Sport

Jupp Heynckes Secara DNA Adalah Ayah Bagi Bayern Munchen

Hasil imbang yang diterima Bayern kala menjamu Sevilla di leg kedua perempat final Liga Champions, sudah cukup mengantarkan mereka ke semi-final. Pencapaian yang diterima oleh Bayern lebih ditengarai oleh kehadiran sang “ayah” yang baru saja turun gunung, yakni Jupp Heynckes. Heynckes resmi menggantikan Carlo Ancelotti sejak akhir tahun lalu, lantaran tidak kondusifnya ruang ganti hingga rentetan dosa yang dilakukannya tidak bisa diterima pemain, salah satunya kalah 0-3 dari Paris Saint Germain di babak fase grup Liga Champion 2017/2018.

Ancelotti memang dikenal bukan sebagai pelatih matang yang mampu meracik tim hingga masa jabatannya habis. Secara pasti ia bakal didepak saat kontraknya masih menyisahkan satu atau dua tahun lagi. Hal ini sudah terjadi semenjak ia memutuskan menjadi pelatih saat menukangi Parma, Juventus, AC Milan, Chelsea, PSG, Madrid, hingga Bayern Munchen.

Di saat tim besar sekelas Bayern tengah kelimpungan untuk memburu banyak gelar, Jupp Heynckes, yang pernah memberikan Treble Winner kembali dipanggil. Meskipun ia sudah menyatakan pensiun di tahun 2012. 5 tahun berselang, Heynckes harus kembali ke rumahnya lagi, dengan menjalankan suatu misi suci yakni menghapus dosa-dosa skala mikro yang ditimbulkan Ancelotti yang dulu digadang sebagai suksesor FC Hollywood.

Pelatih Kehilangan Wibawa Di Ruang Ganti, Menjadi Bukti Tidak Adanya Sinkronisasi

Kalau dilihat secara statisik selama Bayern di bawah kepemimpinan Ancelotti memang tidak buruk. Dari 60 laga, Bayern berhasil membubuhkan 42 kemenangan, 9 kali imbang, dan 9 kali kalah. Tetapi apa yang membuat Bayern harus memecat Ancelotti karena terdapat 5 pemain secara terang-terangan tidak mau mendukungnya lagi. Salah satunya adalah winger terbaik mereka, Arjen Robben.

Otomatis secara hubungan vertikal, antara pemain dan pelatih tidak ada kesamaan dan benang merah, apabila dipaksakan, hal seperti ini bakal berakibat buruk bagi internal tim. Sama kasusnya seperti musim terakhir Jose Mourinho bersama Madrid yang mana ada gap antara beberapa pemain. Ayah datang, semuanya tenang, begitulah lakon yang coba dimainkan Heynckes di ruang ganti Bayern Munchen yang mana dijawabnya dengan baik. Karena dia mampu mengontrol hingga kondusif.

Perbedaan Karakter Kedua Pelatih Ibarat Air dan Api

Ancelotti terkenal sebagai pribadi yang santai seperti tidak ada kemauan keras untuk menopang prestasi secara mumpuni ketika diberikan amanat untuk menjadi kepala di sebuah tim. Tentu saja, hal ini tidak bisa diterima baik oleh Bayern yang mana ingin menjajaki diri sebagai tim terbaik di Eropa, bahkan dunia.

Di awal musim ini, Bayern sempat terseok-seok untuk menjalani liga, kemudian kurang baiknya performa di Liga Champions, tentu membuat presiden Bayern, Uli Hoeness geram, sehingga ia memanggil Heynckes sang RED (Retired Extremely Dangerous) untuk kembali bangun dari tidurnya. Alhasil semuanya pun dibenahi dengan kembalinya Bayern bertengger di pucuk sampai bisa melangkah ke semi-final Liga Champions.

Jupp Heynckes Memecut Kembali Pemainnya Untuk Mengerti, Kalau Menjadi Jawara Itu Tidak Bisa Santai-santai Sejak Dini

Watak keras yang dimiliki Heynckes membuat para punggawa Bayern terlucuti semangatnya. Ia kembali berpacu dan bergerak bagaikan kuda yang dipecut penunggangnya. Agar pemain kembali panas, seperti membangkitkan aroma semangat yang pernah tercipta saat menjadi jawara Eropa, Liga Lokal, dan Piala Liga. Terlebih lagi sebagian besar pemain yang ada saat ini pernah merasakan teknik kepelatihannya hingga mudah untuk Heynckes membangkitkan semangat tanpa perlu pendekatan lantaran hubungan sudah cukup erat.

Menghilangkan Standar Kepuasan Sejak Dini Seperti yang Diterapkan Ancelotti

Bentuk permainan yang dibangun Ancelotti memang berbeda. Permainan dibangun secara taktis hingga memaksimalkan serangan, dengan mencoba memetik keunggulan secara cepat terlebih dahulu. Ketika sudah unggul dengan selisih tiga gol, biasanya Munchen mulai merubah permainan cenderung bertahan dengan mencoba mengambil counter-attack.

Hal ini justru sangat disayangkan, ketika Bayern sedang panas-panasnya untuk menyerang malahan disuruh bertahan, sehingga timbul rasa cepat puas sedari dini. Pola pikir di lapangan seperti ini coba dirubah oleh Heynckes dengan mengutamakan kolektivitas bukan kemampuan individu pemain.

Saat Jupp Heynckes Datang, Bayern Kembali Senang. Suatu Hal Positif atau Negatif?

Berbicara soal positif dan negatif kedatangan orang kepercayaan memang sulit. Bagi Bung yang belum nyambung dengan maksud judul ini. Coba tengok tim macam Manchester United, yang kerap berjaya selama diasuh Sir Alex, Kemudian terseok-seok setelah gonta-ganti pelatih mulai dari David Moyes, Louis Van Gaal sampai Jose Mourinho belum mendapatkan formula ciamik yang membuat setan merah tampil konsisten.

Memang MU memiliki segudang pemain mumpuni tetapi tidak ada pelatih hingga saat ini yang mampu menggabungkan dan membangkitkan permainana seperti dulu lagi. Apabila hal ini terjadi kepada Bayern Munchen tentu bakal disayangkan bukan? Justru hal ini harus menjadi perhatian serius bagi Bayern Munchen, lantaran memilih orang tepat itu sulit, jangan sampai bayang-bayang kejayaan hanya bisa dikenang namun tidak dilanjutkan.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Karena Penelitian Menyebut Kecerdasan Itu Sexy

Sebagian orang masih mengasosiasikan “pintar dan cerdas” itu dengan tampilan kaku macam kutu buku. Padahal sesungguhnya saat ini banyak tokoh-tokoh yang lekat dengan kecerdasan macam Elon Musk atau Mark Zuckerberg yang justru dianggap menarik dan sexy.

Beberapa penelitian juga bahkan menunjukan hal ini. Salah satunya adalah penelitian yang digagas psikolog Gilles Gignac, Joey Darbyshire, dan Michelle Ooi dari University of Western Australia. Mereka menemukan bahwa orang-orang dengan IQ tinggi memiliki skor tinggi dalam hal keseksian ketika dinilai oleh orang lain.


“Kecerdasan” Menjadi Faktor Kedua Daya Tarik Setelah “Kebaikan”

Penelitian tentang kecerdasan dan daya tarik di atas melibatkan sedikitnya 10 ribu peserta dari 33 negara di dunia. Salah satu temuan menariknya adalah para peserta penelitian menempatkan “smart” di nomor dua sebagai daya tarik.

Posisi ini hanya dikalahkan oleh faktor “kebaikan dan pengertian” yang menempati urutan nomor satu. Jadi sesungguhnya dengan menjadi baik dan terus melatih kecerdasan sudah bisa membuat orang lain tertarik kepada kita.

Salah Satu Indikator Kecerdasan Adalah Selera Humor

Dalam penelitian itu juga ditanyakan mengenai indikator apa yang digunakan untuk menilai seseorang cerdas atau tidak. Sebagian menyebut bahwa salah satu indikator yang digunakan untuk menilai kecerdasan seseorang adalah selera humornya.

Karena mereka yang cerdas selalu berpikiran terbuka dan orang yang berpikiran terbuka ini cenderung punya selera humor yang baik. Mereka yang smart juga dikatakan tidak akan mudah tersinggung dan aspiratif terhadap ide-ide baru.

Tak Cuma Pada Individu, “Smart Dan Sexy” Juga Kini Diterapkan Pada Hal Lain

Perpaduan menarik ini tak cuma ditemui dalam urusan penggambaran individu seseorang. Karena kini banyak sektor juga menerapkan konsep ini. Coba tengok misalnya gadget yang selalu menemani kita.

Dahulu mungkin handphone hanya digunakan sebagai alat komunikasi suara dan teks. Kini perkembangannya sudah jauh lebih dari itu. Mulai dari mengakses internet, sosial media, pesan makanan, penunjuk arah hingga fungsi lainnya yang dulu hanya impian.

Tapi toh kamu juga tak mau hanya menggunakan gadget yang cerdas saja bukan? Begitu banyak pilihan ponsel cerdas, tentunya kamu juga memilih yang di desain menarik lagi sexy. Karena hal tersebut juga menunjukan jati diri.

Bahkan Meluas Hingga Urusan Tata Kota Juga Tersentuh Unsur Kecerdasan

Familiar dengan istilah Smart City? Yup inilah konsep yang diinisiasi oleh Suhono S. Supangkat dari ITB. Kota tak lagi hanya menjual soal “keindahan dan kecantikan” namun juga harus bersifat smart.

Menurutnya, Smart City adalah kota yang bisa mengelola Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM) dan sumber daya lainnya sehingga warganya bisa hidup nyaman aman dan berkelanjutan.

Seperti adanya transparansi dan partisipasi publik, transportasi publik, transaksi non tunai, manajemen limbah, energi, keamanan, data dan informasi. Hal ini dapat didukung melalui teknologi informasi dan komunikasi. Terbayang menyenangkannya hidup di kota yang di tata macam ini bukan?

Tak Mau Ketinggalan, Urusan Kendaraan Juga Harus Mengadaptasi Ini

Soal “smart dan sexy” ini juga merambat ke urusan kendaraan. Mengingat hal ini melekat dengan kita dan digunakan juga untuk berativitas sehari-hari. Wajar rasanya jika konsep ini juga diterapkan pada kendaaraan kita.

Ambil contoh Yamaha Lexi yang mengusung konsep “Smart is The New Sexy” yang bermakna bahwa sexy tidak hanya tentang penampilan melainkan tentang karakter, sikap dan pola pikir yang Smart. Yamaha Lexi mempunyai 3 pilar konsep Utama

Untuk Smart & Sexy Design, Motor ini mengkombinasikan unsur Luxury dan Elegan dengan bobot yang paling ringan di kelas MAXI YAMAHA. Tampilannya yang berkelas ditunjang desain lampu Grand LED Headlight ditambah eye line biru yang menawan memperkuat kesan mewah dan elegan. Apalagi untuk tipe Lexi-S, desain joknya  memadukan dua tekstur kombinasi yang disatukan dengan motif jahitan elegan membuat tampilan motor menjadi lebih berkelas.

Tak cuma tampilan karena yamaha Lexi ini punya Smart Features. Untuk Varian Yamaha Lexi-S dibekali fitur Smart Key System yang merupakan sistem kunci tanpa anak kunci alias keyless. Kunci ini juga sudah disematkan fitur Immobilizer dan Answer Back System untuk memudahkan pengendara mencari posisi parkir motor.

Berkendara dalam jarak jauh juga kini tidak perlu khawatir karena Yamaha Lexi memiliki bagasi yang luas dan lega untuk menampung barang bawaan lebih banyak. Apalagi, Yamaha Lexi menjamin pengendara tetap terhubung melalui Smartphone karena dilengkapi Electric Power Socket untuk mengisi daya gadget.

Urusan dapur pacu diserahkan pada Smart Engine. Dari segi performa mesin, Yamaha Lexi menggunakan mesin generasi baru Blue Core 125 cc yang disempurnakan Variable Valve Actuation (VVA). Mesin ini secara cerdas akan membuat aksi berkendara lebih efisien, bertenaga dan handal dengan tenaga dan torsi maksimum di setiap putaran mesin. Apalagi Yamaha Lexi dilengkapi Liquid Cooled 4 Valves (LC4V) yang membuat suhu mesin lebih stabil dan performa lebih maksimal.

Tak berhenti disitu Yamaha Lexi dibekali fitur canggih Stop & Start System (SSS) berfungsi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar yang tidak perlu pada saat motor sedang berhenti. Apalagi ditambah Smart Motor Generator (SMG) membuat suara motor lebih halus saat dinyalakan. Kalau masih penasaran soal motor satu ini kamu bisa lihat detailnya di halaman ini!

Jadi bagaimana? Kamu sudah siap mengikuti trend smart is the new sexy ini?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kisah

Mursyid Effendi Tentang Piala Tiger 1998 : “Semua Cuci Tangan, Saya Menanggung Cacian”

Kalah menang itu biasa dalam sepak bola, air mata dan teriakan gembira bisa tergambar dari raut wajah yang mendukung di sudut tribun atau layar kaca. Tetapi kita tidak pernah tahu, bagaimana raut wajah pendukung saat menyaksikan pertandingan yang tidak murni atau settingan. Mari bung kita napak tilas balik ke Piala AFF masih bernama Piala Tiger tepat di tahun 1998. Di mana Indonesia dan Thailand memainkan sepak bola gajah.

Di Indonesia istilah sepakbola gajah merujuk kepada pertandingan settingan. Asal mula muncul istilah sepak bola lahir pada 1988 saat pertandingan Divisi Utama era Perserikatan 1987/1988 antara Persebaya melawan Persipura. Saat itu Persebaya ‘mengalah’ dengan skor 0-12 demi melancarkan balas dendam kepada PSIS Semarang.  Lantaran pada Divisi Utama Perserikatan 1985/1986 tim berjuluk bajul ijo tersebut merasa dikecawakan karena PSIS menyerah kepada PSM Makassar yang menjadi pesaing utama Persebaya sehingga tidak bisa lolos ke babak 6 besar.

Di laga Persebaya berpura-pura kalah dari Persipura dipimpin wasit yang berasal dari Lampung, yang terkenal dengan daerah di mana banyak menampilkan pertandingan gajah yang dikendalikan seorang pawang yang bisa mengatur skor. Balik lagi ke Piala Tiger 1998 yang sudah harus kita kenang. Lantaran itu merupakan corak sepak bola yang memalukan bagi Asia Tenggara dan juga Indonesia.

Ketika Kemenangan Tidak Dicari Dalam Suatu Pertandingan

Sumber : Goal.id

Ada beberapa alasan kenapa Piala Tiger 1998 dikenang, karena ini menjadi sejarah yang amat memalukan bagi sepak bola Indonesia, sekaligus mencoreng nama sepakbola Asia Tenggara. Untuk itu, hal ini mengajarkan kita bahwasanya ada kalanya sepak bola memang mahal mengenal kata kemenangan. Seolah kemenangan bukan lagi harga mati.

Pada pertandingan ketiga di penyusuhan grup saat Indonesia dan Thailand saling berpapasan, mereka seperti memiliki skenario yang sama untuk menghindari juara grup Vietnam karena dianggap lawan berat, apalagi kala dihadapi di laga semi-final.

Padahal persepsi sang juara seharusnya menghadapi siapa saja lawan di di depannya bukan menghindarinya bukan?Alhasil lewat persepsi inilah timbul untuk tidak mencari siapa yang menang, sehingga kedua tim memainkan sepakbola yang sangat amat membosankan.

Permainan Negatif Ditampilkan, Sampai Pemandangan Seorang Kiper Maju ke Depan

Sumber : Istimewa

Ketika sepakbola berjalan ke arah settingan, barang tentu yang disajikan pasti membosankan. Indonesia dan Thailang pun merotasi beberapa pemain inti, saat pertandingan pertama berjalan konon katanya itu sangatlah tidak jelas. Kedua tim tidak berhasrat menyerang, Indonesia yang dua pertandingan sudah mengoleksi sembilan gol justru seperti lupa bagaimana cara menbobol gawang lawan.

Belum lagi di babak kedua, kiper Indonesia saat itu Hendro Kartiko kerap maju ke depan bahkan sempat menciptakan satu peluang dengan tendangan ke jalan lawan. Hendro saat itu, memainkan peran seperti Manuel Neuer di Piala Dunia 2018 lalu saat menghadapi Korea Selatan. Melihat itu semua, tentu membuat semua orang keheranan dengan pertandingan yang berlangsung.

Hingga Akhirnya Ada Satu Sosok yang Memutuskan Memikul Tanggung Jawab

Sumber : Juara.net

Setelah dua babak berjalan skor pun imbang 2-2 namun pluit panjang belum dibunyikan. Usaha Thailand untuk menahan imbang nampaknya sia-sia.  Mursyid Effendi membuat skor menjadi 3-2 di menit ke-90. Eitss, tapi gol tersebut bukan keunggulan bagi Indonesia, melainkan ia mencetak gol bunuh diri! Hendro Kartiko pun terpaku saat Mursyid Effendi menyepak ke gawang sendiri, seolah-olah ia tidak melihat bola saat mengalir ke jala gawangnya.

Anomalinya lagi, saat itu Stadion Thong Nhat Vietnam hampir kosong melompong alias tidak ada yang menyaksikan. Sebuah gol harusnya dirayakan oleh salah satu tim yang diunggulkan, namun di pertandingan tersebut Yusuf Ekodono sang gelandang Timnas justru yang bertepuk tangan. Sementara itu, salah seorang pemain Thailand langsung mengambil bola dari gawang Indonesia. Alih-alih ingin menyamakan kedudukan, tapi sayang Thailand tidak punya memiliki waktu lagi.

Hasil yang Memalukan Mengundang Banyak Kecaman

Sumber : Indosports.id

Pertandingan yang sangat memalukan dengan penuh skenario pengecut itu, akhirnya mengundang amarah banyak orang. Penduduk Vietnam melakukan demonstrasi di depan Hotel Kimdo tempat timnas Indonesia menginap. Seruan yang santer terdengar saat itu meminta Menteri Olahraga Vietnam untuk menghimbau AFC maupun AFF agar pertandingan dibatalkan dan kedua negara diberikan sanksi yang tegas.

Mendapatkan kecaman di negara tetangga atas pertandingan yang tidak fair, juga sampai ke Indonesia. Dilansir dari FourFourTwo, redaksi koran olahraga terbesar di Indonesia saat itu, Koran BOLA yang baru saja tutup usia beberapa bulan lalu, mendapat sejumlah telpon, email, faksimile guna megecam sandiwara yang dilakukan pemain Indonesia. Federasi macam PSSI pun diserang para pecinta sepakbola, sehingga Ketua PSSI saat itu Azwar Anas mengundurkan diri.

Kecaman itu ternyata tidak mempengaruhi kedua tim, Thailand dan Indonesia bisa melangkah ke semi-final. Namun mendapatkan karma karena Indonesia menyerah 1-2 dari Singapura dan Vietnam melibas Thailand tiga gol! Singapura yang menjadi incaran untuk bertemu di Semi-Final lantaran tak dianggap tim unggulan menjadi juara di edisi 1998, dan ini menjadi hantaman keras bagi kedua negara yang meremehkan.

Pengakuan Mursyid Effendi Menjadi Korban yang Dibela di Awal Lalu Dicampakan Di Akhir

Sumber : Bolasport.com

Naas bagi Mursyid Effemdi yang menanggung cacian seumur hidup atas gol bunuh diri yang dibuatnya. Ia buka suara bahwa ia jengkel dengan permainan negatif yang dipraktekkan Thailand. Masih dilansir dari FourFourTwo, ia juga menambahkan tetapi itu bukan alasan utama, tetapi adanya bentuk support dan kepedulian membuatnya rela melakukan hal yang mencoreng nilai fair play tersebut. Tetapi tidak sampai sebulan semua orang yang katanya bakal ada di “belakang” Mursyif Effendie malah menghindar.

“Menilik pengalaman saya sendiri di Vietnam waktu itu, semua komponen – ya, manajer, pelatih, dan pemain – satu suara, setuju. Tak lama setelah pertandingan mereka masih memberikan dukungan, siap bertangggung jawab. Maka saya masih baik-baik saja setelah pertandingan itu. Bahkan sempat ada permintaan maaf kepada keluarga setelah kembali ke tanah air. Tapi jarak sebulan, semua cuci tangan. Pelaku yang akan menanggung cacian dan hujatan seumur hidup,” ujarnya dilansir di laman yang sama.

Bendera kuning bertuliskan Fair Play di tengah lapangan, bukan sekedar seremoni atau tampilan belaka. Tetapi itu harus dihormati dan dijalankan agar pertandingan tidak berjalan ke arah yang kurang sportif. Piala Tiger 1998 tentu harus kita kenang dan dijadikan pelajaran karena ini merupakan aib yang tak boleh terulang. Bahkan bung-bung sekalian mungkin berfikiran, kejadian inilah yang membuat Indonesia terkena kutukan sulit menjadi juara di ajang sepakbola Asia Tenggara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Rivaldo Ferre Mendapatkan Puja Puji Media Asing

Laga terseru berbalut drama tersaji dalam lanjutan Piala Asia U19 2018 yang mempertemukan tim kesayangan kita Timnas Indonesia U19 yang berhadapan dengan Qatar U19. Meskipun kalah dengan skor tipis nan mencolok 6-5. Indonesia mendapatkan pujian terutama aksi dari super sub Todd Rivaldo Ferre yang kebanjiran pujian dari berbagai kalangan. Media asing yang menyanjungnya adalah Fox Sports Asia.

“Seorang pemuda berusia 19 tahun dari Jayapura tampil begitu mengesankan serta hampir saja membuat Indonesia terinspirasi untuk membuat comeback yang epik.” tulis Fox Sport Asia.

Aksi Rivaldo Ferre di laga tersebut memang menakjubkan, satu gol dicipatakan dari bola mati, dan dua gol dilesatkan setelah memporak-porandakan pertahanan Qatar dengan gocekan yang ciamik. Namun sayang Hat-trick yang diciptakannya tak mampu mengejar ketertinggalan Indonesia. Lewat kerja keras dan aksi menawan, Fox Sports Asia menyebutkan kalau Rivaldo Ferre menjadi penampil Individu terbaik sepanjang sejarah. Pasalnya  Indonesia dari tertinggal 6-1 bisa mengejar menjadi 6-5.

“Meskipun pada akhirnya (Indonesia) gagal comeback, kameo brillian Todd Rivaldo akan diingat sebagai salah satu penampilan individu terbaik dalam sejarah Piala Asia U-19,” tulisnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kisah

Bayangkan apabila Tim Luar Biasa Ini Tidak Berpencar Punggawanya, Pasti Kini Sudah Besar

Sebuah dongeng perihal upaya merangkai tim berlabel debutan, atau kuda hitam namun menjelma menjadi kekuatan baru mungkin dapat Bung temui lewat sebuah film Damned United, yang menceritakan tentang kisah nyata dari Brian Clough kala membuat Nottingham Forest menjadi jawara di Eropa era 80-an. Setelah dua tahun back to back champions di Liga Champuons, kisah tentang Nottigham Forest tenggelam. Tak ada lagi tim yang dulu berlabel raja Eropa di era sekarang. Keperkasaan pun hanya tinggal kenangan.

Nottingham Forest hanyalah satu dari sekian contoh, kalau setiap tim punya potensi untuk jadi luar biasa, tak hanya yang dinobatkan sebagai tim besar macam Real Madrid, Juventus, Manchester United, sampai Barcelona. AS Monaco pun sempat  menunjukan taji di musim 2016/17 saat mampu tembus semi-final dan mampu bersaing dengan PSG, sebuah tim yang kaya raya.

Namun setahun berselang para pemain andalan pindah. Bernardo Silva, Benjamin Mendy, Tiemoue Bakayoko, dan Kylian Mbappe hijrah ke Manchester City, Chelsea, dan PSG. Tiga klub terboros di Eropa. Andai pemain andalan ini tetap mempertahankan loyalitasnya di Monaco, mungkin Monaco bisa menjadi tim hebat yang menjadi kekuatan baru di Eropa. Sampai-sampai muncul akun @ASMonaco_Indo di Twitter seking kepincutnya. Namun tak hanya Monaco saja, banyak tim lain yang nasibnya tak jauh berbeda.

AS Monaco Musim 2003/04

Kepergian beberapa bintang Monaco, ternyata  pernah dilakukan era 2000-an. Kala itu AS Monaco diisi pemain berkualitas seperti Patrice Evra, Fernando Morientes, Jerome Rothen, dan Ludovic Giuly. Secara mengejutkan di musim Liga Champions musim 2003/04 mereka berhasil menembus babak final Liga Champions, namun sayang harus ditundukkan oleh FC Porto dengan skor meyakinkan 3-0 (kala itu FC Porto diasuh oleh Jose Mourinho).

Keempat pemain pun pergi setelah kekalahan tersebut, hanya Evra saja yang bertahan. Jerome Rothen berlabuh ke PSG, Morientes pindah ke Liverpool, Ludovic Giuly dijual ke Barcelona. Sejak saat itu AS Monaco benar-benar kehilangan taji sebagai tim besar. Meskipun tidak bubar.

Ajax Musim 2003/04

Jika menyebut tim Belanda yang sukses di Eropa, otomatis tertuju kepada Ajax Amsterdam. Di era 90-an Ajax merupakan klub yang layak diperhitungkan karena filosofi permainanya mampu meluluhlantahkan lawan. Jelas saja, kejayaan dapat diraih dengan sempurna. Tetapi masalah besar sekaligus anomali terjadi di generasi berikutnya.

Dihuni oleh Zlatan Ibrahimovic, Wesley Sneijder, Rafael van der Vaart, Jari Litmanen, Nigel de Jong, Thomas Vermaelen, Maxwell, dan Hatem Trabelsi tapi tak mampu berbicara banyak khususnya di Eropa. Semuanya dimulai dengn kepergian Ibrahimovic ke Juventus di tahun 2004, membuat ambisi mereka untuk meraih kesuksesan satu dekade lalu telah sirna. Di tahun-tahun berikutnya, Sneijder bergabung di Real Madrid di tahun 2007 dan hanya menyisahkan Vermaelen.

Parma Musim 1998/99

Mungkin bagi Bung yang tumbuh seiring Serie A Italia sebagai tontonan sepakbolanya, pasti mengenal Parma sebagai tim yang memiliki segudang talenta. Wajar saja keberhasilannya membuatnya berhasil meraih gelar Piala UEFA di tahun 1999. Bayangkan saja Parma melahirkan pemain terbaik seperti Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Lilian Thuram. Juan Sebastian Veron, dan Hernan Crespo, komunal para pesepakbola hebat di Eropa saat itu.

Keberhasilannya terlihat dari pencapiannya di luar klub. Thuram berhasil  memenangi Piala Dunia bersama Perancis. Selang beberapa tahun kemudian Cannavaro dan Buffon melakukannya bersama Italia. Crespo menjadi striker termahal dan Veron menjadi gelandang tengah yang dikagumi. Setelah itu Parma tak pernah lagi mendulang kesuksesan sepeninggalan mereka.

Borrusia Dortmund 2012/13

Asuhan Jurgen Klopp kepada Dortmund di musim itu sangat populer meskipun harus mengakhiri Liga Champions tahun 2013 di posisi runner up. Jadi tak ada cara fans untuk mengenang tahun itu seperti saat Dortmund juara kompetisi di tahun 1997.

Jahatnya setelah Bayern Munich berhasil unggul di laga All Germany Final tersebut, Die Rotern justru mencomot beberapa pemain andalan Dormun seperti Robert Lewandowski dan Mario Gotze. Setelah itu, Dortmund tak lagi berjaya meskipun Nuri Sahin, Marco Reus, dan Ilkay Gundogan telah memenuhi tim ini secara potensial.

West Ham Musim 2000/01

West Ham tak bisa dilewatkan dari daftar ini, karena tim inilah yang melahirkan algojo-algojo Inggris di masa depan. Sebuta saja Rio Ferdinand, Frank Lampard, Michael Carrik, Joe Cole, dan Jermain Defoe sudah menampilkan puncak permainanya kala di West Ham. Tetapi torehan kesuksesannya diraih di tim liga Inggris lainya.

Ferdinand dan Carrick memenangi Liga Champions 2008 bersama Manchester United; Lampard di tahun 2012 bersama Chelsea, dan di klub yang sama Joe Cole sukses menjadi finalis. Sementara Defoe membuktikan dirinya sebagai striker tajam di Premier League dan juga tim nasional Inggris.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top