money

Cowok Ganteng Gajinya Pun Ganteng

Menjadi ganteng bagi pria ternyata tak sekedar berfungsi untuk menarik lawan jenis. Lebih jauh dari itu, menarik tidaknya penampilan seorang pria ternyata akan berpengaruh juga pada tebal tidaknya isi kantong.

Sembarang? Ini tidak main-main, pasalnya fakta itu ditemukan dari hasil penelitian yang dilakukan secara resmi oleh Andrew Leigh seorang ekonomon senior dan Profesor bidang ekonomi dari Australian National University.

Penelitiannya menyebutkan bahwa pria yang berpenampilan menarik, berpenghasilan 22 persen lebih tinggi dari pada mereka yang hanya punya penampilan rata-rata. Dan parahnya lagi mereka yang dinilai oleh masyarakat berpenampilan di bawah standar malahan punya gaji yang lebih rendah 26 persen dibanding rata-rata.

Tentunya responden penelitian ini dipilih dari orang-orang yang punya kemampuan dan kapasitas profesional yang kurang lebih sama. Sehingga faktor pembedanya ya cuma soal ganteng tidaknya tadi.

Apesnya lagi bagi kita para pria, penelitian ini menunjukan fakta lain yang tak kalah mengejutkan. Ternyata urusan keren tidaknya penampilan dan hubungannya dengan gaji ini, tidak ditemukan pada wanita. Alias perempuan yang dinilai jelek, gajinya ternyata tak berbeda jauh dengan yang bikin mata laki-laki membelalak karena kecantikannya. Jadi mitos bahwa wanita cantik akan lebih mudah dalam pekerjaannya dan dapat perlakuan spesial justru tak berlaku disini.

Ah itu toh baru satu penelitian, kata mereka yang berpenampilan kurang menarik berdalih! Okay mari kita tengok penelitian lain. Kali ini penelitian Warwick Business School, the University College London and Dartmouth College yang diterbitkan dalam jurnal PLoS One. Mereka menemukan bahwa, orang yang akan memberikan dan menginvestasikan uangnya, cenderung lebih mendasarkan keputusanya pada penampilan orang yang akan mengelola uangnya itu dibandingkan dengan reputasinya.

Di awal penelitian sejumlah responden diminta untuk memilih siapa diantara “si ganteng” dan “Si biasa saja” yang akan mereka percayai untuk mengelola uangnya. Sesuai dugaan si ganteng memperoleh 15% kepercayaan lebih tinggi dari si biasa saja.

Fakta lebih menariknya justru di kelompok responden berikutnya. Sebelumnya mereka yang masuk kelompok responden kedua ini diberikan bekal mengenai latar belakang si ganteng dan si biasa saja. Dengan sebuah twist bahwa si ganteng itu punya rekam jejak yang sedikit kurang meyakinkan dibandingkan si biasa saja. Toh alih-alih menurun, kepercayaan terhadap si ganteng ini malah meningkat 6% dari yang sebelumnya.

Terus kalau begitu bagaimana nasib mereka yang punya faktor kegantengan di bawah rata-rata? Apa berarti harus mulai mengurut dada pasrah menerima gaji yang lebih rendah 46% dibanding si ganteng tadi?

Tenang dan jangan keburu panik. Di era macam ini, urusan kegantengan itu sesungguhnya tidak melulu melekat secara lahiriah. Menarik tidaknya seorang pria itu lebih dinilai dari caranya berpenampilan dan tidak 100 persen urusan wajah belaka.

Masalahnya sebagian besar pria, khususnya di Indonesia, tidak paham bagaian mana dari penampilannya yang bisa ditingkatkan. Dari kecil kita sudah diajarkan bahwa laki-laki itu pantang bersolek dan berdandan. Wajar jika laki-laki sedikit gagap ketika harus bicara penampilan. Padahal ada hal-hal sederhana yang bisa dilakukan guna meningkatkan daya tarik.

Malahan ada beberapa pria yang memilih bersembunyi dibalik kalimat “saya seperti ini apa adanya”. Tapi apa iya sesederhana itu? Jawabnya tidak! Karena ternyata memilih berpenampilan rapi atau tidak, itu berhubungan dengan keadaan piskologi seorang pria. Mereka yang memilih tampil asal-asalan sejatinya sedang memendam rasa minder karena ia merasa kurang pantas tampil baik.

Kalau begitu sekarang saatnya untuk tampil habis-habisan! Eits, jangan pula terburu nafsu. Karena keinginan tampil menarik ini juga ibarat pisau bermata dua. Ada batasan-batasan tertentu yang harus dipelajari tentang kategori perilaku mana yang tampil rapi dan mana yang sudah kelewat genit. Coba simak bagaimana deretan wanita berikut ini memberi tips kepada para pria.

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Ini Patokan Bahwa Penampilan Belumlah Mentok | Yomamen

  2. Apoteker Huda

    September 23, 2016 at 4:25 pm

    Pakai obat ganteng (pomade),
    Rambut sangat berpengaruh terhadap penampilan pria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Sebetulnya Kapan Saat yang Tepat Beli Mobil Baru?

Berhubung membeli mobil tak semudah membayar makanan di angkringan, pastinya banyak hal yang jadi pertimbangan. Apalagi membeli mobil membutuhkan komitmen yang tidak sebentar. Tak mungkin juga, bulan ini beli lalu bulan berikutnya sudah harus dijual lagi. Nah jadi sebetulnya, kapan waktu yang tepat untuk membeli mobil baru?

Ketika Kebutuhan Tak Bisa Lagi Diakomodir Si Kuda Besi

Mungkin selama ini Kita begitu menikmati menunggang si kuda besi alias motor. Sedari muda, moda transportasi roda dua ini jadi pilihan dalam situasi apa pun. Namun toh nyatanya hidup mengalami perubahan. Ada beberapa kegiatan yang ada saat ini sudah tak mungkin lagi dilakukan dengan mengendarai motor.

Misalnya, dulu mungkin tak begitu masalah naik motor ketika masih membujang tanpa ada yang menemani. Ketika sudah berpasangan apalagi berstatus keluarga muda dengan anak yang masih kecil-kecil tentu jadi berbeda kasus. Tak mungkin lagi membonceng si kecil di motor dan membawanya dalam perjalanan jauh.
Ini salah satu momen yang pas untuk mulai berpikir mengambil mobil untuk kendaraan cadangan. Bukan berarti meninggalkan tunggangan setia, tapi memang ada kebutuhan yang mau tak mau harus menggunakan roda empat.

Ketika Mobil Sudah Punya, Tapi Usianya Sudah Lanjut

 

Tak salah memang terhanyut dalam romansa dan memori dengan mobil yang selama ini telah menemani. Tapi kita juga harus realistis, bahwa mobil juga punya usia sebaik apapun kita merawatnya. Mungkin bukan berarti kita menjual yang lama tapi tidak lagi menggunakannya untuk kendaraan sehari-hari adalah langkah yang bijak.

Kondisi paling ideal mobil itu berada pada usia tiga tahun pertama. Lima tahun berikutnya masih bisa dijadikan andalan namun sudah akan mulai ditemui beberapa masalah. Sementara durasi pemakaian mobil untuk harian, yakni sekitar 8 hingga 10 tahun atau jika sudah menempuh jarak lebih dari 200 ribu kilometer.

Sama halnya dengan manusia yang telah lanjut usia, mobil juga sama. Walau suku cadang tersedia, ketika batas pemakaian tersebut sudah dilewati, maka kondisi mesin dan sasis sudah masuk pada level tak layak pakai.

Tak hanya kekhawatiran untuk mogok dan tiba-tiba rusak dijalan saja, menunggangi mobil-mobil yang sudah tak lagi diproduksi juga jadi sebuah resiko yang tinggi. Ketika kita masih berusaha merawat dan mencintainya, bisa jadi perusahaan yang ada disana sudah tak lagi memproduksi spare part yang mobil tersebut miliki. Sementara mobil sudah melulu minta ‘jajan’ karena suku cadang yang rusak. Walhasil selain biaya perawatan tinggi, bisa jadi mobil hanya teronggok tak bisa digunakan karena menunggu suku cadang tersedia.

Ketika Fitur dan Fungsi yang Ditawarkan Mobil Baru Begitu Menggoda Dan Sesuai Kebutuhan Saat Ini

Dulu mungkin kita merasa sah-sah saja dengan fasilitas yang ada di kendaraan roda empat yang kita miliki. Namun teknologi tak hanya diam di tempat. Kalau masih terus berkutat di mobil lama, kita tak akan paham sudah ada inovasi yang akan memudahkan kita dalam berkendara.

Coba tengok misalnya Renault KWID. Di bagian interiornya yang paling mencolok adalah hadirnya head unit layar sentuh berukuran 7 inci yang mengatur sistem hiburan di dalam kabin mobil yang juga telah terintegrasi dengan navigasi satelit menggunakan tampilan 2D/3D.

Sementara untuk fitur sisi keamanan Renault KWID dibekali dengan keyless entry dengan remote dan central lock. Nah untuk kenyamanan Renault KWID juga memiliki fitur heater atau penghangat kabin jika udara di luar terlalu dingin.

Fitur macam ini belum dimiliki mobil terdahulumu bukan?

Ketika Model Baru Yang Ditawarkan Unik Dan Modern

Secara teknis mungkin kendaraan lama belum bermasalah. Tapi bisa jadi kitanya yang sudah dilanda jenuh dengan kendaraan yang itu-itu saja. Jangan anggap remeh karena efek bosan ini bisa melanda kemana-mana. Bayangkan mood yang tak bagus karena waktu di jalan tak dapat sensasi asiknya mengendarai mobil.

Kala itu terjadi maka saatnya untuk melirik kendaraan yang baru. Supaya tak dilanda bosan, cobalah sesuatu yang benar-benar unik. Contoh, misalnya kamu ingin punya mobil yang ramah jalanan perkotaan tapi masih gagah dari sisi penampilan.

Paduan macam itu tentu tak akan bikin kita lekas bosan. Seperti Renault KWID yang jika menilik dari dimensinya mobil yang mengusung mesin 1.000 cc tiga silinder ini memang masuk di kategori City Car.

Namun KWID punya desain unik yang membuatnya bertipe crossover dengan tampilan SUV. Ciri paling kentalnya adalah ground clearance alias jarak bodi terendah ke tanah yang mencapai 180 mm. Didukung pula dengan fender yang cukup besar khas mobil crossover. Sementara bagian grille depan Renault KWID juga tampil tegas dan kokoh. Lampu depan terdapat “C” shape signature sebagai ciri khas Renault terbaru.

Dengan desain apik tersebut, tak heran jika di tahun pertama kehadirannya di Indonesia, Renault KWID langsung meraih penghargaan bergengsi di ajang OTOMOTIF Award 2017. Dalam kategori The Best Small City Hatchback.

Ketika Garansi Dan Asuransi Mobil Baru Memudahkan Untuk Beraktivitas

Sama halnya dengan usia yang telah tua, batas garansi pada perawatan mobil jadi pertimbangan pelik lain. Mobil baru seperti contohnya Renault KWID tadi dilengkapi dengan garansi minimal 3 tahun untuk mesin atau telah menempuh jarak 100 ribu Km. Dengan kata lain, memiliki mobil baru akan memangkas biaya perawatan mobil yang mungkin akan kita keluarkan jika terus bertahan dengan mobil yang sudah uzur.

Tak percaya? Coba tengok layanan purna jual “Renault Peace of Mind”. Ada Silver Package for Renault Kwid & Renault Koleos, tambahan 2 tahun jaminan garansi kendaraan Anda sehingga menjadi total 5 tahun jaminan garansi atau 100.000 km (mana yang tercapai lebih dahulu).

Kemudian ada Gold Package for Renault Kwid, Renault Duster 4×2, Renault Duster 4×4 & Renault Koleos, jaminan bebas biaya sparepart dan jasa service berkala dimulai dari service 1.000 km dan kelipatan 10.000 km sampai dengan 60.000 km dengan masa jaminan garansi kendaraan 3 tahun atau 100.000 km (mana yang tercapai lebih dahulu).

Terakhir ada Platinum Package for Renault Kwid & Renault Koleos, jaminan bebas biaya sparepart dan jasa service berkala dimulai dari service 1.000 km dan kelipatan 10.000 km sampai dengan 100.000 km dengan tambahan 2 tahun jaminan garansi kendaraanmu sehingga menjadi total 5 tahun jaminan garansi atau 100.000 km (mana yang tercapai lebih dahulu).

Tapi memboyong mobil baru bergaransi saja tidak cukup. Karena untuk apa dilengkapi garansi kalau bengkel ternyata sulit ditemui. Kalau kita melirik Renault misalnya, hati tentu akan lebih tentram. Karena pabrikan asal Perancis tersebut sudah bekerja sama dengan group Nissan.

Jadi layanan bengkel dan purna jualnya selain dari renault juga bisa dikerjakan di bengkel Nissan. Hal ini dimungkinkan karena berbekal kekuatan aliansi Renault – Nissan dimana untuk distribusi, pemasaran dan layanan purna jual merek Renault pun ditangani oleh Indomobil Group yang juga menangani Nissan.

Di samping garansi, masalah perlindungan asuransi kehilangan dan kerusakan juga harus jadi pertimbangan. Mobil dengan usia muda akan lebih mudah disetujui oleh pihak asuransi. Sementara mobil yang sudah tua akan sulit mendapatkan perusahaan asuransi yang mau melindungi. Kalaupun disetujui, biasanya akan membutuhkan uang premi yang tidak sedikit.

Jadi ingat, terikat romansa dengan kendaraan lama boleh saja, tapi terus menutup mata dengan kehadiran yang baru tentunya bukan langkah yang bijak.

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Ini Patokan Bahwa Penampilan Belumlah Mentok | Yomamen

  2. Apoteker Huda

    September 23, 2016 at 4:25 pm

    Pakai obat ganteng (pomade),
    Rambut sangat berpengaruh terhadap penampilan pria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Money & Power

Bagi Bung Pekerjaan Ini Kurang Memikat, Tapi Bagi Orangtua Ini Hakikat

Ada beberapa ranah pekerjaan yang langsung saklek di mata orangtua pasangan. Pekerjaan tersebut biasanya dilihat dari bebet dan bobotnya Bung. Orangtua biasanya punya pandangan tersendiri soal pekerjaan yang bonafid di mata mereka. Dalam imajinasinya, mereka juga membayangkan kalau anak perempuannya akan hidup makmur apabila membangun mahligai rumah tangga dengan calon yang diminatinya (dari segi pekerjaan).

Hasil riset yang dirilis Smart Asset di Amerika, menempatkan ahli statistik sebagai pekerjaan yang paling diminati generasi milenial sebesar 45%,  pengembang web sebesar 38%, analisa riset pasar dan spesialis pemasaran 37%. Hidup sebagai generasi yang digital native alias tidak gagap teknologi membuat pekerjaan dibidang tekonologi menjadi sangat digemari. Tetapi apa yang digemari generasi milenial jelas berbeda Bung dengan generasi X dan Baby Boomers. Kira-Kira apa saja ya Bung pekerjaan yang diminati oleh orangtua si nona?

Menolong Orang Lain Ketika Sakit Adalah Pekerjaan Mulia. Tak Hanya Di Mata Mereka Tapi Juga Di Mata Mertua

Dokter adalah pekerjaan yang masih dipandang tinggi oleh orangtua pasangan. Pekerjaan mulia mengobati orang ini, juga tidak main-main dalam hal pendidikannya yang memang terkenal merogoh kocek dalam-dalam. Maka tak heran, jika jarang ada yang memandang rendah pekerjaan dokter.

Terlebih lagi penghasilan sebagai dokter spesialis saja bisa mencapai 50 juta rupiah. Jelas itu bukan angka yang kecil. Orangtua mana yang tak tergiur melihatnya. Bukan mendiskreditkan orangtua sebagai pihak yang matrealistis ya Bung. Namun rasanya wajar apabila orangtua rela menitipkan anaknya kelak kepada Bung yang berprofesi sebagai dokter.

Fisik Yang Kuat Dan Gagah Dapat Menjadi Daya Tarik. Tapi Semangat Juangnya Buat Negara Mungkin Juga Menarik Ya!

Profesi TNI atau tentara adalah garda terdepan Indonesia dalam menghadapi ancaman dari luar. Siapa saja yang ingin memporak-porandakan kedaulatan, pasti tentara tak tinggal diam. Angkatan bersenjata memiliki kesan gagah dan kuat. Porsi latihan fisik yang dilakukan memang sengaja untuk menumbuhkan jiwa nasionalis Bung. Fisik seorang tentara pun pasti kuat dan terjaga.

Di era orde baru, pekerjaan TNI tak dapat dipandang remeh. Para orangtua pasti mengangkat topi atau hormat pada pekerjaan tentara. Orangtua pun bakal turut bangga apabila Bung memiliki profesi sebagai tentara dan berpangkat panglima. Karena menjaga kedaulatan negara saja bisa, apa lagi kedaulatan rumah tangga. Bukan begitu Bung?

Kerja Di Lapangan Panas-Panasan Tapi Di Rumah Mertua Disanjung-Sanjung. Bung Mau Seperti Itu?

Kerja di lapangan mungkin kurang menyenangkan dibanding kerja di gedung dengan dinginnya AC yang kadang  membuat menggigil. Memiliki kesan panas dan berdebu, sudah identik sekali dengan pekerjaan lapangan, salah satunya pertambangan.

Terbakarnya kulit oleh matahari memang membuat kondisi badan terasa gersang.  Namun kalau berbicara gaji, sepertinya dapat membuat perasaan senang Bung. Pekerjaan ini memang beresiko. Tingkat kesulitan pun juga tinggi. Jadi tak ayal, fresh graduate yang bekerja di bidang ini saja sudah diganjar gaji tinggi. Bisa 2x lipat dari UMR saat ini. Ketika Bung datang ke rumah perempuan kemudian memperkenalkan diri sebagai orang yang bekerja di pertambangan, rasanya jalan lapang untuk meminang pun telah terpampang di depan mata.

Profesi Ini Mungkin Kurang Memikat, Tapi Kalau Orangtua Si Nona Tahu Bisa Jadi Seperti Sahabat Dekat

PNS (Pegawai Negeri Sipil) untuk generasi milenial mungkin kurang terlalu memikat, tapi lingkungan kerja dan besarnya pendapatan menjadikan profesi ini jadi incaran. Data jumlah pendaftar CPNS tahun ini saja tembus sampai angka 1 juta orang. Semua saling bersaing untuk masuk di beberapa kementerian dan lembaga. Kalau dari kacamata orangtua, pekerjaan ini tentu jadi idaman.

Karena dapat menjamin kehidupan dengan adanya tunjangan dan uang pensiunan. Di mata masyarakat, PNS memiliki prestis yang tinggi. Toh orangtua pasangan pasti turut senang apabila sang anak dinikahi oleh PNS, selain bisa menjamin kehidupan, juga dapat meningkatkan kehormatan.

Kalau Berbicara Nasib Memang Sulit Ditebak, Terkadang Profesi Bisa Kalah Dengan Nama Besar Perusahaan

Selain prestisnya profesi sebagai PNS, menjadi pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga tak kalah mentereng. Terlebih lagi BUMN membawahi semua perusahaan besar di Indonesia seperti Pertamina, PLN, Pelindo dan perusahaan maskapai, Garuda Indonesia. Usut punya usut, profesi pegawai di BUMN bakal makmur sejahtera nasibnya.

Orangtua biasanya tidak hanya terkesan oleh besar kisaran gaji yang didapat Bung. Tapi terkesima juga dengan perusahaan tempat bekerja. Apa pun perusahaannya, kalau Bung bekerja di perusahaan BUMN pasti tak terlalu rumit untuk menggapai si nona.

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Ini Patokan Bahwa Penampilan Belumlah Mentok | Yomamen

  2. Apoteker Huda

    September 23, 2016 at 4:25 pm

    Pakai obat ganteng (pomade),
    Rambut sangat berpengaruh terhadap penampilan pria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Health & Personality

Bekerja Keras dalam Diam, Biarkan Sukses yang Membuktikan

Jadi manusia yang berhasil pada setiap garis kehidupan, sudah pasti jadi impian semua orang. Caranya pun beragam, mulai dari bekerja keras tanpa mengenal lelah hingga rancangan besar yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Tapi Bung, sukses bukanlah panggung orasi, Bung tak perlu berteriak untuk dilihat. Jadilah beda dengan cara yang tak biasa. Menciptakan sesuatu yang mengejutkan, walau selama ini dianggap selalu diam.

Sebagian kawan lain mungkin gemar berbicara untuk semua mimpi-mimpinya. Tapi Bung tak perlu begitu. Sebaliknya, mari mulai bekerja tanpa harus banyak berkata hingga nanti semua pencapaian Bung akan jadi bukti nyata.

Ini Jelas Tidak Mudah, Sebab Bung Tentu Kerap Dianggap Tak Punya Masa Depan Cerah

Dalam pergaulan, Bung yang memang kebetulan tak banyak bicara kerap diasingkan bak manusia yang tak layak diperhitungkan. Sebab masyarakat kita percaya bahwa dia yang tidak bisa berbicara di hadapan khalayak ramai tak akan memiliki gambaran masa depan. Wajar memang, sebab sebagai seorang laki-laki sudah seharusnya Bung berani.

Namun dalam perjalanan untuk upaya menuju mimpi yang diinginkan, ini bukan poin utamanya. Bung butuh rasa tenang untuk bisa berpikir lebih dalam. Menimbang semua keputusan hingga membuat rencana lain dengan matang.

Masa ini akan lebih baik jika digunakan untuk lebih memahami diri sendiri. Apa yang sebenarnya Bung ingini, hingga bagaimana jalan meraih mimpi.

Lagi pula Mimpi yang Bung Punya Tak Harus Dibagikan Pada Semua Orang

Satu dua orang mungkin masih bisa dipastikan senang, tatkala Bung membagikan cita-cita kepada mereka. Dan selebihnya? Bung tentu tak bisa membatasinya. Mulai dari yang tak suka, hingga mereka yang akhirnya menjiplak rancangan karya yang akan Bung realisasikan.

Tanpa bermaksud untuk meminta Bung jadi manusia sombong yang merasa agung atas mimpi, Bung harusnya paham jika Bung hidup dengan tingkat persaingan tinggi. Salah satu langkah saja, bisa-bisa Bung sudah didahului orang lain yang sudah mengetahuinya.

Sebab Bercerita Pada Publik Hanya Jadi Bayang-bayang yang Tak Akan Berpengaruh Apa-apa

Yap, bercerita memang membuat Bung banyak dikenal dan secara tidak langsung akan menggambarkan bagimana Bung nanti. Tapi disinilah bahayanya, pengakuan dari orang lain justru sering membuat Bung merasa puas lebih dulu. Walau sebenarnya belum berbuat apa-apa, Bung kerap akan berpikir telah berhasil sebab orang lain saja sudah mengakuinya.

Efeknya, usaha yang tadinya bisa lebih keras berangsur melemah, jika dibandingkan dengan mereka yang menceritakan mimpinya pada diri sendiri saja. Tanpa harus kami beri tahu, Bung tentu sudah paham bagaimana kerasnya perjuangan di lapangan.

Dia yang tak bekerja keras untuk mewujudkan, tentu tidak akan menang.

Bung Hanya Butuh Fokus Pada Tujuan, Tanpa Terpengaruh Ekspektasi Orang

Selain mendapat masukan, bercerita pada orang kadang kala hanya menganggu fokus pikiran. Kalau tak percaya Bung bisa mencoba mengamati mereka yang ada di sekitar. Pada beberapa kasus, mereka yang gagal sering disebabkan oleh pihak lain di luar diri. Padahal satu-satunya pihak yang berhak untuk menentukan mimpi Bung adalah diri Bung sendiri.

Mari tutup telinga untuk semua ekspektasi mereka, tanggung jawab Bung hanya berupaya mewujudkan mimpi menjadi nyata. Bukan memenuhi perkiraan-perkiraan lain yang mereka katakan. Lagi pula tak ada aturan yang mengharuskan Bung untuk menyesuaikan mimpi dengan ekspetasi orang lain. Bung tidak perlu risau atau tak enak hati, sebab cerita ini adalah milik Bung seutuhnya.

Namun Jika Memang Butuh Berbagi, Bung Bisa Cari Kawan yang Tepat Untuk Mendengarkan

Ini jadi babak penting yang perlu diperhatikan Bung perhatikan. Jika ternyata bercerita memang perlu, cobalah cari mereka yang memang bisa menyuntikkan semangat. Menjadi bagian yang menguatkan dan memberi masukan. Dan pada fase ini, Bung memang harus pintar dalam hal memilah-milah. Mana dia yang sesungguhnya membantu dan tidak.

Tak perlu sungkan, mintalah tolong jika memang diinginkan. Tapi Bung juga berhak untuk berkata tidak untuk mereka yang terlihat tak sejalan.

Simpan semua cerita dengan mimpi-mimpi besar Bung, sebab tak semua orang butuh itu. Jika memang bernasib baik, kelak semua pencapaian dan keberhasilan yang Bung telah dapatkan jadi bukti nyata yang bersuara tanpa harus repot berkata-kata.

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Ini Patokan Bahwa Penampilan Belumlah Mentok | Yomamen

  2. Apoteker Huda

    September 23, 2016 at 4:25 pm

    Pakai obat ganteng (pomade),
    Rambut sangat berpengaruh terhadap penampilan pria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Narasi

Suara dari Jauh: Disini Tak Riuh, Tapi Kerap Membuat Rindu

Ketika Bung sedang mengagungkan kehidupan dan pekerjaan tenang di dalam ruangan, di tempat lain ada kawan yang justru sedang berjuang dengan suasana berbeda. Hidup jauh dari hingar bingar kota, hingga terlambat mendapat berita.

Bung mungkin sudah bisa menerka, siapa kawan yang sedang kami ingin bicarakan. Orang-orang ini adalah mereka yang kerap menahan rindu tatkala berada jauh dari rumah. Mulai dari bekerja di dalam hutan atau di tengah laut selama berbulan-bulan.

Hal-hal yang mungkin jarang Bung perhatikan, jadi sesuatu yang justru mereka rindukan. Kali ini coba simak bagaimana para kawan ini menuturkan keluh kesah yang mungkin tidak pernah Bung rasakan.

Dewo Setiawan, 25 Tahun – Bekerja di Tambang Migas

Konon pekerjaan ini bisa jadi tiket emas untuk meluluhkan hati calon mertua. Tapi bagi Bung Dewo hal tersebut tak selamanya berlaku. Ia merasa bahwa sektor migas tak sekuat dulu, sebab dunia perminyakan telah turun secara global. Tapi terlepas dari hal tersebut ada hal lain yang kerap membuatnya gusar, yakni rindu.

Berada di dalam tambang hingga berbulan-bulan, rindu jadi seseuatu yang sulit ia lawan. Dan salah satu hal yang sering membuat ia merindukan suasana ramai di luar adalah bertemu dengan sahabatnya meski hanya sekedar bertukar sapa saja.

“Ya, kadang rindu suasana keramaian. Apa lagi momen bercanda dan ngobrol tiap kali coffee time bareng teman,” akunya jujur.

Namun ketika ditanya, apakah ada keinginan untuk berpindah pada bidang pekerjaan lain. Bung yang satu ini menjawab akan tetap bekerja pada migas. “Lagi pula semua pekerjaan sama saja, tergantung niat dan hati kita.” katanya dengan mantap.

W. Pardede, 25 Tahun – Bekerja di Tugboat

Tak jauh berbeda dengan Bung Dewo, laki-laki berdarah Batak yang satu ini juga mengutarakan hal yang sama. Kerinduan-kerinduan pada dunia luar, dan masa muda yang tak seperti orang lain rasakan.

Diusianya yang sudah menginjak 25 tahun, ini adalah tahun kedua Bung Pardede menghabiskan separuh waktunya di tengah laut bersama dengan rekan-rekannya. Laki-laki yang bekerja pada kapal Tugboat ini mengungkapkan bahwa pada beberapa kesempatan yang ia tak sadar, dirinya sering merasa ingin pulang ke rumah karena rindu.

“Yang saya rindukan, ya bisa berkumpul bersama orangtua, keluarga dan teman-teman. Termasuk juga pacar,” katanya dengan agak ragu-ragu.

Namun selain rindu yang katanya kerap membuat ia mendadak melow, hal lain yang ia syukuri dari pekerjaannya kini, ia bisa menjajaki banyak tempat di dalam dan luar negeri.

“Yang membuat saya tertarik bekerja di laut disamping bekerja, saya bisa berkunjung ke berbagai tempat.”

Sedikit berbeda dengan Bung Dewo, Laki-laki dari Pematang Siantar ini berkata jika nanti ada kesempatan lain, ia ingin mencoba bidang pekerjaan lain. Dengan catatan itu adalah sesuatu yang dicintainya, dan bisa membawanya bepergian juga.

Raymond Limdes, 26 Tahun – Bekerja di Tambang Batubara

“Di sini semua ada, tapi sinyal dan internet susah, itu pula yang membuat saya sering rindu akan rumah.”

Jadi kalimat pertama yang beliau sampaikan di percakapan kami lewat WhatsApp beberapa minggu lalu. Mendengar perkataannya yang mengatakan semua ada, kami penasaran untuk mengorek informasinya lebih dalam.

Dan benar saja memang, menurut pengakuannya tempat kerja yang telah 2 tahun terakhir ia anggap sebagai rumah, fasilitasnya cukup nyaman. Sehingga mau pulang jam berapa pun ia tidak pernah khawatir tak bisa makan, sebab ada orang yang memang ditugaskan untuk memastikan segala kebutuhan terpenuhi selama berada di dalam tambang.

Tapi ya itu, jauh dari keramaian dan rumah tempat kita dibesarkan akan tetapi jadi kerinduan. “Saya hanya rindu keluarga, terlebih ibu dan masakannya. Jika di rumah saya bisa mendengar suara beliau setiap hari. Disini hanya bisa sekali dalam seminggu, itu pun saya harus keluar ke arah perkampungan. Jaraknya kurang lebih 2 jam kalau naik mobil.”

Laki-laki yang mengaku masih tak punya pacar ini bercerita jika kerinduannya tak seberat kerinduan laki-laki lain yang sudah menjadi ayah. “Saya kan cuma rindu bapak dan ibu saja, beda dengan teman saya yang lain. Sudah rindu orangtua, rindu istri, rindu anak pula. Tantangannya lebih berat.”

Bahkan menurutnya, seorang temannya yang sudah menjadi ayah pernah terlihat menangis secara tiba-tiba, ketika mendapat berita bahwa istrinya hamil. Ketika ia mencoba bertanya, alasan mengapai sang teman menangis, laki-laki itu menjawab, “Saya sedih saja, tak bisa menemani sang istri selama proses kehamilan nanti.”

Seakan tak bisa menjawab apa-apa, laki-laki yang Desember nanti genap berusia 26 tahun ini hanya dapat mengusap bahu sang teman sambil mengucapkan beberapa kalimat semangat.

 

 

 

 

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Ini Patokan Bahwa Penampilan Belumlah Mentok | Yomamen

  2. Apoteker Huda

    September 23, 2016 at 4:25 pm

    Pakai obat ganteng (pomade),
    Rambut sangat berpengaruh terhadap penampilan pria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top