money

Kata Bu Sri Mulyani, Kurangi Jajan Kopi Demi Menyiapkan Dana Pensiun Sedari Dini

Tiada hari tanpa kopi karena dapat membuat hidup jadi lebih faedah dan berarti. Mungkin itu jadi tagline anak masa kini kan bung? generasi milenial memang bisa dibilang sangat mencintai kopi, tumbuh kembangnya coffe shop dari yang terkenal sampai yang indie pun akan disambangi. Agenda malam minggu sampai bertemu teman pun dilakukan di kedai kopi. Alhasil ini membuat generasi milenial mengeluarkan uangnya lebih banyak untuk kopi.

Namun dari pada jajan kopi alangkah baiknya menyiapkan dana pensiun sedari dini. Dan itu menjadi hal yang penting karena masa depan harus dijalani dengan penuh persiapan. Hal ini pun juga disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, katanya generasi milenial adalah kalangan yang berorientasi pada experience atau pengalaman. Hingga tua pun mereka membutuhkan itu, sehingga harus menyiapkan dana saat pensiun.

“Kalau mereka mau experience, sampai tua pengen experience terus. Kalau butuh experience tapi butuh resource? Itu lah kita mulai masuk, sisihkan uang kopi kamu yang tadinya setiap hari jadi dua hari sekali. Sisanya bikin sendiri di rumah,” katanya dalam Seminar Nasional Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) di Hotel Bidakara, Jakarta.

Hal ini perlu jadi perhatian pengelola dana pensiun. Karena mereka memiliki peran untuk mengedukasi dan mensosialisasikan ke generasi milenial ini bagaimana pentingnya dana pensiun bahkan termasuk kepada bung juga lho bukan hanya yang berumur 23 tahun ke bawah. Selagi masih muda, sangat berasa apabila dana pensiun dikumpulkan dari sekarang.

“Jangan sampai ngumpulin dana pensiun dua tahun sebelum pensiun,” katanya.

Menteri Keuangan tersebut juga bagi pengelola dana pensiun untuk strateginya karena karakteristiknya meliputi kreatifitas, confidence dan kreatif. Sehingga pengelola un mampu meyakinkan soal perencanaan hidup ke depan.

“Harusnya kita memikirkan how you connect to millenial generation. Generasi milenial yang ada tiga karakteristik dalam hal ini creative, connected dan confidence,” tambahnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Tingkah Polah Orang-Orang yang Pura-Pura Kaya

Ironisnya ya Bung, segelintir orang menolak fakta kalau memang harta mereka belum seberapa. Alih-alih memperbaiki kasta, ada yang memilih masuk golongan pura-pura kaya. Mereka menghidupi imajinasi dengan banyak sesumbar. Kalau Bung jeli, mudah sekali mengenali tipikal orang yang demikian. Salah satunya tentu, dia kelihatan banyak bicara padahal tak punya apa-apa.

Orang yang Ngaku Kaya, Memuja Merek Setinggi Langit Bukan Karena Kualitas

Ya, mereka lebih peduli pada imej yang dimiliki merk tersebut. Katakanlah sebuah sepatu dengan merk terkenal. Mereka yang ingin terlihat kaya akan menjadikan merk tersebut sebagai ‘tameng’. Alih-alih memahami kualitas dan mengutamakan kenyamanan, golongan orang-orang ini justru jumawa karena sudah ‘sanggup membeli’. Tujuannya, tentu berharap dapat afirmasi dari sekelilingnya atas kesanggupannya itu.

Nah, untuk golongan yang benar-benar kaya, ihwal merk adalah urusan kesekian. Yang penting, barang  tersebut berkualitas dan nyaman dipakai. Itulah kenapa beberapa barang dengan merk kelas atas justru kelihatan memiliki tampilan yang membosankan dan itu-itu saja.

Merek pengenalnya biasanya hanya tampil kecil nan tersembunyi. Ini karena para produsen mengerti pasar. Mereka hanya akan memproduksi barang untuk kalangan sendiri yang tak akan dipahami oleh golongan yang hanya mengglorifikasi sebuah merk.

Ngaku Kenal dengan Banyak Orang Besar Demi Terlihat Gahar

Bung pernah kan ketemu dengan orang-orang semacam ini? Mereka entah kenapa suka dan piawai sekali membangun cerita seolah-olah mereka kenal akrab dengan orang besar seperti pejabat atau selebritis. Padahal kita sama-sama tahu ya Bung, hal tersebut hanya omong kosong belaka.

Percayalah, orang yang benar-benar kaya dan punya banyak koneksi hebat tak akan sesumbar mengenai teman-teman dekat mereka. Buat orang kaya betulan, privasi justru nomor satu.

Entah Mengapa, Lawan Bicara Akan Mudah Bosan Berinteraksi dengan Orang yang Pura-pura Kaya

Bung, kasta mungkin bisa dimanipulasi. Tapi kelas dan perilaku tak bisa dibuat-buat. Orang yang pura-pura kaya biasanya tak disertai kemampuan yang cakap untuk membuat lawan bicara mereka percaya 100 persen dan tahan untuk berinteraksi terus dengannya. Ini karena bahasan mereka tak bisa meluas.

Mereka terjebak pada topik membangun imej kaya sehingga yang dibicarakan selalu mengenai uang dan kekayaan. Tak ada yang lebih menyenangkan selain pamer kepada lawan bicara. Padahal, orang kaya raya betulan tak akan banyak sesumbar mengenai uang yang mereka hasilkan.

Dia yang Mau Dicap Sukses, Selalu Ingin Kelihatan Punya Proyek Besar

Orang yang pura-pura sukses selalu membicarakan sesuatu besar nan potensial yang sedang ia kerjakan. Memang, mereka memiliki rencana. Hanya saja, mereka tak punya konsistensi dan disiplin diri yang tinggi. Hal ini membuat potensi nan besar itu akhirnya tak bisa membawa mereka benar-benar naik kasta. Proyek besar yang dikerjakannya sekarang tak dibarengi dengan perencanaan matang untuk jangka waktu lima sampai sepuluh tahunan.

Sementara yang benar-benar sukses biasanya adalah orang yang mau bekerja dari nol. Mereka adalah orang-orang yang punya fokus besar dan disiplin tinggi pada satu hal yang mereka kerjakan sejak lama dan tahu apa yang mereka kerjakan bahkan bisa melihat potensinya di masa mendatang. Yang membedakan orang yang suksesnya hanya pura-pura dengan yang sukses dari lama adalah konsistensi dan komitmen.

Lucunya, Mereka Tak Suka Bila Merasa Tersaingi

Bung, coba perhatikan. Orang yang pura-pura kaya biasanya ekspresinya berubah bila bertemu dengan orang yang jauh lebih kaya pengalaman dan sudah merasakan asam garam. Dalam sebuah percakapan, orang yang pura-pura kaya cenderung ingin terus menerus menguasai percakapan dan berusaha mengembalikan suasana agar topik dan arah pembicaraan kembali berbicara tentang kehebatannya.

Sementara mereka yang benar-benar kaya justru lebih sering bertanya daripada berbicara tetang diri mereka sendiri. Mereka selalu tertarik untuk mendengarkan cerita lawan bicara mereka. Jelas sekali perbedaannya, kan?

Urusaan Pekerjaan, Orang yang Pura-pura Kaya Selalu Mencari Nama yang Fancy untuk Jabatan Mereka

Memang ada beberapa pekerjaan yang sejatinya sudah punya nama pasti, namun dipercantik supaya orang lebih mengapresiasi pekerjaan atau jabatan tersebut. Nah, situasi ini yang dimanfaatkan mereka yang suka panjat sosial sekaligus ingin terlihat hebat di mata rekanannya.

Bukan hanya gelar akademik yang bisa dimanipulasi, jabatan di kantor pun dilihat semenarik mungkin supaya kelihatan ‘wah’. Kantornya memberi sebutan jabatan “sales” misalnya, maka si pura-pura kaya akan bilang jabatannya “Business Development And Relationship Maintenance Manager”

Mereka yang Pura-pura Kaya Belum Tentu Punya Banyak Tabungan

Urusan uang simpanan, ini jadi tantangan besar untuk golongan pura-pura kaya. Alih-alih mengumpulkan uang dan investasi saham, mereka memilih berinvestasi pada penampilan. Ini karena sejatinya mereka belum mengerti cara mengatur uang, yang mereka pahami hanya memakai, memakai, dan memakai, Bung.

Seiring berjalannya waktu, uang pun habis dan mereka perlu uang, maka mau tak mau berhutang. Sementara yang benar-benar kaya, urusan tabungan tak perlu ditanya.

Orang yang Benar-benar Kaya, Punya Kelasnya Tersendiri

Karena memang sudah punya ‘taste’, orang yang sudah kaya dari sananya biasanya mengerti nilai sebuah benda. Tidak hanya untuk jangka waktu sebentar, tapi beberapa waktu ke depan. Prinsip ini yang belum tentu dipahami orang yang pura-pura kaya, mereka terjebak pada tren yang berkembang dan mengikutinya.

Alih-alih menciptakan dan memili ‘taste’nya tersendiri, mereka terlalu takut untuk ketinggalan sesuatu yang sedang hits. Ya, orang dengan tipikal seperti ini bisa jadi mengidap FOMO alias Fear Of Missing Out.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Oke, Ini 9 hal yang Perlu Kita Lakukan Saat Kaya Mendadak

Kaya mendadak tak cuma penghias cerita fiksi, sebab hal itu sangat mungkin terjadi di dunia nyata. Mulai dari menang judi bola, dapat warisan nenek moyang sampai urusan kaya mendadak akibat dapat gusuran tanah yang terkena proyek pemerintah. Apapun itu, sebenarnya selalu ada peluang untuk bisa kaya mendadak. Pertanyaannya, bila Bung dihadapkan dengan situasi yang demikian, sudah siapkah mental Bung untuk menghadapinya?

Masalahnya, banyak orang yang tiba-tiba bisa punya banyak uang tapi tak diiringi dengan mental untuk menghadapi perubahan seiring datangnya uang tersebut. Alih-alih sejahtera sampai tujuh turunan, yang terjadi justru lebih sering uang yang tiba-tiba datang habis begitu saja. Untuk itu, pastikan dulu Bung siap melakukan 9 hal ini bila sewaktu-waktu kaya mendadak.

Situ OKB? Jangan Tergoda Untuk Pamer

Hal paling norak yang dilakukan para OKB (Orang Kaya Baru) adalah pamer ke semua orang. Padahal hal paling penting adalah tetap utamakan privasi. Tak usah pamer atau memberitahukan banyak kolega kalau finansial Bung sekarang sedang ‘naik level’. Prioritas utama saat Bung memiliki banyak uang adalah soal privasi.

Bila Bung justru memamerkan dengan jelas keberadaan uang ini yang tiba-tiba mengubah hidup Bung, maka siap-siaplah untuk menyambut kedatangan ‘teman-teman palsu’ secara bertubi-tubi. Besar kemungkinan teman-teman macam ini yang akan menghabiskan duit kita secara cepat. Jadilah bijak, biarkan sekeliling Bung tahu bila waktunya memang sudah tepat.

Lunasi Dulu Semua Hutang Bung, Jangan Menunda untuk Prioritas yang Satu Ini

Ada banyak orang yang terlanjur terlena dengan uang yang dimilikinya sehingga ia tak keberatan memakainya untuk belanja banyak hal yang tak perlu. Padahal, prioritas lainnya saat Bung mengantongi banyak uang adalah lunasi dulu semua hutang Bung. Perasaan lega karena hutang lunas jauh lebih menyenangkan dibanding berbelanja barang mahal tapi setoran hutang masih mengintai. Hal penting lainnya, usahakan untuk tidak berhutang lagi ya Bung.

Kaya Mendadak Bukan Alasan yang Tepat Bung Memilih Keluar dari Pekerjaan

Ini memang salah satu godaan paling luar biasa. Terbayang muka bos yang menyebalkan itu jika kita tiba-tiba menyatakan diri ingin resign karena sudah kaya raya. Tapi, Janganlah jadi pribadi yang terburu-buru.

Tak usah keluar alias resign dari pekerjaan yang Bung lakoni sekarang. Justru dengan memilih keluar seolah-olah Bung tak perlu lagi bekerja dan gaji dari tempat Bung bekerja sekarang, bisa jadi ini adalah sumber kekacauan pertama yang berpotensi membuat Bung bangkrut mendadak di masa depan.

Dari sejumlah penelitian ditemukan, tidak ada orang yang betah tidak melakukan aktivitas apapun. Bahkan orang paling malas sekalipun lekas bosan kalau tak punya kegiatan. Sekarang bayangkan kalau Bung resign dan tiba-tiba tak punya aktivitas, apa yang akan Bung lakukan? Mencari aktivitas mulai dari jalan, berbelanja, liburan, menjalankan hobi dan hal-hal lainnya yang jelas-jelas akan menguras kekayaan.

Simpan Uang Bung dan Diamkan Setidaknya Selama Enam Bulan

Mendiamkan uang selama enam bulan kelihatannya terlalu lama? Tidak juga Bung. Justru Bung dianjurkan melakukan hal ini karena Bung perlu memproses perubahan yang terjadi dengan sebaik dan sebijak mungkin seiring datangnya uang tersebut. Percayalah, sekarang ini pasti Bung merasa setiap hal dalam hidup Bung berubah seketika.

Padahal sejatinya yang berubah hanyalah kondisi finansial Bung, sementara karakter dan pengendalian diri Bung tetap sama. Jangka waktu selama enam bulan akan membuat Bung belajar mengontrol diri terhadap keinginan yang sifatnya impulsif. Mungkin akan ada kejadian menarik nan dramatis. Yang penting, nikmati saja masa-masa itu selama kira-kira enam bulan lamanya.

Mencari Instrumen Investasi yang Tepat Seharusnya Pun Sudah Masuk dalam Daftar Prioritas yang Ingin Bung Penuhi

Investasi jelas perlu. Uang yang Bung miliki anggap saja sebagai sebuah tunas kecil yang perlu ditanam sehingga ia nantinya tumbuh jadi pohon yang kokoh. Investasi pun perlu karena disinilah Bung belajar rasanya jadi orang kaya. Terlebih bila Bung tak terbiasa ‘menanam uang’, maka investasi adalah tempat terbaik untuk belajar lebih bijak lagi mengendalikan uang.

Kuncinya, pastikan Bung memiliki perencana atau penasehat keuangan yang akan mengarahkan Bung pada instrumen investasi yang tepat serta mengajarkan konsep kalau uang adalah sesuatu yang bergerak. Ia bisa tumbuh, bak sebatang pohon. Belajarlah memakan buah (hasil investasi) dari pohon tersebut. Dan bukan terburu-buru menebang pohonnya (mengambil modal).

Jangan Cari Kemewahan, Justru Carilah Kenyamanan

Sekalipun ada istilah yang mengatakan semua bisa dibeli dengan uang, tapi tetapkan batasan pasti pada diri Bung. Pasti ada keinginan dalam diri untuk berbuat impulsif mencari kemewahan seperti yang sudah Bung idam-idamkan sejak lama. Tak usah menuruti nafsu impulsif ini Bung. Jika hendak beli rumah, carilah yang sekiranya nyaman.

Tak perlu mencari rumah di lingkungan old money alias mereka yang kaya raya sejak lama. Justru beli rumah di lingkungan yang demikian tak akan menguntungkan Bung. Banyak biaya tambahan yang akan dibebankan sepanjang tahun. Dan itu lambat laun hanya akan membuat Bung kembali berhutang.

Siapa Bilang Saat Banyak Uang Harus Baik Pada Teman?

Maksudnya kali ini, Bung dianjurkan untuk tak usah menginvestasikan apapun pada bisnis temanmu atau meminjamkan uang padanya. Justru hal in akan membuat privasimu jadi terancam dan orang-orang tahu kalau kamu punya banyak uang. Bung dijadikan incaran oleh mereka yang punya banyak rencana bisnis, hutang besar, suntikan dana, bahkan butuh modal secara cuma-cuma.

Apalagi semua pakar bisnis tahu bahwa 9 dari 10 bisnis baru itu pasti bangkrut. Jadi alau Bung memberi modal kepada kerabat atau teman kemudian bisnis tersebut bangkrut, hal itu bukan tak mungkin akan merusak hubungan baik yang telah terjalin selama ini.  

Investasi Lainnya yang Perlu Bung Lakukan: Investasi Kesehatan

Ya, tetap fokuslah jaga kesehatan. Dengan jumlah uang yang cukup besar di tabungan Bung, mungkin Bung berpikir saatnya menikmati hidup selagi masih diberi umur. Tapi jangan lupakan urusan kesehatan. Bung perlu lakukan full medical check up untuk memastikan kondisi tubuh Bung, dan mulailah untuk memperhatikan kesehatan dimulai dari memilih makanan yang konsumsi dan cari cara untuk semakin membuat diri jadi sehat. Untuk apa kaya tapi tak didukung tubuh yang sehat? Ujung-ujungnya tetap menderita, Bung.

Jangan Selingkuh Atau Buru-buru Cari Pasangan Baru

Membaiknya urusan finansial seharusnya bisa mempererat hubungan keluarga atau relasi suami istri yang sempat berselisih paham. Tapi kenyataannya tak demikian, justru banyak yang menganggap uang bisa membeli segalanya. Termasuk pasangan baru. Bila sudah begini, tandanya bukan Bung yang mengendalikan uang, tapi uanglah yang mengendalikan Bung.

Selingkuh dari pasangan hanya akan mengantarkan Bung pada masalah baru dan awal-awal kehancuran hubungan dan finansial. Coba bayangkan pasangan baru yang Bung temui ketika sudah punya uang besar kemungkinan gaya hidupnya juga tak sesederhana pasangan yang dulu ikut berjuang di sebelah Bung bukan?

Nah, untuk itu, menjadi kaya mendadak memang perlu mental untuk siap pada perubahan di depan mata. Semakin banyak uang yang dimiliki, semakin banyak orang yang akan menjadikan Bung sebagai target. Kini orang-orang akan berpikir bagaimana caranya meraup uang yang Bung miliki. Ya, orang-orang bisa jadi jahat sewaktu-waktu.

Nyatanya, punya uang adalah suatu pekerjaan besar. Jika Bung kira hidup akan lebih mudah saat punya uang, sejatinya tidak juga. Bisa jadi satu masalah selesai, justru muncul masalah lainnya. Tapi dengan memiliki mental yang siap pada perubahan, percayalah, jadi kaya mendadak justru akan terasa menyenangkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Baik

Lika Liku Pinjam Meminjam Duit Online yang Memilukan

Pilu memang kalau mengetahui apa yang terjadi dalam seluk beluk meminjam duit di pinjaman online. Sudah dikenakan bunga tinggi, plafond pinjaman juga kecil. Namun bagi mereka yang sangat membutuhkan, pinjaman online seolah menjadi malaikat di tengah kegelapan. Kenapa? karena tidak ada jaminan seperti saat bung meminjam uang di bank, yang mana jaminan sangat diperhitungkan sehingga bung tak bisa asal meminjam.

Di geliat dunia fintech yang semakin menjamur. Tak berarti kemajuan dari teknologi dapat diiringi sebagai suatu solusi. Ternyata ada saja beberapa hal yang tidak dapat diterima oleh masyarakat. Bahkan hal yang tidak dapat diterima ini sifatnya sangat meresahkan. Alhasil lika liku pinjam meminjam duit online ini menjadi hal yang sangat memilukan.

Risiko yang Diterima Tak Sepadan Dengan Uang yang Dipinjam

Meminjam uang lewat pinjaman online mungkin dapat membantu dalam beberapa hal atau kondisi yang sifatnya dadakan. Namun tak banyak orang yang berfikir panjang pasalnya kalau dicermati mereka akan melihat pola yang tidak beres dari beberapa perusahaan pinjaman online.

Seperti suku bunga dan biaya pinjol nyatanya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan KTA (Kredit Tanpa Angunan). Akumulasi biaya dalam meminjam pinjol juga sangat besar. Apalagi banyak pinjol yang belum terdaftar di OJK alias investasi bodong terus menghantui semua orang. Di lihat dari pola dan beberapa hal tersebut menandakan kalau terdapat risiko yang cukup genting dalam pinjol.

Rentetan Kasus Penagih Utang Online Membuat Orang Mulai Berfikir Untuk Pinjam Online

Beberapa kasus pinjol menjadi bahan pergunjingan netizen, mereka ramai-ramai membeberkan hal yang menimpa mereka. Apalagi setelah mengetahui kalau kerabat dari nasabah yang memiliki hutang tersebut mendapat tekanan dari penagih hutang. Dan dikatakan sebagai nomor darurat, yang nyatanya tidak demikian. Kasus ini membuat aplikasi kredit online mulai minim dipercaya.

Penagihan Hutang Dilakukan Dengan Cara yang Kasar

Permintaan aplikasi atau Permission Apps yang jarang dibaca dengan teliti, ternyata ada beberapa permintaan yang bahaya apabila disetujui. Seperti membaca SMS, melihat kontak, sampai melihat panggilan yang masuk.

Hal ini diminta sebagai jaminan, yang nyatanya dilakukan aplikasi untuk melakukan kontak ke beberapa kontak bung untuk memberikan peringatan bahwa bung belum membayar. Banyak yang stres akan hal ini, dari yang mulai kehilangan pekerjaan, bunuh diri, sampai menjual ginjalnya di Facebook. Lantaran penagih hutang memberikan ancaman ke tempat kerja nasabah, keluarga bahkan rekan-rekannya.

Bahkan Mereka yang Terlilit Hutang Mengatakan Pinjol Sebagai Jebakan Setan

Kematian akibat terlilit hutang bukan lagi sesuatu yang baru. Namun kematian seorang supir Taksi di daerah Mampang Prapatan, Jakarta Selatan adalah hal memilukan. Dalam surat wasiatnya ia mengatakan kalau pinjaman online adalah jebakan setan. Tak ada hal yang jelas apa alasan ia mengatakan ini semua, namun banyak yang berasumsi bahwasanya bunga yang tinggi membuat ia tak kuasa, apalagi penagih hutang akan terus meneror dirinya lewat verbal.

Maka Dari Itu, Mulailah Perhatikan Permission Apps dari Aplikasi yang Bung Unduh

Menyepelekan sesuatu akan membuahkan bencana. Mungkin itu salah satu hal yang dapat kita petik dari kasus pinjaman online. Di mana, permintaan aplikasi bertujuan mengubek-ngubek privasi. Tidak hanya dalam sektor finance technology seperti pinjaman online saja, mulai dari mengunduh aplikasi untuk game, media sosial dan semacamnya bung harus mulai memperhatikan semuanya. Karena bisa saja ada beberapa permission yang dapat menyebabkan hal serupa untuk ke depannya. Karena aplikasi tak bisa melakukan itu semua, apabila sang pengunduh tidak mengizinkannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top