Health

Fibrilasi Atrium Lebih Banyak Terjadi pada Laki-laki Dibanding Perempuan

Alasan kenapa Fibrilasi Atrium lebih banyak terjadi terhadap laki-laki adalah karena permasalahan gaya hidup yang kurang baik, dibanding dengan perempuan. Apalagi peranan laki-laki yang menjadi tulang punggung keluarga, membuat jam tidur kerap kali digadai dengan waktu kerja. Belum lagi kecenderungan para laki-laki untuk merokok yang lebih tinggi, semakin menambah resiko terjadinya Fibriliasi Atrium atau FA itu sendiri, Bung.

FA sendiri merupakan kelainan irama jantung berupa detak jantung tidak regular yang sering dijumpai pada populasi dunia termasuk di Indonesia. Penderita FA memiliki risiko 5 kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan orang tanpa FA. Apalagi peningkatan populasi lansia akan membuat FA meningkat secara signifikan seperti di Indonesia.

“Di Indonesia akan terjadi peningkatan populasi usia lanjut yaitu dari 7,74% (tahun 2000) menjadi 28,68% di tahun 2050. Maka angka kejadian FA juga akan meningkat secara signifikan. Hal ini terjadi karena prevalensi FA meningkat menurut usia dan FA lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita,” ungkap dr. Daniel Tanubudi, Sp.JP (K) dalam ‘Konfrensi Pers Hasil Studi XANAP” yang dilakukan di Hotel DoubleTree, Cikini pada Kamis Siang (20/9).

Studi XANAP sendiri adalah sebuah penelitian observasional di Asia, prospektif, tunggal, dan observasional pertama yang dirancang untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas Rivaroxaban sebagai obat pencegahan stroke dengan non-valvular FA. Studi XANAP sendiri melibatkan 2.273 pasien di 10 negara Asia termasuk 126 pasien di Indonesia yang merupakan studi pertama dan terbesar di Asia yang meneliti penggunaan antikoagulan oral antagonis non vitamin K (NOAC).

Fibrilasi Atrium atau FA merupakan salah satu hal yang berbahaya apabila diidap oleh seseorang jika penanganannya terlambat. Karena FA bisa menyumbat pembuluh darah besar di otak, sehingga dapat mengganggu sistem pernapasan. Lewat hasil studi itu sendiri berhasil menunjukan suatu pencerahan dengan tingkat perdarahan mayor yang rendah 1,5% per tahun  bagi pasien FA yang diterapi dengan Rivaroxaban berdasarkan real-world practice.

“Pada XANAP, tingkat perdarahan mayor pasien yang diobati dengan Rivaroxaban rendah yaitu 1,5% per tahun. Secara khusus, tingkat perdarahan gastrointestina (GI) dan perdarahan intrakranial (otak) yang fatal relatif rendah yaitu masing-masing 0,5% dan 0,7% per tahun. Tingkat stroke juga rendah pada 1,7% per tahun. Hal ini menegaskan kembali keefektivan Rivaroxaban dalam penelitian ini tidak mengalami perdarahan mayor, stroke/embol sistemik, atau kematian karena penyebab apa pun,” ujar Dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S (K) selaku dokter peneliti utama di Indonesia.

Penelitian ini tidak hanya ditujukan kepada pasien FA saja, melainkan melibatkan pasien lanjut usia dengan berbagai tingkat risiko stroke, berbagai penyakit penyerta medis yang signifikan termasuk gagal jantung, hipertensi, diabetes, melitus, stroke, serta serangan iskemik transien dan infark miokard tipe 1. Namun yang menjadi pusat penelitian lebih bercondong kepada FA. Selain dapat menyumbat pembuluh darah, FA juga menyebabkan bekuan darah di jantung yang bila lepas ke sirkulasi sistemik dapat menyebabkan stroke. Kelumpuhan merupakan bentuk kecacatan yang sering dijumpai pada kasus stroke dengan FA.

Pada intinya pencegahan memang dilakukan dari individu itu sendiri dengan menerapkan gaya hidup sehat. Seperti olahraga, jam tidur yang cukup, tidak merokok, dan hal-hal yang dapat mengganggu kesehatan lainnya. Selain itu, para dokter juga menyarankan untuk langsung memberikan tindakan untuk membawa ke rumah sakit apabila terjadi gejala stroke di skala mikro. Jangan tunggu sampai parah karena itu justru mempersulit pengobatan.

Jadi, mari Bung gelorakan hidup sehat sejak sekarang, jangan lagi bermalas-malasan!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Efek Minum Soda Tiap Hari, Nyawa Pria Tak Tertolong Lagi

Minum soda memang boleh-boleh saja, tapi jangan berlebihan sampai lupa mengonsumsi air putih. Seorang pria di China dilaporkan meninggal setelah mengonsumsi soda setiap hari. Dilansir Oriental Daily, pekerja kantoran dengan usia 30 tahun asal Suzhou, awalnya merasa lemah dan haus lebih dari 10 hari. Setelah itu, dalam sehari ia bisa mondar-mandir beberapa kali ke toilet dengan kondisi fisik yang semakin lama, semakin kurus.

Pria yang dikenal bernama Wang tersebut, kemudian mengalami heat stroke karena cuaca panas. Lantaran memilih meminum minuman berkarbonasi untuk mengatasi rasa haus! Bukannya segar, justru ia makin merasa lelah dan haus. Kerabat Wang membawa ke UGD setelah melihat kondisinya yang tidak sehat.

Dokter yang memeriksa Wang melakukan tes kadar gula darah. Curiga ia mengalami diabetes. Namun hasil dari tes tersebut mencengangkan, kadar gula darah Wang 20 kali lebih tinggi dibanding kadar normal! yakni mencapai 110 mmol/L. Naik kadar gula darah seseorang jadi salah satu efek minum soda berlebihan.

Penyakit Wang tidak sebatas itu, ia juga menderita asidosis, yakni kondisi cairan tubuh yang terlalu asam serta gangguan kalium. Bahkan kerabat Wang menuturkan kalau pria yang hobby mengonsumsi soda ini menderita hipertensi.

Dokter yang merawat, mendiagnosis kalau Wang menderita HHS (hyoerglycemic hypersmolar syndrome). Sebuah komplikasi serius dari diabetes. Setelah mengupayakan pengobatan yang terbaik, nyawa Wang tetap tak terselamatkan.

World of Buzz memiliki cerita lain tentang laki-laki pecandu soda ini. Situs tersebut menyatakan kalau Wang tidak sadar menderita diabtes. Cara Wang mengonsumsi soda pun beda dengan orang biasa. Ia mampu mengonsumsi minuman berkarbonasi seperti meminum air putih! serta gemar makan permen. Asupan minuman manis dalam jumlah banyak, asupan air putih tidak mencukupi serta infeksi akut diketahui jadi penyebab HHS.

Efek minum soda secara berlebihan memang membahayakan tubuh. Minuman berkarbonasi mengandung gula yang tinggi. Wang terlalu banyak mengonsumsi gula sampai memperburuk diabetes yang tidak terdiagnosis, sehingga komplikasi menjadi HHS. Asalkan tidak dikonsumsi berlebihan, meminum soda tidak dilarang. Paling penting jaga cairan ditubuh dengan mengonsumsi 8 gelas air putih setiap hari.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Sakit Pinggang Cenderung Menyerang Orang yang Kesepian

Ketika kesehatan mental terserang maka kesehatan fisik akan terganggu. Contohnya saja seperti stres, yang dapat memicu berbagai macam penyakit. Selain stres, ternyata kesepian juga bisa mempengaruhi kesehatan bung, terutama pada bagian tulang belakang. Lebih lengkapnya, mereka yang kesepian cenderung mengalami sakit punggung.

Keluhan di tulang belakang itu biasanya relate-nya dengan sering kondisi mental kesepian. Dua kondisi fisik itu (maag dan sakit punggung) banyak sekali, yang pertama maag dan kedua tulang belakang, sering terjadi di kota besar,” ujar Adjie Santosoputro selaku Emotional Healing and Mindfulness Expert dilansir dari Suara.com

Ada hubungan kenapa pria kesepian mengalami sakit pinggang, dikatakan merasa bebannya berat karena segala sesuatu ditanggungnya sendiri. Ada rasa gengsi untuk berbagi lebih memilih untuk menanggung diri sendiri.

(Kesepian) dia sendiri yang harus menanggungnya, itu akan berdampak ke tulang belakang rasa kesepian itu, dan kesepian bukan perihal banyaknya teman,” tambah Adjie

Banyak teman dan followers di media sosial faktanya juga tidak menjamin terbebas dari rasa sepi. Berdasarkan pengalaman Adjie, pasien  pernah berkonsultasi dengannya tetap merasa sendiri di malam hari meski banyak followers dan kerap hangout bersama teman.

Jadi kesepian bukan yang nampak, tapi perihal kepuasan batin. (Di media sosial) itu karena koneksi yang tidak nyata, membuat obrolan fana, oleh karena itu berpeluang besar terhadap kesepian. Semakin kaya seseorang, memperbesar rasa kurangnya pada kebahagiaan,” pungkasnya dilansir Suara.com.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Lebih Tahu

Bereksperimen Suntik Stimulan ke Mr. P, Pria Ini Alami Ereksi Permanen

Tak terbayang bagaimana rasanya mengalami ereksi permanen. Risih, serta ganjil kemungkinan jadi pembawaan yang dialami laki-laki. Ereksi jangka waktu yang lama baik saat bercinta, tapi tidak secara tiba-tiba. Apalagi tanpa aktivitas seksual. Pengalaman ereksi permanen menimpa laki-laki asal Jerman, Danny Polaris. Ia membagikan ceritanya tersebut lewat akun instagram.

Dalam ceritanya ia mengatakan sedang mengonsumsi Viagra. Setelah pulang dengan seorang perawat kemudian ia membiarkan temannya menyuntikkan stimulan ke penis. Mulanya ia merasa tidak ada yang salah, sampai dua hari setelahnya ia menjerit kesakitan dan harus di bawa ke rumah sakit. Diagnosa dokter mengatakan Danny menderita priapism. Penis-nya dapat mengalami kerusakan permanen apabila tidak diobati.

Takut, kesakitan, menangis serta khawatir, adalah gambaran perasaan yang diungkapkan langsung oleh Danny lewat Instagram. Sebagaimana pikiran laki-laki pada umumnya. Ia pun merasa cemas kalau ini memiliki dampak jangka panjang. Tentu apa jadinya kan bung, kalau penis mengalami kerusakan permanen.

Untungnya, perawatan yang ia jalani mengalami banyak kemajuan. Danny menjadikan ini sebagai pelajaran serta mengajak semua kaum adam untuk mengenal Priapisme. Mulanya ia malu dan canggung untuk menceritakan penyakit ini, namun ia merasa harus dengan tujuan menyebarkan kesadaran.

Sementara  teman-teman Danny telah menyiapkan halaman GoFundMe untuk membayar biaya pemulihan dan rehabilitasi. Dia mengatakan dia berterima kasih atas setiap donasi yang diberikam.

Ini akan membuat kesehatan saya lebih baik, membuat saya bisa kembali berdiri, dan tidak malu ada sesuatu yang menonjol di celana (akibat ereksi) selamanya,” tutup dia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top