Sport

Bung Suka Futsal? Kenali Beberapa Pemain Terbaik yang Dapat Bung Tiru Skill-nya

Olahraga futsal dalam beberapa tahun belakangan cukup populer di Indonesia. Beberapa masyarakat atau teman kantor Bung, pasti sering mengajak atau mengadakan aktivitas rutin bermain futsal guna mengisi waktu atau sekedar berolahraga. Tak heran, kalau nama-nama pemain futsal seperti Falcao atau Ricardinho sudah banyak yang tahu, tidak seperti dulu.

Tapi kira-kira Bung penasaran tidak, tentang para pemain timnas futsal asal Indonesia? Jangan sampai Bung hanya mengetahui pemain luar saja tanpa mengetahui tentang pemain timnas dalam negeri. Karena skill yang dimiliki pemain Indonesia, tak kalah jauh dengan diluar loh, Bung. Bahkan Bung mungkin bisa mencontoh beberapa skill-nya guna dipraktekkan di lapangan saat sedang bermain bersama kawan dan rekan kerja.

Pemain Futsal Pertama Indonesia yang Bermain di Luar Negeri

Karirnya sebagai pemain futsal cukup cemerlang diantara beberapa pemain di Indonesia. Sejak usia 20 tahun ia sudah menjadi langganan pemain yang mengenakan seragam garuda alias tim nasional, bahkan hingga kini lho. Bambang Bayu Saptaji atau akrab yang disapa BBS, merupakan nama bekennya.

Skillnya dilapangan sangat memikat bagi klub-klub papan atas di Tanah Air. Seperti Electric PLN, Libidol, sampai Vamos Mataram. Empat tahun lalu, BBS memperlebar daya jelajah karirnya dengan membela klub asal Tiongkok, Dalian Yuan Dynasty. Ia dianggap sebagai flank terbaik di Indonesia saat ini.

Bagi penikmat kompetisi maupun turnamen futsal Tanah Air, nama Bambang Bayu Saptaji tentu tak asing lagi. Ia dianggap sebagai flank terbaik di Indonesia saat ini.

Kecepatan dan Ketenangan Menjadi Kunci Sang Senior di Lapangan

Sejak tahun 2005 ia sudah sering dipanggil timnas untuk membawa nama Indonesia di kancah internasional. Sudah hampir satu dekade lebih Jailani Ladjanibi menjalani karirnya sebagai pemain futsal. Segudang pengalaman yang dimiliki membuatnya menjadi sosok yang senior di lapangan. Dengan harapan dapat menjadi sosok yang teladan dan membawa nuansa yang sama dalam tim. Teknik individu dan staminanya pun tak kalah dengan pemain muda, hal inilah yang membuat Jailani masih sering dipanggil tim nasional.

Wonderkid Asal Tanah Papua, yang Berjaya Sejak Muda

Nama Adriansyah Runtuboy merupakan satu fenomena dalam dunia futsal Indonesia. Namanya telah dikenal dan digadang-gadang sebagai nama besar sejak kemunculannya dalam ajang turnamen antar SMA yang diselenggarakan oleh salah satu produk minuman di Indonesia. Skill-nya sangatlah ajaib, banyak pemain yang terkecoh lantaran skill yang dipraktekkan oleh pria yang akrab disapa Runtuboy, membuat lawan cukup geram untuk menjaganya. Pasalnya pemain ini baru berusia 20 tahun.

Bersinar Saat Membawa Tanah Kelahiran Berjaya di Pekan Olahraga Nasional

Sebenarnya pemain asal Sumatera Barat ini tidak begitu menekuni dunia futsal. Lantaran di tempat asalnya, Padang, olahraga tersebut kurang begitu diminati selayaknya sepak bola. Tetapi kehidupan Randy Satria berubah di tahun 2012. Ia berhasil memberikan kebanggaan bagi tanah kelahirannya setelah mendulang emas pada PON yang digelar di Riau bersama tim PON Sumatera Barat. Tampil secara impresive di ajang tersebut, membuat namanya ditarik oleh beberapa klub besar seperti Electric PLN dan IPC Pelindo II Jakarta. Bersama Pelindo II ia berhasil merengkuh prestasi, tak ayal namanya pun semakin bersinar.

Randy Satria merupakan salah satu pemain futsal terbaik Indonesia saat ini. Namun, pemain asal Sumatera Barat ini sejatinya belum terlalu lama mengenal futsal. Mulanya ia lebih sering bermain sepak bola dan bola takraw. Ia baru mulai menekuni futsal ketika olahraga turunan sepak bola ini banyak diminati di Padang, tempat asalnya.

Kenalkan Bung, The Tractor, Sang Penggedor Jala Lawan!

Bahkan seorang legenda futsal Indonesia, Vennard Hutabarat, pun sangat mengakui kualitas Andri Kustiawan dalam membobol jala lawan. Naluri haus golnya membuat ia dijuluki The Tractor, hal itu pula yang membuat Vennard mengajaknya bergabung ke Electric PLN, klub yang ia dilatihnya. Di tahun 2012, Andri mendapat kesempatan untuk membela Timnas, wajar saja karena timnas butuh pemain berjiwa lapar gol seperti The Tractor.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Inspiring Men

Demi Berlaga di Asian Games, Yudha Rela Kehilangan Pekerjaannya sebagai Badut

Kisah atlet senam trampolin Yudha Tri Aditya, dapat menjadi inspirasi bagi kita semua, sebab baginya membela negara dan harapan orangtua adalah yang utama. Yudha dari awal merupakan atlet pesenam artistik gymnastik, bersama Sindhu Aji Kurnia yang menjadi wakil Indonesia di nomor tersebut untuk Asian Games 2018. Dua tahun lalu, Yudha sempat berhenti setelah gagal di Pekan Olahraga Nasional 2016 dan juga cedera.

Laki-laki yang usianya sudah mau menyentuh kepala tiga ini bekerja di taman bermain di Bandung, setelah berhenti jadi atlet. Yudha bekerja sebagai badut, pemain sirkus, sekaligus penjaga wahana. Pekerjaannya menuntutnya belajar senam trampolin yang ia pelajari secara otodidak mengandalkan video tutorial di YouTube. Pada prosesnya Yudha mulai berkembang dalam senam trampolin, hingga akhirnya masuk pelatnas trampolin untuk tanding di Asian Games 2018, setelah menyabet medali emas dan perak dalam ajang perlombaan trampolin di Houbii.

Ketika meminta izin untuk berlaga di Asian Games 2018, manajer tempatnya bekerja tak serta-merta memberikan izin. Apalagi sang manajer bilang bahwa Asian Games bukan momen penting. Hal itu melukai hati Yudha hingga ia bertekad bulat keluar dari pekerjaanya.

“Aku tidak dapat izin di tempat kerja itu, sampai akhirnya dia (manajer) memberi pilihan mau pekerjaan atau Asian Games. Dia bilang kerjaan tiap bulan ada (gaji) dan reguler juga ada, sedangkan Asian Games cuma sementara. Terus dia bilang Asian Games tidak penting juga,” ucap Yudha.

Bagi Yudha, ajang olahraga seperti ini adalah sebuah mimpi. Ucapan almarhum ayahnya terus mengalir di dalam sanubarinya ketika ia diajak dalam pembukaan festival olahraga tahun 1993.

“Waktu tahun 1993 ada pembukaan olahraga gitu, aku digendong bapak nonton pembukaan. Masih ingat betul aku omongannya. Bapak bilang kapan ya anakku bisa bela kota, apalagi sampai bisa bela negara,” kenang Yudha.

“Aku kecewa dengan omongan manajer. Gila, dia bilang Asian Games tidak penting. Itu padahal ajang yang tidak mudah. Akhirnya aku ambil keputusan ikut Asian Games demi mimpi almarhum bapak aku,” sambungnya.

Selepas Asian Games, Yudha mengakui belum tahu akan bekerja di mana. Terlebih selepas kepergian ayahnya, ia yang menjadi tulang punggung keluarga. Saat ini dirinya mengisi hari-hari dengan melatih pesenam trampolin di Houbii dengan bayaran yang tidak pasti. Akan tetapi memenuhi harapan sang ayah adalah prioritas yang tak dapat diganggu gugat baginya.

“Waktu pembukaan Asian Games aku langsung merasakan bahwa mimpi itu terjadi. Tapi, aku di saat itu juga merasakan lagi kehilangan bapak,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Para Pelari Indonesia Pecahkan Misteri Medali di Nomor Lari Estafet

Lalu Muhammad Zohri, Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara berhasil menyumbangkan medali perak bagi kontingen Indonesia dengan catatan waktu 38,77 detik. Hasil yang diraih Zohri cs memecahkan rekor nasional yang mereka torehkan saat kualitfikasi, yakni 39,03 detik. Catatan waktu itu sekaligus memecahkan misteri medali di nomor lari estafet 4×100 meter.

Medali perak tersebut sangat berharga bagi para pelari. Ini seperti sebuah penantian panjang yang dinanti Indonesia. Sejak terakhir mendapat medali perak tahun 1966 di Bangkok, Thailand. Butuh waktu setengah abad lebih untuk kembali unjuk gigi di nomor estafet. Di Asian Games 52 tahun silam tersebut, pelari Indonesia saat itu adalah Supar, Wahjudi, Sugiri, dan Jootje Oroh.

“Kami semua sangat bersyukur kepada Tuhan, hari ini kami diberikan kesempatan untuk melihat lagi berkah-Nya. Akhirnya, tim relay 4×100 meter meraih medali perak,” ujar Tigor M Tanjung selaku Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) saat konferensi pers.

“Sejak beberapa waktu lalu, nomor ini memang kami targetkan untuk meraih medali. Apa yang kami idamkan akhirnya tercapai. Semua berkat kerja keras keempat atlet kita ini,” imbuh Tigor.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Pencak Silat Berhasil Capai Target Pemerintah lewat Penampilannya yang Luar Biasa

Pencak silat di pagelaran Asian Games tampil luar biasa dengan menyumbangkan 10 medali emas. Alhasil target yang dibebankan pemerintah melalui Kemenpora telah usai. Sebelum digelar, pencak silat diharapkan bisa memberikan lima medali emas. Lewat nomor seni ganda putri, jadi penyumbang medali emas ke-26 untuk Indonesia di Asian Games 2018 dalam laga final yang dihelat di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah.

Duet Wilantari Ayu Sidan dan Ni Made Dwiyanti meraih poin tertinggi dalam laga final, dengan 574. Disusul dengan pasangan Thailand dan Malaysia. Total sampai saat ini Indonesia telah mengoleksi 26 medali emas di Asian Games 2018. Secara prestasi, kontingen Indonesia dinilai sukses secara prestasi, setelah sebelumnya hanya berharap dapat mengumpulkan 20 medali emas guna mengamankan posisi 10 besar klasemen.

Medali emas Indonesia bisa makin bertambah karena pencak silat masih menyisakan empat nomor di final. Setelah nomor seni tunggal putra dan ganda putri, Indonesia akan melakoni final di beregu putri, kelas D putri, kelas C putra, dan kelas B putri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top