Kisah

Ketika Borok Sepak Bola Tanah Air Terungkap Oleh Pemain Belanda Yang Pernah Hijrah Ke Indonesia

Kristian Adelmund merupakan sosok yang pernah merasakan keganasan Liga Indonesia. Bukan keganasan macam kompetitifnya suatu persaingan antar klub, dan berjibakunya pemain selama di lapangan. Namun, kebobrokan sistem liga nomor satu Indonesia ini. Banyak hal yang ia utarakan kepada Vice Sport, ketika ia sudah tidak lagi merumput lantaran sang ayah yang sakit kanker darah, membuatnya harus kembali ke tanah kelahirannya, Rotterdam.

Curahan jujur Adelmund tentang kondisi sepak bola tanah air menjadi satu bahasan yang menarik. Lantaran, liga tertinggi selalu berusaha menjadi yang terbaik sejak beberapa tahun lalu. Namun permasalahan yang terjadi selalu mengakar seolah tak pernah tuntas diselesaikan. Salah satunya adalah korupsi, momok terbesar negeri ini.

Bermula Di PSIM, Seketika Ia Dipanggil Namun Dipulangkan Tanpa Alasan

Bermula ketika dipanggil seorang kawannya bernama Lorenzo Rimkus, yang mengajaknya bermain untuk PSIM Jogja.  Tanpa pikir panjang ia menerima tawaran itu. Pengalaman pertamanya saat bertandang ke Sumatera di mana ia mendapati seorang supir bus tim PSIM berlaku ekstrim dengan ngebut membawa kendaraan. Terlebih lagi kata Adelmund, tidak ada pembatas jalan selama di perjalanan. Namun ia heran saat melihat rekan satu timnya bisa tidur nyenyak, sedangkan ia melek selama sepuluh jam.

Tidak sampai disitu, ketika ia kembali ke hotel setelah latihan, official tim memberi tahu dirinya agar tidak keluar dari hotel karena ada sekelompok teroris di gunung hendak menculiknya. Keanehan dan keseraman berselimut menjadi satu di pertandingan pertama Adelmund di Indonesia. Setelah beberapa kali pertandingan, ia tiba-tiba di depak begitu saja, hingga ia berkata “Ini suatu petualangan,” ungkapnya. Tidak adanya sistem kontrak yang jelas, membuat Adelmund kembali ke Belanda.

Kembali Didepak Oleh Madura United Demi Mengisi Kantong Pribadi Yang Hakiki

Setelah didepak tanpa alasan oleh PSIM Jogja, ternyata tak membuat Adelmund berprasangka sama ketika dipinang Madura United. Padahal Madura United mencari seorang gelandang tengah, bukan bek tengah seperti dirinya. Namun karena sang agen telah memiliki kesepakatan dengan tim jadinya transfer berjalan sewajarnya. Bahkan kata Adelmund “Kalau pun saya berposisi penjaga gawang mereka tetap akan menampilkan saya sebagai gelandang serang,”.

Menjalani setengah musim dengan memberikan kontribusi 10 assist sepertinya merupakan musim yang baik kata Adelmund. Terlebih lagi publik Madura sangat mencintai dirinya. Tapi tiba-tiba ia didepak demi mengisi kantong pribadi oknum official Madura United. “Semuanya berjalan baik dan para fans sangat menghargai saya. Namun tiba-tiba saya didepak tanpa belas kasihan. Dengan cara ini pelatih bisa mengambil pemain baru dan memasukkan sejumlah uang ke kantongnya sendiri,” ungkapnya kepada Vice Sport.

Bentuk Intimidasi Terhadap Tim Lawan Juga Terjadi Di Depan Mata

“Meski keadaan semakin membaik saat ini, korupsi tetap menjadi masalah utama sepak bola Indonesia. Sebagai contoh, saya kadang-kadang melihat bos lawan – saya melihat bahwa dia membawa pistol – melihat ruang ganti wasit. Anda tidak perlu heran dengan hal itu di Indonesia,” ungkap Adelmund.

Apa yang diungkapkan Adelmund rasanya seperti sebuah stigma yang tak bisa dihindarkan. Bahwa bentuk intimidasi dengan implikasi pertandingan tidak berjalan sportif seperti telah menjadi pemandangan biasa. Ada pun bentuk intimidasi yang ia saksikan tak hanya itu. Semasa berseragam PSS Sleman kala menghadapi PSIM Jogja, sebuah laga derby Jawa Tengah, saat berada di sisi lapangan (bangku cadangan) ia menonton pertandingan sambil menghindari batu secara bersamaan.

Ketika berhadapan dengan Persis Solo ia melihat bahwa ada sesaji yang dilakukan penyihir berbentuk ketel untuk mengganggu pertandingan. Belum lagi saat ia melihat rekan satu timnya terkena batu dan baru saja tersingkir di lapangan, namun wasit tetap melanjutkan. Hal yang lebih memalukan kala digelar satu pertandingan dengan regulasi tanpa penonton, namun ada saja yang menghadiri hingga berimbas tewasnya satu penonton dan ada pula perempuan yang diperkosa menurut penuturannya.

Di Luar Logika, Dikala Sperma Dihargai Lebih Dari 100 Juta

Mungkin ini merupakan sesuatu hal diluar bobroknya sepak bola yang diungkap oleh Adelmund. Tapi ini menjadi satu kisah yang unik ketika ada seorang wanita yang menawar Adelmund untuk menyumbangkan spermanya. Untuk ukuran pemain bola berdarah Belanda yang tentu memiliki daya pikat terlebih lagi di kawasan Asia, usut punya usut, sperma dari Adelmund ditawar antara 800 juta sampai 1 milliar.

“Ketika saya latihan bersama PSS Sleman banyak perempuan menghampiri saya di lapangan dengan membawa makanan. Bahkan dari mereka ada yang mengajak pulang bersama,” ujarnya.

Meskipun Begitu Ia Tetap Cinta Indonesia

Bak bintang pop di Indonesia Adelmund dihargai lebih dari sekedar pemain bola. Bahkan, ia menyebutkan bahwa hidupnya di Indonesia hidup seperti dewa. “Rasanya membuang-buang waktu menghabiskan hari-hari dengan bisnis. Saya sering berpikir, apa yang saya lakukan di sini?”

“Saya tidak sabar untuk kembali lagi, Mungkin saja saya akan pergi dalam waktu enam bulan. Tentu saja saya berharap kembali bermain sepak bola. Sejumlah klub sudah menginformasikan.” imbuhnya. Sekarang, Kristian Adelmund bermain untuk  SC Feyenoord, versi amatir dari Feyenoord Rotterdam. Apa yang diungkapkan Adelmund menjadi cerminan bahwa sepak bola Indonesia jauh dari kata baik dari segala struktur.

 

 

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Otomotif

Menjajal Si Merah: Jinak Di Bawah, Galak Di Atas

Akhirnya kami punya kesempatan untuk menjajal langsung motor GSX-R150 dari Suzuki. Kebetulan yang kami jajal berwarna merah, yang nampak begitu menggoda. Secara umum motor satu ini kami bawa untuk penggunaan harian di aera jabodetabek. Di beberapa kesempatan kami juga membawa motor ini di jalan yang lebih luang untuk menjajal performanya.

Tampilan Fungsional Tanpa Banyak Ornamen Basa-Basi

Kami memilih kata sexy, untuk menggambarkan Suzuki GSX-R150 ini. Nama GSX yang disandangnya sesungguh tak sekedar tempelan belaka. Karena kita bisa melihat tarikan garis serupa dari tipe-tipe GSX yang menggendong mesin lebih besar. Coba kita bandingkan tampilan GSX-R1000 ini dengan GSX-R150 ini. Tarikan garisnya tampak serupa.

Desain bodynya tak di rancang main-main karena dibangun menggunakan perhitungan hasil pengujian wind tunnel di jepang. Hasilnya, GSX-R15o ini menganut model yang terlihat mengalir dan aerodinamis. Pastinya tidak banyak ornamen atau bentuk-bentuk tak bermanfaat yang jamak kita lihat di merk lain. Tapi bukan berarti tampilannya jadi tak menarik.

Karena kami sempat beberapa kali mendapati pengendara lain melirik motor yang kami tunggangi. Terutama bagi sesama pengguna kelas 150cc, motor cukup menyita perhatian di jalan raya. Waspada khusus kami berikan pada sektor spion. Bentuknya yang mendatar dan sangat lebar, menempatkan perangkat satu ini sejajar dengan spion mobil kebanyakan. Walhasil, untuk lancar mengarungi kemacetan, ketika menggunakan motor ini harus sesekali melipat spionnya ke dalam.

Posisi Riding Agresif Dengan Handle Bar Under Yoke

Untuk kelas motor sport 150cc bisa dibilang posisi berkendara GSX-R150 ini paling agresif kalau dibandingkan dengan kompetitor lainnya. Stang jepitnya sendiri bertipe under the yoke alias berada di bawah segitiga depan.

Dalam kondisi berkendara normal, badan menjadi membungkuk dan mendukung tampilan balap dari motor ini. Ketika dalam kecepatan tinggi dengan mudah badan pengendara mendekat dan memeluk tangki. Hal ini didukung dengan jok belakang yang tinggi sehingga menambah kesan agresif.

Hal menarik lainnya, bobot GSX-R150 yang hanya 126 kg lebih ringan dibanding motor 150cc lain yang lebih dari 130 kg. Ditambah lagi tinggi joknya juga paling rendah di kelasnya. Sehingga untuk mereka yang bertinggi badan kurang dari 170 cm pun masih nyaman mengendarai motor ini. Untuk diajak rebah ketika menikung juga tak ragu karena bobotnya yang ringan tadi.

Mesin Over Bore, Galak Di Putaran Menengah Atas

Lagi-lagi Suzuki mengambil langkah berbeda dengan para kompetitornya yang memilih mesin over stroke atau Square. Karena dapur pacu yang disematkan pada GSX-R150 ini justru mengadopsi tipe ukuran over bore alias diameter pistonnya (62,0 mm) lebih lebar bahkan berselisih jauh dibanding langkahnya (48,8 mm).

Layaknya mesin over bore, tenaga yang dihasilkan pada putaran bawah cenderung lebih jinak dan kalem. Karena itu motor ini cukup ramah digunakan di tengah kemacetan tanpa kerepotan mengatasi tenaga dan torsi berlebihan pada putaran bawah.

Tapi sifat asli over bore mulai kelihatan pada putaran menengah dan atas dimulai dari 7000 RPM. Apalagi putaran mesinnya bisa berteriak hingga 13.000 RPM. Tenaga maksimalnya berada di 18,9 dk dengan torsi 14NM. Jangan heran seandainya bung menggunakan motor ini untuk beradu kecepatan, di putaran tengah dan atas cepat mengasapi motor lain.

Teknologi Keyless, Nyalakan Motor Bisa Pakai ID

Kecangihan tak berhenti sampai situ, untuk mengoperasikan motor, Bung cukup mendekatkan remote ke motornya. Motor baru bisa dioperasikan dengan memutar knob yang ada di tangki apabila remote berada dalam radius 1 meter. Sementara sebaliknya keyless ignition system otomatis akan mengunci jika jarak remote lebih dari 1 meter.

Demi keamanan, knob ini pun tidak bisa diputar paksa. Apabila main switch knob diputar paksa dengan tujuan akan dicuri, maka sesuai konstruksinya main switch knob akan berputar kosong.

Setiap keyless remote memiliki nomor ID. Nomor tersebut memungkinkan pemilik motor untuk tetap bisa mengakses main switch knob dalam keadaan remote rusak atau gangguan teknis lainnya. Kita tinggal memasukan 4 digit pin dengan acara menekan knob. Karena itu Pemilik motor disarankan untuk mencatat dan rahasiakan Remote ID serta simpan di tempat yang aman.

Namun Terlepas dari kecanggihannya tersebut, SIS selaku produsen Suzuki juga mendengar dan memenuhi permintaan dari konsumen lain yang memiliki karakter berbeda, dengan menyediakan Suzuki GSX-R150 menggunakan Shuttered Key System.

Sambil menemani keberadaan penjualan Suzuki GSX-R150 varian Keyless Ignition System saat ini, SIS memproduksi varian Shuttered Key System dengan komposisi secara khusus sebanyak 15% dari total produksi GSX-R150 setiap bulan. Dengan demikian, calon konsumen bisa memiliki pilihan lebih banyak sebelum memutuskan pilihannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Tim yang Dicap Kerdil Oleh Sir Alex 9 Tahun Lalu, Kini Kembali Juara Liga Inggris Ke-5 Kalinya

Manchester City berhasil mengunci gelar sebagai kampiun Liga Inggris musim ini. Setelah saudara sekota yang mana menjadi rival sekaligus membuntuti di posisi kedua kembali tampil inkonsisten setelah kalah 0-1 dari West Bromwich Albion. Alhasil, perolehan poin City tak bakal mampu dikejar oleh pesaing-pesaingnya seperti Manchester City, Liverpool, dan Tottenham.

Selamat bagi City memang harus diucapkan, meskipun Bung bukan pendukung atau pecinta Liga Inggris. Tampil ganas sejak awal dan kerap dilabeli sebagai tim “gaib” membuat City harus menyudahi perburuan gelar lebih cepat dari jadwal yang sudah ditentukan. Dengan mengoleksi 87 poin dari 28 kemenangan, 3 seri, dan 2 kali kalah sudah cukup membuat City untuk menjadi yang terbaik dengan mengoleksi 5 gelar sepanjang berlaga di sepak bola Inggris.

Tetangga yang Berisik Kini Kembali Berulah Dan Membuat Rival Terusik

Sumber : ESPN.com

Manchester City dicap sebagai tetangga berisik oleh pendukung Setan Merah. Lebih tepatnya bermula dari mulut sang Ayah yang telah pensiun, Sir Alex Fergusson. Pada Derby musim 2009/2010, Sir Alex berkata “Terkadang Anda punya tetangga yang berisik. Anda tak bisa melakukan apa pun soal itu. Mereka akan selalu berisik,” begitu bunyinya. Semenjak itu cap sebagai tetangga berisik selalu mengarah kepada City yang sejak musim itu sudah kedatangan sugar daddy, Syeikh Mansour dari Timur Tengah.

Lagi-lagi tetangga yang berisik kembali berulah dengan mengunci gelar ke-5 kalinya. MU pun mesti terdiam, bahkan bisa juga berisik, dengan membuat cuitan tentang memberi cap City sebagai tim baru “kaya”. Mungkin Citizen tidak memperdulikan. Karena apa pun yang terjadi juara tetaplah juara. Jadi ingat, kalau Sir Alex juga pernah berkata pada awal musim 2009/2010 bahwa, “Mereka (Manchester City) adalah kesebelasan kecil dengan mentalitas yang kerdil.” Berarti si kerdil sekarang telah bangkit menjadi tim besar ya Bung?

Menyamai Rekor Manchester United dan Everton, Jadi Bukti Level Permainan City Sudah Sekuat Beton

Rekor disamakan tim lain mungkin rasanya biasa saja. Tetapi ketika disamakan oleh tim rival seperti Manchester City, adalah proses kiamat dunia kedua. Manchester City tak bisa dipungkiri memang tampil fantastis musim ini. Dengan gaya permainan yang coba diberi pelatih sekelas Pep Guardiola berhasil diterapkan dengan baik.

Terlebih lagi memastikan gelar dengan menyisahkan lima laga, membuat The Citizen sejajar dengan Manchester United dari segi rekor yang pernah dibuat Setan Merah. Bahkan United pernah menorehkannya di dua musim yakni 1907/1908 dan 2001/2002. Selain itu Everton pun pernah membuat rekor yang sama di musim 1984/1985.

Sekali Dipucuk Tetaplah Dipucuk

Pep pun tak bisa berada di posisi ini apabila pemain yang dibesutnya tidak tampil baik seusai arahannya. Ketika apa yang djalankannya sukses, ia pun tak lupa memberikan sepatah dua patah pujian kepada para punggawanya lewat situs resmi Manchester City.

“Para pemain sangat fantastis, menakjubkan, mereka luar biasa. Klub ini sungguh luar biasa di semua aspek,” begitu kata pelatih bergaya casual ini. Kebanggaan pun wajar dilontarkannya Bung. Bagaimana tidak, tim asuhannya tidak tersentuh selama 240 hari di puncak klasemen Liga Inggris. Torehan yang luar biasa bukan?

Pep Guardiola Menjadi Pelatih yang Bahagia Sekaligus Sukses Selama Membesut Tim Di Tiga Liga Berbeda

Sosok yang satu ini memang banjir tawaran melatih di mana-mana, lantaran gaya permainan yang diterapkan mengesankan hingga peringkat terburuknya selama melatih sepak bola hanyalah berada di peringkat 3, itu pun terjadi di musim lalu kala menangani Citizen.

Kalau dirunut lewat catatan per musim selama melatih Barcelona empat musim Pep berhasil mengantarkan tim tersebut 3 kali meraih gelar juara dengan sekali menjadi runner-up, kemudian vakum satu tahun sebelum mengantarkan Bayern merebut gelar Bundesliga 3 kali berturut-turut. Setelah itu, pelatih berkepala pelontos ini berlabuh ke Inggris dengan menjadi pelatih Manchester City. Maka wajar kalau Pep Guardiola didaulat sebagai pelatih tim terbaik di dekade ini.

Akankah di Musim Depan Pep Guardiola Bakal Mengulanginya?

Sumber : ESPN.com

Melatih di tiga klub besar dengan iklim kompetisi berbeda tentu tidak mudah. Apalagi tensi dan permintaan supporter sekaligus pemilik klub tentu saja menginginkan prestasi yang tinggi. Mungkin, iklim Liga Inggris lah yang paling berbeda.

Liga yang sering disebut sebagai liga terbaik ini, dihuni oleh para pelatih kawakan dan berkelas seperti Jose Mourinho, Antonio Conte, Arsene Wenger, dan Jurgen Klopp. Tentu saja secara kompetitif di ranah pelatih, hal ini menjadi pertandingan taktik dan ujian yang bakal diuji setiap musim. Setelah Pep berhasil mengembangkan tiki-taka, yang kemudian dianggap usang oleh sebagian orang. Akankah Pep kembali mengembangkan strategi jitu lainnya?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Jupp Heynckes Secara DNA Adalah Ayah Bagi Bayern Munchen

Hasil imbang yang diterima Bayern kala menjamu Sevilla di leg kedua perempat final Liga Champions, sudah cukup mengantarkan mereka ke semi-final. Pencapaian yang diterima oleh Bayern lebih ditengarai oleh kehadiran sang “ayah” yang baru saja turun gunung, yakni Jupp Heynckes. Heynckes resmi menggantikan Carlo Ancelotti sejak akhir tahun lalu, lantaran tidak kondusifnya ruang ganti hingga rentetan dosa yang dilakukannya tidak bisa diterima pemain, salah satunya kalah 0-3 dari Paris Saint Germain di babak fase grup Liga Champion 2017/2018.

Ancelotti memang dikenal bukan sebagai pelatih matang yang mampu meracik tim hingga masa jabatannya habis. Secara pasti ia bakal didepak saat kontraknya masih menyisahkan satu atau dua tahun lagi. Hal ini sudah terjadi semenjak ia memutuskan menjadi pelatih saat menukangi Parma, Juventus, AC Milan, Chelsea, PSG, Madrid, hingga Bayern Munchen.

Di saat tim besar sekelas Bayern tengah kelimpungan untuk memburu banyak gelar, Jupp Heynckes, yang pernah memberikan Treble Winner kembali dipanggil. Meskipun ia sudah menyatakan pensiun di tahun 2012. 5 tahun berselang, Heynckes harus kembali ke rumahnya lagi, dengan menjalankan suatu misi suci yakni menghapus dosa-dosa skala mikro yang ditimbulkan Ancelotti yang dulu digadang sebagai suksesor FC Hollywood.

Pelatih Kehilangan Wibawa Di Ruang Ganti, Menjadi Bukti Tidak Adanya Sinkronisasi

Kalau dilihat secara statisik selama Bayern di bawah kepemimpinan Ancelotti memang tidak buruk. Dari 60 laga, Bayern berhasil membubuhkan 42 kemenangan, 9 kali imbang, dan 9 kali kalah. Tetapi apa yang membuat Bayern harus memecat Ancelotti karena terdapat 5 pemain secara terang-terangan tidak mau mendukungnya lagi. Salah satunya adalah winger terbaik mereka, Arjen Robben.

Otomatis secara hubungan vertikal, antara pemain dan pelatih tidak ada kesamaan dan benang merah, apabila dipaksakan, hal seperti ini bakal berakibat buruk bagi internal tim. Sama kasusnya seperti musim terakhir Jose Mourinho bersama Madrid yang mana ada gap antara beberapa pemain. Ayah datang, semuanya tenang, begitulah lakon yang coba dimainkan Heynckes di ruang ganti Bayern Munchen yang mana dijawabnya dengan baik. Karena dia mampu mengontrol hingga kondusif.

Perbedaan Karakter Kedua Pelatih Ibarat Air dan Api

Ancelotti terkenal sebagai pribadi yang santai seperti tidak ada kemauan keras untuk menopang prestasi secara mumpuni ketika diberikan amanat untuk menjadi kepala di sebuah tim. Tentu saja, hal ini tidak bisa diterima baik oleh Bayern yang mana ingin menjajaki diri sebagai tim terbaik di Eropa, bahkan dunia.

Di awal musim ini, Bayern sempat terseok-seok untuk menjalani liga, kemudian kurang baiknya performa di Liga Champions, tentu membuat presiden Bayern, Uli Hoeness geram, sehingga ia memanggil Heynckes sang RED (Retired Extremely Dangerous) untuk kembali bangun dari tidurnya. Alhasil semuanya pun dibenahi dengan kembalinya Bayern bertengger di pucuk sampai bisa melangkah ke semi-final Liga Champions.

Jupp Heynckes Memecut Kembali Pemainnya Untuk Mengerti, Kalau Menjadi Jawara Itu Tidak Bisa Santai-santai Sejak Dini

Watak keras yang dimiliki Heynckes membuat para punggawa Bayern terlucuti semangatnya. Ia kembali berpacu dan bergerak bagaikan kuda yang dipecut penunggangnya. Agar pemain kembali panas, seperti membangkitkan aroma semangat yang pernah tercipta saat menjadi jawara Eropa, Liga Lokal, dan Piala Liga. Terlebih lagi sebagian besar pemain yang ada saat ini pernah merasakan teknik kepelatihannya hingga mudah untuk Heynckes membangkitkan semangat tanpa perlu pendekatan lantaran hubungan sudah cukup erat.

Menghilangkan Standar Kepuasan Sejak Dini Seperti yang Diterapkan Ancelotti

Bentuk permainan yang dibangun Ancelotti memang berbeda. Permainan dibangun secara taktis hingga memaksimalkan serangan, dengan mencoba memetik keunggulan secara cepat terlebih dahulu. Ketika sudah unggul dengan selisih tiga gol, biasanya Munchen mulai merubah permainan cenderung bertahan dengan mencoba mengambil counter-attack.

Hal ini justru sangat disayangkan, ketika Bayern sedang panas-panasnya untuk menyerang malahan disuruh bertahan, sehingga timbul rasa cepat puas sedari dini. Pola pikir di lapangan seperti ini coba dirubah oleh Heynckes dengan mengutamakan kolektivitas bukan kemampuan individu pemain.

Saat Jupp Heynckes Datang, Bayern Kembali Senang. Suatu Hal Positif atau Negatif?

Berbicara soal positif dan negatif kedatangan orang kepercayaan memang sulit. Bagi Bung yang belum nyambung dengan maksud judul ini. Coba tengok tim macam Manchester United, yang kerap berjaya selama diasuh Sir Alex, Kemudian terseok-seok setelah gonta-ganti pelatih mulai dari David Moyes, Louis Van Gaal sampai Jose Mourinho belum mendapatkan formula ciamik yang membuat setan merah tampil konsisten.

Memang MU memiliki segudang pemain mumpuni tetapi tidak ada pelatih hingga saat ini yang mampu menggabungkan dan membangkitkan permainana seperti dulu lagi. Apabila hal ini terjadi kepada Bayern Munchen tentu bakal disayangkan bukan? Justru hal ini harus menjadi perhatian serius bagi Bayern Munchen, lantaran memilih orang tepat itu sulit, jangan sampai bayang-bayang kejayaan hanya bisa dikenang namun tidak dilanjutkan.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Apakah Wajar Bila Pesepakbola Membenci Sepakbola?

Bagaimana seseorang membenci profesinya sendiri? padahal profesi yang dilakoni pun, cukup digemari mayoritas laki-laki yakni sepakbola. Lantas, apakah wajar bila pesepakbola membenci olahraga yang mengantarkan namanya menjadi tekenal bahkan berkecukupan secara finansial?

Dibalik wajar atau tidaknya, tentu hal ini menjadi pergunjingan bagi sebagian orang yang notabene adalah netizen. Sederetan nama-nama yang bakal disebutkan ada yang dari underrated sampai yang sudah tidak asik ditelinga. Bahkan, ada salah satu pemain yang mengatakan semakin banyak mendapatkan uang dari sepakbola, semakin ia membencinya. Dilansir dari sportskeeda.com berikut ini adalah nama pemain yang anomali malah benci sepakbola.

Kegagalan Eksekusi Penalti Menjadi Biang Bagi Pemain Ini Untuk Membenci Sepakbola

Pernah berseragam Leeds, Blackburn dan Newcastle tak ayal membuat pemain ini dipanggil ke tim nasional Inggris, bahkan ia menjadi bagian Three Lions pada saat berlaga di Euro 1992 dan FIFA World Cup 1998. Karirnya sepanjang 18 tahun pada mulanya berjalan manis, David Batty kemudian didaulat menjadi biang kegagalan lantaran gagal menjadi eksekutor penalti saat meladeni Argentina di ajang 4 tahunan untuk mencari negara terbaik dalam sepakbola.

Di tahun 2007 David Batty pun membuat pernyataan yang membingungkan banyak orang saat ia bosan bermain bersama tim nasional. Hal ini jelas dipandang sebagian pemain sebagai bentuk nasionalisme. Lucunya lagi, David Batty, sejak kegagalan penalti ia tidak pernah menonton sepak bola lagi.

Bukan Penggemar Sepakbola Sejati Tapi Karirnya Cukup Melonjak Tinggi

Nama Bobby Zamora pasti tidak asing bagi bung yang kerap menonton liga Inggris. Lantaran pemain berkepala pelontos ini telah malang melintang membela klub-klub medioker di kasta tertinggi liga tersebut. Seperti Brighton & Hove Albion, Bristol Rovers, West Ham, Tottenham, Queens Park Rangers dan pernah tergabung dengan tim nasional Inggris sebanyak dua kali. Sebelum memutuskan untuk menggantung sepatu di tahun 2016.

Kilas balik ke tahun 2012 beberapa pertanyaan menghujam dirinya tentang apa yang bakal dilakukan setelah tidak lagi merumput di lapangan hijau. Secara tegas, Zamora menjawab tidak lagi ingin tergabung dalam dunia sepakbola. Bahkan, pemain ini mengatakan bahwa ia bukan penggemar sepakbola sejati selayaknya pemain lain. Kemudian selama berkarier pun, ia juga jujur kalau jarang melihat tim lain bahkan timnya sendiri selama bertanding.

Tak Puas Di Lapangan Hijau Beranjak Ke Ring Tinju

Menjadi pemain pesepakbola profesional nampaknya kurang begitu menyalurkan hasratnya. Curtis Woodhouse adalah pesepakbola yang merumput dari tahun 1997 sampai 2006. Di usianya yang memasuki umur 26 tahun ia memutuskan untuk berganti profesi sebagai petinju profesional.

Setelah itu, Curtis pernah kembali menjadi pesepakbola paruh waktu ketika menandatangani dengan Rushden dan Diamonds di bulan November 2006 sampai akhirnya ia memutuskan benar-benar pensiun di tahun 2012 di Sheffield United. Mantan pemain timnas Inggris U-21 ini pun pernah mengeluarkan pernyataan aneh ketika ia mengatakan bahwa semakin banyak ia mendapat uang dari sepakbola, ia semakin membenci sepakbola. Logis kah bung?

Bolos Timnas Agar Bisa Berduaan Dengan Kekasih, Anomali Terhadap Dedikasi Profesi

Ketika sekian pesepakbola profesional mendambakan memakai kostum timnas untuk dikenakan dan dibela lewat keringat sekaligus perjuangan. Stephen Ireland justru sebaliknya, pemain yang “gagal” bersinar di Manchester City ini lebih dikenal saat bermain di Stoke City sebagai gelandang serang.

Ireland pun pernah mangkat dari timnas Irlandia dengan alasan Neneknya meninggal padahal ia berduaan dengan kekasihnya. Selain itu, entah karena depresi atau tekanan, Ireland pernah curhat lewat sosial medianya ketika mengatakan jika sepakbola itu hanyalah omong kosong dan menyesal karena terjebak di dalam sepak bola itu sendiri.

Sepakan Luar Biasa Miliknya, Justru Tak Ingin Dikenang Banyak Orang

Batistuta mungkin dapat dibilang Tuhannya sepakbola beberapa dekade lalu. Julukan Batigol dan El Angel Gabriel, terwakilkan lewat sepakan kilatnya menghiasi layar kaca di mana gawang lawan menjadi korban bombardir. Memang gelar trophy secara tim yang didapatkan tidak sementereng Lionel Messi.

Tetapi di zamannya ia sangat disegani dan dihormati, bahkan ia termasuk pencetak gol terbanyakan tim nasional Argentina sebelum dirontokkan Lionel Messi di tahun 2016. Alessandro Rialti selaku penulis otobiografinya  mengatakan bahwa Batigol merupakan permain profesional yang tidak terlalu menyukai sepakbola. Lanjutnya, Batistuta ingin menjadi orang biasa yang tidak ingin terkait lagi dengan sepakbola saat keluar dari lapangan hijau.

Sepakbola memang dapat mendongkrak nama orang biasa menjadi berbeda, mereka yang tercekik finansial bisa tampil spesial ke depannya. Bahkan, banya warga Afrika yang mengadu nasib di Sepakbola demi mendapatkan kehidupan yang layak dan berbeda. Janggal, ketika mengetahui ada beberapa pesepakbola yang membenci Sepakbola. Itu semua pilihan, meskipun tak wajar karena mereka terkenal dan dikenal karena sepakbola. Tetapi balik lagi, membenci dan menyukai adalah pilihan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top