Entertainment

Konser Sang Dewa Cinta: Memang Konsernya Sang Dewa

konser tunggal ari lasso

[quote]Saya ingin menyapa dan mengucapkan banyak terima kasih untuk penonton yang sudah spend a lot of money untuk hadir disini![/quote]

Demikian sapaan awal dari Ari Lasso membuka konser Sang Dewa Cinta pada 23 Februari 2013 kemarin. Ia mengaku sempat khawatir mengingat harga tiket yang tergolong mahal, dari 500 ribu dan termahal 2,8 juta. Faktanya? Tiket sold out!

Tapi dengan tempat berkelas macam Jakarta Convention Center dan harga tiket yang premium bukan berarti konser berjalan kaku dan resmi. Justru konser malam itu terasa layaknya reuni persahabatan lama yang penuh keriaan.

Malam dibuka dengan penampilan Magenta Orchestra pimpinan Andi Rianto.Disusul kemudian dengan kemunculan Ari Lasso menggunakan setelan jas hitam membawakan ‘Rahasia Cinta’. Catatan khusus kami berikan pada penampilan Magenta Orchestra yang tampil sebagai pengiring sepanjang malam. Secara cerdas Andi Rianto berhasil “meredam” sekian persen penampilan Orchestranya untuk tetap mengedepankan Ari Lasso yang notabene sebagai penampil utama.

Dari sini lagu demi lagu pun meluncur. Lagu ‘mana ku tahu’ , ‘seandainya’ membuat penonton langsung larut untuk bernyanyi bersama. Kualitas vokal Ari Lasso terbukti diatas rata-rata. Tidak sedikit pun ditemukan nada sumbang ketika ia sibuk berpindah dari satu lagu ke lagu lainnya. Kenyamanan ini makin ditambah dengan tata suara yang tidak berlebihan sehingga cukup nyaman di telinga.

Ini lebih dari sekedar konser tunggal, ini ajang berkumpulnya penggemar Ari Lasso. Tak mengherankan jika di tengah pagelaran pria asli Madiun ini sibuk berbincang dengan sejumlah penonton. Bahkan sesekali terdengar aksi balas berbalas celetukan antara pengemar dan idolanya. Sungguh suasana yang begitu rileks.

konser tunggal ari lasso

Meski begitu bukan berarti Sang Dewa Cinta digarap setengah-setengah. Di dalamnya juga tersemat kolaborasi apik Ari Lasso dan beberapa kawan musisi lainnya. Kesempatan pertama muncul Bunga Citra Lestari. Dilagu ‘Karena Aku Telah Denganmu’ dan ‘Aku dan Dirimu’, wanita yang biasa disapa Unge ini terbukti bisa mengimbangi vokal Sang Dewa Cinta.

Tak lama kemudian Melly Goeslaw di daulat naik ke atas panggung. Tentunya publik mengingat peran penting pentolan band Potret ini dalam kembalinya Ari Lasso ke kancah musik Indonesia setelah sempat menghilang di 1997.

[quote]“Melly Goeslaw ini adalah salah satu orang yang berjasa dalam karir musik saya” sebut Ari Lasso[/quote]

Mereka membawakan duet lagu ‘Jika’ yang ditampilkan dengan apik. Intro lagu ditampilkan meloncat-loncat layaknya penampilan teater . konsep ini tambah sempurna dengan penampilan Melly yang tampil keren dan total dengan rambut terjulur kebelakang.

konser sang dewa cinta

Foto: Paulus Adi

Lanjut ke bintang tamu berikutnya adalah Titi DJ. Diva senior yang diakui Ari sebagai mentor pribadinya dalam bermusik.

[quote]“Titi ini idola saya dari dulu dan banyak memberi saya masukan tentang penampilan diatas panggung” ujarnya lagi[/quote]

Mereka membawakan lagu ‘Perbedaan” dan ‘Tak Akan Ada Cinta yang Lain’. Lagu ini dibuat dalam konsep mash up dimana lirik dan nada-nadanya dilebur menjadi satu kesatuan utuh. Hasilnya? Keren.

Betapa istimewanya konser malam itu, karena bukan hanya penonton yang diberi surprise. Bahkan Ari Lassonya pribadi dikejutkan oleh penampilan dua anaknya Audra, 10 tahun dan Abraham yang berusia 8 tahun. Ia tidak dapat menyembunyikan ekspresi keterkejutannya mendengar anaknya bernyanyi bersama Magenta Orchestra.

Di atas panggung pun terjadi dialog kekeluargaan antara ayah dan anak. Ari “menginterogasi” anaknya tentang kapan dan bagaimana mereka latihan hingga bisa muncul dipanggung.

[quote]“Kita latihan awalnya sama guru les, terus sama om Andi Rianto di studio, setiap ayah mau latihan, satu jam sebelum ayah datang kita sudah latihan” tukas Audra yang disambut tawa hangat para penonton.[/quote]

Dan salah satu sajian paling istimewa hadir di penghujung konser. Dewa 19 tampil diatas panggung. Yup, kami tidak salah menulis, ini Dewa yang masih menggunakan embel-embel 19. Alias Dewa formasi awal. Dani, Erwin, Wawan, Andra, Ari Lasso satu panggung.

[quote]“Terakhir kami tampil dalam formasi ini adalah tahun 1994, itu berarti 19 tahun yang lalu!” Ungkap Ari Lasso dengan antusias.[/quote]

Formasi yang hingga kini disebut-sebut sejumlah pengamat musik sebagai formasi terbaik Dewa ini membawakan lagu Cinta Kan Membawamu Kembali, Elang, Restu Bumi, Aku di sini Untukmu, Satu Hati, dan Cukup Siti Nurbaya. Bisa ditebak penonton menggila riuh ikut bernyanyi mengemakan JCC.

konser dewa cinta

Ya, inilah sebuah konser yang penuh keakraban. Penampil dan penontonnya seolah menyatu menikmati suasana. Tidak henti-hentinya barisan penonton terutama fans utama Ari Lasso yang menamakan dirinya Good Fellas ikut bernyanyi.

[quote]“Ini sekali-sekali biarin saya nyanyi dulu sendirian kenapa sih? Suara saya bagus loh, apa gak mau mendengarkan saya?” Ujar Ari Lasso dengan nada canda khas jawa timuran yang kental.[/quote]

Tak terasa total 31 lagu dibawakan malam itu, dan penonton pun keluar dengan senyum kepuasan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Karena Penelitian Menyebut Kecerdasan Itu Sexy

Sebagian orang masih mengasosiasikan “pintar dan cerdas” itu dengan tampilan kaku macam kutu buku. Padahal sesungguhnya saat ini banyak tokoh-tokoh yang lekat dengan kecerdasan macam Elon Musk atau Mark Zuckerberg yang justru dianggap menarik dan sexy.

Beberapa penelitian juga bahkan menunjukan hal ini. Salah satunya adalah penelitian yang digagas psikolog Gilles Gignac, Joey Darbyshire, dan Michelle Ooi dari University of Western Australia. Mereka menemukan bahwa orang-orang dengan IQ tinggi memiliki skor tinggi dalam hal keseksian ketika dinilai oleh orang lain.


“Kecerdasan” Menjadi Faktor Kedua Daya Tarik Setelah “Kebaikan”

Penelitian tentang kecerdasan dan daya tarik di atas melibatkan sedikitnya 10 ribu peserta dari 33 negara di dunia. Salah satu temuan menariknya adalah para peserta penelitian menempatkan “smart” di nomor dua sebagai daya tarik.

Posisi ini hanya dikalahkan oleh faktor “kebaikan dan pengertian” yang menempati urutan nomor satu. Jadi sesungguhnya dengan menjadi baik dan terus melatih kecerdasan sudah bisa membuat orang lain tertarik kepada kita.

Salah Satu Indikator Kecerdasan Adalah Selera Humor

Dalam penelitian itu juga ditanyakan mengenai indikator apa yang digunakan untuk menilai seseorang cerdas atau tidak. Sebagian menyebut bahwa salah satu indikator yang digunakan untuk menilai kecerdasan seseorang adalah selera humornya.

Karena mereka yang cerdas selalu berpikiran terbuka dan orang yang berpikiran terbuka ini cenderung punya selera humor yang baik. Mereka yang smart juga dikatakan tidak akan mudah tersinggung dan aspiratif terhadap ide-ide baru.

Tak Cuma Pada Individu, “Smart Dan Sexy” Juga Kini Diterapkan Pada Hal Lain

Perpaduan menarik ini tak cuma ditemui dalam urusan penggambaran individu seseorang. Karena kini banyak sektor juga menerapkan konsep ini. Coba tengok misalnya gadget yang selalu menemani kita.

Dahulu mungkin handphone hanya digunakan sebagai alat komunikasi suara dan teks. Kini perkembangannya sudah jauh lebih dari itu. Mulai dari mengakses internet, sosial media, pesan makanan, penunjuk arah hingga fungsi lainnya yang dulu hanya impian.

Tapi toh kamu juga tak mau hanya menggunakan gadget yang cerdas saja bukan? Begitu banyak pilihan ponsel cerdas, tentunya kamu juga memilih yang di desain menarik lagi sexy. Karena hal tersebut juga menunjukan jati diri.

Bahkan Meluas Hingga Urusan Tata Kota Juga Tersentuh Unsur Kecerdasan

Familiar dengan istilah Smart City? Yup inilah konsep yang diinisiasi oleh Suhono S. Supangkat dari ITB. Kota tak lagi hanya menjual soal “keindahan dan kecantikan” namun juga harus bersifat smart.

Menurutnya, Smart City adalah kota yang bisa mengelola Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM) dan sumber daya lainnya sehingga warganya bisa hidup nyaman aman dan berkelanjutan.

Seperti adanya transparansi dan partisipasi publik, transportasi publik, transaksi non tunai, manajemen limbah, energi, keamanan, data dan informasi. Hal ini dapat didukung melalui teknologi informasi dan komunikasi. Terbayang menyenangkannya hidup di kota yang di tata macam ini bukan?

Tak Mau Ketinggalan, Urusan Kendaraan Juga Harus Mengadaptasi Ini

Soal “smart dan sexy” ini juga merambat ke urusan kendaraan. Mengingat hal ini melekat dengan kita dan digunakan juga untuk berativitas sehari-hari. Wajar rasanya jika konsep ini juga diterapkan pada kendaaraan kita.

Ambil contoh Yamaha Lexi yang mengusung konsep “Smart is The New Sexy” yang bermakna bahwa sexy tidak hanya tentang penampilan melainkan tentang karakter, sikap dan pola pikir yang Smart. Yamaha Lexi mempunyai 3 pilar konsep Utama

Untuk Smart & Sexy Design, Motor ini mengkombinasikan unsur Luxury dan Elegan dengan bobot yang paling ringan di kelas MAXI YAMAHA. Tampilannya yang berkelas ditunjang desain lampu Grand LED Headlight ditambah eye line biru yang menawan memperkuat kesan mewah dan elegan. Apalagi untuk tipe Lexi-S, desain joknya  memadukan dua tekstur kombinasi yang disatukan dengan motif jahitan elegan membuat tampilan motor menjadi lebih berkelas.

Tak cuma tampilan karena yamaha Lexi ini punya Smart Features. Untuk Varian Yamaha Lexi-S dibekali fitur Smart Key System yang merupakan sistem kunci tanpa anak kunci alias keyless. Kunci ini juga sudah disematkan fitur Immobilizer dan Answer Back System untuk memudahkan pengendara mencari posisi parkir motor.

Berkendara dalam jarak jauh juga kini tidak perlu khawatir karena Yamaha Lexi memiliki bagasi yang luas dan lega untuk menampung barang bawaan lebih banyak. Apalagi, Yamaha Lexi menjamin pengendara tetap terhubung melalui Smartphone karena dilengkapi Electric Power Socket untuk mengisi daya gadget.

Urusan dapur pacu diserahkan pada Smart Engine. Dari segi performa mesin, Yamaha Lexi menggunakan mesin generasi baru Blue Core 125 cc yang disempurnakan Variable Valve Actuation (VVA). Mesin ini secara cerdas akan membuat aksi berkendara lebih efisien, bertenaga dan handal dengan tenaga dan torsi maksimum di setiap putaran mesin. Apalagi Yamaha Lexi dilengkapi Liquid Cooled 4 Valves (LC4V) yang membuat suhu mesin lebih stabil dan performa lebih maksimal.

Tak berhenti disitu Yamaha Lexi dibekali fitur canggih Stop & Start System (SSS) berfungsi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar yang tidak perlu pada saat motor sedang berhenti. Apalagi ditambah Smart Motor Generator (SMG) membuat suara motor lebih halus saat dinyalakan. Kalau masih penasaran soal motor satu ini kamu bisa lihat detailnya di halaman ini!

Jadi bagaimana? Kamu sudah siap mengikuti trend smart is the new sexy ini?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Musik

Tak Sekedar Didengar, Ternyata Musik Banyak Memiliki Manfaat yang Bisa Bung Dapatkan

Musik nampaknya telah menjadi bagian hidup dari sebagian orang,  beberapa kegiatan kerap diselingi musik untuk memberikan suntikan semangat dalam mengerjakan. Bahkan banyak orang yang mengawali aktivitas hidupnya dengan mendengarkan musik, jadi tak salah ‘kan, kalau kita bilang bahwa musik sudah menjadi bagian dari seseorang. Dibalik alunan nada yang tertuang, dibalut dengan lirik yang memadatkan instrumen sehingga menjadi sebuah lagu.

Musik telah memberikan peramajaan telinga dalam mengatasi kehidupan yang ada. Dikala Bung sedih dan senang pun, semuanya dicurahkan lewat musik. Pasti ada dong salah satu lagu yang membuat Bung berkata, “Ini musik gua banget!”, lantaran kesamaan lirik dengan kondisi kini.

Dan ternyata, ada banyak hal yang tanpa Bung sadari semuanya bersumber dari musik. Ada manfaat dari musik yang tanpa Bung sadari sudah memberikan dampak positif dalam hidup. Apakah Bung penasaran? Berikut beberapa manfaat yang dapat Bung terima dengan mendengarkan musik.

Membawa Ketenangan sehingga Bung Merasa Hidup Ini Aman

Ketanangan yang bung dapatkan tidak hanya bersumer dari cara Bung mengondisikan perasaan saja. Tetapi ada beberapa faktor penentu yang membuat ketenangan dalam diri Bung itu semakin kuat, yang jelas bukan ucapan verbal dari orang lain. Melainkan dengan mendengarkan musik. Tak heran kalau musik dijadikan salah satu metode terapi di rumah sakit guna memberikan ketenangan bagi pasiennya.

Merangsang Timbulnya Sistem Imun di Dalam Tubuh

Selain dapat memberikan ketenangan, ternyata menurut beberapa peneliti, musik bisa meningkatkan beberapa emosi positif yang berada di dalam tubuh seseorang. Emosi tersebut merangsang produksi hormon-hormon peningkat imunitas ditubuh, yang berfungsi sebagai pelindung dari berbagai macam penyakit.

Menjadi Mood Booster Sehingga Membuat Bung Kembali Semangat

Hal ini nampaknya diakui oleh beberapa orang, kalau mendengarkan musim dapat meningkatkan mood. Tak heran, apabila seseorang kerap membuat daftar playlist, yang sebenarnya adalah urutan beberapa lagu andalan yang dapat menjadi moodbooster. Rasa stres yang melanda di dalam diri dapat berkurang, hingga dapat mengubah emosi negatif menjadi rasa bahagia dengan bantuan genre yang berbeda. Jadi dengarkanlah musik Bung, agar hidup lebih indah.

Mengontrol Tekanan Darah dengan Mendengarkan Musik Setiap Pagi dan Malam

Kalau Bung ada masalah dengan tekanan darah, menuruh penelitian yang disebutkan dalam pertemuan American Society of Hypertension di New Orleans, mendengarkan musik klasik selama 30 menit, seperti halnya musik Celtic setiap hari bisa mengurangi tekanan darah tinggi secara signifikan. Rekaman musik yang lembut pun sebaiknya didengarkan setiap pagi dan malam secara rutin sehingga hasilnya pun bisa begitu signifikan.

Meningkatkan Sisi Kewaspadaan

Kewaspadaan yang terjadi dalam diri Bung, ternyata dapat ditingkatkan dengan kehadiran musik yang setiap saat Bung dengarkan. Lantaran sebuah penelitian medis menjelaskan kalau musik menghasilkan getaran suara yang bisa merangsang gelombang otak, Hal ini tergantung dengan getaran pada musik. Kecepatan suatu getaran musik bakal mempengaruhi kewaspadaaan, Bung. Nah, apakah Bung cukup sering mendengarkan musik atau malah jarang?

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Health & Personality

Bagaimana Cara Mengatasi Kebosanan Di Jalan, Apabila Merokok Dan Mendengarkan Musik Termasuk Pelanggaran

Ketika hukum mulai beredar dan menyeruak lewat media, tentu masyarakat berhak berkomentar tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Sama halnya dengan statement Minggu lalu, kalau mendengarkan musik dan merokok bakal ditilang Ditlantas. Meskipun hingga artikel ini dibuat, Polri kembali menegaskan bahwa tidak akan ditilang. Namun, ditengarai kedua hal tersebut memang bisa membuyarkan konsentrasi hingga menimbulkan kecelakaan. Lantas bagaimana menurut Bung? Setuju atau tidak?

Dibalik pro dan kontra terhadap hukum tersebut, ada hal yang menarik untuk dicermati. Dimana cuitan dan komentar yang beragam dilontarkan secara gamblang atau sarkas. Tapi apabila nantinya ini kembali menyeruak dan disahkan menjadi pelanggaran, hal apa ya Bung kira-kira bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan?

Mengajak Teman Atau Kawan Yang Searah Pergi Dan Pulang Berbarengan

Beberapa tahun lalu ada suatu konsep bernama nebengers yang mengajak seseorang untuk menumpang apabila searah dengan memberikan suatu imbalan. Seperti menyokong uang bensin atau menyumbang cerita untuk menghilangkan rasa bosan. Hal ini apabila dilakukan kembali, rasanya akan menjadi unik Bung.

Selain mengurangi jumlah kendaraan roda empat dan dua yang berkeliaran, tentu mengajak kerabat dapat membuat perjalanan terasa menyenangkan dengan menyumbang obrolan. Ya, Bung pun tahu, macetnya Jakarta sulit diatasi tetapi harus dinikmati, meskipun raga ini sudah lelah menanti tempat tidur apabila pulang nanti.

Bernyanyi Tanpa Musik, Menyuarakan Kepenatan Yang Terusik

Ketika Bung berada di mobil dan radio tidak menyiarkan musik, justru itu terasa hambar. Sama halnya seperti ada yang salah dari semua ini secara hiperbolanya. Bahkan, aplikasi musik macam spotify mesti terdiam, padahal itu salah satu opsi ketika penat dengan kemacetan dan ingin melawan rasa bosan dengan mendengarkan musik di jalan.

Namun, ketika bibir Bung ingin bergumam semisal soal pelanggaran yang disahkan sepertinya tidak berguna. Lebih baik, Bung hafalkan nada 1 sampai 3 lagu dan karaoke sendirian. Daripada yang Bung lakukan hanya berkutat dengan gawai dan mengecek media sosial macam Instagram yang terkadang tak ada faedahnya. Terkadang, tapi benar kan?

Meresapi Hiburan Dari Pengamen Jalanan Bisa Jadi Ide Yang Menghiasi Kemacetan

Berapa banyak pengamen jalanan yang Bung tolak suaranya sebelum ia memulai lagunya. Lantaran Bung mengira pengamen tersebut bakal bernyanyi asal-asalan demi sepundi uang.  Mungkin sekarang sudah menjadi waktunya Bung harus memberikan kesempatan. Siapa tahu dia adalah orang yang memiliki talenta, hanya saja tidak memiliki kesempatan selayaknya musisi ternama yang kerap tampil di televisi. Dan Bung pun bisa sekalian donasi kepada mereka. Meskipun tidak banyak, tapi bisa meringankan hidupnya.

Menikmati Hangat Secawan Kopi Bisa Membunuh Kemacetan Secara Hakiki

Kemacetan nampaknya panjang, daripada Bung rela bertahan dengan alasan ingin cepat pulang, nampaknya itu hal yang sia-sia Bung. Lebih baik Bung melipir ke kedai kopi dengan menikmati secawan kopi hangat. Apa lagi kalau Bung perokok, toh itu bukannya perkawinan dua lembayung yang menarik? Habiskan saja waktu 1 sampai 2 jam, bisa juga Bung jadikan ajang tongkrongan dadakan bersama teman. Selain menambah silaturahmi, toh bisa menghilangkan rasa stres yang mengakar karena kemacetan yang mengekor panjang.

Atau Menanggalkan Kendaraan Dan Segera Pesan Transportasi Online

Kalau beberapa hal di atas Bung rasa tidak bisa membunuh kebosanan. Dan Bung tidak kuat bertahan lama ketika kemacetan melanda apabila mendengarkan musik dan merokok menjadi bentuk pelanggaran. Alangkah baiknya memanfaatkan opsi yang ada. Seperti menggunakan transportasi online bisa jadi pilihan bagi Bung.

Bung tak perlu capek-capek melawan kemacetan karena Bung bisa tiduran dengan nyaman. Atau kalau pun Bung bosan, bisa membuka obrolan dengan sang driver, apa lagi banyak unggahan ke media sosial tentang arti kehidupan yang dapat dipetik olah seorang driver. Masih banyak hal yang Bung bisa lakukan saat merokok dan mendengarkan musik adalah pelanggaran. Tapi untungnya, hal itu sudah diklarifikasi kepolisian bahwa tak benar. Ya mungkin pada saat statement  itu dibuat Ditlantas sedang tidak fokus  dan merasakan kelelahan karena mengurusi kemacetan lalu lintas di jalan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Narasi

Pasar Musik Blok M: Mencoba Tetap Berkumandang Meski Tak Lagi Lantang

Sejumlah musisi besar macam Metallica, Pink Floyd, Red Hot Chilli Peppers pernah keras menolak musiknya dijual melalui layanan streaming macam Spotify, Joox, Deezer dan lain-lain. Menurut mereka tidak selayaknya musik dinikmati secara receh dengan dibeli satuan. Pasalnya musisi membuat musik dalam album untuk dinikmati secara keseluruhan.

Tapi toh arus perubahan jaman memang tak bisa dibendung. Gempuran kehadiran smartphone makin mempermudah akses terhadap layanan streaming. Buntutnya para artis pun mulai melunak. Layanan musik streaming makin berjaya.
Efeknya jelas yang paling terpukul adalah industri musik fisik. Pejualan CD apalagi kaset langsung terjun bebas. Di Indonesia sendiri toko-toko yang semula digdaya di bidang musik macam Disc Tara atau Aquarius harus gulung tikar.

Meski terjepit bukan lantas rilisan musik berbentuk musik sudah mati. Tempat dan pangsa pasarnya saja yang bergeser. Dari semula toko ber AC atau di mall mewah, kini para penjual rilisan fisik seperti CD dan kaset seperti bergerak di bawah tanah.

Penggemarnya pun tak lagi penikmat musik mainstream. Pencari rilisan fisik ini berubah menjadi penggila sejati musik, kolektor atau mereka yang masih berbalut nostalgia masa lalu.

Pasar Musik Blok M Yang Sempat Jadi Pelarian Para Penikmat Rilisan Musik Fisik

Salah satu tempat berburu untuk rilisan fisik adalah areal Blok M. Pasar musik Blok M masih berada setia meskipun platform digital terus mengembangkan sensasinya. Ketika gerai-gerai musik besar seperti Aquarius dan Disc Tarra tutup, gerai-gerai musik di Blok M tak surut nyali untuk tetap menjual riilisan fisik.

Seperti Bang Udin, penjual yang melapak di Blok M sejak 2010. Sesungguhnya ia telah berjualan sejak tahun 2000, ketika itu ia berjualan di Taman Puring. Namun setelah kasus kebakaran yang melanda lapak lawasnya itu, ia berpindah menuju Jalan Surabaya di kawasan Menteng dan kemudian belakangan ke pasar Blok M.

“Bagi saya berjualan seperti ini sudah seperti hobi. Dulu saya mendambakan memiliki piringan hitam sejak kelas 4 SD, namun saya baru mampu membelinya ketika dewasa. Musik rock seperti Deep Purple dan kawanannya menjadi idola saya. Pokoknya rock-rock lawas lah. mungkin kalau orang yang berjualan seperti ini niatnya bisnis. Pasti tidak akan kuat,” ujarnya.

Bang Udin setia membuka lapaknya tiap hari, kebetulan pula rumahnya memang berada di dekat kawasan Blok M. Selain menjual rilisan fisik, pria berambut gondrong ini juga menjual jasa untuk servis turn table (alat pemutar piringan hitam) dengan biaya 80 sampai 100 ribu. Tak hanya itu, ia juga memiliki jasa untuk memindahkan rekaman dari VHS ke medium CD, kaset dan DVD.

“Dulu pernah ada seorang anak muda dateng ke tempat saya untuk meminta CD The Beatlesnya ditransfer ke kaset. Ketika saya tanya untuk apa, ia bilang untuk hadiah pacarnya,”  kenang Bang Udin sambil tersenyum.

Tapi Tak Semua Mentereng, Beberapa Toko Malah Sudah Mulai Tutup

Tidak hanya Bang Udin yang masih membuka lapak di daerah Blok M. Masih ada sejumlah toko lainnya yang  bergerak sepertinya. Piringan hitam terpampang di katalog mulai dari musisi lawas Indonesia seperti Duo Kribo, AKA, Koes Plus, Panbes sampai The Beatles tersedia. Rak-rak kaset juga masih ramai berjejer, dari yang covernya berdebu sampai yang sangat terawat.

Namun tak semua toko di pasar Blok M tampil terawat. Beberapa nampak sudah lusuh bahkan tak lagi ada penghuninya. Tak pelak rasa penasaran pun tumbuh ketika melihat beberapa toko musik yang tertera plangnya namun tidak ada aktivitasnya.

“Ya beberapa (sambil menunjuk ke arah toko), ada yang tutup karena memang tidak berjualan lagi, ada juga yang sedang mengikuti acara musik untuk membuka lapak dagangannya,” imbuh Bang Udin.

Kontras dengan itu, terdapat satu toko yang terlihat masih asri dan terawat. Toko yang dijaga pemuda bernama Allen itu, baru buka sejak tahun 2014. Dengan tampilan rambut keriting dan tampang belia, pria ini mengaku ketertarikannya terhadap rilisan fisik terutama piringan hitam sudah muncul sejak masa SMA, namun ia baru dapat menggelutinya sejak tahun 2011. Meskipun dia hanya berjaga di toko ini (Pegawai) ia cukup cinta terhadap piringan hitam.

“Kalau di toko yang gua jaga ini memang khusus menjual piringan hitam. Gua pun jatuh cinta sama piringan hitam, karena ada beberapa part lagu yang tidak tertangkap dengan baik di CD dan kaset, dapat ditangkap oleh piringan hitam. Jadinya mendengarkan pun jauh lebih nikmat” celoteh Allen.

Hal yang diungkapkan Allen sama seperti yang diutarakan oleh Bang Udin, bagi dia vinyl  (nama lain dari piringan hitam) lebih “dapet” feel-nya untuk mendengarkan musik.

Sanggupkah Cinta Sesaat, Membuat Pasar Musik Bertahan?

Dua tiga tahun lalu memang jadi romansa manis bagi pedagang macam Bang udin dan Allen. Ketika itu mereka yang menamakan dirinya kaum hipster ramai-ramai memburu kaset, piringan hitam serta CD lawas. Pasar musik pun bergeliat ketika itu.

Namun toh nyatanya tak semua yang gandrung ketika itu benar-benar mencintai rilisan musik. Sebagian hanya sekedar ikut-ikutan atau ajang pamer di sosial media untuk dibilang vintage. Bisa ditebak, arus ini pun mereda dengan sendirinya.

“Gua sih udah ngebaca kalau moment ini pasti nggak bakal lama masanya sama seperti batu akik. Ketika booming, harganya gila-gilaan tapi satu atau dua tahun kemudian harganya kembali normal,” Bilang Bang Udin.

Hal ini pun diamini oleh Allen yang mengatakan, bahwa kejadian macam ini normal terjadi.

“Menurut gua sih itu nomral bahwa setiap fenomena pasti akan ada, kalau dua tahun lalu sempet naik dan sekarang turun. Tinggal tunggu aja nanti ada aja moment di mana piringan hitam naik lagi,” tambah Allen

Bukan Barang Antik, Rilisan Fisik Masih Bergantung Total Pada Romansa Penggilanya

Karena sesungguhnya piringan hitam memang barang antik namun tak juga mewah, karena ada saja orang umum yang menganggap bahwa piringan hitam itu harganya bisa mencapai juta-jutaan yang bisa dijadikan investasi. Padahal kenyataaannya tidak selalu demikian. Seperti di toko Allen misalnya di mana harga beragam dari 200 ribu sampai 450 ribu.

Namun turunnya peminat piringan hitam dan sejenisnya, tidak ditakuti akan membuat bisnis mereka mati. Untuk per harinya pengunjung yang datang bisa 2 sampai 3 orang di kawasan pasar musik Blok M walaupun belum tentu membeli. Bahkan ada saja orang-orang yang hanya “demam” sesaat yang seketika peristiwa ini sedang hype mereka tiba-tiba bermunculan dan bagi Allen itu sudah biasa.

“Kalau gua sih percaya, ketika gua beranjak dari rumah dan melangkahkan kaki keluar itu pertanda gua sudah dapat rezeki, entah bentuknya seperti apa. Bagi gua rezeki sudah diatur ya gua tinggal menjalaninya saja,” pungkas Bang Udin.

Senada dengannya Allen pun, yang terbilang masih muda dan belum berkeluarga juga berkata hal yang sama. Ia mengatakan bahwa selain berjualan banyak pengalaman lain yang di dapatnya dari menjaga toko di Blok M.

“Rezeki mah nggak bakal ketuker, gua sih jalanin saja karena gua yakim Tuhan udah ngatur rezeki buat masing-masing orang. Bahkan gua pernah ketemu bule untuk belanja vinyl di Blok M (tapi bukan di toko gue) gua bawa ke toko tetangga, dan gua liat 4 juta dia menghabiskan uangnya untuk menghabiskan vinyl musisi pop lawas Indonesia. Melihat begitu, ya gua bahagia aja, nggak ada rasa iri” tuturnya.

Pasar musik akan terus ada meskipun tentative untuk membicarakan perkembangannya. Karena rasa memiliki rilisan fisik masih dapat dirasakan setiap orang seperti memiliki album favorit musisi idola.

Lagi-lagi, digital boleh saja bangga dengan perkembangannya. Namun, suatu bentuk media rilisan fisik memang tidak tertandingi kualitas dan sensasinya, karena memiliki hal tersebut seperti suatu ada bentuk yang membanggakan dalam hati, meskipun hanya untuk bernostalgia. Sampai kapan? Cuma waktu yang bisa membuktikannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top