Kisah

Maestro Tendangan Pisang Sedang Berjuang Membangun Klub Di Negeri Paman Sam

Keinginan untuk membuat klub atau tim menjadi gejolak dalam dada sang maestro tendangan melengkung, David Beckham. Pemain yang pernah merumput dengan Manchester United, Real Madrid sekaligus LA Galaxy ini, tidak bergerak secara takdir seperti pemain bola lainnya yang menjadi pelatih setelah pensiun, seperti mantan rekan satu timnya Ryan Giggs yang sekarang melatih Tim Nasional Wales. Tapi Beckham akan membentuk sebuah klub di Amerika yang mana Miami didaulat sebagai kota yang akan dibangun persepakbolaannya.

Beckham hanya ingin membentuk sebuah klub dengan akademi terbaik dan menjadikan (klubnya nanti) pusat pengembangan pemain muda di Amerika, dilansir dari The Guardian.  Keinginan tersebut diumumkan suami dari Victoria Beckam ini, namun segala administrasi dan tetek bengek-nya baru bisa berjalan di tahun lalu. Meskipun masih banyak PR yang harus dikerjakan, langkah David Beckham disambut positif oleh Don Garber, Komisioner MLS, yang mengatakan kalau Beckham telah mencatatkan sejarah di Amerika.

Semua Sah Dijalankan Ketika Lisensi Sudah Di Tangan

Sumber : Youtube.com

Untuk membangun sebuah klub atau tim di Amerika tidak ujuk-ujuk terjadi begitu saja. Ada proses yang harus dilewati, salah satunya mendapatkan lisensi hak waralaba pendirian atau kepemilikan klub sepak bola di Amerika Serikat dari MLS (Major League Soccer), sebagai badan tertinggi kompetisi sepak bola di negeri Paman Sam. Kurang lebih 3 tahun bagi Beckham untuk menanti lisensi tersebut, hingga mendapatkannya di awal tahun 2018.

Pemberian lisensi waralaba MLS dilangsungkan di Knight Concert Hall, Pusat Adrienne Arsht, Miami. Setelah mendapatkan apa yang dinanti, Bechkam berjanji akan membawakan “Global Sport To Global City (Miami)” ujarnya saat menyampaikan sambutan. Tentu bakal menarik menanti kiprah Beckham bersama tim baru yang dibangunnya. Selain itu, ada beberapa investor yang terlibat seperti Simon Fuller, Marcelo Claure, Tim Leiweke, Masayoshi Son, Jorge dan Jose Mas.

Ada Hak Istimewa Yang Dikantongi Beckham Bung, Nampaknya Itu Menjadi Alasan Kenapa Ia Berkarir Di Negeri Paman Sam

Sumber : Thescore.com

Ada hak istimewa yang dikantongi Beckham sebelum pembentukan klub Miami ini berjalan. Hal ini bermula ketika terjadi kesepakatan antara Beckham dengan MLS saat ia memutuskan untuk melanjutkan karir bersama LA Galaxy. Terdapat klausul perjanjian jika Beckham bersedia merumput di MLS, maka dia bakal mendapat keringanan untuk mendapatkan lisensi kepemilikan klub. Hal ini kemudian disepakati oleh kedua pihak.

Akhirnya Bekcham hanya perlu membayar seperempat untuk mendapatkan lisensi, yakni 25 juta USD, dari harga aslinya 150 juta USD. Pembayaran lisensi ini merupakan sebuah modal awal. Adapun orang selain Beckham yang ingin mendirikan klub di Amerika harus membayar 150 juta USD, itu harga yang dipatok oleh badan otoritas tertinggi kompetisi sepak bola.

Pembangunan Stadion Menjadi Rangkaian Hambatan Bagi Beckham

Sumber : Stadiumprofootball.com

Salah satu perangkat yang penting untuk sebuah klub sepak bola adalah stadion. Selain sebagai infrastruktur perangkat permainan, stadion juga memiliki daya tarik bagi setiap orang untuk merasakan atmosfer atau memuja fasilitas yang dimiliki. Namun, di kota strategis macam Miami sangat sulit mendapatkan lahan untuk membangun stadion dan ini menjadi salah satu penghambat. Mulanya Beckham ingin membangun di dekat pelabuhan tapi tidak mendapat “lampu hijau” dari pemerintah kota karena kawasan tersebut sangat strategis, ditakutkan adanya stadion memicu masalah keamanan.

Tapi apakah pemerintah kota membantu dari segi finansial? Tidak juga Bung, lantaran dana untuk membangun infrastruktur olahraga telah habis karena dialokasikan pembangunan stadion bisbol. Syukur, pada pertengahan tahun lalu ada lahan yang dapat digarap di daerah Overtown. Rencananya stadion tersebut akan berkapasitas 25 ribu orang. Tapi hambatan selalu menghadang, lantaran Bruce Matheson yang dikenal sebagai konglomerat di Miami menggugat pemerintah kota karena menjual tanah tersebut di bawah harga pasaran.

Datang Ke Amerika Untuk Mewujudkan Mimpi Mereka Semua

Sumber : Thestar.com

Kedatangan Bekcham untuk membangun klub di Miami tentu disambut hangat oleh anggota MLS, salah satunya Don Garber yang sebelumnya sudah disinggung tadi. Sambutan hangat yang diberikan bukan karena Beckham merupakan maestro jagad sepak bola, melainkan apa yang dicita-citakan MLS menjadi nyata. Lantaran ini merupakan satu hal yang ditunggu-tunggu di liga tertinggi di Amerika Serikat dimana kota krusial memiliki tim sepak bola.

“Kota ini adalah salah satu yang terpenting di negara kami, Secara kultural, ia begitu kaya. Di sini kultur Hispanik dan Lationo begitu kental dan dalam konstelasi perpolitikan zaman sekarang. Peran mereka begitu krusial,” ucap Garber dilansir Daily Mail.

Bukan Menjadi Tonggak Awal, Tetapi Suatu Kebangkitan

Sumber : Goal.com

Tim besutan Beckham rencananya akan memakai nama Futbol Miami untuk sementara. Nama dapat berganti apabila ada investor lain yang masuk. Keinginan Beckham membentuk klub di Miami bukan menjadi tonggak pertama tapi sebuah kebangkitan lantaran sudah ada dua klub terdahulu sebagai representasi Miami, namun harus kandas karena permasalahan finansial dan kebijakan. Seperti Miami Fusion FC yang kandas di tahun 2001 setelah MLS mengeluarkan kebijakan pengurangan jumlah klub di liga tertinggi tersebut.

Selanjutnya Miami FC atau yang dikenal Fort Lauderdale Strikers yang mana dibentuk di tahun 2006 namun harus bubar lantaran masalah finansial yang menghinggapi di tahun 2017. Sekarang sepak bola di Miami sedang mati suri, tetapi Beckham siap menghidupkan kembali meski ada hambatan menghalangi. Tetapi tim bentukan Beckham baru bisa berkompetisi di tahun 2020, jadi bersabar Bung kita tunggu saja dua tahun lagi.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kisah

Bayangkan apabila Tim Luar Biasa Ini Tidak Berpencar Punggawanya, Pasti Kini Sudah Besar

Sebuah dongeng perihal upaya merangkai tim berlabel debutan, atau kuda hitam namun menjelma menjadi kekuatan baru mungkin dapat Bung temui lewat sebuah film Damned United, yang menceritakan tentang kisah nyata dari Brian Clough kala membuat Nottingham Forest menjadi jawara di Eropa era 80-an. Setelah dua tahun back to back champions di Liga Champuons, kisah tentang Nottigham Forest tenggelam. Tak ada lagi tim yang dulu berlabel raja Eropa di era sekarang. Keperkasaan pun hanya tinggal kenangan.

Nottingham Forest hanyalah satu dari sekian contoh, kalau setiap tim punya potensi untuk jadi luar biasa, tak hanya yang dinobatkan sebagai tim besar macam Real Madrid, Juventus, Manchester United, sampai Barcelona. AS Monaco pun sempat  menunjukan taji di musim 2016/17 saat mampu tembus semi-final dan mampu bersaing dengan PSG, sebuah tim yang kaya raya.

Namun setahun berselang para pemain andalan pindah. Bernardo Silva, Benjamin Mendy, Tiemoue Bakayoko, dan Kylian Mbappe hijrah ke Manchester City, Chelsea, dan PSG. Tiga klub terboros di Eropa. Andai pemain andalan ini tetap mempertahankan loyalitasnya di Monaco, mungkin Monaco bisa menjadi tim hebat yang menjadi kekuatan baru di Eropa. Sampai-sampai muncul akun @ASMonaco_Indo di Twitter seking kepincutnya. Namun tak hanya Monaco saja, banyak tim lain yang nasibnya tak jauh berbeda.

AS Monaco Musim 2003/04

Kepergian beberapa bintang Monaco, ternyata  pernah dilakukan era 2000-an. Kala itu AS Monaco diisi pemain berkualitas seperti Patrice Evra, Fernando Morientes, Jerome Rothen, dan Ludovic Giuly. Secara mengejutkan di musim Liga Champions musim 2003/04 mereka berhasil menembus babak final Liga Champions, namun sayang harus ditundukkan oleh FC Porto dengan skor meyakinkan 3-0 (kala itu FC Porto diasuh oleh Jose Mourinho).

Keempat pemain pun pergi setelah kekalahan tersebut, hanya Evra saja yang bertahan. Jerome Rothen berlabuh ke PSG, Morientes pindah ke Liverpool, Ludovic Giuly dijual ke Barcelona. Sejak saat itu AS Monaco benar-benar kehilangan taji sebagai tim besar. Meskipun tidak bubar.

Ajax Musim 2003/04

Jika menyebut tim Belanda yang sukses di Eropa, otomatis tertuju kepada Ajax Amsterdam. Di era 90-an Ajax merupakan klub yang layak diperhitungkan karena filosofi permainanya mampu meluluhlantahkan lawan. Jelas saja, kejayaan dapat diraih dengan sempurna. Tetapi masalah besar sekaligus anomali terjadi di generasi berikutnya.

Dihuni oleh Zlatan Ibrahimovic, Wesley Sneijder, Rafael van der Vaart, Jari Litmanen, Nigel de Jong, Thomas Vermaelen, Maxwell, dan Hatem Trabelsi tapi tak mampu berbicara banyak khususnya di Eropa. Semuanya dimulai dengn kepergian Ibrahimovic ke Juventus di tahun 2004, membuat ambisi mereka untuk meraih kesuksesan satu dekade lalu telah sirna. Di tahun-tahun berikutnya, Sneijder bergabung di Real Madrid di tahun 2007 dan hanya menyisahkan Vermaelen.

Parma Musim 1998/99

Mungkin bagi Bung yang tumbuh seiring Serie A Italia sebagai tontonan sepakbolanya, pasti mengenal Parma sebagai tim yang memiliki segudang talenta. Wajar saja keberhasilannya membuatnya berhasil meraih gelar Piala UEFA di tahun 1999. Bayangkan saja Parma melahirkan pemain terbaik seperti Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Lilian Thuram. Juan Sebastian Veron, dan Hernan Crespo, komunal para pesepakbola hebat di Eropa saat itu.

Keberhasilannya terlihat dari pencapiannya di luar klub. Thuram berhasil  memenangi Piala Dunia bersama Perancis. Selang beberapa tahun kemudian Cannavaro dan Buffon melakukannya bersama Italia. Crespo menjadi striker termahal dan Veron menjadi gelandang tengah yang dikagumi. Setelah itu Parma tak pernah lagi mendulang kesuksesan sepeninggalan mereka.

Borrusia Dortmund 2012/13

Asuhan Jurgen Klopp kepada Dortmund di musim itu sangat populer meskipun harus mengakhiri Liga Champions tahun 2013 di posisi runner up. Jadi tak ada cara fans untuk mengenang tahun itu seperti saat Dortmund juara kompetisi di tahun 1997.

Jahatnya setelah Bayern Munich berhasil unggul di laga All Germany Final tersebut, Die Rotern justru mencomot beberapa pemain andalan Dormun seperti Robert Lewandowski dan Mario Gotze. Setelah itu, Dortmund tak lagi berjaya meskipun Nuri Sahin, Marco Reus, dan Ilkay Gundogan telah memenuhi tim ini secara potensial.

West Ham Musim 2000/01

West Ham tak bisa dilewatkan dari daftar ini, karena tim inilah yang melahirkan algojo-algojo Inggris di masa depan. Sebuta saja Rio Ferdinand, Frank Lampard, Michael Carrik, Joe Cole, dan Jermain Defoe sudah menampilkan puncak permainanya kala di West Ham. Tetapi torehan kesuksesannya diraih di tim liga Inggris lainya.

Ferdinand dan Carrick memenangi Liga Champions 2008 bersama Manchester United; Lampard di tahun 2012 bersama Chelsea, dan di klub yang sama Joe Cole sukses menjadi finalis. Sementara Defoe membuktikan dirinya sebagai striker tajam di Premier League dan juga tim nasional Inggris.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Mereka yang Menyatakan Ketidaksukaan terhadap Pep Guardiola secara Terang-terangan

Keputusan pelatih dalam menentukan taktik dan strategi terkadang jitu bagi kepentingan tim, tetapi belum tentu berdampak baik untuk karier pemain. Banyak pemain yang harus rela duduk manis di bangku cadangan, karena tak masuk dalam strategi sang pelatih. Pep Guardiola merupakan salah satu pelatih tersukses, yang mulai melatih di tahun 2008 sampai sekarang, 23 trophy sudah dikoleksi oleh pelatih asal Spanyol.

Di jajaran pelatih, nama Pep Guardiola sudah diakui kehebatannya. Namun, ada beberapa pemain yang secara terang-terangan membenci dirinya karena beberapa faktor yang membuatnya kehilangan tempat di tim utama. Bahkan secara terang-terangan beberapa pemain ini membencinya. Kira-kira siapa saja mereka, Bung?

Kaya Akan Taktik tapi Tak Handal dalam Berkomunikasi

Bek asal Brasil, Dante merupakan pemain andalan di Bayern Munchen semenjak didatangkan pada bursa transfer musim panas 2012 dari Borrusia Moenchengladbach. Jupp Heynckes, yang saat itu menjadi pelatih kepala menjadikan Dante pemain andalan sebelum ia digantikan oleh Guardiola.

Selama dua musim Guardiola melatih di tahun 2013 sampai 2015 Dante masih mendapatkan banyak laga bersama Bayern. Tetapi bek satu ini mengatakan kalau Guardiola merupakan pelatih yang kaya taktik tapi tak handal dalam berkomunikasi.

Tak Dimaksimalkan Membuat Hleb Bertengkar

Di Arsenal, Alexander Hleb merupakan salah satu gelandang andalan. Tetapi saat pindah ke Barcelona di tahun 2008, kekuatan Hleb tidak dimaksimalkan. Hal itu karena Hleb tak suka dengan pendekatan strategi yang dilakukan Guardiola, yang sangat mendewakan tiki-taka. Saran yang diberikan kepada Hleb untuk memainkan gaya permainan tiki-taka tidak disenanginya. Lantaran ritme permainan Hleb di Arsenal sangat gemar mendribel bola dalam waktu lama. Sehingga pertengkaran antara Hleb dan Guardiola tidak dapat dihindari.

Dua Kali Dilatih Guardiola, Dua Kali Terdepak dari Skuat Utama

Ironis bagi pemain tengah bertalenta seperti Yaya Toure, kala memperkuat Barcelona di tahun 2008-2010 ia meninggalkan Catalunya karena tak betah ditangani oleh pelatih seperti Guardiola. Membuatnya pindah ke Manchester City, ironisnya, ketika ia berniat menghindari Guardiola, di tahun 2016 Guardiola malah memperkuat Manchester City. Tak banyak berubah setelah Guardiola pindah ke Manchester City, peran Yaya Toure tetap tergerus dan ia pun memutuskan untuk meninggalkan Manchester City sebelum kontraknya habis.

Hanya Bersikap Manis di Depan Kamera

Sikap buruk Guardiola pun diungkapkan langsung oleh mantan striker Barcelona era musim 2008-2009. Samuel Eto’o, ia memutuskan pindah ke Inter Milan karena tak tahan dengan sikap Guardiola. Inter dan Barcelona pun bertemu sebanyak empat kali di Liga Champions 2009-2010, Eto’o pun mengatakan Guardiola menyalaminya tiap kali ada kamera yang menghampiri, namun enggan menyalami kalau tak ada kamera.

Tak Tahan Dimainkan Bukan sebagai Posisi Aslinya

Penyerang berpaspor Swedia ini, mengaku kalau semuanya berjalan baik-baik saja pada enam bulan awal. Setelah itu hubungannya dengan Guardiola tidak begitu nyaman. Posisi penyerang yang menjadi posisi aslinya dipindahkan sebagai sayap kiri yang membuat Ibrahimovich kesal. Guardiola melakukan hal itu demi mengakomodir Lionel Messi, hingga Ibrahimovich hanya bertahan satu musim saja di Barcelona.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport Update

Sosok Menawan dari Pesepakbola Perempuan Asal Indonesia yang Mencuri Perhatian

Timnas wanita Indonesia akan berlaga di Asian Games 2018. Dibalik persiapan yang telah dilakukan demi memberi raihan positif, ada sosok yang mencuri perhatian bernama Dhanielle Daphne yang berposisi sebagai gelandang serang. Tak hanya dikaruniai dengan skill yang mumpuni, tetapi paras cantik dan imut menjadi daya tarik tersendiri bagi pesepakbola yang baru menginjak usia 17 tahun itu.

Selama lima bulan terakhir, DD sapaan akrab dari Dhanielle Daphne, sibuk menekuni porsi latihan yang berat agar timnas Indonesia bisa tampil maksimal. Pelatihannya dipusatkan di daerah Sawangan, Depok, dan sekitaran Jawa Barat. Rekam jejak DD sebagai pesepakbola dimulai saat ia memperkuat tim nasional U-12.

Kemampuannya juga diasah dengan melakoni turnamen di luar negeri saat usianya belum mencapai 15 tahun. DD sendiri terpilih memperkuat timnas wanita Indonesia sejak Maret 2018 saat dipilih oleh PSSI ketika tampil di Pertiwi Cup tahun lalu. Kini ia pun tak sabar untuk mengerahkan segala kemampuannya guna mengharumkan nama bangsa Indonesia di tingkat Asia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top