleng tingkat kekerenan. Duh, tidak sama sekali. Justru yang ada cuma bikin ilfeel cewek-cewek.

Rapi Itu Bukan Berarti Culun, Masa Iya Pakai Polo Shirt dengan Gaya Pakai Kemeja

Apa yang paling terlihat dari style om-om? Gaya fesyennya yang kurang up-to-date dan cenderung kaku. Misalnya, ada cowok pakai Polo Shirt tapi ujung kaosnya dimasukkan ke celana. Bung seperti ini? Wah, bukan apa-apa, tapi style yang satu ini kelewat old-fashioned banget Bung. Pantas saja Bung dikira om-om.  Kalau mau pakai Polo Shirt ya yang normal-normal saja ya Bung. Yang penting, Polo Shirt itu harus rapi dan disetrika. Supaya lipatan-lipatan di permukaan kaos (mungkin efek digiling di mesin cuci) jadi lenyap dan kaos pun terlihat rapi.

Boleh Saja Pakai Cincin, Asal Jangan yang Berukuran Besar Atau Cincin Batu Akik Bung

Lagi pula, memangnya masih zaman ya cincin batu akik? Coba tanya si nona, kira-kira dia risih atau tidak kalau Bung pakai cincin tersebut? Kalau si nona bilang tak masalah, Bung boleh bersyukur. Sayangnya, cewek seperti itu mungkin skalanya 1:1000. Bung ini masih muda, masih bisa bereksplorasi dengan gaya fesyen yang lain. Tak perlu batu akik atau cincin berukuran besar juga. Kalau memang suka dan ingin pakai cincin, yang lazim-lazim saja. Bergayalah sesuai umurmu Bung!

Kalau Ada Kalung Emas Panjang nan Menjuntai di Leher Bung, Sudahlah, Bung Memang Berjiwa Om-om

Jadi, sekali lagi, selain batu akik, Bung juga harus lebih hati-hati dalam mix-and-match aksesoris. Jangan sampai kalung emas berukuran besar yang hits di era ayah Bung (mungkin), justru Bung pakai demi terlihat necis. Alih-alih terlihat demikian, yang ada si nona malah memicingkan mata atau mungkin menahan tawa.

Simpan Saja Gawai di Kantongmu, Tak Perlu Sampai Memasang Tempat HP Kulit Khas Bapak-bapak

Bung boleh cinta dengan ayah Bung, tapi soal gaya, coba agak visioner. Sadarilah Bung dengan ayah Bung lahir di zaman yang berbeda. Cara tampil dan menjaga penampilan pun berbeda. Sudah bukan zamannya lagi membeli tempat gawai berbahan kulit dan memasangnya di gesper bung. Itu namanya Bung sedang membuat diri Bung jauh lebih tua dua dekade. Coba bayangkan kalau sedang berdiri di tempat umum dan ada si nona yang Bung incar. Bisa jadi si nona malah takut dengan Bung karena mengira Bung ini semacam om-om yang hobi menggoda perempuan muda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Relationship

Walau Bung Ngaku Pemalu, Sesekali Mengasah Diri Jadi Pusat Perhatian Itu Perlu

Bung, akhir pekan ada rencana pergi ke mana? Masih betah duduk diam di rumah? Memangnya ada apa di rumah Bung sampai tak ada rencana pergi kemana-mana? Sesekali bolehlah Bung pergi mencari suasana baru daripada hanya duduk di dalam rumah.

Memangnya Bung tak bosan, bekerja di hari kerja, lalu berdiam diri di akhir pekan. Begini Bung, alih-alih hanya berdiam diri dan mengamini kalau Bung ini pemalu, mengapa tak coba cari keseruan lain? Jadi pusat perhatian misalnya. Bukan maksudnya untuk mengajak caper, tapi menjadi pusat perhatian itu sesekali perlu. Setidaknya untuk aktualisasi diri sejenak. Siapa tahu ternyata nanti ada cewek yang terpukau dengan pesona Bung. Tak ada salahnya kok Bung!

Mulailah dengan Aktif Ngumpul di Tongkrongan dan Sesekali Traktir Teman-teman Bung Paling Tidak di Angkringan

Kapan terakhir kali Bung mentraktir teman? Kalau dirasa sudah lama sekali, mungkin ini saatnya Bung menyisihkan uang untuk sekadar membuat acara traktiran. Tak perlu mahal-mahal, masih ada angkringan yang biasanya menawarkan menu dengan harga kaki lima.

Sesekali Bung memang perlu melakukannya, selain demi solidaritas, setidaknya teman-teman Bung pasti akan senang berteman dengan Bung. Bukan tentang traktirannya ya, tapi lebih tentang niat Bung kala mentraktir mereka.

Mulailah Membuka Diri dengan Orang Baru, Sok Asik Itu Kadang Perlu Daripada Terus Malu-malu

Kalau bertemu dengan orang baru dan sepertinya potensial untuk dijadikan teman, Bung tak usah malu-malu. Segeralah ajak ngobrol dan cari topik ringan misalnya seputar olahraga atau hobi lainnya yang terasa relevan untuk dijadikan bahan obrolan. Sesekali jadi sosok yang sok asik itu perlu. Alih-alih dicap sok-kenal-sok-dekat, setidaknya ini cara Bung melatih diri jadi pusat perhatian.

Kalau Ada Rencana Kumpul atau Reuni, Tawarkan Bantuan untuk Cari Tempat dan Memesannya

Mengapa acara kumpul hanya sering jadi wacana? Karena tidak semua orang mau ‘berkorban’ untuk sekadar cari tempat. Teman-teman Bung pasti demikian, sibuk bekerja atau sibuk mengurusi keperluan yang lain sudah jadi alasan yang umum dilontarkan.

Daripada jengkel sendiri, mengapa Bung tak coba tawarkan bantuan. Ya, Bung bisa menawarkan diri untuk mencarikan tempat untuk reuni. Mungkin semasa di bangku sekolah atau kuliah, Bung tak begitu dikenal. Tapi kalau sudah mau melibatkan diri dalam acara semacam ini, pasti penilaian teman-teman lama Bung jelas akan berubah. Bung yang semula dikenal pemalu, kini ternyata pandai bergaul.

Berbaik Hatilah dengan Menawarkan Tebengan. Semakin Bung Terbiasa Melakukan Tindakan yang Baik, Maka Orang Lain Pasti Akan Respek dengan Keberadaan Bung

Poin yang dimaksud kali ini bukan untuk mendikte Bung agar menjadi seseorang yang baik demi perhatian orang banyak. Jelas bukan seperti itu, tapi bagaimana tindakan Bung selama ini. Sudahkah Bung menolong orang lain dengan rasa ikhlas dan hati yang tulus?

Jika mungkin dirasa perlu memperbaiki motivasi Bung selama ini, mungkin Bung bisa mencobanya lewat hal kecil semacam: memberikan tebengan, menawarkan bantuan, atau apa pun itu yang membuat orang lain bisa menyadari kalau dia tidak sendiri.

Jadi Pusat Perhatian Itu Bisa Dimulai Saat Bung Sukses Melawak dan Meninggalkan Sejuta Kesan

Bung, jangan lupa, asah kemampuan Bung dalam melawak ketika berkumpul dengan teman-teman. Penting sekali poin ini. Mengapa? Karena orang yang jadi pusat perhatian adalah mereka yang mampu tampil menyenangkan. Haram hukumnya bikin suasana sekitar jadi awkward Bung. Kalau Bung sudah bisa membuat suasana asyik dengan melemparkan beberapa guyonan sederhana, sudah pasti di Bung akan meninggalkan sejuta kesan di kepala mereka.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top