Narasi

Gowok, Tradisi Jawa Ajari Pria Lebih Pandai Menyenangkan Perempuan dari Batin Hingga Ranjang

Ada sebuah tradisi bernama Tradisi Gowok bermula dari Tiongkok kemudian mendarat hingga ke Tanah Jawa. Belum banyak yang tahu mengenai tradisi ini, bisa dibilang tradisi ini merupakan sebuah tradisi untuk mengajari para remaja lelaki menjadi lelaki dewasa. Lantas apa yang menarik dari tradisi ini dan apa seluk beluk adanya tradisi ini?

Sebuah tradisi yang dibawa oleh wanita bernama Goo Wook Niang

Siapa Goo Wook Niang yang disebut sebagai pembawa tradisi Gowok ke Tanah Jawa? Dia adalah sosok perempuan asal Tiongkok. Nama Gowok diambil dari nama Goo Wook Niang karena orang Jawa pada zaman dulu sulit mengucap kata Goo Wook jadi disingkat Gowok saja.

Gowok sendiri adalah seorang wanita yang ditugaskan untuk mengajarkan remaja yang akan menikah atau yang sudah disunat segala hal tentang urusan rumah tangga termasuk urusan ‘menafkahi’ batin istrinya nanti. Kenapa demikian? Tradisi ini dimaksudkan agar seorang pria bisa bertugas dengan baik selama menjadi suami dan mampu membahagiakan istrinya termasuk dalam hubungan seksualitas.

Orang yang bertugas menjadi Gowok sendiri adalah wanita yang berusia 23-30 tahunan yang dipilih berdasarkan kesepakatan antar orangtua calon mempelai pria maupun wanita.

Dari urusan rumah tangga hingga urusan ranjang

Sebelum menikah, seorang remaja laki-laki akan berada dibawah asuhan Gowok selama beberapa hari dan paling lama satu minggu. Seorang Gowok akan mengajarkan pada remaja laki-laki yang akan menikah tentang bagaimana cara memperlakukan istri dengan baik di masa depan kelak.

Gowok pun akan mengajari sang remaja tentang pendidikan seksual saat ada di atas ranjang, agar saat malam pengantin nanti tidak merasa malu karena tidak bisa memuaskan istrinya kelak.

Selama masa “belajar”, seorang remaja lelaki hanya tinggal berdua bersama Gowok di dalam sebuah rumah

Menurut Ahmad Tohari dalam bukunya yang berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk”, seorang Gowok juga mengajarkan perihal bagaimana mengajak seorang istri ke pesta undangan agar tidak memalukan nantinya. Selama menjadi Gowok, dia akan terus tinggal dengan seorang remaja lelaki selama beberapa hari untuk mengajarkan ilmu yang diketahuinya hingga sang remaja lelaki benar-benar bisa mempraktikannya dalam kehidupan pernikahannya kelak.

Pendidikan seks masih tabu di mata masyarakat Indonesia

Terlepas dari tradisi Gowok yang konon sudah tidak dilakukan lagi oleh masyarakat Jawa. Dari keterangan yang sudah ada tentang tradisi Gowok, pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya pendidikan seks bagi pria. Pendidikan seks diperlukan agar sebagai manusia tidak salah memahami arti dari hubungan seksual yang dibutuhkan oleh manusia.

Tidak seperti di luar negeri yang telah terang-terangan mengajarkan pendidikan seks mulai dari usia anak-anak, hingga saat ini masih banyak masyarakat di Indonesia yang menganggap tabu tentang pendidikan seks. Hal ini karena sebagian masyarakat menilai, pendidikan seks merupakan hal yang bertentangan dengan norma dan agama.

Pendidikan seks sejak dini dapat berguna ketika sudah menjalani kehidupan rumah tangga. Tidak hanya soal hubungan intim saja, tapi juga untuk bisa diajarkan pada generasi penerusnya di masa depan.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Review

Karena Urusan kunci motor pun soal selera Bung

Tersematnya teknologi Keyless Ignition System sebelumnya pada Suzuki GSX-R150 memang memberikan suatu dobrakan dan fenomena di industri motor sport 150cc. Mengingat teknologi itu pertama di kelasnya ketika itu. Namun Terlepas dari hal tersebut, SIS selaku produsen Suzuki juga mendengar dan memenuhi permintaan dari konsumen lain yang memiliki karakter berbeda, dengan menyediakan Suzuki GSX-R150 menggunakan Shuttered Key System.

 

SIS melihat adanya celah permintaan pasar yang dapat dipenuhi oleh Suzuki GSX-R150 Shuttered Key System, dimana hal tersebut diamati dari kebiasaan dan suara konsumen yang masih lebih memilih menggunakan metode pengaman dengan sistem anak kunci yang lebih sederhana dan bekerja secara mekanis. Meski demikian, tuntutan terhadap jaminan kemanan tetap diprioritaskan demi ketenangan dan kenyamanan memiliki motor sport DOHC 150cc yang sedang digandrungi tersebut.

Sambil menemani keberadaan penjualan Suzuki GSX-R150 varian Keyless Ignition System saat ini, SIS memproduksi varian Shuttered Key System dengan komposisi secara khusus sebanyak 15% dari total produksi GSX-R150 setiap bulan. Dengan demikian, calon konsumen bisa memiliki pilihan lebih banyak sebelum memutuskan pilihannya.

Secara spesifikasi sendiri tidak ada perbedaan antara GSX-R150 varian Keyless Ignition System dan varian Shuttered Key System, kecuali hanya pada sistem kunci pengaman dan ketersediaan pilihan warna saja. Alhasil, SIS memberikan pilihan produk yang lebih terjangkau bagi calon konsumen yang sudah tidak sabar ingin memiliki Suzuki GSX-R150, yaitu dengan harga Rp 28.900.000,- (On The Road DKI Jakarta). Terdapat 3 warna menarik yang dapat dipilih sesuai selera konsumen, antara lain Brilliant White, Stronger Red/Titan Black dan Solid Black/Gloss. Sebagai bonus pembelian, SIS juga melengkapi anak kunci GSX-R150 dengan keyholder Suzuki.

“GSX-R150 dengan Shuttered Key System yang kami luncurkan ini menjadi penanda keseriusan Suzuki untuk terus memperbanyak pilihan varian maupun model sepeda motor Suzuki lainnya di tahun 2018 ini. Kami mencoba untuk menjawab satu-per-satu permintaan konsumen Suzuki yang berada di wilayah-wilayah lain, dimana menjadi pangsa pasar utama untuk GSX-R150 Shuttered Key System ini. Dengan harga lebih ekonomis, konsumen tetap bisa memiliki Suzuki GSX-R150 yang berkualitas dan menjadi pilihan bikers masa kini.” tutup Yohan Yahya – Sales & Marketing 2W Department Head PT. SIS

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Dating & Relationship

Kalimat Yang Memikat Hati Si Nona, Tidak Gombal Tapi Sedikit Nakal

Tidak hanya terlihat dari perlakukan dan perhatian saja namun laki-laki juga terkadang dapat memikat hati lawan jenis lewat kalimatnya. Bukan sebagai bentuk gombal atau rayuan. Tetapi kalimat yang disuguhkan merupakan bentuk kejujuran apa yang dirasakan oleh laki-laki kepada perempuan. Lucunya, banyak perempuan yang tahu kalau laki-laki itu rata-rata gombal, tapi masih saja termakan dengan gombalannya kan?

Tapi kalimat ini sekali lagi bukanlah suatu gombalan Bung. Ditengarai dapat memikat hati si nona dengan membuat mereka terkapar lemas di setiap akasara. Meskipun tidak terlalu puitis bahkan terkesan nakal, tapi kenakalannya juga masih sah saja dalam ruang lingkup berhubungan tanpa ada unsur mendiskreditkan. Yang jelas, kalau Bung praktekkan bisa jadi si nona akan tersipu malu. Nggak percaya?

“Kamu Selalu Seksi Setiap Hari…”

Tiap hari si nona tampil menawan dengan gaun yang memperlihatkan beberapa lekuk tubuhnya, bahkan tanpa gaunnya saja nona selalu membuat Bung terheran-heran karena selalu mempesona. Hingga Bung tidak sabar untuk menyangjungnya. Kalimat, “Kamu seksi setiap hari…” menjadi ucapan yang ditunggu-tunggu oleh nona? Ya bisa saja, sebab ia tentu ingin orang terdekatnya menyadari kemolekan tubuhnya.

Meskipun seksi agak menyerempet dengan hal-hal yang sedikit nakal. Itu tidak membuat si nona merasa malu karena dijadikan objek tertentu, tanpa perlu disebutkan Bung tahu lah kalimat ini mengarah ke mana. Tapi si nona merasa percaya diri karena ia tidak tampil perlu tampil berlebihan untuk mendapatkan pujian akan keindahan tubuhnya.

“Aku Ingin Memelukmu Dari Belakang,”

Beberapa adegan film Hollywood yang bergenre romantis, pasti ada saja bagian film yang memperlihatkan perempuan dipeluk dari belakang oleh laki-laki. Bahkan tak hanya memeluk saja, tapi kecupan di pipi juga ditambahkan sebagai satu paket istimewa yang kerap dilakukan laki-laki. Biasanya adegan film ini selalu muncul di setiap scene pagi hari.

Bisa salah atau benar, mungkin saja si nona ingin dipeluk dari belakang seperti adegan film Hollywood yang menjadi konsumsi visualnya. Karena di film Hollywood adegan tersebut dibungkus hal yang romantis, bisa jadi membuat si nona berfikiran tentang bagaimana sensasi dan kesannya ketika dipeluk dari belakang. Tak pelak, adegan ini juga menjadi intro di beberapa film sebelum berakhir di ranjang.

“Aku Ingin Mencium Kening Dan Bibirmu…”

Mencium memang agak sensitif karena banyak tafsir yang menyebutkan apa bedanya ciuman yang dilakukan di bibir dan di kening. Ada yang bilang ciuman yang dilakukan di kening lebih kepada rasa sayang dan rasa tak ingin kehilangan atau cinta yang tulus, sedangkan di bibir hanya memperlancar arah nafsu laki-laki belaka.

Kedua hal itu tidak dapat dipastikan. Namun, si nona bisa saja senang ketika Bung mengatakan ingin memberikan ciuman meskipun terkesan liar, apa lagi yang dilakukan di bibir. Bahkan menurut 1health.id, produksi hormon oksitosin atau hormon bahagia dapat dipicu melalui sebuah ciuman. Jadi tidak hanya membuat si nona malu karena Bung membujuk untuk melakukan sentuhan bibir, tapi juga bisa membangkitkan rasa bahagianya.

“Nyaman Ketika Berpelukan Denganmu Sambil Tiduran,”

Banyak hal romantis yang dapat dilakukan setiap pasangan salah satunya adalah cuddling, berpelukan mesra di ranjang ini memang menimbulkan rasa nyaman. Bahkan kerap dilakukan sehabis melakukan hubungan intim Bung. Si nona memang paling senang ketika dipeluk. Karena dekapan mesra yang diberikan memberikan kesan melindungi dan menghangatkan.

Ketika Bung mengatakan “Nyaman ketika berpelukan denganmu sambil tiduran,”, kemungkinan besar si nona merasakan hal yang sama seperti yang Bung rasakan. Karena dekapan mesra memang kegiatan romantis yang paling syahdu.

“Aku Kangen Kamu.”

Kalimat “Aku kangen kamu.”, memang simpel dan standar namun memiliki makna yang mendalam untuk yang mendengar. Rasanya, orang yang dirindukan adalah pribadi yang selalu diharapkan ada dan dirindukan setiap waktu. Apa lagi ketika si nona mendengar kalimat ini, langsung dari bibir anda Bung. Otomatis ia akan merasa menjadi orang  yang teristimewa.

Mengutarakan rasa kangen kepada nona terkadang selalu disalahartikan oleh beberapa orang, bahwa kangen sebenarnya rasa ingin berhubungan intim yang dihaluskan. Walaupun tidak semuanya seperti itu, tetap saja ada kesan nakal jadinya ketika seseorang ingin mengutarakan rasa rindu.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Inspiring Men

Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap

No Pict Hoax! Bung masih memegang teguh istilah ini? Yakin kalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar bisa dipastikan sebuah informasi tersebut valid dan pasti bukan berita bohong? Coba bung simak foto di bawah ini!

Foto itu memang sempat bikin heboh jagat maya. Malah beberapa media massa besar sempat kecele berat dan berpikir peristiwa tersebut asli terjadi. Yup, foto itu tak benar-benar ada. Foto itu hasil kreativitas digital imaging seorang Agan Harahap.

Yup, Agan Harahap adalah seniman visual kontemporer yang bergerak di bidang manipulasi foto. Ia bukan hanya sekedar tukang edit foto yang kini mulai marak bertebaran di internet. Karyanya sudah dipamerkan di beberapa lokasi bahkan hingga ke manca negara macam Singapura, Cina, Portugal hingga Jerman.

Apa yang membedakan karya Agan dengan yang lainnya? Layaknya seniman adiluhung jaman dahulu, ia merespon kejadian di sekitarnya dan menuangkannya dalam karya. Jadi karya-karya Agan tak sebatas mengedit foto dan memanipulasinya, tapi Agan berbicara mengenai kondisi situasi sosial sekitarnya. Ia berusaha menangkap realita sekaligus memadukannya dengan harapan orang-orang sekitarnya.

“Posisi seniman kontemporer itu jelas. Intinya memang merespon tentang apa yang terjadi di era itu. Contohnya ketika agama mendominasi semuanya, maka gambar pada era Caravaggio atau Michelangelo tiba-tiba isinya ketuhanan semua. Lalu kenapa tiba-tiba gambarnya Van Gogh adalah impresi? Ya karena eranya memang sedang begitu. Saya juga seperti itu. Saya mendapatkan semua isu dari timeline, dan saya kembalikan lagi ke timeline” Tutur Agan ketika kami menemuinya di sebuah kamar hotel di bilangan Jakarta.

Maka jangan heran kalau image yang diolah Agan selalu mengundang decak kagum sekaligus cercaan sebagian orang lainnya. Karena meski image yang diolah hasil manipulasi, namun ide dan ceritanya terasa dekat dengan situasi yang sedang terjadi. Apalagi hasil editan Agan memang sangat halus dan membuat mata sulit membedakannya dengan yang asli.

Uniknya Agan mempelajari keahliannya secara otodidak. Bahkan bisa dibilang awal perkenalannya dengan olah foto dan digital imaging termasuk “kurang ajar”. Semua diawali ketika ia kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual. Ketika itu salah satu mata kuliahnya memberikan tugas fotografi.

Masalahnya, pria batak satu ini membenci fotografi dan lebih doyan menggambar. Ia bahkan tidak bisa memotret dan tak punya kamera. Nah, agar bisa lulus mata kuliah tersebut, hasil karya temannya yang tak terpakai dipinjamnya dan dia klaim sebagai karyanya. Dari situlah ia belajar mengedit brightness, contrast, hingga akhirnya belajar cara menyeleksi, memotong, lalu memindahkan ini-itu.

Aksi ‘nakalnya’ ini berlanjut ketika ia memasuki dunia kerja. Salah seorang kawannya menawarinya untuk menggantikan posisinya itu sebagai fotografer di Majalah Trax. Padahal hingga saat itu pun, Agan belum juga menguasai fotografi. Bukannya menolak, ia malah mengiyakan tawaran ini. Kembali main akal-akalan, ia meminjam portofolio temannya yang fotografer sungguhan. Dan gawatnya ia malah lolos seleksi dan dipanggil ke majalah tersebut untuk di interview.

“Temen-temen gua tahu kalau gua nggak bisa motret. Cuma gua waktu itu diminta buat gantiin temen gua di Trax, namanya Bayu Adhitya. Akhirnya gua pinjem portofolio temen-temen gua dan gua persentasiin di depan user MRA (perusahaan yang membawahi Trax) sekaligus fotografernya, Harry Subastian. Tiba-tiba gua malah dipanggil, ya mati lah gua haha jadi fotografer tapi gua nggak bisa motret haha,” Celoteh Agan.

Namun pada akhirnya Agan mulai kesulitan main kucing-kucingan soal skill fotografinya ini. Meski dari diterima kerja hingga setahun berlalu foto hasil manipulasi editannya berhasil lolos dan ditayangkan di majalah tersebut, tapi Agan mulai bermasalah menjawab pertanyaan orang-orang sekitarnya.

“Ketika gua selesai motret, mas Harry atau yang gua potret langsung minta lihat hasilnya di kamera. Gua selalu ngeles dengan alasan ‘rahasia perusahaan’. Padahal gua melakukan itu karena nggak PD (Percaya Diri) sama hasilnya. Soalnya gua ngaco banget motretnya. Hari pertama gua bertugas saja, gua tidak tahu cara menyalakan lampunya. Pokoknya gua motret pakai mode auto saja. Makanya gua selalu membawa komputer ke mana-mana untuk edit foto sampai naik cetak, selalu begitu,” ungkap Agan sambil tertawa.

Dari sinilah akhirnya Agan mulai belajar soal fotografi. Seperti setting lampu studio, mensinkronisasikan dengan kamera dan teknik lainnya. Karyanya pun makin ciamik dengan keahlian memotretnya tersebut.

Dengan makin sulitnya membedakan karyanya dengan foto asli, Agan juga sadar penuh bahwa karyanya harus bisa dibedakan dengan akun-akun penyebar Hoax yang gemar mengedit gambar. Untuk itu ia selalu melengkapi foto hasil editnya dengan narasi yang menggelitik sekaligus memberikan petunjuk bahwa foto tersebut hasil digital imaging. Narasi ini juga memperkuat realita dan harapan yang ada di masyarakat.

“Kalau gua nggak bedain apa bedanya gua dengan akun hoax. Seperti ketika gua mengedit foto Habib Riziq dengan Raja Salman. Karena gua ngelihat beberapa media yang mengatakan kalau Raja Salman ke indonesia mau ketemu Habib karena dia adalah keturunan Nabi Muhammad, tapi kan nggak mungkin dong. Karena tujuan kunjungannya sebenarnya ingin ketemu Jokowi. Akhirnya dengan ada berita seperti itu, berarti kan ada harapan. Ya harapan mereka gua wujudkan, (tapi) dengan klue Lion Air (Raja Salman naik Lion Air). Ya harusnya orang berpikir, nggak mungkin sekelas Raja naik Lion Air. Tapi sudah diberi clue seperti itu pun banyak yang ‘kemakan’ sama foto gua,” imbuhnya.

Pada intinya Agan hanya berusaha menggambarkan situasi yang terjadi di sekitarnya. Menangkap harapan sekaligus realita yang ada di tengah-tengah masyarakat. Dan bicara soal harapan bisa jadi itu postif maupun negatif. Ada saja misalnya harapan untuk lawannya ‘terpeleset’.

“Ketika ada foto Habib dan Ahok bersalaman, banyak yang bilang, “Hoax nih! Fitnah nih!” Padahal gua bukan mendobrak norma, cuma menggali norma yang telah terlupakan. Seperti persahabatan islam sama kristen yang sudah terjalin sejak dulu. Ketika ada foto Ahok dipeluk Megan Fox dan dicium Miley Cyrus, wah Ahokers marah-marah, ‘Bohong nih!’ sementara kubu satunya bilang, ‘Nih buktinya’. Nah di wilayah macam itu lah saya selalu. Kadang-kadang saya memberi harapan supaya benar-benar terjadi, tapi kadang memancing supaya jadi perang. Gua selalu mencampurkan air dan api di karya-karya gua ” tuturnya santai.

Mengingat ‘panasnya’ area seni yang dijalaninya, Agan selalu memikirkan masak-masak karya yang akan ditelurkannya. Ia berusaha memahami batasan-batasan dan bahasa-bahasanya, apakah terlalu vulgar atau tidak. Dengan berusaha memikirkan batasan ini, karya Agan malah seringkali di apresiasi oleh ‘korbannya’.

Salah satu karya yang membawa imajinasi adalah ketika Agan mengunggah foto editannya bersama James Hatefield, vokalis Metallica yang sedang party di apartemen lewat blog pribadinya. Berselang sekian tahun, Agan justru berkesempatan bertemu dengan Metallica secara langsung. Dengan berani Agan menujukan hasil edit fotonya kepada personil Metallica.

“Gua kasih liat foto editan gua pas Robert Trujillo foto bareng Jusuf Kalla dan dia jawab I dont remember, where you taken this?” katanya sambil tertawa.

Demikianlah bung seharusnya meresapi karya seni yang ditelurkan Agan Harahap. Melihatnya sebagai gambaran situasi dan harapan yang terjadi di tengah masyarakat, tanpa melihatnya sebagai senjata untuk menyerang lawan. Ketika kita memperlakukannya demikian, bisa jadi kita malah akan tersenyum ketika menyadari bahwa kita telah dimanipulasi oleh Agan Harahap.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Health & Personality

Menjadi Laki-Laki Sejati Tidak Hanya Soal Menepati Janji, Tapi…

Menjadi lelaki sejati tak melulu soal janji, seberapa besar ia dapat menepatinya tak perlu dijadikan parameter kesejatian lelaki. Sejati memiliki arti murni dan tulen. Ketika berbicara soal sejatinya laki-laki, berarti menyinggung soal ketulenan dan juga merujuk kepada sifat.

Mungkin boleh saja kalimat laki-laki harus menepati janji dipakai sesama kaum adam untuk membuktikan seberapa kuat ia dapat memegang janji. Namun, Bung juga harus paham jika yang namanya lelaki sejati juga berbicara soal sifat yang berada di dalam diri.

Seberapa besar Bung dapat menata diri menjadi pria seutuhnya dan sebenarnya adalah kunci menjadi laki-laki sejati. Bung, ketahuilah bahwa sikap laki-laki sejati itu lebih luas dan tidak kompleks selama Bung dapat mengembangkannya di dalam diri.

Putus Asa Bukanlah Pilihan, Tetapi Hanya Sebuah Opsi Yang Ditawarkan Dan Menjadi Pelarian Atas Kegagalan

Di jaman serba cepat ini, dengan segala tekanan dan tuntutan terkadang membuat rasa putus asa selalu membayangi diri. Kegagalan yang dialami, mengakibatkan mood dalam diri tak bisa bangkit. Sehingga butuh waktu menyendiri untuk sekedar berkontemplasi.

Namun putus asa tidak dapat dibenarkan, meskipun itu menjadi salah satu pilihan. Sebagai laki-laki sejati, buanglah semua rasa sakit hati karena urung meraih mimpi, jangan pula putus asa apabila gagal. Teruslah bangkit dan kejar semua impian. Jangan sampai berputus asa menjadi pilihan utama dalam hidup, karena itu hanyalah sebuah kebodohan.

Tumbuh Menjadi Dewasa Memang Tidak Menyenangkan, Tapi Itu Sudah Menjadi Kewajiban

Tengoklah keadaan sekitar, di mana semua hal yang Bung kenal tiba-tiba telah berubah. Seperti rumah, kondisi jalan sampai kawan. Ya, Bung sudah menua dan menjadi dewasa karena seketika lingkungan sudah berubah tanpa disadari. Janganlah Bung menjadi pribadi yang tidak mawas diri dan tak bisa dewasa. Dewasa memang membosankan karena penuh tanggung jawab bukan hiburan. Namun untuk menjadi laki-laki sejati, Bung tentu tak bisa berkelit dari hal ini.

Sebagai lelaki yang seutuhnya, Bung akan menjadi kepala keluarga. Membesarkan anak-anak, menjadi tumpuan dalam kehidupan. Dan tak mungkin kalau Bung hanya bersikap santai bak di pantas. Karena dewasa terkadang tak kenal umur, meski secara usia memang terlihat dewasa.

Keluarga Adalah Salah Satu Hal Kenapa Bung Dapat Hidup Hingga Hari Ini

Bung pun paham bahwa yang membesarkan Bung adalah lingkungan keluarga  yang memberikan sandang, pangan, papan, dan edukasi. Bung jelas tak bisa memiliki sikap acuh dengan tidak memperhatikan hal itu, terlebih Bung bukan anak kecil lagi.

Tingkatkanlah rasa kepedulian kepada keluarga, bahkan banyak sumber yang menyebutkan bahwa mafia-mafia di luar sana mencintai keluarganya sehingga identitasnya disembunyikan. Meski begitu, Bung tentu tak harus menjadi mafia, tetapi hal positif tersebut harus dijalani sebagai tanda terima kasih karena telah tumbuh sebagai lelaki yang tak lupa diri.

Menjadi Palang Pintu Ekonomi Untuk Keluarga, Meskipun Raga Tak Lagi Kuasa

Tak ada yang menyebutkan bahwa menjadi tumpuan keluarga adalah hal yang menyenangkan Bung. Karena demi menghidupi orang yang dikasihi, harus merelakan waktu untuk bekerja demi lancarnya roda ekonomi.

Rasa sakit yang dialami dan tingkat stres tak tertandingi pasti akan terobati melihat senyum dan tawa keluarga yang dikasihi. Bahkan rasa lelah dalam diri dapat dibagi dengan bercerita kepada seorang istri atau pun orangtua di rumah yang selalu menanti.

Komitmen Kepada Diri Sendiri Lebih Sulit Dijalani Daripada Sebuah Janji Yang Dibeberkan Setiap Hari

Komitmen memang tak mudah dijalani, tak hanya berbicara soal janji kepada orang lain, tapi juga pada diri sendiri. Janji selalu ada untuk keluarga, selalu bisa menafkahi entah apa pun pekerjaanya. Tetapi janji dengan diri sendiri tidaklah semudah memberikan janji kepada orang lain, karena ini merupakan tanggung jawab yang sulit dijalani.

Apabila Bung tak menjalani juga tidak ada yang merugi. Tak ada yang terbebani. Tetapi Bung harus mengetahui bahwa komitmen dengan diri sendiri adalah salah satu sifat lelaki sejati. Karena kembali lagi, lelaki sejati tidak hanya soal menepati janji. Tapi bagaimana Bung bisa menjalani, bahkan meski peluh belum kembali kering.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top