Sport

12 Detik Yang Membungkam Sang Gelandang Belia Tim Nasional Inggris

Entah mimpi apa yang menimpa gelandang masa depan tim nasional Inggris, Dele Alli. Lantaran video pornonya tersebar di dunia maya yang membuat namanya eksis dalam pemberitaan beberapa hari belakangan. Sial memang bagi Dele Alli, hal itu justru terjadi kala karirnya sedang menggapai masa puncak seperti sekarang. Di musim ini saja, gelandang tengah berusia 21 tahun ini sudah melesatkan 9 gol, 11 assist dari 33 penampilan bersama Tottenham Hotspur di segala ajang.

Sempat menurun performanya pada bulan Desember lalu ditambah tersebar video seks-nya di dunia maya membuat Alli harus bekerja keras untuk memperbaiki kedua hal tersebut. Baik performa, maupun nama baiknya, adanya kasus ini bisa saja mengancam karir Alli, terutama kiprahnya bersama timnas Inggris. Ada pun video tersebut masih simpang siur kebenarannya, ada yang bilang itu Alli namun tak sedikit juga yang berpendapat hanya mirip saja.

Durasi 12 Detik Mengancam Mobilitas Alli Di Tim Nasional Inggris

Sumber : Sumberbola.com

12 detik durasi yang tersemat dalam video porno yang diduga dilakukan oleh Dele Alli. Video porno tersebut tersebar di dunia maya dan menjadi buah bibir netizen. Video yang memperlihatkan adegan oral seks tersebut diduga dilakukan bersama kekasihnya, Ruby Mae. Meskipun banyak pula yang membantah  karena perbedaan warna kulit antara Ruby Mae dan perempuan di video tersebut.

Kasus ini diduga bakal membuat karir Alli timnas Inggris bakal terancam. Ada pun video ini diambil oleh pihak ketiga yang menurut 9 Sport Pro dilakukan oleh Hector Bellerin yang merupakan punggawa Arsenal.

Ada Dugaan Kalau Suporter Bangau Merah Menjadi Dalang Penyebaran Video Dele Alli

Sumber : Theindependent.com

Setelah beberapa jam usai laga Liverpool melawan Tottenham yang berkesudahan 2-2 di Anfield Stadium. Video porno Dele Alli gencar tersebar di dunia maya dan menjadi konsumsi publik. Supporter Liverpool disangkutpautkan sebagai pelaku penyebaran dengan alasan mereka kesal dengan aksi diving yang dilakukannya hingga membuahkan tendangan penalti.

Tidak hanya yang menyebarkan, namun kelompok supporter yang menjadikan lagu You Never Walk Alone sebagai lagu kebangsaan ini diduga meretas akun iCloud dari Alli sehingga video berdurasi 12 detik itu pun dilihat oleh banyak orang. Dilansir dari Daily Star ia (Dele Alli -Red) akan membawa kasus skandal ini ke ranah hukum sebagai pencemaran nama baik.

Sejumlah Media Inggris Seketika Menghapus Pemberitaan Itu. Kenapa Ya?

Sumber : Asenglish.com

Dilansir dari Daily Star, salah satu direktur Sport PR Company menyatakan bahwa tidak ada bukti otentik yang dapat menyatakan kalau kliennya (Dele Alli -Red) merupakan orang yang berada di video tersebut. Sport PR Company perusahaan yang direkrut oleh Alli untuk menangani kasus ini. Lantaran kasus skandalnya tiba-tiba menjadi santapan renyah.

Setelah kasus ini di bawah ke ranah hukum oleh Alli dan kolega, beberapa media di Inggris mulai menghapus artikelnya. Sport PR Company juga akui sudah melakukan investigasi kasus ini hingga dengan percaya diri mereka menyangkal bahwa sosok dalam video tersebut bukanlah Alli. Adapun tidak begitu jelas apakah Alli berada di dalam video berdurasi 12 detik tersebut atau tidak.

Terlahir Dari Ibu Pecandu Alkohol, Alli Dipisahkan Dengan Keluarganya Demi Karir Sepak Bola Profesional

Sumber : Ghanasoccer.net

Latar belakang Dele Alli ternyata tidak seindah karirnya sebagai pesepak bola. Alli terlahir dari rahim ibu pecandu alkohol yang kerap menikmati vodka dan bir sejak Alli masih kecil. Dalam wawancara bersama The Sun, Denise Alli, sang ibunda, mengatakan bahwa banyak tetangga yang mengeluhkan caranya membesarkan anak sehingga pelayanan sosial menyambangi dirinya. Tapi pihak pelayanan sosial tidak pernah mengambil hak asuh anak dari Denise.

“Itu adalah keputusan saya untuk membiarkan Dele hidup dengan keluarga lain. Saya tahu bahwa itulah satu-satunya cara dia bisa mewujudkan impiannya menjadi pemain sepak bola profesional,” ungkap Denise kepada The Sun.

Karir Alli bermula saat bergabung dengan tim remaja Milton Keynes Dons ketika usianya 11 tahun. Dengan penampilan yang impresif ia tercatat membuat 88 penampilan dan mencetak 24 gol dalam dua tahun setengah penampilannya bersama tim remaja Milton. Momentum emas pun mengetuk karirnya, saat datang tawaran bergabung dengan Tottenham Hotspur pada tahun 2015 dengan nilai 5 juta juta pounsterling.

Jangan Sedih Alli, Tidak Hanya Dirimu Yang Mengalami Skandal Tersebarnya Dokumen Pribadi Seperti Itu

Sumber : Goal.com

Tidak hanya Dele Alli saja yang mengalami skandal seperti ini. Ada pula beberapa nama yang sejak beberapa tahun lalu sudah terjerembab kasus video porno. Seperti Rio Ferdinand, Dwight Yorke dan Mathieu Valbuena. Adapun kasus yang paling gempar, dilakukan oleh tiga punggawa Leicester City di tahun 2015 ketika mengadakan tur pra musim ke Thailand. James Pearson, Tom Hopper dan Adam Smith melakukan pesta seks. Ketiganya sempat pula mengucapkan kata-kata bernada rasis dalam rekaman tersebut. Leicester City yang merasa tertampar dengan kasus tersebut langsung memecat mereka bertiga.

Untungnya hal ini tidak terjadi kepada Dele Alli, meskipun tidak ada bukti sahih kalau video tersebut adalah dirinya. Namun, tidak adanya pernyataan satu patah kata pun menimbulkan dua dugaan. Antara Alli ingin bungkam dan membiarkan pengacara dan Sport PR Company yang mengurusnya, atau memang dia pelakunya serta diinstruksikan oleh pengacara untuk tidak membuka statement kepada media.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Karena Penelitian Menyebut Kecerdasan Itu Sexy

Sebagian orang masih mengasosiasikan “pintar dan cerdas” itu dengan tampilan kaku macam kutu buku. Padahal sesungguhnya saat ini banyak tokoh-tokoh yang lekat dengan kecerdasan macam Elon Musk atau Mark Zuckerberg yang justru dianggap menarik dan sexy.

Beberapa penelitian juga bahkan menunjukan hal ini. Salah satunya adalah penelitian yang digagas psikolog Gilles Gignac, Joey Darbyshire, dan Michelle Ooi dari University of Western Australia. Mereka menemukan bahwa orang-orang dengan IQ tinggi memiliki skor tinggi dalam hal keseksian ketika dinilai oleh orang lain.


“Kecerdasan” Menjadi Faktor Kedua Daya Tarik Setelah “Kebaikan”

Penelitian tentang kecerdasan dan daya tarik di atas melibatkan sedikitnya 10 ribu peserta dari 33 negara di dunia. Salah satu temuan menariknya adalah para peserta penelitian menempatkan “smart” di nomor dua sebagai daya tarik.

Posisi ini hanya dikalahkan oleh faktor “kebaikan dan pengertian” yang menempati urutan nomor satu. Jadi sesungguhnya dengan menjadi baik dan terus melatih kecerdasan sudah bisa membuat orang lain tertarik kepada kita.

Salah Satu Indikator Kecerdasan Adalah Selera Humor

Dalam penelitian itu juga ditanyakan mengenai indikator apa yang digunakan untuk menilai seseorang cerdas atau tidak. Sebagian menyebut bahwa salah satu indikator yang digunakan untuk menilai kecerdasan seseorang adalah selera humornya.

Karena mereka yang cerdas selalu berpikiran terbuka dan orang yang berpikiran terbuka ini cenderung punya selera humor yang baik. Mereka yang smart juga dikatakan tidak akan mudah tersinggung dan aspiratif terhadap ide-ide baru.

Tak Cuma Pada Individu, “Smart Dan Sexy” Juga Kini Diterapkan Pada Hal Lain

Perpaduan menarik ini tak cuma ditemui dalam urusan penggambaran individu seseorang. Karena kini banyak sektor juga menerapkan konsep ini. Coba tengok misalnya gadget yang selalu menemani kita.

Dahulu mungkin handphone hanya digunakan sebagai alat komunikasi suara dan teks. Kini perkembangannya sudah jauh lebih dari itu. Mulai dari mengakses internet, sosial media, pesan makanan, penunjuk arah hingga fungsi lainnya yang dulu hanya impian.

Tapi toh kamu juga tak mau hanya menggunakan gadget yang cerdas saja bukan? Begitu banyak pilihan ponsel cerdas, tentunya kamu juga memilih yang di desain menarik lagi sexy. Karena hal tersebut juga menunjukan jati diri.

Bahkan Meluas Hingga Urusan Tata Kota Juga Tersentuh Unsur Kecerdasan

Familiar dengan istilah Smart City? Yup inilah konsep yang diinisiasi oleh Suhono S. Supangkat dari ITB. Kota tak lagi hanya menjual soal “keindahan dan kecantikan” namun juga harus bersifat smart.

Menurutnya, Smart City adalah kota yang bisa mengelola Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM) dan sumber daya lainnya sehingga warganya bisa hidup nyaman aman dan berkelanjutan.

Seperti adanya transparansi dan partisipasi publik, transportasi publik, transaksi non tunai, manajemen limbah, energi, keamanan, data dan informasi. Hal ini dapat didukung melalui teknologi informasi dan komunikasi. Terbayang menyenangkannya hidup di kota yang di tata macam ini bukan?

Tak Mau Ketinggalan, Urusan Kendaraan Juga Harus Mengadaptasi Ini

Soal “smart dan sexy” ini juga merambat ke urusan kendaraan. Mengingat hal ini melekat dengan kita dan digunakan juga untuk berativitas sehari-hari. Wajar rasanya jika konsep ini juga diterapkan pada kendaaraan kita.

Ambil contoh Yamaha Lexi yang mengusung konsep “Smart is The New Sexy” yang bermakna bahwa sexy tidak hanya tentang penampilan melainkan tentang karakter, sikap dan pola pikir yang Smart. Yamaha Lexi mempunyai 3 pilar konsep Utama

Untuk Smart & Sexy Design, Motor ini mengkombinasikan unsur Luxury dan Elegan dengan bobot yang paling ringan di kelas MAXI YAMAHA. Tampilannya yang berkelas ditunjang desain lampu Grand LED Headlight ditambah eye line biru yang menawan memperkuat kesan mewah dan elegan. Apalagi untuk tipe Lexi-S, desain joknya  memadukan dua tekstur kombinasi yang disatukan dengan motif jahitan elegan membuat tampilan motor menjadi lebih berkelas.

Tak cuma tampilan karena yamaha Lexi ini punya Smart Features. Untuk Varian Yamaha Lexi-S dibekali fitur Smart Key System yang merupakan sistem kunci tanpa anak kunci alias keyless. Kunci ini juga sudah disematkan fitur Immobilizer dan Answer Back System untuk memudahkan pengendara mencari posisi parkir motor.

Berkendara dalam jarak jauh juga kini tidak perlu khawatir karena Yamaha Lexi memiliki bagasi yang luas dan lega untuk menampung barang bawaan lebih banyak. Apalagi, Yamaha Lexi menjamin pengendara tetap terhubung melalui Smartphone karena dilengkapi Electric Power Socket untuk mengisi daya gadget.

Urusan dapur pacu diserahkan pada Smart Engine. Dari segi performa mesin, Yamaha Lexi menggunakan mesin generasi baru Blue Core 125 cc yang disempurnakan Variable Valve Actuation (VVA). Mesin ini secara cerdas akan membuat aksi berkendara lebih efisien, bertenaga dan handal dengan tenaga dan torsi maksimum di setiap putaran mesin. Apalagi Yamaha Lexi dilengkapi Liquid Cooled 4 Valves (LC4V) yang membuat suhu mesin lebih stabil dan performa lebih maksimal.

Tak berhenti disitu Yamaha Lexi dibekali fitur canggih Stop & Start System (SSS) berfungsi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar yang tidak perlu pada saat motor sedang berhenti. Apalagi ditambah Smart Motor Generator (SMG) membuat suara motor lebih halus saat dinyalakan. Kalau masih penasaran soal motor satu ini kamu bisa lihat detailnya di halaman ini!

Jadi bagaimana? Kamu sudah siap mengikuti trend smart is the new sexy ini?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kisah

Bayangkan apabila Tim Luar Biasa Ini Tidak Berpencar Punggawanya, Pasti Kini Sudah Besar

Sebuah dongeng perihal upaya merangkai tim berlabel debutan, atau kuda hitam namun menjelma menjadi kekuatan baru mungkin dapat Bung temui lewat sebuah film Damned United, yang menceritakan tentang kisah nyata dari Brian Clough kala membuat Nottingham Forest menjadi jawara di Eropa era 80-an. Setelah dua tahun back to back champions di Liga Champuons, kisah tentang Nottigham Forest tenggelam. Tak ada lagi tim yang dulu berlabel raja Eropa di era sekarang. Keperkasaan pun hanya tinggal kenangan.

Nottingham Forest hanyalah satu dari sekian contoh, kalau setiap tim punya potensi untuk jadi luar biasa, tak hanya yang dinobatkan sebagai tim besar macam Real Madrid, Juventus, Manchester United, sampai Barcelona. AS Monaco pun sempat  menunjukan taji di musim 2016/17 saat mampu tembus semi-final dan mampu bersaing dengan PSG, sebuah tim yang kaya raya.

Namun setahun berselang para pemain andalan pindah. Bernardo Silva, Benjamin Mendy, Tiemoue Bakayoko, dan Kylian Mbappe hijrah ke Manchester City, Chelsea, dan PSG. Tiga klub terboros di Eropa. Andai pemain andalan ini tetap mempertahankan loyalitasnya di Monaco, mungkin Monaco bisa menjadi tim hebat yang menjadi kekuatan baru di Eropa. Sampai-sampai muncul akun @ASMonaco_Indo di Twitter seking kepincutnya. Namun tak hanya Monaco saja, banyak tim lain yang nasibnya tak jauh berbeda.

AS Monaco Musim 2003/04

Kepergian beberapa bintang Monaco, ternyata  pernah dilakukan era 2000-an. Kala itu AS Monaco diisi pemain berkualitas seperti Patrice Evra, Fernando Morientes, Jerome Rothen, dan Ludovic Giuly. Secara mengejutkan di musim Liga Champions musim 2003/04 mereka berhasil menembus babak final Liga Champions, namun sayang harus ditundukkan oleh FC Porto dengan skor meyakinkan 3-0 (kala itu FC Porto diasuh oleh Jose Mourinho).

Keempat pemain pun pergi setelah kekalahan tersebut, hanya Evra saja yang bertahan. Jerome Rothen berlabuh ke PSG, Morientes pindah ke Liverpool, Ludovic Giuly dijual ke Barcelona. Sejak saat itu AS Monaco benar-benar kehilangan taji sebagai tim besar. Meskipun tidak bubar.

Ajax Musim 2003/04

Jika menyebut tim Belanda yang sukses di Eropa, otomatis tertuju kepada Ajax Amsterdam. Di era 90-an Ajax merupakan klub yang layak diperhitungkan karena filosofi permainanya mampu meluluhlantahkan lawan. Jelas saja, kejayaan dapat diraih dengan sempurna. Tetapi masalah besar sekaligus anomali terjadi di generasi berikutnya.

Dihuni oleh Zlatan Ibrahimovic, Wesley Sneijder, Rafael van der Vaart, Jari Litmanen, Nigel de Jong, Thomas Vermaelen, Maxwell, dan Hatem Trabelsi tapi tak mampu berbicara banyak khususnya di Eropa. Semuanya dimulai dengn kepergian Ibrahimovic ke Juventus di tahun 2004, membuat ambisi mereka untuk meraih kesuksesan satu dekade lalu telah sirna. Di tahun-tahun berikutnya, Sneijder bergabung di Real Madrid di tahun 2007 dan hanya menyisahkan Vermaelen.

Parma Musim 1998/99

Mungkin bagi Bung yang tumbuh seiring Serie A Italia sebagai tontonan sepakbolanya, pasti mengenal Parma sebagai tim yang memiliki segudang talenta. Wajar saja keberhasilannya membuatnya berhasil meraih gelar Piala UEFA di tahun 1999. Bayangkan saja Parma melahirkan pemain terbaik seperti Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Lilian Thuram. Juan Sebastian Veron, dan Hernan Crespo, komunal para pesepakbola hebat di Eropa saat itu.

Keberhasilannya terlihat dari pencapiannya di luar klub. Thuram berhasil  memenangi Piala Dunia bersama Perancis. Selang beberapa tahun kemudian Cannavaro dan Buffon melakukannya bersama Italia. Crespo menjadi striker termahal dan Veron menjadi gelandang tengah yang dikagumi. Setelah itu Parma tak pernah lagi mendulang kesuksesan sepeninggalan mereka.

Borrusia Dortmund 2012/13

Asuhan Jurgen Klopp kepada Dortmund di musim itu sangat populer meskipun harus mengakhiri Liga Champions tahun 2013 di posisi runner up. Jadi tak ada cara fans untuk mengenang tahun itu seperti saat Dortmund juara kompetisi di tahun 1997.

Jahatnya setelah Bayern Munich berhasil unggul di laga All Germany Final tersebut, Die Rotern justru mencomot beberapa pemain andalan Dormun seperti Robert Lewandowski dan Mario Gotze. Setelah itu, Dortmund tak lagi berjaya meskipun Nuri Sahin, Marco Reus, dan Ilkay Gundogan telah memenuhi tim ini secara potensial.

West Ham Musim 2000/01

West Ham tak bisa dilewatkan dari daftar ini, karena tim inilah yang melahirkan algojo-algojo Inggris di masa depan. Sebuta saja Rio Ferdinand, Frank Lampard, Michael Carrik, Joe Cole, dan Jermain Defoe sudah menampilkan puncak permainanya kala di West Ham. Tetapi torehan kesuksesannya diraih di tim liga Inggris lainya.

Ferdinand dan Carrick memenangi Liga Champions 2008 bersama Manchester United; Lampard di tahun 2012 bersama Chelsea, dan di klub yang sama Joe Cole sukses menjadi finalis. Sementara Defoe membuktikan dirinya sebagai striker tajam di Premier League dan juga tim nasional Inggris.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Mereka yang Menyatakan Ketidaksukaan terhadap Pep Guardiola secara Terang-terangan

Keputusan pelatih dalam menentukan taktik dan strategi terkadang jitu bagi kepentingan tim, tetapi belum tentu berdampak baik untuk karier pemain. Banyak pemain yang harus rela duduk manis di bangku cadangan, karena tak masuk dalam strategi sang pelatih. Pep Guardiola merupakan salah satu pelatih tersukses, yang mulai melatih di tahun 2008 sampai sekarang, 23 trophy sudah dikoleksi oleh pelatih asal Spanyol.

Di jajaran pelatih, nama Pep Guardiola sudah diakui kehebatannya. Namun, ada beberapa pemain yang secara terang-terangan membenci dirinya karena beberapa faktor yang membuatnya kehilangan tempat di tim utama. Bahkan secara terang-terangan beberapa pemain ini membencinya. Kira-kira siapa saja mereka, Bung?

Kaya Akan Taktik tapi Tak Handal dalam Berkomunikasi

Bek asal Brasil, Dante merupakan pemain andalan di Bayern Munchen semenjak didatangkan pada bursa transfer musim panas 2012 dari Borrusia Moenchengladbach. Jupp Heynckes, yang saat itu menjadi pelatih kepala menjadikan Dante pemain andalan sebelum ia digantikan oleh Guardiola.

Selama dua musim Guardiola melatih di tahun 2013 sampai 2015 Dante masih mendapatkan banyak laga bersama Bayern. Tetapi bek satu ini mengatakan kalau Guardiola merupakan pelatih yang kaya taktik tapi tak handal dalam berkomunikasi.

Tak Dimaksimalkan Membuat Hleb Bertengkar

Di Arsenal, Alexander Hleb merupakan salah satu gelandang andalan. Tetapi saat pindah ke Barcelona di tahun 2008, kekuatan Hleb tidak dimaksimalkan. Hal itu karena Hleb tak suka dengan pendekatan strategi yang dilakukan Guardiola, yang sangat mendewakan tiki-taka. Saran yang diberikan kepada Hleb untuk memainkan gaya permainan tiki-taka tidak disenanginya. Lantaran ritme permainan Hleb di Arsenal sangat gemar mendribel bola dalam waktu lama. Sehingga pertengkaran antara Hleb dan Guardiola tidak dapat dihindari.

Dua Kali Dilatih Guardiola, Dua Kali Terdepak dari Skuat Utama

Ironis bagi pemain tengah bertalenta seperti Yaya Toure, kala memperkuat Barcelona di tahun 2008-2010 ia meninggalkan Catalunya karena tak betah ditangani oleh pelatih seperti Guardiola. Membuatnya pindah ke Manchester City, ironisnya, ketika ia berniat menghindari Guardiola, di tahun 2016 Guardiola malah memperkuat Manchester City. Tak banyak berubah setelah Guardiola pindah ke Manchester City, peran Yaya Toure tetap tergerus dan ia pun memutuskan untuk meninggalkan Manchester City sebelum kontraknya habis.

Hanya Bersikap Manis di Depan Kamera

Sikap buruk Guardiola pun diungkapkan langsung oleh mantan striker Barcelona era musim 2008-2009. Samuel Eto’o, ia memutuskan pindah ke Inter Milan karena tak tahan dengan sikap Guardiola. Inter dan Barcelona pun bertemu sebanyak empat kali di Liga Champions 2009-2010, Eto’o pun mengatakan Guardiola menyalaminya tiap kali ada kamera yang menghampiri, namun enggan menyalami kalau tak ada kamera.

Tak Tahan Dimainkan Bukan sebagai Posisi Aslinya

Penyerang berpaspor Swedia ini, mengaku kalau semuanya berjalan baik-baik saja pada enam bulan awal. Setelah itu hubungannya dengan Guardiola tidak begitu nyaman. Posisi penyerang yang menjadi posisi aslinya dipindahkan sebagai sayap kiri yang membuat Ibrahimovich kesal. Guardiola melakukan hal itu demi mengakomodir Lionel Messi, hingga Ibrahimovich hanya bertahan satu musim saja di Barcelona.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sport

Terdapat Beberapa Hal yang Dijadikan Pelajaran Saat Liverpool Menumbangkan West Ham

Kegagalan Liverpool musim lalu dijadikan tonggak bagi skuat Jurgen Klopp untuk bangkit lebih kuat lagi. Apalagi skenario manis yang dirangkai sampai melaju ke partai final Liga Champions, tak bisa ditutup dengan kemenangan, tentu saja kenangan pahit itu harus ditutup di musim depan. Laga debut di Liga Inggris sendiri dijadikan sebuah patokan kala melawan West Ham.

Mohamed Salah dan Sadio Mane masih menjadi duet maut yang mematikan. Gol-gol babak pertama dari kedua pemain ini menutup babak pertama secara nyaman bagi The Reds. Tim tamu pun harus memerima tekanan bertubi-tubi dari skuat Liverpool tanpa henti. Apalagi petaka di babak kedua membuat Liverpool semakin berjaya. Sampai pemain pengganti seperti Daniel Sturridge pun berhasil memainkan perannya. Alhasil Liverpool menutup laga perdana dengan kedudukan 4-0.

Skuat Pellegrini Memerlukan Pembenahan Tinggi

Memang kalau dipandang di atas kertas, West Ham memiliki skuat yang secara kedalaman sangat lengkap. Target skuat ini untuk masuk ke deretan 10 besar sepertinya tidaklah sulit. Manuel Pellegrini pun telah mendatangkan sejumlah pemain berkualitas tinggi untuk pencapaiannya bersama tim. Namun kenyataanya, pemain baru ini masih perlu pembenahan. Anak-anak baru The Hammers tampaknya harus mendapatkan pembenahan secara khusus. Apalagi ketika melihat kinerja monoton yang ditampilkan Jack Wilshere sangatlah tidak selaras.

Pembelian yang Menjanjikan, Yakni Naby Keita, Sang Gelandang Pandai Menyerang dan Bertahan

Debut kompetitif pemain berusia 23 tahun ini sepertinya sangat menjanjikan. Gelandang box-to-box, dengan stamina sekaligus kreativitas tampaknya bakal digemari di Anfield dalam waktu yang sangat singkat. Tampil di depan James Milner dan Georginio Wijnaldum ternyata energinya sebelas dua belas dengan kedua pemain tersebut. Presisi umpan yang akurat dipadukan dengan akselerasinya menusuk pertahanan West Ham adalah bentuk kreativitas dari seorang gelandang.

Felipe Anderson Milik West Ham yang Harus Lakukan Penyesuaian

Dapat dibilang salah satu bentuk menarik dari pemain yang didatangkan oleh West Ham adalah Felipe Anderson. Namun debutnya sangat mengecewakan, meskipun bisa dimaklumni namanya juga pertandingan pertama ‘kan, Bung. Akan tetapi beberapa kali Anderson terlihat sering kehilangan bola dan kerap melakukan protes kepada wasit. Padahal pemain berusia 25 tahun ini telah menunjukan beberapa kali sentuhan yang bagus, hingga keterampilan teknis yang hebat. Tetapi perlu waktu baginya untuk menyesuaikan diri dengan iklim sepak bola Inggris.

Joe Gomez Bisa Menjadi Mitra Baik Virgil van Dijk

Lini belakang selalu menjadi perhatian semua tim, khususnya Liverpool. Menuju musim baru ini otomatis pusat pertahanan harus dibenahi secara matang. Virgil Van Dijk sudah cukup solid di lini belakang, dan Joe Gomez sepertinya bisa dimanfaatkan Klopp untuk mengembangkan dirinya ke posisi yang lebih sentral. Sebab Joe Gomez nampaknya memiliki naluri bertahan yang cukup menjanjikan.

Tahun Ini Mungkin Bisa Menjadi Tahunnya Liverpool

Fans yang selalu bermimpi, mungkin selalu bilang, “mungkin musim depan” apabila ditanya kapan timnya juara. Liverpool nampaknya mendeklarasikan kata itu untuk musim ini, karena ia masih menjadi calon kuat juara. Karena debutnya kemarin nampaknya bisa berdampak lanjut untuk menjadi tren positif Si Bangau Merah. Bagi Bung yang pendukung Liverpool, apakah setuju?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Yomamen.com adalah majalah online khusus pria Indonesia. Lahir dari keinginan untuk menyediakan tulisan khas laki-laki Indonesia. Membahas sekaligus mengkritisi urusan maskulinitas dan gaya hidup pria modern.

Facebook

Copyright © 2017 Yomamen.com

To Top